The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
Oktober 2003
Kuasa Kerendahan Hati

Kuasa Kerendahan Hati

USKUP RICHARD C. EDGLEY
Penasihat Pertama dalam Keuskupan Ketua

Kekuatan Gereja terdapat pada jutaan anggota yang rendah hati yang setiap hari berusaha melakukan kehendak Juruselamat.

USKUP RICHARD C. EDGLEYBeberapa waktu yang lalu dalam pertemuan kuorum imam besar, si pengajar memperkenalkan sebuah pelajaran dengan meminta kami masing-masing menjawab pertanyaan siapa pahlawan kami dan mengapa. Ketika setiap anggota mendapat gilirannya untuk menjawab, jawabannya sudah dapat diterka. Tentu saja seseorang menyebut Juruselamat, Penebus dunia. Yang lain menyebut Abraham Lincoln, yang membebaskan para budak, memimpin Amerika Serikat melalui perang saudara, dan akhirnya mempersatukan negara. Yang lainnya memilih Nabi Joseph Smith dan Nabi kita terkasih pada zaman sekarang, Gordon B. Hinckley. Pada saat setiap orang menyebutkan pahlawannya, saya dengan diam-diam setuju dan mengetahui bahwa mereka semua adalah orang-orang yang patut ditiru dan bahwa saya akan menjadi orang yang lebih baik seandainya saya memiliki beberapa sifat yang membuat orangorang itu hebat.

Ketika giliran saya untuk menjawab tiba, saya menengok kepada seorang brother di sebelah kanan saya, beberapa kursi dari tempat duduk saya, dan berkata, "Pahlawan saya adalah Ken Sweatfield dan istrinya, Jo Ann." Selama dua puluh tahun saya memperhatikan Ken dan Jo Ann merawat anaknya yang koma dengan kasih seutuhnya serta kesabaran yang dapat diberikan orang tua. Saya sering merenungkan harapan dan mimpi yang mereka miliki bagi Shane hancur sebelum dia mengalami kecelakaan mobil dua minggu sebelum dia memulai misinya di Leeds, Inggris. Saya telah memperhatikan Ken dan Jo Ann membawa Shane dalam kursi rodanya untuk berjemur di bawah matahari atau mengajaknya jalan-jalan di lingkungan hunian itu, menguraikan pemandangan, berharap dia dapat mendengar dan merasakan, serta berharap agar udara segar dan sinar matahari dapat menerangi semangatnya yang pasif. Selama dua puluh tahun tidak ada saat untuk libur dari kegiatan merawat ini, malam-malam berlalu, namun selalu ada semangat iman, keyakinan, dan rasa terima kasih—tidak pernah terlihat kemarahan, keputusasaan atau mempertanyakan maksud Allah.

Saya kemudian menoleh ke sebelah kiri saya dan berkata, "Pahlawan saya adalah Jim Newton dan istrinya, Helen." Tak lama setelah putra Jim dan Helen menerima panggilan misi ke Peru, dia mengalami kecelakaan mobil. Ketika saya mendengar kecelakaan tersebut, saya bergegas ke rumah sakit, berharap mendengar bahwa Zach masih hidup dan akan sembuh. Orang tuanya, dengan sikap yang tabah dan tenang, menjelaskan bahwa Zach akan melayani misinya di dunia lain. Ketika saya melihat keputusan kedua orang tua yang tabah ini untuk bersikap tenang, saya menyadari bahwa melalui penderitaan dan kesengsaraan ada kedamaian yang dapat datang hanya melalui iman yang dalam dan teguh kepada Bapa yang penuh kasih dan Juruselamat yang menebus. Iman saya dikuatkan, dan melalui ilham dari mereka keputusan saya untuk mengikuti teladan mereka dalam menghadapi cobaan dan tragedi semacam itu semakin dikuatkan.

Saya juga dapat menjawab bahwa pahlawan saya adalah Tom Abbott dan putranya John, pengajar ke rumah saya yang setia yang tidak pernah melewatkan tugas pengajarannya walaupun sering kali kami adalah keluarga yang sulit untuk ditemui di rumah. Saya dapat juga menyebutkan puluhan lainnya yang saya kagumi dan dapat menyebut mereka pahlawan saya. Banyak orang tidak memiliki panggilan penting atau berarti di Gereja, namun semua orang layak menerima jabatan apa pun. Tidak seorang pun yang dikenal secara luas dalam keanggotaan Gereja pada umumnya, namun semuanya, saya yakin, dikenal baik oleh Bapa Surgawi.

Pada suatu kesempatan ketika saya dapat menghadiri pertemuan sakramen di lingkungan saya sendiri, saya sering merenungkan saat saya memandang ke arah jemaat dan melihat orang yang sama setiap minggu. Beberapa orang sering saya lihat di pertemuan sakramen selama lebih dari dua puluh tahun. Sekali lagi, kebanyakan dari mereka bukan orang terkenal di Gereja, namun semuanya secara konsisten menghadiri pertemuan mereka dan secara pribadi menghadapi tantangan kehidupan.

Mereka ini adalah para anggota yang saya kenal, saya kagumi dan membuat saya bersyukur. Mereka tidak mencari jabatan, reputasi, atau ketenaran, namun masing-masing memperoleh tempat di dalam kerajaan Bapa dengan menjalankan urusan kehidupan mereka sehari-hari. Mereka terus-menerus melakukan hal-hal yang tidak diketahui, sederhana, namun dengan rendah hati dan benar melakukan yang penting. Mereka memiliki tantangan, namun di luar tantangan-tantangan pahit mereka mampu menemukan sesuatu yang manis yang sering kali merupakan rekan kemalangan yang tidak tampak. Gambaran ini terlihat beratus-ratus kali dalam ribuan lingkungan di seluruh dunia. Itulah Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir.

Ya, kekuatan Gereja terdapat pada jutaan anggota yang rendah hati yang setiap hari berusaha melakukan kehendak Juruselamat—hari demi hari, selangkah demi selangkah. Para anggota yang rendah hati ini datang dari semua bangsa, status sosial, dan latar belakang ekonomi. Mereka termasuk orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan tertinggi dan juga mereka yang paling rendah hati yang hidup di desa kecil di daerah terpencil di dunia—semua memiliki hati yang lembut dengan kesaksian yang dalam mengenai Yesus Kristus dan keinginan untuk melayani Tuhan.

Sewaktu saya merenungkan para anggota yang setia ini, saya terpaku pada dua sifat yang tampaknya dimiliki oleh mereka semua. Pertama, terlepas dari status sosial atau ekonomi, atau jabatan, kerendahan hati mereka membawa pada kepatuhan kepada kehendak Tuhan. Kedua, terlepas dari kesulitan dan tantangan kehidupan, mereka dapat mempertahankan rasa syukur atas berkat-berkat Allah dan hal-hal yang baik dalam kehidupan. Kerendahan hati dan rasa syukur benar-benar merupakan dua sifat kebahagiaan.

Sebuah kisah diceritakan mengenai pertemuan antara Nabi Joseph Smith dan Brigham Young. Di hadapan sekelompok besar pria, Nabi dengan keras menegur Brother Brigham karena gagal melakukan tugasnya. Semua orang, saya rasa agak tercengang, menunggu reaksi Brigham. Setelah itu, Brigham, yang kemudian dikenal dengan Singa Tuhan, sama sekali tidak ciut hatinya. Perlahan dia bangkit, dan dengan kata-kata yang benar-benar menunjukkan sifat dan kerendahan hatinya, menundukkan kepala serta berkata, "Joseph, apa yang Anda ingin saya lakukan?" Kisah tersebut berlanjut dengan isak tangis, Joseph berlari dari mimbar, memeluk Brigham, seraya berkata, "Anda lulus, Brother Brigham, Anda lulus" (lihat Truman G. Madsen, "Hugh B. Brown—Youthful Veteran," New Era, April 1976, 16)

Banyak dari kita yang hidup atau bekerja dalam suatu lingkungan di mana kerendahan hati sering disalahartikan dan dianggap suatu kelemahan. Tidak banyak perusahaan atau yayasan yang menjadikan kerendahan hati sebagai pernyataan nilai atau sifat yang diinginkan dalam organisasi mereka. Namun, ketika kita belajar mengenai pekerjaan Allah, kuasa roh yang rendah hati dan patuh menjadi tampak. Dalam kerajaan Allah, kebesaran dimulai dengan kerendahan hati dan kepatuhan. Nilai-nilai yang menyertainya adalah langkah-langkah pertama yang penting untuk membuka pintu menuju berkat-berkat Allah dan kuasa imamat. Tidaklah peduli siapa diri kita dan betapa besar kelihatannya kedudukan kita. Kerendahan hati dan kepatuhan kepada Tuhan, yang dipadukan dengan hati yang penuh syukur, merupakan kekuatan dan harapan kita.

Dalam memberikan persyaratan untuk keanggotaan dalam Gereja-Nya, Tuhan menyatakan, "Semua orang yang merendahkan diri di hadapan Allah ... dan tampil dengan hati yang patah dan jiwa yang menyesal, ... [merekalah orang-orang yang] akan diterima dengan baptisan ke dalam Gereja-Nya" (A&P 20:37).

Demikian pula dalam keanggotaan Gereja, kita melihat pria dan wanita dari semua latar belakang dengan rendah hati tunduk pada nasihat Allah. Kita melihat para usahawan yang berkedudukan tinggi dengan lembut dan rendah hati menerima dan diajar oleh pengajar ke rumah yang rendah hati dan bahkan yang kadang-kadang merasa takut. Kita melihat orang-orang berpendidikan tinggi mengikuti nasihat dari uskup mereka, yang kadang-kadang berpendidikan rendah. Kita melihat mantan uskup dan presiden distrik dengan lembut dan rendah hati menerima panggilan untuk mengajar di Pratama, membantu di Sanggar Penitipan Anak, atau mengumpulkan perlengkapan kemanusiaan untuk dikirimkan kepada mereka yang membutuhkan di seluruh dunia. Kita melihat ribuan pasangan dewasa meninggalkan rumah mereka yang nyaman untuk hidup di lingkungan-lingkungan yang masih asing, untuk dengan rendah hati melayani mereka yang sangat miskin di seluruh dunia—dan kemudian melayani berulang kali. Kita melihat mereka yang sangat miskin di dunia dengan rendah hati berkurban untuk membagikan harta mereka yang terbatas serta memberikan dengan hati yang penuh syukur serta memuji Allah.

Raja Benyamin memperingatkan bahwa kita harus "[menjadi] seperti seorang anak, penurut, lemah lembut, rendah hati, sabar, penuh kasih sayang, bersedia patuh kepada segala sesuatu yang menurut anggapan Tuhan patut dikenakan kepada [kita]" (Mosia 3:19).

Dengan rendah hati menyerahkan kehendak kita kepada Bapa memberi kita kekuasaan dari Allah—kuasa kerendahan hati. Ini adalah kuasa untuk menghadapi kemalangan hidup, kuasa kedamaian, kuasa harapan, kuasa kelembutan hati dengan kasih dan kesaksian akan Juruselamat, Yesus Kristus, bahkan kuasa pengampunan. Untuk mengakhiri ini, Juruselamat adalah teladan utama kuasa kerendahan hati dan kepatuhan. Setelah apa yang Dia alami, penyerahan kehendak-Nya kepada Bapa membawa kisah yang terbesar dan bahkan terhebat dalam semua sejarah. Mungkin beberapa kata yang paling kudus dalam tulisan suci adalah, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42).

Jadi kita memiliki ribuan, bahkan jutaan hati yang lembut—para pahlawan, saya rasa kita dapat mengatakan begitu, tetapi barangkali uraian yang lebih tepat adalah pengikut Juruselamat, Yesus Kristus, yang rendah hati. Dan, Presiden Hinckley telah meminta kita masing-masing, mereka hanya melakukan yang terbaik—setiap hari.

Semoga hati yang rendah hati dan patuh menjadi kekuatan kita dari Allah dengan semua berkatnya yang berlimpah. Inilah doa saya yang rendah hati. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2009 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy