The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
Oktober 2003
Kurban Tebusan, Pertobatan, dan Pakaian Kotor

Kurban Tebusan, Pertobatan, dan Pakaian Kotor

PENATUA LYNN A . MICKELSEN
Dari Tujuh Puluh

Janji Tuhan adalah bahwa Dia akan membersihkan pakaian kita dengan darah-Nya .... Dia dapat menebus kita dari kejatuhan pribadi kita.

PENATUA LYNN A . MICKELSENKetika mengendarai mobil menyusuri sebuah kota kecil di Meksiko, seorang pria menabrak seekor anjing yang lewat di depannya. Sejak hari itu, dia dikenal di desa itu sebagai "mata perros [pembunuh anjing]." Tidak ada pertimbangan atau pemikiran diberikan bagi nama aslinya; dia pada dasarnya adalah "pembunuh anjing." Bagi orang-orang yang kemudian mengenalnya, dan tidak mengetahui keadaannya, dalam pikiran mereka terbentuk citra buruk tentang apa yang telah dilakukannya.

Reputasi yang didasarkan pada gosip, kenyataan, atau dibangun berdasarkan nama panggilan nyaris mustahil untuk diatasi. Pepatah "Jangan mencuci pakaian kotor di muka umum" adalah nasihat yang bijak. Tidaklah penting, tidak perlu, ataupun tidak tepat menunjukkan kesalahan dan dosa pribadi maupun keluarga kita di muka umum. Semakin luas dosa diketahui, semakin sulitlah pertobatan maupun perubahannya.

Ini bukan untuk mengatakan bahwa dosa seharusnya ditutupi, meskipun itu merupakan dorongan alami dari siapa saja yang melakukan dosa. Daripada bertobat, kita ingin menyembunyikan kesalahan atau dosa apa pun yang telah kita lakukan. Tetapi seperti Kain tertangkap ketika dia membunuh Habil, dia tidak dapat menyembunyikan dosanya dari Tuhan.1 Karena segala hal hadir bersama-Nya.2 Dia mengetahui setiap tindakan ketidakpatuhan yang kita lakukan, tetapi—perbedaan umum antara Tuhan dan orang awam yang sama-sama mengetahui dosa adalah—Dia, dengan pengetahuan-Nya tentang dosa-dosa kita, memberi janji khusus bahwa Dia tidak akan mengingat dosa-dosa tersebut jika kita bertobat.3

Mencuci pakaian yang kotor dan pertobatan berkaitan sangat erat. Dosa membawa kekotoran di hadapan Tuhan yang harus dijernihkan. Meskipun demikian, ada saat dan tempat untuk pengakuan dan permohonan pengampunan. Faktor-faktor yang menjelaskan kapan dan di mana orang harus mengaku bergantung pada sifat dan besarnya dosa itu. Bilamana terjadi kejahatan umum atau pelanggaran kepercayaan umum, pertanggungjawabannya adalah mengungkapkan kesalahan itu di depan umum dan meminta pengampunan. Tanggung jawab kita dalam pertobatan termasuk kepada Tuhan, para hamba-Nya, dan mereka yang tersinggung.

Ada kesamaan antara pakaian kita yang dicuci bersih melalui darah Anak Domba dan cara kita mencuci pakaian kita yang kotor. Adalah melalui Kurban Penebusan-Nya pakaian kita akan dibersihkan. Rujukan tulisan suci terhadap pakaian [garmen] melambangkan diri kita. Perlunya pembersihan datang sewaktu kita menjadi kotor karena dosa. Penghakiman dan pengampunan merupakan hak Juruselamat,4 karena hanya Dialah yang dapat mengampuni serta mencuci dosa-dosa kita.

Ketika Raja Benyamin memberikan khotbah besarnya di negeri Zarahemla,5 Orang-orang Suci mengubah hati mereka,6 dan terdapat kedamaian serta kemakmuran di seluruh negeri. Waktu terus berlalu dan Alma dipanggil untuk memimpin Gereja. Terperangkap dalam kemakmuran mereka, sejumlah anggota Gereja jatuh dalam dosa. Hati Alma sedih ketika mereka dibawa ke hadapannya. Karena tidak mengetahui cara mengatasi masalah itu, dia membawa mereka ke hadapan Raja Mosia, tetapi raja menyerahkan mereka ke dalam pengadilan Alma.

Karena takut melakukan kesalahan dalam pandangan Allah, Alma mencurahkan segenap jiwanya kepada Allah dan memohon kepada-Nya untuk memberinya jawaban tentang cara menangani para pelanggar tersebut. Karena kasihnya yang besar bagi sesamanya manusia dan keinginannya yang tulus untuk melakukan kehendak Allah, Tuhan memberkatinya dengan melimpah, bahkan dengan sebuah janji kehidupan kekal. Kemudian Tuhan menjelaskan kepadanya mengapa permohonannya meminta pemahaman dalam menghakimi sangat penting, dengan mengatakan, "Inilah gerejaKu. Adalah melalui namaKu mereka akan diselamatkan.

Adalah melalui pengurbanan-Ku. Akulah yang akan mengadili."7

Seberapa seringkah kita melupakan siapa yang berhak untuk mengadili? Pengampunan atas dosa bergantung kepada-Nya, bukan pada kita. Jadi di lain kesempatan saat kita tergoda untuk menangani masalahmasalah pribadi di depan umum, marilah kita mengingat:

Pertama, pergilah kepada Tuhan. Kedua, pergilah kepada seseorang yang telah kita sakiti.

Ketiga, jika perlu, pergilah kepada uskup.

Dan keempat, jangan mencemaskan masalah itu.

Sisi lain dari menunjukkan pakaian yang kotor adalah nafsu serakah jasmani sehingga beberapa orang harus mengungkapkan kesalahan orang lain. Tuhan menantang Ayub sewaktu dia menderita karena bebannya: "Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu?"8 Ini dapat terjadi bahkan di dalam keluarga, ketika seseorang, yang menganggap dia melindungi nama baiknya sendiri, mengungkapkan rincian kesalahan saudara kandung, anak-anak, atau orang tuanya dalam bentuk pembenaran diri yang dirancang untuk meringankan rasa sakit pribadinya.

Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, anak itu diterima kembali oleh ayah yang setia yang membicarakan tentang sisi baik putranya, bukan kesalahan-kesalahannya.

Kapan pun kita mengungkapkan dosa atau kesalahan orang lain, kita terkena dampak memberikan penghakiman kepada mereka. Saya mendengar seseorang menceritakan kepada putranya bahwa seseorang tidak akan pernah bekerja untuknya lagi karena dia merasa orang yang dipekerjakan itu meminta upah yang tinggi. Si anak menjawab, "Saya kaget mendengar Ayah mengatakan itu, karena Ayah telah mengajar kami dengan cara yang berbeda."

Ayah itu menghakimi tanpa dasar. Apa yang seharusnya dia lakukan? Jika dia memiliki pertanyaan tentang upah kerja, dia seharusnya membahasnya dengan orang tersebut, menyelesaikan perbedaan-perbedaan mereka, dan mengakhirinya tanpa saling menggerutu. Juruselamat mengajarkan, "Jangan engkau menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."9

Ketika para ahli Taurat dan orangorang Farisi membawa perempuan yang berbuat zina kepada Yesus, Dia membungkuk dan menulis di atas pasir dengan jari-Nya bahwa orang lain mungkin tidak melihat ataupun mendengar. Kemudian Dia mengatakan, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Ketika para penuduhnya telah pergi karena malu atas dosa-dosa mereka, Dia berkata kepada perempuan itu, "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi."10

Apa yang seharusnya kita lakukan bila kita mengetahui masalah orang lain?

1. Jangan menghakimi. Serahkan penghakiman itu kepada Tuhan, sang hakim yang sempurna. Janganlah kita memeriksa atau menyelidiki dosa orang lain tetapi memikirkan keilahian mereka. Bukanlah tanggung jawab kita untuk mengurusi masalah orang lain melainkan tugas kita ialah mengenali kebaikan mereka.

2. Anda harus mengampuni.

Meskipun secara pribadi kita telah disakiti, Tuhan mengatakan, "Aku, Tuhan, akan mengampuni orang yang hendak Aku ampuni, tetapi daripadamu diminta untuk mengampuni semua orang."11

3. Melupakan. Sebuah kenangan yang membekas dapat menyakiti roh yang paling lembut; biarkan saja masalah orang lain.

Jika merasa tergoda untuk mengungkapkan dosa-dosa orang lain, jangan beritahukan kepada tetangga atau bahkan teman akrab Anda. Pergilah kepada uskup Anda. Serahkan masalah itu kepadanya. Jika diperlukan, laporkan hal itu kepada pejabat sipil atau kriminal, dan serahkan hal itu kepada mereka. Saya percaya bahwa untuk menerima janji sebelumnya yang berharga yang Alma terima membutuhkan roh dan tindakan yang sama yang dia ambil mengenai pakaian kotornya sendiri dan orang lain.

Tetapi bagaimana seandainya kita benar dan mereka salah? Tidakkah kita harus membuat posisi kita diketahui umum sehingga orang lain tidak akan menghakimi kita sebagai orang yang membuat kesalahan? Tuhan telah memperjelas dalam petunjuk-Nya mengenai masalah ini. Adalah bukan hak kita untuk menghakimi. Adalah bukan tugas kita untuk menghakimi kesalahan kecil orang lain, karena kesalahan-kesalahan kita yang lebih besar menyulitkan kita sendiri untuk menghakimi. Jadi setidaknya selalu ada dua sudut pandang terhadap masalah apa pun. Empati dibutuhkan di sini, sebuah karunia untuk merasakan apa yang orang lain rasakan dan memahami apa yang orang lain alami. Empati adalah hasil alami dari kasih. Itu memotivasi dan meningkatkan kemampuan kita untuk melayani. Dalam empati tidak ada simpati, tetapi pengertian dan kepedulian. Itu adalah dasar bagi persahabatan sejati. Empati mengarah pada rasa hormat dan membuka pintu pada pengajaran dan pembelajaran. Suku Indian Sioux memahami asas yang besar ini sewaktu mereka berdoa, "Roh yang Agung, bantulah kami agar tidak pernah menghakimi orang lain sampai saya memiliki cukup waktu untuk memahami keadaan mereka."

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan dengan pakaian yang kotor? Proses itu dimulai dengan pertobatan. Juruselamat berdiri di depan pintu dan mengetuk; Dia siap menerima kita secara langsung.12 Tanggung jawab kita adalah melakukan pekerjaan pertobatan. Kita harus meninggalkan dosa-dosa kita sehingga pembersihan dapat dimulai. Janji Tuhan adalah bahwa Dia akan membersihkan pakaian kita dengan darah-Nya.13 Dia menyerahkan nyawa-Nya serta menderita bagi semua dosa kita. Dia dapat menebus kita dari kejatuhan pribadi kita. Melalui Kurban Tebusan Juruselamat, dengan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi dosa-dosa kita, Dia memberi wewenang kepada Roh Kudus untuk membersihkan kita dalam pembaptisan api. Karena Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, kehadiran-Nya yang memurnikan membakar kekotoran dosa. Segera setelah komitmen dibuat, proses pembersihan dimulai.

Komitmen kita kepada Tuhan diawali dengan fokus kita kepada-Nya. Baru-baru ini kami menghadiri sebuah konferensi wilayah di Nauvoo, Illinois. Musik paduan suaranya sungguh luar biasa. Pemimpinnya, yaitu seorang musisi profesional dan pengajar di sebuah universitas setempat, sangat ahli dalam menarik perhatian paduan suara dan jemaat. Setiap gerakan tubuhnya berkaitan secara erat dengan musiknya. Kami ingin menyanyi dengan tepat sewaktu dia memimpin. Semua mata tertuju kepadanya. Saya memikirkan tentang Juruselamat. Dia telah menantang kita untuk menjadi seperti Dia. Jika kita mau memberi-Nya perhatian yang penuh seperti yang kita berikan kepada Brother Nelson [pemimpin paduan suara], kita akan dengan cepat diubah menurut rupa Juruselamat.

Perubahan sewaktu kita menyanyi sangat mengesankan. Kita berada di tempat seharusnya kita berada dan semuanya berkeinginan besar untuk mengikuti. Jika kita menemukan diri kita di tempat seharusnya kita berada, dengan keinginan yang tulus tersebut untuk mengikuti Tuhan, maka Dia akan menyentuh kehidupan kita dan membersihkan kita agar kita dapat hidup di hadirat-Nya secara kekal. Di sana tidak ada paksaan dari pemimpin musik agar kita menyanyi, hanya hadirin yang merasa terhubung dengan pemimpin musiknya. Pertobatan yang sejati datang melalui hubungan itu dengan Juruselamat. Marilah kita memikirkan doa-doa pribadi dan gagasangagasan kita setiap hari. Kita semua memiliki pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuat hubungan dengan Tuhan berfungsi.

Saya bertanya kepada Brother Nelson bagaimana dia dapat menarik perhatian kita. Dengan rendah hati dia menjawab, "Karena hati mereka murni."

"Apa lagi?" saya bertanya.

Dia menjawab, "Ialah melalui Roh. Itulah satu-satunya cara kita dapat berkomunikasi pada tingkat itu."

Jadi ke manakah fokus kita seharusnya? "Dan bila pandanganmu hanya tertuju kepada kemuliaan-Ku, seluruh tubuhmu akan dipenuhi dengan terang, dan di dalam tubuhmu tidak akan ada kegelapan; dan dia yang dipenuhi dengan terang memahami segala hal."14 Itu dapat terjadi jika kita bertanggung jawab atas pakaian kita yang kotor melalui pertobatan dan memastikan pakaian itu bersih.

Semoga kita menikmati janji Juruselamat melalui Moroni untuk, "bangkit[lah] ... dan kenakan[lah] pakaianmu yang indah .... Datanglah kepada Kristus ... dan kasihilah Allah dengan segala daya, pikiran dan kekuatanmu, ... jika oleh kasih karunia Allah kamu sempurna dalam Kristus; ... melalui pertumpahan darah Kristus, yang ada dalam perjanjian Bapa untuk pengampunan atas dosadosamu, supaya kamu menjadi suci, tanpa dosa."15 Dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. Lihat Kejadian 4:9-10; Musa 5:34-35.

2. Lihat Musa 1:6.

3. Lihat A&P 58:42.

4. Lihat Alma 5:21-27; A&P 64:10.

5. Lihat Mosia 2-5.

6. Lihat Mosia 5:2.

7. Lihat Mosia 26:10-24.

8. Ayub 40:8.

9. Matius 7:1-2.

10. Yohanes 8:7, 11.

11. A&P 64:10; penekanan ditambahkan.

12. Lihat Wahyu 3:20.

13. Lihat Wahyu 7:14.

14. A&P 88:67.

15. Moroni 10:31-33.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy