Penatua Dennis B. Neuenschwander
Dari Tujuh Puluh
Silsilah, cerita keluarga, catatan sejarah, dan tradisi . . . membentuk suatu jembatan antara masa lampau dan masa depan serta mengikat generasi-generasi bersama dalam cara-cara yang tidak dapat dilakukan oleh benda kenangan lainnya.
Brother dan sister sekalian, setiap keluarga memiliki benda kenangan. Keluarga mengumpulkan perabot rumah tangga, buku, porselen, dan barang-barang berharga lainnya, kemudian meneruskannya kepada keturunan mereka. Benda kenangan indah seperti itu mengingatkan kita akan orang-orang yang kita kasihi yang kini telah tiada dan memalingkan pikiran kita kepada orang-orang terkasih yang belum dilahirkan. Benda kenangan ini membentuk suatu jembatan penghubung antara keluarga masa lampau dan keluarga masa depan.
Setiap keluarga memiliki benda kenangan lainnya, yang lebih berharga. Ini mencakup silsilah, cerita keluarga, catatan sejarah, dan tradisi. Benda-benda kenangan kekal ini juga membentuk suatu jembatan antara masa lampau dan masa depan serta mengikat generasi-generasi bersama dalam cara-cara yang tidak dapat dilakukan oleh benda kenangan lain.
Saya ingin membagikan beberapa pemikiran mengenai sejarah keluarga, jembatan dan benda kenangan kekal. Sejarah keluarga membangun jembatan antara generasi-generasi keluarga kita, membangun jembatan menuju kegiatan di Gereja, dan membangun jembatan menuju bait suci.
Pertama, sejarah keluarga membangun jembatan antar generasi-generasi keluarga kita. Jembatan-jembatan antar generasi tidak dibangun secara kebetulan. Setiap anggota Gereja ini memiliki tanggung jawab pribadi untuk menjadi seorang arsitek kekal dari jembatan ini untuk keluarganya sendiri. Pada salah satu perkumpulan keluarga kami Natal yang lalu, saya memperhatikan ayah saya, berusia 89 tahun, dan cucu tertua kami, Ashlin, berusia empat setengah tahun. Mereka menikmati berada bersama. Ini merupakan suatu saat kesadaran yang manis sekaligus getir bagi saya. Meskipun Ashlin akan mempertahankan kenangan yang menyenangkan tetapi singkat mengenai ayah saya, dia tidak akan memiliki kenangan apapun tentang ibu saya, yang meninggal sebelum dia dilahirkan. Tidak ada seorangpun di antara anak-anak saya memiliki kenangan akan kakek-nenek saya. Jika saya ingin anak-anak dan cucu-cucu saya mengenal mereka yang masih, hidup dalam kenangan saya, maka saya haruslah membangun jembatan penghubung di antara mereka. Saya sendirilah penghubung kepada generasi-generasi yang berdiri di depan dan di belakang saya. Adalah tanggung jawab saya untuk merajut hati mereka menjadi satu melalui kasih dan rasa hormat, meskipun mereka mungkin tidak pernah saling mengenal secara pribadi. Cucu-cucu saya tidak akan memiliki pengetahuan tentang sejarah keluarga mereka jika saya tidak berbuat apa-apa untuk melestarikannya bagi mereka. Apa yang tidak saya catat dengan suatu cara akan hilang pada saat kematian saya, dan apa yang tidak saya teruskan kepada keturunan saya, tidak akan pernah mereka miliki. Pekerjaan mengumpulkan dan membagikan barang kenangan keluarga yang kekal adalah tanggung jawab pribadi. Tugas itu tidak dapat diabaikan atau diberikan kepada orang lain.
Kehidupan yang tidak didokumentasikan adalah kehidupan yang dalam satu atau dua generasi sebagian besarnya akan hilang dari ingatan. Sungguh ini akan menjadi tragedi dalam sejarah suatu keluarga. Pengetahuan tentang leluhur kita membentuk kita dan menanamkan di dalam diri kita nilai-nilai yang memberikan pengarahan dan arti pada kehidupan kita. Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan direktur biara gereja Ortodoks Rusia. Dia memperlihatkan kepada saya berjilid-jilid buku riset yang ekstensif dari keluarganya sendiri, memberitahu saya bahwa salah satu nilai, bahkan mungkin nilai yang utama, dari silsilah adalah ditegakkannya tradisi keluarga dan diturunkannya tradisi-tradisi ini kepada generasi-generasi yang lebih muda. "Pengetahuan tentang tradisi-tradisi dan sejarah keluarga ini," ujarnya, "mempersatukan bersama generasi dengan generasi." Selanjutnya, dia mengatakan kepada saya: "Jika seseorang mengetahui dia berasal dari leluhur yang jujur, dia terikat kewajiban dan kehormatan untuk jujur. Seseorang tidak dapat menjadi tidak jujur tanpa membuat kecewa setiap anggota keluarganya."1
Jika anda termasuk di antara yang pertama yang menerima injil dalam keluarga anda, bangunlah jembatan-jembatan kepada keturunan anda dengan mencatat peristiwa-peristiwa kehidupan anda dan menuliskan kata-kata dorongan kepada mereka. Pada tahun 1892 para sister Lembaga Pertolongan Wilayah Kolob di Springville, Utah, menulis surat kepada anak-anak mereka dan menyegelnya di dalam sebuah kapsul waktu untuk dibuka tanggal 17 Maret 1942, yaitu peringatan seratus tahun Lembaga Pertolongan. Setelah mencatat silsilah singkat mengenai keluarganya, Mariah Catherine Boyer menulis hal berikut kepada kedua anaknya: "Anak-anak yang terkasih, sewaktu kalian membaca surat ini, orangtua dan kakek-nenekmu sudah akan tidur di liang kubur yang sunyi. Tangan-tangan yang bekerja sedemikian keras untuk kalian tidak akan bekerja lagi, dan mata-mata yang menatap dengan penuh kasih dan pujian pada wajah-wajah kalian yang lugu tidak akan melihat kalian lagi, sampai kita bertemu di surga. Anak-anak tersayang . . . semoga ikatan kasih persaudaran seorang kakak dan adik menjalin hati kalian. . . . Lakukanlah apa yang benar terhadap sesama manusia, ikutilah petunjuk suara hati kalian, mintalah kepada Allah untuk memberi kalian kekuatan untuk menolak semua godaan untuk berbuat jahat, dan biarlah diucapkan tentang diri kalian, 'bahwa dunia menjadi lebih baik karena kalian telah tinggal di dalamnya.' Patuhilah perintah-perintah Allah. Semoga jalan-jalan kalian dalam kehidupan ditaburi dengan bunga-bunga, dan semoga kalian senantiasa berbuat benar. Semoga kalian tidak pernah mengalami kemalangan. Semoga Roh dan berkat-berkat Allah menyertai kalian setiap waktu, itulah doa ibu kalian. Ibu akan menyertakan foto-foto keluarga kita. Selamat tinggal anak-anakku tersayang, sampai kita bertemu lagi."2 Kata-kata yang lembut dan indah ini kini telah menjembatani enam generasi dari sebuah keluarga yang setia.
Pekerjaan sejarah keluarga dan bait suci memiliki kuasa yang besar, yang terdapat dalam janji tulisan suci dan ilahinya bahwa hati bapak-bapak akan berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak akan berbalik kepada bapak-bapaknya.3 Woodrow Wilson menyatakan: "Suatu bangsa yang tidak mengingat apa adanya dia kemarin, tidak mengenal apa adanya dia hari ini, juga tidak akan tahu apa yang sedang dia coba lakukan. Kita sedang berusaha melakukan sesuatu yang sia-sia jika kita tidak mengetahui dari mana kita berasal atau apa yang telah diraih sebelum kita."4 Hal ini juga dapat dikatakan me-ngenai keluarga: Keluarga "yang tidak mengingat apa adanya dia kemarin, tidak mengenal apa adanya dia hari ini, juga tidak akan tahu apa yang sedang dia coba lakukan. Kita sedang berusaha melakukan sesuatu yang sia-sia jika kita tidak mengetahui dari mana kita berasal atau apa yang telah diraih sebelum kita."
Kedua, sejarah keluarga membangun jembatan menuju keaktifan dalam Gereja. Pekerjaan sejarah keluarga memapankan para anggota baru dan menguatkan semua anggota Gereja. Penelitian sejarah keluarga dan persiapan nama-nama untuk bait suci dapat sangat berharga dalam usaha mempertahankan anggota-anggota baru. Iman dan keyakinan tumbuh sewaktu para anggota keluarga diikutsertakan dalam tatacara-tatacara injil yang menyelamatkan. Pada suatu konferensi wilayah baru-baru ini, saya bertemu dengan John dan Carmen Day, yang baru saja dibaptiskan. Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka telah mempersiapkan nama-nama keluarga dan berencana memasuki bait suci secepat mungkin. Apakah usaha mempertahankan anggota baru dipertanyakan di sini? Seorang anggota baru Gereja dapat diperkenalkan kepada pekerjaan sejarah keluarga dan bait suci dengan amat cepat oleh misionari, teman-te- man, tetangga, dan para pemimpin imamat serta organisasi pelengkap. Ingatlah, keikutsertaan dalam tatacara-tatacara bait suci merupakan inti dari pengalaman injil kita. Tidak diperlukan pemanggilan resmi untuk berpartisipasi dalam sejarah keluarga dan tatacara-tatacara injil yang menyertainya.
Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel dalam majalah Improvement Era terbitan Agustus 1940. Saya kutip: "Setahun yang lalu pada Konferensi bulan April, Dr. John A. Widtsoe dari Dewan Dua Belas menanyakan kepada para presiden misi Gereja fase tunggal apakah dalam Injil yang paling bertanggung jawab di masing-masing misi untuk mendapatkan teman baru, minat baru, anggota baru. Presiden Frank Evans dari Misi Negara-negara Bagian Timur menyimak masalah tersebut dan mengambil kesimpulan bahwa silsilah, dan tatacara-tatacara serta kepercayaan-kepercayaan Injil yang menyertainya, merupakan faktor terbesar di dalam misinya."5
Sebuah penelaahan Gereja terkini mengungkapkan bahwa keterlibatan dini dalam menemukan dan mempersiapkan nama-nama keluarga untuk bait suci dan, jika memungkinkan, berpartisipasi dalam pembaptisan perwalian bagi mereka adalah faktor-faktor utama dalam usaha mempertahankan anggota baru. Presidensi Utama dan Kuorum Dua Belas telah menggalakkan penggunaan yang lebih luas dari sejarah keluarga dan Pusat-pusat Sejarah Keluarga dalam usaha mempertahankan para anggota baru dan pengaktifan mereka yang telah tersisih dari keaktifan umum Gereja. Para pemimpin imamat, misionari dan direktur Pusat Sejarah Keluarga semuanya memainkan peran penting dalam penggunaan yang luas dari pusat-pusat ini.
Ketiga, sejarah keluarga membangun jembatan menuju bait suci. Pekerjaan sejarah keluarga menuntun kita ke bait suci. Pekerjaan bait suci dan sejarah keluarga adalah satu pekerjaan. Kata sejarah keluarga mungkin seharusnya jangan pernah digunakan tanpa menyertakan kata bait suci. Penyelidikan sejarah keluarga hendaknya menjadi sumber utama untuk nama-nama bagi tatacara bait suci dan tatacara bait suci adalah alasan utama dilakukannya penelitian sejarah keluarga. Presiden Gordon B. Hinckley telah mengatakan: "Semua usaha besar sejarah keluarga kita diarahkan pada pekerjaan bait suci. Tidak ada tujuan lain selain untuk itu."6
Penelitian sejarah keluarga menyediakan jembatan penghubung emosional di antara generasi-generasi. Tatacara-tatacara bait suci menyediakan jembatan imamat. Tatacara-tatacara bait suci adalah pengesahan imamat terhadap hubungan yang telah kita tegakkan di dalam hati kita. Ibu Teresa berkata bahwa "kesepian dan perasaan tidak diinginkan adalah kemiskinan yang paling mengerikan."7 Pemikiran bahwa kemiskinan dalam bentuk kesepian ini--keadaan tidak diinginkan dan terpisah dari orang-orang yang dikasihi ini--dapat diteruskan sesudah kehidupan ini sungguhlah menyedihkan. Janji dari pekerjaan sejarah keluarga dan bait suci adalah hubungan kekal yang tercipta dari kasih dan tatacara-tatacara imamat.
Brother dan sister sekalian, pekerjaan sejarah keluarga dan bait suci adalah benda kenangan keluarga kekal yang membangun jembatan-jembatan penghubung. Benda kenangan ini membangun jembatan antara generasi-generasi keluarga kita, jembatan menuju keaktifan di Gereja, dan jembatan menuju bait suci. Merupakan keinginan saya agar kita masing-masing mau mengenali benda-benda kenangan besar yang telah kita terima dari mereka yang telah mendahului kita dan tanggung jawab pribadi kita sendiri untuk meneruskannya sampai kepada generasi-generasi mendatang. Dalam nama Yesus Kristus, amin.
CATATAN
1. Dennis B. Neuenschwander, jurnal pribadi, 14 Agustus 1975.
2. Mariah Catherine Boyer, surat kepada dua anaknya, Irena B. Mendenhall dan Richard Lovell Mendenhall, Jr.
3. Lihat Maleakhi 4:56.
4. Dikutip dalam "The Rebirth of America," (1986), hlm. 12.
5. Improvement Era, Agustus 1940, hlm. 495.
6. Dalam Conference Report, Apr. 1998, hlm. 11516; atau Ensign, Mei 1998, hlm. 88.
7. Dikutip dalam Church News, 20 Juni 1998, hlm. 2.