The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April dari 1999
Mempersiapkan Keluarga Kita bagi Bait Suci

Mempersiapkan Keluarga Kita bagi Bait Suci

Carol B. Thomas
Penasihat Pertama dalam Presidensi Umum Remaja Putri

Tantangan terbesar kita adalah untuk mempersiapkan keluarga kita bagi bait suci. Orang tua memiliki tanggung jawab utama, tetapi kakek-nenek, bibi dan paman, bahkan saudara lelaki dan perempuan semuanya dapat mengajar keluarga.

Carol B. Thomas

Brother dan sister, saya rasa saya bahagia berada di sini hari ini. Tugas saya dengan presidensi Remaja Putri menempatkan saya dalam banyak keadaan bahagia. Satu bu-lan yang lalu sebuah tugas pelatihan membawa saya ke Guayaquil, Ekuador. Saya tiba di hotel setelah senja. Pagi berikutnya saya membuka gorden saya dan di seberang lembah sana terdapat sebuah bangunan granit yang indah berdiri dengan megahnya di Bukit Santa Ana. Pesona keindahannya nyata, tetapi barulah ketika saya melihat Malaikat Moroni di atasnya maka saya, dengan air mata di mata saya, menyadari bahwa di sini terdapat sebuah bait suci, sebuah lambang berkat-berkat mulia yang akan datang kepada para anggota Gereja di bagian dunia itu.

"Bait suci adalah unik di antara semua bangunan. . . . Itu adalah tempat perjanjian dan janji. Di altarnya kita berlutut di hadapan Allah Pencipta kita dan diberikan janji dari berkat-berkat abadiNya" (Gordon B. Hinckley, Teachings of Gordon B. Hinckley [1997], hlm. 632­633). Ke mana pun kita pergi, kita menemukan bahwa bait-bait suci sedang dibangun, bait-bait suci yang akan mengangkat para Orang Suci Allah dan mengubah penampilan negara-negara, baik di Amerika Selatan maupun di seluruh dunia.

Bukankah baru satu tahun sejak nabi kita terkasih mengumumkan pembangunan 32 bait suci lagi? Presiden Gordon B. Hinckley telah mengatakan, "Ini adalah era pembangunan bait suci yang terbesar dalam segala sejarah dunia" (Teachings, hlm. 629).

Putra bungsu kami, Spencer, saat ini melayani misi di Mongolia, menulis bahwa presiden misinya berbicara kepada para misionari dan anggota me-ngenai tanggung jawab mereka dalam membangun Gereja di sana. "Sewaktu Presiden Cox membuka pembahasan bagi pertanyaan, tanggapan yang pertama adalah 'Kapan Mongolia akan memiliki sebuah bait suci?' Orang-orang ini," kata Spencer, "kelaparan akan injil untuk memainkan satu bagian yang lebih besar dalam kehidupan mereka. Mereka bahkan belum lagi memiliki sebuah Kitab Mormon dan mereka menginginkan sebuah bait suci."

Mengapa semua keributan ini me-ngenai bait suci? Dijabarkan dengan sederhana, tujuan dari bait suci "adalah untuk menebus seluruh umat manusia yang patuh terhadap hukum-hukum dan perintah-perintah Allah. Injil dalam kegenapannya telah dinyatakan kepada Adam . . . [dan] para Orang Suci dari segala masa telah memiliki bait suci dalam bentuk yang satu atau yang lainnya" (Penatua David B. Haight, "Personal Temple Worship," Ensign, Mei 1993, hlm. 23­24).

Joseph Smith mengatakan, "Tanggung jawab terbesar di dunia ini yang telah Allah tempatkan ke atas kita adalah untuk mencari para leluhur kita yang telah meninggal" (History of the Church, 6:313). Jika ini benar, maka sebagai orang tua dan anggota keluarga tantangan terbesar kita adalah untuk mempersiapkan keluarga kita bagi bait suci. Orang tua memiliki tanggung jawab utama, tetapi kakek-nenek, bibi dan paman, bahkan saudara lelaki dan perempuan semuanya dapat mengajar keluarga.

Ketika suami saya dan saya menikah di bait suci, kami memahami akan pentingnya tidak pernah mendiskusikan bait suci di luar bait suci, bukan karena tatacaranya rahasia tetapi karena itu adalah kudus. "Itu dijaga kerahasiaannya agar tidak diberikan kepada mereka yang belum siap" (Boyd K. Packer, Bait Suci, [buklet, 1982], hlm. 2­3). Tetapi, dalam sebuah lingkungan keluarga, ada banyak kebenaran berharga yang, dengan kepekaan dan akal sehat, akan membantu mempersiapkan anak-anak kita bagi bait suci.

Pertimbangkan:

  • Sifat kudus dari pakaian bait suci. Di dalam bait suci semua berpakaian putih. Putih adalah lambang kesucian.

  • Bait suci adalah ruangan kelas Allah. Presiden Hinckley telah mengatakan, "[Bait suci] menjadi sebuah sekolah petunjuk dalam hal-hal yang manis dan kudus dari Allah" (Teachings, hlm. 635).

  • Apa artinya menjadi layak bagi bait suci. Dapatkah kita mengajar anak-anak kita bahwa menerima endowmen dan pemakaian garmen yang kudus tidak meminta sebuah perubahan terhadap pakaian atau pola hidup jika asas-asas kelayakan bait suci dimengerti dan dijalankan pada awal kehidupan mereka? Seorang remaja putri yang mengenakan rok sepanjang lutut tidak perlu membeli pakaian baru setelah dia menerima endowmennya dalam bait suci. Seorang remaja putra yang mengatisipasi pergi ke bait suci akan menghormati standar moral Gereja dalam tingkah laku sosialnya.

  • Memahami bahasa injil. Apakah sesungguhnya arti dari kata-kata endowmen, tatacara, pemeteraian, dan kunci-kunci? Sebuah cerita dikisahkan mengenai seorang anak lelaki yang mendengar orang tuanya membahas pelaksanaan pemeteraian bait suci. Dia bertanya, "Apakah kalian akan mengerjakan temboknya minggu depan?" [Permainan kata pada kalimat bahasa Inggris "sealing" (pemeteraian) dengan "ceiling" (plafon) yang diucapkan sama tetapi memiliki ejaan dan arti yang berbeda].

    Di manakah kita dapat mengajar anak-anak kita? Malam keluarga adalah lingkungan yang resmi, tetapi ada begitu banyak lagi tempat di mana kita dapat berbicara mengenai perasaan rohani kita bagi bait suci. Salah satu waktu kesukaan saya adalah ketika anak-anak saya berada di tempat tidur pada malam hari. Sekali-sekali saya akan tidur di atas tempat tidur mereka dan memberitahu mereka hal-hal yang rohani. Di sana dalam kedamaian dan ketenangan, Roh yang manis dapat memberikan kesaksian ke dalam hati dan jiwa mereka bahwa hal-hal yang anda katakan adalah benar.

    Kita dapat menganggap bahwa Yusuf dan Maria mengajarkan keluarga mereka mengenai bait suci. Seperti telah dibahas Penatua Perry, ketika Juruselamat berusia dua belas tahun, orang tuaNya membawa Dia ke perayaan Paskah di Yerusalem. Ketika Yesus tertinggal, Dia tidak ditemukan di tempat-tempat atau acara-acara hiburan bagi seorang anak seusianya. Orang tuaNya menemukanNya di dalam bait suci. Mungkin ketika Maria membawaNya ke tempat tidur pada malam hari, dia membagikan kesaksiannya akan kebenaran-kebenaran yang kudus dan berharga ini.

    Kenangan pertama saya akan bait suci adalah ketika saya masih kecil. Saya tahu bahwa bait suci pastilah sebuah tempat yang cukup indah karena orang tua saya dengan setia menghadirinya, dan mereka selalu pulang ke rumah bersama dalam suasana hati yang begitu baik. Saya memahami sifat kudus pakaian bait suci melalui cara ibu saya berbicara mengenainya dengan kasih dan rasa hormat.

    Presiden Howard W. Hunter telah mengatakan, "Marilah kita membagikan dengan anak-anak kita perasaan-perasaan rohani yang kita miliki di dalam bait suci. Dan marilah kita mengajar mereka dengan lebih bersungguh-sungguh dan lebih menyenangkan hal-hal yang dapat kita katakan secara pantas. . . . Simpanlah sebuah gambar bait suci di rumah anda agar anak-anak anda dapat melihatnya" ("A Temple-Motivated People," Ensign, Februari 1995, hlm. 5). Saya memperhatikan setiap rumah yang saya kunjungi di Afrika memiliki sebuah gambar bait suci tergantung dengan sederhana dan indahnya di dinding.

    Pemahaman baru datang sewaktu kita mempersiapkan keluarga kita bagi bait suci. Izinkan saya membagikan beberapa hal yang telah saya pelajari--

    1. Pergi ke bait suci sering kali menyediakan keseimbangan dalam kehidupan kita. Setelah pulang ke rumah, kita memiliki kepekaan yang meningkat akan kesejahteraan; pengaruh Roh dapat melindungi kita dari keputusasaan dunia. Dengarkan janji ini oleh Presiden Hinckley: "Jika ada lebih banyak pekerjaan bait suci yang dilakukan di Gereja, akan lebih sedikit . . . keegoisan, lebih sedikit . . . pertentangan, lebih sedikit . . . merendahkan martabat orang lain. Keseluruhan Gereja akan semakin diangkat ke ketinggian kerohanian, kasih bagi sesama, dan kepatuhan pada perintah-perintah Allah yang lebih besar" (Teachings, hlm. 622).

    2. Suasana rohani dari bait suci mengekang keinginan kita akan hal-hal duniawi. Ketika kita menghadirinya secara sering, kita tidak lagi memiliki kebutuhan yang mendesak untuk mengenakan mode terakhir, dan kita tidak dapat dengan mudah tertarik kepada hiburan dunia.

    3. Bait suci adalah tempat bagi wahyu. Beberapa tahun yang lalu saya sedang berjalan memasuki bait suci dan dalam benak saya, saya mendengar kata-kata, Pelajarilah berbicara di depan publik. Saya berpikir kepada diri saya sendiri, Kapankah saya akan memiliki kebutuhan untuk berbicara di depan publik? Selama kurun waktu beberapa bu-lan saya mencoba dengan sangat tidak memadai untuk mengembangkan sedikit semangat untuk mematuhi bisikan yang telah saya terima. Saya bahkan meminjam sebuah kaset dari perpustakaan setempat oleh seorang pembicara publik yang mengaku bahwa tujuannya adalah untuk pada suatu hari berbicara di Tabernakel Mormon. Saya berpikir pada saat itu, Saya tidak akan pernah berbicara dalam Tabernakel!

    Penatua John A. Widtsoe telah mengatakan, "Pada saat-saat yang sangat tidak terduga, di dalam atau di luar bait suci akan datang kepada [kita], sebagai sebuah wahyu, pemecahan dari persoalan-persoalan yang membebani [kehidupan kita]. . . . Itu adalah tempat di mana wahyu dapat diharapkan" ("Temple Worship," Utah Genealogical and Historical Magazine, April 1921, hlm. 63­64).

    4. Salah satu pelajaran terbesar yang telah saya pelajari adalah bahwa Setan akan mencoba untuk menjauhkan kita dari pergi ke bait suci. Dalam sebuah pembahasan dengan teman-teman pada suatu saat, mereka membagikan dengan saya bahwa kapan pun mereka menghadiri, mereka tidak mengatakannya kepada orang lain bahwa mereka akan melakukannya. Mereka hanya naik mobil dan pergi, karena bila tidak, sesuatu pasti akan terjadi untuk menjauhkan mereka.

    Saya ingat membaca sebuah peringatan yang diberikan oleh presiden Bait Suci Logan bahwa Setan dan para pengikutnya akan "membisikkan dalam telinga orang-orang membujuk mereka untuk tidak pergi ke Bait Suci" ("Genealogical Department," Church News, 12 Desember 1936, hlm. 8). "Pekerjaan bait suci membawa sangat banyak perlawanan karena itu adalah sumber dari sedemikian banyak kekuatan rohani bagi Orang-orang Suci" (Boyd K.Packer, "The Holy Temple," Ensign, Februari 1995, hlm. 36).

    5. Roh Elia dirasakan di seluruh negeri. Sewaktu kita bekerja dengan para remaja Gereja, kita melihat mereka didorong ke bait-bait suci mereka.

    Di Nicaragua, Amerika Tengah, sebuah kelompok dari 49 remaja putri dan para pemimpin mereka mengambil 2.000 nama ke Bait Suci Guatemala City. Memakan waktu satu tahun bagi setiap gadis untuk mengumpulkan cukup uang untuk pergi. Para remaja putri yang setia ini mengendarai sebuah bis selama hampir dua hari perjalanan melalui tiga perbatasan negara dan menghabiskan dua sampai tiga hari di bait suci sebelum kembali pulang ke rumah.

    Di lingkungan lain, orang-orang muda telah menemukan nama-nama 10.000 leluhur sewaktu mereka membalikkan hati mereka kepada keluarga mereka. Di mana bait suci tersedia, kita melihat orang-orang muda melakukan pembaptisan bagi mereka yang telah meninggal, kadang-kadang secara pribadi setiap minggunya.

    Dalam bait suci Roh Tuhan menyediakan penghiburan dan kedamaian, khususnya selama masa-masa keputusasaan. Baru-baru ini saya bertemu seorang wanita berusia 35 tahun di bait suci. Sewaktu kami berbincang-bincang, saya bertanya apakah suaminya berada bersamanya. Dengan sebuah pandangan lembut di matanya, dia membagikan kepada saya bahwa suaminya telah meninggal karena tumor otak tiga bulan lalu. Bait suci adalah sauhnya; Roh yang ditemukannya di bait suci memberikan kepadanya penghiburan serta kedamaian, dan mungkin suaminya berada di sana.

    Setiap dari kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri, "Berapa sering hendaknya saya menghadiri bait suci?" Para pemimpin kita tidak akan pernah me-ngatakan berapa sering kita hendaknya menghadiri, karena itu berbeda bagi setiap orang. Banyak wanita dari berbagai usia yang tinggal dekat bait suci mencoba untuk pergi sekali seminggu. Sewaktu salah seorang teman saya bekerja penuh waktu, dia mengambil satu hari dalam satu bulan untuk pergi ke bait suci, menghadiri beberapa sesi. Para wanita ini patuh, tetapi mereka juga memahami kekuatan dari kuasa imamat yang datang ke dalam kehidupan mereka.

    Bagi para orang tua muda, menghadiri bait suci mungkin merupakan ken-can satu bulan sekali. Presiden Packer telah mengatakan, "Mungkin anda akan memahami . . . kami mencoba untuk membangun sejarah keluarga sebagai . . . sebuah 'industri perumahan' . . . . Pasangan yang membesarkan anak-anak kecil hendaknya tidak merasa tidak mampu atau bersalah . . . jika mereka tidak sanggup dalam kesempatan maupun keuangan untuk menghadiri bait suci yang jauh secara sering. Ibu memberikan kontribusi dengan mencatat peristiwa-peristiwa penting, mengumpulkan gambar-gambar, kepingan-kepingan penuh kenangan, . . . semuanya sesuai jadwal seorang ibu yang sibuk" ("A Plea To Stake Presidents," pertemuan pelatihan kepemimpinan, 1 April 1988).

    Ibu saya sendiri tidak membuat buku kliping, tetapi dia memberi saya kasih bagi pusaka warisan saya. Dia memberitahu saya banyak sekali cerita mengenai para leluhur saya sewaktu dia mengajar saya untuk mengasihi mereka.

    Presiden Packer meneruskan: "Ayah dan ibu dapat berbicara mengenai tatacara dan perjanjian. Melalui nada suara mereka, mereka dapat menekankan kata bait suci setiap saat mereka me- ngatakannya. . . . Pada saat-saat yang tepat, kewajiban keluarga akan menjadi lebih ringan dan pendapatan akan bertambah. Kemudian para anggota dapat dan hendaknya memberikan lebih bagi pekerjaan [bait suci] yang kudus ini" ("A Plea to Stake Presidents").

    Kami memohon kepada anda para ibu dan ayah untuk mengajar anak-anak lelaki dan perempuan anda arti dari perjanjian bait suci. Ajarkan mereka bahwa "mengenakan garmen adalah kesempatan istimewa yang kudus. . . . [Itu] merupakan pernyataan lahiriah dari sebuah komitmen batin untuk mengikuti Juruselamat Yesus Kristus" (Surat Presidensi Utama, tanggal 5 November 1996).

    Brother dan sister, sebagai hamba Allah yang hidup, kita akan bergerak maju dalam pekerjaan bait suci yang kudus ini. Semoga kita mengajar anak-anak kita bahwa sewaktu mereka mempersiapkan diri mereka sendiri secara rohani bagi bait suci, mereka dapat berdiri di hadirat Tuhan, saya berdoa dalam nama Yesus Kristus, amin.

  •  
    © 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy