Penatua L. Tom Perry
Dari Kuorum Dua Belas Rasul
"Kita harus menciptakan . . . proses yang terus menerus yang mendorong kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan Juruselamat supaya kita dapat terhitung di antara para murid-nya."
Ibu saya adalah seorang pembagi tugas yang baik. Setiap Sabtu pagi saat kami tumbuh besar, kami menerima tugas pembersihan rumah darinya. Petunjuknya buat kami didapatkan dari ibunya:
"Pastikan kalian membersihkan dengan seksama semua sudut dan papan pelindung tembok. Jika kalian mau membiarkan tetap kotor, biarlah itu ada di bagian tengah ruangan saja."
Dia tahu dengan baik kalau kami membersihkan sudut-sudut, maka bagian tengah ruangan tidak ada masalah. Apa yang dapat dilihat mata tidak mungkin dibiarkan kotor.
Bertahun-tahun nasihat ibu saya menjadi penerapan yang baik dalam berbagai bidang kehidupan saya. Khususnya cocok diterapkan dalam tugas pembersihan rumah rohani. Bagian kehidupan kita yang dapat terlihat selalu terawat dengan baik dengan sendirinya, karena kita ingin memberikan kesan baik. Tetapi bagian sudut hidup yang tersembunyi yang hanya dapat dilihat oleh kita sendiri, kita harus pastikan bahwa itu juga harus bersih.
Satu dari sudut-sudut kehidupan yang perlu diperhatikan adalah lingkup pikiran. Kita harus terus menerus mengawasi terhadap waktu luang yang dapat menyeret pikiran kita ke daerah yang perlu kita hindari. Di dalam Amsal kita membaca,
"Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah dia" (Amsal 23:7).
Dan seperti Yudas menulis,
"Orang-orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh" (Yudas 1:8).
Pikiran yang mantap membentuk kehidupan kita. Ungkapan ini ditulis James Allen dalam bukunya berjudul As a Man Thinketh.
Sebagaimana tanaman tumbuh dari dan tak akan ada tanpa biji, demikian pula tindakan manusia tumbuh dari pikiran yang tersembunyi, dan tidak akan tampak tanpa itu. Ini setara dengan tindakan "spontan "dan "tanpa dipersiapkan" yang dengan sengaja dilakukan.
"Dalam gudang senjata pikiran, dia menempa senjata yang membinasakan dirinya sendiri, dia juga dapat menghasilkan perangkat yang dapat membangun baginya rumah surgawi yang bahagia, kuat dan damai . . . . Di antara kedua perbedaan yang mencolok ini ada semua jenis watak, dan manusia adalah pencipta dan majikannya, . . . Manusia adalah majikan pikiran, pencetak watak dan pencipta dan pembentuk keadaan, lingkungan, dan nasib" (As a Man Thinketh, Albuquerque: [1983], 710).
Lalu Mr. Allen menambahkan:
"Biarlah manusia mengubah pikir-annya sama sekali, dan dia akan tercengang pada perubahan cepat yang mempengaruhi keadaan hidupnya. Manusia membayangkan kalau pikiran dapat disembunyikan, tetapi tidak demikian, pikiran dapat membentuk kebiasaan dan kebiasaan membentuk watak" (As a Man Thinketh hlm. 3334).
Sesungguhnya sudut-sudut itu harus dengan rajin kita bersihkan yaitu pikiran kita. Yang baik adalah menjaga pikiran kita tertuju pada hal-hal yang rohani.
Ada sudut yang lain yang dapat mengumpulkan kotoran karena kita mengabaikan petunjuk yang kita berikan kepada keluarga kita. Presiden Kimball menggarisbawahi kekhawatirannya dengan mengatakan:
"Kesuksesan kita, sebagai pribadi dan Gereja, sangat ditentukan dengan kesetiaan kita menjalankan injil di rumah. Hanya jika kita mengerti dengan jelas tanggung jawab masing- masing pribadi dan peranan keluarga dan rumah tangga maka kita dapat menyadari bahwa kuorum imamat dan organisasi pelengkap, bahkan lingkungan dan wilayah, ada khususnya untuk membantu anggota menjalankan injil di rumah. Maka kita dapat memahami bahwa manusia lebih penting daripada program, dan bahwa program Gereja hendaknya selalu menunjang dan tidak pernah menjauhkan dari kegiatan injil yang berpusat di dalam rumah tangga.
"Semua harus bekerja bersama untuk menciptakan rumah sebagai tempat di mana kita senang berada, tempat untuk mendengar dan belajar, tempat di mana semua anggota mendapatkan kasih, dukungan, penghargaan, dan semangat bersama.
"Saya ulangi bahwa keberhasilan kita, sebagai pribadi dan Gereja, akan sangat tergantung kepada kesetiaan kita kepada menjalani injil di dalam rumah" ("Living the Gospel in the Home," Ensign, Mei 1978, hlm. 101).
Nasihat saya untuk Anda adalah kita harus menciptakan proses yang membangun pembersihan rumah rohani--proses yang terus menerus yang mendorong kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan Juruselamat supaya kita dapat terhitung di antara para murid-Nya.
Tujuan utama pencobaan fana kita adalah untuk mempersiapkan bertemu dengan Allah dan mewarisi berkat-berkat yang Dia janjikan kepada anak-anak-Nya yang layak. Juruselamat memberikan teladan selama pelayanan di bumi-Nya dan mengajak mereka mengikuti dan menjadi murid-Nya.
Berikut ini yang dituliskan tentang kemuridan: "Kata murid berasal dari bahasa Latin . . . [artinya] orang yang belajar. Murid Kristus adalah orang yang belajar untuk menjadi seperti Kristus--belajar berpikir, merasa, dan bertindak seperti Dia. Menjadi murid sejati, menyelesaikan tugas pembelajaran itu, adalah proses yang paling dituntut yang dikenal manusia. Tidak ada ilmu yang membedakan . . . apakah kebutuhan atau pahala. Menjadi murid melibatkan perubahan total dari keadaan manusia jasmani ke orang suci, yang me- ngasihi Tuhan dan melayani dengan sepenuh hati, daya, akal budi, dan kekuatan" (Chauncey C. Riddle, "Becoming a Disciple," Ensign, Sept. 1974, hlm. 81).
Juruselamat memerintahkan mereka yang mau mengikuti Dia tentang pokok kemuridan, dikatakan-Nya:
"Setiap orang yang mengikuti-Ku, biarlah dia menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Aku.
"Maka setiap orang yang memikul salibnya, dia harus menyangkal dirinya dari segala ketidakbenaran, nafsu duniawi, dan mematuhi perintah-perintah-Ku" (Matius 16:24, TJS dalam catatan kaki (d)).
"Jangan melanggar perintah-perintah-Ku untuk menyelamatkan nyawamu, karena barang siapa yang menyelamatkan nyawanya dalam dunia ini, dia akan kehilangan nyawanya di dunia yang akan datang.
"Tetapi barang siapa yang kehilangan nyawanya di dunia ini, karena Aku, dia akan menemukannya di dunia yang akan datang.
"Maka, jauhkanlah dunia, dan selamatkanlah nyawamu" (Matius TJS 16:2529).
Ketika roh mengalahkan tubuh, tubuh menjadi pelayan bukannya majikan. Ketika kita membersihkan sudut-sudut keduniawian dan siap untuk patuh terhadap Tuhan, maka kita dapat menerima firman-Nya dan mematuhi perintah-perintah-Nya.
Perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan pribadi saat mereka benar-benar ingin membaktikan dirinya untuk menjadi murid Tuhan. Salah satu contoh gamblang dari tulisan suci yang terpikirkan saya saat ini adalah pertobatan Alma yang muda dan perubahan cahaya muka setelah menjadi murid Tuhan. Ingatlah, Alma dan para putra Mosia digolongkan sebagai orang yang tidak percaya. Dia seorang yang banyak bicara dan telah berbicara yang muluk-muluk kepada rakyat. Dia membawa orang-orang untuk berbuat durhaka. Dia menjadi penghalang bagi Gereja, mencuri hati rakyat dan menyebabkan banyak perselisihan paham di antara mereka. Tetapi karena ketulusan permohonan ayahnya, seorang malaikat menampakkan diri kepada kelima orang itu. Alma begitu tercengang dan jatuh ke tanah serta malaikat berkata: "Alma, bangunlah dan berdirilah, mengapa kamu mengejar-ngejar gereja Allah? Karena Tuhan telah berfirman: Inilah gereja-Ku dan Aku akan menegakkannya dan tidak ada sesuatu pun akan meruntuhkannya, kecuali pelanggaran umat-Ku" (Mosia 27:13).
Ia begitu lemah, tidak dapat menggerakkan tangannya dan harus digotong. Dia juga bisu. Dia dibawa ke hadapan ayahnya. Ayahnya gembira dan mengajak orang-orang untuk berdoa bagi putranya.
"Dan terjadilah setelah mereka berpuasa dan berdoa selama dua hari dua malam, anggota tubuh Alma menerima kekuatannya kembali dan dia berdiri dan mulai berbicara kepada mereka dengan memohon supaya mereka melegakan hati mereka.
"Karena, katanya, aku telah bertobat akan dosa-dosaku dan telah ditebus Tuhan. Lihatlah, aku dilahirkan dari pada Roh (Mosia 27: 2324).
Lalu dia menceritakan kesengsaraan dan penderitaan yang disadarinya kalau dia dicampakkan dari Kerajaan Allah. Dan dia ingat ajaran ayahnya dan berseru kepada Tuhan supaya dia diselamatkan.
Kini kita melihat perubahan besar ketika dia menjadi murid Penebus kita.
"Maka terjadilah bahwa Alma sejak waktu ini mulai mengajar bangsa itu dan mereka yang bersama Alma pada waktu malaikat menampakkan diri kepada mereka, melakukan perjalanan ke seluruh negeri, sambil mengabarkan kepada semua orang mengenai hal-hal yang telah mereka dengar dan lihat dan mengkhotbahkan firman Allah di dalam banyak penderitaan . . ." (Mosia 27:32).
Di dalam sejarah leluhur saya terdapat banyak cerita mengenai jiwa luhur yang mencerminkan kemuridan yang sejati. Buyut anak-anak saya adalah murid yang mulia Yesus Kristus. Keluarganya adalah pemilik tanah kaya raya di Denmark. Sebagai anak kesayangan, dia akan diwariskan tanah ayahnya. Dia jatuh cinta kepada seorang gadis muda dari kelas sosial yang berbeda. Dia diminta untuk memutuskan hubungannya. Dia tidak menghiraukan apa yang dikatakan keluarganya, pada satu kali kunjungan ke rumah gadis itu dia me-ngetahui kalau mereka anggota Gereja. Dia menolak mendengarkan ajaran yang dianut keluarga gadis itu yang mendesak gadis itu untuk memilih antara pria itu atau Gereja. Gadis itu dengan teguh mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkan Gerejanya. Karena pernyataan itu maka dia memutuskan untuk mendengarkan ajaran yang dianut mereka. Beberapa lama kemudian hatinya menjadi lembut dan dia juga dipertobatkan kepada injil. Tetapi ketika dia memberitahukan orang tuanya kalau dia mau bergabung dengan Gereja dan menikah dengan gadis itu, mereka menjadi marah dan memintanya untuk memilih antara keluarganya yang kaya raya atau Gereja. Dia lalu meninggalkan tempat nyaman yang sudah dia nikmati sepanjang hidupnya, untuk bergabung dengan Gereja dan menikahi gadis muda itu.
Lalu mereka mulai mempersiapkan diri meninggalkan Denmark untuk pergi ke Sion. Tanpa dukungan keluarga, dia harus bekerja keras untuk apa saja demi tabungan untuk pergi ke tanah baru. Setahun bekerja keras, dia sudah mempunyai cukup tabungan untuk berlayar. Ketika mereka sedang bersiap-siap untuk pergi, presiden cabang mereka datang dan mengatakan bahwa ada keluarga yang lebih membutuhkan daripada dia dan istrinya. Dia diminta apakah dia mau memberikan apa yang telah ditabungnya supaya keluarga yang lebih membutuhkan itu pergi ke Sion.
Kemuridan memerlukan pengorbanan. Mereka memberikan tabungan mereka kepada keluarga itu dan mereka mulai bekerja keras lagi selama satu tahun demi mendapatkan biaya untuk ke Sion. Akhirnya mereka tiba di Sion, tetapi setelah mereka melakukan banyak pengorbanan kemuridan sejati.
Orang muda yang kaya diberikan ujian kemuridan yang paling keras ketika dia diminta untuk,
". . . Pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin . . . datanglah kemari dan ikutlah Aku" (Lukas 18:22).
Kebanyakan dari kita ujian tantangan yang setara adalah meninggalkan kebiasaan buruk dan pikiran duniawi agar tidak ada pertentangan dalam kesetiaan kita terhadap pelayanan Tuhan.
Sebagai murid sejati Kristus, semoga hidup kita mencerminkan contoh-Nya. Semoga kita mengambil ke atas kita nama-Nya dan berdiri sebagai saksi-Nya setiap saat dan di segala tempat (Lihat Mosia 18: 9).
Terlebih lagi, semoga Allah memberkati kita yang dengan tulus mau melakukan pembersihan rumah rohani, bersihkan sudut-sudut, bersihkan semua yang dapat mengurangi semangat kita berperan sebagai murid Tuhan supaya kita dapat maju dalam pelayanan kepada- Nya yang adalah Raja dan Juruselamat. Saya berdoa dengan rendah hati dalam nama Tuhan kita, Yesus Kristus, amin.