Penatua Neal A. Maxwell
Dari Kuorum Dua Belas Rasul
Kerendahan hati adalah pengobatan yang sejati, karena bukan sekadar menutupi sikap mementingkan diri, tetapi melarutkannya!
Sedikit banyak, kita semua bergulat dengan rasa mementingkan diri. Karena itu demikian umum, mengapa pula khawatir mengenai sikap mementingkan diri? Sebab sikap mementingkan diri sebenarnya adalah penghancuran diri sendiri dalam gerakan lambat. Tidak heran bila Nabi Joseph Smith mendesak, "Biarlah setiap perasaan mementingkan diri tidak hanya dikubur, tetapi dimusnahkan" (
Teachings of the Prophet Joseph Smith, diseleksi oleh Joseph Fielding Smith [1976], hlm. 178). Maka pemusnahan--bukan sekadar memperlemah-- adalah tujuannya!
Sikap mementingkan diri yang berkecamuk, misalnya, telah mengerdilkan beberapa orang menjadi tidak berarti; mereka berusaha untuk menghapus kekosongan mereka dengan sensasi. Tetapi dalam ilmu hitung-hitungan nafsu, apa pun yang dikali dengan nol tetaplah berjumlah nol! Setiap peregangan sikap mementingkan diri mempersempit alam semesta seseorang sedemikian banyaknya dengan mengurangi kesadarannya, atau keprihatinannya terhadap orang lain. Terlepas dari keangkuhan yang duniawi, yang lahiriah, pemanjaan individualisme yang demikian sesungguhnya picik, seperti ikan emas dalam pasu yang memberi selamat kepada diri mereka sendiri karena kemandirian mereka, terlepas dari butiran makanan atau pergantian air.
Dahulu kala, dibutuhkan seorang Copernicus untuk memberitahu dunia yang picik bahwa planet ini bukanlah poros dari alam semesta. Sebagian orang modern yang egois membutuhkan sebuah pengingat bak Copernicus bahwa mereka juga bukanlah poros dari alam semesta!
Bentuk sikap mementingkan diri yang paling awal dan umum adalah: membangun diri dengan mengorbankan orang lain, mengaku-aku atau membesar-besarkan, merasa senang ketika orang lain melakukan kesalahan, menolak keberhasilan tulus orang lain, lebih menyukai pemulihan nama baik di depan umum daripada menyelesaikan secara diam-diam, dan "[meng]ambil kesempatan dari seseorang karena perkataannya" (2 Nefi 28:8).
Dengan memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri, orang yang egois merasa lebih mudah untuk bersaksi dusta, untuk mencuri, dan menginginkan milik orang lain, karena tidak ada keinginannya yang boleh ditolak. Tidaklah heran sedemikian mudahnya bagi pemerintahan untuk tunduk pada nafsu manusia duniawi, terutama bila keretanya terus berjalan tepat waktu, meyakinkan dirinya setiap saat bahwa sikapnya yang permisif [serba memperbolehkan] dapatlah dibenarkan.
Sikap mementingkan diri juga menyebabkan kita menjadi tidak sopan, menjengkelkan, dan memikirkan diri sementara menahan dari orang lain barang-barang pujian, dan pengakuan yang dibutuhkan, sewaktu kita dengan egoisnya berjalan melewati mereka dan tidak memperhatikan mereka (lihat Mormon 8:39). Kemudian muncullah kekasaran, keketusan, dan penjegalan lebih lanjut.
Berlawanan dengan jalan keegoisan, tidak ada tempat bagi amukan jalanan di atas jalan yang lurus dan sempit. Tidak akan ada perundungan pasangan atau anak bila ada kasih yang tidak mementingkan diri di dalam rumah. Lagipula, sikap tidak mementingkan diri paling baik ditumbuhkan di dalam lingkungan keluarga, dan, demikian pula, secara tekun melaksanakan tanggung jawab Gereja yang tampak biasa saja dapat lebih lanjut lagi menolong kita mengatasi ke-egoisan. Orang yang tidak mementingkan diri juga lebih bebas. Seperti dikatakan G. K. Chesterton, jika kita dapat menaruh perhatian kepada orang lain, bahkan jika mereka tidak menaruh perhatian kepada kita, kita akan mendapatkan diri kita "berada di bawah langit yang lebih bebas, [dan] di jalan yang penuh dengan orang asing yang menyenangkan" (Orthodoxy [1959], hlm. 21).
Dalam kemuridan setiap harinya, banyaknya cara untuk mengutarakan sikap mementingkan diri ditandingi oleh banyaknya cara untuk menghindarinya. Kerendahan hati adalah pengobatan yang sejati, karena bukan sekadar menutupi sikap mementingkan diri, tetapi melarutkannya! Langkah yang lebih kecil dapat mencakup bertanya kepada diri sendiri secara batin sebelum melakukan sebuah tindakan yang penting, kepentingan siapa yang sesungguhnya berusaha saya penuhi? atau di saat-saat penting pengekspresian diri, kita dapat terlebih dahulu menghitung sampai sepuluh. Penyaringan penuh pemikiran semacam itu dapat menggandakan persembahan kita hingga sepuluh kali ketika jaring kerendahan hati yang reflektif menyingkirkan ego yang merusak dan emosional.
Kita juga dapat dengan rendah hati membiarkan gagasan-gagasan kita hidup tanpa terlalu mempromosikannya. Melainkan, biarkan Roh mendorong gagasan-gagasan kita yang layak.
Sayangnya, sikap mementingkan diri yang individu, yang kasar itu, pada akhirnya dibudayakan. Lalu masyarakat lambat laun dapat menjadi tanpa aturan, tanpa belas kasihan, tanpa kasih, menyimpang, dan tanpa perasaan (lihat Moroni 9). Masyarakat karenanya mencerminkan sebuah daftar yang suram dan menumpuk yang menandai sebuah kemerosotan budaya yang parah. Ini terjadi pada zaman dahulu ketika sebuah bangsa benar-benar menjadi "lemah, karena oleh pelanggaran" (Helaman 4:26). Berbicara secara perilaku, ketika apa yang tadinya adalah suara terkecil rakyat menjadi lebih dominan, maka hukuman Allah dan akibat dari keegoisan yang bodoh pun menyusul (lihat Mosia 29:2627).
Kemerosotan budaya dipercepat ketika segmen masyarakat yang memiliki kepentingan tunggal acuh tak acuh pada nilai-nilai umum yang pernah dianut secara luas. Arus ini dipermudah oleh ketidakacuhan atau kemanjaan ketika masyarakat dituntun dengan hati-hati masuk ke neraka (lihat 2 Nefi 28:21). Beberapa mungkin tidak terbawa dalam arus ini, tetapi sebaliknya mereka minggir ke tepi, padahal mereka mungkin pernah melawan, yang merupakan hak perwakilan mereka. Mengenai keadaan seperti itu, Yeats meratap, "Yang terbaik kurang segala keyakinan, sementara yang terburuk penuh dengan intensitas yang bernafsu" (W. B. Yeats, The Second Coming").
Dewasa ini, sebagai pengganti dari nilai-nilai tradisional yang dianut terdapat kepatuhan yang menuntut yang didorong, ironisnya, oleh mereka yang akhirnya tidak akan mentoleransi orang-orang yang pernah mentoleransi mereka. Sementara peningkatan kedurhakaan mungkin tidak menyebabkan kemerosotan yang besar sekaligus, tetapi arah suram yang dituju tetaplah sama, dengan hati-hati dan licik, tanpa gejolak atau lonjakan yang berkecamuk (lihat 2 Nefi 28:21).
Demikianlah sebagian akibat langsung dari sikap mementingkan diri, namun beberapa dari akibat-akibat itu sudahlah final--mempengaruhi kita dalam hal keselamatan.
Sikap mementingkan diri sesungguhnya adalah pencetus dari semua dosa besar. Itu adalah palu yang memecahkan Sepuluh Perintah Allah, baik dengan mengabaikan orang tua, hari Sabat, atau pun dengan bersaksi dusta, pembunuhan, dan iri hati. Tak heran individu yang egois sering rela melanggar perjanjian, untuk memenuhi sebuah nafsu. Tak heran mereka yang kemudian akan menempati kerajaan telestial, setelah mereka membayar sebuah imbalan, dahulunya adalah para pezina, pelacur yang tak bertobat, serta mereka yang mencintai dan membuat dusta.
Beberapa yang mementingkan diri secara keliru percaya bahwa tidak ada hukum ilahi, sehingga tidak ada dosa (lihat 2 Nefi 2:13). Etika situasi pun dibuat disesuaikan bagi orang yang mementingkan diri. Sehingga dalam pengaturan diri, seseorang dapat menang karena kecerdasan dan kekuatannya, sebab tidak ada kejahatan apa pun (lihat Alma 30:17).
Tidaklah mengherankan karenanya, keegoisan menuntun pada kebodohan yang mengerikan secara pemahaman dan perilaku. Misalnya, Kain, rusak karena usahanya mencari kekuasaan, berkata setelah membunuh Habil, "Aku bebas" (Musa 5:33; lihat juga Musa 6:15).
Salah satu akibat yang paling buruk dari sikap mementingkan diri yang parah, karenanya, adalah kehilangan keseimbangan yang serius, seperti mencari kutu tetapi menelan unta (lihat Matius 23:24). Di zaman ini ada, misalnya, orang yang mencari-cari kutu tetapi menelan praktek aborsi. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan, bahwa sikap mementingkan diri membesarkan semangkuk kecil sup menjadi sebuah perjamuan dan membuat tiga puluh keping talenta tampak bagaikan harta karun.
Secara perkembangan, apa yang terlihat adalah seperti apa yang terjadi kepada sekelompok anak zaman dahulu "yang tumbuh . . . mengikuti keinginan mereka sendiri"--keras hati dan tersesat (3 Nefi 1:29; lihat juga ayat 30). Perubahan budaya yang merusak dapat dan memang terjadi "dalam waktu tidak lama," termasuk menggantikan semangat kemasyarakatan yang amat dibutuhkan dengan aliansi kesia-siaan yang beragam (lihat Helaman 4:26).
Berjalan untuk berjalan menurut caranya sendiri, manusia duniawi sering bersikeras sampai ke titik di mana dia "tidak berperasaan," setelah terbius oleh keinginan menyenangkan pikiran fananya (lihat 1 Nefi 17:45; lihat juga Efesus 4:19). Sayangnya, seperti si pecandu obat, dia selalu membutuhkan jatah yang segar.
Orang yang amat mementingkan diri memanfaatkan orang lain tetapi tidak mengasihi mereka. Biarlah Uria-uria yang ada di dunia waspada! (Lihat 2 Samuel 11:37.) Berabad-abad sebelum Kristus, Nabi Yakub mengingatkan orang yang kotor, "Kamu telah mematahkan hati istrimu yang lembut, dan telah menghilangkan kepercayaan anak-anakmu, karena contoh-contoh kamu yang buruk di hadapan mereka" (Yakub 2:35). Ketika kasih menjadi dingin, biarlah orang miskin dan melarat juga waspada, karena mereka akan diabaikan, seperti yang terjadi di Sodom zaman dahulu (lihat Matius 24:12; lihat juga Yehezkiel 16:49). Betapa pun aneh kelihatannya, ketika orang-orang yang amat mementingkan diri tidak lagi kecil dalam pandangan mereka sendiri, semua yang lain menjadi kerdil! (Lihat 1 Samuel 15:17).
Bahkan tetes-tetes awal dari keputusan yang mementingkan diri sudah menyarankan sebuah arah. Lalu aliran-aliran kecil yang berliku-liku pun muncul, bergabung dengan anak sungai dan selanjutnya ke jeram yang lebih deras; akhirnya dia tersapu hanyut oleh sungai besar yang mengalir memasuki "jurang kesengsaraan dan duka cita tanpa akhir" (Helaman 5:12).
Kita sesungguhnya memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan tanda-tanda masyarakat yang tulus dan bercerita banyak. Yesuslah yang mengingatkan, "Rupa langit kamu tahu membedakannya, tetapi tanda-tanda zaman tidak," menyarankan perlunya kebutuhan jenis ramalan cuaca yang berbeda (Matius 16:3).
Atas apa yang terjadi dalam kemerosotan budaya baik para pemimpin maupun pengikutnya sebenarnya bertanggung jawab. Dalam sejarah, tentunya, mudah sekali untuk mengecam para pemimpin yang buruk, tetapi kita tidak seharusnya membebaskan para pengikutnya. Kalau tidak, dalam rasionalisasi mereka mengenai degenerasi mereka, mereka mungkin akan me- ngatakan bahwa mereka hanya sekadar mengikuti perintah, sementara pemimpinnya hanya sekadar memerintahkan para pengikutnya! Namun, jauh lebih lagi dituntut dari para pengikut dalam sebuah masyarakat yang demokratis di mana watak individu sangatlah penting baik dalam diri pemimpin maupun pengikut.
Nabi Mormon secara tidak mementingkan diri telah setuju untuk memimpin bangsa yang sedang dalam kemerosotan yang parah. Dia berdoa untuk mereka, tetapi yakin bahwa doanya tidak disertai iman karena kedurhakaan bangsa itu (lihat Mormon 3:12). Di zaman yang lain, seorang pemimpin yang penuh penglihatan, seperti Yusuf di Mesir, membebaskan bangsa itu dari kebiasaan mereka yang berbahaya dengan mempersiapkan mereka untuk tantangan khusus masa depan (lihat Kejadian 41:4657). Beberapa orang, seperti Lincoln, meskipun dalam peran politik, juga telah memberikan kepemimpinan rohani. Lincoln, selain itu, mengingatkan betapa individu yang berambisi dan berbakat akan terus muncul, dan bahwa individu seperti itu "haus dan bersemangat untuk berbeda, dan bila mungkin . . . akan mendapatkannya apakah dengan imbalan mengemansipasi budak atau memperbudak orang merdeka" (dikutp dalam John Wesley Hill, Abraham Lincoln--Man of God [1927], hlm. 74; penekanan dalam aslinya).
Mengenai George Washington yang tidak mementingkan diri tertulis: "Dalam segala sejarah, hanya segelintir manusia yang memiliki kekuasaan besar yang telah menggunakan kuasa tersebut dengan demikian lembut dan dengan tidak mementingkan diri bagi apa yang naluri terbaik mereka katakan kepada mereka merupakan kesejahteraan sesama mereka dan seluruh umat manusia" (James Thomas Flexner, Washington: The Indispensable Man [1984], hlm. xvi).
Kekuasaan palinglah aman berada pada mereka, seperti Washington, yang tidak mencintainya! Satu masyarakat yang cinta pada diri sendiri, di mana setiap orangnya sibuk mengejar kedudukan nomor satu, tidak bisa membangun persaudaraan atau pun komunitas. Bukankah kita gembira pada saat Paskah ini dan sepanjang masa bahwa Yesus tidak secara egois berusaha menjadi orang nomor satu?
Tidak mengherankan kalau kita telah diberitahu, "Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu" dan ini termasuk pemujaan diri sendiri! (Keluaran 20:3; penekanan ditambahkan). Dengan satu atau cara lain, mereka yang amat mementingkan diri pada akhirnya akan hancur, meratap, menghadapi konsekuensi konkret dan menyakitkan dari keegoisan mereka.
Sebaliknya, sebagai penutup saya, pikirkanlah Melissa Howes yang tidak mementingkan diri, yang ayahnya yang cukup muda telah meninggal karena kanker beberapa bulan lalu. Tepat sebelumnya, Melissa, yang ketika itu berumur 9 tahun, berdoa dalam doa keluarga, memohon, "Bapa Surgawi, berkatilah ayah saya, dan jika Engkau memerlukan dia lebih daripada kami, Engkau dapat mengambilnya. Kami menginginkan dia, tetapi terjadilah kehendakMu. Dan tolong bantu kami supaya tidak marah kepadaMu" (surat dari Christie Howes, 25 Februari 1998).
Betapa ini merupakan sikap tunduk yang rohani bagi seorang anak semuda itu! Betapa suatu pemahaman yang tidak mementingkan diri dari rencana keselamatan! Semoga sikap tunduk yang tidak mementingkan diri menjadi jalan kita juga, dalam nama kudus Yesus Kristus, amin!