The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
Oktober dari 1999
Hak Pilihan--Sebuah Berkat Dan Beban

Hak Pilihan--Sebuah Berkat Dan Beban

Sister Sharon G. Larsen
Penasihat Kedua dalam Presidensi Umum Remaja Putri

Hak pilihan adalah kuasa untuk berpikir, memilih, dan bertindak bagi diri sendiri. Hak pilihan datang dengan kesempatan kekal, yang disertai dengan tanggung jawab dan akibatnya.

Sister Sharon G. Larsen

Sewaktu kita meninggalkan hadirat Bapa kita di Surga dan masuk ke dunia ini, kita membawa bersama kita sebuah karunia prafana dan kekal yang sangat berharga dan kudus. Inilah karunia itu, karunia hak pilihan, yang ingin saya bicarakan.

Hak pilihan adalah kuasa untuk berpikir, memilih, dan bertindak bagi diri sendiri. Hak pilihan datang dengan kesempatan kekal, yang disertai dengan tanggung jawab dan akibatnya. Hak itu merupakan sebuah berkat dan sebuah beban. Menggunakan karunia hak pilihan ini secara bijaksana sangatlah serius saat ini karena tidak pernah ada dalam sejarah dunia anak-anak Allah sedemikian diberkati atau sedemikian mencolok dihadapkan dengan sedemikian banyak pilihan.

Kehidupan jauh lebih sederhana beberapa tahun yang lalu di kampung halaman saya di padang rumput Canada. Nomor telepon kami hanya satu digit--3. Ada film hitam putih yang datang dari kota terbesar Cardston setiap Kamis malam. Surat datang setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat--kecuali salju lebat turun.

Hanya ada satu jalan utama. Tiga mil ke barat adalah perkebunan kami, dan dua puluh mil ke timur di jalan yang sama adalah Bait Suci Cardston. Tidak banyak jalan lain untuk dipilih atau tempat untuk dikunjungi.

Saat ini tersedia nomor telepon yang tidak terbatas, film dari segala jenis dan warna, e-mail tersedia 24 jam sehari, dan banyak jalan yang tanpa belas kasih memerlukan penilaian kita. Lingkungan kita dibanjiri dengan pilihan-pilihan. Tetapi tujuan kita untuk datang ke sini di bumi tidak pernah berubah.

Tuhan menyatakan kepada Abraham bahwa Dia mengirim kita ke bumi untuk melihat apakah kita akan melakukan yang Dia perintahkan (lihat Abraham 3:25). Pilihan-pilihan menjadi tidak dapat dielakkan. Dua tekanan dunia yang bertentangan memerlukan komitmen kita. Di satu sisi ada kenyataan dari Setan, dan di sisi lain, kasih Juruselamat yang lebih kuat.

Lehi mengajarkan kita bahwa jika tidak ada pertentangan, tidak akan ada keadilan maupun kejahatan, kebaikan atau pun kejahatan (lihat 2 Nefi 2:11, 16). Kita tidak dapat bertindak bagi diri kita sendiri jika tidak ada pilihan. Untuk menjadi seorang pengikut Kristus yang berkomitmen, kita harus memiliki pilihan untuk menolak Dia. Jadi Setan diizinkan untuk melatih kuasanya, dan menyerahkan keinginan kita pada Allah kadang-kadang dapat menjadi sulit. Meskipun demikian dalam pelatihan untuk bertindak bagi diri kita sendiri inilah kita berkembang.

C. S. Lewis mengatakan: "Hanya mereka yang mencoba untuk menolak godaan mengetahui bagaimana kuatnya . . . . Anda menemukan kekuatan angin dengan mencoba berjalan menentangnya, tidak dengan tidur-tiduran." Seseorang yang menyerahkan diri ke dalam pencobaan setelah lima menit tidak tahu apa yang akan terjadi satu jam kemudian." Lewis melanjutkan, "Kristus, karena Dia adalah Orang satu-satunya yang tidak pernah menyerah terhadap pencobaan, adalah satu-satunya Orang yang mengetahui dengan sepenuhnya apa artinya pencobaan" (Mere Christianity [1960], 109­10).

Saya teringat meminta orang tua saya agar saya dapat melakukan beberapa hal. Tanggapan mereka tidak pernah bervariasi: "Kamu telah diajar. Kamu mengetahui bagaimana perasaan kami mengenainya, tetapi kamu harus memutuskannya sendiri." Meskipun demikian, memutuskan untuk diri sendiri mendikte konsekuensinya, yang adalah tidak selalu apa yang kita inginkan. Kita menginginkan kebebasan tanpa konsekuensi. Dengan demikian, terlalu sering, kita mencoba untuk berdiri netral, tidak berkeputusan dan tidak berkomitmen. Di dalam suasana seperti inilah kita menjadi mudah diserang pengaruh Setan.

Raja Ahab dan rakyatnya di bagian Utara Israel menceritakan kepada kita mengenai kenetralan dan ketidaktegasan. Tangan Tuhan telah ditahan karena rakyat itu tidak mau memutuskan siapa yang ingin disembah--Yehova atau Baal. Baal adalah nama lain dari Setan. Tuhan mengirim Elia sang nabi dengan pesan yang jelas ini: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tulisan suci mengatakan, "Rakyat itu tidak menjawabnya sepatah kata pun" (1 Raja-raja 18:21). Mereka tidak mau bertanggung jawab atas pembuatan sebuah tekad. Anda ingat kisahnya: Elia menantang mereka untuk mengadakan suatu percobaan untuk melihat siapakah Allah. Setiap dari mereka harus berdoa kepada allah mereka untuk melihat yang mana yang akan membakar persembahan di altar. Ketika para imam memanggil berhala mereka dengan kuat, mereka ditinggalkan tidak terdengar dan tidak memperoleh bantuan.

Dalam perbedaan yang sebenarnya, seorang nabi yang sendirian dari Allah yang sejati dan hidup tidak saja didengar, dia telah ditingkatkan dalam usahanya. Ketika Elia berseru kepada Allahnya, turunlah api Tuhan menyambar habis--korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu--bahkan air yang ada di dalam parit itu habis dijilatnya. Mengikuti kejadian ini, rakyat itu berkata, "Tuhan, Dialah Allah!" (1 Raja-raja 18:39), dan kemudian tulisan suci menyatakan para imam Baal terbunuh. Tidak ada lagi orang yang tidak percaya yang hidup di bagian Utara Israel pada hari itu! Pilihan tidak akan menjadi dilema jika hasil kebaikan dinyatakan dengan segera dan luar biasa sebagaimana yang terjadi pada Elia atau jika perbuatan jahat berarti kematian cepat. Tetapi tidaklah sesederhana itu ketika tugas kita adalah untuk meningkatkan iman kita.

Iman dan tekad kita diuji ketika dunia menawarkan jalan lain yang menggiurkan dan menarik yang dapat membalikkan kita dari kerajaan Tuhan. Beberapa orang ingin tinggal di kota kekal dan tetap memiliki "vila" di Babel. Tetapi jika kita tidak dengan sadar dan sengaja memilih kerajaan Allah, kita sesungguhnya mundur sementara kerajaan Allah bergerak maju dengan berani, dengan agung, dan dengan merdeka" (Joseph Smith, Encyclopedia of Mormonism, diedit oleh Daniel H. Ludlow, vol. 5 [1992], 4:1754). Memilih jalan mana yang kita hadapi akan menentukan berkat-berkat atau beban kita. Tuhan mengundang kita untuk menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya dan Dia akan memelihara kita (lihat Mazmur 55:23), sementara Mormon memperingatkan bahwa, "Iblis tidak akan membantu anak-anaknya" (lihat Alma 30:60).

Seorang pria yang saya kasihi dengan segenap hati saya mengatakan kepada saya: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan kepada saya apa yang harus saya lakukan. Saya bertanggung jawab atas kehidupan saya sendiri." Dia memiliki gagasan yang salah bahwa untuk mandiri dan merdeka, dia harus menentang keinginan Allah. Kemudian dari mana kekuatannya datang?

Brother James E. Talmage me- ngatakan mengenai Yesus: Dia "adalah segalanya yang seharusnya dimiliki seorang anak, karena perkembangan-Nya tidak diperlambat dengan beban dosa yang meruntuhkan; Dia mengasihi dan mematuhi kebenaran dan karenanya merdeka" (Jesus the Christ [1979], 112).

Membuat pilihan-pilihan yang benar memerdekakan dan memberkati kita, bahkan dalam memilih apa yang kelihatannya sepele dalam kehidupan kita. Seorang teman berpikir Tuhan terlalu mencampuri kehidupannya. Dia mengatakan, "Saya tidak dapat mengikuti hal-hal yang mutlak di Gereja yang meminta saya harus melakukan ini, saya tidak dapat melakukan itu." Teman saya tidak melihat bahwa hal-hal yang mutlak itu adalah bukti dari kepedulian Bapa.

Bukankah luar biasa? Ada enam miliar orang di planet ini, dan Bapa Surgawi memperhatikan apa yang saya lihat untuk hiburan, dan Dia memperhatikan apa yang saya makan dan minum, dan Dia memperhatikan bagaimana saya memperoleh dan mengeluarkan uang saya. Dia memperhatikan apa yang saya lakukan dan yang tidak saya lakukan. Bapa Surgawi memperhatikan kebahagiaan saya.

Perhatian Bapa kita datang dalam banyak cara, dan kita hanya perlu mendengar dan mematuhinya. Seseorang berkata, "Jika [kita] tidak memilih kerajaan Allah [pada mulanya], pada akhirnya tidaklah akan ada bedanya apa yang akan [kita] pilih" (William Law, 18th Century Clergyman).

Karena tujuan kita di bumi ini tidak berubah, dan tidak akan pernah berubah, Bapa kita dengan teratur dan tetap memberikan karunia-karunia tambahan untuk membuat dunia kita aman dan memperkuat kebijaksanaan penggunaan hak pilihan kita. Pikirkan mengenai karunia doa--kesempatan untuk didengar dan dimengerti. Pikirkan mengenai karunia Roh Kudus yang akan menunjukkan kepada kita segala hal yang harus kita lakukan (lihat 2 Nefi 32:5). Pikirkan mengenai perjanjian kudus yang telah kita buat, tulisan suci, imamat, dan berkat bapa bangsa. Pikirkan mengenai karunia termegah Kurban Tebusan dan peringatannya dalam sakramen yang menyelimuti kita dengan kasih dan harapan serta kemurahan. Karunia-karunia ini membantu kita menggunakan hak pilihan kita dengan bijaksana untuk kembali pulang ke rumah surgawi kita di mana terdapat "apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1 Korintus 2:9).

Saat ini ada banyak jalan, tetapi seperti kampung halaman saya, hanya ada satu jalan utama, jalan yang sempit dan lurus.

Mengetahui kecenderungan kita untuk berkelana di jalan-jalan yang asing (1 Nefi 8:32), kita memohon kepada Tuhan melalui nyanyian rohani ini:

Cenderung tersesat, aku merasakannya, Tuhan,
Cenderung meninggalkan Allah yang aku kasihi;
Inilah hatiku, ya, ambil dan meteraikanlah;
Meteraikanlah untuk pengadilan-Mu kelak.
(Hymns, edisi 1948, hlm. 70, diterjemahkan secara bebas)

Saya menutup dengan doa Nefi yang berbicara kepada Anda dan saya: "Ya Tuhan, janganlah Engkau menutup pintu-pintu gerbang kebenaran-Mu di hadapanku, supaya aku boleh berjalan di jalan lembah yang rendah, supaya aku dapat seksama berada pada jalan yang benar" (2 Nefi 4:32), dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy