The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
Oktober 2003
Pembangun Jembatan

Pembangun Jembatan

PRESIDEN THOMAS S. MONSON
Penasihat Pertama dalam Presidensi Utama

Yesus Kristus, ... telah membangun jembatan-jembatan yang di atasnya kita harus menyeberanginya jika kita mau menuju ke rumah surgawi kita.

PRESIDEN THOMAS S. MONSONBeberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah buku berjudul The Way to the Western Sea, oleh David S. Lavender. Buku itu menyajikan kisah menarik tentang perjalanan kepahlawanan Lewis Meriwether dan William Clark sewaktu mereka memimpin perjalanan ekspedisi terkenal mereka melintasi Amerika Utara untuk menemukan jalan darat menuju ke Lautan Pasifik.

Perjalanan mereka merupakan sesuatu yang mengerikan akan kerja keras yang melelahkan, jurang-jurang yang dalam yang harus dilewati dan perjalanan panjang dengan berjalan kaki, sambil membawa perahu mereka yang sarat muatan, untuk menemukan perairan agar dapat meneruskan perjalanan mereka.

Sewaktu saya membaca pengalaman mereka, sering kali saya mempertanyakan, "Seandainya saja ada jembatan modern yang menjembatani jurang-jurang atau perairan yang ganas." Muncul dalam benak saya gagasan tentang jembatan-jembatan canggih di zaman kita yang memberi kemudahan untuk pekerjaan ini: Golden Gate Brigde yang indah di San Fransisco yang terkenal; Syndey Harbour Bridge yang kukuh; dan banyak lagi di negara-negara lainnya.

Dalam kenyataan, kita semua adalah para pelancong—yaitu penjelajah dunia fana. Kita tidak punya pengalaman pribadi sebelumnya. Kita harus menghadapi situasi sulit perairan yang ganas dalam pengalaman kita di bumi ini.

Barangkali gagasan menyedihkan itu mengilhami penyair Will Allen Dromgoole dalam puisi klasiknya yang berjudul "The Bridge Builder" [Pembangun Jembatan].

Pak tua, menyusuri jalan yang asing,
Tiba di senja hari, nan kelabu
Di sebuah jurang, yang menganga,
Melaluinya mengalir kumpulan air yang suram.
Pak tua menyeberangi dalam keremangan;
Kumpulan air itu tak membuatnya gentar;
Tapi dia kembali saat aman di sisi lain
Dan membangun jembatan untuk menjembatani jurang itu.

"Pak tua," kata sesama pelancong,
"Kau sia-siakan tenagamu membangun di sini;
Perjalananmu akan usai di penghujung hari,
Kau tak 'kan pernah lagi melewati jalan ini;
Kau harus menyeberangi jurang yang dalam ini—
Mengapa kau bangun jembatan di senja hari?"

Pembangun itu mengangkat kepalanya yang beruban:
" Sobat, melalui jalan ini aku tiba," ujarnya
"Akan ada yang datang sesudahku hari ini
Orang muda yang akan melintas di sini.
Jurang ini bukan apa-apa bagiku
Bagi orang muda yang rupawan tak mudah mengenali bahaya;
Dia, juga, harus menyeberang dalam keremangan.
Sobat, aku membangun jembatan untuknya."1

Pesan dalam puisi itu mendorong pemikiran saya dan menghibur jiwa saya, karena Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, adalah arsitek terhebat dan pembangun jembatan bagi Anda, saya, dan seluruh umat manusia. Dia telah membangun jembatanjembatan yang di atasnya kita harus menyeberanginya jika kita mau menuju ke rumah surgawi kita.

Misi Juruselamat telah dinubuatkan. Matius mencatat, "Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."2

Setelah itu terjadi mukjizat kelahiran-Nya dan berkumpulnya para gembala yang bergegas datang ke kandang, untuk melihat ibu dan bayi itu. Bahkan Orang-orang Majus, dalam perjalanan dari timur, mengikuti bintang dan mempersembahkan hadiah-hadiah berharga kepada bayi tersebut.

Dalam tulisan suci tercatat bahwa Yesus "bertambah kuat dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya,"3 dan bahwa Dia "berjalan berkeliling sambil berbuat baik."4

Jembatan-jembatan pribadi apakah yang telah Dia bangun di dunia fana ini, yang memperlihatkan kepada kita jalan untuk diikuti? Dia tahu dunia fana akan dipenuhi dengan bahaya dan kesulitan. Dia menyatakan, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."5

Yesus menyediakan Jembatan Kepatuhan. Dia adalah teladan yang tak pernah berubah akan kepatuhan pribadi karena Dia mematuhi perintah-perintah Bapa-Nya.

Ketika Dia dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Setan, Dia lemah karena berpuasa. Setan menggunakan usaha paling menjerat dalam tawaran-tawaran yang dia ajukan. Penawaran pertamanya adalah untuk memuaskan kebutuhan fisik Juruselamat, termasuk rasa lapar-Nya. Untuk ini Juruselamat menjawab, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."6

Kemudian Setan menawarkan kekuasaan. Jawab Juruselamat, "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"7

Akhirnya Juruselamat ditawari kekayaan dan kemuliaan duniawi. Jawaban-Nya, "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti."8

Rasul Paulus diilhami oleh Tuhan untuk menyatakan pada zaman kita, juga pada zamannya, "Pencobaanpencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."9

Agar lebih jelas, saya sebutkan komentar dari siaran Ted Koppel di ABC Nightline, "Apa yang Musa bawa turun dari Gunung Sinai bukan Sepuluh Saran, [melainkan Sepuluh] Perintah!"10

Sedikit lelucon terdapat dalam kisah sebuah percakapan antara Mark Twain dan seorang temannya. Kata teman yang kaya itu kepada Twain, "Sebelum saya mati, saya ingin pergi ke Tanah Suci. Saya ingin mendaki puncak Gunung Sinai dan membaca Sepuluh Perintah dengan keras."

Jawab Twain, "Mengapa kamu tidak di rumah saja dan menyimpan Sepuluh Perintah itu!"

Jembatan kedua yang disediakan oleh Tuhan untuk kita seberangi adalah Jembatan Pelayanan. Kita memandang Juruselamat sebagai teladan pelayanan kita. Meskipun Dia datang ke dunia sebagai Putra Allah, tetapi dengan rendah hati Dia melayani mereka yang ada di sekeliling-Nya. Dia datang dari surga untuk hidup di bumi sebagai manusia fana dan untuk menegakkan kerajaan Allah. Injil-Nya yang mulia mengubah pemikiran dunia. Dia memberkati yang sakit, Dia menyebabkan yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, yang tuli mendengar. Dia bahkan membangkitkan yang mati untuk hidup kembali.

Dalam Kitab Matius pasal 25, Juruselamat memberitahu kita mengenai orang-orang setia yang akan berada di sebelah kanan-Nya pada saat kedatangan-Nya yang kedua, "Dan Raja itu akan berkata kepada mereka, 'Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan:

Sebab ketika aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.'

Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya, 'Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?'

Dan Raja itu akan menjawab mereka, 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.'"11

Penatua Richard L. Evans pernah menasihati, "Kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk semua orang di mana saja, tetapi kita dapat berbuat sesuatu untuk seseorang di suatu tempat."12 Izinkan saya membagikan kepada Anda sebuah kisah mengenai kesempatan melayani yang datang kepada saya secara tak terduga dan dengan cara yang tidak lazim. Saya menerima telepon dari cucu perempuan teman lama saya. Dia bertanya, "Apakah Anda ingat Francis Brems yang dahulu menjadi guru Sekolah Minggu Anda?" Saya mengatakan kepadanya bahwa saya ingat itu. Dia melanjutkan, "Sekarang dia sudah berusia 105 tahun. Dia tinggal di sebuah panti jompo kecil tetapi bertemu dengan seluruh keluarganya setiap hari Minggu, dia diberi pelajaran Sekolah Minggu. Minggu yang lalu, Kakek memberitahu kami, 'Sayang, kakek akan meninggal minggu ini. Maukah kalian menelepon Tommy Monson dan menyampaikan kabar ini. Dia akan tahu apa yang harus dilakukan.'

Saya menjenguk Brother Brems malam berikutnya. Saya tidak dapat berbicara dengannya, karena dia tuli. Saya tidak dapat menuliskan pesan untuk dibacanya, karena dia buta. Apa yang harus saya lakukan? Saya diberitahu bahwa keluarganya berkomunikasi dengannya melalui mengambil jari tangan kanannya dan kemudian menuliskan di telapak tangan kirinya nama orang yang menjenguknya dan menuliskan pesannya. Saya mengikuti aturan itu dan mengambil tangannya serta mengeja pada telapak tangannya T-O-M-M-Y M-O-N-S-O-N. Brother Brems terlihat senang dan, memegangi tangan saya, meletakkannya di kepalanya. Saya tahu keinginannya adalah menerima sebuah berkat keimamatan. Sopir yang mengantar kami ke panti itu bergabung dengan saya sewaktu saya meletakkan tangan saya di atas kepala Brother Brems dan memberinya berkat yang diinginkannya. Setelah itu, air mata menetes dari matanya yang buta. Dia menggenggam tangan kami, dan kami membaca gerakan bibirnya. Pesannya, "Terima kasih banyak."

Dalam minggu itu, seperti yang diperkirakan Brother Brems, dia meninggal dunia. Saya menerima telepon dan kemudian menemui keluarganya saat jadwal pemakaman dibuat. Betapa bersyukurnya saya karena segera menanggapi permintaan bantuan dari keluarga tersebut.

Jembatan pelayanan mengundang kita untuk sering menyeberanginya.

Yang terakhir, Tuhan menyediakan bagi kita Jembatan Doa. Dia memerintahkan, "Berdoalah selalu, maka Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atasmu, dan besarlah berkatmu."13

Saya membagikan kepada Anda sebuah kisah mengenai doa yang diceritakan dalam surat seorang ibu yang diberikan kepada saya. Dia menulis, "Kadang-kadang saya mempertanyakan apakah saya membuat perbedaan dalam kehidupan anakanak saya. Khususnya sebagai ibu tunggal yang melakukan dua pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kadang-kadang saat pulang saya kebingungan, tetapi saya tidak putus asa.

Anak-anak saya dan saya melihat tayangan televisi tentang konferensi umum, dan Anda berbicara mengenai doa. Putra saya berkomentar, 'Ibu sudah mengajarkan itu kepada kami.' Saya mengatakan, 'Apa maksudmu?' Dan dia menjawab, 'Ibu sudah mengajar kami untuk berdoa dan menunjukkan kepada kami caranya, tetapi malam berikutnya ketika saya masuk ke kamar ibu untuk minta sesuatu saya mendapati ibu sedang berlutut untuk berdoa kepada Bapa Surgawi. Jika Dia penting bagi ibu, maka Dia pun penting bagi saya.'" Surat diakhiri, "Saya rasa Anda tidak akan pernah tahu apa pengaruh yang Anda berikan sampai seorang anak mengamati apa yang Anda lakukan sendiri untuk mengajar mereka melakukan sesuatu."

Tidak ada kisah tentang doa yang menyentuh hati saya sedemikian dalam selain doa yang diucapkan oleh Yesus di Taman Getsemani. Saya percaya Lukas menjelaskannya dengan paling baik, "Pergilah Yesus ke bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia. Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka, "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelemparan batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya. Ia sangat ketakukan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah."14

Tak lama kemudian tibalah perjalanan memikul salib. Betapa berat penderitaan yang ditanggung-Nya sewaktu Dia berjalan terseok-seok, memikul salib-Nya sendiri. Dengarkan kata-kata yang diucapkan-Nya di atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."15

Akhirnya Yesus menyatakan, "'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."16

Peristiwa-peristiwa itu, dipadu dengan Kebangkitan mulia-Nya, memenuhi jembatan terakhir dari tiga hal yang saling berkaitan: Jembatan Kepatuhan, Jembatan Pelayanan, Jembatan Doa.

Yesus, Pembangun Jembatan, yang menjembatani jurang menganga yang kita sebut kematian. "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus."17Dia melakukan bagi kita apa yang tidak bisa kita lakukan sendiri; karenanya, umat manusia dapat menyeberangi jembatan-jembatan yang Dia bangun— menuju ke kehidupan kekal.

Saya tutup dengan mengutip kembali puisi, "The Bridge Builder" [Pembangun Jembatan]:

Kau harus menyeberangi jurang yang dalam ini—
" Mengapa kau bangun jembatan di senja hari?"

"Akan ada yang datang sesudahku hari ini
Orang muda yang akan melintas di sini.
Jurang ini bukan apa-apa bagiku
Bagi orang muda yang rupawan tak mudah mengenali bahaya;
Dia, juga, harus menyeberang dalam keremangan.
Sobat, aku membangun jembatan untuknya."

Semoga kita dapat memiliki kebijaksanaan dan tekad untuk melintasi jembatan yang dibangun Juruselamat bagi kita masing-masing adalah doa saya yang sungguh-sungguh, dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN:

1. Dalam James Dalton Morrison, edisi Masterpieces of Religious Verse (1948), 342.

2. Matius 1:21.

3. Lukas 2:40.

4. Kisah para Rasul 10:38.

5. Matius 11:28-30.

6. Matius 4:4.

7. Matius 4:7.

8. Matius 4:10.

9. 1 Korintus 10:13.

10. Duke University commencement speech, 10 Mei 1987.

11. Matius 25:34-40.

12. Richard Evans' Quote Book (1971), 51.

13. A&P 19:38.

14. Lukas 22:39-44.

15. Lukas 23:34.

16. Yohanes 19:30.

17. 1 Korintus 15:22.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy