Penatua Gordon T. Watts
Dari Dewan Tujuh Puluh
Kesungguhan dan kerelaan dengan mana kita melayani merupakan refleksi langsung akan rasa syukur kita.
Sebagai seorang anak laki-laki, hidup di tanah pertanian keluarga kami yang kecil merupakan surga. Sering kali di dalam rumah kami yang sederhana tidak ada cukup sirap untuk menutupi atap kami. Fasilitas kamar kecil dihubungkan dengan jalan panjang yang memerlukan perencanaan sebelumnya, dan kadang-kadang kemeja usang saya memiliki lebih banyak lubang kancing daripada kancingnya. Mandi pada Sabtu malam di depan kompor yang hangat, di mana badan anda mengalami kedua macam perbedaan, merupakan suatu kemewahan.
Kemudian sesuatu berubah. Saya mulai bersekolah dan mulai memperhatikan barang-barang yang tidak saya kenal sebelumnya. Beberapa anak memiliki pakaian yang bagus, rumah yang indah dengan semua kenyamanan modern, dan mengendarai mobil yang lebih baru. Banyak yang seusia saya tidak perlu bangun pagi dan melakukan tugas-tugas sebelum pergi ke sekolah, hanya untuk pulang pada malam hari dan mengulangi semua tugas itu lagi. Sementara mereka populer dan percaya diri, saya jadi menarik diri dan pemalu. Yang disesalkan, saya mulai melupakan betapa bahagianya saya dengan berkat-berkat saya sewaktu saya menuruti nafsu untuk membandingkan berkat-berkat mereka yang tampaknya tanpa batas dengan yang saya miliki. Dengan demikian, penutup mata kerendahan hati pun mulai mengacaukan kenyataan, memberi jalan bagi rasa tidak bersyukur. Pengharapan bahwa lebih banyak adalah patut dapat membuat piring kita yang berkelimpahan tampak kosong. Rasa syukur memiliki banyak wajah dan muncul dalam banyak bentuk. Kegagalan untuk mengakui Tuhan atas segala yang kita miliki akan segera berdampak dalam tingkah laku yang mementingkan diri.
Juruselamat, meskipun selalu menjadi pemberi, jarang sekali menjadi penerima dari rasa syukur.
"Ketika Ia [Kristus] memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh,
"Dan berteriak: 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'
"Lalu Ia memandang mereka dan berkata: 'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam.' Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
"Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
"Lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadaNya. Orang itu adalah seorang Samaria.
"Lalu Yesus berkata: 'Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?'"1
Merenungkan pertanyaan Juruselamat, "Di manakah yang sembilan orang itu?" memberi alasan bagi refleksi yang dalam. Dalam sambutan pembuka Presiden Hinckley dalam Konferensi April lalu, dia berkata: "Oleh karena itu, saudara-saudari saya terkasih, marilah kita bersukacita bersama kini sewaktu kita merayakan dengan penghargaan ajaran-ajaran dan praktek-praktek menakjubkan yang telah datang sebagai suatu karunia dari Tuhan di masa yang paling agung dari pekerjaanNya ini. . . . Marilah kita selalu bersyukur akan karunia-karunia dan kesempatan-kesempatan istimewa yang paling berharga ini, serta melakukan dengan baik bagian kita sebagai orang yang mengasihi Tuhan."2
Terlepas dari segala "karunia dan kesempatan istimewa yang berharga" yang dibicarakan oleh nabi kita, sering kali kita gagal untuk mengenali berkat-berkat kita yang berlimpah. Lebih penting lagi, beberapa pernyataan syukur tampaknya kurang dari apa yang diharapkan Tuhan. "Dan tidak karena apa pun manusia berdosa kepada Allah, dan juga tidak terhadap siapa pun murkaNya dinyalakan, kecuali terhadap mereka yang tidak mengakui tanganNya dalam segala hal, dan tidak mentaati perintah-perintahNya."3
Rasa syukur dimulai dengan sikap. Sementara bagi beberapa orang setiap apel itu tampak mengkilap, bagi yang lainnya noda-noda yang tersisa setelah proses penggosokan adalah satu-satunya yang mereka lihat. Kita harus berhati-hati agar tidak terbawa ke dalam kelompok yang semakin membengkak yang terdiri dari orang-orang yang tidak tahu bersyukur, yang telah menjadi tawar terhadap berkat-berkat sewaktu mereka bertengkar dalam kesengsaraan.
Sukacita dan kebahagiaan terlahir dari rasa syukur. Baru-baru ini Sister Watts dan saya menghabiskan tiga tahun di bagian lain dunia bekerja dengan orang-orang yang amat baik dan ramah. Jika kekayaan duniawi disamakan dengan kebahagiaan, kebanyakan para Orang Suci ini tidak akan berbahagia. Bahkan sebaliknya, rasa syukur berlimpah, menghasilkan sebuah peragaan sukacita yang menular. Adalah jelas bahwa meskipun mereka hidup dalam lingkungan yang menantang dengan beberapa kemudahan, mereka merupakan orang-orang yang menyenangkan. Suatu keriangan terpancar karena rasa syukur mereka atas injil Yesus Kristus dan berkat-berkat yang diperoleh dari mematuhi asas-asas yang diajarkan. Seorang presiden distrik yang setia menyatakan rasa syukur karena memiliki sebuah sepeda untuk alat transportasi untuk menjalankan panggilannya. Tampaknya semakin dia mengayuh, semakin bahagialah dia. Mungkin ada sebuah pelajaran di sini; jika kita merasa tidak bersyukur, kita perlu mengayuh sedikit lebih kuat. Kesungguhan dan kerelaan dengan mana kita melayani merupakan refleksi langsung akan rasa syukur kita.
Penatua James E. Talmage mengatakan, "Rasa syukur adalah saudara kembar dari kerendahan hati; kesombongan adalah musuh dari keduanya."4 Juga, Presiden James E. Faust telah berkata, "Sebuah hati yang penuh syukur merupakan awal dari suatu kehebatan."5 Dalam masa-masa pencobaan kita dapat menerima dengan penuh syukur apa yang akan datang, suatu rasa syukur atas berkat-berkat dan karunia-karunia yang telah Tuhan persiapkan bagi mereka yang mematuhi perintah-perintah serta melayaniNya dengan berterima kasih. Seorang teman kekal dan mantan tetangga yang memeluk ajaran injil di rumah kami bertahun-tahun silam baru-baru ini telah merasakan api pemurnian dalam kepergian rekan terkasihnya. Kata-katanya mengenai rasa syukur yang tidak dapat diungkapkan atas injil, perjanjian-perjanjian bait suci, dan pernikahan kekal terukir dalam benak saya. Dalam kepergian istrinya yang manis, pengetahuan ini membawa suatu penghiburan yang tidak dikenal oleh mereka sebelum bergabung dengan Gereja. Kata-katanya, "Bagaimana saya dapat berterima kasih kepada anda karena telah berbagi dengan keluarga kami karunia kekal yang agung ini?" berpadu dengan kata-kata saya sendiri atas rasa syukur yang tak terucapkan kepada Bapa Surgawi kita dan PutraNya, Yesus Kristus, atas "karunia dan kesempatan istimewa yang berharga" yang ditawarkan kepada kita semua.
"Dan dia yang menerima segala hal dengan rasa terima kasih sepenuhnya akan dibuat mulia; dan hal-hal daripada bumi ini akan ditambahkan kepadanya, bahkan berlipat seratus, ya bahkan lebih dari ini."6 Allah adalah pemberi yang murah hati, dan saya bersaksi tentang Dia serta tentang Putra terkasihNya, Yesus Kristus. Dalam nama Yesus Kristus, amin.
CATATAN
1. Lukas 17:1217.
2. "We Bear Witness of Him," Ensign, Mei 1998, hlm. 6.
3. A&P 59:21.
4. Sunday Night Talks, edisi ke2 (1931), hlm. 483.
5. "Gratitude as a Saving Principle," Ensign, Mei 1990, hlm. 86.
6. A&P 78:19.