Uskup Richard C. Edgley
Penasihat Pertama dalam Keuskupan Ketua
Pria sejati cukup kuat untuk menahan tipu muslihat Setan dan cukup rendah hati untuk menyerahkan dirinya kepada kuasa penebusan Juruselamat.
|
|
Beberapa bulan yang lalu saya menerima surat dari keluarga teman saya yang tidak saya jumpai selama bertahun-tahun. Suratnya adalah ungkapan keputusasaan dan permohonan untuk memperoleh bantuan. Setelah bergumul untuk membesarkan anak-anaknya sebagai ibu tunggal, kini dia menikah kembali. Suaminya yang bukan anggota adalah seorang pria kasar yang berusaha mengungkapkan kejantanannya dengan minum minuman keras, menggunakan bahasa kotor, berbicara kasar, dan berperilaku yang meragukan. Yang menjadi keprihatinannya yang mendalam adalah bahwa contoh suaminya mengajarkan kepada putranya seolah-olah perilaku-perilaku seperti inilah yang menjadikan pria jantan. Permohonan bantuannya kepada saya: Adakah cara lain, bahkan meskipun dalam jarak jauh, saya dapat berbicara kepada putranya, yang akan kita sebut Ben, mengenai sifat-sifat pria yang sejati? Dalam menjawab permohonan itu, malam ini saya akan berusaha menanggapinya. Oleh karena itu saya mengarahkan ceramah saya kepada seorang teman yang jauh dan kepada semua "Ben" di Gereja yang sedang berusaha menjadi pria sejati.
Nah, Ben marilah kita berbicara. Kita semua berusaha agar diterima dan diakui sewaktu kita masuk ke dunia orang dewasa. Dunia orang dewasa datang kepada kita suka atau tidak suka jika kita hidup cukup lama. Akan tetapi, kejantanan sejati hanya datang jika dan ketika kita berusaha mencarinya.
Setan dikenal sebagai pendusta besar. Agama, falsafah, dan pekerjaannya didasarkan pada tipu daya dan kebohongan. Tujuannya adalah untuk merintangi pekerjaan Tuhan dengan menyesatkan kita dan pada akhirnya membuat kita "menjadi sengsara seperti dirinya sendiri" (2 Nefi 2:27). Dia akan membuat kita percaya bahwa di adalah pria dewasa dan bahwa jalan-jalannya membawa kita kepada kejantanan sejati.
Sebaliknya, Yesus dengan sukarela menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa-Nya. Sebagai akibatnya Dia dikhianati, dituduh, dipukuli, dan diadili. Pengorbanan-Nya bukan paksaan. Pengorbanan itu dilakukan karena keberanian, tugas, dan kasih dan menuntun Dia minum cawan pahit yang menyebabkan Dia mengeluarkan darah dari setiap pori-pori. Setelah Pilatus menyaksikan penderitaan besar dan penghinaan Yesus dan bahkan berdebat agar Dia dibebaskan, Dia akhirnya tunduk kepada tuntutan orang-orang Yahudi. Sewaktu dia menyerahkan Dia untuk disalib, dia melakukannya dengan mengucapkan kata sederhana tapi tegas, "Lihatlah manusia itu!" (Yohanes 19:5). Ya, Yesus adalah pria itu. Dia memiliki semua sifat pria yang sejati dan ideal. Jalan-jalan-Nya, bukan jalan Setan, menuntun kepada kejantanan sejati. Siapa pun yang percaya sebaliknya berarti telah membuat dirinya terbelenggu dalam rantai kekal tipu daya Setan (lihat 2 Nefi 28:19).
Ben, setiap remaja putra harus memilih antara yang baik dan jahat, antara jalan Allah dan jalan Setan. Sewaktu remaja putra mulai merokok untuk membuktikan dia pria dewasa, akan menjadi pria yang bagaimanakah dia kelak? Sewaktu remaja putra mulai minum minuman keras, memakai obat bius, berpartisipasi dalam kegiatan seks, bersikap gaduh atau sukar dikendalikan, akan menjadi pria yang bagaimanakah dia kelak? Telah diketahui bahwa banyak anak lelaki mulai merokok sewaktu remaja untuk membuktikan bahwa dia pria dewasa, dan berusaha berhenti merokok pada usia 30 tahun untuk alasan yang sama. Tidak ada kejantanan jika tunduk kepada Setan. Tidak ada kejantanan jika dikalahkan oleh asas-asasnya.
Oleh karena itu Ben, dengan latar belakang ini, izinkanlah saya memberikan kepada Anda kriteria saya mengenai pria yang sejati. Karena terbatasnya waktu, saya akan membatasi diri dengan hanya memberikan dua kriteria di antara banyak kriteria:
1. Pria sejati cukup kuat untuk menahan tipu daya Setan.
2. Pria sejati cukup rendah hati untuk menyerahkan dirinya kepada kuasa penebusan Juruselamat.
Saya kira wajar bagi kita untuk menyamakan kekuatan, kejantanan, dan mungkin bahkan perilaku gaduh dan agresif dengan pria yang sejati. Akan tetapi, sifat-sifat pria jantan yang sejati tidak perlu dalam bentuk fisik. Izinkanlah saya untuk menjelaskannya.
Rasul Paulus memperingatkan, "Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging [yang bukan ujian sesungguhnya tentang kejantanan pria], tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara" (Efesus 6:12). Keberanian sejati adalah berdiri melawan yang jahat, bahkan sewaktu kita berdiri sendiri, sering merasa dihina dan diolok-olokkan oleh orang lain. Inilah keberanian. Inilah kekuatan. Inilah kejantanan sejati, dan kejantanan ini tegar.
Saya kenal seorang pemuda yang senang sekali dipilih sebagai anggota regu bola basket para bintang untuk bermain di kejuaraan di negara bagian lain. Malam pertama di hotel, teman-teman sekamar lainnya memutuskan menonton film cabul. Pemuda ini meninggalkan kamar hotel dan pergi ke luar berjalan-jalan sendiri di kota di tengah malam sampai film usai. Saya yakin dia merasa malu, kesepian, dan menghadapi tantangan. Tetapi itulah yang disebut keberanian; itulah kejantanan pria sejati dalam arti yang sesungguhnya. Dan saya mengatakan, "Lihatlah manusia itu!"--seorang pemuda berusia 18 tahun telah berubah menjadi pria dewasa. Saya tahu ratusan pemuda yang telah menahan ejekan dan perasaan malu karena menolak obat terlarang, alkohol, dan seks agar berbalik melayani satu sama lain, memberikan teladan benar, atau membela asas-asas kebenaran. Semua pemuda harus menghadapi tipu daya Setan. Adalah mustahil terhindar dari pertempuran ini. Tetapi selalu ada kemungkinan untuk menjadi pemenang. Ya, pria sejati cukup kuat untuk menahan tipu muslihat Setan.
Ben, beberapa beban yang harus kita pikul sedemikian berat sehingga kita hanya dapat menaklukkannya melalui kerendahan hati, kepatuhan, dan hati yang penuh sesal. Itu kedengarannya seperti bertolak belakang, bukan--memperoleh kekuatan dan kuasa melalui kerendahan hati, kepatuhan, dan hati yang penuh sesal. Tetapi itu adalah salah satu ironi besar kehidupan--kita dapat menerima kekuatan melebihi kemampuan alami kita dengan menyerahkan kehendak kita kepada Bapa. Dalam beberapa hal kita semua menjadi korban si penggoda. Kadang-kadang kita bahkan terbelenggu dalam pelanggaran berat--pelanggaran yang memiliki konsekuensi-konsekuensi kekal. Mereka yang telah melakukan pelanggaran berat harus mengikuti jalan pertobatan yang telah direncanakan dengan cermat yang disediakan oleh Juruselamat dan seringkali diarahkan oleh uskup atau presiden wilayah. Ini adalah ujian sebenarnya bagi pria yang sejati, dan tidak semua orang cukup jantan untuk menghadapi tantangan-tantangan ini.
Beberapa bulan yang lalu saya diberi tugas untuk mewawancarai seorang pria berusia 21 tahun untuk menentukan apakah pertobatan yang telah dia lakukan cukup layak baginya untuk melayani misi. Hati saya sakit sewaktu saya membaca masalah-masalah berat dan pelanggaran-pelanggaran masa lalunya. Saya bertanya-tanya apakah memungkinkan bagi orang yang memiliki latar belakang seperti itu dapat mempersiapkan diri untuk melayani misi. Pada waktu yang telah ditentukan untuk wawancara, saya melihat seorang pemuda ganteng mendekati saya. Dia berpakaian sangat rapi dan memiliki roman muka yang menarik. Dia kelihatan seperti purna misionari, dan saya bertanya-tanya siapa gerangan dia. Sewaktu dia menghampiri saya dia mengulurkan tangannya yang membuat saya terkejut setelah dia memperkenalkan dirinya sebagai orang yang akan saya wawancarai.
Dalam wawancara itu saya hanya menanyakan "Mengapa saya berada bersama Anda pada malam ini?" Kemudian dia memaparkan rincian-rincian perbuatan kotor masa lalunya. Setelah menceritakan dan mengakui kembali dosa-dosanya, dia mulai berbicara kepada saya tentang Kurban Tebusan dan tahun-tahun pertobatan yang menyakitkan yang membawa dia kepada wawancara ini. Dia mengungkapkan kasihnya kepada Juruselamat dan kemudian menjelaskan bahwa Kurban Tebusan Kristus cukup untuk menyelamatkan bahkan seorang pemuda sepertinya. Pada akhir wawancara tersebut, saya meletakkan tangan saya ke atas bahunya dan berkata "Setelah saya kembali ke kantor pusat Gereja saya akan merekomendasikan agar Anda diizinkan untuk melayani misi." Dan kemudian saya berkata, "Saya hanya minta satu hal dari Anda--hanya satu. Jika nanti Anda berksempatan melayani, saya ingin agar Anda menjadi misionari terbaik di seluruh Gereja. Hanya itu saja."
Kira-kira empat bulan kemudian saya berceramah di kebaktian rohani misionari di Pusat Pelatihan Misionari (MTC) di Provo, Utah. Setelah kebaktian saya berdiri di depan mimbar menyambut para misionari dan saya memperhatikan seorang wajah yang pernah saya kenal menghampiri saya. Pikiran pertama yang terlintas di dalam benak saya adalah bahwa saya akan merasa malu karena seharusnya saya kenal pemuda ini. Saya tidak ingat di mana saya pernah bertemu dengannya, dan saya tahu pertanyaan pertama yang akan diajukan kepada saya. Ternyata benar, dia mengulurkan tangannya dan bertanya, "Apakah Anda ingat saya?" Dengan minta maaf dan agak malu saya menjawab: "Maaf. Saya tahu saya seharusnya kenal Anda, tetapi saya tidak ingat." Dia kemudian berkata: "Saya akan beritahukan siapa saya. Saya adalah misionari terbaik di MTC." Saya tidak dapat menahan air mata yang perlahan-lahan mengalir di pipi sementara saya berpikir: "Ada seorang pria. Dia telah menemui Getsemaninya. Dia telah membayar harga pertobatan yang mahal. Dia telah merendahkan hatinya dan menyerahkan dirinya kepada kuasa penebusan Juruselamat. Dia telah menghadapi tantangan-tantangan. Dia telah memiliki sifat-sifat kejantanan yang sejati." Dan saya berkata, "Lihatlah pria itu," pria yang cukup rendah hati untuk menyerahkan dirinya kepada kuasa penebusan Juruselamat.
Ben, Anda dapat menggambarkan seseorang melalui inci, pon, kulit atau fisik. Tetapi Anda mengukur seorang pria sejati melalui karakter, belas kasih, integritas, kelembutan, dan asas. Ringkasnya, ukuran seorang pria sejati tertanam di dalam hati dan jiwanya, bukan di dalam keadaan jasmaninya (Lihat 1 Samuel 16:7). Tetapi mereka dapat dinilai dalam perilaku dan cara bertindak. Sifat-sifat pria sejati seringkali terlihat nyata dalam hal yang kita sebut raut wajah. Ketika Alma bertanya, "Apakah kamu telah menerima rupa-Nya [artinya Juruselamat--pria sejati], di dalam wajahmu," (Alma 5:14) yang dimaksud, teman-temanku adalah sifat-sifat kejantanan pria sejati.
Ya, Ben, Setan memiliki pria sejatinya sendiri dan Allah memiliki pria sejati-Nya, dan Setan memiliki sifat-sifat kejantanannya dan Allah memiliki sifat-sifat-Nya sendiri. Setan mempersembahkan sifat-sifatnya sebagai ukuran sesungguhnya pria sejati dan kriteria Allah dianggap lemah. Tetapi orang harus memahami bahwa kriteria Setan hampir selalu yang paling mudah dan paling lemah. Cara Setan tidak memiliki keberanian, tidak memiliki karakter, tidak memiliki kekuatan pribadi, dan sama sekali tidak membuktikan kejantanan sejati.
Pria sejati tidak memerlukan Setan untuk menuntunnya menempuh jalan mudah yang membawa kepada belenggu kehancuran abadi. Pria sejati cukup kuat untuk menahan tipu muslihat Setan dan cukup rendah hati untuk menyerah kepada kuasa penebusan Juruselamat.
Musa, dalam usahanya untuk memberikan dorongan dan teguran, menanyakan kepada orang Israel, "Siapa yang memihak kepada Tuhan?" (Keluaran 32:26). Sesungguhnya yang dia tanyakan adalah, "Kamu mengikuti siapa?" Bapa kita di Surga disebut "Orang Mahakudus" (Musa 6:57; 7:35). Itu adalah gelar yang kita sebut untuk menghormati Makhluk Tertinggi. Itu bukan gelar yang kita ambil ke atas nama kita sendiri, Ben. Tetapi setiap pemegang imamat hendaknya berusaha dikenal sebagai manusia Allah. Itulah, teman-temanku yang terkasih, yang disebut pria sejati. Dalam nama Yesus Kristus, amin.