The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
Oktober 2003
Oleh Karena Itu Pilihlah Kristus Tuhan

Oleh Karena Itu Pilihlah Kristus Tuhan

ANNE C. PINGREE
Penasihat Kedua dalam Presidensi Umum Lembaga Pertolongan

Ketika seorang wanita memilih untuk memiliki Kristus di dasar hatinya sendiri, ... dia membawa Tuhan ke pusat rumah tangga dan keluarganya.

ANNE C. PINGREEPara sister, adalah ajaran yang mulia bagi saya bahwa kita dapat memilih untuk memberikan kepada Kristus segenap hati kita—bahwa kita dapat memilih untuk menempatkan Juruselamat di dasar hati kita. Di dalam diri kita masing-masing, Injil Yesus Kristus yang dipulihkan dapat ditulis "bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup; bukan pada loh-loh batu, melainkan pada lohloh daging."1 Kita memilih untuk mengikuti Kristus dalam keadaan kita yang semula. Betapa menyenangkan bahwa kita dapat memilih Dia setiap hari selama kehidupan kita di bumi.

Sebagai para wanita perjanjian yang hidup di berbagai negara, sangatlah penting untuk menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan kita. Pada "masa-masa yang sukar"2 ini, betapa kita membutuhkan Dia! Dialah sumber kekuatan dan keselamatan. Dia adalah terang. Dia adalah kehidupan. Damai sejahtera-Nya "melampaui segala akal."3 Sebagai Juruselamat dan Penebus pribadi kita, Dia mengundang kita, satu per satu, dengan lengan-Nya yang terbuka lebar untuk "datang kepada-Nya"4 dalam cara yang paling pribadi. Para sister, ketika seorang wanita menerima undangan Juruselamat, dia dikuatkan secara pribadi, dan orang lain diberkati melalui pengaruh kesalehannya.

Saya percaya ketika seorang wanita memilih untuk memiliki Kristus di dasar hatinya sendiri, pada inti dunia pribadinya, dia membawa Tuhan ke pusat rumah tangga dan keluarganya, baik itu sebuah keluarga tunggal atau banyak. Di mana pun dia tinggal dan bagaimanapun keadaannya, sebagai jantung dari rumah tangga dan keluarganya, apa yang ada di hati setiap wanita tercermin di dalam lingkungan serta suasana rumahnya.

Ketika kami sedang dalam tugas di Jepang, seorang pemimpin Gereja mengundang kami untuk mengunjungi rumahnya. Kami merasa terhormat memiliki kesempatan ini tetapi bertanya-tanya mengenai bagaimanakah pemikiran istrinya tentang undangan yang mendadak dari suaminya itu untuk mengajak ke rumahnya para tamu dari Salt Lake City. Ketika melakukan perjalanan ke rumahnya, pria itu menelepon istrinya, yang tampaknya bagi saya hanya memberi dia waktu 15 menit untuk mempersiapkan diri bagi kelompok tamu yang tidak disangka ini.

Sejak saat kami menginjakkan kaki di rumahnya, membuka sepatu dan dengan lembut disambut oleh seorang sister Lembaga Pertolongan muda yang sangat sopan, saya merasakan semangat keteraturan, kedamaian, serta kasih. Anak-anak kecil berlari ke atas membawa mainan mereka. Di keluarga yang beranggota delapan orang ini, dengan tujuh orang yang masih tinggal di sana, jelas terlihat apa yang keluarga itu junjung tinggi. Bukti bagi pemujaan terhadap Tuhan ada di mana-mana—gambar Juruselamat di dinding, foto keluarga dan gambar bait suci berada di ruang utama, tulisan suci yang secara baik digunakan serta video-video Gereja dengan rapi berjajar di sebuah rak di dekatnya. "Buah Roh ... kasih, sukacita, damai sejahtera, ... kemurahan, kebaikan, kesetiaan"5 terlihat ada di rumah itu. Saya membayangkan ruangan kecil itu penuh dengan anak-anak dari segala umur saat orang tua duduk mengelilingi meja yang pendek untuk "berbicara tentang Kristus, ... [untuk] bersukacita dalam Kristus, ... [untuk] berkhotbah tentang Kristus, [untuk] bernubuat tentang Kristus ... supaya anak-anak [mereka] dapat mengetahui kepada sumber mana mereka dapat mencari untuk pengampunan dosa-dosa [mereka]."6 Saya merasakan jawaban anak-anak di rumah ini terhadap pertanyaan yang diajukan oleh Penatua Jeffrey R. Holland, "Apakah anak-anak [kita] mengetahui bahwa kita mengasihi Allah dengan segenap hati kita dan bahwa kita menantikan untuk melihat wajah—dan bersimpuh di kaki Putra Tunggal-Nya?"7 Saya percaya bahwa jawaban bagi pertanyaan itu, di rumah keluarga Jepang ini, jelaslah iya!

Ketika seorang wanita memilih untuk memiliki Kristus di dasar hatinya, dia tidak hanya memilih untuk melakukan tindakan yang seperti Kristus setiap hari tetapi juga mengajar keluarganya untuk melakukan hal yang sama. Dan seperti yang Anda ketahui, para sister yang terkasih, di dalam usaha melakukan tindakan yang seperti Kristus sehari-hari itulah kita mengalami beberapa tantangan kita yang terbesar.

Seorang ibu melakukan usaha terbaiknya untuk mengajar langkahlangkah pertobatan di rumahnya. Lalu datanglah hari di mana dia membantu putranya yang berusia 5 tahun menerapkan asas tersebut ketika dia menemaninya ke toko untuk menjelaskan tentang permen yang telah dicurinya. Itu merupakan pengalaman yang tidak terlupakan bagi anak itu. Dia secara langsung belajar bertanggung jawab atas tindakannya. Dengan ketakutan di hatinya, dia mengembalikan permen itu, meminta maaf kepada manajer toko, dan berjanji tidak akan mencuri lagi. Saya senang melaporkan bahwa dia telah menepati janji itu.

Saya mengetahuinya—karena sayalah ibu itu, dan putra saya adalah anak yang berusia lima tahun itu.

Pengalaman seperti itu terjadi di setiap keluarga, bahkan ketika kita berusaha keras untuk menanamkan Injil kepada anak-anak, cucu, dan keponakan kita yang terkasih. "Menjadi seperti Yesus"8 memerlukan latihan, yang kemudian menjadi kebiasaan. Memilih untuk menjadikan Kristus pusat bagi hati kita membantu kita dalam banyak cara ketika kita berupaya mengajarkan kepada sesama untuk menempatkan Tuhan di dalam hati mereka. Kadang-kadang, kita merasa tidak banyak berkembang, tetapi di hari-hari yang mengecewakan itu, saya mengingat perkataan Juruselamat yang menghibur: "Janganlah jemu dalam berbuat baik, karena kamu sedang meletakkan dasar suatu pekerjaan besar."9

Ketika kita memilih bagian yang terbaik dan menempatkan Juruselamat di pusat kehidupan kita dengan berdoa setiap hari memohon bimbingan serta bantuan-Nya, Allah memberi kita "kuasa dan kebijaksanaan."10 Kita diberkati dengan pendekatan rohani yang dapat menguatkan keluarga kita. Ketika Doug, ayah dari tiga orang anak yang masih kecil, secara tidak terduga kehilangan pekerjaannya, dana kepegawaian ditambah simpanan mereka yang sedikit serta bantuan dari keluarga besar merupakan alat untuk menafkahi keluarganya. Istrinya, Lori, berusaha untuk berpikir positif ketika mereka berdua mengambil pekerjaan yang tidak tetap untuk membantu menutupi pengeluaran mereka. Mereka terus melakukan hal yang benar—berdoa, membaca tulisan suci, datang ke bait suci, dan membayar persepuluhan. Meskipun demikian, terlepas dari ratusan surat lamaran kerja serta banyaknya permintaan, hanya terdapat sedikit wawancara pekerjaan, dan tawaran pekerjaan tidak kunjung datang.

Suatu hari setelah hampir enam bulan mencari pekerjaan, Lori menelepon ibunya. Dengan menangis dan nada yang agak marah, dia berkata, "Saya rasa Bapa Surgawi tidak mendengarkan kami. Saya rasa saya tidak akan berdoa lagi. Itu tidak ada gunanya."

Selama percakapan di telepon itu, kata-kata dan pemikiran yang diilhami datang kepada ibu Lori ketika dia memberikan kesaksiannya serta mengingatkan putrinya akan hal-hal yang telah diketahuinya. "Lori, kamu lebih mengetahuinya. Kamu tahu bahwa Bapa Surgawi mengasihimu dan memahami kebutuhanmu. Tetapi kadangkadang kamu harus menunggu. Mungkin ini merupakan api pemurni bagimu. Saya tidak tahu. Tetapi yang saya ketahui ialah: Kamu perlu ke kamar tidurmu sekarang, serta berlutut dan berdoa, memohon Tuhan untuk menghibur serta memberimu kedamaian. Doug akan mendapatkan pekerjaan, tetapi itu mungkin membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama. Ingatlah semua orang yang mengasihi kamu dan yang berdoa bagimu serta membantu kamu. Kamu sangat diberkati."

Yang Lori sadari adalah bahwa ketika dia berlutut dan berdoa—karena dia memusatkan dirinya kepada Tuhan—dia mengarahkan kembali pikirannya. Dia membawa kasih Juruselamat ke dalam kehidupannya sendiri dan rumahnya.

Para sister yang terkasih, saya telah sering merasakan kasih Tuhan di dalam kehidupan saya. Pada saat-saat yang menyenangkan dan saat saya merasa tidak sebanding dengan tantangan-tantangan di hadapan saya, saya telah berpaling kepada Tuhan memohon bantuan. Saya bersaksi bahwa Dia selalu siap membantu, lenganNya yang penuh belas kasih serta mengasihi direntangkan bagi saya dan Anda. Dengan sepenuh hati saya menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah kekuatan saya. Dia adalah harapan saya. Dia adalah Juruselamat dan Penebus saya. Bersama Anda saya berkata, "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan."11 Dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. 2 Korintus 3:3.

2. Gordon B. Hinckley, "Zaman Di Mana Kita Hidup," Liahona, Januari 2002, 83.

3. Filipi 4:7.

4. Omni 1:26.

5. Galatia 5:22.

6. 2 Nephi 25:26.

7. "Doa bagi Anak-anak," Liahona, Mei 2003, 87.

8. "'Ku Mau Jadi S'perti Yesus," Buku Nyanyian Anak-anak, 40.

9. A&P 64:33.

10. Alma 31:35.

11. Yosua 24:15; penekanan ditambahkan.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy