The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
Oktober dari 1998
Bait Suci Kecil--Berkat Besar

Bait Suci Kecil--Berkat Besar

Penatua David E. Sorensen
Dari Presidensi Dewan Tujuh Puluh

Keberadaan sederhana sebuah bait suci hendaknya melayani sebagai suatu pengingat akan perjanjian-perjanjian yang telah kita buat, kebutuhan akan integritas, dan kenyataan bahwa Allah tidak pernah berada jauh.

Penatua David E. Sorensen

Penatua Maxwell, anda adalah harta yang besar bagi Gereja dan berkat bagi dunia secara umum. Semoga Allah memberkati anda dan menjaga anda.

Saudara dan saudari, merupakan pengalaman yang menakutkan untuk berdiri di hadapan anda. Ketika saya tumbuh, keluarga saya hidup di peternakan sapi di Utah tengah bagian selatan, dan saya menghabiskan banyak waktu di atas pelana untuk menggiring dan merawat sapi-sapi tersebut. Saya harus mengakui bahwa ada bagian dari diri saya sekarang yang akan lebih nyaman menghindari seekor banteng yang sedang mengamuk daripada berbicara di sini hari ini; meskipun demikian, saya tahu saya berada di antara teman-teman, dan saya percaya dengan sepenuh hati saya akan pentingnya pekerjaan yang sedang kita lakukan.

Pada masa awal Gereja ketika hanya ada beberapa anggota saja, Nabi Joseph Smith berkata kepada sekelompok pria: "Anda tidak tahu lebih banyak mengenai nasib dari Gereja dan kerajaan ini daripada seorang bayi di pangkuan ibunya. Anda tidak memahaminya . . . . Hanya ada segelintir Imamat yang anda lihat di sini malam ini, tetapi Gereja ini akan memenuhi Amerika Utara dan Selatan--Gereja ini akan memenuhi bumi" (sebagaimana dikutip oleh Wilford Woodruff, dalam Conference Report, April 1898, hlm. 57). Kita mulai menyaksikan sebagian penggenapan dari nubuat tersebut.

Sewaktu keanggotaan Gereja berkembang di seluruh dunia, demikian juga kebutuhan akan bait-bait suci. Presiden Hinckley berkata 13 tahun lalu, "Pekerjaan yang kudus dan penting yang berlangsung di bait-bait suci harus ditingkatkan, dan agar hal ini terjadi, adalah penting bahwa bait-bait suci didekatkan kepada orang-orang daripada meminta orang-orang melakukan perjalanan yang demikian jauh ke bait-bait suci" (dalam Conference Report, Oktober 1985, hlm. 71; atau Ensign, November 1985, hlm. 54).

Izinkan saya berbagi dengan anda beberapa angka yang menunjukkan seberapa jauh Gereja telah berkembang dalam usaha membawa bait suci agar lebih dekat dengan para anggota:

Di tahun 1900, hanya ada empat bait suci yang beroperasi--semuanya di negara bagian Utah.

Dalam 50 tahun berikutnya, dari 1900 sampai 1950, empat bait suci lagi didedikasikan, dengan jumlah keseluruhan delapan bait suci. Jadi dalam abad pertama, Gereja membangun sekitar satu bait suci setiap dekadenya.

Dalam 30 tahun antara 1951 dan 1980, 11 bait suci lainnya dibangun, membawa jumlah keseluruhan menjadi 19. Itu merupakan tingkat pertumbuhan yang lebih cepat, tetapi meskipun demikian masih ada banyak anggota yang baginya kunjungan ke bait suci berarti penyimpanan uang selama bertahun-tahun dan perjalanan yang jauh.

Dalam tahun 1980-an, Gereja memulai usaha pembangunan bait suci yang lebih intensif; hingga tahun 1997, 32 bait suci lagi didedikasikan, atau sekitar dua bait suci setiap tahunnya.

Gereja sekarang telah memasuki era pembangunan bait suci yang paling penuh dedikasi sepanjang sejarahnya. Pada tahun 1998, dua bait suci telah didedikasikan, dengan 15 lagi dalam pembangunan dan 26 lokasi bait suci tambahan sedang dipersiapkan bagi peletakan batu pertama. Ke 43 bait suci ini, ditambah bait-bait suci yang sekarang beroperasi, menjadikan jumlah keseluruhannya 94.

Ini merupakan berkat yang luar biasa bagi kita sebagai anggota Gereja. Perjanjian Lama menjelaskan sebagian sukacita yang datang ketika orang membangun tempat-tempat kudus ini: "Secara berbalas-balasan mereka menyanyikan bagi Tuhan nyanyian pujian dan syukur . . . . Dan seluruh umat bersorak-sorai dengan nyaring sambil memuji-muji Tuhan, oleh karena dasar rumah Tuhan telah diletakkan" (Ezra 3:11; lihat juga ayat 10, 12, 13).

Menyaksikan bait-bait suci yang baru ini dibangun, saya percaya bahwa kita juga akan memiliki kesempatan untuk memuji Tuhan dan menangis karena sukacita.

Sewaktu kita melihat meningkatnya tekad yang dibuat Presiden Hinckley dan lainnya untuk membangun bait-bait suci baru, kita boleh berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri mengapa bait-bait suci begitu penting. Memang, mereka yang bukan anggota Gereja mungkin bahkan tidak memahami perbedaan antara gedung pertemuan kita yang biasa, yang jumlahnya beribu-ribu, dengan bangunan khusus yang kita sebut bait suci ini.

Presiden Hinckley menjelaskan perbedaannya dengan cara ini: "Bangunan-bangunan yang unik dan hebat ini, serta tatacara-tatacara yang dilaksanakan di dalamnya, mewakili yang utama dalam ibadah kita. Tatacara-tatacara ini menjadi ungkapan yang paling mendalam dari teologi kita" (dalam Conference Report, Oktober 1995, hlm. 72; atau Ensign, November 1995, hlm. 53). Dengan kata lain, bait-bait suci memiliki nilai yang besar bagi kita karena bait-bait suci tersebut membantu kita mengungkapkan inti teologi kita, yaitu untuk datang kepada Kristus.

Bait-bait suci melakukan ini paling tidak dalam dua cara. Pertama, bait suci secara simbolis dan harfiah mengingatkan kita serta mengajarkan kita mengenai Kristus dan BapaNya. Kita tahu bahwa Kristus meluangkan bagian-bagian kunci dari pelayananNya di bait suci di Yerusalem (lihat Yohanes 7­8; Matius 21­23; Markus 11­12; Lukas 20), dan kerap menggunakan simbolisme bait suci dalam ajaranNya, sering kali membandingkan DiriNya sendiri dengan simbol-simbol yang digunakan di dalam bait suci, seperti terang dan air (lihat, misalnya, Yohanes 7:38; 8:12). Ibadah bait suci kita dewasa ini mencakup banyak referensi simbolis kepada Kristus, dari puncak menara di luar yang mengarahkan pikiran kita ke surga, sampai pada pakaian putih yang kita kenakan di dalam bait suci untuk melambangkan bahwa, sebagaimana dikatakan dalam kitab Wahyu, kita telah "keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba" (Wahyu 7:14).

Bait suci berdiri sebagai suatu pengingat fisik yang konstan mengenai kasih karunia dan kebaikan Bapa. Ini membantu masyarakat Orang Suci untuk memperkuat diri mereka sendiri. Presiden George Q. Cannon mengatakan: "Setiap batu fondasi yang diletakkan bagi sebuah bait suci, dan setiap bait suci yang diselesaikan . . . mengurangi kuasa Setan di bumi, dan meningkatkan kuasa Allah dan Keallahan" (Upacara peletakkan batu sudut Bait Suci Logan, 19 September 1877; dikutip dalam Nolan Porter Olsen, Logan Temple: The First 100 Years [1978], hlm. 34).

Bait suci telah selamanya melambangkan keberadaan di hadirat Tuhan. "Dan mereka harus membuat tempat kudus bagiKu, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka," kata Tuhan. "Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan . . . Aku akan berbicara dengan engkau" (Keluaran 25:8, 22). Ada suatu kedekatan dengan Allah yang datang melalui ibadah yang teratur di dalam rumah Tuhan. Kita dapat mengenal Dia dan merasa disambut, "merasa di rumah," di dalam rumahNya.

Dengan bait suci di demikian banyak tempat di seluruh dunia, lebih banyak dari kita yang akan memilikinya dekat dengan kita untuk mengingatkan kita akan Kristus dan pengorbananNya bagi kita. Keberadaan sederhana sebuah bait suci hendaknya melayani sebagai suatu pengingat akan perjanjian-perjanjian yang telah kita buat, kebutuhan akan integritas, dan kenyataan bahwa Allah tidak pernah berada jauh.

Melampaui keberadaan fisik dan simbolisme luarnya, bait suci dapat mengilhami kita untuk datang kepada Kristus dalam sebuah cara yang kedua--yaitu, melalui tatacara-tatacara yang kita laksanakan di dalamnya. Semua tatacara bait suci terpusat kepada Yesus Kristus dan misi ilahiNya, dan semuanya dilakukan dengan wewenang dari Imamat Melkisedek. Ajaran dan Perjanjian 84 menyatakan, "Dan tanpa tatacara-tatacara itu, serta tanpa wewenang keimamatan, kuasa ilahi tidak dinyatakan kepada manusia dalam daging" (A&P 84:21). Setiap tatacara diperhitungkan untuk mengungkapkan kepada kita sesuatu mengenai Kristus dan hubungan kita kepada Allah.

Sementara beberapa tatacara dalam bait suci tampaknya mudah untuk dimengerti, seperti pernikahan kekal, tatacara-tatacara lainnya memerlukan persiapan rohani yang seksama dan panjang sebelum pengaruh penuhnya menjadi jelas bagi kita. Dalam surat pertama kepada Korintus, Paulus menjelaskan kebutuhan untuk memiliki Roh Allah bersama kita dalam rangka memahami hal-hal dari Allah: "Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita" (1 Korintus 2:12; lihat juga ayat 11, 14). Sewaktu Roh Allah membantu kita untuk memahami dan mengetahui rencanaNya bagi kita, kita akan menemukan bukan saja pengetahuan yang lebih besar tetapi juga lebih banyak kedamaian dan kasih.

Tatacara bait suci juga menyediakan sebuah kesempatan untuk memperkuat keluarga kita, sesuatu yang begitu sangat diperlukan pada masa ini. Kekuatan dapat disediakan melalui melaksanakan tatacara secara perwalian bagi para leluhur kita, dengan demikian membentuk "hubungan yang erat" antara orang tua dan anak-anak (A&P 128:18). Sebagai contoh, di dalam bait suci kita dapat dibaptiskan secara perwalian bagi para leluhur kita yang mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mendengar injil selama kehidupan fana mereka (lihat I Korintus 15:29).

Di Jepang, saya menyaksikan seorang pria berusia 21 tahun menerima injil. Setelah pembaptisan, dia merupakan satu-satunya anggota Gereja di dalam keluarganya. Dia melengkapi pekerjaan sejarah keluarga bagi kakeknya yang telah meninggal agar dia dapat melaksanakan pekerjaan tatacara itu secara perwalian baginya, secara harfiah melakukan sesuatu bagi kakeknya yang sudah tidak dapat dilakukannya lagi bagi dirinya sendiri. Sewaktu pemuda ini keluar dari kolam pembaptisan, terdapat air mata di matanya. Dia berkata, "Sekarang saya tahu dan merasakan, saya memiliki saksi, bahwa saya bukanlah satu-satunya anggota dari Gereja ini di dalam keluarga saya." Tatacara-tatacara ini menguatkan hubungannya dengan keluarganya dan membawa sebuah kedekatan yang baru ke dalam kehidupannya.

Pada pendedikasian Bait Suci Manti, Presiden Lorenzo Snow berdoa: "Semoga bait suci yang kudus ini menjadi bagi mereka bagaikan salah satu gerbang surga, yang membuka ke arah jalan yang lurus dan sempit yang menuju pada kehidupan yang abadi dan kekuasaan kekal" (Pendedikasian Bait Suci Manti, 21 Mei, 1888).

Para brother dan sister, gerbang surga terbuka bagi kita dan Tuhan Yesus Kristus mengundang kita untuk datang kepadaNya. Saya dengan rendah hati bersaksi dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy