Penatua Stephen A. West
Dari Tujuh Puluh
Semoga kita mengambil keberanian, iman, dan penghiburan dari tindakan-tindakan kecil, hening, dan lembut dari para pengikut Kristus yang memperhatikan, mengasihi, rendah hati, dan berdedikasi.
|
|
Beberapa tahun yang lalu, saya dan istri saya melayani sebagai tenaga sumber untuk sebuah cabang kecil Gereja di tengah kota agak kumuh yang terdiri dari kira-kira tiga puluh lima anggota. Presiden cabangnya, Daniel Sawyer, orang yang sangat saya kagumi, mungkin adalah satu-satunya anggota Cabang itu yang telah menjadi anggota lebih dari tiga atau empat tahun. Pertemuan kami diselenggarakan di sebuah rumah panjang di salah satu lingkungan paling bermasalah dari sebuah kota besar di sebelah timur. Rumah tersebut terletak di jalan di mana banyak bangunan telah dibakar dan dijarah pada waktu terjadi kerusuhan besar di tahun 1968, dan sekarang, 25 tahun kemudian, beberapa dari bangunan yang telah terbakar atau hancur tersebut masih belum diperbaiki atau dibangun kembali. Dari trotoar di bagian luar depan rumah panjang tersebut terdapat beberapa tangga menuju sebuah pintu yang membuka ke arah beberapa kamar yang telah dimodifikasi untuk digunakan sebagai kelas-kelas dan sebagai sebuah kantor. Sebuah bukaan pintu lainnya langsung dari trotoar mengarah turun beberapa anak tangga di bagian dalam menuju ruang bawah tanah, yang dilengkapi dengan meja sakramen, sebuah mimbar untuk penceramah, dan kursi-kursi lipat. Beberapa dari pengalaman Gereja paling mengesankan yang pernah saya dan istri saya alami terjadi di sana.
Pada suatu hari Minggu, tepat di tengah berlangsungnya pertemuan sakramen Cabang, seorang wanita memasuki pintu di luar jalan. Dia adalah wanita tuna wisma yang mengenakan pakaian kotor dan compang-camping, dalam keadaan batuk, tersedak dan membersihkan hidungnya dengan sapu tangan yang kotor. Dengan suara keras dan parau dia berkata, "Saya ingin menyanyi! Saya ingin berdoa!" dan langsung berjalan menuju bangku baris depan dan duduk di sebelah seorang anggota yang mengenakan blus putih, bersandar kepadanya, dan menyandarkan kepalanya di bahu anggota tersebut. Anggota tersebut segera memelukkan lengannya pada tamu ini dan mendekapnya sepanjang sisa waktu pertemuan. Kebetulan penceramah sedang berbicara tentang Orang Samaria yang baik1 ketika wanita tersebut masuk. Sementara wanita ini batuk-batuk dan tersedak, penceramah itu terus menceritakan perumpamaan tersebut. Ketika tiba di akhir ceramahnya dan mengutip sebuah ayat suci rujukan, tiba-tiba, dengan suara keras, wanita tuna wisma ini menyelesaikan lanjutan dari ayat yang mulai dibaca si penceramah. Sewaktu membicarakan hal ini seusai pertemuan sakramen dengan si penceramah, kami berpendapat bahwa mungkin sudah lama sekali seseorang tidak meletakkan tangannya dengan penuh kasih di bahu tamu kami tersebut. Kami bertanya-tanya apakah ada ilustrasi yang lebih baik dari perumpamaan Orang Samaria yang Baik daripada apa yang baru kami lihat, dan kami diingatkan akan perkataan Juruselamat sebelum Dia menceritakan tentang perumpamaan itu, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."2
Pengalaman kedua di Cabang tersebut berhubungan dengan seorang wanita yang baik hati dan cermat, yang dengan setia menyerahkan amplop berisikan beberapa keping uang logam untuk pembayaran persepuluhannya. Suatu hari sewaktu dia datang ke Gereja, dia juga sedang memegang di tangannya kantong plastik dengan sepotong roti yang sudah kering di dalamnya. Dia menyerahkan kantong plastik tersebut kepada kami dan berkata, "Kalau kita mau menjadi anggota Gereja, kita harus menyumbang. Saya tidak dapat menyumbang banyak, tetapi saya dapat menyumbangkan roti sakramen."
Sewaktu kami menggunakan rotinya untuk sakramen, seluruh pengalaman tersebut membawa makna tambahan pada hari itu. Terlintas dalam pikiran saya adalah sebuah ayat yang berbunyi: "Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.
"Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
"Maka dipanggilNya murid-muridNya dan berkata kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
"Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya"3
Pengalaman ketiga di Cabang itu terjadi di tengah sebuah pembahasan yang diadakan para anggota dalam Se-kolah Minggu mengenai kapan kita seharusnya memberikan bantuan kepada mereka yang meminta bantuan. Salah seorang anggota, yang datang bersama istrinya dari Afrika untuk melanjutkan pendidikannya, mengangkat tangannya dan menceritakan kepada kami pengalaman berikut. Sewaktu dia sedang berjalan pulang di lingkungannya, dia dihampiri oleh seorang pria yang menodongkan pistol ke dadanya dan meminta semua uangnya. Anggota kami tersebut mengambil uang dari sakunya dan menyerahkannya kepada pria itu kemudian berkata, "Jika anda sangat membutuhkan uang itu, saya masih ada lagi." Dia membuka tasnya dan mengambil uang tambahan, yang dia berikan kepada perampok itu, sambil mengatakan, "Harap dimengerti, anda tidak mengambil uang ini dari saya; saya memberikannya kepada anda di dalam nama Tuhan karena anda membutuhkannya." Dia mengatakan bahwa perampok itu memandangnya dengan terheran-heran, memasukkan pistolnya ke ikat pinggangnya dan berkata, "Anda tinggal di mana? Saya akan mengantar anda pulang karena anda orang yang terlalu baik untuk berada di jalan-jalan ini, dan anda tidak aman di sini."
Sewaktu mereka mulai berjalan ke apartemen anggota tersebut, tiba-tiba mereka dikelilingi oleh mobil-mobil polisi karena seorang wanita telah melihat perampokan tersebut dari apartemennya dan telah menelepon polisi. Polisi menahan perampok tersebut dan membawanya pergi. Sebagai korbannya, anggota ini kemudian diminta untuk menjadi saksi pada persidangan perampok tersebut. Di pengadilan, dia bersaksi bahwa meskipun perampok telah meminta uang darinya, dia telah mengatakan kepadanya bahwa dia memberikan uang itu kepadanya di dalam nama Tuhan dan bahwa jika perampok tersebut sangat membutuhkan uang itu, dia ingin agar perampok itu memilikinya.
Sejak itu, setiap kali saya mendengar perkataan Juruselamat, "Barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu,"4 pikiran saya tertuju kembali tidak saja pada Tanah Suci tetapi juga pada jalan-jalan yang penuh kejahatan di kota sebelah timur tersebut.
Ini hanyalah beberapa pengalaman zaman modern yang tidak disaksikan oleh banyak orang, tetapi seperti yang diperlihatkannya, ini adalah orang-orang teladan yang hidup dalam kondisi-kondisi yang sulit. Salah seorang anggota, sambil menunjuk pada Kitab Mormon saya yang telah berusia empat puluh tahun, yang sampul kulitnya sebagian besar telah terkoyak karena terlalu sering dipakai, meninggalkan ujung-ujungnya berjumbai dan memperlihatkan kertas bagian dalamnya berkata, "Banyak anggota di Cabang kita mirip seperti Kitab Mormon anda, terkoyak-koyak dan usang di bagian luarnya, tetapi di dalamnya ada hal-hal yang penting dan hebat."
Terakhir, izinkanlah saya menceritakan kepada anda mengenai seorang gadis berusia sembilan tahun keturunan Spanyol-Amerika yang saya wawancarai pada suatu malam di Texas untuk pembaptisan. Saya bertanya kepadanya apakah dia tahu siapa Yesus. Jawabannya adalah, "Ya." "Siapakah Dia?" tanya saya. Sambil mengayunkan tangannya di atas kepalanya dan menunjuk semua yang dia lihat, dia berkata, "Dia memiliki semua ini!" Dapatkah seorang anak berusia sembilan tahun, atau mungkin siapa pun di antara kita, merangkumnya dengan cara yang lebih baik lagi? Hanya dengan empat kata dia telah menguraikan Juruselamat dengan kejelasan yang sangat sederhana: "Dia memiliki semua ini!" Usai wawancara tersebut, dia mengatakan kepada ibunya bahwa dia tidak ingin meninggalkan gedung pertemuan itu, melainkan ingin tinggal dan tidur malam itu di "rumah Yesus." "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."5
Juruselamat berkata kepada para muridNya di Dunia Baru: ". . . Inilah injilKu; dan kamu tahu bahwa hal-hal yang harus kamu lakukan di dalam gerejaKu, karena segala perbuatan yang telah kamu lihat Aku lakukan, demikian pula akan kamu lakukan; karena apa yang telah kamu lihat Aku lakukan, bahkan demikianlah akan kamu lakukan;
"Karena itu berbahagialah kamu jika kamu melakukan hal-hal ini."6
Di pertengahan zaman, di antara hal lainnya, Juruselamat memberikan sebuah sentuhan di sini, sebuah kata yang ramah di sana, makanan (baik yang sesungguhnya maupun yang rohani) kepada orang yang lapar, nasihat dan saran kepada mereka yang membutuhkan. Dia memanjatkan doa dengan yang ketakutan, keramahan kepada yang terabaikan, rasa hormat dan kasih sayang bagi anak-anak, kepedulian yang penuh kasih kepada mereka yang terbebani. "Jadi kita lihat bahwa dengan perbuatan-perbuatan yang kecil, Tuhan dapat mengakibatkan hal-hal yang besar."7 "Oleh karena itu, janganlah jemu dalam berbuat baik, karena kamu sedang meletakkan dasar suatu pekerjaan yang besar. Dan dari hal-hal yang kecil keluarlah hal-hal yang besar."8
Di zaman sekarang ketika begitu banyak dari pengalaman kita sehari-hari tampaknya menunjuk pada sebuah dunia yang bergerak ke arah yang salah, semoga kita memperoleh keberanian, iman dan penghiburan dari tindakan-tindakan yang kecil, hening, dan lembut dari para pengikut Kristus yang peduli, penuh kasih, rendah hati dan berdedikasi. Semoga kita juga dapat menerapkan di dalam kehidupan kita pelajaran-pelajaran yang diajarkan Juruselamat hampir 2.000 tahun yang lalu, adalah doa saya, yang ke atasnya saya menambahkan kesaksian saya bahwa Dia hidup, dan saya melakukannya dalam nama Yesus Kristus, amin.
CATATAN
1. Lihat Lukas 10:3037.
2. Lukas 10:27.
3. Markus 12:4144.
4. Lukas 6:29.
5. Yohanes 17:3.
6. 3 Nefi 27:2122.
7. I Nefi 16:29.
8. A&P 64:33.