Penatua H. Ross Workman
Dari Dewan Tujuh Puluh
"Kepatuhan penting untuk mendapatkan berkat-berkat dari Tuhan."
Sebagai para misionari muda, rekan saya dan saya bersaksi bahwa Tuhan berbicara melalui para nabi pada zaman sekarang. Seorang pria bertanya: Jadi apa yang dikatakan nabi anda minggu ini? Berusaha mengingat pesan nabi dalam terbitan baru dari majalah
Improvement Era,majalah yang ada pada saat itu, saya sampai pada sebuah pemahaman tentang pentingnya mengetahui dan mematuhi ajaran-ajaran nabi yang hidup.
Saat ini saya harap membujuk anda untuk mengikuti nabi yang hidup serta memperingatkan me- ngenai penipuan yang dirancang sang iblis untuk mencegah Anda mengikuti mereka. Tulisan suci menyebut penipuan itu sebagai sifat "mengeluh." Juruselamat mengajarkan sebuah perumpamaan untuk memperingatkan kita tentang jalan berbahaya menuju ketidakpatuhan melalui mengeluh (A&P 101: 4362).
Dalam perumpamaan, kita belajar mengenai seorang bangsawan yang memiliki sebidang tanah yang baik. Dia mengatakan kepada pelayannya untuk menanam dua belas pohon zaitun dan mendirikan sebuah menara yang berpemandangan ke kelompok pohon-pohonan zaitun. Tujuan menara itu adalah untuk menyuruh duduk seorang penjaga ke atas menara untuk memberi per- ingatan jika musuh musuh datang. Demikian, kelompok pohon-pohonan zaitun akan di jaga.
Pelayan itu tidak mendirikan menara. Para musuh datang dan merusak pohon-pohon zaitun. Ketidakpatuhan pelayan itu membawa malapetaka pada kelompok pohon-pohonan zaitun. Mengapa pelayan itu gagal mendirikan menara itu? Malapetaka itu datang sebagai hasil dari sifat suka mengeluh.
Menurut perumpamaan Tuhan, sifat suka mengeluh terdiri dari tiga langkah, setiap langkah menuju ke yang berikutnya dengan sebuah jalan yang menjauhi kita dari Tuhan dan menuju ketidakpatuhan.
Pertama, para pelayan mulai bertanya-tanya. Mereka menggunakan penilaian mereka sendiri terhadap petunjuk yang diberika oleh tuan mereka. "Mengapa sebenarnya majikan kita membutuhkan menara ini, sedangkan sekarang adalah masa damai?" (A&P 101:48) mereka berkata. Mereka bertanya-tanya kepada diri mereka sendiri pertama-tama kemudian menanam kecurigaan itu pada yang lainnya. Kecurigaan timbul pertama-tama.
Kedua, mereka mulai membenarkan tindakan mereka dan membebaskan diri mereka untuk tidak melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Mereka mengatakan: "Apakah uang ini tidak dapat diberikan kepada orang-orang yang menjalankan uang? Sebab hal-hal ini tidaklah perlu (A&P 101:49)." Demikian, mereka membuat alasan untuk ketidakpatuhan.
Langkah ketiga terjadi sebagai akibat. Kemalasan dalam mengikuti perintah-perintah Tuhan. Perumpamaan mengatakan. "Mereka menjadi teledor dan mereka tidak mendengarkan perintah-perintah majikan mereka" (A&P 101:50). Demikianlah, malapetaka tidak dapat dihindari lagi.
Allah telah memberkati anak-anak-Nya dengan para nabi untuk memberi petunjuk bagi mereka dengan cara-Nya dan mempersiapkan mereka bagi kehidupan kekal. Cara Allah tidak mudah bagi manusia untuk dimengerti. "Sebab rancangan-Nya bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu demikianlah firman Tuhan" (Yesaya 55:8). Kepatuhan penting untuk menyadari berkat-berkat Tuhan, walau tujuan dari perintah itu tidak dipahami.
Iblis menggunakan penipuan yang halus untuk mengeluh supaya menghancurkan kekuatan yang datang dari kepatuhan. Pola dari sifat mengeluh kelihatan secara jelas dalam cerita berikutnya tentang anak-anak Israel:
"Tuhan menjanjikan anak-anak Israel bahwa Dia akan mengirim malaikat untuk mengusir orang-orang Kanaan, supaya Israel mendapatkan suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu" (Keluaran 33:13). Ketika Israel sampai ke perbatasan Kanaan, Musa mengirim para pengintai ke dalam negeri itu dan sewaktu mereka kembali mereka melaporkan bahwa tentara Kanaan kuat, dan mereka berpendapat bahwa Kanaan lebih kuat daripada Israel. Kemudian mulailah keluhan.
Mereka mempertanyakan perintah yang diberikan kepada Musa, nabi mereka yang hidup. Mereka menyebarkan kecurigaan mereka kepada yang lain. Bagaimana Israel dapat mengalahkan para raksasa dari Kanaan ketika anak-anak Israel melihat diri mereka, dengan perbandingan, seperti belalang? (Keluaran 13:3233).
Keraguan menjadi alasan dan membenarkan tindakan. Mereka mengaku khawatir terhadap para istri dan anak-anak mereka. "Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir? Demikian perkataan mereka" (Bilangan 4:23).
Keluhan itu menjadi ketidakpatuhan sewaktu Israel ingin menunjuk seorang kapten yang akan memimpin mereka kembali ke Mesir.
Mereka sengaja menolak mengikuti nabi yang hidup. Karena keluhan- keluhan mereka, Tuhan melepaskan anak-anak Israel dari berkat-berkat yang dijanjikan (bahwa Tuhan akan menghancurkan orang-orang Kanaan, dan memberikan mereka tanah perjanjian mereka). Sebaliknya, Dia mengirim Israel ke dalam hutan belantara untuk berkelana selama empat puluh tahun.
Pola keluhan biasa terlihat sekali lagi dalam keluarga Lehi.
Ketika nabi Lehi mengirim ke- luarganya ke Yerusalem untuk mengambil lemping-lemping kuningan, mereka menemui banyak tantangan. Pertama, Laman diusir dari rumah Laban dengan hanya meminta lemping-lemping kuningan. Setelah anak-anak Lehi menawarkan untuk membayar lemping-lemping dengan emas dan perak, Laban ingin membunuh mereka dan mengambil harta benda mereka. Para bersaudara itu menyembunyikan diri di dalam gua untuk melihat-lihat keadaan.
Laman dan Lemuel mengeluh. Itu berawal, seperti biasanya dengan keraguan. "Bagaimana mungkin Tuhan akan menyerahkan Laban de dalam tangan kita?" Mereka berkata (1 Nefi 3:31).
Berikutnya, adalah alasan-alasan: "Lihatlah, dia seorang perkasa dan dia dapat memerintahkan lima puluh orang, ya, bahkan dia dapat membunuh lima puluh orang, lalu tidakkah dia dapat membunuh kita?" (1 Nefi 3:31).
Akhirnya, mereka malas. Dipenuhi dengan amarah, kebencian dan alasan-alasan, Laman dan Lemuel menunggu di luar tembok Yerusalem selagi Nefi yang penuh iman melaksanakan pekerjaan Tuhan (1 Nefi 4:35).
Tuhan telah berbicara menantang sikap ini pada zaman kita sekarang.
"Tetapi dia yang tidak melakukan apa-apa sampai dia diperintahkan dan menerima perintah itu dengan hati yang ragu, dan mematuhinya dengan lamban, orang itu dikutuk" (A&P 58:29).
Kita telah mendukung nabi kita yang hidup dengan mengangkat tangan kanan kita. Kita bersukacita mendengarkan firman allah yang diwahyukan pada zaman kita dari nabi kita yang hidup. Apa yang kita lakukan ketika kita mendengarnya? Apakah kita mengikuti petunjuk-petunjuk para nabi kita yang hidup dengan tepat, atau apakah kita mengeluh?
Apakah lebih mudah pada zaman kita sendiri untuk mengikuti nabi yang hidup daripada saat zamannya Musa atau Nefi? Apakah mereka yang mengeluh terhadap Musa dan Nefi akan tidak mengeluh juga saat ini? Pertanyaan yang sama dapat dibalik tanya. Mereka yang mengeluh sekarang akan mengeluh juga seperti yang dilakukan Laman dan Lemuel atau anak-anak Israel terhadap nabi zaman mereka dengan akibat-akibat yang sama yang membawa bencana yang besar.
Bahkan petunjuk yang sangat sederhana pun dapat memperlihatkan kecenderungan untuk mengeluh. Saya pernah menghadiri sebuah pertemuan dimana pemimpin pengawasnya mengundang para anggota untuk maju ke depan ruang pertemuan. Beberapa orang bergerak maju. Kebanyakan tidak. Mengapa?
Saya yakin ada mereka yang mempertanyakan mengapa mereka harus meninggalkan posisi mereka yang nyaman. Mengapa Saya harus Melakukannya? Pertanyaan itu, tanpa keraguan, diikuti dengan sendirinya dengan alasan atau membenarkan mengapa itu tidak berarti apakah tempat duduknya diganti atau tidak. Saya percaya ada beberapa perasaan jengkel yang mengikuti mengapa pemimpin pengawas harus membuat permintaan seperti itu. Langkah ter- akhir, sangat jelas bagi yang memperhatian, adalah kemalasan dalam bertindak. Hanya sedikit yang maju. Apakah itu hal yang kecil? Ya. Namun itu memperlihatkan kurangnya ke- inginan yang sangat dalam untuk mematuhi. Itu bukanlah hal yang kecil.
Saya mengundang Anda untuk berpusat pada perintah dari nabi yang hidup yang paling mengganggu Anda. Apakah Anda meragukan kalau perintah itu sesuai bagi Anda? Apakah Anda menemukan alasan-alasan yang tersedia mengapa Anda tidak bisa mematuhi perintahnya? Apakah Anda merasa kecewa atau jengkel dengan mereka yang mengingatkan Anda tentang perintah itu? Apakah Anda malas mematuhi perintah itu? Berhati-hatilah dengan penipuan si iblis. Waspadalah terhadap keluhan.
Satu orang tua yang beruntung mengalami sukacita yang istimewa yang datang dari kepatuhan tanpa ragu dari anaknya. Bukankah hal itu sama dengan Allah?
Saya bisa memahami bagian kecil bagaimana bahagia-Nya Tuhan sewaktu para pelayan-Nya mematuhi tanpa mengeluh. Baru-baru ini, istri saya yang tersayang dan saya berperan serta dalam sebuah pertemuan di dimana tugas-tugas kami akan dijelaskan. Kami tidak punya ide, pada saat itu, akan apa tugas kami atau di mana kami akan melayani. Saya dinasihati secara pribadi bahwa kami akan dipanggil untuk melayani di Afrika Barat. Saya kaget dan senang dengan tugas itu, namun saya berpikir tentang sebuah pikiran yang akan timbul dalam pikiran rekan saya selama 39 tahun. Bagaimana dia bisa menerima tugas itu? Saya yakin dia akan setuju untuk pergi. Dalam selama bertahun-tahun kami bersama, dia tidak pernah menolak panggilan dari Tuhan. Tetapi akan apakah perasaan hatinya? Sewaktu saya duduk dekatnya, dia mengetahui dari mata saya bahwa saya tahu tugas tentang kami. Dia berkata: Jadi, dimanakah? Saya secara sederhana mengatakan: "Afrika". Matanya bersinar dan dia berkata dengan hati yang ceria: "Bukankah itu hebat!" Sukacita saya penuh.
Demikian juga Bapa kita merasakan sukacita sewaktu kita mengikuti nabi yang hidup dengan hati yang tulus. Saya bersaksi Yesus Kristus hidup. Dia berbicara kepada para nabi di zaman kita sekarang. Saya berharap kita mengikuti para nabi tanpa mengeluh. Saya berdoa dalam nama Yesus Kristus, amin.