The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April dari 1999
"Ia Tidak Ada Di Sini, Ia Telah Bangkit"

"Ia Tidak Ada Di Sini, Ia Telah Bangkit"

Presiden Gordon B. Hinckley

Perkataan sederhana ini--"Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit"--telah menjadi perkataan yang paling bermakna dalam semua karya tulis. . . . Pernyataan itu merupakan penggenapan dari semua yang telah diucapkanNya mengenai bangkit kembali.

Presiden Gordon B. Hinckley

Brother dan sister sekalian, saya merasa sangat bersyukur sewaktu saya berdiri di hadapan anda. Di antara semua orang, saya merasa begitu banyak diberkati. Saya diberkati dengan kasih anda. Ke mana pun saya pergi, anda begitu amat baik kepada saya. Saya diberkati oleh iman anda. Pelayanan anda yang luar biasa, pengabdian anda, kesetiaan anda, semuanya menjadi bagian dari iman saya sendiri. Betapa sangat luar biasanya anda. Jelas terlihat bahwa injil, sewaktu dijalankan, membuat orang menjadi lebih baik daripada jika mereka tidak menjalankannya.

Betapa anda tidak mementingkan diri dengan waktu anda dan sumber-sumber anda. Di seluruh dunia yang luas ini anda melayani untuk membangun kerajaan Bapa kita dan untuk memajukan pekerjaanNya.

Saya menelepon seorang pria minggu lalu. Dia telah pensiun. Dia pernah melayani sebagai presiden misi, dan dia bersama istrinya sekarang melayani sebagai misionari. Saya bertanya kepadanya apakah mereka bersedia untuk pergi memimpin sebuah bait suci yang baru. Dia menangis karena haru. Dia dipenuhi emosi. Dia tidak dapat mengatakan apa-apa. Dia dan istrinya akan meninggalkan anak-anak dan cucu-cucu mereka untuk jangka waktu yang lebih lama lagi untuk melayani Tuhan dalam kapasitas lainnya. Akankah mereka merindukan cucu-cucu mereka? Tentu saja. Tetapi mereka akan pergi, dan mereka akan melayani dengan setia.

Betapa sangat bersyukurnya saya atas pengabdian dan kesetiaan para anggota Gereja di seluruh dunia yang menerima setiap pemanggilan, tidak masalah kerepotannya, tidak masalah kenyamanan apa yang harus mereka sisihkan.

Tetapi di antara semua hal yang saya syukuri, saya paling bersyukur pada pagi Paskah ini atas karunia Tuhan saya dan Penebus saya. Ini adalah hari Paskah, di mana, bersama semua umat Kristen, kita merayakan Kebangkitan Yesus Kristus.

Ini bukanlah sesuatu yang biasa. Ini adalah peristiwa paling besar dalam sejarah umat manusia. Saya tidak ragu-ragu untuk mengatakan hal itu.

"Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?" tanya Ayub (Ayub 14:14). Tidak ada pertanyaan yang lebih penting daripada pertanyaan ini.

Mereka di antara kita yang hidup dalam kenyamanan dan ketentraman jarang memikirkan tentang kematian. Pikiran kita tertuju pada hal-hal lain. Namun tidak ada yang lebih pasti, tidak ada yang lebih universil, tidak ada yang lebih final daripada berakhirnya kehidupan fana. Tidak seorang pun dapat terluput darinya, tidak seorang pun.

Saya pernah berdiri di makam Napoleon di Paris, di makam Lenin di Moskow, dan di depan tempat pemakaman banyak orang lainnya di antara para pemimpin besar di bumi. Pada zaman mereka, mereka memimpin pasukan tentara, mereka memerintah hampir dengan kekuatan yang tak terbatas, ucapan-ucapan mereka membawa kengerian di dalam hati rakyat. Saya telah berjalan dengan khidmat di antara beberapa makam besar dunia. Saya merenung dengan tenang dan khidmat sementara saya berdiri di pemakaman tentara di Manila, Filipina di mana terkubur 17.000 orang Amerika yang telah menyerahkan nyawa mereka dalam Perang Dunia Kedua dan di mana dikenang 35.000 prajurit lainnya yang meninggal dalam pertempuran Pasifik yang mengerikan dan yang jenazahnya tidak pernah ditemukan. Saya telah berjalan dengan khidmat melintasi pemakaman orang Inggris di luar kota Rangoon, Myanmar, dan memperhatikan nama ribuan pemuda yang berasal dari desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar Kepulauan Inggris dan yang telah menyerahkan nyawa mereka di tempat-tempat yang panas dan jauh. Saya telah berjalan-jalan melintasi makam-makam tua di Asia dan Eropa dan tempat-tempat lainnya serta merenungkan kehidupan mereka yang dahulunya bersemangat dan bahagia, yang kreatif dan terkenal, yang telah memberikan banyak kepada dunia tempat mereka tinggal. Mereka semua telah melanjutkan ke dalam makam yang terlupakan. Semua orang yang pernah hidup di bumi sebelum kita kini telah tiada. Mereka telah meninggalkan semua yang mereka miliki sewaktu mereka melewati pintu gerbang kematian yang sunyi. Tidak seorang pun terluput. Semuanya telah menempuh jalan menuju "negeri yang belum pernah ditemukan yang mana tak seorang petualang pun pernah kembali." (Hamlet, babak 3, bagian 1, baris 79­80). Shakespeare menguraikannya demikian.

Tetapi Yesus Kristus telah mengubah semua itu. Hanya seorang Allah yang dapat melakukan apa yang telah Dia lakukan. Dia telah memutuskan belenggu kematian. Dia sendiri pun harus mati, tetapi pada hari yang ketiga, setelah pemakamanNya, Dia bangkit dari kubur, "sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (I Kor. 15:20), dan dengan melakukan demikian mendatangkan berkat Kebangkitan kepada kita semua.

Merenungkan hal yang menakjubkan ini, Paulus menyatakan: "Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (I Kor. 15:55).

Dua minggu yang lalu, saya berada di Yerusalem, kota besar dan kuno itu di mana Yesus berjalan 2.000 tahun yang lalu. Sementara berdiri di daerah ketinggian, saya memandang ke bawah ke arah Kota Tua itu. Saya memikirkan tentang Betlehem, beberapa mil ke arah selatan, di mana Dia dilahirkan di sebuah palungan yang sederhana. Dia yang merupakan Putra Allah, Putra Tunggal yang Diperanakkan Allah, meninggalkan kerajaan Selestial BapaNya untuk menerima kefanaan. Pada kelahiranNya, para malaikat bernyanyi dan Orang-orang Majus datang memberikan hadiah. Dia tumbuh seperti anak-anak lainnya di Nazaret, Galilea. Di sana Dia "makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Lukas 2:52).

Bersama Maria dan Yusuf, dia mengunjungi Yerusalem ketika berusia 12 tahun. Dalam perjalanan mereka pulang, mereka kehilangan diriNya. Mereka kembali ke Yerusalem dan menemukanNya di bait suci sedang bercakap-cakap dengan alim ulama. Ketika Maria memarahiNya karena tidak berada bersama mereka, Dia menjawab, "Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?" (Lukas 2:49). PerkataanNya adalah pertanda awal dari pelayanan masa depanNya.

Pelayanan itu dimulai dengan pembaptisanNya di sungai Yordan oleh saudara sepupuNya, Yohanes. Ketika Dia keluar dari air, Roh Kudus turun ke atasNya dalam bentuk burung merpati, dan suara BapaNya terdengar, me- ngatakan, "Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan" (Matius 3:17). Pernyataan itu menjadi penegasan akan keilahianNya.

Dia berpuasa selama 40 hari dan digoda oleh iblis, yang berusaha menyisihkan Dia dari misiNya yang telah ditetapkan secara ilahi. Terhadap ajakan musuh tersebut, Dia menjawab, "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu" (Matius 4:7), kembali menyatakan keputraanNya yang ilahi.

Dia menjalani jalan-jalan berdebu Palestina. Dia tidak memiliki rumah yang dapat Dia sebut milikNya sendiri, tidak ada tempat untuk meletakkan kepalaNya. PesanNya adalah injil kedamaian. Ajaran-ajaranNya adalah tentang kemurahan hati dan kasih. "Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu" (Matius 5:40).

Dia mengajar dengan perumpamaan. Dia melakukan mukjizat yang belum pernah dilakukan sebelumnya atau sesudahnya sejak itu. Dia menyembuhkan mereka yang penyakitnya telah lama diderita. Dia menyembuhkan orang buta untuk melihat, orang tuli untuk mendengar, orang lumpuh untuk berjalan. Dia menghidupkan kembali orang yang mati dan mereka hidup kembali untuk memujiNya. Tentunya belum pernah ada orang yang melakukan hal seperti itu.

Beberapa orang mengikutiNya, tetapi sebagian besar membenciNya. Dia berbicara tentang ahli Taurat dan orang Farisi sebagai orang yang munafik, seperti kuburan yang dilabur putih. Mereka bersekongkol melawan Dia. Dia mengusir para penukar uang dari Rumah Tuhan. Mereka tak ragu lagi bergabung dengan mereka yang merencanakan untuk membinasakan Dia. Tetapi Dia tidak gentar. Dia "berjalan berkeliling sambil berbuat baik" (Kisah para Rasul 10:38).

Tidakkah semua ini cukup untuk menjadikan kenangan tentang diriNya baka? Tidakkah ini cukup untuk menempatkan namaNya di antara, dan bahkan di atas, orang-orang besar itu yang pernah hidup di bumi dan yang telah dikenang untuk apa yang telah mereka katakan atau perbuat? Tentu saja Dia telah dikelompokkan di antara para nabi besar sepanjang masa.

Tetapi semua ini tidaklah cukup bagi Putra Yang Mahakuasa. Ini hanyalah merupakan pendahuluan terhadap hal-hal besar yang akan datang. Hal-hal besar itu datang dengan cara yang aneh dan mengerikan.

Dia dikhianati, ditahan, dihukum mati, untuk mati dalam kesakitan yang mengerikan melalui penyaliban. TubuhNya yang masih hidup dipakukan pada salib dari kayu. Dalam kesakitan yang luar biasa, nyawaNya perlahan-lahan meninggalkannya. Sementara masih bernafas, Dia berseru, "Ya, Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34).

Bumi terguncang sewaktu rohNya berlalu. Kepala pasukan yang telah melihatnya, menyatakan dengan penuh hormat, "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah" (Matius 27:54).

Mereka yang mengasihiNya mengambil tubuhNya dari salib itu. Mereka mengafaniNya dan menempatkanNya di sebuah kubur baru yang ditawarkan oleh Yusuf, orang Arimatea. Kubur itu ditutup dengan sebuah batu besar pada pintunya, dan penjaga ditempatkan.

Teman-temanNya pasti meratap. Para Rasul yang dikasihiNya dan yang telah Dia panggil sebagai saksi akan keilahianNya menangis. Para wanita yang mengasihiNya meratap. Tidak seorang pun yang memahami apa yang dikatakanNya mengenai bangkit pada hari ketiga. Bagaimana mereka dapat mengerti? Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Itu sama sekali belum pernah dialami sebelumnya. Itu sulit dipercaya, bahkan oleh mereka.

Pasti ada perasaan mengerikan, patah semangat dan putus asa serta kesedihan sewaktu mereka memikirkan tentang Tuhan mereka yang telah direnggut dari mereka dalam kematian.

Tetapi itu bukanlah akhirnya. Pada pagi di hari ketiga, Maria Magdalena dan Maria lainnya kembali ke kubur. Betapa terkejutnya mereka, batu penutup telah digulingkan dan kubur itu terbuka. Mereka menengok ke dalam. Dua makhluk berpakaian putih duduk di kedua ujung kubur. Seorang malaikat menampakkan diri kepada mereka dan berkata, "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?

"Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakanNya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea,

"yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga" (Lukas 24:5­7).

Perkataan sederhana ini--"Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit"--telah menjadi perkataan yang paling bermakna dalam semua karya tulis. Kata-kata itu merupakan pernyataan terhadap kubur yang kosong. Pernyataan itu merupakan penggenapan dari semua yang telah diucapkanNya mengenai bangkit kembali. Ucapan itu adalah jawaban kemenangan terhadap pertanyaan yang diajukan setiap pria, wanita, dan anak yang pernah dilahirkan ke bumi.

Tuhan yang telah bangkit berbicara kepada Maria, dan Dia menjawab. Dia bukanlah hantu. Ini bukanlah suatu khayalan. Dia sungguh-sungguh nyata, senyata ketika Dia berada di dunia fana. Dia tidak mengizinkan Maria untuk menyentuhNya. Dia belum lagi pergi kepada BapaNya di surga. Itu akan segera terjadi. Betapa itu merupakan suatu reuni yang istimewa, dipeluk oleh Bapa yang mengasihiNya, dan yang pasti juga telah meratap bagiNya selama jam-jam kesengsaraanNya.

Dia kemudian menampakkan diri kepada dua orang di jalan menuju Emaus. Dia bercakap-cakap dengan mereka dan makan bersama mereka. Dia menemui para rasulNya di dalam ruangan tertutup dan mengajar mereka. Tomas tidak hadir pada kejadian yang pertama. Pada kejadian yang kedua, Tuhan mengundangNya untuk merasakan tanganNya dan lambungNya. Dalam keheranan tak terkira dia berseru, "Ya TuhanKu dan Allahku" (Yohanes 20:28). Dia berbicara kepada 500 orang pada suatu kesempatan.

Siapa yang dapat membantah dokumentasi tentang kenyataan ini? Tidak ada catatan adanya penyangkalan kesaksian dari mereka yang telah memperoleh pengalaman-pengalaman ini. Terdapat banyak bukti bahwa mereka memberikan kesaksian tentang peristiwa-peristiwa ini sepanjang kehidupan mereka, bahkan menyerahkan nyawa mereka sebagai penegasan akan kenyataan dari hal-hal yang telah mereka alami. Ucapan mereka jelas, dan kesaksian mereka pasti.

Jutaan pria dan wanita selama berabad-abad telah menerima kesaksian itu. Tak terhitung jumlahnya yang pernah hidup dan mati dalam pembelaan akan kebenaran itu, yang telah datang kepada mereka melalui kuasa Roh Kudus dan yang tidak dapat mereka sangkal dalam kebenarannya. Tentunya tidak ada peristiwa dalam sejarah manusia yang telah diuji lebih luas mengenai keabsahannya.

Dan masih ada saksi lain. Pendamping Alkitab ini, yaitu Kitab Mormon, bersaksi bahwa Dia tidak saja menampakkan diriNya kepada mereka dari Dunia Lama, tetapi juga mereka dari Dunia Baru. Karena bukankah Dia pernah mengatakan, "Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala"? (Yohanes 10:16).

Kepada mereka dari belahan bumi ini, Dia menampakkan diri setelah KebangkitanNya. Sewaktu Dia turun melalui awan-awan di langit, suara Allah Bapa yang Kekal terdengar kembali dalam pernyataan yang khusyuk: "Lihatlah PutraKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, di dalamNya Aku telah memuliakan namaKu--dengarkanlah Dia" (3 Nefi 11:7).

Kembali di sini Dia memanggil dua belas Rasul yang akan menjadi saksi bagi nama dan keilahianNya. Dia mengajar orang-orang dan memberkati serta menyembuhkan mereka seperti yang Dia lakukan di Palestina, dan kedamaian menyelimuti negeri itu selama 200 tahun sementara orang-orang berusaha hidup sesuai dengan yang Dia ajarkan kepada mereka.

Dan jika semua ini belum cukup, masih ada kesaksian pasti dan yakin dan tanpa diragukan, dari nabi besar masa kelegaan ini, Joseph Smith. Sewaktu masih muda dia pergi ke hutan untuk berdoa memohon terang dan pengertian. Dan di sana tampak di hadapanNya dua Makhluk, yang terang dan kemuliaanNya tidak dapat dilukiskan, berdiri di atasnya di udara. Salah seorang di antaraNya berbicara kepadanya, memanggil "namanya dan mengatakan sambil menunjuk kepada yang lain: Inilah PutraKu yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia!" (Joseph Smith 2:17).

Joseph yang sama ini mengatakan pada kejadian selanjutnya: "Kami melihat kemuliaan Putra di sebelah kanan Bapa, dan menerima kepenuhanNya; . . .

"Maka, setelah banyak kesaksian yang telah diberikan megenai Dia, inilah kesaksian yang terakhir dari semuanya yang kami berikan: Bahwa Dia hidup!" (A&P 76:20, 22).

Maka pada pagi Paskah yang indah ini, sebagai para hamba Yang Mahakuasa, sebagai nabi dan rasul dalam pekerjaan besarNya, kami mengangkat suara kami dalam saksi dan kesaksian tentang Juruselamat baka kita. Dia datang ke bumi sebagai Putra dari Bapa yang Abadi. Dia telah melakukan seperti yang telah dinubuatkan oleh Yesaya harus Dia lakukan. Dia telah menanggung "penyakit dan kesengsaraan kita. . . .

". . . Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:4­5).

Dalam kebakaan yang abadi Dia bangkit di hari ketiga dari kubur batu itu. Dia berbicara dengan banyak orang. BapaNya berulang-ulang menegaskan keputraanNya yang ilahi.

Puji syukur kepada Yang Mahakuasa. PutraNya yang dimuliakan telah memutuskan belenggu kematian, yang terbesar di antara semua kemenangan. Seperti yang dinyatakan oleh Paulus, "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (I Kor. 15:22).

Dia adalah Tuhan penuh kemenangan kita. Dia adalah Penebus kita yang telah menebus dosa-dosa kita. Melalui korban penebusanNya semua manusia akan bangkit dari kubur. Dia telah membukakan jalan agar kita dapat memperoleh tidak saja kebakaan, tetapi juga kehidupan kekal.

Sebagai rasul Tuhan Yesus Kristus, saya memberi saksi dan kesaksian hal-hal ini pada hari Paskah ini. Saya berbicara dalam kekhidmatan dan kekhusyukan dan rasa syukur, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy