The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
Oktober dari 1998
Mengatasi Keputus-asaan

Mengatasi Keputus-asaan

Penatua Val R. Christensen
Dari Dewan Tujuh Puluh

Jika kita menempatkan sedikit lebih banyak kesabaran dalam proses itu dan lebih banyak iman kepada Tuhan, semua tantangan kita akan menemukan jalan mereka menuju penyelesaian yang penuh keberhasilan.

Penatua Val R. Christensen

Ketika seorang anggota gereja dipanggil pada tanggung jawab yang menantang, adalah wajar untuk memikirkan kejadian-kejadian dan orang-orang yang telah membawanya ke titik itu dalam kehidupannya. Panggilan untuk melayani dalam Dewan Tujuh Puluh menawarkan sebuah kesempatan untuk menyatakan penghargaan kepada teman-teman, keluarga--khususnya istri saya, Ruth Ann--dan kepada para misionari di Misi Phoenix Arizona. Saya mengasihi anda semua. Saya juga menantikan untuk melayani orang-orang yang istimewa di Filipina.

Beberapa tahun lalu saya diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan api unggun di mana saya menggariskan cara-cara bagi orang untuk mengatasi keputus-asaan. Pada awal dari penyajian itu, saya mengajak mereka yang hadir untuk menulis di kartu sebuah tantangan besar yang mereka hadapi, tantangan yang mereka tidak berkeberatan jika saya bagikan secara anonim kepada anggota lain dalam kelompok itu. Ketika masalah-masalah mulai diutarakan, saya merasa tersentuh oleh perkara-perkara penting yang dihadapi oleh para anggota yang tampaknya memegang kendali dalam hidup mereka. Berikut adalah beberapa yang mereka tuliskan:

1. Ladang saya tidak menghasilkan uang sama sekali.

2. Putra saya memiliki penyakit yang membawa kematian.

3. Perselisihan dengan anak remaja.

4. Putra saya yang paling tua hampir buta.

5. Belajar untuk menerima kematian putra saya.

6. Suami saya melihat kekurangan-kekurangan, tetapi tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang indah.

Banyak dari kita menghadapi tantangan-tantangan yang besar. Bahkan nabi Henokh yang hebat mengalami kesedihan sewaktu dia melihat kejahatan dunia: "Dan sewaktu Henokh melihat ini, hatinya sangat berduka, dan menangis atas saudara-saudaranya itu, dan berkata kepada langit: Aku akan menolak untuk dihibur, tetapi Tuhan berfirman kepada Henokh: Hiburlah hatimu dan bergembiralah, serta lihat" (Musa 7:44).

Paling tidak ada tiga langkah yang dapat diambil sewaktu berusaha untuk mengatasi keputus-asaan:

1.Anda dapat berusaha mengubah sikap anda terhadap masalah itu. Walaupun anda tidak dapat mengubah keadaan di mana anda bekerja atau hidup, anda selalu dapat mengubah sikap anda.

2. Anda dapat menerima bantuan dari mereka yang dekat dengan anda--keluarga anda, teman-teman, dan para anggota cabang, mereka yang paling mengasihi anda.

3. Anda dapat mengembangkan kepercayaan yang lebih kuat dan penuh kepada Tuhan Yesus Kristus.

Ubahlah sikap anda. Dengan memandang sebuah persoalan dari sudut yang lain, adalah mungkin untuk mengurangi keputus-asaan. Saya terkesan dengan sebuah cerita pionir mengenai Zina Young. Setelah mengalami kematian orang tuanya, kegagalan panen, dan penyakit, ia didorong oleh sebuah pengalaman rohani yang mengubah sikapnya. Ketika berusaha untuk memperoleh pertolongan ilahi, ia mendengar suara ibunya: "Zina, pelaut mana pun dapat mengemudikan kapalnya di atas laut yang tenang, ketika batu karang muncul, berlayarlah memutarinya." Sebuah doa muncul dengan cepat: "Ya Bapa di surga, tolonglah saya untuk menjadi pelaut yang baik, agar hati saya tidak hancur pada batu karang kesedihan" ("Mother," The Young Woman's Journal, Januari 1911, hlm. 45). Sering kali sulit untuk mengubah keadaan, tetapi sebuah sikap yang positif dapat menolong mengangkat keputus-asaan.

Terimalah pertolongan dari orang lain. Hal penting berikutnya adalah bersedia untuk meminta bantuan dari mereka di sekitar anda. Kadang-kadang pertolongan datang dari sumber-sumber yang tidak terduga. Beberapa tahun yang lalu, saya berdiri di antrian di Chicago menunggu untuk meletakkan bagasi saya ke pesawat. Di belakang saya ada seorang lelaki tua. Setelah beberapa menit ia berkata kepada saya, "Anda pergi ke mana?" Saya mengatakan bahwa saya menuju ke Salt Lake City. Ia berkata, "Saya juga akan ke sana. Apakah anda seorang Mormon?" Saya menjawab dengan mengatakan saya seorang Mormon. Ia mengatakan bahwa ia telah menjadi seorang OSZA sepanjang hidupnya dan akhirnya telah mempersiapkan dirinya untuk pergi ke bait suci. Sewaktu menunggu pesawat, ia membuka tasnya untuk memperlihatkan kepada saya semua foto misionari yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Setelah beberapa menit, kami memulai perjalanan kami dan mengadakan percakapan yang menyenangkan sewaktu kami terbang menuju Utah. Pada saat tiba, kami meninggalkan pesawat dengan cepat. Saya memastikan bahwa ia mengetahui ke mana ia harus pergi dan mengucapkan kata perpisahan.

Beberapa minggu kemudian, saya menerima kartu ini melalui pos: "Yang Terkasih Brother Christensen, saya kehilangan alamat anda dan kemudian menemukannya. Maka, saya menulis sebuah kartu bagi anda. Ketika saya bertemu anda di Chicago, itu merupakan sebuah doa yang telah dijawab. Saya belum pernah pergi ke mana-mana. Saya ingin berada bersama seseorang. Saya telah berpikir tentang anda sering kali. Saya benar-benar merasa senang di Salt Lake City di dalam bait suci. Semoga bertemu anda lagi kelak. Terima kasih banyak karena anda merupakan pertolongan bagi saya." Saya tidak merencanakan untuk berguna pada hari itu, tetapi saya bersyukur atas Brother ini yang mencari pertolongan tambahan dan saya berada di sana untuk menolong.

Tingkatkan kepercayaan kepada Tuhan. Saya telah berbicara mengenai mengubah sikap dan menerima pertolongan dari orang lain. Sekarang, izinkanlah saya mengatakan tentang perlunya meletakkan lebih banyak kepercayaan dan iman kepada Tuhan. Saya pernah berbicara kepada seorang wanita yang telah menerima pertolongan dari keputus-asaannya. Sewaktu menunggu untuk dimulainya sebuah pertemuan bait suci, ia mengambil Kitab Mormon untuk membaca sebuah ayat. Pandangannya terpaku pada Alma 34:3: "Dan sebagaimana kamu telah menginginkan dari saudaraku yang kukasihi agar aku memberitahukan kepadamu apa yang harus kamu lakukan, disebabkan kesengsaraanmu dan ia telah membicarakan barang sesuatu kepadamu untuk mempersiapkan pikiranmu; ya, dan ia telah menasihati kamu supaya beriman dan bersabar." Tulisan suci dalam kitab Alma itu merupakan jawaban atas doanya. Pesannya sederhana: persoalan yang ia hadapi akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasinya. Jika kita menempatkan sedikit lebih banyak kesabaran dalam proses itu dan lebih banyak iman kepada Tuhan, semua tantangan kita akan menemukan jalan mereka menuju penyelesaian yang penuh keberhasilan.

Dalam Ajaran dan Perjanjian kita membaca ini: "Jika kamu sedih, berserulah kepada Tuhan Allahmu dengan permohonan agar jiwamu dapat bersukaria" (A&P 136:29).

Saya berdoa supaya kita semua dapat menghargai tantangan-tantangan yang kita miliki dan berusaha untuk memperbaiki sikap kita, walaupun persoalan kita tetap tidak berubah. Mintalah pertolongan dari teman-teman dan keluarga. Saya juga bersaksi bahwa Yesus Kristus hidup dan bahwa Ia akan menolong kita melalui keputus-asaan kita, jika kita dengan rendah hati memohon kasihNya. Di dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy