Presiden Gordon B. Hinckley
Semoga Allah memberkati kita dengan perasaan akan tempat kita dalam sejarah, dan . . . kebutuhan kita untuk berdiri tegak dan berjalan dengan tak tergoyahkan untuk menjadi Orang Suci Allah Yang Mahatinggi.
Alangkah menarik dan hebat untuk melangkah ke abad berikut. Tidak lama lagi itu akan menjadi pengalaman kita. Bahkan lebih menarik lagi adalah kesempatan kita untuk menjembatani milenium yang mendekat dan menyambut seribu tahun yang baru. Saya kagum merasakan sejarah yang mulia dan besar pada saat saya merenungkan zaman ini.
Hanya dua milenium sejak Juruselamat berada di bumi. Merupakan pengakuan besar menempatkan Dia dalam sejarah, bahwa kalender yang sekarang dipakai di hampir seluruh dunia menempatkan kelahiran-Nya sebagai ukuran waktu. Semua yang terjadi sebelum-Nya dihitung mundur. Semua yang terjadi setelah-Nya, dihitung maju.
Setiap kali setiap orang menggunakan tanggalan, dia secara sadar atau tidak mengakui kedatangan Putra Allah di bumi. Kelahiran-Nya, sebagaimana secara populer ditetapkan, menandai poros tengah zaman, pusat waktu yang diakui di seluruh dunia. Pada saat kita menggunakan tanggalan kita tidak memperhatikannya. Tetapi seandainya kita berhenti sejenak untuk berpikir, kita harus mengakui bahwa Dialah yang mulia dalam seluruh sejarah dunia di atas Siapa ukuran waktu dunia didasarkan.
Berabad-abad sebelum Dia datang ke bumi ada nubuat tentang kedatangan-Nya. Yesaya menyatakan: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9:6).
Raja Benyamin, lebih daripada satu abad sebelum kelahiran Juruselamat, berkata kepada rakyatnya:
"Karena lihatlah, waktunya akan tiba, dan tidak lama lagi, bahwa dengan kuasa, Tuhan Yang Mahakuasa yang memerintah, yang dulu ada, dan ada dari segala kekekalan sampai segala kekekalan, akan turun dari surga ke antara anak-anak manusia, dan akan tinggal dalam tubuh dari debu, dan akan pergi ke antara manusia, melakukan mukjizat-mukjizat yang dahsyat, seperti menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, menyebabkan yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, dan yang tuli mendengar, serta menyembuhkan segala macam penyakit . . .
"Dan Ia akan disebut Yesus Kristus, Putra Allah, Bapa surga dan bumi, Pencipta segala sesuatu sejak permulaan; dan ibu-Nya akan disebut Maria" (Mosia 3:5, 8).
Tidaklah mengherankan bila malaikat bernyanyi saat kelahiran-Nya dan orang majus berkelana jauh untuk menghormati-Nya.
Dia adalah satu-satu-Nya yang sempurna yang pernah ada di bumi. Dia menggenapi Hukum Musa dan memperkenalkan kasih baru kepada dunia.
Ibu-Nya seorang fana, dan dari dia diwariskan daging. Ayah-Nya baka, Allah Yang Agung bima sakti, dari-Nya Dia memperoleh sifat ilahi.
Pengungkapan kasih luar biasa-Nya terlihat pada waktu kematian-Nya ketika Dia menyerahkan nyawa-Nya sebagai kurban buat umat manusia. Pendamaian itu, yang dipersembahkan lewat penderitaan tak terkira, menjadi peristiwa terbesar sepanjang sejarah, sebuah perbuatan kasih karunia bagi umat manusia, yang mendatangkan kepastian kebangkitan bagi semuanya yang pernah atau akan lahir ke dunia.
Tidak ada perbuatan dalam seluruh sejarah umat manusia sebanding dengan itu. Tidak ada yang pernah terjadi menandinginya. Kasih yang sama sekali tanpa rasa mementingkan diri itu adalah untuk umat manusia. Itu menjadi suatu belas kasih yang tak tertandingi buat semua bangsa.
Lalu dengan kebangkitan pada pagi Paskah pertama hadirlah pernyataan kemenangan kebakaan. Paulus menyatakan dengan baik, "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1 Korintus 15:22). Dia tidak hanya mengaruniakan berkat kebangkitan untuk semua, tetapi juga membuka jalan ke kehidupan kekal untuk semua yang mematuhi ajaran dan perintah-Nya.
Dia, Dulu dan sekarang, adalah pusat figur sejarah umat manusia dan puncak zaman.
Sebelum kematian-Nya, Dia telah memanggil dan menetapkan para rasul. Mereka meneruskan pekerjaan-Nya untuk satu putaran. Gereja-Nya didirikan.
Abadpun bergulir. Awan kegelapan menyelubungi dunia. Yesaya menggambarkannya sebagai berikut: "Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa" (Yesaya 60:2).
Itulah musim penjarahan dan penderitaan, ditandai oleh peperangan yang panjang dan berdarah-darah. Charles Agung dinobatkan sebagai kaisar Roma tahun 800.
Itulah zaman tanpa harapan, zaman penjajahan dan perbudakan.
Seribu tahun pertama berlalu dan milenium kedua tiba. Abad berikutnya melanjutkan abad sebelumnya. Itulah zaman penuh ketakutan dan penderitaan. Wabah mematikan dan mengerikan melanda daratan China di abad ke 14. Wabah itu menyebar ke Eropah dan sampai di Inggris. Di mana-mana ada kematian mendadak. Boccaccio berkata tentang para korban: "makan siang bersama teman-teman dan makan malam di Sorga bersama leluhur mereka."1 Wabah itu mendatangkan ketakutan ke dalam hati manusia. Dalam lima tahun wabah itu merenggut 25 juta orang, sepertiga dari seluruh penduduk Eropa.
Secara berkala wabah itu muncul kembali dengan cengkeraman mautnya yang tak pandang bulu. Tetapi itu juga saat pertumbuhan terang. Ketika tahun-tahun melanjutkan gerak langkah mereka, sinar cerah menampakkan diri di seluruh dunia. Itulah zaman kebangkitan seni, arsitektur, dan sastra yang luar biasa.
Para reformis mengubah gereja, orang-orang seperti Luther, Melanchthon, Hess Zwingli, dan Tyndale. Mereka adalah pemberani, beberapa di antaranya dibunuh secara kejam karena kepercayaan mereka. Aliran Protestan muncul karena keinginan untuk reformasi. Bila reformasi tidak terjadi, para reformis mendirikan gereja sendiri. Mereka berbuat demikian tanpa kuasa imamat. Cita-cita tunggal mereka adalah memuja Allah seperti yang seharusnya menurut perkiraan mereka.
Sementara perubahan-perubahan sedang berlangsung di dunia Kristiani, kekuatan-kekuatan politik juga mengalami perubahan. Lalu datanglah perang Revolusi Amerika yang melahirkan sebuah bangsa yang konstitusinya menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan agama. Sebuah zaman baru telah lahir, sebuah zaman yang luar biasa. Di sini, tidak ada lagi agama negara. Tidak ada sekte yang di anak emaskan.
Setelah abad kegelapan dan kepahitan dan perjuangan, tibalah pemulihan injil. Para nabi zaman kuno telah menubuatkan zaman yang ditunggu-tunggu itu.
Semua sejarah telah membicarakan zaman ini. Abad-abad dengan segala penderitaan dan harapan datang dan pergi. Hakim Yang Mahabesar bangsa-bangsa, Allah yang hidup, memutuskan bahwa waktu yang dibicarakan para nabi telah tiba. Daniel telah melihat sebuah batu "terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia . . ." dan yang "menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi" (Daniel 2:3435).
"Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya" (Daniel 2:44).
Yesaya dan Mikha telah menubuatkan jauh sebelum zaman kita:
"Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir; gunung tempat rumah Tuhan akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,
"Dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman Tuhan dari Yerusalem" (Yesaya 2:23; dan Mikah 4:2).
Paulus telah menulis semua prosesi zaman, iring-iringan abad, dengan mengatakan: "Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa" (2 Tesalonika 2:3).
Selanjutnya dia berkata tentang zaman ini: "Sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang disorga maupun yang di bumi; [bahkan dalam Dia]" (Efesus 1:10).
Petrus melihat seluruh pemandangan abad ketika dia menyatakan dengan penglihatan berikut:
"Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan,
"dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.
"Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu" (Kisah para Rasul 3:1921).
Semua ini dan yang lain menjelaskan zaman luar biasa ini, zaman yang paling hebat dalam seluruh sejarah umat manusia, ketika lahirnya zaman pemulihan.
Zaman yang luar biasa itu lahir di tahun 1820 ketika seorang anak lelaki, sangat beriman, berjalan ke hutan dan berdoa, mencari kebijaksanaan yang dirasanya sangat dibutuhkan.
Terjadilah tanggapan yang hebat. Allah Bapa yang Kekal, dan Tuhan Yesus Kristus yang telah dibangkitkan datang dan berbicara kepadanya. Tirai yang tertutup selama hampir dua milenium telah terbuka mempersilakan kegenapan zaman. Diikuti pula dengan pemulihan imamat kudus, pertama-tama imamat Harun, dan kemudian imamat Melkisedek, di bawah tangan mereka yang memegangnya di zaman dahulu. Pernyataan lain, seolah-olah berbicara dari dalam debu, muncul sebagai saksi kedua akan kenyataan dan keilahian Putra Allah, Penebus Agung dunia.
Kunci-kunci wewenang ilahi dipulihkan, termasuk kunci-kunci yang perlu untuk mengekalkan hubungan keluarga dalam perjanjian yang tidak bisa digagalkan oleh kematian.
Batu itu kecil pada awalnya. Hampir tak terlihat pada mulanya. Tetapi ia tetap tumbuh dan menggelinding memenuhi bumi.
Saudara-saudara, apakah Anda menyadari apa yang kita miliki? Apakah Anda mengakui tempat kita di dalam drama sejarah umat manusia? Inilah apa yang dibicarakan sebelumnya. Inilah zaman pemulihan itu. Inilah zaman ketika semua orang di dunia datang ke gunung Tuhan rumah Allah untuk belajar, berjalan di jalan-Nya dan belajar dari-Nya. Inilah puncak dari semua abad sejak kelahiran Kristus sampai zaman yang hebat ini.
Pagi tiba gelap lenyap;
Panji Zion terbentanglah!
Fajar yang cerah cemerlang
Megah merekah di dunia
("Pagi Tiba, Gelap Lenyap," Nyanyian Rohani no. 1).
Abad telah berlalu. Karya zaman akhir Yang Mahakuasa, yang dinubuatkan di zaman dulu oleh para nabi dan rasul, telah datang. Itu benar. Untuk alasan yang tidak kita ketahui, tetapi menurut kebijaksanaan Allah, kita berkesempatan datang ke dunia di zaman hebat ini. Terdapat pertumbuhan subur ilmiah. Terbukanya ilmu pengetahuan. Ini adalah zaman usaha dan prestasi terbesar dari segala zaman umat manusia. Dan yang lebih penting, ini adalah zaman ketika Allah berbicara sekali lagi, ketika Putra-Nya Yang Terkasih menampakkan diri, ketika imamat ilahi dipulihkan, ketika kita memiliki kesaksian tambahan tentang Putra Allah. Alangkah hebatnya zaman ini.
Terima kasih Ya Allah untuk karunia kemurahan-Mu. Kami bersyukur kepada-Nya untuk injil hebat yang kuasa dan wewenangnya menjangkau melewati tabir kematian.
Dari apa yang kita miliki dan ketahui, kita seharusnya adalah umat yang lebih baik daripada sekarang. Kita seharusnya lebih seperti Kristus, lebih mengampuni, lebih penolong dan memikirkan orang di sekitar kita.
Kita berdiri di puncak suatu zaman, kagum oleh sejarah yang agung dan khidmat. Inilah zaman terakhir yang dinubuatkan. Saya bersaksi akan kenyataan dan kebenaran hal ini. Saya berdoa agar kita semua kagum dengan semuanya ini ketika kita meninggalkan abad yang mati dan menyongsong kedatangan abad yang akan datang.
Biarlah tahun sebelumnya pergi. Marilah menyambut tahun yang baru. Biarlah abad yang lalu mati. Biarlah abad yang baru menggantikannya. Ucapkan selamat tinggal untuk sebuah milenium. Sambutlah seribu tahun yang baru.
Dari panggung zaman yang bergulir laju, biarlah Yesus Kristus tampil memerintah dalam kemuliaan di atas dunia.
Datang Maha Raja!
Lama kami tunggu
Datang dengan kuasa
Bebaskan umat-Mu
Datang dambaan bangsa
Biar Israel pulang segera.
("Datang Maha Raja," Nyanyian Rohani no. 18)
Semoga Allah memberkati kita dengan perasaan akan tempat kita dalam sejarah, dan dengan diberinya perasaan itu, ditambah percaya diri dan sikap yang tak tergoyahkan untuk menjadi Orang Suci Allah, adalah doa rendah hati saya dalam nama Yesus Kristus, amin.
CATATAN
1. The Decameron of Giovanni Boccaccio, trans. Richard Aldington (1930), 7.