The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Gospel Library General Conference
Conferences
April dari 1998
Pandanglah Allah dan Hidup

Pandanglah Allah dan Hidup

Presiden Thomas S. Monson
Penasihat Pertama dalam Presidensi Utama

Setiap kali kita merasa terbebani dengan penderitaan hidup, marilah kita mengingat bahwa orang lain pernah melalui jalan yang sama, telah bertahan, dan kemudian telah mengatasinya.

Presiden Thomas S. Monson

Saya memulai pesan saya pagi ini dengan sebuah pertanyaan: Pernahkah anda berlibur bersama seluruh keluarga anda? Jika belum, anda akan mengalami beberapa kejutan saat melakukannya. Saya dan istri saya beberapa tahun yang lalu bergabung bersama anak-anak kami, pasangan mereka, dan para cucu pergi ke Disneyland di Kalifornia selatan. Setelah masuk ke dalam taman impian ini, kelompok kami langsung menuju tempat yang ketika itu merupakan wahana terbaru--Star Tours. Anda memasuki sebuah roket simulasi, mengambil tempat duduk dan mengencangkan sabuk pengaman. Tiba-tiba seluruh kendaraan mulai bergetar dengan kerasnya. Saya rasa suara mekanis yang keluar dari pengeras suara menyebutnya "goncangan hebat." (Saya tidak pernah kembali menaiki kendaraan ini. Saya sudah cukup memperoleh goncangan yang sesungguhnya dengan terbang dari satu tempat ke tempat lainnya dalam menunaikan tanggung jawab saya).

Setelah beristirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan ke wahana yang mempunyai antrian paling panjang. Tempat ini disebut Splash Mountain. Orang banyak berbaris dalam antrian berkelok-kelok seperti ular. Musik yang keluar dari corong pengeras suara yang diarahkan kepada kerumuman orang banyak itu, berbunyi demikian:

Zip-a-dee-doo-dah, zip-a-dee-ay,
Ah, betapa indahnya hari ini!
Sinar mentari, menyinari diri,
Zip-a-dee doo-dah, zip-a-dee-ay!
1

Ketika itu kami telah siap untuk menaiki perahu yang akan membawa kami terjun menukik tajam yang menimbulkan jeritan-jeritan dari para penumpang di dalam kapal ketika kapal itu meluncur menuruni air terjun dan berhenti mendadak di air di bawah. Namun, tepat sebelum memulai luncuran menukik itu, saya melihat pada satu dinding tanda kecil yang menyatakan suatu kebenaran yang sangat dalam: "Anda tidak dapat melarikan diri dari masalah; tidak ada tempat sejauh itu!"

Kata-kata ini membekas dalam diri saya. Kata-kata ini tidak saja berhubungan dengan tema Splash Mountain, tetapi juga dengan kehidupan kita dalam kefanaan.

Hidup adalah sebuah sekolah pengalaman, sebuah tempat pencobaan. Kita belajar sewaktu kita menanggung kesulitan kita dan menahan kepedihan hati kita.

Sewaktu kita merenungkan peristiwa-peristiwa yang dapat menimpa kita semua--yaitu penyakit, kecelakaan, kematian, dan sejumlah tantangan lainnya--kita dapat mengatakan, seperti halnya dengan Ayub di zaman dahulu, "Manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya."2 Ayub adalah orang yang "saleh dan jujur" yang "takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."3 Sebagai orang yang saleh dalam tindakan, makmur dalam kekayaan, Ayub haruslah menghadapi ujian yang dapat menghancurkan siapapun. Dilucuti dari harta bendanya, diejek oleh teman-temannya, didera dengan penderitaan, dipukul oleh hilangnya anggota keluarganya, dia didesak untuk mengatakan "kutukilah Allahmu dan matilah."4 Dia menolak godaan ini dan menyatakan dari kedalaman jiwanya yang luhur, "Ketahuilah, sekarangpun juga, Saksiku ada di sorga."5

"Tetapi aku tahu: Penebusku hidup."6 Ayub mempertahankan imannya.

Dapat diperkirakan dengan pasti bahwa tidak ada seorangpun pernah hidup bebas sepenuhnya dari penderitaan dan kesengsaraan, juga belum pernah ada periode dalam sejarah umat manusia yang tidak menerima bagiannya dalam hal kekacauan, kejatuhan dan kesengsaraan.

Sewaktu jalan kehidupan mengambil putaran yang kejam, ada godaan untuk bertanya, "Mengapa ini tejadi kepada saya?" Sifat menuduh diri sendiri merupakan kebiasaan yang lazim, bahkan ketika kita tidak memiliki kendali atas kesulitan kita. Ada kalanya kita tidak menemukan cahaya di ujung terowongan, tidak ada fajar merekah setelah kegelapan malam. Kita merasa dikelilingi oleh kenyerian karena hati yang patah, kekecewaan karena impian yang hancur, dan keputus-asaan karena harapan yang sirna. Kita bergabung dalam mengucapkan permohonan dalam Alkitab, "Tidak adakah balsam di Gilead?"7 Kita merasa ditinggalkan, patah hati, sendirian.

Bagi semua yang mengalami putus asa seperti itu, perkenankanlah saya memberikan keyakinan di dalam Mazmur, "Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai."8

Setiap kali kita merasa terbebani dengan penderitaan hidup, marilah kita mengingat bahwa orang lain pernah melalui jalan yang sama, telah bertahan, dan kemudian telah mengatasinya.

Tampaknya tak ada habisnya persediaan kesulitan bagi setiap dan semua orang. Masalahnya, kita sering mengharapkan pemecahan yang segera, melupakan bahwa seringkali kebajikan kesabaran yang ilahi itu diperlukan.

Apakah ada di antara tantangan-tantangan berikut ini yang tidak asing bagi anda?

  • Anak-anak cacat;

  • Kematian orang yang kita kasihi;

  • Pengurangan tenaga kerja;

  • Kekadaluarsaan ketrampilan seseorang;

  • Putra atau putri yang sesat;

  • Penyakit mental dan emosional;

  • Kecelakaan;

  • Perceraian;

  • Perundungan;

  • Hutang yang berlebihan.

    Daftar ini tidak ada akhirnya. Di dunia sekarang, kadang-kadang ada kecendrungan untuk merasa terpisah--bahkan terkucilkan--dari Pemberi karunia yang baik. Kita kuatir bahwa kita berjalan sendiri. Anda bertanya, "Bagaimana saya dapat mengatasinya?" Yang membawa penghiburan mutlak kepada kita adalah injil.

    Dari ranjang penderitaan, dari bantal yang basah karena air mata, kita diangkat ke arah surga oleh jaminan ilahi dan janji berharga itu, "Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."9

    Penghiburan seperti itu sangatlah berharga sewaktu kita mengarungi jalan kefanaan, dengan persimpangan dan putarannya yang banyak. Jarang nian jaminan itu disampaikan melalui cahaya berkelap-kelip atau suara yang keras. Melainkan, bahasa Roh adalah lembut, tenang, membesarkan hati, dan menenangkan jiwa.

    Agar kita tidak mempertanyakan Tuhan mengenai kesulitan-kesulitan kita, marilah kita mengingat bahwa kebijaksanaan Allah mungkin terlihat sebagai kebodohan bagi manusia; tetapi satu-satunya pelajaran besar yang dapat kita petik dalam kehidupan fana adalah bahwa ketika Allah berfirman dan orang mematuhi, maka orang itu senantiasa akan benar.

    Pengalaman Elia dari Tisbe mengilustrasikan kebenaran ini. Di tengah-tengah kelaparan, kekeringan, dan bahaya kelaparan, penderitaan, dan bahkan mungkin kematian, "Maka datangnya firman Tuhan kepada Elia: Bersiaplah, pergi ke Sarfat . . . dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan."10

    Elia tidak mempertanyakan Tuhan. "Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.

    "Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.

    "Perempuan itu menjawab: Demi Tuhan, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.

    "Tetapi Elia berkata kepadanya: Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

    "Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi."11

    Wanita itu pun tidak mempertanyakan janji yang mustahil itu. "Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

    "Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman Tuhan yang diucapkanNya dengan perantaraan Elia."12

    Marilah kita majukan dengan cepat lembaran sejarah ke malam yang istimewa itu ketika para gembala tinggal bersama ternak mereka dan mendengar pengumuman kudus itu: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:

    "Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud."13

    Dengan lahirnya bayi Yesus di Betlehem, muncullah sebuah karunia besar--yaitu kuasa yang lebih kuat daripada senjata, kekayaan yang lebih abadi daripada kepingan uang Kaisar. Janji yang telah lama dinubuatkan telah digenapi; bayi Kristus telah lahir.

    Catatan kudus mengungkapkan bahwa bayi Yesus "makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia."14 Kelak kemudian, sebuah catatan yang tanpa gembar-gembor mengungkapkan bahwa Dia "berjalan berkeliling sambil berbuat baik."15

    Dari Nazaret dan sepanjang waktu muncullah teladanNya yang luar biasa, firmanNya yang dinantikan, dan perbuatanNya yang ilahi. Semua itu mengilhami kesabaran untuk menanggung penderitaan, kekuatan untuk menanggung kesedihan, keberanian untuk menghadapi kematian, dan keyakinan untuk menghadapi kehidupan. Di dalam dunia yang kacau, penuh cobaan, dan ketidak-pastian ini, tidak pernah kebutuhan kita akan bimbingan ilahi semacam itu demikian besarnya.

    Pelajaran dari Nazaret, Kapernaum, Yerusalem, dan Galilea melampaui rintangan-rintangan jarak, perjalanan waktu, batas-batas pemahaman sewaktu pelajaran-pelajaran itu membawa terang dan jalan bagi hati yang susah. Di depan terbentang taman Getsemani dan bukit Golgota.

    Catatan dalam Alkitab mengungkapkan: "Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-muridNya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-muridNya: Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.

    "Dan Ia membawa Petrus, [Yakobus, dan Yohanes] dan mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kataNya kepada mereka: HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.

    "Maka Ia maju sedikit, . . . dan berdoa, kataNya:16

    "Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakku, melainkan kehendakMulah yang terjadi

    "Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah."17

    Betapa pahitnya penderitaan, betapa besarnya pengorbanan, betapa dalamnya kenyerian yang ditanggungNya bagi dosa-dosa dunia!

    Demi kebaikan kita, seorang penyair menulis:

    Sewaktu muda remaja dan bumi bagaikan
    taman bunga yang bermandikan kemenyan,
    Ketika jiwa bersuka dan hati ceria,
    Tanpa bayangan kelam di pelupuk mata,
    Tidaklah kita sadari, keberadaannya di sana
    Tersembunyi di balik cakrawala senja
    Sebuah taman yang tak dapat kita hindari-
    Bahkan Taman Getsemani.
     
    Di jalan yang berkabut, aliran sungai yang terasing,
    Dijembatani berbagai mimpi yang terbuang;
    Di balik pudarnya perjalanan masa,
    Di seberang lautan garam air mata,
    Terhamparlah taman itu. Betapa pun kau menjauhi,
    Tak akan luput dari jalan yang harus kau lalui.
    Semua jalan yang pernah dan akan ada di bumi,
    Semuanya terbentang melintasi Getsemani.
    18

    Misi fana Juru Selamat dunia segera akan berakhir. Di depan terdapat kayu salib Kalvari, tindakan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang haus akan darah Putra Allah. Tanggapan ilahiNya sederhana tetapi merupakan doa dengan arti yang sangat dalam, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."19

    Akhirnya pun tiba: "Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu. Dan sesudah berkata demikian,"20 Penebus yang Agung meninggal. Dia dikubur di sebuah makam. Dia bangkit pada pagi hari yang ketiga. Dia dilihat oleh para muridNya. Kata-kata yang bergema dari peristiwa paling penting itu terdengar sepanjang masa dan membawa kepada jiwa kita, bahkan sampai sekarang, penghiburan, keyakinan, balsam, dan kepastian, "Ia tidak ada di sini . . . Ia telah bangkit."21 Kebangkitan menjadi suatu kenyataan bagi kita semua.

    Minggu lalu saya menerima sepucuk surat yang sarat iman dari Laurence M. Hilton. Perkenankanlah saya membagikan kepada anda laporan mengenai mengatasi tragedi pribadi dengan iman, tanpa keraguan.

    Pada tahun 1892 Thomas dan Sarah Hilton, kakek-nenek Laurence pergi ke Samoa, di mana Thomas ditetapkan sebagai presiden misi setelah mereka tiba. Mereka membawa putri mereka yang masih bayi; dua putra lainnya lahir sewaktu mereka melayani di sana. Namun tragisnya, ketiga anak mereka meninggal di Samoa, dan tahun 1895 keluarga Hilton kembali dari misi mereka tanpa membawa anak.

    David O. McKay adalah teman keluarga ini dan sangat tersentuh oleh kesedihan itu. Tahun 1921, sebagai bagian dari kunjungan keliling dunia kepada para anggota Gereja di banyak negara, Penatua McKay berhenti di Samoa, ditemani oleh Penatua Hugh J. Cannon. Sebelum berangkat, dia telah berjanji kepada Sister Hilton yang kini telah menjadi janda bahwa dia secara pribadi akan mengunjungi kuburan ketiga anaknya. Saya bagikan kepada anda surat yang ditulis David O. McKay kepada Sister Hilton dari Samoa:

    Sister Hilton terkasih:

    "Tepat ketika terbenamnya sinar matahari sore menyentuh puncak pohon kelapa yang tinggi, Rabu, 18 Mei 1921, kelompok yang terdiri dari lima orang menundukkan kepala di depan Pemakaman Fagali'i. . . . Kami berada di sana, tentunya anda masih ingat, untuk memenuhi janji yang telah saya buat dengan anda sebelum saya berangkat.

    "Kuburan dan batu nisan masih berada dalam keadaan terpelihara baik . . . Saya membuat salinannya sementara saya berdiri . . . di luar dinding batu yang mengelilingi makam.

    Janette Hilton
    Lahir: 10 September 1891
    Meninggal: 4 Juni 1892
    "Beristirahatlah, Jennie sayang"

    George Emmett Hilton
    Lahir: 12 Oktober 1894
    Meninggal: 19 Oktober 1894
    "Damailah tidurmu"

    Thomas Harold Hilton
    Lahir: 21 September 1892
    Meninggal: 17 Maret 1894
    "Beristirahat di sisi bukit, beristirahatlah"
     
    "Sewaktu saya memandang ketiga kuburan kecil itu, saya mencoba membayangkan peristiwa yang anda alami sewaktu anda menjadi ibu muda di Samoa dulu. Sementara saya membayangkannya, batu nisan kecil itu telah menjadi monumen bukan saja bagi ketiga bayi kecil yang terbaring di bawah makam itu, tetapi juga bagi iman dan pengabdian seorang ibu terhadap asas-asas kekal kebenaran dan kehidupan. Ketiga anak kecil anda, Sister Hilton, dalam keheningan yang paling elok dan efektif, telah melanjutkan pekerjaan misionari mulia anda yang dimulai hampir tiga puluh tahun yang lalu, dan mereka akan terus melakukannya sepanjang masih ada tangan-tangan lembut untuk memelihara tempat peristirahatan terakhir mereka di bumi."

    Oleh tangan-tangan yang penuh kasih mata mereka ditutup;
    Oleh tangan-tangan yang penuh kasih jari-jari mereka dijalin;
    Oleh tangan-tangan asing makam sederhana mereka dihias;
    Oleh orang asing dihormati, dan oleh orang asing diratapi.

    "Tofa Soifua,

    "David O. McKay"

    Cerita yang mengharukan ini menyampaikan kepada hati yang berkabung "damai sejahtera . . . yang melampaui segala akal."22 Bapa Surgawi kita hidup. Yesus Kristus Tuhan adalah Juru Selamat dan Penebus kita. Dia membimbing Nabi Joseph Smith. Dia membimbing nabiNya dewasa ini, yaitu Presiden Gordon B. Hinckley. Saya memberikan kesaksian pribadi akan kebenaran ini.

    Semoga kita dapat mengemban derita kita, menanggung beban kita, dan menghadapi ketakutan kita--seperti yang telah dilakukan Juru Selamat kita--itulah doa saya. Saya tahu bahwa Dia hidup. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

    CATATAN

    1. Ray Gilbert, 1945 Walt Disney Music Company
    2. Ayub 5:7
    3. Ayub 1:1
    4. Ayub 2:9
    5. Ayub 16:19
    6. Ayub 19:25
    7. Yeremia 8:22
    8. Mazmur 30:6
    9. Yosua 1:5
    10. I Raja-Raja 17:8,9
    11. I Raja-Raja 17:10­14
    12. I Raja-Raja 17:15,16
    13. Lukas 2:10,11
    14. Lukas 2:52
    15. Kisah para Rasul 10:38
    16. Matius 26:36­39
    17. Lukas 22:42­44
    18. Ella Wheeler Wilcox, "Gethsemane," dalam Sourcebook of Poetry, kump. Al Bryant (1968), 435.
    19. Lukas 23:34
    20. Lukas 23:46
    21. Matius 28:6
    22. Filipi 4:7

  •  
    © 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy