The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
Oktober 2003
Bawalah Dia Pulang

Bawalah Dia Pulang

PRESIDEN THOMAS S. MONSON
Penasihat Pertama dalam Presidensi Utama

Kita dapat, dengan bantuan Tuhan, menjangkau dan menyelamatkan mereka yang menjadi tanggung jawab kita.

PRESIDEN THOMAS S. MONSONPara brother, sungguh sebuah pengalaman yang merendahkan hati dapat berdiri di depan Anda malam ini dan menyadari bahwa selain hadirin yang menakjubkan dalam Pusat Konferensi ini, ratusan ribu pemegang imamat lainnya juga berkumpul di seluruh dunia.

Ketika memikirkan tanggung jawab untuk berbicara kepada Anda, saya ingat definisi wewenang imamat yang dinyatakan oleh Presiden Stephen L. Richards. Dia mengatakan, "Imamat biasanya hanya didefinisikan sebagai 'kuasa Allah yang diberikan kepada manusia.' Definisi ini, saya kira sudah tepat. Tetapi demi tujuan yang praktis saya ingin mendefinisikan Imamat yang berhubungan dengan pelayanan, dan saya sering menyebutnya 'rencana pelayanan sempurna.'"1

Baik kita memegang jabatan diaken dalam Imamat Harun maupun jabatan penatua dalam Imamat Melkisedek, kita mengemban tugas melalui wahyu Tuhan yang terdapat dalam Ajaran dan Perjanjian bagian 107:99, "Oleh karena itu, maka biarlah setiap orang belajar akan kewajibannya dan memangku jabatan yang telah ditetapkan baginya dengan penuh ketekunan."

Saat putra bungsu kami, Clark, akan merayakan ulang tahunnya ke dua belas, dia dan saya sedang meninggalkan Gedung Administrasi Gereja ketika Presiden Harold B. Lee mendekati serta menyapa kami. Saya mengatakan bahwa Clark tidak lama lagi berusia dua belas tahun, lalu Presiden Lee memandangnya dan menanyakan, "Apa yang terjadi denganmu ketika kamu berusia dua belas tahun?"

Inilah salah satu saat ketika seorang ayah berdoa agar putranya dapat diilhami untuk memberikan jawaban yang tepat. Clark, tanpa ragu, berkata kepada Presiden Lee, "Saya akan ditahbiskan menjadi diaken!"

Jawaban itulah yang diminta Presiden Lee. Lalu dia menasihati putra kami, "Ingat, itu merupakan berkat besar dapat memegang imamat."

Semasa remaja, saya menanti-nantikan saat untuk mengedarkan sakramen kepada para anggota lingkungan. Kami para diaken dilatih tentang tugastugas kami. Salah satu pria di lingkungan kami, Louis, menderita lumpuh syaraf. Kepala dan tangannya bergetar dengan kuat sehingga dia tidak dapat mengambil sakramennya sendiri. Setiap diaken tahu bahwa tugasnya melayani Louis adalah menaruh roti ke bibirnya sehingga dia dapat makan dan juga meminumkan air ke mulutnya dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya memegangi kepalanya, nampan dipegang oleh diaken lainnya ketika melakukan hal itu. Louis akan selalu mengucapkan, "Terima kasih."

Empat puluh tahun yang lalu saat konferensei seperti inilah ketika Presiden David O. McKay memanggil saya untuk melayani sebagai anggota Kuorum Dua Belas Rasul. Pada pertemuan pertama Presidensi dan Dua Belas yang saya hadiri saat sakramen dilaksanakan, Presiden McKay mengumumkan, "Sebelum kita mengambil sakramen, saya ingin meminta anggota terbaru Dua Belas Rasul, Brother Monson, jika dia dapat memberikan petunjuk kepada Presidensi Utama dan Dua Belas mengenai Kurban Penebusan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus." Saat itulah saya memperoleh pemahaman yang sebenarnya mengenai peribahasa kuno, "Ketika saat untuk membuat keputusan tiba, saat persiapan sudah berlalu." Itu juga saat untuk mengingat nasihat yang terdapat dalam 1 Petrus, "Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu."2

Saya memulai ceramah saya dengan merujuk pada sepucuk surat yang saya terima dari salah seorang tentara di lingkungan kami yang sedang bertempur di kancah peperangan di Korea selama masa perang yang beberapa saat terlupakan. Si penulis menceritakan bagaimana, di antara dentuman bom, pada hari Minggu pagi, beberapa orang dalam peletonnya mengambil roti dan air, keduanya dilayani dari balik topi baja mereka. Masing-masing mengingat pentingnya berkat yang diucapkan dalam lambang kudus dan tanggung jawab pribadinya untuk mematuhi perintah-perintah Tuhan serta mengikuti teladan pelayanan Tuhan kepada sesama.

Kenangan manis pengalaman bersama Presidensi Utama dan Kuorum Dua Belas Rasul itu tidak pudar selama waktu empat puluh tahun.

Kepada mereka yang telah meninggalkan rumah dan keluarga, baik untuk tugas kemiliteran, misi, atau untuk tujuan-tujuan lainnya, masa-masa liburan menimbulkan kerinduan—bahkan suatu keinginan—untuk dapat berkumpul dengan orang-orang tercinta. Untuk mendengarkan canda tawa anak-anak, melihat ungkapan kasih orang tua serta merasakan ikatan persaudaraan yang memberi tinjauan tentang surga dan sukacita kekal yang dapat ditemukan di sana.

Pada suatu malam di bulan Desember, ketika sedang menunggu untuk naik pesawat terbang menuju ke Amerika Serikat, Sister Monson dan saya berdiri dalam udara Singapura yang panas dan lembab, ketika dari pengeras suara bandara terdengar melodi gembira, Bing Crosby menyanyikan lirik:

Aku akan pulang saat Natal nanti,
Kau dapat merencanakannya untukku.
Pasanglah hiasan dan hadiah
Di atas pohon Natal.
Di malam Natal aku 'kan hadir
Di mana hati dipenuhi kasih.
Aku akan pulang saat Natal nanti,
Meski jika itu hanya impian belaka.
3

Presidensi Utama telah lama menekankan pernyataan, "Rumah adalah dasar hidup saleh, dan tidak ada sarana lain yang dapat menggantikan ataupun memenuhi fungsi pentingnya."4 Ada keluarga-keluarga yang terdiri dari ibu dan ayah, anak-anak lelaki serta perempuan, yang, melalui ucapan yang tidak baik, menjauhkan diri mereka dari satu sama lain. Kisah tentang bagaimana tragedi yang tak dapat dihindarkan seperti itu, terjadi beberapa tahun yang lalu dalam kehidupan seorang remaja putra yang, untuk alasan pribadi, saya sebut saja Jack.

Sepanjang kehidupan Jack, dia dan ayahnya sering beradu mulut. Suatu hari, ketika dia berusia tujuh belas tahun, mereka beradu mulut dengan sengitnya. Jack mengatakan kepada ayahnya, "Ini terakhir kalinya saya bertengkar dengan ayah. Saya mau pergi, dan saya tidak akan pernah kembali." Setelah mengatakan itu, dia masuk ke rumah dan mengemasi barangbarangnya. Ibunya memintanya agar tidak pergi, tetapi dia marah sekali sehingga tidak menggubris. Dia meninggalkan ibunya yang menangis di depan pintu.

Ketika meninggalkan halaman rumah, dan hampir melewati pintu gerbang dia mendengar ayahnya memanggilnya, "Jack, ayah tahu bahwa kamu pergi karena kesalahan ayah. Untuk itu ayah minta maaf. Ayah ingin kamu tahu seandainya kamu ingin pulang kembali, kamu selalu diterima. Dan ayah akan berusaha menjadi ayah yang lebih baik bagimu. Ayah ingin kamu tahu bahwa ayah sangat mengasihimu."

Jack diam membisu tetapi pergi ke terminal bus dan membeli tiket untuk pergi ke tempat yang jauh. Saat dia duduk di dalam bus sambil memandangi tempat yang dia tinggalkan semakin jauh, dia mulai memikirkan perkataan ayahnya. Dia mulai menyadari seberapa besar kasih yang diperlukan baginya untuk melakukan apa yang telah dia lakukan. Ayah sudah minta maaf. Dia mengundangnya kembali dan meninggalkan kata-kata yang terngiang-ngiang di udara musim semi itu, "Ayah mengasihimu."

Barulah Jack menyadari bahwa sekarang dia harus memutuskan apa yang harus dilakukannya. Dia tahu satu-satunya cara agar dia dapat menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri ialah dengan cara menunjukkan kepada ayahnya kedewasaan, kebaikan serta kasih seperti yang telah ditunjukkan Ayahnya kepadanya. Jack turun dari bus. Dia membeli tiket dan kembali ke rumah.

Dia tiba menjelang dini hari, masuk ke rumah dan menyalakan lampu. Di kursi goyang ayahnya duduk, kepalanya bersandar di tangannya. Ketika dia bangun dan melihat Jack, dia bangkit dari kursi dan mereka saling berpelukan. Jack sering kali mengatakan, "Tahun-tahun terakhir saya berada di rumah itulah saat yang paling membahagiakan dalam hidup saya."

Kita dapat mengatakan bahwa di sini ada seorang anak lelaki yang dalam semalam menjadi seorang pria. Inilah seorang ayah yang, mengatasi amarah dan kesombongannya, menyelamatkan putranya sebelum dia menjadi salah satu dari "sekelompok besar jiwajiwa yang tersesat" akibat dari keluarga dan rumah tangga yang hancur. Kasih adalah ikatan yang mempererat keluarga, balsam penyembuh. Kasih— sedemikian sering dirasakan, tetapi sedemikian jarang diungkapkan.

Dari Gunung Sinai terdengar di telinga kita, "Hormatilah ayahmu dan ibumu."5 Kemudian, dari Tuhan yang sama, datang perintah, "Hidup bersama dalam kasih."6

Para brother, kita mengemban tanggung jawab, ya bahkan tugas yang suci, untuk menjangkau mereka yang tidak aktif di Gereja atau keluar dari lingkaran keluarga.

Ingatlah bersama saya kata-kata indah dalam wahyu Tuhan dari Ajaran dan Perjanjian bagian 18, "Ingatlah, nilai jiwa adalah sangat berharga pada pandangan Allah.

"Dan seandainya engkau harus bekerja sepanjang hidupmu menyerukan pertobatan kepada rakyat ini, dan membawa meski hanya satu jiwa kepada-Ku, betapa besar jadinya kesukaanmu bersamanya di dalam kerajaan Bapa-Ku. Maka sekarang lihatlah, jika kesukaanmu akan besar dengan satu jiwa yang telah engkau bawa kepadaKu, betapa besar jadinya kesukaanmu jika engkau dapat membawa banyak jiwa kepada-Ku!"7

Sebagai presidensi kuorum Imamat Harun, sebagai penasihat bagi kuorum tersebut, kita dapat, dengan bantuan Tuhan, menjangkau dan menyelamatkan mereka yang menjadi tanggung jawab kita. Remaja putra, dengan senyuman di wajah Anda dan keputusan di dalam hati, Anda dapat membawa, dalam persahabatan, anak lelaki yang kurang aktif dan bersamasama datang ke pertemuan imamat serta belajar dari Tuhan dan apa yang telah Dia persiapkan bagi Anda agar Anda lakukan. Anda berhak mendapatkan bantuan ilahi-Nya, karena Dia telah berjanji kepada Anda, "Aku akan pergi di mukamu. Aku akan berada di sebelah kananmu dan juga di sebelah kirimu, dan Roh-Ku akan ada di hatimu, dan para malaikat-Ku akan berada di sekelilingmu untuk menghibur kamu."8

Para brother pemegang Imamat Melkisedek, Anda memiliki tugas kudus yang sama dan kewajiban yang berhubungan dengan tugas-tugas Anda kepada orang lain dan keluarga mereka. Dan Anda memiliki janji yang sama dari Tuhan untuk mengerahkan usaha Anda.

Jika Anda berhasil, Anda akan menjawab doa seorang ibu, perasaan yang lembut meski tak terucapkan dari hati anak-anak kecil; dan nama Anda akan selamanya dihormati oleh mereka yang Anda jangkau dan bantu.

Izinkan saya membagikan kepada Anda contoh menyenangkan dari pengalaman saya sendiri yang agak pribadi sifatnya.

Sebagai uskup, saya prihatin terhadap anggota yang kurang aktif, yang tidak datang ke Gereja, dan yang tidak melayani. Perasaan prihatin seperti itu muncul sewaktu saya mengendarai mobil di jalan tempat Ben dan Emily Fullmer tinggal. Keadaan mereka yang sakit-sakitan karena usia tua menyebabkan mereka mundur dari kegiatan dan hanya tinggal di rumah—terisolasi, terpisah, dan terkucil dari kehidupan serta penemanan sehari-hari orang lain. Ben dan Emily tidak pernah lagi menghadiri pertemuan sakramen kami selama bertahun-tahun. Ben, mantan uskup, akan langsung duduk di ruangan depan rumahnya membaca dan menghafalkan Perjanjian Baru.

Saya dalam perjalanan dari kantor pemasaran saya di kota menuju ke suatu tempat di Industrial Road. Untuk beberapa alasan tertentu saya mengendarai sampai di First West, sebuah jalan yang belum pernah saya lewati untuk mencapai tujuan gedung kami. Lalu saya merasakan dorongan yang pasti untuk memarkir mobil dan mengunjungi Ben serta Emily, meskipun saya dalam perjalanan menghadiri sebuah pertemuan. Awalnya saya tidak dapat mengindahkan dorongan itu tetapi mengendarai dua atau tiga blok lagi; walaupun demikian, ketika dorongan itu datang lagi, saya kembali ke rumah mereka.

Cuaca akhir pekan sore itu cerah. Saya menghampiri pintu dan mengetuk pintu rumah mereka. Saya mendengar suara anjing kecil menggonggong mendekati saya. Emily membuka pintu. Setelah melihat saya, dia berkata, "Seharian saya menunggu telepon saya berdering. Telepon itu sudah lama tidak berdering. Saya berharap tukang pos akan membawa surat. Tetapi dia hanya membawa tagihan. Uskup, bagaimana Anda tahu hari ini ulang tahun saya?"

Saya menjawab, "Allah mengetahuinya Emily, karena Dia mengasihi Anda."

Di dalam ruang keluarga yang sunyi itu saya berkata kepada Ben dan Emily, "Saya benar-benar tidak tahu mengapa saya dituntun ke sini hari ini, tetapi saya tahu itu. Bapa Surgawi kita mengetahuinya. Marilah kita berlutut untuk menanyakan kepada-Nya mengapa." Kami berdoa dan jawaban itu datang. Sewaktu kami bangkit dari berlutut, saya mengatakan kepada Brother Fullmer, "Ben, maukah Anda datang ke pertemuan imamat saat kami bertemu dengan semua imamat dan menceritakan kepada anak-anak lelaki dalam Imamat Harun kami kisah yang pernah Anda ceritakan kepada saya saat saya remaja dahulu, mengenai bagaimana Anda dan sekelompok anak lelaki dalam perjalanan ke Sungai Yordan untuk berenang pada hari Mnggu, tetapi Anda merasakan Roh membimbing Anda untuk menghadiri Sekolah Minggu. Dan Anda melakukannya. Salah satu anak lelaki yang gagal menanggapi Roh itu tenggelam pada hari Minggu itu. Anak-anak lelaki kami ingin mendengarkan kesaksian Anda."

"Saya akan lakukan itu," dia menjawab.

Kemudian saya berkata kepada Sister Fullmer, "Emily, saya tahu Anda memiliki suara yang indah. Ibu saya mengatakan itu pada saya. Konferensi lingkungan kita akan diadakan beberapa minggu lagi, dan paduan suara kita akan menyanyi. Maukah Anda bergabung dan menghadiri konferensi lingkungan kita dan barangkali menyanyi solo?"

"Apa lagu yang akan dinyanyikan?" dia bertanya.

"Entahlah," jawab saya, "tetapi saya ingin Anda menyanyikannya."

Emily menyanyi. Ben bercerita kepada anak-anak lelaki yang ada dalam Imamat Harun. Hati bersukacita dengan aktifnya kembali Ben serta Emily. Mereka jarang melewatkan pertemuan sakramen sejak hari itu. Bahasa Roh telah diucapkan. Itu telah didengarkan. Itu telah dipahami. Hati disentuh dan jiwa diselamatkan. Ben dan Emily Fullmer telah pulang ke rumah.

Salah satu musik yang dimainkan dalam waktu yang paling lama dalam sejarah ialah Les Miserables. Kisah itu dibuat dalam periode Revolusi Prancis. Tokoh utama dalam musikal itu ialah Jean Valjean. Dalam keprihatinannya yang mendalam terhadap pemuda, Marius, yang akan pergi berperang, dia mengucapkan doa yang sungguh-sungguh dalam lagu:

Allah di surga,
Dengarlah doaku;
Dalam kesulitanku
Kau senantiasa ada.

Dia masih muda dan penakut;
Lepaskanlah,
Surga memberkati.
Bawalah dia pulang.

Berilah dia damai,
Berilah sukacita.
Dia masih muda,
Masih terlalu muda.

Kau dapat memberi,
Kau dapat menerima;
Biarkan dia hidup,
Biarkan dia hidup.
Jika aku mati, biarlah aku mati,
Tapi biarkan dia hidup,
Bawalah dia pulang.9

Para brother, sewaktu kita maju terus sebagai para pemegang imamat Allah, memahami tugas kita dan kemudian menjangkau saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan kita, marilah kita memandang ke surga kepada Bapa Surgawi kita yaitu Bapa kita semua. Kita mungkin tidak mendengar suara-Nya, tetapi kita akan mengingat sapaan-Nya, "Baik sekali perbuatanmu, hai hamba-Ku yang baik dan setia."10

Dan di dalam hati kita akan mengenali permohonan-Nya yang tak terucapkan, bawalah dia pulang.

Dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN:

1. Dalam Conference Report, April 1937, 46.

2. 1 Petrus 3:15.

3. Kim Gannon and Walter Kent, "I'll Be Home for Christmas," 1943.

4. J. Reuben Clark Jr., meeting of general Church auxiliary executives, 29 Maret 1940; lihat juga "Letter from the First Presidency," Liahona, Desember 1999, 1.

5. Keluaran 20:12.

6. A&P 42:45.

7. A&P18:10, 15-16.

8. A&P 84:88.

9. Herbert Kretzmer "Bring Him Home."

10. Matius 25:21.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy