The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April dari 1998
Hak Pilihan dan Kemarahan

Hak Pilihan dan Kemarahan

Penatua Lynn Grant Robbins
Dari Dewan Tujuh Puluh

Bagian yang cerdik dari strategi [Setan] adalah memisahkan kemarahan dari hak pilihan, membuat kita percaya bahwa kita adalah korban dari sebuah emosi yang tidak dapat kita kendalikan.

Penatua Lynn Grant Robbins

Ku punya keluarga di bumi. Sangat baik padaku." Ini adalah harapan setiap anak yang dinyatakan dalam syair salah satu nyanyian rohani kita ("Keluarga Dapat kekal S'lamanya," Nyanyian Rohani, no. 142; penekanan ditambahkan).

Kita belajar dalam pernyataan tentang keluarga bahwa, "keluarga merupakan inti dalam rencana Sang Pencipta" dan bahwa "suami dan istri memiliki tanggung jawab kudus untuk mengasihi dan memelihara satu sama lain . . . "dan sebuah "kewajiban kudus untuk membesarkan anak-anak mereka dalam kasih dan kebenaran" (Keluarga: Pernyataan Kepada Dunia, 23 September 1995).

Keluarga juga merupakan sasaran utama Setan. Dia berperang melawan keluarga. Salah satu dari rancangannya adalah cara yang cerdik dan licik untuk menyusup di belakang garis musuh serta memasuki bahkan rumah dan kehidupan kita.

Dia merusak dan sering menghancurkan keluarga di dalam dinding rumah tangga mereka sendiri. Strateginya adalah membangkitkan kemarahan di antara anggota keluarga. Setan adalah "bapak pertengkaran, dan ia menghasut hati manusia supaya saling bertengkar dengan amarah" (3 Nefi 11:29; penekanan ditambahkan). Kata kerja menghasut terdengar bagaikan sebuah resep untuk bencana: Letakkan sifat mudah marah di atas api sedang, masukkan beberapa kata pilihan, dan didihkanlah; teruskan mengaduknya hingga mengental; dinginkan; biarkan perasaan membeku selama beberapa hari; hidangkan dingin; banyak sisanya.

Bagian yang cerdik dari strateginya adalah memisahkan kemarahan dari hak pilihan, membuat kita percaya bahwa kita adalah korban dari sebuah emosi yang tidak dapat kita kendalikan. Kita mendengar, "Saya kehilangan kesabaran saya." Kehilangan kesabaran adalah pilihan kata yang menarik yang menjadi ungkapan yang dipakai secara umum. "Kehilangan sesuatu" mengesankan "tidak bermaksud," "tidak sengaja," "di luar keinginan," "tidak bertanggung jawab"mungkin saja tidak hati-hati, tetapi "tidak bertanggung jawab."

"Dia membuat saya marah." Ini adalah ungkapan lain yang kita dengar, juga mengesankan kurangnya kendali atau hak pilihan. Ini adalah mitos yang harus dibongkar. Tidak seorang pun membuat kita marah. Orang lain tidak membuat kita marah. Tidak ada kekuatan yang dilibatkan. Menjadi marah adalah pilihan secara sadar, sebuah keputusan; karenanya, kita dapat membuat pilihan untuk tidak menjadi marah. Kita memilih!

Kepada mereka yang berkata, "Tetapi saya tidak dapat menahan diri," penulis William Wilbanks menjawab, "Omong kosong."

"Agresi, . . . menekan kemarahan, membicarakannya, berteriak dan memekik," semuanya adalah strategi yang dipelajari dalam menangani kemarahan. "Kita memilih salah satu yang terbukti efektif bagi kita di masa lampau. Pernahkah memperhatikan betapa jarangnya kita kehilangan kendali ketika dibuat frustrasi oleh majikan kita, tetapi betapa seringnya kita kehilangan kendali ketika diganggu oleh teman atau keluarga?" ("The New Obscenity," Reader's Digest, Desember 1988, 24; penekanan ditambahkan).

Pada tahun keduanya Wilbanks diuji coba untuk regu bola basket sekolah dan diterima. Pada hari pertama latihan, pelatihnya menyuruhnya bermain satu lawan satu sementara yang lain melihat. Ketika dia gagal memasukkan lemparan bola yang mudah, dia menjadi marah dan mengamuk serta menggerutu. Pelatih menghampirinya dan berkata, "Anda melakukan drama pertunjukan seperti itu lagi dan anda tidak akan pernah bermain untuk tim saya" (23). Selama tiga tahun berikutnya dia tidak pernah kehilangan kendali lagi. Bertahun-tahun kemudian, ketika dia mengenang kembali insiden tersebut, dia menyadari bahwa pelatih itu telah mengajarkan kepadanya asas yang mengubah kehidupan pada hari itu: kemarahan dapat dikendalikan.

Dalam Efesus 4:26, versi terjemahan Joseph Smith, Paulus mengajukan pertanyaan, "dapatkah kamu menjadi marah, dan tidak berdosa?" Tuhan sangatlah jelas dalam hal ini: "Karena dia yang mempunyai semangat pertengkaran bukanlah dariKu, melainkan dari iblis, yaitu bapa pertengkaran, dan ia menghasut hati manusia supaya saling bertengkar dengan amarah.

"Lihatlah, ini bukan ajaranKu, untuk menghasut hati manusia dengan kemarahan, yang satu melawan yang lain; tetapi inilah ajaranKu, bahwa hal-hal demikian itu harus disingkirkan" (3 Nefi 11:29­30).

Ajaran atau perintah dari Tuhan ini mempertimbangkan hak pilihan dan merupakan desakan bagi pikiran yang sadar untuk membuat keputusan. Tuhan mengharapkan kita membuat pilihan untuk tidak menjadi marah.

Menjadi marah juga tidak bisa dibenarkan. Dalam Matius 5, ayat 22, Tuhan berkata: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya tanpa alasan harus dihukum" (penekanan ditambahkan). Betapa menariknya bahwa ungkapan "tanpa alasan" tidak dijumpai dalam Terjemahan Joseph Smith yang diilhami (lihat Matius 5:24), juga tidak dalam versi 3 Nefi 12:22. Ketika Tuhan menghapus ungkapan "tanpa alasan," Dia meninggalkan kita tanpa dalih. "Tetapi inilah ajaranKu, bahwa hal-hal demikian itu harus disingkirkan" (3 Nefi 11:30). Kita dapat "menyingkirkan" kemarahan, karena demikianlah Dia telah mengajarkan dan memerintahkan kita.

Kemarahan adalah penyerahan diri kepada pengaruh Setan dengan memberikan kendali diri kita. Itu adalah dosa pikiran yang memimpin ke arah perasaan atau perilaku permusuhan. Itu adalah pemicu kemarahan di jalanan, naiknya pitam dalam arena olahraga, dan kekerasan rumah tangga di dalam keluarga.

Kalau tidak dikendalikan, kemarahan dapat secara cepat memicu sebuah ledakan kata-kata kejam dan bentuk perundungan emosi lainnya yang dapat melukai hati yang lembut. Adalah "yang keluar dari mulut," kata Juru Selamat, "yang menajiskan orang" (Matius 15:11). David O. McKay berkata,

"Janganlah pernah suami dan istri berbicara dengan nada keras terhadap satu sama lain, 'kecuali rumah sedang terbakar'" (Stepping Stones to an Abundant Life, dikumpulkan oleh Llewelyn R. McKay [1971], 294).

Perundungan jasmani adalah kemarahan yang mengamuk dan tidak pernah dibenarkan dan selalu tidak benar.

Kemarahan adalah usaha yang tidak beradab untuk membuat orang lain merasa bersalah atau sebuah cara yang kejam untuk mencoba memperbaiki mereka. Kemarahan seringkali disalahartikan sebagai disiplin, tetapi hampir selalu kontra produktif. Itulah sebabnya ada peringatan tulisan suci: "Suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia," dan "bapak-bapak, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya" (Kolose 3:19, 21).

Pilihan dan bertanggung jawab adalah asas-asas yang tidak terpisahkan. Karena kemarahan adalah sebuah pilihan, ada peringatan keras dalam pernyataan "bahwa orang . . . yang menganiaya pasangan atau keturunan, . . . pada suatu hari akan bertanggung jawab di hadapan Allah" (Keluarga: Pernyataan Kepada Dunia, 1995).

Memahami hubungan antara hak pilihan dan kemarahan adalah langkah pertama dalam meniadakannya dari hidup kita. Kita dapat memilih untuk tidak menjadi marah. Dan kita dapat membuat pilihan itu hari ini, sekarang: "Saya tidak akan pernah marah lagi." Renungkan resolusi ini.

Dalam bagian ke 121 dari Ajaran dan Perjanjian terdapat satu dari sumber kita yang terbaik untuk mempelajari asas-asas kepemimpinan yang tepat. Mungkin penerapan yang paling penting dari bagian 121 adalah bagi pasangan dan orang tua. Kita haruslah memimpin keluarga kita melalui bujukan, melalui kesabaran, melalui kebaikan dan kelemahlembutan, serta melalui kasih sayang yang sejati (lihat A&P 121:41­42).

Semoga impian setiap anak untuk memiliki keluarga di bumi yang baik kepada mereka menjadi kenyataan. Ini adalah doa saya dan kesaksian saya dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy