The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April dari 1999
Kesejahteraan Gereja Yang Diilhami

Kesejahteraan Gereja Yang Diilhami

Penatua Joseph B. Whirthlin
Dari Kuorum Dua Belas Rasul

Juruselamat, yang sudah menetapkan polanya ini bagi kita, senang dengan mereka yang "dalam segala hal [meng]ingat yang miskin dan yang membutuhkan, yang sakit dan yang menderita" (A&P 52:40).

Penatua Joseph B. Whirthlin

Brother dan sister saya terkasih, betapa ini telah merupakan hari Paskah yang luar biasa. Sewaktu kita membayangkan kehidupan Juruselamat dan KebangkitanNya, tentunya banyak bayangan dari mereka yang memohon bantuanNya muncul di benak saya. Saya dapat dengan mudah membayangkan kaki yang cacat dari seseorang yang tak dapat berjalan sejak lahir atau air mata yang mengalir di pipi janda ketika dia mengikuti tubuh putra tunggalnya ketika dibawa ke kuburan. Saya melihat mata-mata kosong orang yang kelaparan, tangan-tangan gemetar dari orang yang sakit, suara memohon dari orang yang dikutuk, pandangan putus asa dari orang-orang yang dikucilkan. Semuanya mengarah kepada satu orang saja, seseorang tanpa kekayaan, tanpa rumah, tanpa kedudukan.

Saya melihat orang ini, Putra dari Allah yang hidup, memandang setiap dari mereka dengan kasih sayang yang tak terbatas. Dengan satu sentuhan dari tanganNya yang kudus, Dia mendatangkan hiburan kepada yang terkucil, kesembuhan kepada yang sakit, kebebasan kepada yang dikutuk. Dengan satu kata, orang yang mati bangun dari tempat tidurnya dan janda itu memeluk putranya yang hidup kembali.

Ini dan tindakan belas kasih dan kemurahan hati yang ajaib lainnya, beberapa dikenal dimana-mana, yang lainnya tersembunyi dan diam-diam, saya definisikan sebagai salah satu sifat Juruselamat yang dapat dikenali: kasihNya dan belas kasihNya bagi yang terhina, yang lelah, yang lemah, yang menderita. Bahkan, perbuatan belas kasih ini sinonim dengan namaNya.

Meskipun hampir 2000 tahun sudah berlalu sejak pelayanan fana Putra Allah, teladan kasihNya dan ajaranNya tetap merupakan bagian yang pokok dari siapa kita sebagai umat dan siapa kita sebagai Gereja. Hari ini, melalui program kesejahteraannya yang diilhami, Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir dan para anggotanya berusaha meniru teladanNya sewaktu kita berusaha meringankan penderitaan dan memupuk kemandirian.

LINGKUP KESEJAHTERAAN GEREJA

Program kesejahteraan Gereja terkenal di seluruh dunia. Orang-orang dari segala bangsa mengunjungi Kantor Pusat Gereja untuk melihat sendiri cara Gereja memelihara yang miskin dan yang membutuhkan tanpa menciptakan ketergantungan pada mereka yang menerima atau kepahitan pada pihak yang memberi. Seorang presiden negara, setelah mengunjungi Pusat Kesejahteraan, membatalkan sisa janjinya hari itu. "Ada sesuatu yang lebih penting di sini dari pada apapun juga yang ada dalam jadwal saya," katanya. "Saya harus tinggal dan belajar lebih banyak."

Selama bertahun-tahun, program kesejahteraan Gereja sudah berkembang untuk memenuhi semakin meningkatnya kebutuhan Gereja yang bertumbuh. Di Amerika Utara dewasa ini, ada 80 pertanian Gereja yang menghasilkan makanan bergizi bagi yang membutuhkan. 80 fasilitas pengalengan menyim- pan dan mengepak makanan yang menunjang hidup ini. Lebih dari 100 gudang uskup siap untuk membantu lebih dari 10.000 uskup dan presiden cabang sewaktu mereka melaksanakan tanggung jawab kudus mereka untuk mencari dan membantu yang miskin dan yang membutuhkan di lingkungan-lingkungan dan cabang-cabang mereka. 50 pengelolaan Deseret Industries [Industri Deseret] menawarkan pekerjaan dan pelatihan kepada ribuan orang. Di seluruh dunia, 160 pusat tenaga kerja membantu lebih dari 78.000 orang menemukan pekerjaan setiap tahun. 65 kantor Pelayanan Sosial OSZA membantu pasangan anggota mengangkat anak dan menyediakan penyuluhan kepada mereka yang membutuhkannya.

Saya merasa pasti bahwa para pemimpin hebat yang sudah Tuhan angkat untuk merintis usaha kesejahteraan zaman modern ini--sangat senang dengan kemajuan dari program yang diilhami tersebut sekarang ini.

CARA TUHAN

"Sudah selamanya merupakan ajaran utama Orang Suci Zaman Akhir," tulis Presiden Joseph F. Smith, "bahwa agama yang tidak memiliki kuasa untuk menyelamatkan umatnya secara jasmani dan membuat mereka makmur dan bahagia di sini, tidak dapat diandalkan untuk menyelamatkan mereka secara rohani, untuk mempermuliakan mereka di kehidupan mendatang."1

Yang jasmani dan yang rohani berhubungan tak terpisahkan. Sewaktu kita memberikan waktu, bakat, dan sumber-sumber kita untuk mengurusi kebutuhan orang sakit, menawarkan makanan kepada yang lapar, dan mengajar orang yang bergantung untuk mandiri, kita memperkaya diri kita sendiri secara rohani di luar batas kemampuan kita untuk memahaminya.

Tuhan menyatakan dalam suatu wahyu kepada Nabi Joseph Smith: "Adalah maksudKu untuk menyediakan bagi para orang suciKu . . . Tetapi perlu kiranya dilakukan dengan caraKu; dan lihatlah, inilah cara yang Aku, Tuhan, tentukan untuk menyediakan bagi para orang suciKu, supaya yang miskin dapat ditinggikan, dan yang kaya dijadikan rendah."2 Cara Tuhan meliputi menolong orang menolong dirinya sendiri. Yang miskin ditinggikan karena mereka bekerja untuk bantuan sementara yang mereka terima, mereka diajar asas yang benar, dan mereka sanggup mengangkat diri mereka sendiri dari kemiskinan menuju kemandirian. Yang kaya direndahkan karena mereka merendahkan hati mereka sendiri untuk memberi dengan murah hati dari kekayaan mereka kepada mereka yang membutuhkan.

Kita mengajar para anggota untuk mandiri, untuk melakukan segala yang mungkin untuk menunjang diri mereka sendiri, dan untuk mencari bantuan dari keluarga mereka untuk pertolongan yang diperlukan. Ketika para anggota dan keluarga mereka dengan segala kesanggupan mereka sudah berusaha memenuhi kebutuhan namun masih saja tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar, maka Gereja siap untuk membantu.

Di Gereja, uskup memiliki tanggung jawab khusus untuk memelihara "yang miskin, yang membutuhkan, orang tua tunggal, orang yang sudah tua, yang cacat, yang yatim, yang janda, dan orang-orang lain yang memiliki kebutuhan khusus."3

Saya tahu bagaimana seorang uskup mengatur sumber-sumbernya untuk membantu seorang pria yang datang kepadanya memohon bantuan. Pria ini sudah menikah bertahun-tahun dalam kebahagiaan, tetapi karena kecanduannya kemudian pada alkohol dan obat-obatan, dia kehilangan pekerjaan, rumah tangga, atau keluarga. Tahun-tahun keras hidup di jalanan telah menurunkan harga dirinya dan mempermalukannya. Dengan air mata mengalir di wajahnya, dia memohon bantuan uskupnya.

Komite kesejahteraan lingkungan membahas tantangan ini. Seorang pria mengenal seorang dokter gigi yang mungkin bersedia membenahi gigi de-pan pria tersebut yang patah. Presiden Lembaga Pertolongan menyarankan bahwa makanan bergizi dari gudang penyimpanan uskup dapat memperbaiki kesehatannya. Yang lain menyarankan bahwa pria ini membutuhkan seseorang yang dapat meluangkan waktu bersamanya setiap hari dan membantunya menemukan kekuatan untuk mengatasi kecanduannya.

Sewaktu usulan-usulan mengalir, uskup menyadari bahwa selingkungan penuh brother dan sister yang prihatin siap untuk membantu.

Segera uskup itu mulai memperhatikan adanya perbaikan. Para pemegang imamat memberi pria ini sebuah berkat. Seorang dokter gigi yang murah hati memperbaiki giginya yang patah. Makanan dari gudang penyimpanan uskup memperbaiki kesehatannya. Pasangan manula yang setia setuju melayani sebagai pengajar ke rumah khusus. Mereka bersamanya setiap hari untuk membantunya berpegang teguh pada keputusannya.

Dengan mengikuti asas-asas yang sudah ditetapkan, brother yang baik ini menawarkan bantuannya kepada yang lainnya di lingkungan. Perlahan-lahan, kehidupannya mulai membaik. Akhirnya pandangan putus asa dan kesedihan beralih menjadi pandangan sukacita dan kebahagiaan. Meskipun itu merupakan proses yang menyakitkan, dia sanggup membebaskan dirinya dari kebergantungannya pada obat-obatan. Dia menjadi seorang anggota yang aktif di Gereja. Kehidupan yang miskin dan menyedihkan berubah menjadi kehidupan penuh harapan dan kebahagiaan. Inilah cara Tuhan dalam memelihara mereka yang membutuhkan.

GEREJA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN

Gereja tidak membatasi usaha bantuannya kepada para anggotanya namun mengikuti nasihat Nabi Joseph Smith ketika dia berkata: "Seseorang yang dipenuhi dengan kasih Allah, tidak puas dengan memberkati keluarganya sendiri, namun mencari-cari ke seluruh dunia, berkeinginan untuk memberkati seluruh umat manusia."4 Dia menyuruh para anggota "untuk memberi makan kepada yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, mengurus janda, menghapuskan air mata anak yatim, menghibur yang susah menderita."5

Dalam satu dasawarsa lebih, Gereja telah mengirimkan lebih dari 27.000 ton pakaian, 16.000 ton makanan, dan 3.000 ton persediaan dan perlengkapan obat-obatan dan bahan pendidikan untuk membantu penderitaan berjuta-juta anak Allah di 146 negara di banyak penjuru dunia. Kita tidak bertanya: "Apakah anda anggota Gereja?" Kami hanya bertanya: "Apakah anda menderita?"

Kita semua mengetahui adanya Badai Mitch yang menghancurkan Nicaragua dan Honduras di bulan Oktober dan November yang lalu. Dengan kekuatan yang ganas badai ini membanjiri rumah-rumah dan menyebabkan longsoran lumpur. Lebih dari 10.000 orang meninggal dunia dan dua juta lainnya kehilangan tempat tinggal. Badai yang amat dahsyat ini menghancurkan rumah-rumah dan menutupi jalanan dengan lumpur yang terasa sekeras semen.

Hampir seketika, Gereja mulai mengirimkan makanan penunjang hidup, pakaian, obat-obatan, dan selimut untuk membantu baik anggota Gereja maupun mereka dari agama lainnya. Begitu persediaan ini tiba di tempat tujuannya, para anggota Gereja berdatangan beratus-ratus banyaknya untuk membongkar muatan truk dan me- ngumpulkan persediaan ini ke dalam kotak-kotak. Bahan-bahan dalam setiap kotak dapat menunjang satu keluarga selama satu minggu.

Presiden Gordon B. Hinckley kita yang terkasih, yang adalah ketua dari Komite Kesejahteraan Umum, merasa sedih dengan penderitaan di Amerika Tengah itu. Pada satu malam di mana dia susah tidur, dia merasakan bisikan untuk pergi serta menawarkan kasih dan dukungannya kepada mereka yang telah menanggung kehilangan besar ini. Kunjungan Nabi ini mengangkat semangat dan memberi harapan kepada ribuan orang. "Selama [Gereja] memiliki sumber-sumber," katanya kepada mereka, "kami akan berdiri di sisi anda dalam masa-masa sulit."6 Dan saya bersaksi kepada anda, brother dan sister, bahwa dia benar-benar adalah seorang nabi Allah. Dan saya mendukungnya dengan segenap hati saya.

Di samping menyediakan persediaan yang dibutuhkan pada saat-saat malapetaka dan bencana, hampir 1.300 anggota Gereja sudah menerima panggilan dari Tuhan untuk melayani yang miskin dari segala bangsa. Biarlah saya beri anda dua contoh.

Brother David dan Sister Dovie Glines, dari Ivins, Utah, sekarang ini tinggal di Ghana, Afrika, di mana mereka mengajarkan ketrampilan bisnis, komputer, dan pengelolaan kantor kepada mereka yang berusaha meningkatkan kepegawaian mereka.

Brother Mark Cutler adalah seorang dokter bedah pensiunan dari Clayton, California. Dia dan istrinya, Bonnie, melayani di Vietnam. Brother Cutler adalah seorang konsultan dan instruktur bagi para dokter setempat. Sister Cutler mengajarkan bahasa Inggris dan istilah medis kepada para dokter dan staff rumah sakit.

KESEJAHTERAAN DAN ANGGOTA

Di samping menolong orang lain, keluarga dan anggota perorangan sebaiknya mengulas kembali tingkat kemandirian mereka sendiri. Kita boleh mengajukan kepada diri kita beberapa pertanyaan:

Apakah kita merupakan pengawas yang bijaksana dari uang kita? Apakah kita menggunakan uang kurang dari yang kita hasilkan? Apakah kita menghindari hutang yang tidak perlu? Apakah kita mengikuti nasihat para pemimpin kita untuk "menyimpan makanan, pakaian, dan bila mungkin, bahan bakar secukupnya untuk sedikitnya setahun?"7 Apakah kita mengajar anak-anak kita untuk menghargai dan tidak menyia-nyiakan apa yang mereka miliki? Apakah kita mengajar mereka bekerja? Apakah mereka memahami pentingnya hukum persepuluhan yang kudus? Apakah kita memiliki pendi- dikan yang cukup dan pencaharian yang memadai? Apakah kita mempertahankan kesehatan yang baik dengan mematuhi Kata-kata Bijaksana? Apakah kita bebas dari pengaruh jahat bahan-bahan yang membahayakan?

Jika, secara jujur, kita menjawab "tidak" pada salah satu di antara pertanyaan-pertanyaan ini, kita mungkin ingin memperbaiki rencana kemandirian kita. Para nabi sudah menyediakan penuntun dasar bagi kita.

Pertama-tama, salah satu kejahatan masa kini adalah dosa menginginkan milik orang lain. Keinginan yang tidak terkendalikan terhadap milik duniawi dapat menjadi obsesi yang memenuhi pikiran kita, menghabiskan sumber-sumber kita, dan membawa ke arah ketidak bahagiaan. Sebagian anggota gereja semakin terbebani dengan hutang yang tidak perlu karena dosa ini. Presiden Heber J. Grant berkata: "Jika ada satu hal saja yang akan membawa kedamaian dan kepuasan ke dalam hati manusia, dan ke dalam keluarga, itu adalah hidup di dalam batas kemampuan kita. Dan apabila ada satu hal saja yang mencelakai dan mengecilkan hati serta menawarkan hati, itu adalah memiliki hutang dan kewajiban yang tidak dapat dipenuhi seseorang."8

"Ketekunan, sikap hemat, kemandirian terus menjadi asas penuntun dari usaha ini," Presiden Thomas S. Monson, Ketua Komite Eksekutif Kesejahteraan Gereja, telah mengingatkan. "Sebagai suatu umat, kita hendaknya menghindari hutang yang tidak masuk akal. . . . 'Bayarlah hutangmu dan hiduplah' (II Raja-raja 4:7). Betapa ini nasihat yang bijak bagi kita dewasa ini!"9

Kedua, sejak permulaan Allah sudah memerintahkan kita untuk bekerja 10 dan sudah memperingatkan kita terhadap kemalasan.11 Malangnya, banyak di dunia kita sekarang ini mendorong kemalasan, khususnya dalam bentuk hiburan yang tidak membutuhkan otak, yang tidak berarti, yang terdapat di Internet, di televisi, dan di permainan komputer.

Ketiga, saya merekomendasikan kepada anda nasihat Presiden Hinckley ketika dia berkata: "Dapatkan segala pendidikan sesanggup anda . . . Pupuklah keahlian otak dan tangan. Pendidikan adalah kunci menuju kesempatan."12 Ya, pendidikan adalah penggerak yang akan memoles dan mempertajam bakat, keahlian, dan kesanggupan kita serta membuatnya berkembang.

Keempat, mereka yang memilih untuk mengikuti teladan Juruselamat dan melepaskan penderitaan dapat melihat jumlah yang mereka sumbangkan pada sumbangan puasa. Dana kudus ini digunakan untuk satu tujuan dan satu tujuan semata: untuk memberkati yang sakit, yang menderita dan sesama yang membutuhkan.

Menyumbangkan sumbangan puasa yang murah hati memberkati si pemberi dengan berlimpah dan memperkenankan mereka menjadi mitra dengan Tuhan dan uskup dalam membantu membebaskan penderitaan dan memupuk kemandirian. Dalam keadaan kita yang makmur, mungkin kita harus mengevaluasi sumbangan kita dan memutuskan apakah kita sudah sama murah hatinya dengan Tuhan seperti Dia bermurah hati dengan kita.

PENUTUP

Jika Juruselamat berada di antara kita dalam kefanaan hari ini, Dia akan didapati melayani kepada orang yang membutuhkan, yang menderita, yang sakit. Mengikuti teladan ini mungkin merupakan salah satu alasan Presiden Spencer W. Kimball berkata: "Ketika dipandang dalam terang ini, kita dapat melihat bahwa [kesejahteraan] bukanlah sebuah program, tetapi inti dari injil. Itu adalah injil dalam tindakan. Itu adalah asas yang memahkotai dari kehidupan Kristiani."13

Ketika progam kesejahteraan muncul dari awalnya yang sederhana di tengah-tengah masa Krisis Besar, tidak banyak orang yang membayangkan bahwa, 60 tahun kemudian, program ini akan tumbuh dan berkembang ke satu titik di mana program ini memberkati secara harfiah berjuta-juta orang yang membutuhkan di dunia.

Nyanyian Rohani yang indah," Kar'na Kudib'ri Banyak" menyentuh pelajaran yang diilhami dalam hal memberi.


Kar'na karuniaMu ku dapat makan
Kar'na nya tak kubiarkan yang kekurangan
Kubagikan nasi, tempat berteduh,
dan kehangatan
Hingga diapun terhiburkan.
14
 
Saudara-saudari sekalian, Juruselamat, yang sudah menetapkan polanya ini bagi kita, senang dengan mereka yang "dalam segala hal [meng]ingat yang miskin dan yang membutuhkan, yang sakit dan yang menderita."15 Dia senang dengan mereka yang mendengarkan peringatanNya "bantulah yang lemah, angkatkan tangan yang terkulai dan kuatkan lutut yang lemah."16

Semoga kita mengikuti teladanNya adalah doa saya. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. "The Truth about Mormonism," Out West Magazine, Sept. 1905, hlm. 242.
2. A&P 104:15­16
3. Buku Pegangan Petunjuk Gereja, Buku 1: Presidensi Wilayah dan Keuskupsn (1998), hlm. 14
4. History of the Church, 4:227
5. Times and Seasons, 15 Mar. 1842, hlm. 732.
6. Ceramah diberikan di Honduras, 21 Nov. 1998; lihat juga "President Hinckley: 'We Will Not Forget You,'" Church News, 28 Nov. 1998, hlm. 3, 6­7.
7. Surat Presidensi Utama, 24 Jun. 1988.
8. Gospel Standards, komp. G. Homer Durham (1941), hlm. 111.
9. Dalam Conference Report, Okt. 1988, hlm. 57; atau Ensign, November 1988, hlm. 46
10. Lihat Kejadian 3:19.
11. Lihat A&P 88:124.
12. Teachings of Gordon B. Hinckley (1997), hlm. 172.
13. Dalam Conference Report, Okt. 1977, hal. 123­44; atau Ensign, Nov. 1977, hlm. 77.
14. Nyanyian Rohani, no. 99.
15. A&P 52:40.
16. A&P 81:5.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy