The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
"Tertibkanlah Rumahmu"

"Tertibkanlah Rumahmu"

Penatua Russell M. Nelson
Dari Kuorum Dua Belas Rasul

"Keluarga kita adalah tujuan kerja dan sukacita terbesar hidup ini; hendaknya demikianlah sepanjang kekekalan."

Elder Russell M. Nelson

Bertahun-tahun lalu ketika Sister Nelson dan saya masih memiliki anak-anak remaja perempuan, kami pergi bertamasya yang jauh dari telepon dan pacar-pacar mereka. kami akan pergi berperahu jeram di Sungai Colorado melewati Grand Canyon. Ketika itu, kami tidak tahu betapa berbahayanya melakukan arung jeram.

Hari pertama sangatlah menyenangkan. Tetapi pada hari kedua, ketika kami mendekati arus deras Horn Creek dan melihat riak air yang dahsyat di depan kami, saya jadi takut. Dengan mengapung di atas perahu karet, keluarga kami yang sangat berharga itu hampir jatuh ke dalam air terjun. Secara naluri tangan yang satu merangkul istri saya yang lain anak saya yang paling kecil. Untuk melindungi mereka, saya coba mendekap mereka. Tetapi ketika kami sampai di tepi ngarai itu, perahu yang melengkung itu menjadi semacam ketapel raksasa yang melempar saya ke udara. Saya mendarat di arus sungai yang berbuih. Saya mengalami kesulitan naik ke permukaan. Setiap kali saya mencoba naik ke permukaan, tubuh saya dihantam oleh tepi perahu. Keluarga saya tidak dapat melihat saya, tetapi saya mendengar teriakan mereka, "Ayah! Di mana Ayah?"

Akhirnya saya menemukan tepi perahu dan mengangkat diri ke permukaan. Keluarga saya menarik saya yang nyaris tenggelam itu. Kami sangat bersyukur karena selamat dan berkumpul kembali.

Hari-hari berikutnya menyenangkan dan indah. Lalu tibalah hari terakhir ketika kami pergi ke Lava Falls, yang terkenal karena arusnya yang sangat deras. Ketika saya melihat apa yang ada di depan kami, kami menepi dan mengadakan rapat darurat dengan kesadaran bahwa apabila kami ingin tetap bisa melewati pengalaman ini, kami butuh menyusun rencana dengan hati-hati. Saya memberi saran kepada keluarga saya, "Tak perduli apa pun yang terjadi, perahu karet kita harus tetap mengapung di atas air. Jika kita berpegang teguh kepada tali-tali perahu kita, kita akan selamat. Bahkan jika perahu itu terbalik, kita akan selamat jika kita memegang talinya dengan kuat."

Saya berpaling ke anak perempuan saya yang masih umur tujuh tahun dan berkata, "semua harus berpegangan pada tali. Tetapi kamu harus berpegangan pada ayah. Duduk di belakang saya. Peluklah saya dengan kuat ketika saya berpegangan pada tali."

Itulah yang kami lakukan. Kami melewati arus yang deras itu—dengan berpegangan kuat-kuat kepada tali agar tetap hidup—dan akhirnya semua selamat.1

PELAJARAN

Saudara dan saudari sekalian, saya hampir kehilangan nyawa saya karena belajar pelajaran yang sekarang akan saya berikan kepada Anda. Ketika kita melewati hidup ini, bahkan ketika melalui saat-saat yang sulit, naluri seorang ayah untuk memeluk istri atau anak-anaknya mungkin bukan cara terbaik untuk menyelamatkan mereka. Cara terbaik adalah bila dia berpegangan kepada Juruselamat dan injil dan keluarganya berpegangan kepadanya dan Juruselamat.

Ajaran ini sesungguhnya tidak terbatas hanya untuk ayah. Terlepas dari jenis kelamin, status pernikahan, atau usia, individu dapat memilih menghubungkan dirinya kepada Juruselamat secara langsung, berpegang erat pada pegangan besi kebenaran-Nya, dan dibimbing oleh terang kebenaran itu. Dengan demikian, mereka menjadi teladan kebenaran yang dicontoh orang lain yang ingin berpegangan.

PERINTAH

Bagi Tuhan, keluarga itu penting. Dia menciptakan dunia sehingga kita dapat memiliki tubuh dan membangun keluarga.2Dia membangun Gereja-Nya untuk mempermuliakan keluarga. Dia menyediakan bait suci agar keluarga dapat berkumpul untuk selamanya.3

Tentu saja, Dia berharap ayah yang mengepalai, menyediakan nafkah, dan melindungi keluarga mereka.4Tetapi Tuhan masih meminta lebih banyak lagi. Tertulis di dalam tulisan suci sebuah perintah "tertibkan rumahmu."5Begitu kita memahami arti dan pentingnya perintah ini, sebagai orang tua, kita perlu belajar bagaimana melakukannya.

BAGAIMANA MENERTIBKAN RUMAH ANDA

Menertibkan rumah kita berkenan bagi Tuhan, kita perlu melakukannya menurut cara-Nya. Kita wajib memiliki sifat-sifat-Nya "keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, [dan] kelembutan."6Setiap ayah hendaknya ingat bahwa "Tidak ada kuasa atau pengaruh yang dapat atau sepatutnya dipertahankan oleh kebajikan keimamatan, kecuali oleh bujukan kesabaran, kebaikan dan kelemah-lembutan serta oleh kasih sayang yang sejati."7

Orang tua akan menjadi teladan hidup "oleh kebaikan hati dan pengetahuan yang sejati, yang akan . . . sangat membesarkan jiwa."8Setiap ibu dan ayah hendaknya mengesampingkan kepentingan sendiri dan menghindari pikiran munafik, penggunaan paksaan, atau berkata jahat.9Orang tua segera belajar bahwa setiap anak memiliki kerinduan bawaan untuk bebas. Setiap individu ingin menggunakan caranya sendiri. Tiada seorang pun ingin dibatasi, bahkan oleh orang tua yang berniat baik. Tetapi kita semua dapat berpegangan pada Tuhan.

Berabad-abad lalu, Ayub mengajarkan suatu konsep. Dia berkata, "Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan."10Nefi juga mengajarkan, "Barang siapa yang mau mendengarkan firman Allah, dan mau memegangnya dengan teguh, . . . tidak akan pernah binasa."11

Kepercayaan ini hidup sepanjang zaman seperti injil dan tidak berkesudahan seperti kekekalan. Renungkanlah nasihat tulisan suci tambahan berikut:

Dari Amsal Perjanjian Lama kita membaca, "Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu."12

Dari perjanjian Baru : "Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima."13

Dari Kitab Mormon kita belajar tentang orang banyak yang "berpegang erat pada pegangan besi itu,"14mempersamakannya dengan "firman Allah."15Bersauhkan kebenaran, pegangan besi itu tidak tergoyahkan.

MANDAT ILAHI LAINNYA

Orang tua tidak hanya berpegang pada firman Tuhan, tetapi mereka memiliki mandat ilahi mengajar anak-anak mereka. Petunjuk tulisan suci sangat jelas: "Dan lagi, . . . ada orang tua yang mempunyai anak-anak yangtidakmengajar mereka untuk memahami ajaran pertobatan, beriman kepada Kristus, Putra Allah yang hidup, dan tentang baptisan serta karunia Roh Kudus dengan penumpangan tangan, bila mereka berumur delapan tahun, maka dosa akan dipikulkan ke atas kepala para orang tua itu."16

Perintah itu menempatkan tanggung jawab mengajar anak-anak pada bahu orang tua. Pernyataan kepada dunia mengenai keluarga mengingatkan individu "yang gagal memenuhi tanggung jawab keluarga akan harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah suatu hari."17Di zaman sekarang saya mengukuhkan kembali kenyataan itu.

Dalam menjalankan tugas-tugas ini, kita perlu keduanya yaitu Gereja dan keluarga. Mereka harus kerja sama. Gereja ada untuk mempermuliakan keluarga. Dan keluarga adalah landasan Gereja.

Hubungan saling terkait ini menjadi nyata ketika kita mempelajari sejarah Gereja. Pada tahun 1833, Tuhan menegur para pemimpin muda Gereja-Nya sebab kegagalan mereka dalam peran mereka sebagai orang tua. Tuhan berkata:

"Aku telah memerintahkan kamu untuk mendidik anak-anakmu dalam terang dan kebenaran.

Tetapi sesungguhnya Aku berfirman kepadamu . . ..

Engkau tidak mengajar anak-anakmu terang dan kebenaran, sesuai dengan perintah-perintah . . ..

Maka sekarang Kuberikan sebuah perintah kepadamu . . . engkau harus menertibkan rumahmu sendiri, sebab ada banyak hal yang tidak beres terdapat di dalam rumahmu . . .. Pertama-tama tertibkanlah rumahmu."18

Wahyu ini mewakili salah satu dari demikian banyak integritas dan validitas nabi Joseph Smith. Dia tidak menghilangkan firman teguran yang keras dari tulisan suci, meskipun beberapa di antaranya ditujukan langsung untuknya.19

Di zaman kita, Presidensi Utama sekali lagi menegaskan prioritas peran orang tua. Dari surat mereka kepada para Orang Suci baru-baru ini, saya mengukutip: "Kami mengundang para orang tua untuk mengabdikan diri sebaik-sebaiknya untuk mengajar dan membesarkan anak-anak mereka dalam asas-asas injil yang akan menjaga mereka tetap dekat dengan Gereja. Rumah tangga adalah basis hidup saleh, yang tidak dapat digantikan atau digenapinya fungsi penting dalam mengemban tanggung jawab Tuhan yang diberikan ini."20

APA YANG HENDAKNYA DIAJARKAN ORANG TUA?

Dengan tugas kudus ini dalam hati, marilah kita mempertimbangkan apa yang hendaknya kita ajarkan. Tulisan suci menyuruh orang tua mengajarkan iman kepada Yesus Kristus, pertobatan, pembaptisan, dan karunia Roh Kudus.21Orang tua mengajarkan rencana keselamatan22dan pentingnya hidup serasi sepenuhnya dengan perintah Allah.23Kalau tidak, maka anak-anak akan tidak kenal hukum penebusan dan pembebasan Allah.24Orang tua hendaknya juga mengajar dengan teladan bagaimana menguduskan hidup mereka—dengan menggunakan waktu, bakat, perpuluhan dan harta mereka25untuk membangun Gereja dan kerajaan Allah di atas bumi.26Hidup seperti itu akan memberkati keturunan mereka. Sebuah tulisan suci menulis, "Tugasmu ialah untuk gereja selamanya dan ini disebabkan keluargamu."27

MUSUH KELUARGA

Orang tua dan anak-anak hendaknya menyadari bahwa penentang kuat akan selalu melawan pekerjaan dan kehendak Tuhan.28Sebab pekerjaan Allah adalah untuk mendatangkan kebakaan dan kehidupan kekal kita sebagai keluarga,29sudah dengan sendirinya musuh usaha itu langsung menghantam ke jantung rumah tangga—keluarga. Lusifer, dengan tanpa henti-hentinya menyerang kekudusan hidup dan kesukacitaan yang berhubungan dengan orang tua.

Sebab kejahatan selalu ada, kewaspadaan kita tidak boleh kendur—sedikit pun. Sebuah ajakan yang tampaknya tidak berbahaya dapat berubah menjadi godaan besar yang menjurus kepada pelanggaran tragis. Siang dan malam, di rumah atau di luar rumah, kita harus menghindari dosa dan "peganglah yang baik."30

Kejahatan pornografi, aborsi, dan kecanduan narkoba sama seperti rayap yang mengikis kekuatan rumah tangga yang bahagia dan keluarga yang setia. Tidak mungkin menyerah kepada kejahatan tanpa membahayakan keluarga kita.

Setan menghendaki kita hidup sengsara, sama seperti dia.31Dia akan memuaskan selera jasmaniah kita, menggoda kita hidup dalam kegelapan rohani dan meragukan adanya suatu kehidupan setelah kematian. Rasul Paulus mengatakan, "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang yang paling malang dari segala manusia."32

KEABADIAN BERKAT-BERKAT KELUARGA

Memahami rencana agung kebahagiaan dari Allah akan memperkuat iman kita. Rencana-Nya memberi jawaban terhadap pertanyaan abadi: Apakah simpati dan saling mengasihi kita hanya sementara—hilang sewaktu kita mati? Tidak! Dapatkah kehidupan keluarga bertahan melampaui masa percobaan fana ini? Ya! Allah telah menyatakan bahwa pernikahan selestial dan keluarga kekal adalah sumber sukacita terbesar kita.

Saudara dan saudari, memiliki harta dunia dan penghargaan dunia tidak bertahan lama. Tetapi kesatuan Anda dengan istri, suami, dan keluarga Anda akan kekal. Kerinduan manusia yang paling tinggi adalah kerinduan akan hidup selamanya. Tidak ada pengorbanan terlalu besar untuk menerima berkat-berkat pernikahan kekal. Agar memenuhi syarat seseorang hanya perlu menyangkali dirinya dari segala-sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan Allah dan menghargai tata cara bait suci. Dengan cara mematuhi perjanjian kudus bait suci, kita memperlihatkan kasih kita kepada Allah, kepada pasangan kita, dan keturunan kita—bahkan mereka yang belum lahir. Keluarga kita adalah tujuan kerja dan sukacita terbesar hidup ini; hendaknya demikianlah sepanjang kekekalan, ketika kita "mewarisi takhta, kerajaan, pemerintahan dan kekuasaan, penguasa . . . permuliaan."33

Berkat-berkat sangat berharga ini dapat menjadi milik kita jika kita menertibkan rumah kita dan dengan setia berpegang teguh pada injil. Allah hidup. Yesus adalah Kristus. Ini adalah Gereja-Nya. Presiden Gordon B. Hinckley adalah nabi-Nya. Saya bersaksi dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. Lihat Russell M. Nelson dan Rebecca M. Taylor, "Friend to Friend,"Friend, Maret 1997, 6–7.
2. Lihat A&P 2:1–3.
3. Lihat A&P 138:47–48.
4. Lihat 1 Timotius 5:8.
5. A&P 93:44; lihat juga 2 Raja-raja 20:1; Yesaya 38:1.
6. 1 Timotius 6:11.
7. A&P 121:41.
8. A&P 121:42.
9. Lihat 1 Petrus 2:1.
10. Ayub 27:6.
11. 1 Nefi 15:24.
12. Amsal 4:13.
13. 2 Tesalonika 2:15. Tulisan suci lainnya yang berhubungan mencakup "Peganglah . . . yang telah engkau dengar daripadaku, dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus." (2 Timotius 1:13), dan "Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita" (Ibrani 10:23).
14. 1 Nefi 8:30.
15. 1 Nefi 11:25.
16. A&P 68:25; penekanan ditambahkan.
17. Keluarga: Pernyataan Kepada Dunia,"Liahona, Juni 1996, 10–11).
18. A&P 93:40–44.
19. Lihat A&P 93:47.
20. Di dalam surat itu yang bertanggal 11 Februari 1999, yang ditandatangani oleh Presiden Gordon B. Hinckley, Presiden Thomas S. Monson, dan Presiden James E. Faust, surat tersebut juga menjelaskan apa yang dapat dilakukan para orang tua: "Kami menasihati para orang tua dan anak-anak untuk memberikan prioritas tertinggi bagi doa keluarga, malam keluarga, pembelajaran dan petunjuk injil, serta kegiatan-kegiatan keluarga yang menyehatkan. Bagaimanapun layak dan pantasnya permintaan-permintaan maupun kegiatan-kegiatan lainnya, hal-hal tersebut hendaknya tidak diizinkan untuk menggantikan tugas-tugas ilahi yang telah diberikan yang hanya dapat dilaksanakan dengan lengkap oleh para orang tua dan keluarga" (dalam "Policies, Announcements, and Appointments,"Ensign, Juni 1999, 80).
21. Lihat Moroni 8:10; A&P 19:31; 68:25–34; 138:33; Pasal-pasal Kepercayaan 4.
22. Lihat Musa 6:58–62.
23. Lihat Imamat 10:11; Ulangan 6:7; Mosia 4:14.
24. Lihat 2 Nefi 2:26; Mosia 1:3; 5:8;. A&P 98:8.
25. Lihat Mosia 4:21–26; 18:27; Alma 1:27.
26. Lihat TJS, Matius 6:38.
27. A&P 23:3.
28. Lihat Moroni 7:12–19.
29. Lihat Musa 1:39.
30. 1 Tesalonika 5:21.
31. Lihat 2 Nefi 2:17–18, 27.
32. 1 Korintus 15:19.
33. A&P 132:19.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy