The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
Oktober dari 1998
Ingatlah untuk Berterima Kasih

Ingatlah untuk Berterima Kasih

Presiden Thomas S. Monson
Penasihat Pertama dalam Presidensi Utama

Apakah kita berterima kasih kepada Allah untuk "karuniaNya yang tak terkatakan" dan berkat-berkatNya yang berlimpah yang demikian murahnya dicurahkan ke atas kita?

Presiden Thomas S. Monson

Di sebuah negeri yang jauh, dan di waktu yang silam, Yesus pergi ke Yerusalem. Ia "menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.

"Ketika Ia memasuki sebuah desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh

"Dan berteriak: 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'

"Lalu Ia memandang mereka dan berkata: 'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam.'

"Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

"Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,

"Lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadaNya. Orang itu adalah seorang Samaria.

"Lalu Yesus berkata: 'Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

"'Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?'

"Lalu Ia berkata kepada orang itu: 'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.'"1

Dari Mazmur pasal 30, Daud meratap: "Tuhan Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagiMu."2

Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang Korintus, menyatakan: "Syukur kepada Allah karena karuniaNya yang tak terkatakan itu!"3 Dan kepada orang Tesalonika: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah."4

Brother dan sister, apakah kita berterima kasih kepada Allah untuk "karuniaNya yang tak terkatakan" dan berkat-berkatNya yang berlimpah yang demikian murahnya dicurahkan ke atas kita?

Apakah kita berhenti sejenak dan merenungkan perkataan Amon, "Maka saudara-saudaraku, kita melihat bahwa Allah memperhatikan setiap bangsa di negeri mana pun mereka berada, ya, Ia menghitung umatNya dan belas kasihanNya terdapat di seluruh bumi. Maka inilah sukacitaku dan syukurku yang besar. Ya, dan aku akan mengucapkan syukur kepada Allahku untuk selama-lamanya."5

Robert W. Woodruff, seorang pemimpin usaha terkemuka di masa lalu, mengelilingi Amerika Serikat memberi kuliah yang diberinya judul "Kursus Kilat Humas." Dalam pesannya, dia mengatakan bahwa dua kata terpenting dalam bahasa Inggris adalah: "Terima kasih".

Gracias, danke, merci--dalam bahasa apa pun yang digunakan, kata "terima kasih" yang sering diutarakan akan menggembirakan jiwa anda, memperluas persahabatan anda, dan meningkatkan kehidupan anda ke jalan yang lebih tinggi sewaktu anda berjalan menuju kesempurnaan. Ada suatu kesederhanaan--bahkan ketulusan--ketika "terima kasih" diucapkan.

Keindahan dan kefasihan pengucapan terima kasih dinyatakan dalam sebuah kisah di surat kabar beberapa tahun lalu:

Polisi Distrik Kolumbia melelang kira-kira seratus sepeda tak bertuan hari Jumat. "Satu dolar," ucap seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun, penawaran harga dibuka untuk sepeda pertama. Namun penawaran itu berakhir jauh lebih tinggi. "Satu dolar," si anak mengulang penuh harap setiap kali sepeda lainnya ditawarkan.

Si petugas lelang, yang telah melelang sepeda yang hilang atau tercuri selama 43 tahun, memperhatikan bahwa harapan si anak laki-laki semakin melambung tinggi tatkala sepeda jenis balap ditawarkan.

Maka tinggallah satu lagi sepeda balap. Penawaran mencapai delapan dolar. "Dilepas kepada anak laki-laki itu di sana seharga sembilan dollar!" ucap si petugas lelang. Ia mengambil delapan dollar dari sakunya sendiri dan meminta satu dollar si anak tadi. Anak itu memberikannya dalam bentuk pecahan 1 sen, 5 sen, 10 sen, dan 25 sen--dan mengambil sepedanya dan bersiap pergi. Namun ia pergi hanya beberapa meter. Hati-hati memarkir benda miliknya yang baru itu, ia pun berbalik, dengan rasa syukur merangkulkan lengannya ke leher si petugas lelang, dan menangis.

Kapankah terakhir kalinya kita merasakan syukur sedalam yang dirasakan anak ini? Perbuatan yang dilakukan orang lain demi kita mungkin tidaklah sedemikian menyentuhnya, namun tentunya ada perbuatan baik yang membutuhkan ungkapan rasa syukur kita.

Lagu yang sering dinyanyikan di Sekolah Minggu di masa remaja kita menempatkan semangat rasa syukur ke kedalaman sanubari kita :


Bila dalam hidup ombak menderu
Sampai putus asa engkau mengeluh
Hitung satu-satu berkat Tuhanmu
Pasti kau 'kan heran kasihNya penuh.
6

Astronot Gordon Cooper, ketika mengorbit bumi lebih tiga puluh tahun silam, memanjatkan doa syukur yang manis serta sederhana ini: "Bapa, terima kasih, telah membiarkan saya mengikuti penerbangan ini. Terima kasih atas kesempatan istimewa dapat berada di posisi ini: di atas tempat yang menakjubkan ini, melihat semua benda yang mengejutkan dan indah yang telah Kau ciptakan."7

Kita bersyukur atas berkat-berkat yang tidak dapat kita ukur, atas karunia yang tidak ternilai, "atas buku, musik, seni, dan atas temuan-temuan luar biasa yang membuat berkat-berkat ini tersedia; . . . atas gelak tawa anak-anak kecil; . . . atas . . . alat-alat yang meringankan penderitaan manusia . . . dan meningkatkan . . . kenikmatan hidup; . . . atas semua hal yang baik dan membangun."8

Nabi Alma mendesak: "Berundinglah dengan Tuhan dalam semua perbuatanmu dan Ia akan menuntunmu demi kebaikan. Ya, apabila engkau berbaring pada malam hari, berbaringlah dalam Tuhan, agar Ia dapat menjagamu di dalam tidurmu, dan apabila engkau bangun pada pagi hari, biarlah hatimu penuh syukur kepada."9

Saya ingin menyebutkan tiga contoh di mana saya yakin ungkapan "terima kasih" yang tulus dapat meringankan hati yang berat, mengilhami perbuatan benar, dan membawa berkat-berkat surga lebih dekat dengan tantangan-tantangan masa kita.

Pertama, perkenankan saya meminta agar kita menyatakan terima kasih kepada orang tua kita karena kehidupan, karena memperhatikan, karena berkorban, karena bekerja untuk menyediakan suatu pengetahuan tentang rencana kebahagiaan Bapa Surgawi kita.

Dari Sinai kata-kata ini bergelegar ke dalam sanubari kita: "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu."10

Tidak ada ungkapan yang lebih manis terhadap orang tua daripada yang diucapkan Juruselamat kita di kayu salib: "Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingNya, berkatalah Ia kepada ibuNya: 'Ibu, inilah anakmu!'

"Kemudian kataNya kepada muridNya: 'Inilah ibumu!' Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya."11

Berikutnya, pernahkah kita berpikir sekali-sekali tentang seorang guru tertentu di sekolah atau di Gereja yang tampaknya memacu keinginan kita untuk belajar, yang menanam dalam diri kita tekad untuk hidup secara terhormat?

Sebuah kisah diceritakan mengenai sekelompok pria yang sedang berbincang tentang orang-orang yang telah mempengaruhi hidup mereka dan untuk siapa mereka bersyukur. Satu orang mengenang seorang guru SMU yang telah memperkenalkannya kepada Tennyson. Ia memutuskan untuk menulis surat dan berterima kasih kepadanya. Kemudian, ditulis dalam guratan yang lemah, datanglah jawaban gurunya:

"Willy yang baik:

"Tidak dapat saya ungkapkan betapa berartinya suratmu bagi saya. Usia saya kini 80-an, tinggal sendirian di ruang yang kecil, memasak makanan sendiri, kesepian dan bagaikan daun terakhir yang masih tertinggal. Kamu akan tertarik untuk mengetahui bahwa saya telah mengajar sekolah selama 50 tahun, dan suratmu adalah nota penghargaan pertama yang saya terima. Suratmu tiba pada pagi yang cerah dan dingin, dan suratmu telah menghibur saya lebih dari apa pun selama bertahun-tahun."

Kita memiliki hutang rasa syukur yang kekal kepada mereka semua, dulu dan sekarang, yang telah memberikan sedemikian banyak dari diri mereka sendiri, sehingga kita sendiri dapat memiliki banyak.

Ketiga, saya menyebutkan suatu ungkapan "terima kasih" kepada teman-teman sebaya. Masa usia belasan dapat sulit bagi kaum remaja itu sendiri demikian pula bagi orang tua mereka. Inilah masa-masa ujian dalam kehidupan seorang anak laki-laki atau perempuan. Setiap anak laki-laki ingin menjadi anggota kesebelasan sepak bola; setiap gadis ingin menjadi ratu kecantikan. Perkataan "banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih"12 dapat berlaku di sini.

Perkenankan saya untuk membagikan suatu mukjizat zaman modern yang terjadi sekitar setahun lalu di sekolah menengah Murray dekat Salt Lake City, di mana setiap orang adalah pemenang, dan tidak ada yang kalah.

Sebuah artikel surat kabar menyoroti kejadiannya. Artikel itu berjudul "Kepulangan Memperlihatkan Semangat Sejati: Para Siswa Memilih 2 Gadis Cacat untuk Orang Penting Murray." Artikel itu dimulai, "Ted dan Ruth Eyre melakukan apa yang akan dilakukan orang tua lainnya. Ketika putri mereka, Shellie, menjadi finalis homecoming queen [ratu kepulangan kembali ke sekolah] untuk SMU Murray, mereka menasihatinya agar bertindak sportif kalau dia tidak menang. Mereka menjelaskan bahwa hanya satu dari 10 gadis yang akan dipilih jadi ratu . . . . Ketika para petugas OSIS memahkotai ratunya di ruang olah raga Kamis malam, Shellie Eyre mengalami, sebaliknya, penyertaan. Senior berusia 17 tahun itu, yang dilahirkan dengan kelainan Down Syndrome [keterbelakangan mental], dipilih oleh teman-temannya menjadi homecoming queen. Ketika Ted Eyre mengawal putrinya ke lantai ruang olahraga sewaktu para calon diperkenalkan, ruang olahraga itu pun meledak dalam seruan girang dan tepuk tangan yang membisingkan telinga. Mereka disambut dengan tepukan berdiri."

Tepukan berdiri serupa juga ditujukan kepada pengiring Shellie, yang satu di antaranya, April Perschon, memiliki kelainan jasmani dan mental yang diakibatkan oleh pendarahan otak ketika dia baru berusia 10 tahun.

Sewaktu tepukan meriah itu berhenti, wakil kepala sekolah, Glo Merrill, berkata: "'Malam ini . . . para siswa memberikan suara bagi kecantikan batin.' . . . Jelas-jelas tersentuh, orang tua, petugas sekolah dan semua siswa menangis secara terbuka." Kata seorang siswa, "'Saya begitu bahagia, saya menangis sewaktu para peserta tampil. Saya berpikir SMU Murray begitu luar biasa karena melakukan hal ini.'"13

Saya menyampaikan ucapan "terima kasih" yang tulus kepada mereka yang membuat malam ini akan tetap dikenang. Perkataan penyair Skotlandia James Barrie tampaknya cocok: "Allah memberi kita ingatan, agar kita boleh memiliki mawar bulan Juni [musim panas] di bulan Desember [musim dingin] dari kehidupan kita."

Dalam bulan Agustus tahun ini, terjadi musibah di negara bagian Salt Lake. Hal itu diberitakan dalam media setempat dan nasional. Lima gadis yang cantik--begitu belia, begitu bersemangat, begitu penuh kasih--bersembunyi, seperti sering dilakukan anak-anak dalam permainan petak umpet, masuk ke dalam bagasi mobil orang tua mereka. Pintu bagasi tersebut terkunci, mereka tidak dapat meloloskan diri, dan semuanya meninggal karena kehabisan udara.

Seluruh komunitas itu demikian ramah, demikian penuh timbang rasa, demikian perhatian dalam kepergian Alisha, Ashley, McKell, Audrey, dan Jaesha. Bunga, makanan, telepon, kunjungan dan doa dibagikan.

Di hari Minggu setelah peristiwa mengenaskan tersebut, antrian panjang mobil yang dikendarai orang yang berduka merayap perlahan melewati rumah keluarga Smith--tempat kecelakaan itu. Sister Monson dan saya berharap dapat berada di antara mereka yang menyampaikan rasa duka dengan cara ini. Sewaktu kami melewatinya, kami merasa sedang berada di tanah yang kudus. Kami secara harfiah merayap dengan kecepatan siput di sepanjang jalan itu. Rasanya seolah kami dapat membayangkan sebuah rambu lalu lintas yang bunyinya "Pelan-pelan; banyak anak bermain." Air mata membasahi mata kami dan rasa kasih mengalir dari hati kami.

Pada pemakaman itu, juga di malam sebelumnya, ribuan menjenguk peti jenazah dan menyampaikan dukungan bagi orang tua dan kakek nenek yang berkabung. Dalam dua di antara tiga keluarga tersebut, anak-anak yang meninggal itu mencakup semua anak milik mereka.

Sering kali kematian datang bagai pengganggu. Itu merupakan seorang musuh yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah sukacita hidup kita, mematikan lampu dan keriangannya. Kematian mengunjungi mereka yang lanjut usia sewaktu mereka berjalan di kaki yang goyah. Panggilannya terdengar oleh mereka yang belum lagi mencapai pertengahan dari perjalanan hidupnya, dan sering kali menghapus gelak tawa anak-anak kecil.

Pada pemakaman bagi lima malaikat kecil itu, saya menasihati: "Ada satu ungkapan yang harus dihapus dari benak anda dan dari kata-kata yang anda ucapkan. Yaitu ungkapan 'seandainya saja.' Ungkapan itu tidak membangun dan tidak kondusif terhadap semangat penyembuhan dan kedamaian. Sebaliknya, kenanglah kata-kata Amsal: 'Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.'"14

Sebelum penutupan peti jenazah, saya memperhatikan bahwa setiap anak memegang mainan kesayangannya, sebuah hadiah lembut untuk dipeluk. Saya teringat akan kata-kata penyair Eugene Field :


Anjing mainan kecil itu tersalut debu,
Namun tegak dan kekar ia berdiri di situ;
Dan serdadu mainan kecil itu pun memerah karena karatnya,
Dan senapan pun berlumut di tangannya.
Ada kalanya ketika anjing mainan kecil itu masih baru,
Dan serdadu mainan itu pun tam-pak mendayu,
Dan itu adalah semasa Putra Kecil kita yang biru,
Menciumnya dan meletakkannya di tempatnya itu.

"Nah, janganlah engkau pergi sampai kutiba," katanya,
"Dan janganlah kalian gaduh adanya!"
Maka, berbaringlah dia di ranjang mungilnya,
Bermimpikan mainannya yang jelita.
Dan, ketika sedang bermimpi, malaikat pun berlagu,
Membangunkan Putra Kecil kita yang biru,--
Ah, tahun-tahun tak bertepi, tahun-tahun pun berlalu,
Namun mainan kecil itu tetaplah setia selalu!

Ah, begitu setia mereka kepada Putra Kecil kita yang biru,
Masing-masing berdiam di tempat asalnya itu,
Menantikan sentuhan sebuah tangan yang kecil,
Senyuman sebuah wajah yang mungil.
Dan mereka bertanya-tanya, ketika menanti sepanjang waktu
Di antara debu kursi yang kecil itu;
Apa yang terjadi kepada Putra Kecil kita yang biru
Sejak terakhir mencium dan meletakkannya ditempatnya itu.
15

Anjing mainan yang kecil dan serdadu mainan yang tampan itu mungkin bertanya-tanya, tetapi Allah di dalam belas kasih tak terbatasNya tidak membiarkan mereka yang berduka terus bertanya-tanya. Dia menyediakan kebenaran. Dia akan mengilhami suatu gapaian ke atas, dan tanganNya yang terulur akan memeluk anda. Yesus berjanji kepada satu dan semua yang berduka, "Aku tidak akan meninggalkanmu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu."16

Hanya ada satu sumber kedamaian yang sejati. Saya yakin bahwa Tuhan, yang memperhatikan jatuhnya seekor burung pipit, memandang dengan kasih kepada mereka yang telah dipanggil untuk berpisah--meskipun sementara--dengan anak-anak mereka yang berharga. Karunia penyembuhan dan kedamaian amat sangat dibutuhkan, dan Yesus, melalui Korban TebusanNya, telah menyediakannya bagi semua.

Nabi Joseph Smith mengucapkan perkataan wahyu dan hiburan yang diilhami:

"Semua anak yang telah mati sebelum mereka mencapai usia pertanggungjawaban telah diselamatkan dalam kerajaan selestial surga."17

"Ibu [dan ayah] yang telah menguburkan anak[-anak] kecil [mereka], yang dihambat dari hak istimewa, sukacita, dan kepuasan membesarkan [mereka] sampai menjadi pria atau wanita dewasa di dunia ini, akan, setelah kebangkitan, memperoleh semua sukacita, kepuasan dan kesenangan, dan bahkan lebih dari apa yang mungkin didapatkan dalam kefanaan, dalam menyaksikan anak[-anak] [mereka] tumbuh mencapai kedewasaan penuh dari roh[-roh] [mereka]."18 Ini bagaikan balsam Gilead bagi mereka yang berkabung, bagi mereka yang telah mengasihi dan kehilangan anak-anak terkasih.

Pemazmur menyediakan jaminan ini: "Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak sorai."19

Firman Tuhan: "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti apa yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. . . . Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku akan mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu . . . supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada."20

Saya menyampaikan rasa terima kasih saya yang besar kepada Bapa Surgawi yang penuh kasih, yang memberi kepada anda, kepada saya, dan kepada semuanya yang mencari dengan tulus, pengetahuan bahwa kematian bukanlah sebuah akhir; bahwa PutraNya--yaitu Juruselamat kita, Yesus Kristus--mati supaya kita boleh hidup. Bait suci Tuhan berada di banyak negara. Perjanjian kudus dibuat. Kemuliaan selestial menantikan mereka yang patuh. Keluarga dapat berada bersama--selamanya.

Tuhan mengundang semua orang:

"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."21

Semoga semua dapat melakukan hal itu adalah doa syukur saya yang rendah hati, di dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. Lukas 17:11­19
2. Mazmur 30:12
3. II Korintus 9:15
4. I Tesalonika 5:18
5. Alma 26:37
6. Johnson Oatman, Jr. (1856­1922); Nyanyian rohani Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir, hlm. 111
7. Conression Record, 88th Cong., 1st sess., 1963, 109, pt. 7:9156.
8. "Three Centuries of Thanksgiving," Etude Magazine, November 1945
9. Alma 37:37
10. Keluaran 20:12
11. Yohanes 19:26­27
12. Matius 22:14
13. Marjorie Cortez, Deseret News, 26 September 1997, pp. A1, A7.
14. Amsal 3:5­6
15. "Little Boy Blue," in Best-Loved Poems of LDS People, ed. Jack Lyon and others (1996), 50.
16. Yohanes 14:18.
17. A&P 137:10
18. Quoted in Joseph F. Smith, Gospel Doctrine, 5th ed. (1939), 453.
19. Mazmur 30:5
20. Yohanes 14:27, 2­3.
21. Matius 11:28, 29.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy