Penatua Stephen B. Oveson
Dari Tujuh Puluh
Apakah yang sekarang kita lakukan untuk memastikan agar pusaka [kita] diturunkan kepada anak-anak dan cucu-cucu terkasih kita?
Saudara-saudaraku yang terkasih, saya bersyukur dapat berada di sini bersama Anda di tabernakel yang bersejarah ini. Tujuh puluh empat tahun yang lalu, kakek saya, Lars Peter Oveson berdiri di mimbar ini dan memberikan kesaksiannya sebagai presiden wilayah yang diundang dari Emery County, Utah.
Meskipun dia meninggal ketika saya masih kecil, kakek saya senantiasa merupakan salah seorang pahlawan saya. Saya telah mempelajari buku hariannya, yang berulang kali menceritakan kesediaannya menerima pemanggilan yang datang kepadanya di sepanjang kehidupannya. Dia dan orang tuanya dipertobatkan kepada injil di Denmark, berimigrasi ke negara ini dan bergabung bersama para Orang Suci di Utah. Salah satu pemanggilan yang dia terima mengharuskan dia meninggalkan istrinya yang masih muda selama enam bu- lan untuk bekerja membangun Bait Suci St. George. Dia kembali meninggalkan istri dan keluarganya yang masih baru untuk melayani misi selama dua tahun di negara asalnya Denmark. Kemudian, pemanggilan sebagai uskup dan presiden wilayah mengharuskan mereka pindah dan membangun kembali rumah dan keluarganya pada tiga kesempatan yang berbeda. Melalui semua proses perubahan ini, dia tetap bersyukur, ceria dan setia kepada asas-asas injil sehingga meninggalkan pusaka besar bagi kami semua yang menyandang namanya.
Pusaka ini diturunkan kepada saya oleh ayah saya, Merrill M. Oveson, putra bungsu dari keluarga yang memiliki 13 anak. Dia dan ibu saya, Mal Berg Oveson, juga dari garis keturunan yang setia, dimeteraikan di Bait Suci Salt Lake, naik kereta api, dan pergi ke Oregon untuk melanjutkan pendidikan ayah saya. Mereka tetap tinggal di sana selama lebih dari 40 tahun, yang sebagian besar dari sisa hidup mereka, mereka tinggal di sebuah lingkungan pertanian yang sangat kecil di mana kami adalah satu-satunya anggota Gereja.
Saya sering memikirkan betapa mudah bagi orang tua saya untuk mengubah kepercayaan mereka dan bergabung bersama banyak teman mereka dalam lingkungan gereja Kristen di lingkungan setempat jika mereka mau. Tindakan ini akan mempermudah kehidupan mereka, khususnya selama tahun-tahun Perang Dunia II ketika penerimaan jatah bensin dan ban mobil tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengadakan perjalanan sejauh 40 mil untuk pergi ke cabang Gereja OSZA terdekat. Sebaliknya, mereka memperoleh wewenang untuk mengadakan Sekolah Minggu di rumah, yang mereka lakukan dengan setia setiap minggu pada tahun-tahun tersebut. Di sana, kami berbagi sakramen bersama sebagai keluarga. Di sana, saya, saudara lelaki dan saudara perempuan saya mempelajari asas-asas injil dan mendengarkan cerita-cerita di dalam Alkitab dan Kitab Mormon langsung dari orang tua kami.
Ayah saya, salah seorang pahla-wan saya lainnya meninggal beberapa tahun yang lalu, tetapi ibu saya, yang sekarang berusia 96 tahun masih menghadiri lingkungannya dengan setia setiap minggu dan menjadi sumber ilham bagi semua yang mengenalnya.
Istri saya memiliki pusaka yang serupa dari latar belakang keluarganya. Betapa kami bersyukur atas semua ini. Kami tahu bahwa kami telah diberikan kepercayaan dengan pemanggilan saat ini yang sebagian disebabkan karena tindakan-tindakan dari mereka yang telah mendahului kami. Pertanyaannya adalah, apakah yang sekarang kami lakukan untuk memastikan agar pusaka ini diturunkan kepada anak-anak dan cucu-cucu terkasih kami?
Baik kita telah menjadi anggota Gereja selama beberapa generasi atau baru merupakan generasi yang pertama, kita memiliki tanggung jawab untuk menurunkan kepada keturunan kita pusaka iman, yang diwujudkan melalui tindakan kita sehari-hari. Mereka yang baru dipertobatkan menjadi anggota terutama sekali memiliki kesempatan besar untuk menjadi "pionir" bagi leluhur dan bagi keturunan mereka. Agar dapat memenuhi kewajiban ini, kita semua perlu mengajukan beberapa pertanyaan berikut kepada diri kita sendiri:
Apakah kita sedang membangun kehidupan yang jujur dan berintegritas?
Apakah kita mengikuti nasihat para nabi kita, baik yang lampau maupun yang sekarang?
Apakah kita orang yang mematuhi perjanjian kita?
Apakah kita mengadakan malam keluarga dan mempelajari tulisan suci, berusaha menjalani ajaran-ajaran yang kita terima dari-Nya?
Apakah kita mematuhi Kata-kata Bijaksana?
Apakah kita murah hati dalam membayar persepuluhan dan persembahan kita?
Apakah kita berpuasa dan berdoa secara teratur dan dengan hati yang tulus?
Apakah kita mendengarkan jawaban atas doa-doa kita dan berusaha mengikuti bisikan dari Roh?
Apakah kita adalah tetangga yang baik dan teman yang setia?
Apakah kita menolong membangun kerajaan Allah dengan menghormati imamat, meningkatkan pemanggilan kita dan membagikan injil kepada orang lain?
Apakah kita lambat marah dan cepat mengampuni?
Dapatkah kita mengatakan dengan jujur bahwa kita tidak saja bertobat dari kesalahan-kesalahan kita, tetapi juga belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut?
Apakah kita mengutamakan Juruselamat dan injil-Nya di dalam kehidupan kita? Atau, seperti yang pernah diucapkan seseorang, "Jika kita didakwa di dalam sebuah pengadilan hukum karena kita anggota Gereja OSZA, akankah ada cukup bukti untuk menghukum kita?"
Saudara-saudaraku sekalian, jika kita tidak merasa nyaman dengan jawaban terhadap jenis pertanyaan-pertanyaan ini, maka mulai sekarang kita perlu membina kehidupan yang lebih berteladan agar mereka yang sangat kita kasihi akan "melihat perbuatan [kita] yang baik dan memuliakan Bapa [kita] yang di sorga" (Matius 5:16).
Saya harus mengakui bahwa sewaktu kehidupan saya gagal memenuhi standar-standar leluhur saya, itu disebabkan karena saya telah membiarkan prioritas-prioritas duniawi lebih didahulukan daripada prioritas-prioritas rohani saya. Tetapi saya telah belajar bahwa masih memungkinkan bagi kita untuk mengarahkan kembali tujuan-tujuan kita dan memusatkan pandangan kita pada nilai-nilai kekal.
Saya dan istri saya telah menyaksikan banyak orang yang dipertobatkan kepada Gereja perlu berubah agar dapat menjadi jiwa-jiwa yang berpusat kepada injil. Kami telah melihat ratusan misionari muda penuh waktu di Buenos Aires, Argentina berkorban untuk menjadi hamba Tuhan yang benar-benar kudus. Semua yang diperlukan adalah keinginan, kepatuhan, dedikasi, dan ketabahan. Tuhan akan melakukan selebihnya!
Kita adalah anak-anak-Nya. Dia mengasihi kita dan mengenal nama kita masing-masing. Dia ingin agar kita kembali ke hadirat-Nya dan tinggal bersama-Nya secara kekal. Ini adalah pusaka besar injil Yesus Kristus. Karena kurban tebusan Juruselamat kita, kita memiliki kepastian akan kehidupan yang akan datang dan kemungkinan mewarisi semua yang dimiliki Bapa. Dengan pengetahuan dan pusaka ini, kita harus "maju terus dengan suatu ketabahan dalam Kristus, dengan harapan yang gilang gemilang" (2 Nefi 31:20).
Kita harus mengikuti tuntunan nabi kita yang terkasih, Presiden Hinckley, yang baru-baru ini mengatakan kepada siswa di Ricks College: Kepada Anda saya mengucapkan dengan segenap tenaga yang saya miliki, janganlah menjadi keturunan yang lemah di dalam rantai generasi Anda. Anda datang ke dunia dengan warisan yang sangat indah. Anda berasal dari keturunan pria dan wanita yang hebat . . . . Jangan pernah mengecewakan mereka. Jangan pernah melakukan sesuatu yang akan melemahkan rantai di mana Anda sendiri adalah bagian penting daripadanya" (Scroll, 14 Sept. 1999, 20). Bagi saya itu berarti bahwa kita harus berbuat dengan segenap kekuatan kita untuk memastikan agar kita menanamkan kepada orang-orang yang kita kasihi pusaka besar kesaksian kekal injil Yesus Kristus.
Seperti yang diucapkan dengan mengesankan oleh kakek saya 74 tahun yang lalu: "Saya bersukacita memberikan kesaksian saya atas kebenaran pekerjaan Tuhan ini kepada dunia, karena saya tahu itu benar; saya tahu pekerjaan itu adalah untuk mengangkat dan memajukan anak-anak Allah, dan saya berdoa agar Tuhan mau membantu . . . kita agar kita tetap setia dan benar, agar kita menjadi pekerja yang berani untuk membela kebenaran dan membantu membangun kerajaan-Nya di atas bumi" (Lars Oveson, dalam Conference Report, Apr. 1925, 127). Kepada kebenaran ini, saya menambahkan kesaksian saya sendiri, dalam nama Yesus Kristus, amin.