The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Broadcast General Conference Archives
Conferences
April dari 1998
Menjembatani Jurang Antara Ketidakpastian dan Kepastian

Menjembatani Jurang Antara Ketidakpastian dan Kepastian

Penatua Richard E. Turley, Sr.
Dari Dewan Tujuh Puluh

Pemulihan yang menakjubkan ini telah menyediakan apa yang kita butuhkan untuk mengenali falsafah dan gaya hidup sesat yang . . . tidaklah berkenan bagi Bapa Surgawi kita.

Penatua Richard E. Turley, Sr.

Kira-kira 10 tahun yang lalu saya dan istri saya menghabiskan hampir seluruh hari Minggu menjadi tuan rumah bagi seorang siswa lulusan muda dari Universitas Harvard. Pemuda ini datang ke Salt Lake City untuk melihat apakah Gereja benar-benar "nyata." Orang tuanya, yang tinggal di New England telah mengatakan kepadanya bahwa mereka telah mengikuti pelajaran dari misionari dan merencanakan untuk dibaptis. Dia meminta mereka untuk menunggu sampai dia datang ke Salt Lake City. Selama turnya mengelilingi Taman Bait suci dan fasilitas Gereja lainnya, dia mengatakan bahwa dia ingin berbicara dengan seseorang yang juga memiliki latar belakang ilmiah dan teknik. Nama saya disarankan, dan karenanya saya menerima panggilan telepon.

Pada waktu itu, jadual kami sibuk, dan satu-satunya hari yang kami miliki untuk bertemu dengan pemuda ini adalah pada hari Minggu. Kami mengatakan kepadanya bahwa jika dia ingin melihat bagaimana kehidupan Mormon, kami akan senang mengajaknya untuk meluangkan waktu bersama kami. Kami menikmati waktu yang menarik dan menyenangkan bersama pemuda ini. Kami mengajaknya menghadiri dua Pertemuan Sakramen hari itu, pertama di mana salah seorang putra kami bersama istrinya memberikan ceramah, dan yang lainnya di mana kami adalah penceramahnya. Sewaktu kami memasuki gedung untuk tugas ceramah kami, kami disambut oleh uskup, yang dengan cepat membawa kami ke kantornya untuk pertemuan doa. Kami semua, termasuk pemuda ini, berlutut berdoa di seputar meja uskup, dan uskup memanjatkan doa rendah hati dan tidak dipersiapkan.

Dari kantor uskup kami masuk ke gedung pertemuan. Kami memperkenalkan pemuda itu kepada satu pasangan muda dan dia duduk bersama mereka selama pertemuan tersebut. Saya dan istri saya berbicara mengenai Kitab Mormon, yang memang tepat, khususnya bagi pemuda tersebut, karena dia telah ditantang untuk membaca Kitab Mormon.

Setelah pertemuan itu, kami mengajaknya ke rumah kami di mana istri saya menyajikan salah satu santapan malamnya yang lezat. Sisa waktu hari itu kami luangkan untuk membagikan kepadanya kesaksian kami tentang Kitab Mormon, tentang Yesus Kristus, dan tentang pemulihan GerejaNya. Keesokan harinya pemuda tersebut kembali ke Boston.

Sesudahnya kami berkesempatan berbicara kepada orang tuanya. Pemuda tersebut telah melaporkan kepada mereka bahwa Gereja Mormon memang "nyata." Dia juga mengatakan kepada mereka bahwa melalui mempelajari Kitab Mormon dia dapat menyingkirkan keragu-raguan yang telah dia rasakan mengenai Yesus Kristus.

Kami diberitahu bahwa anak muda ini mengaku berpandangan agnostik, yang berarti bahwa dia beranggapan tidaklah mungkin untuk mengetahui sifat atau keberadaan Allah kecuali melalui pengalaman langsung. Untungnya, kunjungannya ke Salt Lake City memberinya pengalaman langsung dan kesempatan untuk mengamati satu hari dalam kehidupan sebuah keluarga yang menjadi anggota Gereja. Namun, dia tidak dapat memperoleh kesimpulan bahwa Yesus adalah Kristus hanya melalui pengamatannya saja.

Sewaktu dia menyelesaikan pembacaannya akan Kitab Mormon, dia akan menemukan kunci yang paling penting untuk mengetahui apakah Kitab Mormon benar atau tidak, apakah Yesus adalah Kristus atau bukan, dan bahkan dia akan mengetahui kunci utama untuk mengetahui kebenaran akan segala hal. Moroni dalam pasal terakhirnya menyatakan: "oleh kuasa Roh Kudus kamu dapat mengetahui kebenaran akan segala hal" (Moroni 10:5).

Setelah bertahun-tahun saya akhirnya menyadari bahwa hanya melalui kuasa Roh Kudus kita dapat menjembatani jurang antara ketidakpastian dengan kepastian. Ini menjelaskan mengapa Yesus mengatakan apa yang Dia katakan kepada Petrus di Kaisarea Filipi. Yesus bertanya kepada para muridNya, "Apa katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:15).

Dan Petrus menjawab: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (Matius 16:16).

Terhadap ini, Yesus menjawab: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga" (Matius 16:17).

Dengan kata lain, Bapa mewahyukan kepada Petrus sebagaimana Dia sekarang dapat mewahyukan kepada kita, melalui kuasa Roh Kudus, bahwa Yesus dari Nazaret, PutraNya yang paling dikasihi dan patuh, sesungguhnya dulu dan sekarang adalah Mesias yang lama dinantikan yang telah diramalkan oleh semua nabiNya sejak dunia dijadikan.

Sewaktu saya membayangkan pemuda dari Boston ini, saya juga memikirkan banyak pemuda lainnya yang sedang mencari, tetapi belum tahu cara memperoleh jawaban terhadap banyak dari pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Kaum muda tidaklah hidup dalam kehampaan, dan seperti kita semua, rentan terhadap apa yang disebut Rasul Paulus "rupa-rupa angin pengajaran." Ijinkanlah saya membaca dari surat Paulus kepada orang-orang Efesus, di mana dia menjelaskan mengapa Tuhan telah memberi kita para rasul, nabi, dan pemimpin serta pengajar terilhami lainnya: "Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Efesus 4:11­14).

Betapa saya bersyukur atas para nabi dahulu dan modern yang menolong kita waspada terhadap mereka yang menunggu "dalam kelicikan mereka yang menyesatkan."

Nabi Yesaya melihat zaman kita dalam penglihatan ketika Tuhan "akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orang yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orang yang arif akan tersembunyi" (Yesaya 29:14).

Pemulihan yang menakjubkan ini telah menyediakan apa yang kita butuhkan untuk mengenali falsafah dan gaya hidup sesat yang, meskipun dapat diterima secara politik dan sosial, tidaklah berkenan bagi Bapa Surgawi kita. Jika orang yang agnostik, dengan mengikuti ajakan Moroni, dapat menjadi percaya, orang lain juga dapat memahami mengapa kita memiliki bumi ini pada mulanya. Di dalam catatan Musa yang dipulihkan, Tuhan menjawab pertanyaan kita mengenai tujuan bumi ini:

"Musa berseru kepada Allah, mengatakan: Katakanlah, aku memohon kepadaMu, mengapa hal-hal ini demikian, dan dengan apakah Engkau membuatnya?"

"Maka berfirmanlah Tuhan Allah kepada Musa: Untuk keperluanKu sendiri telah Aku jadikan hal-hal ini .. . .

"Karena lihatlah, inilah pekerjaanKu serta kemulianKu--untuk mendatangkan kebakaan serta hidup yang kekal bagi manusia" (Musa 1:39).

Banyak falsafah yang mengecilkan kedudukan manusia di bumi ini. Dalam catatan Musa, bahkan dia pun merasa setelah melihat penciptaan Allah bahwa manusia itu tidak berarti, tetap Allah memperjelas kepadanya bahwa manusia itu adalah segalanya.

Contoh dan sumber lainnya bagi pertimbangan kita adalah pernyataan keluarga yang diterbitkan oleh para pemimpin Gereja pada tahun 1995 dan yang dengan amat jelas menjabarkan tujuan dan pengharapan Allah bagi umat manusia.

Sementara bangsa-bangsa di bumi menghabiskan milyaran setiap tahun berusaha untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang asal usul dan tujuan bumi serta galaksinya, jawabannya ada di sini. Bumi diciptakan bagi umat manusia untuk membantu kita memperoleh "kebakaan serta hidup yang kekal." Rincian tentang penciptaan tidak diragukan lagi sangatlah menarik, tetapi jauh lebih penting dalam daftar prioritas adalah kebutuhan untuk mempelajari lebih banyak lagi mengenai Pencipta kita dan untuk menerima ajakanNya untuk mengikutiNya agar kita juga dapat mencapai potensi penuh kita.

Roh akan membantu kita dalam usaha kita untuk menjembatani jurang antara ketidakpastian dan kepastian. Yesus Kristus adalah terang kita (lihat 3 Nefi 18:24). Marilah kita mengikuti cahaya cemerlang ini dan mengundang orang lain untuk berbuat hal yang sama.

Dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy