Penatua Ronald T. Halverson
Dari Dewan Tujuh Puluh
Ada banyak orang di bumi ini yang menginginkan suatu kesaksian akan kebenaran dan dengan sungguh-sungguh mencari kedamaian dan sukacita yang dijanjikan oleh Juruselamat.
Beberapa tahun yang lalu saya mewawancarai seorang wanita muda untuk rekomendasi bait suci untuk menerima endowmen pribadinya serta untuk menikah dan dimeteraikan untuk sepanjang waktu dan segala kekekalan. Setelah saya selesai menyelesaikan wawancara itu dan menandatangani rekomendasinya, airmata berlinang di pipinya. Saya berkata, "Tolong bagikan perasaan anda dengan saya." Kemudian ia menceritakan kisah berikut:
Sejak masa remajanya ia telah berusaha mencari kebenaran dan petunjuk dalam hidupnya. Ia mendambakan untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan, tetapi tidak peduli ke mana pun ia mencarinya, ia tidak dapat menemukannya. Hal itu mencapai titik di mana ia akhirnya menjadi sangat kecewa,menganggap benar-benar tidak ada apa-apa dalam kehidupan ini yang mempunyai arti atau yang memuaskan. Dengan pemikiran seperti ini, suatu sore ketika sedang mengunjungi seorang sahabat serta menceritakan keprihatinan dan keputusasaannya, ia berkata: "Saya melihat ke belakang sofa di mana saya duduk ke arah rak buku. Pandangan saya jatuh pada sejilid buku tertentu, dan suatu perasaan yang mendesak menyelimuti diri saya. Saya tahu saya perlu mencari tahu apa yang tertulis pada halaman-halamannya."
Ia mengambil buku itu dari rak dan membaca judulnya, Kitab Mormon. Ia menanyakan temannya di mana ia mendapatkannya. Temannya memberitahu bahwa dua orang missionari muda menghentikannya di jalan dan memberikan buku itu kepadanya tetapi hanya setelah berjanji untuk membacanya. Karena tidak ada waktu, ia hanya meletakkan buku tersebut di rak.
"Saya mulai membacanya," katanya. "Saya tidak dapat meletakkannya kembali." Suatu perasaan datang kepadanya yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Temannya mengatakan bahwa ia dapat membawa pulang buku tersebut. Ia pulang ke rumah dan terus membaca sepanjang malam. Keesokan paginya ia pergi ke jalan-jalan mencari dua misionari muda itu. Tidak memakan waktu lama untuk menemukan mereka. Mereka setuju untuk mengajarkan injil kepadanya, dan dalam beberapa minggu ia dibaptis sebagai anggota Gereja.
Melalui linangan air matanya, ia menerangkan bahwa sejak hari itu ia telah menemukan suatu sukacita dan kedamaian batin yang tidak pernah terbayangkan mungkin olehnya.
Tinggal di sebuah kota kecil dengan segelintir anggota dan bahkan kesempatan yang lebih kecil untuk menikah di dalam Gereja, ia tidak berani berharap bahwa suatu ketika ia akan menikah di bait suci. Tetapi ia merasa bahwa melalui petunjuk dari Roh Kuduslah ia bertemu dengan seorang pemuda ketika sedang berlibur di negara lain. Ia adalah seorang anggota Gereja dan menghormati keimamatannya. Mereka telah jatuh cinta, dan ia telah memintanya untuk menikah dengannya di bait suci. Menyadari bahwa ia sekarang dapat pergi ke rumah Tuhan dan dimeteraikan untuk sepanjang waktu dan kekekalan mendatangkan sukacita kepada jiwanya serta rasa terima kasih dan syukur yang besar serta tidak mungkin diuraikan.
" Saya terus menerus bertanya kepada diri sendiri," katanya, "mengapa saya? Mengapa saya? Saya begitu.
Rohnya yang rendah hati dan manis serta kesaksiannya amat menyentuh saya. Sewaktu ia pergi, kami berdua berurai air mata sukacita dan penghargaan.
Saya sering memikirkan pengalaman itu, dan setiap kali saya lakukan, membawa suatu rasa syukur yang dalam bagi Juruselamat kita dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita, untuk harga yang telah Dia bayarkan untuk memungkinkan setiap dari kita untuk menemukan kedamaian batin di dunia yang bermasalah.
Presiden David O. McKay menulis: "Sejak puasa empat puluh hari di gunung pencobaan sampai saat berada di kayu salib ketika Ia berseru dalam kemenangan: 'Sudah selesai!' kehidupan Kristus merupakan suatu contoh yang ilahi tentang menaklukkan dan mengatasi. Begitu berarti kata-kataNya yang diucapkan dalam pesan perpisahanNya kepada murid-muridNya: 'Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.' (Yohanes 16:33)."1
Kedamaian yang Dia bicarakan didefinisikan oleh seorang penulis: "Sukacita sejati adalah suatu kedamaian batin dan kebahagiaan yang mendalam."2
Itu adalah kedamaian yang Paulus bicarakan, "damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal."3 Injil Yesus Kristus mendatangkan kedamaian pikiran, menyembuhkan jiwa, dan menenangkan hati yang bermasalah. Injil memberikan definisi dan arti pada tujuan kehidupan, jaminan rohani bahwa Allah hidup dan Yesus adalah Kristus.
Sukacita dan kedamaian pikiran yang ingin ditemukan oleh para pencari kebenaran di seluruh dunia hanya dapat ditemukan dengan mengetahui dan mematuhi asas-asas injil. Juruselamat berfirman: "Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal di dalam kasihNya.
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh."4
Penatua Franklin D. Richards menyampaikan sebuah undangan pada semua yang mencari sukacita yang sejati, dengan kata-kata be- rikut: "Mereka yang mencari suatu rencana kehidupan yang akan membawakan mereka kedamaian, pelepasan dari ketegangan batin, kebahagiaan dan pertumbuhan serta perkembangan akan menemukannya di dalam injil Yesus Kristus yang dipulihkan." Ia melanjutkan dengan mengatakan: "Kami mengundang pertimbangan anda yang tulus dan penuh doa."5
Mungkin ada yang merasa seolah-olah mereka telah tersesat dan menyimpang terlalu jauh untuk menerima berkat-berkat besar yang dapat diberikan injil, tetapi Penatua Spencer W. Kimball menulis: "Inti dari mukjizat pengampunan adalah bahwa itu mendatangkan kedamaian kepada jiwa yang sebelumnya gelisah, resah, frustrasi, mungkin tersiksa. Dalam dunia yang penuh kekacauan dan pertikaian ini sungguh-sungguh karunia yang tak ternilai."6
Setelah Juruselamat mengajarkan para muridNya tentang kedamaian yang akan Dia tinggalkan dengan mereka dan Penghibur akan Dia kirimkan dari Bapa, Dia menugaskan mereka dengan mengatakan, "Kamu juga harus bersaksi"7 Dia mengajarkan bahwa "dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak."8
Saudara dan saudari sekalian, ada banyak orang di bumi ini yang menginginkan suatu kesaksian akan kebenaran dan dengan sungguh-sungguh mencari kedamaian dan sukacita yang dijanjikan oleh Juruselamat, tetapi "yang dibutakan oleh muslihat halus manusia . . . dan mereka hanya dijauhkan dari kebenaran karena mereka tidak tahu di mana menemukannya."9
Kita hidup di sebuah dunia di mana banyak yang mendengar tentang Kristus, tetapi tidak mengenalNya. Merupakan tanggung jawab kita sebagai anggota Gereja untuk membagikan kesaksian kita dengan sesama. Dalam kerendahan hati, kita memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah. Jika mereka mau membuka hati mereka kepadaNya, mereka akan menemukan jaminan, kedamaian dan sukacita yang didatangkan oleh injilNya. Mereka akan menemukan kekuatan untuk menghadapi tantangan-tantangan kehidupan dalam dunia yang sulit, dan dengan menerima ajaran-ajaranNya serta mematuhi perintah-perintahNya mereka akan menjadi ahli waris bagi berkat-berkat yang telah dijanjikanNya.
Atas ini saya memberikan kesaksian saya yang rendah hati di dalam nama Yesus Kristus, amin.
CATATAN
1. J. Obert C. Tanner, Christ's Ideals for Living (1955), hlm. 379.
2. Hoyt W. Brewster Jr. Doctrine and Covenants Encyclopedia (1988), hlm. 287.
3. Filipi 4:7
4. Yohanes 15:1011
5. "Justice, Mercy, and Humility," Improvement Era, Juni 1970, hlm. 37.
6. The Miracle of Forgiveness (1969), 363.
7. Yohanes 15:27
8. Yohanes 15:8
9. A&P 123:12.