The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
Oktober dari 1998
Menyembuhkan Jiwa dan Raga

Menyembuhkan Jiwa dan Raga

Penatua Robert D. Hales

Penatua Robert D. Hales
Dari Kuorum Dua Belas Rasul


Menyembuhkan Jiwa dan Raga


Jika kita mencari kebenaran, mengembangkan iman kepadaNya, dan . . . dengan tulus bertobat, kita akan menerima suatu perubahan hati yang rohani yang hanya datang dari Juruselamat kita. Hati kita akan menjadi baru kembali.

Penatua Robert D. Hales

Sejak kita berkumpul dalam konferensi umum bulan April yang lalu, sebagaimana diketahui oleh banyak di antara anda, saya mengalami serangan jantung saya yang ketiga, yang memerlukan operasi jantung. Karena para dokter yang trampil; staf medis yang penuh perhatian dan sangat terlatih; istri saya, Mary, yang merupakan si pemberi perhatian yang sabar, penuh kasih, dan tetap bagi saya; serta doa-doa yang dipanjatkan oleh begitu banyak orang demi kebaikan saya, saya telah diberkati dengan kesehatan dan kekuatan yang diperbarui. Terima kasih atas perhatian dan doa-doa anda.

Pesan saya hari ini mengenai bagaimana membantu proses penyembuhan jiwa. Ini merupakan pesan untuk membimbing anda dan saya kepada Sang Penyembuh Agung, Tuhan dan Juruselamat Yesus Kristus. Ini merupakan rencana untuk membaca tulisan suci, berdoa, merenung, bertobat bila perlu, dan disembuhkan dengan kedamaian dan sukacita dari RohNya. Izinkan saya membagikan renungan saya sewaktu saya melalui proses penyembuhan itu.

Ketika saya sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit dan selama beberapa minggu di rumah, kegiatan fisik saya amat dibatasi oleh rasa sakit yang hebat yang melumpuhkan tubuh saya yang melemah, tetapi saya belajar sukacita dari membebaskan pikiran saya untuk merenungkan arti kehidupan dan kekekalan. Karena kalender saya telah dibersihkan dari pertemuan-pertemuan, tugas-tugas, dan janji-janji, selama beberapa minggu saya dapat memalingkan perhatian saya dari masalah-masalah administrasi ke masalah-masalah kekekalan. Tuhan telah mengatakan kepada kita, "Biarkan khidmat kekekalan meresap ke dalam pikiranmu" (A&P 43:34). Saya menemukan bahwa jika saya hanya memikirkan rasa sakit saya, itu menghalangi proses penyembuhan. Saya menemukan bahwa merenung merupakan sebuah unsur yang penting dalam proses penyembuhan baik bagi jiwa maupun raga. Rasa sakit membawa anda pada suatu kerendahan hati yang memungkinkan anda untuk merenung. Itu merupakan sebuah pengalaman yang saya syukuri karena saya telah menanggungnya.

Saya merenungkan dengan dalam tujuan rasa sakit serta mempelajari dalam benak saya apa yang dapat saya pelajari dari pengalaman saya dan mulai mengerti sedikit lebih baik tentang rasa sakit. Saya belajar bahwa rasa sakit fisik dan penyembuhan tubuh setelah operasi besar sungguh amat serupa dengan rasa sakit rohani dan penyembuhan jiwa dalam proses pertobatan. "Karena itu, janganlah mempedulikan tubuh, atau pun kehidupan tubuh; melainkan pedulikanlah jiwa dan kehidupan jiwa" (A&P 101:37).

Saya menjadi paham betapa tidak bergunanya untuk mempermasalahkan mengapa, bagaimana jika, dan jika saja yang untuknya kemungkinan besar tidak akan diberikan jawaban dalam kefanaan. Untuk menerima penghiburan dari Tuhan, kita harus melatih iman. Pertanyaan-pertanyaan Mengapa saya? Mengapa keluarga saya? Mengapa sekarang? biasanya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab. Pertanyaan-pertanyaan ini mengurangi kerohanian kita dan dapat menghancurkan iman kita. Kita perlu menggunakan waktu dan tenaga kita untuk membangun iman kita dengan berpaling kepada Tuhan dan memohon kekuatan untuk mengatasi rasa sakit dan pencobaan-pencobaan dari dunia ini serta bertahan sampai akhir bagi pemahaman yang lebih besar.

Dalam Amsal kita diperintahkan untuk "menempuh jalan kehidupan" (Amsal 5:6). Sewaktu kita menempuh jalan kehidupan, kita dapat mengarahkan jalan kita pada kebenaran dan merasakan Roh mengarahkan kita. "Bergirang hatilah akan firman Kristus, karena lihatlah firman Kristus akan menceritakan kepadamu segala hal yang harus kamu lakukan" (2 Nefi 32:3).

Jika anda dan saya mau bergirang hati akan firman Kristus, kita harus mempelajari tulisan suci dan menyerap firmanNya dengan merenungkannya serta menjadikannya bagian dari setiap pemikiran dan tindakan.

Sama seperti mempelajari firman Kristus merupakan sebuah unsur dari merenung, demikian pula halnya dengan doa yang tekun dan setia serta mendengarkan Roh. Dalam sebuah wahyu yang diberikan bagi kita melalui Joseph Smith, Tuhan telah memerintahkan kita:

"Aku berfirman kepadamu, teman-temanKu: Aku tinggalkan perkataan ini bersamamu untuk direnungkan di dalam hatimu, dengan perintah ini yang Aku berikan kepadamu, agar kamu hendaknya memanggil Aku selagi Aku dekat--

"Mendekatlah kepadaKu dan Aku akan mendekat kepadamu; carilah Aku dengan tekun maka kamu akan menemukan Aku; mintalah, dan kamu akan menerima; ketuklah, dan hal itu akan dibukakan untukmu" (A&P 88:62­63).

Merenung membawa pikiran kita dari hal-hal yang sepele dari dunia ini dan membawa kita lebih dekat kepada tangan yang lembut dan membimbing dari Pencipta kita sewaktu kita mengindahkan "suara yang lembut" dari Roh Kudus (lihat I Raja-Raja 19:12; 1 Nefi 17:45; A&P 85:6). Dalam Ajaran dan Perjanjian, Tuhan berbicara kepada David Whitmer: "Pikiranmu telah diletakkan pada hal-hal daripada . . . Penciptamu, . . . . Engkau tidak mengindahkan RohKu" (A&P 30:2).

Merenungkan hal-hal dari Tuhan--firmanNya, ajaran-ajaranNya, perintah-perintahNya, kehidupanNya, kasihNya, karunia-karunia yang telah diberikanNya kepada kita, Korban TebusanNya bagi kita--membawa perasaan syukur yang amat besar bagi Juruselamat kita serta bagi kehidupan dan berkat-berkat yang telah Dia berikan kepada kita.

Beberapa bulan terakhir ini telah membawa pengalaman-pengalaman lembut dengan keluarga-keluarga yang melalui segala rasa sakit yang melekat dalam kepergian seorang anggota keluarga secara damai. Sewaktu orang yang sekarat bersiap untuk meninggalkan kefanaan, anggota keluarga mengalami suatu kedamaian dan kerelaan untuk melepas orang yang mereka cintai. Anggota keluarga merasakan rasa sakit dari perpisahan tetapi dihibur oleh kedamaian yang datang dari berkat-berkat keimamatan, doa-doa keluarga, dan pengetahuan akan Kebangkitan yang meyakinkan mereka bahwa mereka akan disatukan kembali dengan orang yang mereka kasihi di masa depan yang tidak terlalu jauh. Iman mereka dan meletakkan kepercayaan mereka kepada Tuhan membantu mereka meninggalkan mengapa dan jika serta merasakan penghiburan dari Roh Tuhan.

Juruselamat kita mengetahui hati kita masing-masing. Dia mengetahui rasa sakit dalam hati kita. Jika kita mencari kebenaran, mengembangkan iman kepadaNya, dan, jika perlu, dengan tulus bertobat, kita akan menerima suatu perubahan hati yang rohani yang hanya datang dari Juruselamat kita. Hati kita akan menjadi baru kembali.

Pertobatan mencakup menyadari bahwa kita telah melakukan kesalahan dan perlu bertobat, mengakui dosa-dosa kita kepada wewenang keimamatan yang tepat, memulihkan kembali apa yang dapat dipulihkan, dan berketetapan hati untuk mematuhi Tuhan. Pertobatan membawa penyembuhan rohani dari jiwa. Dalam amanat kepada bangsanya, Raja Benyamin me- ngatakan, "Karena itu, jika orang tersebut tidak bertobat dan tetap begitu dan mati sebagai musuh Allah, maka tuntutan keadilan ilahi akan membangunkan jiwanya yang baka kepada kesadaran yang hidup akan kesalahannya sendiri, yang akan menyebabkannya undur dari hadirat Tuhan dan dadanya dipenuhi perasaan bersalah, pedih dan dukacita bagaikan api yang tak terpadamkan, yang nyalanya naik ke atas untuk selama-lamanya" (Mosia 2:38).

Sewaktu saya menanggung rasa sakit secara fisik, saya juga memikirkan tentang rasa sakit dan penderitaan jiwa yang mendalam. Saya memikirkan tentang rasa sakit yang diderita oleh Juruselamat kita Yesus Kristus, bukan saja rasa sakit fisik yang akut dan mengerikan sewaktu Dia diangkat ke atas salib, tetapi juga rasa sakit yang kronis, mendalam dan penuh derita, yang disebabkan oleh ketidakpatuhan umat manusia.

Raja Benyamin menubuatkan mengenai Juruselamat: "Dan lihatlah, Ia akan mengalami godaan dan kesakitan tubuh, kelaparan, kehausan dan kelelahan, bahkan melebihi dari yang dapat diderita manusia, kecuali mati. Karena lihatlah, darah akan keluar dari setiap lubang kulitNya, sedemikian besar kedukaanNya terhadap kejahatan dan kekejian umatNya" (Mosia 3:7).

Penderitaan Tuhan yang lebih besar dan lebih hebat bukanlah bersifat fisik--bukan percobaan atau penghinaan, bukan pemukulan atau diludahi; bahkan bukan dikhianati oleh seorang rekan yang dikasihi atau ditolak oleh mereka yang dikasihiNya, juga bukan tindakan penyaliban secara fisik. Meskipun semua ini terjadi dan setiap tindakan sangat menyakitkan, rasa sakit Juruselamat yang terbesar pada saat Korban Tebusan ditanggungNya untuk menolong para pendosa untuk disembuhkan:

"Karena lihatlah, Aku, Allah telah menderita segala hal ini untuk semua orang, supaya mereka tidak perlu menderita jika mereka mau bertobat;

"Tetapi jika mereka tidak mau bertobat, mereka harus menderita bahkan seperti Aku;

"Penderitaan itu menyebabkan Aku sendiri, yaitu Allah, yang paling Besar daripada segala-galanya, bergemetar karena rasa sakit, dan berdarah di setiap pori kulit dan menderita baik jasmani maupun rohani" (A&P 19:16­18).

Adalah menarik untuk mencatat bahwa, selain di dalam kitab Ayub dan di beberapa tempat lainnya, hanya ada amat sedikit referensi tulisan suci mengenai rasa sakit fisik atau fana. Rasa sakit yang paling sering dibicarakan di dalam tulisan suci adalah rasa sakit dan penderitaan Tuhan serta para nabiNya bagi jiwa-jiwa yang tidak patuh.

Alma Yang Muda menyediakan contoh yang jelas dalam catatan pertobatannya. Alma tadinya suka memberontak, bahkan sedemikian besar sehingga dia dan para putra Mosia pergi berkeliling "menghancurkan gereja Allah" (Alma 36:6). Bayangkan luka dan sakit hati orang tua Alma serta lebih penting lagi Bapa Surgawi dan Yesus, yang akhirnya mengirimkan seorang malaikat untuk mengatakan kepadanya, "Walaupun engkau sendiri ingin dihancurkan, janganlah berusaha lagi untuk menghancurkan gereja Allah" (Alma 36:9). Cukuplah menyakitkan bahwa Alma memilih ketidakpatuhan, tetapi dia juga menyebabkan orang lain untuk memberontak terhadap firman Allah.

Alma melukiskan perasaannya ketika dia melihat dan mendengar malaikat itu. Dia mengatakan bahwa sewaktu dia mengingat pemberontakannya serta semua dosa dan kebatilannya, dia "disiksa dengan penderitaan neraka" (Alma 36:13). Rasa sakit Alma melebihi rasa sakit fisik. Dia telah "disiksa dengan siksaan kekal" (Alma 36:12) karena ketidakpatuhan dan pemberontakannya terhadap Allah.

Setelah mengenali keseriusan dosa-dosanya dan kemudian berbalik kepada Tuhan, dia berkata: "Bahwa tiada suatu hal yang begitu hebat dan begitu pahit seperti rasa sakitku. . . . sebaliknya, tiada suatu hal yang dapat begitu enak dan nikmat seperti kesukaanku" (Alma 36:21).

Kesukaannya datang karena pertobatannya yang penuh sesal. Sejak saat itu, Alma dan semua yang tadinya bersamanya, termasuk para pu-tra Mosia, pergi berkeliling mencoba untuk "memperbaiki semua kerugian yang telah mereka lakukan terhadap gereja dan mengakui semua dosa mereka" (Mosia 27:35), serta membawa jiwa-jiwa kepada Kristus.

Hanya melalui pertobatan dan memohon pengampunan dari Tuhanlah Alma dapat meninggalkan rasa sakitnya dan menerima sukacita serta terang injil. Tuhan mengajarkan bangsa Nefi bahwa pengetahuan akan kebenaran, iman yang tekun, dan pertobatan yang sejati membawa suatu perubahan hati. Alma mengalami suatu perubahan hati yang dahsyat.

Dalam kehidupan fana ini, setiap dari kita akan mengalami rasa sakit dalam bentuk yang satu atau yang lainnya. Rasa sakit dapat datang dari suatu kecelakaan atau dari sebuah keadaan medis yang menyakitkan. Kita dapat merasakan rasa sakit yang dalam dari kedukaan yang datang secara pantas karena kehilangan seseorang yang kita kasihi atau kehilangan kasih dari seseorang yang kita sayangi. Rasa sakit dapat datang dari perasaan kesepian dan tertekan. Hal itu sering kali datang sebagai akibat dari ketidakpatuhan kita terhadap perintah-perintah Allah, tetapi juga datang kepada mereka yang melakukan segala yang dapat mereka lakukan untuk menjaga kehidupan mereka selaras dengan teladan Juruselamat.

Tulisan suci mengajarkan bahwa "harus ada . . . pertentangan dalam segala hal" (2 Nefi 2:11). Sebagaimana masa-masa sukacita dan kebahagiaan datang kepada setiap dari kita, demikian juga rasa sakit datang kepada setiap manusia fana. Bagaimana kita dapat memahami saat-saat itu dalam kehidupan kita ketika kita mengalami rasa sakit secara fisik atau emosi?

Penatua Spencer W. Kimball mengatakan: "Kita tahu sebelum kita dilahirkan bahwa kita akan datang ke bumi untuk memiliki tubuh jasmani dan pengalaman serta bahwa kita akan mengalami sukacita dan penderitaan, rasa sakit dan rasa nyaman, kemudahan dan kesulitan, kesehatan dan penyakit, keberhasilan dan kekecewaan; dan kita tahu juga bahwa kita akan mati. Kita menerima semua keadaan ini dengan senang hati, tidak sabar untuk menerima baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan . . . . Kita bersedia untuk datang dan menerima kehidupan sebagaimana adanya" ("Tragedy or Destiny," Improvement Era, Maret 1966, hlm. 217).

Penatua Orson F. Whitney menulis: "Tidak ada rasa sakit yang kita derita, tidak ada pencobaan yang kita alami yang tersia-sia. Hal itu berguna bagi pendidikan kita, bagi pengembangan kualitas-kualitas seperti kesabaran, iman, ketabahan dan kerendahan hati. Semua yang kita alami dan semua yang kita tanggung, khususnya sewaktu kita menanggungnya dengan sabar, membangun sifat-sifat kita, memurnikan hati kita, memperbesar jiwa kita, dan menjadikan kita lebih lembut serta penuh kasih, lebih layak untuk disebut anak-anak Allah, . . . serta melalui dukacita dan penderitaan, kerja keras dan kesengsaraanlah kita memperoleh pendidikan yang kita ingin peroleh dengan datang ke sini" (dikutip dalam Improvement Era, Maret 1966, hlm. 211).

Ketika kita mengalami rasa sakit, si pemberi perhatian merupakan bagian yang paling penting bagi proses penyembuhan. Para dokter, perawat, ahli terapi, seorang pasangan yang penuh kasih, orang tua, anak-anak, dan teman-teman yang penuh perhatian menghibur kita ketika kita sakit dan mempercepat proses penyembuhan kita. Ada saat-saat ketika, tidak peduli betapa mandirinya kita, kita harus mempercayai orang lain dengan perawatan kita. Kita harus menyerahkan diri kita kepada mereka. Para pemberi perhatian kita adalah mereka yang membantu dalam proses penyembuhan itu.

Tuhan adalah pemberi perhatian yang sempurna. Kita harus menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Dengan melakukan hal itu, kita membuang apa saja yang menyebabkan rasa sakit kita dan menyerahkan segalanya kepada Dia. "Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!" (Mazmur 55:23). "Dan pada waktu itu semoga Allah menganugerahkan kepadamu. Agar bebanmu dapat kiranya menjadi ringan, melalui kesukaan PutraNya" (Alma 33:23). Melalui iman dan kepercayaan kepada Tuhan serta kepatuhan pada nasihatNya, kita menjadikan diri kita layak untuk menjadi para pengambil bagian dari Korban Tebusan Yesus Kristus sehingga suatu hari kelak kita dapat kembali hidup bersamaNya.

Sewaktu kita meletakkan iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan, kita harus memerangi rasa sakit kita hari demi hari dan kadang-kadang jam demi jam, bahkan detik demi detik, tetapi pada akhirnya, kita memahami bahwa nasihat menakjubkan yang diberikan kepada Nabi Joseph Smith sewaktu dia bergumul dengan rasa sakitnya karena merasa dilupakan dan diasingkan di Penjara Liberty:

"PutraKu, damai sejahtera bagi jiwamu; kemalangan dan penderitaanmu akan tinggal sebentar saja;

"Kemudian, bila engkau bertahan dengan baik, Allah akan memuliakan kamu di atas; engkau akan mendapat kemenangan atas semua musuhmu" (A&P 121:7­8).

Saudara dan saudari sekalian yang terkasih, ketika rasa sakit, ujian, dan pencobaan datang dalam kehidupan, mendekatlah kepada Juruselamat. "Nanti-nantikan Tuhan, . . . harapkan Dia" (Yesaya 8:17; 2 Nefi 18:17). "Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah" (Yesaya 40:31). Penyembuhan datang dalam waktu Tuhan dan cara Tuhan; bersabarlah.

Juruselamat kita menunggu kita untuk datang kepadaNya melalui pembelajaran tulisan suci, renungan, dan doa kita kepada Bapa Surgawi kita. Berkat-berkat dan pelajaran-pelajaran besar datang dari mengatasi tantangan. Sewaktu kita diperkuat dan disembuhkan, kita kemudian dapat mengangkat dan memperkuat sesama dengan iman kita. Semoga kita dapat menjadi alat di dalam tangan Tuhan dalam memberkati hidup mereka yang kesakitan. Saya memberi anda kesaksian saya bahwa Allah hidup dan bahwa Yesus adalah Kristus serta bahwa Dia menantikan kita untuk datang kepadaNya untuk memberi kita nasihat dan perhatian penuh kasih. Semoga berkat-berkat Tuhan akan berada di atas setiap dari kita sewaktu kita berurusan dengan pencobaan kehidupan bagi kita secara pribadi dan bagi mereka yang kita kasihi, adalah doa saya, di dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy