The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
Oktober dari 1998
Harapan Melalui Korban Tebusan Yesus Kristus

Harapan Melalui Korban Tebusan Yesus Kristus

Penatua Neal A. Maxwell
Dari Kuorum Dua Belas Rasul

Harapan sejati adalah jauh lebih daripada sekedar angan-angan lamunan. Harapan sejati memperkuat, bukan memperlemah, tulang punggung rohani.

Penatua Neal A. Maxwell

Saudara dan saudari sekalian, saya sangat bersyukur berada bersama anda hari ini. Batok kepala saya masih agak mengkilap, tetapi bukan karena teman-teman tukang cukur saya telah meningkatkan panggilan mereka. Melainkan, itu menggambarkan lebih banyak perawatan, yang memberi harapan terlepas dari gaya rambut konferensi saya yang terus berubah.

Rasa syukur saya terus mengalir--terutama kepada Tuhan, lalu kepada istri dan keluarga saya yang istimewa, para dokter dan juru rawat yang kompeten dan penuh perhatian, serta begitu banyak teman dan anggota yang berdoa demi saya.

Untuk berbagai alasan, saudara dan saudari, masyarakat dewasa ini tampaknya bergumul untuk menjadi penuh harapan. Sebab dan akibat yang terkait terbaur dengan demikian halusnya.

Penggunaan sehari-hari kita akan kata harapan mencakup bagaimana kita "berharap" untuk tiba di tujuan tertentu pada saat tertentu. Kita "berharap" dunia ekonomi akan membaik. Kita "berharap" akan kunjungan orang yang dikasihi. Itu menggambarkan harapan-harapan kita yang tulus tetapi jangka pendek.

Kekecewaan hidup sering mewakili reruntuhan dari harapan-harapan kita yang gagal, yang jangka pendek. Namun sebaliknya, saya berbicara tentang kebutuhan yang amat besar akan harapan yang utama.

Harapan yang utama adalah sebuah hal yang berbeda. Harapan itu berkaitan dengan Yesus dan berkat-berkat dari Korban Tebusan agungNya, berkat-berkat yang berakibat pada Kebangkitan universal dan kesempatan berharga yang disediakan olehnya bagi kita untuk menjalankan pertobatan yang membebaskan, yang memungkinkan apa yang disebut dalam tulisan suci "harapan yang gilang gemilang" (2 Nefi 31:20).

Moroni memastikan: "Apakah yang akan kamu harapkan? Lihatlah aku berkata kepadamu bahwa kamu akan mempunyai harapan melalui korban tebusan Kristus" (Moroni 7:40­41; lihat juga Alma 27:28). Harapan yang sesungguhnya, karenanya, bukanlah berhubungan dengan hal-hal yang sementara, tetapi lebih dengan hal-hal yang baka dan kekal!

Tidaklah mengherankan, harapan terjalin dengan ajaran-ajaran injil lainnya, khususnya iman dan kesabaran.

Sama seperti keraguan, keputus-asaan, dan kebebalan berjalan bersama, demikian pula iman, harapan, kasih amal, dan kesabaran. Namun, hal-hal yang terakhir disebutkan ini harus dipelihara secara hati-hati dan terus menerus, sementara keraguan dan keputus-asaan, seperti rerumputan, perlu sedikit dorongan untuk tumbuh dan menyebar. Sayangnya, keputus-asaan datang demikian alaminya kepada manusia yang duniawi!

Kesabaran, misalnya, memperkenankan kita untuk berurusan lebih adil terhadap ketidak-adilan pengalaman hidup.

Iman dan harapan berinteraksi terus menerus dan tidak selamanya dapat dibedakan dengan mudah atau dengan tepat. Meksipun demikian, pengharapan dari harapan yang utama adalah benar "dengan kepastian" (Eter 12:4; lihat juga Roma 8:24; Ibrani 11:1; Alma 32:21). Namun dalam ilmu hitung teologia yang dipulihkan, harapan sejalan dengan iman tetapi kadang-kadang memiliki lingkup yang lebih besar. Iman, sebaliknya, terdiri dari "kepastian dari hal-hal yang diharapkan" dan bukti dari "hal-hal yang tak terlihat" (TJS, Ibrani 11:1; lihat juga Eter 12:6). Jadi, pengharapan kadang-kadang mengintip melebihi batasan iman yang ada dewasa ini, tetapi selalu terpancar dari Yesus.

Tidaklah mengherankan jiwa dapat digetarkan dan dipacu oleh "tiupan terompet" harapan sejati lebih daripada oleh musik mana pun. Bahkan jika beberapa rekan tertidur atau hengkang, "asa" tetap ada "di depan kami . . . berseri" ("Kami Bersyukur Bagi Nabi," Nyanyian Rohani, no. 8; lihat juga 1 Petrus 1:3). Harapan menyebabkan para pengikut yang patah hati untuk pergi dengan cepat dan penuh harap ke makam yang kosong (lihat Markus 16:1­8; Lukas 24:8­12). Harapan membantu seorang nabi melihat hujan yang melegakan di awan yang jauh yang tampaknya tidak lebih besar dari tangan manusia (lihat 1 Raja-raja 18:41­46).

Harapan yang utama seperti itu membentuk "sauh . . . bagi jiwa" dan dipertahankan melalui karunia Roh Kudus serta iman dalam Kristus (Ibrani 6:19; lihat juga Alma 25:16; Eter 12:9). Sebaliknya, memandang hidup tanpa prospek kebakaan dapat menghilangkan bukan saja pengharapan tetapi juga rasa tanggung jawab pribadi (lihat 1 Korintus 5:19; Alma 30:18).

Diakui, kehidupan manusia mencakup banyak orang yang melakukan dengan pantas pekerjaan hidup, tanpa tersentuh oleh perasaan keagamaan yang dalam atau tanpa pernyataan darinya, tetapi yang, meskipun demikian, menimba tanpa sadar dari "terang Kristus," yang sampai pada tingkat tertentu menerangi setiap individu (lihat A&P 84:46; Moroni 7:16, 18; Yohanes 1:9). Secara terpuji, individu lainnya telah secara terbuka mengakui keakraban rohani yang mendukung mereka.

Meskipun demikian, karena harapan jangka pendek sedemikian rentannya terhadap ironi dan yang tidak terduga, ada rasa putus asa yang meningkat dan mendalam di dunia. Sinisme penuh sungut-sungut sekarang memasuki politik. Banyak yang merasa terbebani oleh kecemasan masyarakat lainnya yang terakumulasi.

Bahkan mereka yang sendirinya mapan secara rohani dapat merasakan dinginnya udara. Sekularisme [paham filsafat yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama] yang dingin mengakibatkan sebagian gigilan itu, ketika banyak yang mengalah pada apa yang oleh Senator Patrik Moynihan disebut "menurunkan definisi penyimpangan" ("Defining Deviancy Down," The American Scholar, musim dingin 1993, hlm. 17). Banyak keputus-asaan benar-benar berasal dari kedurhakaan--tetapi sebagaimana Allah mendefinisikan kedurhakaan (lihat Moroni 10:22).

Ada demikian banyak ketidak-pastian dan pemecah-belahan. Tidaklah heran hilangnnya harapan yang mengikutinya hampir selalu menyebabkan keegoisan melanda ketika banyak orang, menyerah, berpaling untuk memuaskan diri sendiri.

Ketika harapan dihilangkan, Paulus mengamati kecenderungan ini bagi sementara orang untuk makan dan minum, berdalih bahwa "besok kita mati," terdorong oleh kesimpulan yang keliru bahwa "dengan matinya manusia, maka segala sesuatu akan berakhir" (1 Korintus 15:32; Alma 30:18).

Betapapun saya meratapi badai yang menggulung, tentu masih ada manfaat di dalamnya. Peristiwa-peristiwa akan menolong untuk menarik perhatian yang segar pada cara-cara Allah yang lebih tinggi dan kerajaanNya, yang "menjadi indah seperti matahari dan jernih seperti bulan" (A&P 105:31).

Orang dan bangsa akan terus memilih apa yang mereka inginkan, tetapi mereka tidak dapat mengubah konsekuensi akhir dari apa yang mereka inginkan.

Karenanya, dalam proses pematangan yang dipercepat ini, janganlah kita terkejut bahwa ilalang semakin tampak seperti ilalang sepanjang waktu. Pada masa ini ketika bangsa-bangsa berada dalam tekanan, dengan kebingungan, akan ada pergolakan penebusan: "Karena kerajaan iblis harus berguncang, dan mereka yang termasuk kerajaan ini perlulah kiranya digerakkan agar bertobat " (2 Nefi 28:19).

"Digerakkan" itu akan menjadi hal yang nyata, meskipun kita hanya dapat menduga bagaimana hal itu akan dicapai.

Sementara itu, mereka dengan harapan yang utama menerima kebenaran dari ayat singkat ini: "Tetapi segala hal akan terjadi pada waktunya" (A&P 64:32).

Karenanya, adalah baik untuk merenungkan status harapan dalam konteks manusia kita dewasa ini ketika perintah-perintah Allah tampak tidak penting bagi banyak orang. Harus diakui, seperti dikatakan tulisan suci, "tidaklah biasa bahwa suara rakyat menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan yang benar" (Mosia 29:26). Tetapi jika ini terjadi, membawa lautan perubahan besar-besaran dalam sikap masyarakat, maka penghakiman Allah akan datang (lihat Mosia 29:26, 27). Hanya penerimaan wahyu Allah yang dapat mendatangkan baik petunjuk maupun perbaikan yang dibutuhkan, dan sebaliknya, suatu "harapan yang gilang-gemilang" (2 Nefi 31:20).

Harapan sejati menjaga kita selalu "terlibat" dalam tujuan-tujuan yang baik bahkan ketika ini tampaknya tujuan yang kalah dalam papan angka kefanaan (lihat A&P 58:27). Demikian pula, harapan sejati adalah jauh lebih daripada sekedar angan-angan lamunan. Harapan sejati memperkuat, bukan memperlemah, tulang punggung rohani. Harapan itu tenang, tidak resah, penuh semangat tanpa bersifat naif, dan mantap secara menyenangkan tanpa menjadi angkuh. Harapan merupakan antisipasi yang realistis yang mengambil bentuk keteguhan hati--bukan hanya untuk bertahan dalam kesengsaraan tetapi, lebih lagi, untuk "bertahan dengan baik" sampai akhir (A&P 121:8).

Meskipun biasanya merupakan atribut yang "hidup," harapan berdiri dengan tenang bersama kita dalam pemakaman. Air mata kita sama basahnya, tetapi bukan karena keputusasaan. Melainkan, itu merupakan air mata penghargaan yang diperkuat yang terpicu oleh perpisahan yang pedih. Air mata perpisahan itu akan berubah, tidak lama kemudian, menjadi air mata antisipasi yang mulia.

Harapan sejati mengilhami pelayanan Kristiani yang diam-diam, bukan fanatisme publik yang hiruk pikuk. Finley Peter Dunne dengan nakal mengamati, "Seorang fanatik adalah seseorang yang melakukan apa yang dipikirnya akan Tuhan lakukan seandainya Dia tahu fakta-faktanya" (quoted in The Third--And Possibly The Best--637 Best Things Anybody Ever Said, dikumpulkan oleh Robert Byrne [1986], no. 549.)

Sesungguhnya, ketika kita tidak sabar dengan jadwal seorang Allah yang maha besar, kita sebenarnya menyarankan bahwa kita mengetahui apa yang terbaik. Aneh bukan--kita yang memakai arloji berusaha untuk menasihati Dia yang mengatur jam dan kalender kosmis.

Karena Allah ingin agar kita pulang setelah kita menjadi lebih seperti Dia dan PutraNya, sebagian dari proses perkembangan ini, karena kebutuhan, terdiri dari memperlihatkan kepada kita kelemahan-kelemahan kita. Karena itu bila kita memiliki harapan yang utama kita akan rendah hati, sebab, dengan bantuanNya, kelemahan-kelemahan itu bahkan dapat menjadi kekuatan (Eter 12:27).

Namun, bukanlah hal yang mudah, untuk diperlihatkan kelemahan seseorang, sebagaimana yang diperagakan secara teratur oleh kehidupan. Namun, ini adalah bagian dari datang ke Yesus, dan ini adalah bagian yang penting, meskipun menyakitkan, dari rencana kebahagiaan Allah. Di samping itu, Penatua Henry B. Eyring telah mengamati dengan bijaksana, "Jika anda menginginkan pujian lebih daripada petunjuk, anda mungkin tidak memperoleh keduanya" ("To Choose and Keep a Mentor," Addresses Delivered at the 1993 Annual University Conference, Brigham Young University [1993], 42) ceramah yang disampaikan pada Konferensi Tahunan.

Dengan bergerak maju mudah-mudahan, kita dapat, dengan berulang kali dan sukacita, berdiri pada apa yang merupakan cakrawala hari kemarin, dengan demikian menimba lebih banyak harapan dari pengalaman kita sendiri. Karena itu Paulus menggambarkan betapa "kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan" (Roma 5:3­4). Oleh sebab itu, kita dengan tepat bernyanyi tentang Allah, "Dulu t'lah kami buktikan" (Nyanyian Rohani, no. 8).

Perlu diakui, mereka yang memiliki harapan sejati masih menyaksikan keadaan mereka terguncang pada sekali-sekali-seperti kaleidoskop. Namun dengan "mata iman," meskipun dalam keadaan mereka yang berubah-ubah, yang sesaat, mereka masih melihat rancangan ilahi (lihat Alma 5:15).

Mereka yang benar-benar penuh harapan, misalnya, bekerja di tengah-tengah kebusukan yang mengelilingi, untuk memiliki keluarga yang kuat dan bahagia. Tanggapan mereka adalah tanggapan mantap Yosua, "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan . . . " (Yosua 24:5).

Kita mungkin tidak dapat memperbaiki seluruh dunia, tetapi kita dapat berjuang untuk memperbaiki apa yang kurang dari keluarga kita sendiri. Tolkien mengingatkan kita: "Bukanlah bagian kita untuk menguasai segala bidang di dunia, tetapi untuk melakukan apa yang ada dalam diri kita untuk membantu di tahun-tahun kita ditempatkan di sana, mencabuti kejahatan di ladang-ladang yang kita ketahui, agar mereka yang hidup setelahnya boleh memiliki tanah yang bersih untuk dibajak. Cuaca yang akan mereka miliki bukanlah untuk kita perintah" (The Return of the King [1965], hlm. 190).

Karenanya, brother dan sister, dalam bidang tanah keluarga kita masing-masing, kita dapat mewariskan kepada generasi-generasi penerus "tanah yang bersih untuk dibajak"! Jadi bukan saja kasih amal yang dimulai dari rumah, demikian pula harapan!

Apa pun jalur khusus kita, kita dapat, menurut kata-kata Paulus, "membajak dalam pengharapan," tanpa melihat ke belakang, dan menolak untuk membiarkan hari kemarin menyandera hari esok (1 Korintus 9:10).

Harapan yang utama, yang tulus menolong kita lebih mengasihi bahkan selagi kasih banyak orang menjadi dingin (lihat Matius 24:12). Kita haruslah menjadi lebih kudus, bahkan ketika dunia menjadi masak dalam kedurhakaan; lebih ramah dan sabar dalam dunia yang kasar dan bengis, dan menjadi tabah bahkan ketika hati orang lain mengecewakan mereka (lihat Moroni 10:22).

Pengharapan dapat menular, khususnya jika kita harus "siap sedia . . . pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban . . . tentang pengharapan yang ada pada [kita]" (I Petrus 3:15). Kata Presiden Brigham Young, jika kita tidak membagikan pengetahuan kepada orang lain dan melakukan yang baik, kita "akan menciut dalam pandangan dan perasaan [kita]" (Deseret News Weekly, 9 Mei 1855, 68).

Jika kita mencari hal-hal khusus yang dapat kita lakukan, Roh Kudus akan membimbing kita, memperlihatkan kepada kita "segala hal" yang harus kita lakukan, karena ini adalah salah satu perannya yang mengilhami (lihat 2 Nefi 32:5). Kesempatan kita untuk menolong sesama yang telah kehilangan pengharapan mungkin tidak lebih jauh daripada dalam keluarga besar kita sendiri, tetangga sebelah rumah yang putus asa, atau seseorang yang tinggal di sudut jalan. Dengan membantu seorang anak belajar membaca, mengunjungi seorang pasien yang kesepian di rumah jompo, atau dengan sekedar melakukan sesuatu untuk orang tua yang sibuk namun kewalahan, begitu banyak yang dapat dibagikan kepada sesama. Demikian pula, pembicaraan injil yang sederhana dapat memberikan pengharapan. Sementara itu, jangan perdulikan dunia yang menjadi terpecah dalam dua kutub antara mereka yang dari dunia dan permisif dengan mereka yang memegang nilai-nilai rohani.

Oleh sebab itu, diberkati sendiri dengan harapan, marilah kita, sebagai murid, daripada diciutkan, mengulurkan tangan, termasuk kepada mereka yang, untuk alasan apa pun, telah "didesak dari pengharapan injil" (Kolose 1:23).

Seperti dalam perkataan Charles Wesley's dalam nyanyian rohani, "Come Let Us anew" [Marilah Kita Perbarui], hidup dan zaman kita memang meluncur, berlalu dengan cepat, dan jalur peluncurnya amat bervariasi, seperti kita ketahui semua. Tetapi semua mereka yang menang "dengan kesabaran harapan dan karya kasih" akan mendengar kata-kata yang mulia, "'Telah selesai dengan setia dan baik; Masuklah ke dalam sukacitaKu dan duduklah di atas tahtaKu'" (Hymns, no. 217, diterjemahkan bebas).

Semoga saat yang agung itu suatu hari kelak akan dapat kita peroleh, melalui injil pengharapan--di dalam nama Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy