The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
Bukankah Kita Semua Adalah Para Ibu?

Bukankah Kita Semua Adalah Para Ibu?

Sheri L. Dew
Penasihat Kedua dalam Presidensi Umum Lembaga Pertolongan

"Peran kewanitaan adalah lebih dari sekadar melahirkan anak-anak . . . . Peran kewanitaan adalah inti sari dari siapa kita sebagai para wanita."

Sheri L. Dew

Musim panas ini empat keponakan perempuan saya yang masih remaja dan saya berbagi ketegangan hari Minggu malam kami ketika kami mulai berjalan dari hotel di sebuah kota yang sedang kami kunjungi ke sebuah gedung pertemuan terdekat di mana saya mendapat tugas untuk berceramah. Saya telah melakukan perjalanan seperti itu berkali-kali, tetapi malam itu tiba-tiba kami menemukan diri kami dikelilingi oleh sekelompok penonton pawai yang sedang mabuk. Itu bukanlah tempat yang baik bagi keempat remaja putri, atau bibi mereka, kalau boleh saya tambahkan. Tetapi, dengan jalan yang tertutup bagi kendaraan, kami tidak memiliki pilihan kecuali untuk tetap berjalan. Dalam kebisingan, saya berseru kepada gadis-gadis itu, "Tetaplah bersama saya." Ketika kami melewati orang-orang yang berdesakan, satu-satunya yang ada di benak saya adalah keselamatan keponakan-keponakan saya.

Syukurlah, kami akhirnya tiba di gedung pertemuan. Tetapi selama satu jam yang menegangkan, saya lebih memahami bagaimana perasaan para ibu yang tidak mempedulikan keselamatannya sendiri untuk melindungi seorang anak. Saudara saya telah mempercayakan anak-anak perempuan mereka kepada saya, yang saya kasihi, dan saya akan melakukan apa saja untuk memimpin mereka kepada keselamatan. Demikian halnya, Bapa kita telah mempercayakan anak-anak-Nya kepada kita sebagai para wanita, dan Dia telah meminta kita untuk mengasihi mereka serta memimpin mereka dengan aman melewati bahaya kefanaan kembali ke rumah surgawi kita.

Mengasihisertamemimpin—kata-kata ini tidak hanya meringkas semua pekerjaan yang memakan waktu bagi Bapa dan Putra, tetapi inti sari dari pekerjaan kita, karena pekerjaan kita adalah untuk membantu Tuhan di dalam pekerjaan-Nya. Kemudian, bagaimanakah, kita sebagai para wanita Orang Suci Zaman Akhir Allah membantu Tuhan dengan cara yang terbaik di dalam pekerjaan-Nya?

Para nabi telah berulang kali menjawab pertanyaan ini, demikian halnya dengan Presidensi Utama enam dasawarsa yang lalu ketika mereka menyebut peran keibuan sebagai "pelayanan tertinggi, termulia yang . . . dipikul umat manusia."1

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa para nabi mengajar me- ngenai peran keibuan—dan ajarannya—berulang kali? Saya pernah. Saya pernah memikirkan dengan lama dan sungguh-sungguh mengenai pekerjaan kaum wanita Tuhan. Dan saya telah memikirkan dengan sungguh-sungguh apa maksud dari ajaran peran keibuan bagi kitasemua. Hal ini telah membuat saya berlutut, mempelajari tulisan suci, dan pergi ke bait suci—yang semuanya mengajarkan ajaran yang menguatkan mengenai peran kita yang paling penting sebagai para wanita. Ini merupakan sebuah ajaran yang harus kita pahami jika kita berharap untuk "tabah dan tak tergoyahkan"2berkenaan dengan persoalan-persoalan yang sering kali dihadapi oleh kaum wanita. Karena Setan telah menyatakan perang terhadap peran keibuan. Dia mengetahui bahwa mereka yang merawat anak-anak dapat menggoyahkan kekaisaran duniawinya. Dan dia mengetahui bahwa tanpa para ibu yang hidup benar yang mengasihi dan memimpin generasi yang akan datang, kerajaan Allah akan gagal.

Jika kita memahami betapa pentingnya peran keibuan, akan menjadi jelas mengapa para nabi telah demikian melindungi peran wanita yang paling kudus. Sementarakitacenderung untuk memikirkan mengenai peran keibuan hanya dengan melahirkan anak, di dalam bahasa Tuhan, kataibumemiliki beberapa arti. Dari semua kata yang dapat mereka pilih untuk menentukan peran dan kepentingannya, baik Allah Bapa maupun Adam memanggil Hawa "ibu dari segala yang hidup"3—dan mereka memberi nama kepadanyasebelumdia melahirkan seorang anak. Seperti Hawa, peran keibuan kita dimulai sebelum kita dilahirkan. Seperti halnya para pria yang layak ditahbiskan sebelumnya untuk memegang imamat di dalam kefanaan,4para wanita yang saleh dikaruniai dengan kesempatan bagi peran kewanitaan secara prafana.5Peran kewanitaan adalah lebih dari sekadar melahirkan anak-anak, walaupun memang demikian adanya. Peran kewanitaan adalah inti sari dari siapa kita sebagai para wanita. Hal itu menentukan identitas kita yang sesungguhnya, pertumbuhan moral dan sifat alami kita yang ilahi, serta sifat-sifat unik yang Bapa kita berikan kepada kita.

Presiden Gordon B. Hinckley menyatakan bahwa "Allah menanamkan di dalam diri kaum wanita sesuatu yang ilahi."6Sesuatu itu adalah karunia dan karunia-karunia peranan keibuan. Penatua Matthew Cowley mengajarkan bahwa "kaum pria harus memiliki sesuatu yang diberikan kepada mereka [dalam kefanaan] untuk menjadikan mereka juruselamat manusia, tetapi tidak demikian halnya dengan para ibu, maupun para wanita. [Mereka] dilahirkan dengan hak yang melekat dari Allah, wewenang yang melekat, untuk menjadi juruselamat bagi jiwa-jiwa manusia . . . dan kekuatan regenerasi di dalam kehidupan anak-anak Allah."7

Peranan keibuan bukan sesuatu yang diberikan setelah Bapa kita memberkati para putra-Nya dengan penahbisan imamat. Itu adalah endowmen yang paling mulia yang dapat Dia berikan kepada para putri-Nya, kepercayaan kudus yang memberi kaum wanita peranan yang tak ada bandingannya dalam menolong anak-anak-Nya mempertahankan keadaan mereka yang kedua. Sebagaimana Presiden J. Reuben Clark, Jr. menyatakan, peranan ke- ibuan adalah "pemanggilan yang ilahi, dan penting secara kekal di tempatnya seperti Imamat itu sendiri."8

Meskipun demikian, masalah peranan keibuan merupakan masalah yang paling membawa keharuan, karena hal itu membuat kita mengingat sukacita terbesar dan kepedihan. Sudah demikian adanya sejak permulaan. Hawa merasa "senang" setelah Kejatuhan, menyadari jika bukan karena pelanggaran itu dia "tidak pernah mempunyai keturunan."9Meskipun demikian, bayangkan kesedihannya terhadap Kain dan Habil. Beberapa ibu mengalami rasa sakit karena anak-anak yang mereka lahirkan; yang lainnya merasakan sakit karena tidak melahirkan anak-anak di sini. Mengenai hal ini Penatua John A. Widtsoe menjelaskan: "Kaum wanita yang tanpa kesalahan apa pun tidak dapat menjalankan karunia keibuan ini secara langsung, dapat melakukannya secara perwakilan."10

Untuk alasan-alasan yang hanya diketahui oleh Tuhan, beberapa wanita harus menunggu agar dapat memiliki anak. Penundaan ini tidaklah mudah bagi kaum wanita yang saleh mana pun. Tetapi waktu Tuhan bagi kita masing-masing tidak merampas hasrat alami kita untuk merawat serta mengasihi anak-anak kita dan orang lain. Karenanya, beberapa di antara kita, harus dapat menemukan cara-cara lain untuk menjadi ibu. Dan mereka yang berada di sekitar kita adalah orang-orang yang perlu dikasihi serta dipimpin.

Hawa memberikan polanya. Selain melahirkan anak, dia menjadi ibu seluruh umat manusia ketika dia membuat keputusan yang paling berani dari yang pernah dibuat wanita mana pun dan bersama Adam membuka jalan bagi kita untuk berkembang. Dia menjadi teladan keibuan bagi kaum pria untuk dihargai serta bagi kaum wanita untuk diikuti, dengan mengikuti sifat-sifat yang telah dianugerahkan kepada kita sebagai kaum wanita: iman kepahlawanan, kepekaan yang tajam terhadap Roh, kebencian terhadap kejahatan, dan sifat tidak mementingkan diri. Seperti Juruselamat, "yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia,"11Hawa, karena sukacita dalam menolong memprakarsai keluarga manusia, bertahan dalam Kejatuhan. Kasihnya kepada kita cukup untuk menuntun kita.

Sebagai para putri Bapa Surgawi kita, dan sebagai para putri Hawa, kita semua adalah para ibu dan akan selalu menjadi ibu. Dan kita masing-masing memiliki tanggung jawab untuk mengasihi serta menolong memimpin generasi yang akan datang. Bagaimana kaum remaja putri kita akan belajar untuk hidup sebagai kaum wanita Allah kecuali mereka melihat seperti apa kaum wanita Allah itu, maksudnya, apa yang kita kenakan, lihat dan baca; bagaimana kita mengisi waktu serta pikiran kita; bagaimana kita menghadapi godaan dan ketidakpastian; di mana kita menemukan sukacita sejati, serta mengapa kesederhanaan dan kewanitaan merupakan ciri khas kaum wanita yang saleh? Bagaimana kaum remaja putri kita akan belajar menghargai kaum wanita Allah jika kita tidak memperlihatkan kepada mereka nilai-nilai dari kebajikan kita?

Kita masing-masing memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan teladan akan peranan keibuan karena kaum remaja kita tidak akan melihatnya di tempat lainnya mana pun. Setiap sister di Lembaga Pertolongan, yang merupakan komunitas terpenting dari kaum wanita di sisi tabir ini, bertanggung jawab untuk menolong kaum remaja kita menikmati transisi yang menyenangkan ke Lembaga Pertolongan. Hal ini berarti persahabatan kita bersama mereka harus dimulai jauh sebelum mereka berusia delapan belas. Setiap dari kita dapat menjadi ibu bagi siapa saja—dimulai, tentu saja, dengan anak-anak dalam keluarga kita sendiri tetapi dapat diperluas lagi jangkauannya. Setiap dari kita dapat memperlihatkan melalui perkataan dan perbuatan bahwa pekerjaan kaum wanita di dalam kerajaan Tuhan adalah luar biasa serta kudus. Saya ulangi:Kita semua adalah kaum ibu di Israel, dan panggilan kita adalah untuk menga- sihi serta menolong memimpin angkatan muda kita melewati jalan-jalan kehidupan fana yang berbahaya.

Beberapa di antara kita akan meraih potensi kita tanpa pemeliharaan baik dari ibu yang melahirkan kita maupun ibu yang mendidik kita. Baru-baru ini saya bergetar melihat salah seorang pemimpin kaum remaja saya untuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Sebagai seorang remaja yang benar-benar tidak memiliki rasa percaya diri, saya selalu berada di dekat wanita ini karena dia akan melingkarkan lengannya di bahu saya dan mengatakan, "Kamu adalah gadis yang hebat!" Dia mengasihi saya, sehingga saya membiarkannya memimpin saya. Berapa banyak remaja putri dan putra yang menginginkan kasih serta kepemimpinanAnda? Apakah kita menyadari sepenuhnya bahwa pengaruh kita sebagai para ibu di Israel adalah kekal dan tidak dapat digantikan?

Ketika saya tumbuh adalah tidak wajar bagi Ibu untuk membangunkan saya di tengah malam dan mengatakan, "Sheri, ambillah bantalmu dan turun ke bawah." Saya tahu apa artinya itu. Itu artinya ada angin tornado dan saya akan segera ketakutan. Tetapi kemudian Ibu akan berkata, "Sheri, segalanya akan baik." Kata-katanya selalu menenangkan saya. Hari ini, beberapa dasawarsa kemudian, jika hidup tampak rumit serta menakutkan, saya menelepon Ibu untuk mendengar dia mengatakan, "Segalanya akan baik."

Peristiwa mengerikan yang menimpa Amerika Serikat baru-baru ini menegaskan kenyataan bahwa kita hidup di dunia yang tidak menentu. Belum pernah ada kebutuhan yang lebih besar akan kaum ibu yang saleh—ibu yang memberkati anak-anak mereka dengan suatu rasa keselamatan, keamanan, serta keyakinan akan masa depan, kaum ibu yang mengajar anak-anak mereka untuk menemukan kedamaian serta kebenaran dan bahwa kekuatan Yesus Kristus senantiasa lebih besar daripada kekuatan sang musuh. Setiap saat kita membangun iman atau memperkuat sifat-sifat mulia seorang remaja putra atau putri, setiap saat kita mengasihi dan memimpin siapa saja bahkan satu langkah yang kecil sepanjang perjalanan, kita setia terhadap endowmen serta pemanggilan kita sebagai kaum ibu dan dalam proses itu kita membangun kerajaan Allah. Tidak ada wanita yang memahami injil yang pernah berpikir bahwa pekerjaan lain lebih penting atau akan pernah mengatakan, "Saya hanyalah seorang ibu," karena ibu menyembuhkan jiwa-jiwa umat manusia.

Lihatlah ke sekeliling. Siapa yang memerlukan Anda dan pengaruh Anda? Jika kita benar-benar ingin membuat sebuah perbedaan, itu akan terjadi ketika kita menjadi ibu bagi mereka yang telah kita lahirkan serta mereka yang ingin kita didik dan besarkan. Jika kita mau berada di dekat kaum remaja kita—maksudnya, jika kita mau mengasihi mereka—dalam banyak hal mereka akan tetap bersama kita—artinya, mereka akan membiarkan kitamemimpinmereka.

Sebagai kaum ibu di Israel, kita adalah senjata rahasia Tuhan. Pengaruh kita berasal dari endowmen ilahi yang telah diberikan sejak permulaan. Di dunia pra-kehidupan ketika Bapa kita menjelaskan peranan kita, saya bertanya-tanya apakah kita akan mengagumi bahwa Dia akan memberkati kita dengan kepercayaan kudus yang sedemikian penting dalam rencana-Nya dan bahwa Dia akan menganugerahkan kepada kita karunia-karunia yang sedemikian penting untuk mengasihi serta memimpin anak-anak-Nya. Saya bertanya-tanya apakah kita akan bersorak sorai12karena martabat mulia yang Dia berikan kepada kita di dalam kerajaan-Nya. Dunia tidak akan mengatakan hal itu kepada Anda, tetapi Roh akan mengatakannya.

Kita seharusnya tidak mengecewakan Tuhan. Dan jika harinya tiba ketika kita menjadi satu-satunya wanita di bumi yang menemukan kemuliaan serta keilahian dalam peranan keibuan, maka biarlah itu terjadi. Karenaibuadalah kata yang menjelaskan seorang wanita saleh yang dijadikan sempurna di dalam tingkat tertinggi dari kerajaan selestial, seorang wanita yang memenuhi syarat untuk pertumbuhan kekal dalam keturunan, kebijaksanaan, sukacita, dan pengaruh.

Saya tahu, saya benar-benar tahu, bahwa ajaran-ajaran mengenai peranan ilahi kita adalah benar, dan bahwa jika dipahami hal itu akan mendatangkan kedamaian serta tujuan bagi semua wanita. Sister sekalian, yang saya kasihi melebihi yang dapat saya ungkapkan, apakah Anda tertantang untuk menjadi ibu di masa-masa yang sulit ini meskipun dalam melakukannya dapat sedemikian menguji keteguhan dan keberanian serta iman Anda? Maukah Anda tabah dan tak tergoyahkan sebagai ibu di Israel serta kaum wanita Allah? Bapa kita dan Putra-Nya yang Terkasih telah memberi kita tugas pengawasan yang kudus ini serta mahkota suci di dalam kerajaan Mereka. Semoga kita bersukacita di dalamnya. Dan semoga kita menjadi layak akan kepercayaan Mereka. Di dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN:

1. "The Massage of the First Presidency to the Church,"Improvement Era,November 1942, 761.
2. Mosia 5:15.
3. Musa 4:26.
4. Lihat Alma 13:2–4, 7–8.
5. Lihat Spencer W. Kimball, "The Role of Righteous Women,"Ensign, November 1979, 102.
6. Teachings of Gordon B. Hinckley(1997), 387.
7. Matthew Cowley Speaks(1954), 109.
8. "Our Wives and Our Mothers in the Eternal Plan,"Relief Society Magazine,Desember 1946, 801.
9. Musa 5:11.
10. Priesthood and Church Government, dikumpulkan oleh John A. Widtsoe (1939), 85.
11. Ibrani 12:2.
12. Ayub 38:7.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy