The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Halaman Muka Bahasa Menu Utama
Konferensi Umum
Oktober dari 2000
"Menuliskan Di Dalam Hatiku"

"Menuliskan Di Dalam Hatiku"

Penatua Henry B. Eyring
Dari Kuorum Dua Belas Rasul

"Doa dapat menyediakan perisai perlindungan dengan yang sangat diinginkan orang tua agar di miliki [anak]."

Penatua Henry B. Eyring

Orang tua hendaknya mengajarkan anak-anak mereka untuk berdoa. Seorang anak belajar dari apa yang dilakukan maupun yang diucapkan mereka. Seorang anak yang melihat ibunya atau ayahnya mengatasi pencobaan-pencobaan hidup dengan doa yang sungguh-sungguh kepada Allah dan kemudian mendengar kesaksian yang tulus bahwa Allah menjawab dengan kelembutan akan mengingat apa yang mereka lihat dan dengar. Ketika pencobaan-pencobaan datang kepada mereka, mereka akan siap.

Pada saatnya nanti, ketika anak tersebut berada jauh dari rumah dan keluarga, doa dapat memberikan perisai perlindungan yang sangat diinginkan orang tua bagi mereka. Berpisah adalah sulit, khususnya ketika orang tua dan anak tahu bahwa mereka mungkin tidak akan bertemu untuk jangka waktu yang lama. Saya memiliki pengalaman dengan ayah saya. Kami berpisah di sebuah pojok jalan di New York City. Dia datang ke sana untuk bekerja. Saya berada di sana dalam perjalanan ke tempat lain. Kami berdua tahu bahwa saya mungkin tidak akan pernah kembali untuk tinggal seatap bersama orang tua saya lagi.

Waktu itu harinya cerah, kira-kira tengah hari, jalan-jalan dipadati oleh mobil dan para pejalan kaki. Di pojok tersebut ada lampu merah yang menghentikan mobil-mobil dan orang- orang dari semua jurusan selama beberapa menit. Ketika lampunya berubah, merah; mobil-mobil berhenti. Kumpulan pejalan kaki bergegas turun dari trotoar ke segala arah, termasuk menyilang, menyeberangi perempatan.

Waktunya tiba untuk berpisah, dan saya mulai menyeberang jalan. Saya berhenti hampir di tengah-tengah jalan, dimana orang-orang berjalan dengan cepat di dekat saya. Saya berpaling untuk menengok ke belakang. Bukannya terus berjalan di antara kerumunan orang banyak, ayah saya masih berdiri di pojok jalan sambil memandangi saya. Bagi saya dia kelihatan kesepian dan mungkin sedikit sedih. Saya ingin kembali kepadanya, tetapi saya menyadari bahwa lampu merah akan berubah segera berubah sehingga saya terus berjalan ke depan.

Bertahun-tahun kemudian saya berbicara kepada ayah saya me- ngenai saat perpisahan itu. Dia mengatakan kepada saya bahwa saya telah saya duga mengenai wajahya. Dia mengatakan bahwa dia tidak sedih melainkan cemas. Dia melihat saya menegok ke belakang, seolah-olah saya masih anak kecil, tidak yakin dan mencari orang yang dapat memberikan keyakinan. Dia mengatakan kepada saya bahwa selama tahun-tahun berikutnya pikiran yang ada di dalam benaknya adalah, Akankah dia baik-baik saja? Sudahkah saya cukup memikirkan mengenai dia? Apakah dia siap menghadapi semua yang ada di hadapannya?

Yang ada di dalam benaknya lebih dari sekadar pikiran-pikiran. Saya tahu dari memperhatikan dia bahwa di dalam hatinya terdapat perasaan-perasaan yang dalam. Dia ingin agar saya dilindungi dan aman. Saya telah mendengar dan merasakan keinginan tersebut di dalam doa-doanya, bahkan terlebih lagi di dalam doa-doa ibu saya, selama bertahun-tahun saya tinggal bersama mereka. Saya telah mempelajarinya, dan saya mengingatnya.

Doa adalah hal yang berhubungan dengan hati. Saya telah diajarkan jauh lebih banyak daripada peraturan-peraturan tentang doa. Saya telah belajar dari orang tua dan ajaran-ajaran Juruselamat bahwa kita harus berbicara kepada Bapa Surgawi kita di dalam bahasa doa yang khidmat. "Bapa kami . . . di Surga, Dikuduskanlah nama-Mu" (Matius 6:9). Saya tahu bahwa kita tidak boleh sekali-sekali mencemarkan nama kudus-Nya--tidak boleh sekali pun. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana doa seorang anak menjadi terganggu karena mendengar orang tua yang mencemari nama Alah? Akan ada akibat-akibat yang menyedihkan bagi pelanggaran kecil seperti itu.

Saya telah belajar bahwa penting untuk mengucap syukur atas berkat-berkat dan memohon pengampunan. "Dan ampunilah kami aka kesalahan kami, seperi juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" (Matius 6:12). Saya telah diajar agar kita meminta hal-hal yang kita butuhkan dan mendoakan orang lain agar diberkati. "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya" (Matius 6:11). Saya tahu bahwa kita harus menyerahkan keinginar kita. "Datanglah kerajaan-mujadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Matius 6:10). saya telah diajar dan mendapai bahwa hal itu benar bahwa kita dapat diperingatkan akan bahaya dan diberitahu lebih awal apa yang telah kiota lakukan yang tidak berkenan bagi Allah. "Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanla kami daripada yang jahat" Matius 6:13).

Saya telah belajar bahwa kita harus selalu berdoa di dalam nama Yesus Kristus. Tetapi sesuatu yang telah saya lihat dan dengar telah mengajarkan saya bahwa kata-kata tersebut lebih dari sekadar formalitas. Ada sebuah gambar Juruselamat di dinding kamar tidur dimana ibu saya terbaring selama bertahun-tahun di tempat tidur sebelum dia meninggal. Dia telah menggantungnya di sana karena hal yang sepupunya, Samuel D. Bennion ceritakan kepadanya. Dia telah pergi bersama seorang Rasul yang menceritakan bahwa dia melihat Juruselamat dalam sebuah penglihatan. Penatua Bennion memberinya gambar tersebut, dengan mengatakan bahwa" adalah gambar yang paling mirip dengan Tuhan yang pernah dia lihat. Ibu saya membingkainya dan menempatkannya di dinding dimana dia dapat melihatnya dari tempat tidur.

Ibu saya mengenal, Juruselamat, dan dia mengasihi-Nya. Saya telah belajar dari ibu saya bahwa kita tidak menutup doa kita dengan menyebut nama orang lain ketika kita mendekati Bapa kita dalam doa. Saya tahu dari apa yang saya lihat dalam kehidupan ibu saya bahwa hatinya dekat kepada Juruselamat selama usahanya bertahun-tahun dengan ketetapan hati dan konsisten untuk melayani dan menyenangkan Dia. Saya tahu tulisan suci benar yang memperingatkan, "Karena bagaimanakah seseorang akan mengenal majikannya yang tidak pernah dilayaninya dan yang menjadi seorang asing baginya dan jauh dari pikiran dan niat hatinya?" (Mosia 5:13).

Bertahun-tahun setelah kematian ibu dan ayah saya, perkataan, "dalam nama Yesus Kristus," tidak lagi merupakan ucapan sambil lalu bagi saya, bahkan ketika saya mengucapkannya, atau ketika saya mendengarkan orang lain mengucapkannya. Kita melayani untuk mengetahui pikiran-pikiran dan niat-niat hati Majikan. Tetapi kita harus berdoa agar Bapa Surgawi menjawab doa di dalam hati maupun pikiran kita (lihat Yeremia 31:33; Ibrani 8:10, 10:16; dan 2 Korintus 3:3).

Presiden George Q. Cannon menguraikan berkat bagi orang-orang yang datang bekumpul untuk memperoleh jawaban atas doa mereka. Dia berbicara mengenai menghadiri pertemuan imamat, tetapi banyak di antara Anda yang datang ke pertemuan ini dengan hati yang siap menurut cara yang dia uraikan dengan kata-kata ini:

"Saya harus datang ke pertemuan itu dengan pikiran yang seluruhnya bebas dari semua pengaruh yang akan mencegah bekerjanya Roh Allah terhadap saya. Saya harus menghadiri pertemuan dalam roh penuh doa, seolah-olah raja Allah akan menuliskan di dalam hati saya kehendak-Nya, bukan atas kehendak saya sendiri yang telah siap dan berketetapan untuk melaksanakan kehendak saya tanpa mengindahkan pandangan-pandangan orang lain. Jika saya pergi dan semua orang lain pergi dengan roh seperti ini, maka Roh Allah akan dirasakan di antara kita, dengan mana kita akan memutuskan berdasarkan pikiran dan kehendak Allah karena Allah akan mengungkapkannya kepada kita. Kita akan melihat terang ke jurusan yang kita harus tuju, dan kita akan melihat kegelapan ke jurusan yang tidak boleh kita tuju" (Deseret Semi-Weekly News, 30 September 1890, 2 penekanan ditambahkan).

Tujuan kita ketika kita mengajar anak-anak kita untuk berdoa adalah agar mereka menginginkan Allah untuk menuliskan di dalam hati mereka dan kemudian bersedia pergi dan melakukan apa yang Allah minta dari mereka. Adalah mungkin bagi anak-anak kita untuk memiliki cukup iman, dari hal-hal yang mereka lihat kita lakukan dan dari yang kita ajarkan, bahwa mereka dapat merasakan paling tidak bagian dari apa yang dirasakan Juruselamat ketika Dia berdoa untuk memperoleh kekuatan bagi pengorbanan tak terbatas yang Dia lakukan bagi kita: "Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: Ya bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Matius 26:39).

Doa-doa saya telah dijawab. Jawaban terhadap doa-doa tersebut paling jelas terlihat ketika hal yang saya inginkan dibungkamkan oleh keinginan yang kuat untuk mengetahui apa yang Allah inginkan. Adalah melalui keinginan itulah jawaban dari seorang Bapa Surgawi yang penuh kasih dapat diutarakan ke dalam pikiran melalui suara yang halus dan dapat dituliskan di dalam hati.

Ada orang tua yang mendengarkan dengan pertanyaan ini: "Tetapi bagaimanakah caranya saya dapat melunakkan hati anak saya yang kini telah tumbuh lebih dewasa dan yang merasa yakin bahwa dia tidak membutuhkan Allah? Bagamanakah saya dapat melunakkan hati seorang anak agar cukup lembut untuk mengizinkan Allah menuliskan kehendak-Nya di dalam hatinya?" Kadang-kadang tragedi akan melunakkan hati seseorang. Tetapi bahkan tragedi tidak cukup bagi sejumlah orang.

Tetapi ada satu kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi sendiri bahkan oleh orang keras kepala dan sombong pun. Mereka tidak dapat mengangkat beban dosa mereka sendiri. Dan bahkan orang paling keras kepala pun kadang-kadang merasakan sakit di dalam hati nurani mereka sehingga membutuhkan pengampunan dari Allah. Seorang ayah yang penuh kasih, Alma mengajar putranya Korianton dengan cara ini: "Maka rencana belas kasihan tidak dapat terlaksanakan kecuali suatu korban tebusan dibuat. Karena itu, Allah sendiri menebus dosa-dosa dunia untuk melaksanakan rencana belas kasihan, untuk memuaskan tuntutan keadilan, agar Allah dapat menjadi Allah yang sempurna, yang adil dan juga Allah yang penuh belas kasihan" (Alma 42:15).

Dan kemudian, setelah memberikan kesaksian mengenai Juruselamat dan Penebusan- Nya, sang ayah memohonkan hati yang lembut berikut:

"Hai putraku, aku ingin agar engkau tidak lagi menyangkal keadilan Allah. Janganlah sekali-kali berusaha memaafkan dirimu karena dosa-dosamu dengan menyangkal keadilan Allah, tetapi biarlah keadilan Allah dan belas kasihan-Nya dan panjang sabar-Nya berkuasa penuh di hatimu dan biarlah hal itu merendahkan engkau sampai ke debu di dalam kerendahan hati" (Alma 42:30).

Alma tahu apa yang dapat kita ketahui bahwa memberikan kesaksian mengenai Yesus Kristus dan penyaliban-Nya memberikan peluang terbesar kepada putranya untuk menginginkan bantuan yang hanya dapat diberikan oleh Allah. Dan doa-doa dijawab bagi mereka yang hatinya dilunakkan oleh perasaan kuat untuk membutuhkan pembersihan itu.

Ketika kita mengajar orang-orang yang kita kasihi bahwa sungguh kita adalah anak-anak roh yang untuk sementara waktu berada jauh dari Bapa Surgawi yang penuh kasih. Kita adalah keturan-Nya. Kita tinggal di hadirat-Nya dalam istana mulia sebelum kita datang ke sini untuk diuji. Kita mengenal wajah-Nya dan Dia mengenal wajah kita. Sama seperti ketika ayah saya memandangi saya pergi, Bapa kita di Surga memandangi kita ketika kita pergi ke dalam kehidupan fana.

Putra Terkasih-Nya, Yehova, meninggalkan istana yang mulia itu untuk datang ke dunia untuk menanggung derita semua yang kita derita dan untuk membayar harga semua dosa yang kita perbuat. Dia menyediakan bagi kita satu-satu-Nya jalan untuk pulang kerumah kepada Bapa Surgawi dan kepada-Nya. Jika Roh Kudus dapat memberitahukan kita sebanyak itu mengenai siapa diri kita, kita dan anak-anak kita dapat merasakan apa yang dirasakan Enos. Dia berdoa seperti itu.

Anda suatu hari nanti akan dipisahkan dari mereka, dengan suatu kerinduan di dalam hati Anda untuk dipersatukan kembali. Bapa Surgawi yang penuh kasih mengetahui bahwa kerinduan itu akan berlangsung selamanya kecuali kita dipersatukan sebagai keluarga bersama Dia dan Putra-Nya Terkasih. Dia telah menetapkan bahwa semua anak-Nya akan memerlukan berkat itu. Untuk mendapatkannya, mereka harus meminta kepada Allah bagi diri mereka sendiri, tanpa ragu-ragu, sebagaimana pemuda Joseph melakukannya.

Ayah saya khawatir hari itu di New York karena dia tahu, sebagaimana ibu saya tahu, bahwa satu-satunya tragedi sesungguhnya yang akan terjadi adalah jika kami berpisah untuk selamanya. Itulah sebabnya mereka mengajar saya untuk berdoa. Mereka tahu kami dapat bersama selama-lamanya hanya dengan bantuan Allah dan dengan jaminan-Nya. Seperti yang akan Anda lakukan, mereka mengajarkan doa dengan paling baik melalui teladan.

Siang hari ketika ketika ibu saya meninggal dunia, kami pergi ke rumah sanak keluarga dari rumah sakit. Kami duduk dengan tenang dalam kegelapan di ruang tamu untuk sesaat. Ayah mohon diri dan pergi ke kamar tidurnya. Dia pergi selama beberapa menit. Ketika dia kembali ke ruang tamu, ada senyuman di wajahnya. Dia berkata bahwa dia khawatir tentang ibu. Selama saat-saat membereskan barang-barang ibu dari kamar rumah sakit dan berterima kasih kepada para petugas karena begitu baik kepada itu, dia memikirkan kepergian ibu di dunia roh tidak lama setelah kematiannya. Dia takut ibu akan sendirian jika di sana tidak ada seorang pun yang dijumpainya.

Dia pergi ke tempat tidurnya untuk memohon kepada Bapa Surgawi agar mengutus seseorang untuk menyapa Mildred, istrinya dan ibu saya. Dia mengatakan bahwa dia telah diberi jawaban atas doanya bahwa ibunya telah bertemu dengan istrinya Saya ikut tersenyum. Nenek Eyring tidak begitu tinggi. Saya ingat betul ketika dia berjalan melintasi jalanan yang padat, kaki pendeknya bergerak cepat untuk bertemu dengan ibu saya.

Ayah sungguh-sungguh tidak berkeinginan pada waktu itu untuk mengajarkan kepada saya mengenai doa, tetapi dia melakukannya. Saya tidak ingat khotbah dari ibu atau ayah saya tentang doa. Mereka berdoa setiap kali menghadapi duka maupun suka. Dan mereka memberitahu yang sebenarnya betapa baiknya Allah itu, betapa kuat dan dekatnya. Doa yang paling sering saya dengar adalah mengenai apa yang kami perlukan untuk dapat bersama selama-lamanya. Dan jawaban yang selalu tertanam di dalam benak saya adalah kepastian bahwa kami berada di jalur itu.

Ketika saya melihat dalam ingatan saya nenek berjalan menghampiri ibu saya, saya merasakan sukacita bagi mereka dan suatu kerinduan untuk membawa istri terkasih saya serta anak-anak saya kepada suatu reuni seperti itu. Kerinduan itu ialah mengapa kita harus mengajar anak-anak kita untuk berdoa.

Saya bersaksi bahwa Bapa Surgawi menjawab permohonan para orang tua yang setia. Saya bersaksi bahwa karena Kurban Tebusan Yesus Kristus, kita dapat memiliki kehidupan kekal di dalam keluarga jika kita menghormati perjanjian-perjanjian yang ditawarkan di sini, di dalam Gereja-Nya yang benar. Saya juga bersaksi sebagai hamba-Nya dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2009 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy