Presiden James E. Faust
Penasihat Kedua dalam Presidensi Utama
Belum pernah terjadi dalam sejarah dunia perlunya iman yang lebih besar kepada Allah.
Brother dan sister terkasih, ini adalah hari bersejarah. Inilah konferensi umum pertama dari abad dan milenium ini, dan konferensi pertama yang diadakan di Pusat Konferensi baru yang megah ini dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Saya bergabung bersama Anda sekalian dalam mengungkapkan kekaguman, rasa hormat, dan penghargaan atas penglihatan Nabi besar kita, Presiden Gordon B. Hinckley. Dengan iman dan keberaniannya memajukan proyek besar ini.
Dengan air mata haru, kita tinggalkan Tabernakel tercinta kita, tempat tradisional untuk konferensi umum. Sebagaimana Presiden Hinckley mengatakan, "Kita telah mengembangkannya." Kita berhenti sejenak untuk memberikan penghargaan atas iman, penglihatan, serta ilham dari Brigham Young dan rekan-rekannya yang dengan penuh iman membangun Tabernakel, bangunan yang sungguh-sungguh menakjubkan. Saya pernah berada di atap Tabernakel, di mana jalinan-jalinan kulit mentah asli masih terikat di sekeliling kayu langit- langit bangunan. Meskipun kayu-kayu itu telah diperkuat dengan baja, karya tangan yang kreatif dari para pionir Orang Suci yang beriman ini tetap kukuh sebagai lambang iman besar mereka.
Saya yakin masa depan akan cerah dan menakjubkan dalam banyak hal. Kesempatan- kesempatan bagi pendidikan dan pembelajaran telah meningkat dan akan terus meningkat secara dramatis. Seseorang menguraikannya sebagai berikut: "Kita harus memiliki pendidikan dan mengetahui apa yang sedang terjadi di sekeliling kita; jika tidak, kita berisiko mengalami banyak kesulitan.1 Sekarang dan di masa datang, laju keterangan menjadi lebih dapat diterima di seluruh dunia melalui pelaratan elektronik di rumah-rumah, perkantoran, maupun di perpustakaan setempat. Meskipun demikian, tantangan-tantangan dan masalah-masalah yang tak terselesaikan akan lebih besar karena meningkatnya pengetahuan ini kehidupan sebenarnya menjadi lebih rumit. Brigham Young mengatakan, "Telah diwahyukan kepada saya pada masa awal Gereja, bahwa Gereja akan tersebar, berkembang, tumbuh dan meluas, dan bahwa dalam proporsinya untuk menyebarkan Injil di antara bangsa-bangsa di bumi, demikian pula kekuatan Setan meningkat."2
Sementara kita maju menuju era baru, kita hanya memiliki satu jalur yang aman--mempertahankan iman. Iman akan menjadi perisai kuat kita untuk melindungi kita dari panah api Setan. Nilai-nilai hendaknya tidak berubah oleh waktu karena iman kepada Yesus Kristus sangat diperlukan untuk kebahagiaan dan keselamatan kekal. Permulaan abad terbesar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi baru saja berakhir. Tetapi kuasa kegelapan ada di abad kita sebagaimana ada di banyak abad sebelumnya ketika Yesus Kristus akan disalibkan. Meskipun demikian, sebagaimana Nabi Joseph Smith mengatakan: "Berkat-berkat besar menanti kita pada saat ini, dan segera akan dicurahkan ke atas kita, jika kita beriman dalam segala hal, oleh karena itu kita bahkan berhak atas berkat-berkat yang lebih besar daripada mereka, karena mereka telah mengambil Kristus ke dalam diri mereka, untuk mengajar mereka dalam rencana besar keselamatan. Keberadaan pribadi-Nya tidak kita miliki, oleh karena itu kita perlu memiliki iman yang lebih besar."3 Iman adalah asas utama injil Yesus Kristus sebagaimana ditetapkan oleh Nabi Joseph Smith: "Kami percaya kepada Allah, Bapa yang Kekal, serta Putra-Nya, Yesus Kristus, dan Roh Kudus."4 Iman ini akan menjadi tempat perlindungan bagi jiwa kita.
Belum pernah terjadi dalam sejarah dunia perlunya iman yang lebih besar kepada Allah. Meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi membuka kesempatan besar, hal itu juga menimbulkan bahaya besar karena Setan menggunakan penemuan-penemuan luar biasa ini demi kepentingannya sendiri. Sarana internet yang menjembatani dunia dipenuhi dengan keterangan yang mana tidak seorang pun dibebani tanggung jawab atas kebenaran atau sumbernya. Kejahatan menjadi lebih rumit dan kehidupan lebih membahayakan. Dalam peperangan, membunuh menjadi jauh lebih efisien. Tantangan-tantangan besar menghadang kecuali kekuatan iman, penilaian, kejujuran, kesopanan, kendali diri, dan sifat-sifat meningkat secara proporsional untuk menggantikan pengetahuan sekuler yang meluas ini. Tanpa peningkatan moral, yang didorong oleh iman kepada Allah, secara amoral dalam segala bentuknya akan menumbuhkan dan menahan kebajikan dan perilaku manusia. Umat manusia akan mampu untuk mengungkapkan sepenuhnya potensi martabat jiwa manusia kecuali iman kepada Allah diperkuat.
Di zaman kita keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi mampu mengatasi semua masalah umat manusia telah menjadi keyakinan kuat. Saya akan sedih seandainya saya mengira keselamatan kekal kita bergantung pada pengetahuan ilmiah, teknis, ataupun sekuler lepas dari kebenaran dan firman Allah. Firman Allah sebagaimana diucapkan oleh para nabi selama berabad-abad menegaskan tidak ada jalan akhir lainnya. Banyak orang percaya bahwa jawaban yang muncul atas pertanyaan kehidupan terdapat dalam tabung uji, dalam laboratorium, dalam persamaan, dan dalam teleskop. Keyakinan akan ilmu pengetahuan ini meninggalkan jawaban akhir terhadap pertanyaan inti. "Mengapa?" Dengan mengetahui sebab dan akibatnya memang menantang tetapi tidak menjelaskan mengapa kita ada di sini, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Sebagaimana dikatakan Albert Einstein, "Saya tidak akan pernah percaya bahwa Allah membiarkan peristiwa-peristiwa terjadi secara acak."5
Presiden Harold B. Lee pernah berkata: "Tidak peduli apa kemajuannya dalam ilmu pengetahuan, manusia harus selalu tunduk kepada kehendak dan arahan Allah. Manusia tidak pernah menemukan apa pun yang belum diketahui Allah."6
Saya tidak percaya bahwa pengetahuan besar yang diberikan terjadi begitu saja. Semua pengetahuan sekular ini semata-mata tidak datang dari pikiran kaum pria dan wanita. Manusia sudah ada di bumi sejak lama. Selama berabad-abad, pengetahuan datang dalam alur yang sangat lambat.
Saya percaya bahwa penampakan Allah Bapa dan Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus, pada tahun 1830 kepada Joseph Smith membuka surga bukan saja untuk pengetahuan besar rohani yang diwahyukan pada masa kelegaan ini tetapi juga untuk pengetahuan sekuler. "Para antropolog memberitahu kita bahwa selama ribuan tahun rata-rata makhluk hidup diperkirakan dapat hidup mencapai 25 hingga 30 tahun."7 Tetapi sejak akhir abad 19, perkiraan hidup di seluruh dunia meningkat menjadi 64 tahun.8 Gagasan-gagasan baru, termasuk penemuan ilmu pengetahuan dan temuan-temuan baru tentang cara-cara lebih baik dalam melakukan sesuatu, yang dikeluarkan secara tahunan setiap 39 tahun dari tahun 4.000 S.M. hingga tahun 1 M., berbeda dengan 3.840 gagasan baru setiap tahunnya pada abad ke 19, sementara dewasa ini mereka menciptakan gagasan baru rata-rata 110.000 setiap tahunnya.9
Kini muncul tantangan untuk mencegah pengetahuan ilmiah, teknis, dan intelektual dari putusnya penerangan rohani dalam kehidupan kita. Seperti seseorang pernah mengatakan, "Sumber terbesar yang belum berkembang di negara kita adalah iman; kekuatan terbesar yang belum digunakan adalah doa."10 Teknologi dapat menolong kita berkomunikasi satu sama lain dan dengan dunia, bukan dengan Allah.
Saya ingin menyerukan suara peringatan ini kepada bangsa ini. Saya menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa kerajaan rohani akan iman ini akan maju terus dengan atau tanpa kita masing-masing secara pribadi. Tidak ada orang yang tidak kudus dapat menghentikan pertumbuhan Gereja ataupun mencegah penggenapan misinya. Tidak satu pun dari kita dapat tertinggal, tertarik dengan pengaruh-pengaruh yang menggiurkan dari hal-hal duniawi dan materialisme.
Untuk mempertahankan iman, kita masing-masing harus rendah hati dan berbelas kasih, baik hati, serta berderma kepada kaum miskin dan melarat. Iman lebih lanjut dipertahankan melalui dosis harian dari kerohanian yang datang kepada kita sewaktu kita berlutut dalam doa yang rendah hati. Itu bermula dari diri kita sebagai pribadi dan diteruskan kepada keluarga kita yang perlu dikuatkan dalam kebajikan. Kejujuran, kesopanan, integritas, dan moralitas semuanya adalah bahan penting dari iman kita dan akan menyediakan tempat perlindungan bagi jiwa kita.
Iman sederhana kepada Allah Bapa; Putra-Nya, Yesus Kristus; dan Roh Kudus seperti sumber kekuatan dalam menjalankan kehidupan kita. Sebagaimana Penatua Charles W. Penrose mengatakan: "Beberapa orang tidak akan mempercayai apa pun yang mereka tidak dapat tangkap dengan alasan manusiawi mereka atau tidak dapat melihat dengan mata alami mereka. Tetapi diberkatilah pria yang beriman, diberkatilah wanita yang beriman! Karena melalui imanlah mereka dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh mata alami. Mereka dapat menjangkau tempat-tempat yang baka, memahami realitas-realitas kekal dan mengerti hal-hal dari Allah!"11 Memang demikian karena, melalui iman, karunia dan kekuatan alami tentang prestasi terus menerus ditingkatkan.
Iman memperkuat dan meningkatkan karunia serta kemampuan kita. Tidak ada sumber pengetahuan yang lebih besar daripada ilham yang datang dari Ketuhanan, yang memiliki semua pemahaman dan pengetahuan akan apa yang telah ada, sekarang ada, dan akan terus ada.
Di Penggilingan Haun, seorang pahlawan pionir wanita, Amanda Smith, belajar melalui iman bagaimana melakukan sesuatu dengan kemampuannya dan pengetahuan ilmiah pada zamannya. Pada hari yang sangat buruk tahun 1838 itu, ketika tembak-menembak itu berakhir dan gerombolan pengacau sudah pergi, dia kembali ke penggilingan dan melihat putra tertuanya, Willard, sambil menggendong adiknya yang berusia tujuh tahun, Alma. Dia menjerit, "Oh, Almaku [mati]." "Tidak, Bu," sahutnya, "Saya rasa Alma tidak mati, tetapi Ayah dan kakak Sardius telah tewas." Tetapi tidak ada waktu untuk menangis sekarang. Seluruh tulang pinggul Alma tertembak. Amanda lalu menuturkan:
"Daging, tulang pinggul, sendi, dan semuanya terkoyak . . . . Kami membaringkan si kecil Alma di kasur dalam tenda kami dan saya memeriksa lukanya. Itu merupakan pemandangan mengerikan. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan . . . . Tetapi saya tetap di situ, sepanjang malam, yang mencekam, bersama anak saya yang mati dan terluka, serta tidak seorang pun kecuali Allah sebagai dokter dan penolong kami. "Oh Bapa Surgawi," jerit saya, "apa yang harus saya perbuat? Engkau melihat putra saya yang terluka dan ketidakberdayaan saya. Oh, Bapa Surgawi, tunjukkanlah apa yang harus saya perbuat!" Dan kemudian saya dibimbing melalui sebuah suara yang berbicara kepada saya.
". . . Perapian kami masih menyala . . . . Saya dibimbing untuk mengambil . . . abu dan membuat semacam sabun serta meletakkan kain yang diisi dengan sabun itu untuk menutupi luka. . . . Berulang kali saya mengisi kain dan meletakkannya di atas luka . . . , dan setiap kali daging yang hancur serta tulang yang pecah itu terangkat bersama kain; luka menjadi seputih daging ayam.
"Setelah melakukan itu sebagaimana diarahkan saya kembali berdoa kepada Tuhan dan kembali diperintahkan sejelas seolah-olah seorang dokter berdiri di sisi saya sambil berbicara kepada saya. Tak jauh dari rumah ada pohon slippery-elm (sejenis tanaman obat). Dari pohon ini saya diperintahkan untuk membuat semacam . . . ramuan dan menutupi luka dengan ramuan ini . . . . Ramuan dibuat, dan luka itu, yang menghabiskan 27 meter kain untuk menutupnya . . . telah terbungkus rapi.
"Saya memindahkan anak yang terluka ini ke rumah . . . dan membalut pinggulnya; Tuhan membimbing saya seperti sebelumnya. Saya teringat bahwa dalam koper suami saya ada sebotol balsem. Balsem ini saya oleskan ke atas luka, ini benar-benar mengurangi rasa sakit Alma.
"Alma, sayang," ujar saya, "apakah kamu percaya bahwa Tuhan menyembuhkan pinggulmu?"
"Ya, bu."
"Memang, Tuhan dapat menyembuhkan luka di pinggulmu, percayakah kamu, Alma?"
"Dapatkah Tuhan melakukannya, Bu?" tanya anak itu dalam kepolosannya.
"Tentu, anakku," jawab saya, "Dia telah menunjukkan semuanya kepada ibu dalam sebuah penglihatan."
"Kemudian saya membaringkannya tertelungkup, dan mengatakan: "Sekarang kamu tidur seperti ini dan jangan bergerak, dan Tuhan akan menyembuhkan pinggulmu."
"Maka Alma berbaring tertelungkup selama lima minggu, sampai dia benar-benar sembuh--tulang yang masih muda dan fleksibel telah tumbuh kembali di tempatnya karena lepasnya tulang dan persendian, yang hingga hari ini menjadi suatu keajaiban bagi para dokter.
"Kini hampir empat puluh tahun, tetapi Alma tidak pernah menjadi pincang selama hidupnya, dan dia telah mengadakan perjalanan sepanjang waktunya sebagai misionari injil dan mukjizat hidup dari kuasa Allah."12
Penyembuhan itu luar biasa untuk masa itu dan masa kini, dan tak pernah terjadi sekarang, tetapi bila kita mengalami saat-saat yang paling membutuhkan, seperti Sister Smith, kita harus menjalankan iman sederhana kita dan mendengarkan Roh sebagaimana yang dia lakukan. Menjalankan iman kita akan membuat kita lebih kuat. Sebagaimana Alma mengajarkan:
"Jika kamu bersedia . . . menjalankan sepercik iman, . . . bahkan sampai kamu percaya dengan suatu cara sehingga kamu dapat memberi tempat untuk sebagian dari kata-kataku.
". . . Sepatutnyalah . . . bahwa firman itu adalah baik, karena benih itu mulai membesarkan jiwaku. Ya, benih itu mulai menerangi pengertianku . . . .
"Maka lihatlah, tidakkah ini menambah imanmu?"13
Kebajikan adalah rekan bagi iman. Iman yang kuat diperoleh dengan mematuhi perintah- perintah. Ini membantu kita sebagaimana Paulus katakan untuk "mengambil seluruh perlengkapan senjata Allah."14
Ada beberapa hal mutlak bagi kita sebagai Orang-orang Suci Zaman Akhir di atas mana iman kita harus diletakkan. Hal-hal mutlak itu adalah kebenaran dasar dan kekal. Hal-hal mutlak itu adalah:
1. Yesus, Putra Bapa, adalah Kristus, dan Juruselamat serta Penebus dunia;
2. Joseph Smith adalah alat melalui mana injil dipulihkan dalam kegenapan dan kepenuhannya pada zaman kita;
3. Kitab Mormon adalah firman Allah dan, sebagaimana Nabi Joseph Smith katakan, adalah batu kunci agama kita dan saksi lain dari Yesus sebagai Kristus dan Penebus semua umat manusia;
4. Gordon B. Hinckley memegang, sebagaimana semua presiden sebelumnya dari Gereja, semua kunci-kunci dan wewenang yang dipulihkan melalui Joseph Smith.
Inilah pekerjaan Allah. Saya percaya dan bersaksi bahwa, sebagaimana Paulus mengatakan, jika kita dapat "mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah"15 kita dapat melanjutkan dengan harapan dan keyakinan besar menuju masa depan. Kita akan diberi kekuatan untuk mengatasi semua kesulitan. Kita akan bersukaria di dalam berkat-berkat kita dan menemukan kedamaian di dalam jiwa kita. Semoga kita dapat melakukannya, saya berdoa dengan kerendahan hati dalam nama Yesus Kristus, amin.
CATATAN
1. Pete Seeger, sebagaimana dikutip dalam Pocket Pal, Myron Manufacturing Corp. 1999.
2. Discourses of Brigham Young, diseleksi oleh John A. Widtsoe (1954), hlm. 72.
3. Teachings of the Prophet Joseph Smith, diseleksi oleh Joseph Fielding Smith (1976), 90.
4. Pasal-pasal Kepercayaan ke 1.
5. John Bartlett, comp., Familiar Quotations, edisi ke 14 (1968), 950.
6. Be Ye Not Deceived, Brigham Young University Speeches of the Year (4 Mei 1965), 6.
7. Stephen Moore, "Great American Century is Just Beginning," Arizona Republic; 9 Januari 2000.
8. New York Times 2000 Almanac (1999), 484.
9. Lihat Charles I. Jones, "Was an Industrial Revolution Inevitable? Economic Growth Over the Very Long Run," makalah kerja 7375, National Bureau of Economic Research, Cambridge, Mass., 1999, 32.
10. Roger W. Babson, Religion and Business (1921), 80.
11. Deseret News Semi-Weekly, 14 September 1880, 1.
12. "Amanda Smith," dikumpulkan oleh Andrew Jenson, Historical Record, jilid 9 (188290), 5:8486; alinea dan tanda baca diubah.
13. Alma 32:2729.
14. Efesus 6:11.
15. Efesus 4:13.