The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April dari 1998
Kepatuhan--Tantangan kehidupan yang besar

Kepatuhan--Tantangan kehidupan yang besar

Penatua Donald L. Staheli
Dari Dewan Tujuh Puluh

Tuhan menyadari bahwa banyak di antara kita cenderung menyimpang dari nasihatNya ketika semua berjalan lancar bagi kita, namun ketika terjadi masalah kita berusaha mencari Dia dan berkat-berkatNya.

Penatua Donald L. Staheli

Saudara-saudara sekalian, saya merasa rendah hati dan bersyukur atas panggilan yang telah membawa saya ke hadapan anda hari ini. Saya diberkati dengan istri dan keluarga yang istimewa. Saya didukung oleh kekuatan para Pemimpin Gereja yang melayani bersama mereka merupakan berkat saya. Tetapi yang paling penting, saya menghargai kesaksian saya dan hubungan saya dengan Juru Selamat saya. Saya memberikan kesaksian pribadi bahwa Dia hidup dan memimpin GerejaNya melalui Nabi dan Presiden kita yang terkasih Gordon B. Hinckley.

Sewaktu saya membuat transisi selama tahun lalu dari dunia bisnis ke dunia berusaha untuk menjadi hamba penuh waktu yang setia bagi Bapa kita di Surga dan seorang saksi khusus bagi Yesus Kristus, itu telah merupakan pengalaman yang amat menggugah bagi saya. Pengalaman itu telah membuat saya menjadi lebih peka terhadap tanggung jawab, berkat-berkat dan kesempatan yang disediakan Injil bagi kita masing-masing, jika kita mau patuh pada asas-asasnya.

Presiden Boyd K. Packer telah beberapa kali menyatakan bahwa "kita semua mempunyai hak atas ilham dan pengarahan melalui Roh dari Roh Kudus." Dan kemudian dia menambahkan, "Kita semua hidup jauh di bawah hak-hak istimewa kita." Sewaktu saya merenungkan implikasi dari pernyataannya, jelaslah bahwa banyak di antara kita yang kehilangan kesempatan-kesempatan dan berkat-berkat rohani dengan membiarkan "hal-hal yang seharusnya paling berarti dalam kehidupan ditundukkan oleh hal-hal yang paling tidak penting."

Jika salah satu dari kita ditanya apa yang paling penting di dalam kehidupan, kebanyakan dari kita dengan cepat akan menjawab, "Keluarga kita dan kesempatan yang disediakan Injil bagi kita untuk menjadi keluarga selestial--bersama untuk selamanya." Namun, tekanan hidup sehari-hari seringkali dan dengan perlahan-lahan menjauhkan kita dari usaha pencapaian yang dengan demikian bangganya kita nyatakan. Dan dalam prosesnya, prioritas-prioritas yang seharusnya paling penting bagi kita menjadi tawanan dari hal-hal yang, sementara kelihatan penting untuk sementara, sedikit atau tidak memiliki relevansi dengan tujuan jangka panjang kita. Dan dalam banyak kasus, godaan dan tekanan untuk mengejar hal-hal yang kurang penting menuntun kita menuju jalan hidup yang salah.

Presiden Spencer W. Kimball memperingatkan kita bahwa, "Persoalan dunia begitu banyak dan begitu rumit, bahkan orang yang sangat baik pun dapat dialihkan dari mengikuti kebenaran karena mereka terlalu memperhatikan hal-hal dari dunia."1

Meskipun saya telah menerima pelajaran dalam hal kepatuhan selama kehidupan saya, salah satu pelajaran yang paling tidak dapat saya lupakan diajarkan kepada saya sewaktu muda oleh anjing saya dan ibu saya. Ketika saya berusia kira-kira delapan tahun, ayah saya membawa pulang seekor anak anjing yang segera saya beri nama Spot. Kami menjadi sahabat paling dekat sementara saya berusaha mengajarnya beberapa ketrampilan dan kepatuhan terhadap perintah-perintah saya. Ia belajar dengan baik, kecuali ia tidak dapat menghentikan keinginannya yang menggebu-gebu untuk mengejar dan menggonggongi mobil yang lewat di jalan berdebu di dekat rumah kami, di kota kecil sebelah selatan Utah. Betapa pun kerasnya saya berusaha, saya tidak dapat menghentikan kebiasan buruk Spot. Suatu hari, seorang tetangga kami datang berkecepatan tinggi dengan truk besarnya. Dia mengenal Spot dan mengetahui kebiasaan buruk Spot. Kali ini tepat pada saat Spot menghampiri truk dengan sikap agresifnya yang biasa, orang ini membanting kemudinya ke arah Spot, melindasnya dengan roda belakang truk.

Dengan air mata bercucuran, saya mengangkat Spot dalam pelukan saya dan berlari ke rumah, memanggil ibu dan kakak saya meminta bantuan. Sewaktu kami membersihkan darah dari kepalanya, segera kami menyadari bahwa ketidakpatuhan Spot telah mengakibatkan pukulan yang fatal baginya. Setelah penguburan Spot selesai dan air mata telah mengering, ibu saya kemudian mengajarkan saya satu pelajaran yang besar dalam kehidupan, sewaktu dia menjelaskan asas kepatuhan dan penerapannya di dalam kehidupan saya. Dia menjelaskan bahwa tindakan-tindakan ketidakpatuhan yang tampaknya kecil dapat mengakibatkan konsekuensi berupa ketidakbahagiaan, penyesalan jangka panjang, dan bahkan akibat fatal.

Sewaktu kita tumbuh dalam injil, kita mempelajari nilai kepatuhan terhadap asas-asas yang terus menerus menyelaraskan kita dengan ajaran-ajaran Juru Selamat kita dan para nabi. Sewaktu kita patuh pada ajaran-ajaran mereka, maka kita mulai memahami apa yang dimaksud Juru Selamat ketika Dia mengatakan, "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya."2

Karena kita semua secara berkala mengalami tantangan kepatuhan, kita dapat berbesar hati dalam dorongan semangat Presiden Hinckley "bahwa Tuhan tidak akan memberi kita perintah melebihi kemampuan kita untuk mematuhinya. Dia tidak akan meminta kita untuk melakukan hal-hal untuk mana kita kekurangan . . . kemampuan."3

Kita semua, tetapi terutama anda kaum muda, akan selamat jika anda mengingat nasihat nabi ketika anda digoda oleh tekanan teman sebaya dari kehidupan sehari-hari anda. Sewaktu kita tumbuh menjadi remaja dewasa, dan sesudahnya, menentukan prioritas dan mengatur tekanan antara pekerjaan, Gereja dan keluarga merupakan tindakan menyeimbangkan yang memerlukan evaluasi kembali secara terus menerus.

Secara berkala orang mungkin saja bertanya, "Jika saya terus berjalan menelusuri jalan yang sekarang saya tempuh, ke manakah jalan ini akan membawa saya dan apa yang akan terjadi dengan keluarga saya?" Apakah kita sedang membangun landasan bagi suatu keluarga kekal, atau apakah kita lebih memusatkan pada kebanggaan prestasi pribadi dan suatu pengumpulan piala duniawi yang lebih diutamakan daripada hal-hal yang seharusnya paling berarti?

Terlepas dari usia dan tingkat kita dalam kehidupan, kepatuhan sehari-hari terhadap asas-asas injil adalah satu-satunya jalan pasti menuju kebahagiaan kekal. Presiden Ezra Taft Benson mengutarakannya dengan amat tajam ketika dia mengatakan, "Ketika kepatuhan berhenti menjadi suatu gangguan dan menjadi keinginan kita, maka pada saat itu Allah akan menganugerahkan kita dengan kuasa."

Kitab Mormon merupakan cerita berkelanjutan mengenai berbagai macam orang yang kepatuhannya naik turun dan mengalir bersama waktu. Akibat dari ketidakpatuhan mereka adalah jelas. Panggilan yang mereka terima untuk membuka mata juga berlaku bagi kita masing-masing dewasa ini.

Tulisan suci menjelaskan bahwa Tuhan menyadari bahwa banyak di antara kita cenderung menyimpang dari nasihatNya ketika semua berjalan lancar bagi kita, namun ketika terjadi masalah kita berusaha mencari Dia dan berkat-berkatNya. Ia juga telah memperingatkan kita mengenai akibat dari penyimpangan kita: "Dan umatKu harus diajar sampai mereka belajar patuh, jika seandainya perlu oleh hal-hal yang menyebabkan mereka menderita."4

Apakah kita sedang dihajar atau ditantang sewaktu kita diombang-ambingkan di dalam lautan kehidupan, kepatuhan terhadap ajaran-ajaran Juru Selamat dan para Nabi kita akan membuat kita memenuhi syarat untuk janji besar Raja Benyamin kepada mereka yang mematuhi perintah-perintah Allah: "Karena lihatlah, mereka telah diberkati dalam segala hal, baik secara keduniaan maupun rohani, dan jika mereka tetap setia sampai akhir, mereka akan diterima di dalam surga, agar dengan demikian mereka boleh tinggal bersama Allah dalam keadaan bahagia yang tidak pernah berakhir."5

Terhadap panggilan Juru Selamat "Ikutlah Aku"6 atau terhadap nasihatNya "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu,"7 jawaban kita seharusnya jelas dan tegas. Sewaktu kita patuh terhadap panggilanNya, adalah kesaksian saya, bahwa kita akan menikmati kasihNya dan kedamaianNya di dalam kehidupan kita. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

CATATAN

1. "Listen to the Prophets," Ensign, Mei 1978, hlm. 77
2. Matius 16:25
3. "Let Us Move This Work Forward," Ensign, Nopember 1985, hlm. 83
4. A&P 105:6
5. Mosia 2:41
6. Lukas 18:22
7. Yohanes 14:15

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy