The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
Oktober 2003
Mengikat Janji dengan-Nya

Mengikat Janji dengan-Nya

KATHLEEN H. HUGHES
Penasihat Pertama dalam Presidensi Umum Lembaga Pertolongan

Kedudukan kita sebagai wanita mencakup segala usia dan latar belakang; kita terhubungkan melalui perjanjian-perjanjian yang telah kita buat.

KATHLEEN H. HUGHESPara sister yang terkasih, tahun berlalu begitu cepat, dan betapa menyenangkan bertemu kembali sebagai para wanita Lembaga Pertolongan Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Bagaimanapun keadaan kita, kita diberkati sebagai wanita. Kita telah membuat perjanjian dengan Bapa Surgawi untuk melakukan pekerjaanNya—dan kita sedang melakukan pekerjaan itu! Seperti Maria dan Marta, kita telah bersimpuh di kaki Tuhan serta telah memilih "bagian yang terbaik."1 Kita telah memilih Kristus, dan Lembaga Pertolongan.

Tetapi, saya bertanya-tanya apakah kita, para wanita, memiliki visi seutuhnya akan Lembaga Pertolongan. Ketika Joseph Smith membaca peraturan organisasi yang ditulis oleh Eliza R. Snow, dia mengatakan bahwa dokumen itu merupakan yang terbaik yang pernah dilihatnya tetapi dia melihat "sesuatu yang lebih baik." Dia akan "mengorganisasi para wanita di bawah imamat menurut pola imamat itu."2 Ketika Nabi Joseph "mewenangkan kunci tersebut"3 dan membentuk Female Relief Society of Nauvoo [Lembaga Pertolongan Wanita Nauvoo], dia mengatakan bahwa Gereja sendiri belum sepenuhnya diorganisasi sampai peristiwa itu terjadi.4 Para sister, adalah penting bahwa kita memahami pernyataan itu. Lembaga Pertolongan didirikan oleh Allah, melalui seorang nabi, melalui kuasa wewenang imamat; keberadaannya menjadi bagian yang penting dalam organisasi Gereja. Para pria dan wanita bekerja sama dalam imamat dan Lembaga Pertolongan ketika kita berusaha membawa keluarga-keluarga kepada Kristus. Sebagai wanita, kita hendaknya tidak pernah berpikir bahwa peran kita di Gereja adalah peran yang lebih rendah daripada peran yang dimainkan oleh para pria. Sama seperti kita sebagai wanita yang saleh menghormati imamat, kita juga perlu menguduskan pemanggilan kita sebagai wanita.

Ketika saya mempelajari lukisan tentang Marta dan Maria dengan Juruselamat, saya memikirkan para wanita ini sebagai pendahulu saya. Saya bertanya-tanya apakah mereka juga adalah wanita yang "banyak sekali berbuat baik dan penuh sedekah."5 Sungguh menyenangkan memikirkan bahwa mereka, dan para wanita yang setia lainnya yang menjadi murid Kristus, mungkin bertemu bersama untuk memahami peran mereka dalam membangun kerajaan. Mereka adalah para wanita perjanjian seperti halnya kita. Mereka telah bertekad untuk mengabdi kepada Juruselamat dengan sepenuh hati mereka. Demikian juga, ketika Lembaga Pertolongan diorganisasi, lembaga itu tumbuh dari pemanggilan ilahi dan keinginan kita untuk melayani, mengasihi, serta memelihara satu sama lain. Seperti halnya tata cara dan pengarahan imamat penting dalam pekerjaan Tuhan, demikian pula pelayanan yang kita lakukan.

Untuk memenuhi pekerjaan yang penting ini, kita memilih menjadi para wanita perjanjian: wanita yang telah membuat janji-janji kudus dengan Tuhan. Bagi kita yang telah menerima berkat-berkat bait suci, kita telah berjanji bahwa kita akan menguduskan waktu serta bakat-bakat kita dalam membangun kerajaan Tuhan. Melalui perjanjian ini kita dapat melayani Gereja dalam banyak peranan.

Dua puluh tahun yang silam saya dipanggil menjadi presiden Remaja Putri di lingkungan saya. Saat itu rambut saya berwarna coklat, dan tubuh saya ..., bisa dikatakan masih lentur. Beberapa tahun kemudian saya dipanggil lagi untuk jabatan yang sama, kali ini di sebuah lingkungan baru. Saya didaur ulang, dan mendapati hal itu sungguh menyenangkan. Itu merupakan kesempatan bagi saya untuk memperbarui perjanjian saya dengan Allah bahwa saya akan melayani dalam jabatan apa pun yang Dia kehendaki. Tetapi sekarang, rambut saya secara alami telah memutih (atau kebanyakan demikian), dan untuk membungkuk saja menjadi sesuatu yang amat menyulitkan. Tetapi saya tidak merasa terlalu tua untuk diberkati lagi melalui kehidupan para remaja putri yang mengagumkan yang setia, cerdas, dan penuh keceriaan. Sejak itu saya berpikir bahwa saya memiliki lebih banyak kebijaksanaan untuk diberikan kepada mereka, dan sebuah kesaksian yang lebih dalam akan Injil, tetapi sekali lagi saya belajar sebanyak mereka belajar dari saya.

Dan ingatlah, kita tidak kehilangan kebutuhan akan perjanjian-perjanjian tersebut. Kita dapat melayani satu sama lain di setiap zaman kehidupan kita. Baru-baru ini saya mendengar mengenai seorang ibu muda yang suaminya adalah seorang anggota dari sebuah keuskupan, duduk di mimbar sementara dia berjuang menghadapi anak-anaknya yang tidak dapat tenang. Seorang wanita yang jauh lebih tua mengambil anak yang masih kecil ke pangkuannya dan membantu menenangkannya. Tindakan-tindakan yang sederhana semacam itu merupakan bagian dalam membangun kerajaan Allah. Itulah yang kita lakukan. Itulah kita sebagai para sister Lembaga Pertolongan. Baik kita melayani sebagai presiden Lembaga Pertolongan atau guru di Pratama atau direktur perkemahan Remaja Putri, kita sedang memenuhi tanggung jawab kudus kita sebagai para sister Lembaga Pertolongan. Ketika kita menelepon untuk mengetahui keadaan seorang tetangga yang lanjut usia, atau memberi imbauan semangat serta menolong seorang ibu muda, ataupun mendoakan keluarga lainnya, kita sedang menepati perjanjian-perjanjian kita.

Baru-baru ini, presidensi kami bertemu dengan seorang pemimpin Gereja. Dia mengomentari bahwa dia berharap agar pertemuan-pertemuan Lembaga Pertolongan dan imamat merupakan tempat di mana kita dapat saling mengatakan, "Para sister, atau brother, saya sedang kesulitan sekarang. Maukah Anda menolong saya?" Saya pernah mengikuti pertemuan Lembaga Pertolongan seperti itu. Saya akan selalu mengingat hari Minggu pagi ketika kesaksian dibagikan dan seorang sister lajang menceritakan kepada kami kesepian kehidupannya. Dia telah mengalami pengkhianatan, perceraian, dan kesulitan keuangan ketika dia berusaha bekerja serta membesarkan anak-anaknya dengan pendapatan yang kecil. Sekarang dia mengetahui pedihnya kesepian ketika anak-anaknya yang sudah dewasa pergi dari rumahnya. Suasananya amat manis, Roh amat kuat, dan saya melihat para sister mengelilinginya untuk memberi dukungan, melakukan yang terbaik yang dapat kita berikan: mengasihi. Ruang Lembaga Pertolongan menjadi tempat yang kudus hari itu. Begitulah hendaknya setiap ruang Lembaga Pertolongan bagi setiap sister.

Sangatlah penting bahwa kita melibatkan setiap sister. Jangan melupakan para wanita yang melayani di Pratama atau Remaja Putri. Mereka memerlukan perhatian para pengajar berkunjung yang setia serta pertemuan-pertemuan pemerkayaan rumah tangga, keluarga, dan pribadi yang terencana dengan baik serta mudah dihadiri. Juga masih banyak dalam kelompok kita yang semakin tua— seperti saya! Anda, para sister yang seusia saya atau lebih tua, biarkanlah diri Anda "didaur ulang." Tuhan memerlukan pelayanan Anda, dan kami memerlukan Anda.

Saya menyadari mengenai seorang sister muda yang bergumul untuk menyesuaikan diri dari Remaja Putri ke Lembaga Pertolongan. Dia setia dan kuat dalam Injil, tetapi sekarang dia merasa kesepian. Bagaimana hal ini terjadi? Jika kita benar-benar bersaudara, kita hendaknya mengetahui kebutuhan orang lain. Periode remaja dewasa seharusnya tidak menjadi masa peralihan melainkan sebuah langkah yang alami, dalam perkumpulan para sister. Masih banyak remaja putri seperti ini di lingkungan kita. Mohon temukan mereka, kasihilah mereka, dan bawalah mereka ke dalam lingkaran persaudaraan antar sister. Tetapi kepada Anda para sister yang masih muda, saya ingin mengatakan, jangan menganggap Anda mengetahui seperti apa Lembaga Pertolongan itu sampai Anda bergabung dengan para sister serta melakukan bagian Anda untuk mengenal mereka. Pindah dari Remaja Putri ke Lembaga Pertolongan bukanlah perpindahan dari satu kelas ke kelas lainnya; itu merupakan kesempatan bagi Anda untuk mengambil peranan yang lebih besar dalam melayani Tuhan dan melakukan pekerjaan-Nya.

Para sister, kita bukanlah sebuah perkumpulan sosial, meskipun persahabatan yang erat terbentuk dari persaudaraan antar sister kita. Kita bukanlah, seperti yang saya dengar dikatakan oleh seorang remaja putri, "para wanita tua yang bertemu pada hari Minggu." Kita memiliki kekuatan jika kita menggunakannya: kekuatan yang diberikan kepada kita oleh Allah untuk menyelesaikan tujuan-tujuan-Nya. Kita adalah organisasi wanita yang terbesar di dunia. Ketika kita menjangkau di lingkungan masyarakat kita dengan pengetahuan dan ilham yang Tuhan telah berikan kepada kita, kita dapat membantu memimpin sebuah dunia yang memerlukan bimbingan kita. Itulah yang Nabi Joseph harapkan; itulah yang diharapkan oleh Presiden Hinckley dari kita pada saat ini.

Besarnya pekerjaan kita tampaknya dapat membuat kita kewalahan, tetapi secepat yang dapat dikatakan kepada Anda oleh cucu lelaki saya yang baru dibaptis, sebuah perjanjian adalah janji antara dua pihak. Kita semua mengetahui ajaran tulisan suci bahwa dimana "telah diberikan banyak, banyak pula yang diminta."6 Ingatlah, meskipun banyak yang diminta, banyak pula yang diberi. Ketika kita berjanji kepada Allah dan menepati perjanjian-perjanjian itu, segala sesuatu akan dimungkinkan. Dia memberi kita apa yang kita perlukan untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Malam ini, para sister yang terkasih, saya mengajak Anda untuk membulatkan tekad Anda kembali sebagai para wanita perjanjian dengan Kristus dan dengan organisasi-organisasi-Nya bagi kita, para putri-Nya. Pilihlah bagian yang terbaik. Pilihlah untuk mengikuti Kristus. Pilihlah Lembaga Pertolongan. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. Lihat Lukas 10:42.

2. Sebagaimana dikutip dalam Sarah M. Kimball, "Auto-biography," Woman's Exponent, 1 September 1883, 51.

3. George Albert Smith, "Address to the Members of the Relief Society," Relief Society Magazine, Desember 1945, 717.

4. Lihat "Story of the Organization of the Relief Society," Relief Society Magazine, Maret 1919, 129.

5. Kisah para Rasul 9:36.

6. Ajaran dan Perjanjian 82:3.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy