The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
Oktober 2003
Datanglah ke Mari, dan Ikutlah Aku

Datanglah ke Mari, dan Ikutlah Aku

PENATUA WILLIAM W. PARMLEY
Dari Dewan Tujuh Puluh

Nasihat "Datanglah ke Mari, dan Ikutlah Aku" dan pertanyaan "Apa yang Yesus lakukan?" memberi petunjuk yang sangat kuat untuk kehidupan.

PENATUA WILLIAM W. PARMLEYKita adalah para murid Yesus Kristus. Dalam perkataan Nefi, "Kita percaya kepada Kristus, ... kita berbicara tentang Kristus, kita bersukacita dalam Kristus, kita berkhotbah tentang Kristus, kita bernubuat tentang Kristus ..." (2 Nefi 25:24, 26). Kepada orang-orang yang percaya di mana pun saja, enam kata hebat yang Dia ucapkan serta berdampak kuat dalam tindakkan kita adalah, "Datanglah ke Mari, dan Ikutlah aku" (Lukas 18:22; lihat juga Matius 16:24, Markus 1:17, Lukas 9:23). Ketika ditanya oleh ahli Taurat mengenai hukum manakah yang paling utama, Yesus menjawab: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu: ini adalah hukum yang terutama.

Dan yang kedua adalah ....

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini" (Markus 12:30-31). Dengan menggunakan standar dari kedua hukum ini, marilah kita membahas bagaimana kita dapat mengikuti-Nya dengan cara yang terbaik.

Teladan Juruselamat akan kasih timbal-balik antara Dia dan Bapa-Nya selalu menjadi bukti. Doa-doa Juruselamat yang sering kali diucapkan, panjang, dan tulus itu telah memberikan teladan yang kuat untuk kita ikuti. Kasih Bapa bagi Putra-Nya terlihat jelas, khususnya pada saat pembaptisan Putra-Nya oleh Yohanes.

"Lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan'" (Matius 3:17).

Persatuan di antara keduanya tampak jelas ketika Juruselamat mengatakan, "Aku dan Bapa adalah satu" (lihat Yohanes 10:30). Dengan memahami bahwa kehendak-Nya dan kehendak Bapa untuk beberapa saat bahkan mungkin berbeda seperti yang terjadi di Getsemani (lihat Matius 26:39) mengingatkan kita bahwa doa-doa kita mungkin tidak selalu dijawab seperti yang kita harapkan. Bagaimanapun juga, doa adalah sebuah asas tindakan yang sangat kuat. Juruselamat mengatakan bahwa apabila seseorang memiliki iman dan tidak ragu, maka "apa saja yang kamu minta dalam doa dengan kepercayaan, kamu akan menerimanya" (lihat Matius 21:21-22). Kasih kita terhadap Juruselamat harus dijalani dengan tindakan: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (Yohanes 15:15).

Selanjutnya marilah kita mempertimbangkan hukum utama kedua, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39), atau yang merupakan pasangan hukum yang lebih tinggi yang diajarkan kepada para Rasul "supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yohanes 13:34). Meskipun mengundang tetangga sebelah untuk makan malam merupakan cara yang baik untuk mengungkapkan kasih, Juruselamat memilih teladan yang jauh lebih sulit ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada-Nya, "Dan siapakah sesamaku manusia?" (Lukas 10:29).

Selanjutnya ada cerita yang tidak asing lagi mengenai seorang pria yang bepergian dari Yerusalem menuju Yerikho ketika dia dirampok, dipukul, dan ditinggalkan sendirian di pinggir jalan dan nyaris mati. Seorang Lewi dan seorang imam melihatnya dan melewatinya dari seberang jalan. Tetapi seorang Samaria, yang dihina orang Yahudi, memiliki belas kasihan dan merawatnya. Orang Samaria itu tidak menanyakan asal-usulnya sebelum memperlihatkan belas kasihannya. Yesus menutup cerita yang luar biasa ini dengan nasihat "Pergilah, dan perbuatlah demikian" (Lukas 10:37).

Di setiap kota besar, ada orangorang yang ditekan dan terlupakan— mereka adalah para gelandangan, orang yang miskin, yang lapar, yang sakit. Beberapa orang mengatakan bahwa dengan memberikan uang kepada mereka, berarti kita mendukung kecanduan mereka dalam penggunaan narkoba dan alkohol, serta membiarkan mereka melanjutkan gaya hidup yang telah mereka pilih. Memang adalah mudah menghakimi orang-orang ini dan, seperti teman-teman Ayub, yang menduga-duga bahwa semuakesalahan yang telah mereka lakukan dalam kehidupan mereka itulah yang membawa kesengsaraan besar ini pada diri mereka (lihat Ayub 22; Mosia 4:17).

Sebelum kita mengabaikan seperti orang Lewi dan imam itu, marilah kita mempertimbangkan nasihat Juruselamat "Datanglah ke Mari, dan Ikutlah Aku." Ingatlah bahwa Juruselamat tidak memiliki tempat berteduh, hanya baju yang menempel di tubuh-Nya, dan sering kelaparan. Apa yang Dia lakukan? Tidak ada keraguan akan apa yang pernah Dia lakukan. Dia selalu menunjukkan belas kasihan serta melayani mereka.

Ada banyak cara untuk membantu para gelandangan, termasuk sumbangan waktu, barang, uang kepada kelompok-kelompok kemanusiaan, rumah penampungan, atau agen-agen yang berurusan dengan masalah ini. Bagaimanapun juga, bagi saya kita harus memperlihatkan belas kasihan kepada mereka. Asas-asas kesejahteraan yang dibentuk merupakan petunjuk yang tepat. Ingatlah bahwa orangorang miskin selalu ada di sekitar kita (lihat Markus 14:7).

Juruselamat menekankan kembali asas ini ketika Dia membahas hari pengadilan dan pemisahan domba dari kambing:

"Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, dan memberi Engkau makan atau haus dan kami memberi Engkau minum?

Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

Dan raja itu akan menjawab kepada mereka: Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Matius 25:37-40).

Petrus menekankan pentingnya kasih murni seperti ini ketika dia mengatakan, "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa" (lihat 1 Petrus 4:8).

Mormon mengungkapkan perasaan yang sama dengan nasihat ini:

"Oleh karena itu, saudara-saudaraku yang kukasihi, jika kamu tidak memiliki kasih yang murni, kamu tidak berarti apa-apa, karena kasih yang murni tidak pernah gagal. Oleh karena itu berpeganglah teguh pada kasih yang murni, yang terbesar dari segalanya, karena segala sesuatu harus gagal—

Tetapi kasih yang murni adalah kasih suci Kristus dan kasih itu bertahan untuk selamanya; dan barangsiapa kedapatan memiliki kasih itu pada hari terakhir, ia akan selamat" (Moroni 7:46-47).

Yesus mengajar dan memberi banyak teladan tentang sifat-sifat pribadi yang hendaknya kita pertimbangkan ketika kita mencoba mengikuti Dia. Sifat-sifat ini termasuk kasih, kelemahlembutan, kerendahan hati, kasih sayang, haus akan kebenaran, penuh doa, belas kasih, dan suci hati. Kita hendaknya tidak pernah menghakimi orang lain, namun segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Dia mengajarkan supaya kita hendaknya menjadi garam dunia dan terang dunia. Dia mengatakan bahwa apa yang dipikirkan dalam hati seseorang adalah sepenting tindakan lahiriahnya. Kita dinasihati untuk mengampuni setiap orang, termasuk mereka yang bersalah kepada kita, dan mengasihi musuh kita. Kita tidak hanya harus menjadi pembawa damai, namun kita juga harus bersukacita dalam penganiayaan. Dia menasihati kita untuk bersedekah, dan berpuasa serta berdoa di tempat tersembunyi. Dia mengajarkan kepada kita untuk memberikan pipi yang lainnya dan berjalan dua mil. Dia khususnya memperingatkan kita untuk mengumpulkan harta di surga daripada di bumi (lihat Matius 5-7).

Ketika kita memikirkan arti sesungguhnya dari kalimat "Datanglah ke Mari, dan Ikutlah Aku," jelas bahwa masih banyak yang harus kita pelajari, banyak yang harus dilakukan sebelum kita dapat benar-benar menanggapi perintah tersebut. Namun, yang perlu diperhatikan, adalah bahwa selama 30 tahun kehidupan-Nya di Nazaret, Yesus tampak tidak menonjolkan diri-Nya walaupun Dia menjalani hidup tanpa dosa (lihat Matius 13:54-56; Markus 6:2-3). Hal itu hendaknya mendorong kita untuk melakukan lebih baik dengan cara kita sendiri yang diam-diam dan rendah hati tanpa menonjolkan diri kita sendiri. Nasihat "Datanglah ke Mari, dan Ikutlah Aku" dan pertanyaan "Apa yang Yesus lakukan?" memberi petunjuk yang sangat kuat untuk kehidupan. Lebih memperhatikan petunjuk-petunjuk ini akan membantu kita semua menjadi lebih seperti Kristus dalam pikiran serta tindakan kita.

Mengenai Juruselamat, yang merupakan teladan kita, saya memberikan kesaksian pribadi bahwa Dia hidup. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy