The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April dari 1999
Perjalanan Selestial Anda
Arrow icon acting as a button to Previous Page Previous      

Perjalanan Selestial Anda

Presiden Thomas S. Monson
Penasihat Pertama dalam Presidensi Utama

Akan datang waktu-waktu pengajaran kepada setiap dari anda ketika anda akan menyaksikan kasih ibu anda, kekuatan ayah anda, dan ilham Allah.

Presiden Thomas S. Monson

Para sister sekalian yang terkasih, betapa besarnya berkat yang menjadi milik saya berdiri di hadapan anda pada malam ini dan merenungkan bahwa selain semua yang berkumpul di Tabernakel ini, masih ada ribuan orang yang menonton dan mendengarkan jalannya pertemuan ini melalui siaran satelit. Saya berdoa memohon bantuan Tuhan.

Henry Wadsworth Longfellow, dalam sebuah puisi klasik, menggambarkan anda dan masa depan anda. Dia menulis:


Sungguh indah masa remaja! Sungguh cerah sinarnya,
Dengan khayalan, cita-cita, dan impiannya!
Kitab segala Permulaan, Cerita tanpa Akhir,
Setiap gadis adalah pahlawan, dan setiap pria adalah teman!
1

Para remaja putri, kaum ibu anda, para pengajar anda, dan para pemimpin Remaja Putri sekalian yang tak ternilai, perkenankanlah saya meninggalkan bersama anda beberapa pemikiran dan saran untuk menuntun langkah-langkah anda melewati kefanaan dan menuju Kerajaan Selestial Bapa Surgawi kita.

Saya telah memilih dengan hati-hati empat tujuan penuh tindakan untuk penuntun dan sukacita kekal anda. Empat tujuan itu adalah:

1. Pandanglah ke atas,

2. Lihatlah ke dalam,

3. Ulurkanlah tangan ke luar, dan

4. Majulah ke depan.

Pertama, marilah kita membahas permohonan, pandanglah ke atas.

Bapa Surgawi kita telah menempatkan suatu penggapaian ke atas di dalam diri kita masing-masing. Firman di dalam tulisan suci berbicara dengan lantang dan jelas, "Memandang kepada Allah dan hidup."2 Tidak ada persoalan yang terlalu kecil bagi perhatianNya atau sedemikian besarnya sehingga Dia tidak dapat menjawab doa dengan iman. Doa tentunya adalah paspor menuju kekuatan rohani. Anda dapat berdoa dengan tujuan sewaktu anda menyadari siapa diri anda dan apa yang diinginkan Bapa Surgawi untuk anda capai.

Anda tidak akan mengalami kesulitan untuk mendekatiNya dengan doa anda yang tulus sewaktu anda mengingat perkataan Rasul Paulus, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?"3

Jika anda ingin menyenangkan Bapa Surgawi kita, hormatilah ayah dan ibu anda, seperti yang telah Dia perintahkan. Mereka sangat mengasihi anda. Sukacita anda adalah sukacita mereka, dan kesedihan anda adalah kesedihan mereka. Mereka menginginkan bagi anda bimbingan surgawi yang disediakan Tuhan.

Saya pernah mendengar orang tua yang frustrasi berbicara tentang seorang putra atau putrinya sedang berada dalam "masa remaja yang mengerikan." Saya lebih suka menggambarkan tentang anda sebagai "remaja yang luar biasa."

Hidup tidak pernah dimaksudkan untuk berupa senyuman dan kebahagiaan semata. Akan datang waktu-waktu pengajaran kepada setiap dari anda ketika anda akan menyaksikan kasih ibu anda, kekuatan ayah anda dan ilham Allah.

Saya telah meminta izin dari Penatua Russell M. Nelson untuk membagikan kepada anda suatu pelajaran duka cita, yang dipermudah melalui pengetahuan akan rencana Bapa Surgawi kita.

Penatua dan Sister Nelson telah diberkati dengan sembilan anak perempuan, diikuti oleh seorang putra. Mereka adalah keluarga yang bahagia, keluarga yang sangat erat. Ketika anak-anak masih kecil, mereka berkumpul di sekeliling ibu dan ayah mereka pada suatu malam, dan ayah mulai mengajar mereka. Dia berkata, "Banyak pasangan dipanggil untuk melayani sebagai misionari, dan, dalam kasus presiden misi, untuk membawa anak mereka bersama mereka ke tempat penugasan." Kemudian Penatua Nelson mengajukan sebuah pertanyaan penting: "Jika ibu dan ayahmu dipanggil untuk tugas seperti itu, apakah kamu sekalian akan bersedia pergi bersama kami?"

Dia menunggu jawaban mereka. Seorang putrinya berkata, "Ayah, mereka tidak akan memanggil Ayah, karena saya adalah pemandu sorak di sekolah!"

Seorang anak yang lebih tua menambahkan, "Saya tidak bisa ikut. Saya siswa di universitas."

Jawaban-jawaban anak-anak remaja itu terus berlanjut, sampai akhirnya si kecil Emily, dengan kemurnian jiwanya, menjawab, "Ayah, jika Ayah dipanggil, saya akan ikut bersama Ayah."

Sebetulnya, setiap anak bersedia ikut, tetapi Emily mendatangkan air mata keharuan dengan jawabannya yang dalam namun sederhana.

Tahun-tahun berlalu dengan cepat. Anak-anak menikah. Cucu-cucu berdatangan. Kemudian penyakit kanker yang mengerikan menimpa Emily, dan setelah suatu pergumulan yang berani dan perkasa dia pun dipanggil pulang.

Penatua Nelson berbicara di upacara pemakaman. Saya belum pernah mendengar pesan yang lebih indah atau lebih lembut. Dia berbicara tentang rencana keselamatan dan menguraikan janji-janji Allah sehubungan dengan sifat kekal keluarga. Dengan perlahan dia berkata, "Emily hanya lulus lebih awal dari kehidupan fana." Sungguh merupakan sebuah saat pengajaran!

Sementara keluarga besar itu berjalan di belakang peti, Penatua Nelson membawa dalam pelukannya dua dari anak-anak Emily yang masih kecil. Semua yang hadir menjadi bagian dari kebenaran yang diajarkan dan pelajaran yang dipelajari. Kami diilhami untuk memandang ke arah surga.

Kedua, lihatlah ke dalam.

Semoga setiap gadis mengajukan kepada dirinya pertanyaan ini, apakah saya tahu ke mana saya ingin pergi, ingin menjadi orang yang bagaimanakah saya, apa yang ingin saya lakukan?

Tuhan telah menjawab pertanyaan seperti itu: "Carilah kamu dari segala kitab yang terbaik kata-kata yang bijaksana, carilah pengetahuan yaitu dengan belajar dan juga dengan iman."4

Tulisan suci yang kudus, bimbingan dari orang tua anda, dan pengajaran tekun yang anda terima di Pratama, Remaja Putri, Sekolah Minggu, pertemuan Sakramen, dan seminari akan memperkuat anda dalam kebulatan tekad anda untuk menjadi diri anda sendiri yang terbaik.

Belajarlah dengan tujuan, baik di gereja maupun di sekolah. Tulislah gol-gol anda dan apa yang rencananya akan anda lakukan untuk mencapainya. Bidiklah tinggi-tinggi, karena anda mampu memperoleh berkat-berkat kekal.

Janganlah diharapkan bahwa jalan kehidupan akan membentang sendiri dalam pemandangan yang tak terhalang sebelum orang memulai perjalanannya. Anda harus mengantisipasi menjumpai persimpangan dan tikungan di jalan itu. Tetapi anda tidak dapat berharap mencapai akhir perjalanan yang anda inginkan jika anda berpikir tanpa tujuan mengenai apakah harus pergi ke timur atau barat. Anda harus membuat keputusan-keputusan anda dengan suatu tujuan.

Seperti yang diceritakan Lewis Carroll kepada kita di dalam bukunya yang terkenal berjudul Alice's Adventures in Wonderland, Alice sedang mengikuti sebuah jalan melalui hutan di negeri Dongeng sampai akhirnya jalan itu bercabang ke dua arah. Berdiri dalam keadaan bimbang, dia bertanya kepada seekor kucing jenis Cheshire, yang tiba-tiba muncul dekat sebuah pohon tidak jauh dari situ, jalan mana yang harus dia tempuh. "Kamu mau pergi ke mana?" tanya kucing itu.

"Aku tidak tahu," kata Alice.

"Kalau begitu," ujar kucing itu, "tidaklah menjadi soal, bukan?"5

Kita tahu ke mana kita ingin pergi. Sudahkah kita memiliki ketetapan hati--bahkan iman--untuk sampai ke sana?

"Marilah . . . belajarlah padaKu,"6 firman Tuhan. "Datanglah ke mari dan ikutlah Aku,"7 Tuhan mendesak. Dengan menjawab ya terhadap ajakan lembutNya, anda masing-masing akan siap untuk beralih ke tujuan kita selanjutnya, dan mengulurkan tangan untuk melayani.

Rasul Paulus memberi anda nasihat bijaksana ini: "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."8

Para sister muda sekalian, kesempatan anda untuk mengulurkan tangan dan memberkati kehidupan sesama tidaklah terbatas. Pikirkanlah, misalnya, tentang kesempatan istimewa yang anda miliki untuk menghadiri Bait Suci yang kudus, di sana untuk mengulurkan tangan kepada sesama yang telah mendahului dengan melayani sebagai wali untuk menyediakan bagi mereka berkat-berkat pembaptisan.

Suatu pagi sewaktu saya berjalan menuju bait suci, saya melihat sekelompok remaja putri yang, pagi-pagi sekali hari itu, telah berpartisipasi dalam pembaptisan bagi mereka yang telah meninggal. Rambut mereka basah. Senyuman mereka berseri-seri. Hati mereka dipenuhi dengan sukacita. Seorang gadis berbalik menghadap ke arah bait suci dan mengungkapkan perasaannya: "Ini adalah hari yang paling bahagia dalam kehidupan saya," ujarnya.

Masih ada kesempatan lainnya untuk melayani orang yang masih hidup. Anda dapat melakukannya dan dapat membawa sukacita yang tak terucapkan kepada mereka. Fasilitas-fasilitas perawatan menjadi rumah bagi orang-orang yang sakit atau lanjut usia dan memerlukan perawatan seperti itu. Mereka mendambakan masa-masa remaja mereka. Mereka merindukan penemanan oleh keluarga mereka dan kenyamanan rumah mereka.

Pada suatu kebaktian gereja yang saya hadiri di sebuah pusat perawatan, setelah para pasiennya yang berkursi roda menerima sakramen, seorang remaja putri seusia anda memainkan biola secara solo. Para sister lanjut usia tersebut sangat menghargainya. Mereka mengungkapkan dengan keras rasa syukur mereka dengan komentar seperti "Indah sekali," "Bagus sekali," "Saya mengasihimu." Gangguan-gangguan seperti itu tidak mengalihkan perhatian pemain biola tersebut; justru, itu memungkinkannya mencapai ketinggian yang baru dalam permainannya.

Hari itu dia berkata kepada saya, "Saya belum pernah bermain lebih baik dalam kehidupan saya. Ada sesuatu yang seolah-olah mengangkat saya melampaui diri saya sendiri dan kemampuan saya. Saya merasakan ilham dari kasih Bapa Surgawi saya."

Saya mengingatkan dia, "Sewaktu anda melayani sesama manusia, anda hanya sedang berada dalam pelayanan Allah anda."9

Dia menganggukkan kepalanya tanda setuju, seraya dengan hati-hati memasukkan biolanya ke dalam tempatnya, dan, dengan air mata sukacita mengalir di pipinya, kembali ke tempat duduknya.

Semoga kita ingat untuk mengulurkan tangan ke luar.

Terakhir, majulah ke depan. Hindari kecenderungan untuk menunda-nunda sebuah bisikan atau kesempatan untuk tumbuh dan melayani. Penangguhan sesungguhnya adalah pencuri waktu. Hadapilah tantangan-tantangan sehari-hari kehidupan anda. Kapankah terakhir kalinya anda memandang ke dalam mata ibu anda dan, tanpa menyembunyikan sesuatu apa pun, mengucapkan kata yang ditunggu-tunggu itu, "Ibu, aku sungguh mengasihimu"? Bagaimana dengan ayah, yang setiap hari bekerja keras untuk memberi anda nafkah? Para ayah menghargai mendengar kata-kata berharga yang sama itu dari mulut seorang anak: "Aku mengasihimu."

Memang begitu mudah untuk melumrahkan keberadaan orang tua dan gagal menyadari betapa mereka sangat berarti bagi anda dan anda bagi mereka. Suatu gambaran mengenai hal ini terjadi di sebuah ruangan kelas. Salah satu pertanyaan, setelah pelajaran mengenai magnit di SMP Olympus, adalah, "Kata apa yang dimulai dengan huruf 'M' yang selalu menarik sesuatu?" Lebih dari sepertiga murid menjawab: "Mother" [yang berarti Ibu, dalam bahasa Inggris].

Lawanlah cobaan-cobaan sementara atau rintangan- rintangan yang menghambat kemajuan anda.

Berkat yang dapat anda terima adalah berkat bapa bangsa anda. Orang tua anda dan uskup anda akan tahu bila waktunya tepat bagi anda untuk menerimanya. Berkat bapa bangsa berisikan pasal-pasal dari buku kemungkinan kehidupan anda. Bagi anda berkat bapa bangsa akan menjadi mercu suar di atas bukit, memperingatkan akan bahaya, dan memimpin anda menuju ketenangan pelabuhan yang aman. Berkat bapa bangsa adalah ucapan nubuat dari bibir orang yang telah dipanggil dan ditahbiskan untuk menyediakan bagi anda berkat seperti itu.

Izinkanlah saya mengambil kesempatan ini untuk mengungkapkan, setiap dari anda para remaja putri, ucapan "terima kasih" yang setulusnya kepada orang tua anda, kepada guru anda, kepada pemimpin anda. Mereka adalah contoh teladan bagi anda. Mereka tahu bahwa akan ada kekecewaan, hari-hari yang mengecilkan hati, dan frustrasi pribadi di dalam hidup anda. Mereka akan memperlihatkan kepada anda jalan untuk mengatasi pengalaman-pengalaman seperti itu dan terus melanjutkan di jalan kehidupan yang menuntun ke atas dan maju menuju kemuliaan selestial. Ingatlah bahwa sekali anda telah mengalami keunggulan, maka anda tidak akan pernah puas lagi dengan yang sedang-sedang saja.

Beberapa tahun yang lalu seorang gadis remaja yang cantik, Jami Palmer, yang waktu itu berusia dua belas tahun, didorong ke dalam kantor saya oleh orang tuanya. Dia telah didiagnosa menderita penyakit kanker. Operasi merupakan keharusan. Perawatannya harus intensif dan waktu penyembuhannya lama. Saat itu adalah saat yang khidmat ketika kami berbincang-bincang. Ayahnya meminta saya menemaninya dalam memberkati anak gadisnya yang tak beruntung yang harus menunda impiannya, harapannya, rencananya. Kami semua menangis. Berkat imamat diberikan.

Saya masih berhubungan dengan Jami Palmer dan keluarganya. Tahun-tahun telah berlalu dengan cepat. Dia telah memberikan pelayanan yang tak terhitung banyaknya kepada orang lain dengan menjadi juru bicara bagi yayasan Make-a-Wish Foundation, yang memberkati kaum remaja dengan penyakit yang mengancam kehidupan. Jami telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Kini ia kuliah di Universitas Brigham Young. Dia sehat. Dia telah melalui api pemurni dan hidupnya telah diperpanjang. Dia mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membantunya melalui tahun-tahun yang sulit ini, dan khususnya kepada Bapa Surgawinya atas kehidupannya sekarang.

Suatu titik balik dalam kehidupan Jami terjadi pada awal perawatan penyakit kankernya. Dia dan para remaja di lingkungannya telah merencanakan untuk mendaki Gua Timpanogos. Anda yang pernah mendakinya tahu betapa terjal jalan ke sana, dan terasa seolah diperlukan selamanya untuk mencapai gua tersebut. Dengan sedih Jami berkata kepada teman-temannya, "Saya tidak akan dapat mendaki bersama kalian."

"Mengapa tidak?" mereka bertanya.

Jami menjawab, "Saya tidak dapat berjalan."

Ada kesunyian sesaat, dan kemudian seseorang menjawab, "Jami, jika kamu tidak dapat berjalan, kami akan menggotong kamu." Dan memang mereka melakukannya--dari naik sampai turun kembali!

Para remaja putri sekalian, maukah anda. Memandang ke atas, melihat ke dalam, mengulurkan tangan ke luar, dan maju ke depan? Sewaktu anda melakukan itu, maka besarlah pahala anda dan akan kekallah kemuliaan anda.10

Saya memberi kepada anda, para sister sekalian yang terkasih, kesaksian saya bahwa Bapa Surgawi hidup, bahwa Yesus adalah Kristus, dan bahwa kita sekarang dipimpin oleh seorang nabi bagi zaman kita, yaitu Presiden Gordon B. Hinckley. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. "Morituri Salutamus," dalam The Complete Poetical Works of Longfellow (1922), hlm. 311.
2. Alma 37:47.
3. I Korintus 3:16.
4. A&P 88:118.
5. Disadur dari Alice's Adventures in Wonderland (1929), hlm. 76.
6. Matius 11:28, 29.
7. Lukas 18:22.
8. I Timotius 4:12.
9. Lihat Mosia 2:17.
10. Lihat A&P 76:6.

 
Arrow icon acting as a button to Previous Page Previous      
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy