The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April dari 1998
Di Jalan Bahaya

Di Jalan Bahaya

Presiden Thomas S. Monson
Penasihat Pertama dalam Presidensi Utama

Ada pertempuran dengan arti penting yang sedang terjadi dalam kehidupan para pemuda dewasa ini. Dalam istilah yang sederhana, itu pergumulan antara melakukan kebenaran atau melakukan kesalahan.

Presiden Thomas S. Monson

Tanggal 16 Juli 1945 kapal Indianapolis meninggalkan pelabuhan Angkatan Laut Mare Island di California untuk sebuah misi rahasia pengantaran muatan ke pulau Tinian, kepulauan Marianas. Muatannya mencakup peralatan amat canggih yang dapat menuntaskan Perang Dunia Kedua, dengan segala kesengsaraan, penyesalan, dan kematiannya. Kapal itu mengantarkan muatannya pada tanggal 26 Juli dan sedang menuju, tanpa pengawalan, ke Leyte di Filipina.

Karena melintasi daerah berbahaya di perairan Filipina, kapten telah mendapat perintah yang bijak agar kapal berjalan secara zig-zag guna menghindari deteksi dan penyerangan musuh. Ia gagal melakukannya. Tepat sebelum tengah malam hari Minggu, 29 Juli 1945, sewaktu Indianapolis dalam perjalanan menuju Teluk Leyte, kapal berbobot berat itu dipergoki oleh kapal selam musuh. Dengan mudah menghindari deteksi sementara membenamkan diri di kedalaman teropong, kapal selam itu memuntahkan enam buah torpedo dari kejauhan seribu lima ratus yard. Ketika torpedo mengenai target, ledakan amunisi dan bahan bakar merobek haluan kapal dan menghancurkan pusat tenaga listriknya. Tanpa listrik, petugas radio tidak dapat mengirimkan tanda bahaya. Perintah untuk meninggalkan kapal, ketika akhirnya tiba saatnya, harus disampaikan melalui mulut, karena semua alat komunikasi rusak. Hanya dua belas menit setelah dihantam, buritan kapal naik setinggi 100 kaki ke udara, dan kapal itu pun tenggelam ke kedalaman laut.

Dari sekitar seribu dua ratus awak kapal, kira-kira empat ratus orang terbunuh seketika atau tenggelam bersama kapal. Sekitar delapan ratus awak selamat dari tenggelam, dan terlempar ke dalam air.

Empat hari kemudian, tanggal 2 Agustus 1945, pilot sebuah pesawat Lockheed Ventura yang sedang terbang berpatroli, melihat adanya tebaran minyak yang tidak lazim di permukaan laut, dan mengikutinya sejauh lima belas mil. Kemudian penumpang pesawat itu melihat orang-orang yang berhasil bertahan hidup sejak kapal Indianapolis tenggelam.

Usaha pertolongan besar-besaran dimulai. Kapal-kapal bergegas menuju ke tempat kejadian, dan pesawat-pesawat diutus untuk menurunkan bahan makanan, air, dan perlengkapan keselamatan bagi orang-orang itu. Dari sekitar delapan ratus orang yang telah terlempar ke laut, hanya tiga ratus enam belas orang yang bertahan hidup. Sisanya telah direnggut oleh lautan yang keras dan dihuni ikan hiu itu.

Dua minggu kemudian Perang Dunia Kedua selesai. Tenggelamnya Indianapolis, yang disebut "tragedi besar terakhir angkatan laut pada Perang Dunia Kedua," kini menjadi legenda.

Adakah tersirat pelajaran untuk kehidupan kita dari pengalaman menyeramkan orang-orang di atas kapal Indianapolis? Mereka berada di jalan bahaya. Bahaya mengancam; musuh mengintai. Kapal itu terus berlayar, tanpa menghiraukan perintah untuk berjalan secara zig-zag, dan karenanya menjadi sasaran empuk. Malapetaka adalah akibatnya.

Pada hari Indianapolis berlayar menuju Leyte, saya bergabung dengan angkatan laut Amerika Serikat. Di Stasiun Pelatihan Angkatan Laut dekat San Diego, Kalifornia, saya berhasil mengatasi menghadapi disiplin ketat kamp tersebut dan pelatihan keras untuk bertempur.

Akhirnya masa cuti pertama kami tiba, dan kami dianjurkan agar semua yang dapat berenang naik ke bus angkatan laut menuju San Diego, sedangkan mereka yang tidak bisa, harus tetap tinggal untuk pelatihan renang. Betapa gembiranya saya karena bisa berenang, dan sudah bisa melakukannya selama bertahun-tahun. Kemudian datanglah perintah yang tidak terduga. Kami yang menjawab bisa berenang diperintahkan berbaris, bukan menuju bus, melainkan menuju kolam renang di markas. Kami berkumpul di ujung kolam yang dalam, disuruh untuk melepaskan pakaian, dan kemudian diperintahkan untuk melompat satu per satu serta berenang menyusuri panjang kolam. Kebanyakan berhasil dengan sedikit usaha, dan bersemangat menantikan perjalanan bus ke San Diego. Namun ada beberapa yang tidak jujur, yang menjawab bisa berenang ketika kenyataannya mereka tidak bisa. Bagi mereka, para petugas menunggu mereka hampir tenggelam sampai dua atau tiga kali sebelum mengulurkan tongkat bambu untuk menarik mereka ke tempat aman. Pelajaran yang diperoleh? Katakanlah kebenaran. Ini pada akhirnya dapat menyelamatkan nyawa anda jika berada di jalan bahaya.

Perjalanan kita melalui dunia fana kadang menempatkan kita di jalan bahaya. Apakah ada peta menuju keselamatan? Adakah orang yang dapat dimintai tolong?

Perkenankan saya menawarkan kepada anda malam ini enam rambu jalan, jika diperhatikan dan dipatuhi, akan menuntun anda menuju keselamatan. Rambu-rambu itu adalah:

1. Pilihlah teman yang baik.

2. Carilah bimbingan orang tua.

3. Pelajari injil.

4. Patuhi perintah-perintah.

5. Layani dengan kasih.

6. Berdoalah dengan tujuan.

Ada pertempuran dengan arti penting yang sedang terjadi dalam kehidupan para pemuda dewasa ini. Dalam istilah yang sederhana, itu pergumulan antara melakukan kebenaran atau melakukan kesalahan.

Pada waktu terdahulu, Moroni menawarkan nasihat berikut: "Karena lihatlah, Roh Kristus diberikan kepada setiap orang, supaya ia dapat mengetahui yang baik dari yang jahat. Oleh karena itu aku memperlihatkan kepadamu cara untuk menilai, karena setiap hal yang mengajak orang untuk berbuat baik dan membujuk orang untuk percaya kepada Kristus, dikirim oleh kuasa dan karunia Kristus. Oleh karena itu kamu akan mengetahui dengan pengetahuan yang sempurna bahwa hal itu berasal dari Allah.

"Tetapi segala sesuatu yang membujuk manusia untuk berbuat jahat, dan tidak mempercayai Kristus dan menyangkal Dia, dan untuk tidak melayani Allah, maka kamu akan mengetahui dengan pengetahuan yang sempurna bahwa hal itu berasal dari iblis."1

Perkenankan saya untuk membagikan satu atau dua pemikiran mengenai setiap dari enam rambu yang telah disebutkan tadi untuk menghindarkan anda dari jalan bahaya.

1. Pilihlah teman yang baik. Teman menolong menentukan masa depan anda. Anda akan cenderung menjadi seperti mereka dan ditemukan di mana mereka memilih untuk pergi. Ingatlah, jalan yang kita ikuti dalam kehidupan ini menuntun ke jalan yang kita ikuti dalam kehidupan berikutnya.

Dalam suatu penelitian di lingkungan dan wilayah Gereja yang dipilih, kita belajar sebuah fakta yang paling penting: Mereka yang teman-temannya menikah di bait suci, biasanya menikah di bait suci juga, sedangkan mereka yang teman-temannya tidak menikah di bait suci, biasanya tidak menikah di bait suci. Hal yang sama berlaku pada pelayanan misi penuh waktu. Pengaruh teman seseorang tampaknya merupakan sebuah faktor yang sangat dominan--bahkan setara dengan dorongan orang tua, pengajaran sekolah, atau jarak dengan bait suci.

Teman yang anda pilih akan menolong atau merintangi keberhasilan anda.

2. Carilah bimbingan orang tua. Ibu anda, ayah anda, keluarga anda semuanya mengasihi anda dan berdoa untuk kebahagiaan kekal anda. Para ayah, jadilah contoh bagi putra-putra anda. Tunjukkan jalannya untuk mereka tempuh. Berjalanlah dengan mereka dalam kebenaran dan iman.

Janganlah mudah menghakimi. Dari sebuah buku pelajaran sekolah pascasarjana, saya membaca tentang suatu kisah yang membuktikan kebijakan dari nasihat ini. Dalam sebuah pabrik besar dengan beragam mesin, karyawannya harus bekerja sebagai satu tim supaya berhasil. Pada satu mesin tertentu, kru terkait kerap terganggu karena seorang pekerja sering tiba terlambat masuk. Pengawas menegur orang yang tidak disiplin itu, dan mengatakan kepadanya, "Jika anda datang terlambat lagi, anda dipecat!"

Hari berikutnya pekerja pelanggar ini terlambat lagi. Kelas kemudian ditanya, "Apa yang akan anda lakukan, bila anda adalah pengawasnya?"

Kira-kira setengah kelas menjawab, "Saya akan memegang perkataan saya dan memecatnya." Sisa kelas merasa kasihan, dan menjawab, "Saya akan memberinya kesempatan sekali lagi." Guru mereka kemudian memberikan jawaban yang benar: "Saya akan bertanya kenapa ia terlambat. Keterlambatannya mungkin saja dapat dibenarkan."

3. Pelajari injil. Yesus mengundang, "Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."2

Di masa kelegaan ini, Tuhan telah menyatakan, "Carilah kamu dari segala kitab yang terbaik kata-kata yang bijaksana, carilah pengetahuan yaitu dengan belajar dan juga dengan iman."3

Kembangkan hasrat untuk mengenal Tuhan, untuk mengerti perintah-perintahNya dan untuk mengikutiNya. Kemudian bayang-bayang keputusasaan digantikan oleh sinar harapan, kesedihan digantikan oleh sukacita, dan perasaan tersesat di dalam kepadatan hidup lenyap dengan pengetahuan pasti bahwa Bapa Surgawi kita memperhatikan setiap dari kita.

4. Patuhi perintah-perintah. Buatlah keputusan untuk melayani Allah. Pelajari firmanNya dan ikutilah.

Seorang pemegang Imamat Harun muda, yang giat di dalam kepramukaan, merangkum kebenaran dari memilih, ketika di hadapan suatu dewan peninjau untuk kenaikan tingkatnya dalam kepramukaan, dia menjawab pertanyaan tentang apa yang telah diberikan kepramukaan baginya dengan mengatakan, "Kepramukaan membuat saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan dan menghindarkan saya dari perbuatan yang tidak seharusnya saya lakukan." Ia lulus.

Sebuah pengingat yang lain adalah pepatah berikut, "Anda tidak dapat benar dengan berbuat salah, dan anda tidak dapat salah dengan berbuat benar." Dalam syair sebuah nyanyian rohani yang terkenal:

Yang benar pilih tiap saat memilih.
Keb'naran Roh Kudus yang pimpin.
Sinarnya s'lamanya 'kan menaungi,
Asalkan hatimu yakin.
4
 
Presiden George A. Smith, Presiden Gereja yang kedelapan, menasihati: "Tetaplah berada di pihak Tuhan."5

5. Layani dengan kasih. Dari "Kata yang Diucapkan" datanglah nasihat ini: "Kita berhutang kepada diri sendiri untuk menemukan bakat-bakat kita dan untuk mendapatkan kesempatan guna membagikannya. Dan kita berhutang kepada keluarga, teman, dan tetangga kita untuk menggunakan kemampuan kita dalam cara-cara yang menolong. Bahkan sewaktu kita merasa tidak bersemangat, kesepian, atau kadang-kadang tidak berguna, kita perlu mengingat bahwa Allah telah memberi setiap dari kita potensi yang besar. Kita semua mempunyai tempat di dalam hidup dan dalam kehidupan orang-orang yang kita kasihi."6

Yesus adalah teladan agung pelayanan. Dikatakan tentang diriNya bahwa Dia "berjalan berkeliling sambil berbuat baik."7 Apakah kita, saudara sekalian, melakukan hal serupa? Kesempatan kita ada banyak, tetapi beberapa tidak bertahan lama dan cepat berlalu. Saudara-saudara, betapa besarnya sukacita ilahi yang anda rasakan sewaktu seseorang mengingat nasihat yang anda berikan, teladan yang anda berikan, kebenaran yang anda ajarkan, pengaruh yang anda miliki dalam mendorong orang lain untuk berbuat benar.

Para pemimpin remaja, ingatlah nasihat Rasul Paulus kepada Timotius: "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu."8 Para Uskup, tempatkanlah orang-orang yang layak dan benar sebagai para pemimpin Imamat Harun, dan persyaratan yang sama hendaknya diharapkan dari para pemimpin kepramukaan.

Tidak seorang pun dipanggil untuk bekerja dengan remaja sampai catatan keanggotaannya ada di tangan uskup. Di samping itu, tidak seorang pun dipanggil untuk bekerja dalam kepramukaan sampai dia telah terdaftar sepenuhnya pada dewan pengurus Kepramukaan dan catatannya pantas dipertimbangkan untuk sebuah panggilan. Prosedur ini telah dijelaskan berulang kali, namun kawanan serigala terus masuk dengan keinginan untuk menghancurkan kawanan domba. Presiden Hinckley meminta agar saya menekankan pada malam ini pengajaran tersebut.

6. Berdoalah dengan tujuan. Dengan Allah, segala sesuatu adalah mungkin. Para pemegang Imamat Harun, para pemegang Imamat Melkisedek, ingatlah doa nabi Joseph, yang dipanjatkan di hutan kecil yang disebut suci itu. Lihatlah ke sekeliling anda dan lihatlah hasil dari doa yang terjawab itu. Doa adalah pemberi kekuatan rohani. Doa adalah paspor menuju kedamaian.

Berbeda dengan kapal Indianapolis, bila kita mendapatkan diri kita di jalan bahaya, hubungan listrik kita tidaklah putus dan rusak--yaitu hubungan dengan Allah, Bapa Sugawi kita. Dia akan menolong kita bila kita mau memberi kepadaNya di dalam kehidupan kita suatu kesempatan untuk melakukannya.

Saya terkenang suatu pengalaman beberapa tahun yang lalu. Sekelompok teman sedang berkuda dengan menggunakan kuda jenis Morgan yang kuat ketika kami tiba di suatu daerah terbuka yang berhamparkan padang rumput lebat dengan sebuah aliran sungai kecil yang melintasinya. Tidak ada rusa yang dapat mendambakan tempat tinggal yang lebih baik. Namun, ada bahaya mengancam. Rusa yang waspada ini dapat mendeteksi setiap gerakan di semak-semak sekelilingnya; dan dapat mendengar ranting yang patah, dan membedakan bau manusia. Rusa itu hanya dapat diserang dari satu arah--dari atas. Pada sebuah pohon yang besar, pemburu telah membangun tempat untuk berdiri tepat di atas tempat yang menarik bagi rusa itu. Meskipun di beberapa tempat ini dilarang, banyak pemburu mengambil mangsanya ketika datang untuk makan dan minum. Tidak ada ranting yang patah, tidak ada gerakan yang mengganggu, tidak ada bau untuk mengungkapkan keberadaan si pemburu. Mengapa? Rusa jantan yang cakap, dengan indera-inderanya yang terlatih baik untuk memperingatkan adanya bahaya yang mengintai, tidak memiliki kesanggupan untuk menengadah ke atas dan mendeteksi adanya musuh. Rusa berada di jalan bahaya. Manusia tidak terbatas seperti itu. Keamanannya yang terbesar terdapat dalam kesanggupannya dan hasratnya untuk menengadah ke atas--untuk "memandang kepada Allah dan hidup."9

Sang penyair menulis:

Namun yang terbesar di antara ajaibnya segala karyaMu,
Teragung di antara segala bentangan rencanaMu,
Telah Engkau tempatkan jangkauan ke arah surga,
Ke dalam hati setiap insan manusia.
10
 
Saudara-saudara, apakah kita siap untuk mengarungi perjalanan kehidupan? Laut kehidupan kadang kala dapat menjadi bergejolak. Ombak perselisihan emosi yang menghantam dapat memecah di sekitar kita. Tentukan tujuan anda, waspadalah, dan ikuti patokan keselamatan yang digariskan.

1. Pilihlah teman yang baik.

2. Carilah bimbingan orang tua.

3. Pelajari injil.

4. Patuhi perintah-perintah.

5. Layani dengan kasih.

6. Berdoalah dengan tujuan.

Dengan demikian, kita akan dengan aman mengarungi lautan kehidupan dan tiba di pelabuhan kampung halaman--yaitu selestial, kerajaan Allah. Kemudian, sebagai marinir dunia fana, semoga kita akan mendengar pujian berikut, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang baik dan setia; . . . Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."11

Untuk berkat ini saya berdoa dengan sungguh-sungguh, di dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. Moroni 7:16, 17.
2. Matius 11:28, 29.
3. Ajaran dan Perjanjian 88:118.
4. "Yang Benar Pilihlah!" Nyanyian Rohani, no. 108.
5. Dalam Conference Report,Oktober 1945, 118.
6. "Finding a Niche," 15 Pebruari 1998, siaran Music and the Spoken Word.
7. Lihat Kisah para Rasul 10:38
8. 1 Timotius 4:12.
9. Alma 37:47.
10. Harry Kemp, "God the Architect," dalam Caroline Miles Hill, diedit oleh The World's Great Religious Poetry (1923), 211.
11. Matius 25:21.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy