The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
Oktober dari 1999
"Untuk Itulah Aku Datang Ke Dalam Dunia Ini"

"Untuk Itulah Aku Datang Ke Dalam Dunia Ini"

Penatua Alexander B. Morrison
Dari Tujuh Puluh

Lambang Yesus dan tempat-Nya di dalam hati kita haruslah dalam bentuk kehidupan yang kita persembahkan sepenuhnya bagi pelayanan-Nya, bagi kasih dan perhatian.

Penatua Alexander B. Morrison

Ketika Yesus dibawa ke hadapan Pilatus, setelah dihina dan disiksa pada malam yang gelap penuh kebenciaan, wali negeri Roma yang sombong dengan cepat dapat membedakan bahwa orang ini bukan manusia fana biasa. Yesus tidak memperlihatkan sikap yang takut maupun keberanian palsu yang merupakan ciri khas dari mereka yang memohon agar nyawanya diampuni di hadapan penguasa kerajaan Roma. Dia berdiri diam di hadapan orang Roma yang sombong itu, tidak membungkukkan diri, penuh keagungan, tindakan-Nya lembut tetapi mulia. "Jadi engkau adalah raja?" Ujar Pilatus bertanya (Yohanes 18:37).

Yesus, Raja di atas segala Raja, yang Bapa-Nya akan memberikan kepada Yesus "lebih dari dua belas pasukan malaikat" jika Dia meminta (Matius 26:53), yang kemuliaan dan keagungan-Nya lebih penting dari hal apa pun yang dapat dipahami Pilatus--atau oleh manusia fana mana pun. Dia hanya menjawab: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran" (Yohanes 18:37). Pilatus, orang yang lemah dan tidak tegas, tidak memiliki integritas dan tidak peduli tentang asas-asas kebenaran, menjawab dengan sinis "Apakah kebenaran itu?" (Yohanes 18:38). Lalu, meskipun dia tidak mendapati kesalahan apa pun pada Yesus dan tahu dengan pasti bahwa Dia bukan tipe orang yang mau melakukan provokasi politik juga bukan ancaman bagi kekuasaan dan wewenang Roma, Pilatus tunduk kepada kerumunan orang banyak yang haus darah dan menyerahkan Kristus kepada para penyalib-Nya.

"Untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini." Apakah tujuan Yesus datang ke dalam dunia? Mengapa Yesus, Tuhan Allah yang Mahakuasa yang duduk di sebelah kanan Bapa, Pencipta dunia tanpa terhitung banyaknya, pemberi hukum dan hakim, merendahkan diri-Nya untuk datang ke bumi dilahirkan di palungan, menjalankan sebagian besar kehidupan fana-Nya dalam keadaan tidak dikenal, berjalan tertatih-tatih di jalan-jalan Yudea yang berdebu untuk memaklumkan pesan yang ditentang keras oleh banyak orang, dan yang akhirnya dikhianati oleh salah seorang teman terdekat-Nya, mati di antara dua penjahat di bukit Golgota? Nefi, memuliakan "dalam Yesusku, karena Dia telah menebus jiwaku dari neraka" (2 Nefi 33:6) memahami motivasi Kristus: "Dia tidak berbuat sesuatu kecuali untuk kepentingan dunia, karena Dia mengasihi dunia, bahkan sampai Dia menyerahkan hidup-Nya supaya Dia dapat menarik semua orang kepada-Nya" (2 Nefi 26:24). Adalah kasih kepada semua anak Allah yang menuntun Yesus, unik dalam kesempurnaan-Nya yang tidak berdosa, untuk menawarkan diri-Nya sebagai tebusan bagi dosa-dosa orang lain. Di dalam nyanyian rohani yang manis dikatakan, "Yesus mati di Kalvari, Agar melalui-Nya semua orang dapat ditebus" ("Tis Sweet to Sing the Matchless Love," Hymns, nomor 176, diterjemahkan secara bebas). Oleh karena itu, inilah tujuan tertinggi yang membawa Yesus ke bumi untuk "menderita, berdarah dan mati bagi manusia." Dia datang seperti "anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat" (1 Petrus 1:19) untuk menebus dosa-dosa kita, agar Dia yang disalibkan dapat menarik semua orang datang kepada-Nya (lihat 3 Nefi 27:14). Seperti yang dinyatakan dalam ungkapan bahagia Paulus, "sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1 Korintus 15:22).

Lambang kemenangan-Nya atas kematian adalah kubur yang kosong. Dia yang "telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga" (Kisah para Rasul 10:40) telah melepaskan "belenggu kematian jasmani ini, sehingga semuanya akan dibangkitkan dari kematian jasmani ini" (Alma 11:42, penekanan ditambahkan) dan "memperoleh kemenangan atas kuburan" (Mormon 7:5). Di dalam Dia "sengat kematian ditelan" (Mosia 16:8).

Tetapi Yesus datang tidak saja untuk membawa kehidupan fana, tetapi juga kehidupan kekal kepada anak-anak Bapa kita. Meskipun Kurban Tebusan Kristus memberikan kebangkitan secara universal kepada semua orang, tanpa memandang jasa, karunia kehidupan kekal--kehidupan dengan Bapa dan Putra, di hadirat Mereka yang sempurna--diperuntukkan bagi yang setia, bagi mereka yang memperlihatkan kasih mereka kepada Kristus dengan kesediaan mereka mengikuti perintah-perintah dan membuat serta mematuhi perjanjian-perjanjian kudus. "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya," ujar Yesus mengingatkan kita, "dialah yang mengasihi Aku" (Yohanes 14:21). Seperti yang telah dinyatakan oleh para nabi di sepanjang zaman, hanya sewaktu kita membuat dan mematuhi perjanjian-perjanjian kudus--perjanjian-perjanjian selestial kudus antara Allah dan manusia--maka kita dapat "mengambil bagian dalam kodrat ilahi" dan luput "dari hawa nafsu duniawi" (2 Petrus 1:4).

Yesus datang ke bumi, pertama dan yang terutama, sebagai Juruselamat, penebus dosa yang mati agar semua orang dapat menemukan "damai di bumi ini dan hidup yang kekal di dunia yang akan datang" (A&P 59:23). Tetapi Dia juga datang untuk tujuan lainnya--yaitu untuk melayani sebagai teladan bagi semua potensi ilahi manusia, standar kehidupan yang harus diikuti semua orang. Dia yang menyatakan keilahian-Nya kepada perempuan Samaria di tepi sumur Yakub (lihat Yohanes 4) meminta kita untuk menjadi "bahkan seperti Aku" (3 Nefi 27:27), menjadi sempurna "bahkan seperti Aku, atau seperti Bapamu yang di surga itu sempurna adanya" (3 Nefi 12:48). Dia adalah contoh teladan kasih yang sesungguhnya, yang setiap tindakan-Nya dilakukan berdasarkan kasih. Dari kedalaman kasih itu Dia meminta kita untuk mengurus orang yang sakit, orang miskin, orang yang menderita; mendoakan dan memperlihatkan belas kasih kepada semua anak Allah, karena "Allah tidak membedakan orang" (lihat Kisah para Rasul 10:34). Di dalam diri-Nya tidak ada rintangan ras atau jenis kelamin atau bahasa. Seperti yang dijelaskan Nefi, "Dia tidak menyangkal seorang pun yang datang kepada-Nya, baik hitam maupun putih, budak maupun orang merdeka, orang laki-laki maupun perempuan; dan Dia ingat akan orang-orang kafir, dan semuanya sama bagi Allah" (2 Nefi 26:33).

Kepada mereka di antara kita yang bertanya-tanya siapa sesama manusia itu, Dia berbicara tentang Orang Samaria yang Baik; tentang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari satu ekor yang hilang; dan tentang orang yang mengadakan "perjamuan besar," yang mengundang "orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh" (Lukas 14:16, 21).

Yesus, Sang Guru, berulang kali mengajarkan kebenaran kekal yang diambil dari pengalaman kehidupan sehari-hari. Salah satu dari pelajaran itu berhubungan dengan perlunya bersikap murah hati sewaktu kita memberi--memberi dengan roh pengorbanan dan maksud untuk memberkati mereka yang kurang -beruntung daripada kita sendiri. Lukas mencatat bahwa sewaktu Yesus duduk di bait suci Dia mengamati mereka yang memberikan sumbangan mereka ke dalam peti persembahan. Ada yang memasukkan sumbangan mereka dengan penuh iman dan maksud yang tulus, tetapi ada juga, yang meskipun memberikan dalam jumlah uang perak dan emas, melakukannya dengan maksud pamer, khususnya agar dilihat orang lain.

Di antara antrian panjang para penyumbang terdapat seorang janda miskin, yang memasukkan ke dalam peti persembahan itu semua yang dia miliki, dua recehan uang logam perunggu yang dikenal sebagai peser. Kalau dijumlahkan nilainya kurang dari setengah sen dolar Amerika. Memperhatikan perbedaan antara uang yang diberikan janda itu dan sumbangan yang jauh lebih besar yang diberikan orang lain, Yesus menyatakan "sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu." Meskipun orang kaya telah memberikan dari kelimpahan mereka, "tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan dia memberi seluruh nafkahnya" (Lukas 21:1­4). Bukan jumlah uang yang kita berikan yang penting. Menurut cara surga mengukur sesuatu, suatu nilai ditentukan bukan berdasarkan kuantitas tetapi kualitas. Yang diterima Allah adalah niat tulus dari yang memberi (lihat 2 Korintus 8:12).

Yesus memiliki kasih yang istimewa terhadap anak-anak. Baik di zaman dahulu maupun di zaman sekarang Dia memanggil mereka untuk datang kepada-Nya (lihat Lukas 18:16; 3 Nefi 17:21­24). Catatan bangsa Nefi memberikan kesaksian tentang kasih lemah lembut Kristus terhadap anak-anak kecil: "Diambil-Nya anak-anak kecil mereka, seorang demi seorang, dan memberkati mereka dan berdoa kepada Bapa untuk mereka;

"Dan ketika Dia telah melakukan ini, Dia menangis lagi" (3 Nefi 17:21­22). Yesus tahu bahwa anak-anak kecil masih murni dan tanpa dosa. "Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini," ujar-Nya, "kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga" (Matius 18:3). Raja Benyamin, nabi bangsa Nefi yang hebat, menjelaskan makna menjadi seperti anak kecil: "penurut, lemah lembut, rendah hati, sabar, penuh kasih sayang, bersedia patuh kepada segala sesuatu yang menurut anggapan Tuhan patut dikenakan kepadanya" (Mosia 3:19).

Di dunia di mana setiap hari kita dihadapkan dengan begitu banyak ketidakpedulian dari orang-orang yang tidak memiliki perasaan terhadap orang yang kurang beruntung, Yesus berbicara tentang perlunya memberikan makanan kepada yang lapar, minuman kepada yang haus, tumpangan kepada orang asing, pakaian kepada yang telanjang, dan mengunjungi yang sakit dan mereka yang berada di penjara.

Di dalam salah satu ujian paling sulit dalam menjadi murid Kristen yang baik Dia meminta kepada semua orang: "kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Dia mengingatkan kita bahwa sewaktu kita melakukan perbuatan amal kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang dianggap sejumlah orang "yang paling hina ini," "kamu telah melakukannya untuk Aku" (lihat Matius 25:35­45). Dia mengajarkan tidak saja tentang kewajiban kita untuk saling menolong secara jasmani, tetapi juga tentang implikasi-implikasi kuat, kekal dan rohani dari perbuatan demikian. Sesungguhnya, semua perintah-Nya, dalam analisa akhir, juga menyangkut rohani, bukan jasmani semata. Oleh karena itu tulisan suci menasihatkan bahwa "untuk memegang teguh pengampunan atas dosa-dosa [kita] dari hari ke hari, agar [kita] dapat berjalan tanpa kesalahan dihadapan Allah . . . [kita] membagi harta [kita] kepada yang miskin, setiap orang sesuai dengan apa yang dimilikinya" (Mosia 4:26).

Oleh karena itu, pada hakekatnya kita memperlihatkan pengabdian kita kepada Kristus, dan mengungkapkan keteladanan murid kita dengan paling baik melalui cara kita hidup dan melayani-Nya. Lambang Yesus dan tempat-Nya di dalam hati kita haruslah dalam bentuk kehidupan yang kita persembahkan sepenuhnya bagi pelayanan-Nya, bagi kasih dan perhatian; bagi komitmen yang tidak mementingkan diri kepada Kristus dan tujuan-Nya; bagi kelahiran kembali secara rohani yang menghasilkan "perubahan yang hebat" di dalam hati kita dan mempersiapkan kita menerima "rupa-Nya di dalam wajah [kita]" (Alma 5:13­14). Mengambil nama-Nya ke atas diri kita berarti bersedia melakukan apa saja yang Dia minta dari kita. Seseorang pernah mengatakan bahwa harga kehidupan orang Kristen selalu sama sampai sekarang: yaitu memberikan semua yang kita miliki, tidak menahan sedikit pun, "membuang segala dosa [kita] untuk mengenal Dia" (Alma 22:18). Sewaktu kita gagal mengikuti standar Tuhan karena kemalasan, ketidakpedulian, atau kejahatan; sewaktu kita jahat atau dengki, egois, menurutkan hawa nafsu atau dangkal; berarti kita menyalibkan Dia sekali lagi. Dan sewaktu kita berusaha secara konsisten menjadi yang terbaik, ketika kita mengurus dan melayani orang lain, ketika kita mengatasi keegoisan dengan kasih, ketika kita mengutamakan kesejahteraan orang lain melebihi kesejahteraan kita sendiri, ketika kita saling menanggung beban dan "berkabung dengan mereka yang berkabung," ketika kita "menghibur mereka yang membutuhkan hiburan dan berdiri sebagai para saksi Allah setiap saat dan dalam segala hal, dan di segala tempat" (Mosia 18:8­9), maka kita menghormati-Nya, dan memperoleh manfaat dari kuasa-Nya, dan menjadi seperti Dia, tumbuh "makin cemerlang," jika kita memiliki tekad, "sampai kepada terangnya siang hari yang sempurna" (A&P 50:24).

Suara tidak dapat memberitahukan, juga lidah tidak dapat menyatakan kegenapan teladan Kristus yang tak dapat diungkapkan. Di dalam perkataan Yohanes yang Terkasih, kita membaca, "Masih banyak hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu" (Yohanes 21:25).

Saya mengakhiri di tempat saya mengawali, dengan perkataan agung Kristus kepada Pilatus "Untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini." Betapa kita seharusnya bersyukur bahwa Dia datang, dua ribu tahun yang lalu, untuk menebus dosa-dosa kita dan memberikan teladan bagi kehidupan kita. Kita memaklumkan kebenaran itu dengan berani kepada semua orang di dunia. Saya bersaksi bahwa Dia akan kembali lagi, segera, sebagai Raja di atas segala Raja dan Tuan di atas segala tuan, dengan kuasa penyembuhan pada sayap-Nya, untuk membebaskan umat-Nya (lihat "Datang Maha Raja," Nyanyian Rohani, no. 18). Dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy