|
Memperkuat Keluarga: Tanggung Jawab Kudus Kita
Penatua Robert D. Hales Kuorum Dua Belas Rasul
Kunci untuk memperkuat keluarga kita adalah dengan memiliki Roh Tuhan datang ke dalam rumah tangga kita. Tujuan keluarga kita adalah untuk berada di jalan yang lurus dan sempit.
Memperkuat keluarga adalah tanggung jawab kudus kita sebagai orang tua, anak-anak, sanak keluarga, pemimpin, guru, dan anggota Gereja secara perorangan.
Pentingnya memperkuat keluarga secara rohani diajarkan dengan jelas dalam tulisan suci. Bapak Adam dan Ibu Hawa mengajarkan injil kepada anak-anak mereka. Korban Habel diterima oleh Tuhan, yang dia kasihi. Kain, sebaliknya, "lebih mengasihi Setan dari pada Allah" dan melakukan dosa-dosa berat. Adam dan Hawa "bersedih hati di hadapan Tuhan, disebabkan Kain beserta saudara-saudaranya," tetapi mereka tidak pernah berhenti mengajarkan injil kepada anak-anak mereka (lihat Musa 5:12, 18, 27; 6:1, 58).
Kita harus mengerti bahwa masing-masing dari anak-anak kita dilahirkan dengan berbagai ragam karunia dan bakat. Sebagian, seperti Habel, tampaknya diberikan karunia iman sejak lahir. Yang lainnya harus bergumul dengan setiap keputusan yang mereka buat. Sebagai orang tua, kita hendaknya tidak boleh membiarkan pencarian dan pergumulan anak-anak kita membuat kita goyah atau kehilangan iman kita terhadap Tuhan.
Alma yang Muda, ketika "disiksa dengan siksaan itu . . . [dan] dilukai dengan ingatan akan dosa-dosa[nya] yang banyak," teringat telah mendengar ayahnya mengajarkan tentang kedatangan "Yesus Kristus, Putra Allah, untuk menebus dosa-dosa dunia" (Alma 36:17). Perkataan ayahnya menuntun pada pertobatannya. Demikian pula, ajaran dan kesaksian kita akan diingat oleh anak-anak kita.
Dua ribu teruna pejuang dalam pasukan tentara Helaman bersaksi bahwa para ibu mereka yang saleh telah mengajarkan asas-asas injil dengan kuatnya kepada mereka (lihat Alma 56:4748).
Sewaktu berada dalam pencarian kerohanian yang hebat, Enos berkata, "Perkataan yang telah sering aku dengar dari ayahku mengenai hidup yang kekal . . . sangat berkesan di dalam hatiku" (Enos 1:1, 3).
Dalam Ajaran dan Perjanjian Tuhan mengatakan bahwa orang tua harus mengajar anak-anak mereka agar "memahami ajaran pertobatan, beriman kepada Kristus, Putra Allah yang hidup, dan tentang baptisan serta karunia Roh Kudus dengan penumpangan tangan, bila mereka berumur delapan tahun. . . .
"Dan mereka juga harus mengajar anak-anak mereka untuk berdoa dan hidup tanpa cela di hadapan Tuhan" (A&P 68:25, 28).
Sewaktu kita mengajarkan injil kepada anak-anak kita melalui perkataan dan teladan, keluarga kita diperkuat dan diperteguh secara rohani.
Perkataan para nabi yang hidup jelas mengenai kewajiban kudus kita untuk memperkuat keluarga kita secara rohani. Pada tahun 1995 Presidensi Utama dan Dewan Dua Belas Rasul menerbitkan suatu pernyataan kepada dunia, menyatakan bahwa "keluarga merupakan inti dalam rencana Sang Pencipta bagi tujuan kekal anak-anakNya. . . . Suami dan istri memiliki tanggung jawab kudus untuk mengasihi dan memelihara satu sama lain dan anak-anak mereka. . . . Orang tua memiliki kewajiban kudus untuk membesarkan anak-anak mereka dalam kasih dan kebenaran, menyediakan kebutuhan fisik dan rohani mereka, mengajar mereka untuk saling mengasihi dan melayani, [dan] untuk mematuhi perintah-perintah Allah" ("Keluarga: Pernyataan Kepada Dunia," EE, Nov. 1995, 102; Liahona, Juni 1996, 1011).
Bulan Februari tahun ini, Presidensi Utama menerbitkan sebuah seruan kepada semua orang tua "agar mencurahkan usaha terbaik mereka untuk mengajar dan membesarkan anak-anak mereka dalam asas-asas injil yang akan menjaga mereka tetap dekat pada Gereja. Rumah tangga adalah dasar dari kehidupan yang benar, dan tidak ada sarana lain dapat menggantikan kedudukannya atau memenuhi fungsi-fungsi pentingnya dalam melaksanakan tanggung jawab yang diberikan Allah ini."
Dalam surat bulan Februari itu, Presidensi Utama mengajarkan bahwa dengan mengajar dan membesarkan anak-anak dalam asas-asas injil, orang tua dapat melindungi keluarga mereka dari unsur-unsur perusak. Mereka lebih lanjut menasihati para orang tua dan anak-anak "untuk memberikan prioritas tertinggi kepada doa keluarga, malam keluarga, pelajaran dan pengajaran injil, serta kegiatan-kegiatan keluarga yang sehat. Betapa pun layak dan pantasnya tuntutan atau kegiatan-kegiatan lain, hal itu tidak boleh diperkenankan untuk menggantikan tanggung jawab yang diberikan secara ilahi, yang hanya dapat dilakukan oleh orang tua dan keluarga secara memadai" (Surat Presidensi Utama, 11 Feb. 1999; dikutip dalam Church News, 27 Feb. 1999, 3).
Dengan bantuan Tuhan dan ajaranNya, semua dampak menyakitkan dari tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi sebuah keluarga dapat dimengerti dan diatasi. Apa pun kiranya kebutuhan para anggota keluarga, kita dapat memperkuat keluarga kita sewaktu kita mengikuti nasihat yang diberikan para nabi.
Kunci untuk memperkuat keluarga kita adalah dengan memiliki Roh Tuhan datang ke dalam rumah tangga kita. Tujuan keluarga kita adalah untuk berada di jalan yang lurus dan sempit.
Banyak hal dapat dilakukan di antara dinding-dinding rumah tangga kita untuk memperkuat keluarga. Izinkanlah saya membagikan beberapa gagasan yang dapat menolong mengenali bidang-bidang yang perlu diperkuat di dalam keluarga kita sendiri. Saya menawarkannya dalam semangat imbauan, dengan mengetahui bahwa setiap keluarga--dan setiap anggota keluarga--adalah unik.
Jadikanlah rumah kita tempat yang aman di mana setiap anggota keluarga merasakan kasih dan suatu rasa memiliki. Sadarilah bahwa masing-masing anak memiliki karunia dan kemampuan yang berbeda-beda; masing-masing adalah suatu pribadi yang menuntut kasih dan perhatian yang khusus.
Ingatlah, "jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman" (Amsal 15:1). Sewaktu saya dan istri terkasih saya dimeteraikan di Bait Suci Salt Lake, Penatua Harold B. Lee memberi kami nasihat yang bijaksana: "Sewaktu anda menaikkan suara anda dalam kemarahan, Roh akan pergi dari rumah anda." Kita jangan sekali-sekali, karena kemarahan, mengunci pintu rumah kita atau hati kita terhadap anak-anak kita. Seperti anak yang hilang, anak-anak kita perlu mengetahui bahwa sewaktu mereka tenang kembali mereka dapat berpaling kepada kita untuk kasih dan nasihat.
Luangkanlah waktu secara pribadi dengan anak-anak kita, membiarkan mereka memilih kegiatan dan pokok pembicaraan. Hindarilah gangguan-gangguan.
Doronglah perilaku keagamaan pribadi anak-anak kita, misalnya doa pribadi, belajar tulisan suci pribadi, dan berpuasa untuk kebutuhan-kebutuhan khusus. Ukurlah pertumbuhan rohani mereka dengan mengamati tindakan, bahasa, dan perilaku mereka terhadap orang lain.
Berdoalah setiap hari bersama anak-anak kita.
Bacalah tulisan suci bersama-sama. Saya teringat ibu dan ayah saya sendiri membacakan tulisan suci sementara kami anak-anak duduk di lantai mendengarkan. Kadang-kadang mereka bertanya, "Apakah makna tulisan suci itu bagimu?" atau, "Bagaimana perasaanmu tentangnya?" Kemudian mereka mendengarkan kami sementara kami menanggapi dalam kata-kata kami sendiri.
Bacalah perkataan nabi yang hidup dan artikel-artikel lainnya yang mengilhami untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa di majalah-majalah Gereja.
Kita dapat mengisi rumah tangga kita dengan alunan musik yang layak sewaktu kita menyanyi bersama dari Nyanyian Rohani dan Buku Nyanyian Anak-anak.
Adakanlah malam keluarga setiap minggu. Sebagai orang tua, kita kadang-kadang terlalu takut untuk mengajar atau bersaksi kepada anak-anak kita. Saya pernah bersalah akan hal itu dalam kehidupan saya sendiri. Anak-anak kita memerlukan kita untuk membagikan perasaan-perasaan rohani dengan mereka dan untuk mengajar serta memberikan kesaksian kepada mereka.
Adakanlah dewan keluarga untuk membahas rencana dan keprihatinan keluarga. Di antara dewan keluarga yang paling efektif adalah mengadakannya satu per satu dengan setiap anggota. Bantulah anak-anak kita mengetahui bahwa gagasan-gagasan mereka adalah penting. Dengarkanlah mereka dan belajarlah dari mereka.
Undanglah misionari untuk mengajar teman-teman yang kurang aktif atau yang bukan anggota di rumah kita.
Perlihatkan bahwa kita mendukung dan menjunjung para pemimpin Gereja.
Makanlah bersama-sama bila mungkin, dan adakan diskusi yang bermakna pada waktu makan bersama.
Bekerjalah bersama sebagai keluarga, bahkan akan lebih cepat dan lebih mudah untuk melakukan pekerjaan itu sendiri. Berbicaralah dengan putra dan putri kita sewaktu kita bekerja bersama. Saya memiliki kesempatan itu setiap hari Sabtu dengan ayah saya.
Bantulah anak-anak kita belajar cara membina persahabatan yang baik dan buatlah teman-teman mereka merasa diterima di rumah kita. Kenalilah orang tua dari teman-teman anak-anak kita.
Ajarlah anak-anak kita melalui contoh bagaimana cara mengelola waktu dan sumber-sumber. Bantulah mereka belajar kemandirian dan pentingnya bersiap bagi masa depan.
Ajarlah anak-anak kita sejarah tentang leluhur kita dan tentang sejarah keluarga kita sendiri.
Bangunlah tradisi-tradisi keluarga. Rencanakan dan lakukan liburan yang bermakna bersama-sama, dengan mempertimbangkan kebutuhan, bakat, dan kemampuan anak-anak kita. Bantulah mereka menciptakan kenangan-kenangan bahagia, meningkatkan bakat mereka, dan membina rasa harga diri mereka.
Melalui perkataan dan teladan, ajarkan nilai-nilai moral dan komitmen untuk mematuhi perintah-perintah.
Setelah pembaptisan dan penetapan saya, ibu saya menarik saya ke tepi dan bertanya, "Apa yang kamu rasakan?" Saya menjelaskan sebaik mungkin perasaan hangat kedamaian, penghiburan, dan kebahagiaan yang saya miliki. Ibu menjelaskan bahwa apa yang saya rasakan adalah karunia yang baru saya terima, karunia Roh Kudus. Dia memberitahu saya bahwa bila saya hidup layak akan hal itu, saya akan memiliki karunia tersebut bersama saya secara terus menerus. Itu merupakan suatu saat pengajaran yang telah hidup bersama saya sepanjang hidup saya.
Ajarkan anak-anak kita pentingnya pembaptisan dan penetapan, menerima karunia Roh Kudus, mengambil sakramen, menghormati imamat, dan membuat serta mematuhi perjanjian-perjanjian bait suci. Mereka perlu mengetahui pentingnya hidup layak akan rekomendasi bait suci dan mempersiapkan diri bagi pernikahan bait suci.
Jika anda belum dimeteraikan di bait suci kepada pasangan atau anak-anak anda, berusahalah bersama sebagai keluarga untuk menerima berkat-berkat bait suci. Buatlah tujuan-tujuan untuk pergi ke bait suci sebagai sebuah keluarga.
Jadilah layak akan imamat yang anda pegang, para brother, dan gunakan imamat itu untuk memberkati kehidupan keluarga anda.
Melalui kuasa Imamat Melkisedek, kuduskanlah rumah anda.
Sumber-sumber tersedia di luar rumah. Penggunaan terhadapnya secara bijaksana akan memperkuat keluarga kita.
Doronglah anak-anak kita untuk melayani di Gereja dan masyarakat.
Berbicaralah kepada para guru, pelatih, penasihat, pembina, dan pemimpin Gereja anak-anak kita me- ngenai keprihatinan kita dan kebutuhan anak-anak kita.
Ketahuilah apa yang dilakukan anak-anak kita di waktu luang mereka. Pengaruhilah pilihan mereka akan film di bioskop, acara televisi, dan video. Jika mereka menggunakan Internet, ketahuilah apa yang mereka lakukan. Bantulah mereka memahami pentingnya hiburan yang sehat.
Dukunglah kegiatan sekolah yang bermanfaat. Ketahuilah apa yang dipelajari anak-anak kita. Bantulah mereka dalam mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Bantulah mereka menyadari pentingnya pendidikan dan bersiap bagi pekerjaan dan kemandirian.
Remaja Putri: hadirilah Lembaga Pertolongan ketika anda mencapai ulang tahun anda ke 18. Sebagian dari anda mungkin ragu melakukan transisi tersebut. Anda mungkin takut anda tidak akan cocok. Para sister muda saya, tidak demikianlah halnya. Ada banyak dalam Lembaga Pertolongan bagi anda. Lembaga itu dapat menjadi suatu berkat bagi anda sepanjang hidup anda.
Remaja Putra: Hormatilah Imamat Harun. Itu merupakan imamat persiapan, mempersiapkan anda bagi Imamat Melkisedek. Jadilah aktif sepenuhnya dalam kuorum penatua sewaktu anda ditahbiskan ke Imamat Melkisedek. Persaudaraan, pengajaran kuorum, dan kesempatan untuk melayani sesama akan memberkati anda dan keluarga anda sepanjang hidup anda.
Setiap keluarga dapat diperkuat dalam satu atau lain cara jika Roh Tuhan dihadirkan ke dalam rumah kita dan kita mengajar melalui teladanNya.
Bertindaklah dengan iman; jangan bereaksi dengan ketakutan. Sewaktu para remaja kita mulai menguji nilai-nilai keluarga, orang tua perlu datang kepada Tuhan untuk bimbingan mengenai kebutuhan khusus dari setiap anggota keluarga. Ini adalah waktunya bagi tambahan kasih dan dukungan serta untuk menegaskan pengajaran-pengajaran anda mengenai cara membuat pilihan. Adalah menakutkan untuk membiarkan anak-anak kita belajar dari kesalahan yang mungkin mereka perbuat, tetapi kesediaan mereka untuk memilih jalan Tuhan dan nilai-nilai keluarga lebih besar sewaktu pilihan itu datang dari dalam daripada sewaktu kita berusaha untuk memaksakan nilai-nilai tersebut pada mereka. Cara kasih dan penerimaan Tuhan adalah lebih baik daripada cara pemaksaan dan kecaman Setan, khususnya dalam membesarkan anak-anak remaja.
Ingatlah perkataan Nabi Joseph Smith: "Tidak ada yang begitu diperhitungkan untuk menuntun orang untuk meninggalkan dosa selain memegang tangan mereka, dan mengawasi mereka dengan kelemahlembutan. Sewaktu orang memperlihatkan sedikit saja kebaikan dan kasih kepada saya, oh betapa besar kuasanya atas pikiran saya, sementara tindakan sebaliknya memiliki kecenderungan untuk menumpukkan semua perasaan yang kasar dan menekan pikiran manusia" (Teachings of the Prophet Joseph Smith, diseleksi oleh Joseph Fielding Smith [1976], 240).
Sementara kita mungkin menjadi putus asa ketika, setelah semua yang dapat kita lakukan, beberapa dari anak-anak kita tersesat dari jalan kebenaran, perkataan Orson F. Whitney dapat menghibur kita, "Meskipun sebagian domba mungkin tersesat, mata Gembala akan tetap mengawasi mereka, dan cepat atau lambat mereka akan merasakan adanya Pemeliharaan Ilahi yang meraih mereka dan menarik mereka kembali ke dalam kawanan domba. Baik di dalam kehidupan ini maupun di dalam kehidupan yang akan datang, mereka akan kembali. Mereka harus membayar hutang mereka pada keadilan; mereka akan menderita bagi dosa-dosa mereka; dan mungkin harus melalui jalan berduri; tetapi jika ini menuntun mereka pada akhirnya, seperti Anak yang Hilang yang penuh sesal, kembali ke hati dan rumah seorang [ibu dan] ayah yang mengasihi dan mengampuni, maka pengalaman yang menyakitkan itu tidak akan sia-sia. Berdoalah bagi anak-anak [kita] yang ceroboh dan tidak patuh; berpeganglah pada mereka dengan iman [kita]. Tetaplah berharap, tetaplah percaya, sampai anda melihat keselamatan Allah." (Orson F. Whitney, dalam Conference Report, Apr. 1929, 110).
Bagaimana jika anda masih lajang atau belum diberkati dengan anak-anak? Apakah anda perlu peduli mengenai nasihat tentang keluarga? Ya. Ini adalah hal yang kita semua perlu pelajari dalam kehidupan bumi. Para anggota dewasa yang belum menikah sering dapat memberikan jenis kekuatan yang khusus bagi keluarga, menjadi sumber dukungan, penerimaan, dan kasih yang sangat kuat bagi keluarga mereka dan keluarga-keluarga dari yang ada di sekitar mereka.
Banyak anggota dewasa dari sanak keluarga melakukan banyak peran keorangtuaan sebagai hak mereka. Kakek dan nenek, paman dan bibi, saudara laki-laki dan perempuan, keponakan laki-laki dan perempuan, saudara sepupu dan para anggota keluarga lainnya dapat memiliki pengaruh yang besar terhadap keluarga. Saya ingin mengucapkan penghormatan saya kepada mereka di antara sanak keluarga saya sendiri yang telah membimbing saya melalui teladan dan kesaksian mereka. Kadang-kadang anggota sanak keluarga dapat mengucapkan hal-hal yang tidak dapat diucapkan oleh orang tua tanpa memulai perdebatan. Setelah diskusi panjang dari hati ke hati dengan ibunya, seorang remaja putri berkata, "Akan sulit sekali memberitahukan kepada Ibu dan Ayah saya telah melakukan sesuatu yang salah. Tetapi jauh lebih sulit mengatakannya kepada bibi Susan. Saya tidak mungkin bisa membuatnya kecewa."
Mengetahui bahwa kita berada dalam kefanaan untuk belajar dan untuk mengembangkan iman kita, kita hendaknya memahami bahwa harus ada pertentangan dalam segala hal. Dalam acara dewan keluarga di rumah kami sendiri, istri saya berkata, "Sewaktu kamu mengira bahwa seseorang memiliki keluarga yang sempurna, itu berarti bahwa kamu belum mengenal mereka cukup dekat."
Brother dan Sister sekalian, sebagai orang tua marilah kita mengindahkan nasihat, bahkan teguran, yang Tuhan berikan kepada Joseph Smith dan para pemimpin Gereja di tahun 1833 untuk "menertibkan rumah [kita] sendiri" (A&P 93:43). "Aku telah memerintahkan kamu untuk mendidik anak-anakmu dalam terang dan kebenaran" (A&P 93:40). "Tertibkan keluarga [kita], dan usahakan agar mereka di rumah lebih rajin dan lebih memperhatikan dan selalu berdoa, kalau tidak mereka akan disingkirkan dari tempat mereka" (A&P 93:50).
Para nabi zaman kita telah memberikan nasihat dan peringatan serupa kepada orang tua untuk menertibkan keluarga kita. Semoga kita diberkati dengan ilham dan kasih untuk menghadapi pertentangan dengan kasih dalam keluarga kita. Kita kemudian akan tahu bahwa cobaan-cobaan kita akan menjadikan kita lebih dekat lagi kepada Tuhan dan kepada satu sama lain. Semoga kita mendengarkan suara nabi dan menertibkan keluarga kita sendiri (lihat A&P 93:4149). Keluarga diperkuat sewaktu kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan, dan setiap anggota keluarga diperkuat sewaktu kita saling mengangkat dan memperkuat serta mengasihi dan mempedulikan. "Engkau mengangkat aku dan aku akan mengangkat engkau, maka kita akan naik bersama-sama" (Pepatah Quaker).
Semoga kita dapat menyambut dan mempertahankan Roh Tuhan di dalam rumah kita untuk memperkuat keluarga kita. Agar setiap anggota keluarga kita dapat tetap berada di "jalan yang lurus dan sempit ini yang menuju hidup yang kekal" (2 Nefi 31:18), saya doakan dalam nama Yesus Kristus, amin.
|