The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April 2001
Kuasa Imamat

Kuasa Imamat

Penatua John H. Groberg
Dari Tujuh Puluh

"Sementara kuasa akan imamat itu tak terbatas, kuasa kita dalam keimamatan dibatasi oleh tingkat kebenaran atau kemurnian kita."

Penatua John H. Groberg

Saudara sesama pemegang imamat, di mana pun: saya harap kita menghargai kesempatan berharga memegang imamat Allah. Nilainya sungguh luar biasa.

Melalui kuasanya, dunia--bahkan antariksa--telah, sedang dan akan diciptakan atau diorganisasi. Melalui kuasanya, tata cara-tata cara dilakukan yang, ketika disertai oleh kebenaran, membuat keluarga bersatu selamanya, dosa diampuni, yang sakit disembuhkan, yang buta dapat melihat dan bahkan yang meninggal dapat dihidupkan kembali.

Allah menghendaki agar kita, para putra-Nya, memegang imamat-Nya dan belajar menggunakannya dengan benar. Dia menjelaskan:

"Tidak ada kuasa atau pengaruh yang dapat atau sepatutnya dipertahankan oleh kebajikan keimamatan, hanya oleh bujukan kesabaran, kebaikan dan kelemahlembutan serta oleh kasih sayang yang sejati."1

Tetapi jika kita "melakukannya untuk mengatur atau memaksa jiwa anak-anak manusia [terutama istri dan anak-anak kita], dalam bentuk apa pun yang tidak benar, lihatlah, surga akan menarik dirinya, Roh Tuhan menjadi sedih, dan bila Roh Tuhan telah menarik diri, berakhirlah imamat atau wewenang orang itu."2

Jadi, kita lihat sementara kuasa akan imamat itu tak terbatas, kuasa kita dalam keimamatan dibatasi oleh tingkat kebenaran atau kemurnian kita.

Sama seperti kabel yang bersih, yang tersambung dengan benar, adalah syarat untuk menghantar listrik, demikian pula dengan tangan yang bersih dan hati yang murni adalah syarat untuk menghantarkan kuasa imamat. Kekotoran memperlambat atau menghalangi aliran listrik. Pikiran dan tindakan yang kotor mengganggu kuasa imamat. Ketika kita rendah hati, tangan kita bersih dan pikiran kita murni, tidak ada kebenaran yang tidak mungkin dilakukan. Pepatah Cina mengatakan, "Jika seseorang hidup murni, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghancurkannya."3

Dalam kasih-Nya kepada kita, Allah menyatakan bahwa setiap lelaki yang layak, terlepas dari kekayaan, pendidikan, warna kulit, budaya, latar belakang, atau bahasanya, dapat menerima imamat. Jadi, setiap lelaki yang ditahbiskan dengan benar yang bersih tangannya dan murni hatinya, dapat terhubung dengan kuasa imamat yang tak terbatas. Saya mengetahui hal ini sejak saya masih misi bertahun-tahun yang lalu di Pasifik Selatan.

Tugas pertama saya adalah ke sebuah pulau kecil ratusan mil dari pusat Gereja, di mana tidak seorang pun menggunakan bahasa Inggris, dan saya adalah satu-satunya orang kulit putih. Saya diberi rekan pribumi yang bernama Feki yang masih melayani misi gereja dan seorang imam di dalam Imamat Harun.

Setelah delapan hari yang tidak menyenangkan di atas perahu kecil, yang bau, kami sampai di Niuatoputapu. Saya tak biasa dengan panas dan nyamuk, makanan, budaya, dan bahasa yang asing, juga rindu kampung halaman. Suatu sore kami mendengar tangisan duka dan melihat sebuah keluarga membawa anak yang lemah dan tampaknya sudah meninggal kepada kami. Mereka mengatakan bahwa dia jatuh dari pohon mangga dan tidak sadarkan diri. Ayah dan ibu yang penuh iman itu meletakkan anak itu di dalam tangan kami dan berkata: "Anda yang memiliki Imamat Melkisedek, hidupkanlah dia kembali."

Meskipun pengetahuan bahasa yang saya miliki masih terbatas, saya mengerti yang mereka minta dan saya takut. Saya ingin lari, tetapi pernyataan kasih dan iman yang terlihat dari mata orang tua itu membuat saya tidak bisa melepaskan pandangan saya dari anak itu.

Saya memandangi rekan saya dengan penuh harapan. Dia mengangkat bahu dan berkata, "Saya tidak memiliki wewenang untuk itu--Anda dan presiden cabang yang memegang Imamat Melkisedek." Untuk berkilah, saya berkata, "Ini tanggung jawab presiden cabang."

Tidak berapa lama presiden cabang datang. Dia mendengar ada kegaduhan dan pulang dari kebun. Dia masih berkeringat dan penuh lumpur. Saya melihatnya dan menjelaskan apa yang telah terjadi serta berusaha menyerahkan anak itu ke tangannya. Dia mundur dan berkata, "Saya pergi dahulu, dan mandi serta berganti pakaian; kemudian kita akan memberkatinya dan menantikan apa yang akan Allah katakan."

Dalam kepanikan saya berseru, "Tidakkah Anda melihat? Dia membutuhkan bantuan itu sekarang!"

Dia menjawab dengan tenang: "Saya tahu dia membutuhkan berkat sekarang. Ketika saya selesai mandi dan berganti baju, kita akan mengurapinya dan datang kepada Allah serta menantikan apa kehendak-Nya. Saya tidak dapat--saya tidak akan--datang kepada Allah dengan tangan yang kotor dan baju yang penuh lumpur." Dia pergi dan membiarkan saya menggendong anak itu. Saya membisu saja.

Akhirnya dia kembali, bersih dan rapi, dan saya kira hatinya juga bersih. "Nah," katanya, "Saya sudah bersih, maka kita akan datang kepada Allah."

Presiden Cabang Tonga itu, dengan tangan yang bersih dan hati yang murni, memberi berkat imamat yang indah dan luar biasa. Saya lebih banyak menjadi saksi daripada mengambil bagian. Kata-kata dari Mazmur datang ke dalam pikiran saya: "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan?"

"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya."4 Di atas pulau kecil itu seorang pemegang imamat yang layak telah naik ke atas puncak bukit Tuhan dan kuasa imamat turun dari Surga serta memberi wewenang bagi hidup anak muda itu untuk berlanjut.

Dengan semangat iman di matanya, presiden cabang itu memberitahu saya apa yang harus dilakukan. Lebih banyak iman dan usaha dibutuhkan, tetapi pada hari ketiga, anak usia delapan tahun itu, yang telah hidup kembali dipersatukan lagi dengan keluarganya.

Saya harap Anda mengerti dan merasakan kebenaran ini. Ini adalah sebuah pulau kecil di tengah-tengah samudera raya--tanpa listrik, tanpa rumah sakit, tanpa dokter--tetapi semua itu tidak penting. Di samping kasih dan iman yang besar, di sana ada presiden cabang yang memegang Imamat Melkisedek, yang mengerti pentingnya tangan yang bersih dan hati yang murni serta tubuh yang bersih, yang menggunakan imamat secara benar dan murni sesuai kehendak Allah. Hari itu kuasa pribadinya dalam imamat telah berhubungan dengan kuasa dari imamat yang tak terbatas atas kehidupan fana ini.

Ketika saya melihat ke langit pada malam hari dan melihat bintang-bintang, saya kagum akan kecilnya dunia kita ini dan betapa tak berartinya saya. Tetapi, saya tidak merasa sendirian, takut, tidak penting atau jauh dari Allah. Karena saya telah menyaksikan kuasa Imamat-Nya yang terhubungkan karena tangan yang bersih dan hati yang murni di atas pulau kecil di samudera luas.

Saudara-saudara, hubungan itu tersedia bagi kita semua, di mana pun, dalam keadaan apa pun, sejauh tangan, hati serta pikiran kita bersih dan murni. Tidak ada kuasa pribadi dalam imamat yang berada di luar kemurnian pribadi.

Kita hanya harus berusaha keras untuk memurnikan hidup kita dengan melayani orang lain seperti Kristus. Selalu ada kesempatan untuk melayani--dalam keluarga, di Gereja, di misi, di bait suci, dan di antara sesama manusia. Pelayanan mulia membutuhkan kerja keras, pengorbanan dan tidak mementingkan diri. Semakin berkorban semakin besar kemurnian yang akan didapatkan.

Allah, yang penuh dengan terang, kehidupan, dan kasih, ingin agar kita memegang dan menggunakan imamat dengan benar sehingga kita dapat meneruskan terang, kehidupan, dan kasih kepada mereka yang berada di sekitar kita. Sebaliknya, iblis, raja kegelapan, ingin agar kita menjauhi terang, kasih, dan kehidupan sejauh mungkin. Karena tidak ada yang dapat dilakukan oleh iblis terhadap kuasa dari imamat, dia memusatkan tenaganya mencoba membatasi kuasa kita dalam imamat dengan menggoda kita agar tangan, hati, dan pikiran kita kotor melalui perundungan, kemarahan, pengabaian, pornografi, mementingkan diri, atau kejahatan lainnya. Dia tahu jika dia dapat menjatuhkan kita, dia dapat membuat kita tidak berdaya menggunakan imamat dengan selayaknya yang akan mendatangkan terang, kehidupan, dan kasih ke atas dunia dan semua penduduknya--baik yang sudah meninggal, masih hidup, maupun yang akan datang.

Brother sekalian, harap jangan menjual hak kesulungan keimamatan yang berharga itu untuk kesenangan sementara film seks. Ingatlah, betapa pun indahnya bangunan pasir kehidupan fana akhirnya akan terhapus oleh air. Hanya tangan, hati, dan pikiran yang bersih yang memungkinkan kita untuk terhubung kepada sumber kuasa keimamatan yang tak terbatas dan memberkati orang lain serta akhirnya dapat mendirikan bangunan kekekalan yang sangat indah.

Saya tahu bahwa Allah hidup, bahwa Yesus adalah Kristus, bahwa Dia adalah sahabat saya dan Anda. Saya tahu bahwa Yesus adalah tela-dan kuasa imamat murni yang sempurna. Ikutilah Dia.

Saya berdoa agar kita dapat melayani dengan hati yang lebih murni, sehingga kuasa kita masing-masing di dalam imamat akhirnya dapat digenapi melalui kasih Dia yang imamatnya kita pegang.

Dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. A&P 121:41–42.
2. A&P 121:37.
3. Dihubungkan dengan Buddha.
4. Mazmur 24:3–4.

 
© 2009 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy