Penatua David A. Bednar, “Hal-Hal Sebagaimana Adanya,” May 2009
Api Unggun CES untuk Dewasa Muda • 3 Mei 2009 • Universitas Brigham Young–Idaho
Brother dan sister, saya mengasihi Anda dan bersyukur dapat berada bersama Anda. Saya menyambut secara khusus Anda semua yang berada di tahun terakhir seminari Anda yang menghadiri siaran CES untuk pertama kalinya. Sementara Anda melanjutkan pendidikan Anda, saya mengimbau Anda untuk memanfaatkan sepenuhnya kesempatan yang akan Anda dapatkan untuk belajar dan tumbuh secara rohani dengan mendaftarkan diri dan secara aktif berperan serta di kelas Institut. Anda juga akan dapat menghadiri acara api unggun CES mendatang, yang akan menguatkan dan memberkati Anda.
Sementara saya telah menanti-nantikan dan bersiap-siap bagi kesempatan ini untuk belajar bersama Anda, saya telah sampai pada pemahaman yang lebih baik akan perasaan kuat Yakub, adik lelaki Nefi. Dia berkata, “hari ini aku tertekan oleh … banyak keinginan dan kecemasan untuk kesejahteraan jiwamu” (Yakub 2:3). Pesan yang ingin saya bagikan kepada Anda hari ini dengan berjalannya waktu telah meresap ke dalam jiwa saya bagaikan embun dari surga (A&P 121:45). Saya mengundang perhatian Anda yang sungguh-sungguh pada sebuah pokok bahasan serius yang memiliki implikasi baik langsung maupun kekal. Saya berdoa agar Roh Kudus menyertai dan mengajar kita masing-masing selama waktu bersama kita.
Saya telah lama terkesan dengan definisi sederhana dan jelas tentang kebenaran yang dinyatakan dalam Kitab Mormon: “Roh mengatakan kebenaran dan tidak berdusta. Oleh karena itu, ia berbicara tentang hal-hal sebagaimana adanya dan tentang hal-hal sebagaimana akan terjadi, oleh karena itu hal-hal ini dinyatakan kepada kita dengan jelas untuk menyelamatkan jiwa kita” (Yakub 4:13; lihat juga A&P 93:24).
Malam ini kita akan berfokus pada unsur besar pertama tentang kebenaran yang diidentifikasi dalam ayat ini: “hal-hal sebagaimana adanya.” Pertama kita akan mengulas beberapa unsur kunci dari rencana kebahagiaan Bapa Surgawi kita sebagai landasan ajaran untuk mengetahui dan memahami hal-hal sebagaimana adanya. Kemudian kita akan memerhatikan cara-cara penyerangan yang digunakan oleh musuh untuk mengalihkan kita dari atau menghambat kesanggupan kita untuk memperbedakan hal-hal sebagaimana adanya. Dan akhirnya, kita akan membahas tanggung jawab yang berada di pundak Anda sebagai generasi muda. Anda perlu menjadi patuh, menghormati perjanjian-perjanjian kudus, dan memperbedakan secara konsisten hal-hal sebagaimana adanya di dunia dewasa ini yang senantiasa tumbuh semakin membingungkan dan jahat.
Tujuan Ilahi Kita
Dalam “Keluarga: Pernyataan kepada Dunia,” Presidensi Utama dan Dewan Dua Belas Rasul memaklumkan bahwa sebagai para putra dan putri roh dari Allah kita “menerima rencana-Nya melalui mana anak-anak-Nya dapat memperoleh tubuh jasmani dan mendapatkan pengalaman duniawi untuk maju ke arah kesempurnaan dan pada akhirnya mencapai tujuan ilahi [kita] sebagai seorang ahli waris kehidupan kekal” (“Keluarga: Pernyataan kepada Dunia,” Liahona, Oktober 2004, 49; Ensign, November 1995, 102). Mohon simaklah kepentingan utama dari memperoleh tubuh jasmani dalam proses maju ke arah tujuan ilahi kita.
Nabi Joseph Smith mengajarkan dengan jelas pentingnya tubuh jasmani kita.
”Kita datang ke bumi ini agar kita boleh memiliki sebuah tubuh dan mempersembahkannya murni di hadapan Allah dalam kerajaan selestial. Asas kebahagiaan yang besar tercakup dalam memiliki sebuah tubuh. Iblis tidak memiliki tubuh, dan di sinilah hukumannya. Dia senang ketika dia dapat memperoleh tabernakel manusia, dan ketika diusir keluar oleh Juruselamat dia meminta untuk pergi ke dalam sekumpulan babi, memperlihatkan bahwa dia lebih menyukai tubuh babi daripada tidak memilikinya sama sekali. Semua makhluk yang memiliki tubuh memiliki kuasa atas mereka yang tidak memilikinya. Iblis tidak memiliki kuasa atas diri kita kecuali kita mengizinkannya. Saat kita memberontak terhadap apa pun yang datang dari Allah, iblis mengambil kuasa.”1
Tubuh jasmani kita memungkinkan keragaman, kedalaman, dan intensitas pengalaman yang sama sekali tidak dapat diperoleh dalam keadaan prafana kita. Presiden Boyd K. Packer telah mengajarkan, “Roh kita dan tubuh kita digabungkan dalam cara yang sedemikian rupa sehingga tubuh kita menjadi alat dari pikiran kita dan landasan dari sifat kita.”2 Dengan demikian, hubungan kita dengan orang lain, kesanggupan kita untuk mengenali dan bertindak selaras dengan kebenaran, dan kemampuan kita untuk mematuhi asas-asas dan tata cara-tata cara Injil Yesus Kristus ditingkatkan melalui tubuh jasmani kita. Di ruangan kelas kefanaan, kita mengalami kelembutan, kasih, kebaikan hati, kebahagiaan, dukacita, kekecewaan, rasa sakit, dan bahkan tantangan keterbatasan jasmani dalam cara-cara yang mempersiapkan kita untuk kekekalan. Dinyatakan secara sederhana, ada pelajaran-pelajaran yang harus kita pelajari dan pengalaman-pengalaman yang harus kita miliki, sebagaimana yang tulisan suci uraikan, “karena daging” (lihat 1 Nefi 19:6; Alma 7:12–13).
Para rasul dan nabi secara konsisten telah mengajarkan kepentingan fana dan kekal dari tubuh kita. Paulus memaklumkan:
”Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1 Korintus 3:16–17).
Dan pada masa kelegaan ini Tuhan mengungkapkan bahwa: “Roh serta tubuh membentuk manusia” (A&P 88:15). Suatu kebenaran yang sungguh-sungguh ada dan selalu akan demikian adanya adalah bahwa tubuh dan roh membentuk realitas dan identitas kita. Ketika tubuh dan roh secara tak terpisahkan terhubung, kita dapat menerima kegenapan sukacita; ketika itu dipisahkan, kita tidak dapat menerima kegenapan sukacita (lihat A&P 93:33–34).
Rencana Bapa dirancang untuk memberikan arahan bagi anak-anak-Nya, untuk menolong mereka menjadi bahagia, dan untuk membawa mereka pulang dengan selamat kepada-Nya dengan tubuh yang dibangkitkan dan dipermuliakan. Lusifer bekerja untuk membuat para putra dan putri Allah bingung dan tidak bahagia serta untuk merintangi kemajuan kekal mereka. Niat utama dari bapa kedustaan adalah bahwa kita semua akan menjadi “sengsara seperti dirinya sendiri” (2 Nefi 2:27), dan dia bekerja untuk memutarbalikkan unsur-unsur dari rencana Bapa yang paling dibencinya.
Setan tidak memiliki tubuh, dan kemajuan kekalnya telah terhenti. Persis seperti air yang mengalir di sebuah palung sungai dihentikan oleh bendungan, begitu pula kemajuan kekal musuh terhalangi karena dia tidak memiliki tubuh jasmani. Karena pemberontakannya, Lusifer telah menyangkal bagi dirinya sendiri segala berkat dan pengalaman fana yang dimungkinkan melalui tabernakel daging dan tulang. Dia tidak dapat mempelajari pelajaran-pelajaran yang hanya dapat dipelajari oleh roh yang bertubuh. Dia tidak dapat menikah atau menikmati berkat-berkat prokreasi dan kehidupan keluarga. Dia tidak dapat menanggung realitas dari suatu kebangkitan yang harfiah dan universal dari seluruh umat manusia. Salah satu makna tulisan suci yang kuat dari kata terkutuk diilustrasikan dalam ketidakmampuannya untuk terus berkembang dan menjadi seperti Bapa Surgawi kita.
Karena tubuh jasmani begitu utama bagi rencana kebahagiaan Bapa dan perkembangan rohani kita, janganlah kita heran bahwa Lusifer berupaya menggagalkan kemajuan kita dengan menggoda kita untuk menggunakan tubuh kita secara tidak pantas. Salah satu ironi paling parah kekekalan adalah bahwa si musuh, yang justru sengsara karena dia tidak memiliki tubuh jasmani, mengajak dan membujuk kita untuk berbagi dalam kegetirannya melalui penggunaan tubuh kita secara tidak pantas. Bahkan perkakas yang tidak dia miliki dan tidak dapat gunakan malah menjadi sasaran utama dari usaha-usahanya untuk memikat kita menuju kehancuran rohani.
Serangan Musuh
Musuh berusaha memengaruhi kita baik dengan penyalahgunaan tubuh jasmani kita maupun dengan meminimalkan pentingnya tubuh kita. Kedua cara penyerangan ini penting untuk kita kenali dan tolak.
Ketika siapa pun dari anak-anak Bapa Surgawi kita menyalahgunakan tabernakel jasmani mereka dengan melanggar hukum kemurnian akhlak, dengan menggunakan obat-obatan terlarang dan zat-zat adiktif, dengan menodai atau merusak diri mereka sendiri, atau dengan memuja berhala palsu terhadap citra tubuh, apakah milik mereka sendiri atau milik orang lain, Setan senang. Bagi kita semua yang tahu dan memahami rencana keselamatan, penyalahgunaan apa pun terhadap tubuh merupakan pemberontakan (lihat Mosia 2:36–37; A&P 64:34–35) dan suatu penyangkalan akan identitas sejati kita sebagai putra dan putri Allah.
Nah, brother dan sister, saya tidak dapat memberi tahu Anda segala cara yang dengannya Anda mungkin menyalahgunakan tubuh Anda; “karena ada berbagai jalan serta cara, bahkan begitu banyak sehingga aku tidak dapat menghitungnya” (Mosia 4:29). Anda tahu apa yang benar dan apa yang salah, dan Anda memiliki tanggung jawab individu untuk belajar bagi diri Anda sendiri “dengan belajar dan juga dengan iman” (A&P 88:118) hal-hal yang hendaknya Anda lakukan atau yang hendaknya tidak Anda lakukan. Saya bersaksi bahwa sewaktu Anda berhasrat untuk mempelajarinya, sewaktu Anda “menjaga dirimu, [dan] pikiranmu, [dan] perkataanmu, [dan] perbuatanmu dan menaati perintah-perintah Allah dan terus beriman tentang apa yang telah kamu dengar mengenai kedatangan Tuhan kita, bahkan sampai akhir hidupmu” (Mosia 4:30), Anda akan secara rohani diterangi dan dilindungi. Dan sesuai dengan kesetiaan serta ketekunan Anda, Anda akan memiliki kuasa untuk memperbedakan tipuan dan menolak serangan musuh sewaktu dia menggoda Anda untuk menyalahgunakan tubuh jasmani Anda.
Setan juga berusaha membujuk para putra dan putri Allah untuk meminimalkan pentingnya tubuh jasmani mereka. Jenis serangan khusus ini adalah yang paling kejam dan culas. Saya ingin memberikan beberapa contoh tentang bagaimana musuh dapat menenangkan dan meninabobokan kita ke dalam suatu rasa keamanan badani (lihat 2 Nefi 28:21) serta mendorong kita untuk mempertaruhkan pengalaman belajar duniawi yang menyebabkan kita bersorak karena sukacita (lihat Ayub 38:7) di keberadaan prafana.
Sebagai contoh, kita semua dapat menemukan kenikmatan dalam bermacam-macam kegiatan yang bermanfaat, menghibur, serta menarik. Namun kita meremehkan pentingnya tubuh kita dan membahayakan kesehatan jasmani kita dengan pergi ke pencarian ekstrem yang tidak lazim dan berbahaya untuk suatu ‘pacuan’ adrenalin yang senantiasa lebih hebat dan lebih kuat. Kita mungkin merasionalisasi bahwa pastilah tidak ada yang keliru dengan eksploitasi dan petualangan semacam itu yang tampaknya tidak ada salahnya. Namun, mempertaruhkan bahkan peralatan yang telah Allah berikan kepada kita untuk menerima pengalaman belajar kefanaan—sekadar mengejar suatu sensasi atau yang dianggap kesenangan, untuk memupuk ego, atau untuk memperoleh penerimaan—sungguhlah meminimalkan pentingnya tubuh jasmani kita.
Sedihnya, sebagian remaja putra dan putri di Gereja dewasa ini mengabaikan “hal-hal sebagaimana adanya” dan melalaikan hubungan kekal hanya untuk selingan, pengalihan perhatian, dan jalan putar digital yang tidak memiliki nilai abadi. Hati saya sakit ketika pasangan muda—dimeteraikan bersama di dalam Rumah Tuhan untuk waktu ini dan untuk segala kekekalan melalui kuasa Imamat Kudus—mengalami kesulitan pernikahan karena efek kecanduan dari bermain video game yang berlebihan atau bersosialisasi secara online. Seorang remaja putra atau putri bisa menghabiskan waktu yang tak terhingga, menunda atau mengurbankan pencapaian kejuruan atau akademis, dan akhirnya mengurbankan hubungan antar manusia karena permainan video dan online yang melumpuhkan pikiran serta roh. Sebagaimana yang Tuhan maklumkan, “Oleh karena itu, Aku memberikan kepada mereka sebuah perintah … : Jangan engkau menyia-nyiakan waktumu, juga jangan engkau memendam bakatmu sehingga hal itu tidak diketahui” (A&P 60:13).
Anda sekarang mungkin bertanya kepada diri sendiri, “Tetapi Brother Bednar, Anda hari ini mulai dengan berbicara tentang pentingnya tubuh jasmani untuk kemajuan kekal kita. Apakah Anda menyarankan bahwa bermain video game dan berbagai jenis komunikasi bermedia komputer dapat memainkan peran dalam meminimalkan pentingnya tubuh jasmani?” Itulah tepatnya yang sedang saya nyatakan. Biarlah saya menjelaskannya.
Kita hidup pada zaman ketika teknologi dapat digunakan untuk meniru realitas, memperbanyak realitas, dan menciptakan realitas maya. Sebagai contoh, seorang dokter dapat menggunakan simulasi perangkat lunak untuk memperoleh pengalaman yang berharga dalam melaksanakan suatu operasi yang rumit tanpa pernah mempertaruhkan pasien manusia. Seorang pilot di dalam sebuah simulator penerbangan secara berulang dapat berlatih prosedur pendaratan darurat yang dapat menyelamatkan banyak nyawa. Dan arsitek serta insinyur dapat menggunakan teknologi inovatif untuk membuat model rancangan dan metode konstruksi yang rumit yang mengurangi hilangnya nyawa manusia dan kerusakan pada bangunan yang disebabkan oleh gempa bumi dan bencana alam lainnya.
Dalam setiap contoh ini, keselarasan tingkat tinggi dalam simulasi atau model itu memberikan kontribusi pada efektivitas dari pengalaman tersebut. Istilah keselarasan menyiratkan kemiripan antara realitas dan penggambaran akan realitas. Simulasi semacam itu dapat konstuktif jika keselarasannya tinggi dan tujuannya baik—sebagai contoh, memberikan pengalaman yang menyelamatkan nyawa atau meningkatkan kualitas hidup.
Gambar yang sedang Anda lihat adalah hasil rekayasa komputer yang menggambarkan sebuah ruang pemeteraian di Bait Suci Newport Beach di Kalifornia.
Ini dan gambar yang serupa digunakan sebagai bagian dari proses perencanaan dan perancangan untuk tiap bait suci baru yang dibangun. Rekayasa ini menggambarkan bahan, perabot, perlengkapan tak bergerak, tata cahaya, skala, dan proporsi untuk memperlihatkan bagaimana tiap komponen akan tampak dan terasa ketika selesai. Pada pokoknya, keseluruhan bait suci dan segala unsurnya dirancang secara terperinci sebelum konstruksi dimulai.
Gambar ini adalah foto sesungguhnya dari ruang pemeteraian di Bait Suci Newport Beach Kalifornia.
Mohon simak keselarasan antara penggambaran realitas di bagian penggambaran (gambar pertama) dan realitas ruangan yang telah rampung dalam foto ini.
Gambar berikutnya ini adalah rekayasa komputer yang menggambarkan sebuah lobi di Bait Suci Copenhagen Denmark.
Foto berikut menunjukkan lobi sesungguhnya di Bait Suci Copenhagen Denmark.
Pada setiap contoh ini, keselarasan tinggi dikerjakan untuk mencapai tujuan yang paling penting—perancangan dan pembangunan sebuah bait suci yang kudus dan indah. Meskipun demikian, suatu simulasi atau model dapat menuntun pada perusakan rohani dan bahaya jika keselarasannya tinggi dan tujuannya buruk—misalnya, bereksperimen dengan tindakan yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah atau membujuk kita untuk memikirkan atau melakukan hal-hal yang sebaliknya tidak kita pikirkan atau lakukan “karena itu hanya sebuah permainan.”
Hari ini saya menyerukan suara kerasulan mengenai peringatan tentang dampak yang berpotensi melumpuhkan, mencengkeram, memberangus, dan mengekang dari beberapa jenis interaksi dan pengalaman dunia maya terhadap jiwa kita. Kekhawatiran yang saya serukan bukanlah hal yang baru; itu dengan setara berlaku pada jenis media lainnya seperti televisi, bioskop, dan musik. Namun di dunia maya, tantangan ini lebih intens dan menyebar. Saya memohon kepada Anda untuk berhati-hati dengan ketumpulan indra dan pengaruh yang secara rohani merusak dari teknologi digital yang digunakan untuk menghasilkan keselarasan tinggi dan yang mengembangkan tujuan-tujuan yang menurunkan martabat dan jahat.
Jika musuh tidak dapat membujuk kita untuk menyalahgunakan tubuh jasmani kita, maka salah satu taktiknya yang paling jitu adalah memperdayai Anda dan saya sebagai roh yang bertubuh untuk memutuskan hubungan secara bertahap dan secara jasmani dari hal-hal sebagaimana adanya. Pada pokoknya, dia mendorong kita untuk berpikir dan bertindak seolah-olah kita berada dalam keadaan kita yang prafana, yang tak bertubuh. Dan, jika kita membiarkannya, dia dapat secara licik menggunakan beberapa aspek teknologi modern untuk mencapai tujuannya. Mohon berhati-hati terhadap menjadi sedemikian tenggelam dan asyiknya dengan pixel, SMS, headphone, twittering dan tweet [fitur Internet semacam Facebook], jaringan sosial secara online, serta penggunaan media dan Internet yang berpotensi adiktif sehingga Anda lalai mengenali pentingnya tubuh jasmani Anda dan kehilangan keistimewaan dari komunikasi orang per orang. Berhati-hatilah dengan peragaan dan data digital dalam banyak bentuk interaksi bermedia komputer yang dapat menggantikan rangkaian sepenuhnya dari kesanggupan dan pengalaman jasmani.
Dengarkanlah dengan saksama kutipan berikut yang menggambarkan hubungan romantis intens yang dialami seorang wanita dengan kekasih pria dari dunia maya. Dan perhatikanlah bagaimana media komunikasi meminimalkan pentingnya tubuh jasmani. “Dan demikianlah PFSlider (nama pria di layar) menjadi kehidupan sehari-hari saya. Segala bentuk nyata terabaikan. Tubuh saya tidak lagi eksis. Saya tidak lagi memiliki kulit, rambut, tulang. Segala hasrat telah mengubah diri ke dalam suatu rangkaian aktifitas otak yang tidak menjangkau apa pun kecuali cuping muka saya. Tidak ada kegiatan di luar rumah, tidak ada pergaulan, tidak ada cuaca. Hanya ada layar komputer serta telepon, kursi saya, dan mungkin segelas air.”3
Sebaliknya, kita perlu mengindahkan nasihat Paulus: “Supaya kamu masing-masing … hidup di dalam pengudusan dan penghormatan” (1 Tesalonika 4:4).
Pertimbangkanlah lagi contoh yang saya sebutkan sebelumnya tentang pasangan muda yang baru menikah di Rumah Tuhan. Pasangan yang belum matang atau terkecoh bisa mengabdikan waktu yang bukan main banyaknya untuk bermain video games, chatting secara online, atau dengan cara-cara lain memperkenankan dunia digital mendominasi hal-hal sebagaimana adanya. Awalnya investasi waktu itu mungkin tampaknya relatif tidak berbahaya, dirasionalisasikan sebagai beberapa menit untuk penyegaran yang dibutuhkan dari tuntutan jadwal harian yang padat. Namun peluang penting terlewatkan untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan hubungan dengan orang lain, untuk tertawa dan menangis bersama, serta untuk menciptakan suatu ikatan keintiman emosi yang berharga dan langgeng. Secara bertahap, hiburan yang tampaknya tidak ada salahnya itu dapat menjadi suatu bentuk perbudakan yang merusak.
Untuk merasakan kehangatan pelukan lembut dari rekan kekal atau melihat ketulusan di mata orang lain sewaktu kasih diekspresikan—segalanya ini yang dialami sebagaimana adanya melalui alat tubuh jasmani kita—dapat dikurbankan untuk suatu fantasi berkeselarasan tinggi yang tidak memiliki nilai abadi. Jika Anda dan saya tidak waspada, kita dapat menjadi “tidak dapat merasa” (1 Nefi 17:45), seperti yang dialami Laman dan Lemuel di masa lampau.
Izinkan saya memberikan contoh lain tentang memutuskan hubungan secara bertahap dan secara jasmani dari hal-hal sebagaimana adanya. Dewasa ini seseorang dapat masuk ke dalam dunia maya, misalnya “Second Life,” dan menciptakan suatu identitas baru. Seorang individu dapat menciptakan avatar, atau tokoh dunia maya, yang sepadan dengan penampilan dan perilakunya sendiri. Atau seseorang dapat membuat identitas palsu yang tidak berkorelasi sedikit pun dengan hal-hal sebagaimana adanya. Seberapa dekatnya pun identitas baru yang diciptakan menyerupai individu itu, perilaku semacam itu adalah contoh dari hal-hal yang tidak sebagaimana adanya. Sebelumnya saya mendefinisikan keselarasan dari sebuah simulasi atau model. Sekarang saya menekankan pentingnya keselarasan pribadi—korespondensi antara orang sesungguhnya dengan identitas dunia maya yang diasumsikan. Mohon simak kurangnya keselarasan pribadi pada episode berikut yang dilaporkan dalam Wall Street Journal:
Ric Hoogestraat adalah “seorang pria [berusia 53 tahun] yang tegap dengan kuncir uban yang panjang, cambang yang tebal, serta kumis lebat bercampur uban …. [Ric menghabiskan] enam jam tiap malam dan sering kali 14 jam terus-menerus tiap akhir pekan sebagai Dutch Hoorenbeek, diri mayanya yang tingginya 2.06 meter dan berotot. Karakternya terlihat bagaikan versi seorang [Ric] yang lebih muda, yang secara jasmani diperbagus.
”[Dia] duduk di depan komputernya dengan tirai tertutup …. Sementara istrinya, Sue, menonton televisi di ruang tamu, Tuan Hoogestraat chatting secara online dengan apa yang muncul di layar sebagai wanita berambut merah yang tinggi dan langsing.
Dia tidak pernah bertemu dengan wanita itu di luar dunia komputer Second Life, sebuah dunia fantasi digital yang ramai dibicarakan …. Dia tidak pernah berbicara kepadanya meski hanya di telepon. Namun hubungan mereka telah berlanjut pada dimensi nyata yang aneh. Mereka memiliki dua ekor anjing, membayar hipotek bersama, dan menghabiskan waktu berjam-jam [di dunia maya mereka] berbelanja di mal dan berlama-lama mengendarai motor besar. Ikatan mereka begitu kuat sehingga tiga bulan yang lalu Tuan Hoogestraat meminta Janet Spielman, wanita Kanada berusia 38 tahun yang mengendalikan si rambut merah, untuk menjadi istri mayanya.
Wanita yang secara resmi dinikahinya tidaklah senang. ‘Itu sungguh menghancurkan,” kata Sue Hoogestraat … yang telah menikah dengan Tuan Hoogestraat selama tujuh bulan.”4
Brother dan sister, mohon pahamilah. Saya tidak menyarankan semua teknologi sifatnya buruk; tidak. Saya juga tidak mengatakan bahwa kita hendaknya tidak menggunakan kemampuannya yang banyak dengan cara-cara yang pantas untuk belajar, berkomunikasi, dan mengangkat serta mencerahkan kehidupan; tentu saja kita harus. Namun saya mengangkat suara peringatan agar kita hendaknya tidak menyia-nyiakan dan merusak hubungan yang autentik dengan terobsesi terhadap yang palsu. “Hampir 40% pria dan 53% wanita yang bermain games secara online mengatakan teman-teman maya mereka setara dengan atau lebih baik daripada teman-teman kehidupan nyatanya, menurut sebuah survei dari 30.000 pemain yang diadakan oleh … seorang Ph.D. yang baru lulus dari Universitas Stanford. Lebih dari seperempat pemain [yang menanggapi mengindikasikan bahwa] kejadian utama secara emosi di minggu lalu terjadi dalam dunia komputer.”5
Betapa pentingnya, betapa abadinya, dan betapa tepat waktunya definisi Tuhan tentang kebenaran—”hal-hal sebagaimana adanya.” Nabi Alma bertanya, “Ya, kalau demikian, apakah ini tidak nyata?” (Alma 32:35). Dia sedang berbicara tentang terang dan kebaikan yang begitu mudah dikenali hingga dapat dirasakan. Sesungguhnya, “mereka yang tinggal di hadirat [Bapa]… melihat sebagaimana mereka dilihat, dan mengetahui sebagaimana mereka diketahui, telah menerima kegenapan-Nya dan kasih karunia-Nya” (A&P 76:94).
Brother dan sister yang terkasih, berhati-hatilah! Sejauh keselarasan pribadi berkurang dalam komunikasi bermedia komputer dan tujuan komunikasi semacam itu menyimpang, menyeleweng, dan jahat, potensi bencana rohaninya sangatlah tinggi. Saya memohon dengan sangat kepada Anda untuk berpaling segera dan secara permanen dari tempat dan kegiatan semacam itu (lihat 2 Timotius 3:5).
Sekarang, saya ingin membicarakan suatu ciri tambahan dari serangan musuh. Setan sering kali menawarkan ilusi menarik dari anonimitas. Lusifer selalu berupaya untuk mencapai pekerjaannya secara rahasia (lihat Musa 5:30). Ingatlah, bagaimanapun juga, bahwa kemurtadan bukanlah anonim semata-mata karena terjadi dalam sebuah blog atau melalui suatu identitas palsu di dalam ruang chatting atau dunia maya. Pikiran, perkataan, dan perbuatan amoral selamanya amoral, bahkan di dunia maya. Tindakan penuh tipuan yang diduga terselubung dalam kerahasiaan, misalnya secara ilegal men-download musik dari Internet atau mengopi CD atau DVD untuk didistribusikan kepada teman dan keluarga, bagaimanapun juga adalah bersifat menipu. Kita semua bertanggung jawab kepada Allah, dan pada akhirnya kita akan dihakimi oleh-Nya menurut perbuatan kita dan hasrat hati kita (lihat Alma 41:3). “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Amsal 23:7).
Tuhan mengetahui siapa sesungguhnya kita ini, apa yang sesungguhnya kita pikirkan, apa yang sesungguhnya kita lakukan, dan akan menjadi siapa kita sesungguhnya. Dia telah memperingatkan kita bahwa “yang memberontak akan disiksa oleh banyak kedukaan, karena kedurhakaan mereka akan dipercakapkan di atas atap-atap rumah, serta perbuatan rahasia mereka akan diungkapkan” (A&P 1:3).
Saya telah menyerukan suara peringatan tentang hanya beberapa dari bahaya rohani di dunia kita yang berorientasi pada teknologi dan berubah dengan pesat. Biarlah saya katakan lagi: baik teknologi maupun perubahan yang pesat dalam atau darinya sendiri tidaklah baik atau jahat; tantangan nyatanya adalah memahami keduanya dalam konteks rencana kebahagiaan kekal. Lusifer akan mendorong Anda untuk menyalahgunakan dan meminimalkan pentingnya tubuh jasmani Anda. Dia akan berusaha mengganti sifat monoton dari pengulangan maya untuk beragam ciptaan Allah yang tak terbatas serta meyakinkan kita bahwa kita hanyalah makhluk fana yang perlu ditindaki alih-alih jiwa kekal yang diberkati dengan hak pilihan moral untuk bertindak bagi diri kita sendiri. Secara licik, dia membujuk roh-roh yang bertubuh untuk mengurbankan berkat dan pengalaman belajar “karena daging” yang dimungkinkan melalui rencana kebahagiaan Bapa dan Kurban Tebusan Putra Tunggal-Nya.
Demi kebahagiaan dan perlindungan Anda, saya mengajak Anda untuk mempelajari dengan lebih tekun ajaran tentang rencana keselamatan—dan untuk dengan sungguh-sungguh merenungkan kebenaran yang telah kita ulas. Saya mengajukan dua pertanyaan untuk pertimbangan dalam perenungan pribadi dan pembelajaran penuh doa Anda.
-
1. Apakah penggunaan berbagai teknologi dan media mengundang atau merintangi kerekanan terus-menerus dari Roh Kudus dalam kehidupan saya?
-
2. Apakah waktu yang saya luangkan dengan menggunakan berbagai teknologi dan media memperbesar atau membatasi kesanggupan saya untuk hidup, mengasihi, serta melayani dengan cara-cara yang berarti?
Anda akan menerima jawaban, ilham, dan petunjuk dari Roh Kudus sesuai dengan keadaan dan kebutuhan individu Anda. Saya mengulangi dan menandaskan ajaran Nabi Joseph: “Semua makhluk yang memiliki tubuh memiliki kuasa atas mereka yang tidak memilikinya. Iblis tidak memiliki kuasa atas diri kita kecuali kita mengizinkannya.”6
Kebenaran kekal ini tentang pentingnya tubuh jasmani kita akan membentengi Anda terhadap tipuan dan serangan musuh. Salah satu hasrat terdalam saya bagi Anda adalah suatu kesaksian dan penghargaan yang senantiasa meningkat akan Kebangkitan—bahkan kebangkitan Anda sendiri dengan tubuh selestial dan dipermuliakan “karena imanmu kepada [Tuhan Yesus Kristus] berdasarkan pernjanjian” (Moroni 7:41).
Angkatan Muda
Sekarang, saya ingin berbicara secara khusus kepada Anda sebagaimana Anda adanya. Anda sungguh-sungguh adalah angkatan muda dalam Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Pada bulan Oktober 1997 Penatua Neal A. Maxwell mengunjungi Universitas Brigham Young–Idaho untuk berbicara dalam sebuah kebaktian. Pada hari dia berada di kampus, kami berbincang bersama tentang berbagai topik Injil secara umum dan kaum remaja Gereja secara khusus. Saya ingat Penatua Maxwell membuat suatu pernyataan yang teramat mengesankan bagi saya. Dia berkata, “Kaum remaja generasi ini memiliki kesanggupan yang lebih besar terhadap kepatuhan daripada generasi sebelumnya mana pun.”
Dia kemudian mengindikasikan bahwa pernyataannya berdasarkan kebenaran yang diajarkan oleh Presiden George Q. Cannon: ”Allah telah mencadangkan roh-roh untuk masa kelegaan ini yang memiliki keberanian dan kebulatan tekad untuk menghadapi dunia serta semua kuasa dari yang jahat, terlihat dan tak terlihat, untuk mempermaklumkan Injil dan memelihara kebenaran serta menegakkan dan membangun Sion Allah kita tanpa gentar akan segala konsekuensinya. Dia telah mengirim roh-roh ini kepada generasi ini untuk meletakkan landasan Sion yang tidak pernah lagi tertumbangkan serta untuk membangkitkan suatu benih keturunan yang akan saleh dan yang akan menghormati Allah serta akan menghormati-Nya dengan sangat dan patuh kepada-Nya dalam segala keadaan.”7
Para orang tua dan pemimpin Gereja kerap kali menekankan bahwa remaja putra dan putri generasi ini telah dicadangkan untuk masa ini dalam sejarah dunia dan merupakan sebagian dari yang paling berani di antara anak-anak Bapa Surgawi. Sesungguhnya, pernyataan-pernyataan semacam ini adalah benar. Namun saya sering kali bertanya-tanya apakah orang-orang muda sedemikian sering mendengar uraian ini sehingga itu menjadi usang dan basi—dan bahwa kepentingannya serta implikasinya yang dalam mungkin diabaikan. Kita tahu bahwa “yang kepadanya telah diberikan banyak, banyak pula yang diminta” (A&P 82:3). Dan ajaran-ajaran Presiden Cannon serta Penatua Maxwell menolong kita untuk memahami lebih sepenuhnya apa yang dituntut dari kita dewasa ini. Anda dan saya harus berani serta “patuh kepada-Nya dalam segala keadaan.” Demikianlah, kepatuhan adalah senjata utama yang padanya generasi muda harus bersandar dalam pertempuran zaman akhir antara yang baik dan yang jahat.
Kita bersukacita bahwa Tuhan melalui para hamba-Nya yang berwenang telah “menegakkan standar” bagi remaja putra dan putri dewasa ini. Menyadari apa yang kita ketahui tentang siapa diri kita dan mengapa kita berada di sini di atas bumi, arahan terilhami yang demikian adalah disambut serta dihargai. Dan kita hendaknya mengenali bahwa Lusifer berusaha tanpa henti untuk “menurunkan standar” dengan membujuk kita untuk menyalahgunakan serta meminimalkan pentingnya tubuh jasmani kita.
Juruselamat telah memperingatkan kita berulang kali untuk berhati-hati terhadap tipuan Musuh.
”Yesus menjawab dan mengatakan kepada mereka: Waspadalah agar jangan ada orang menyesatkan kamu; …
Sebab pada masa itu akan bangkit pula kristus-kristus palsu, serta nabi-nabi palsu, dan akan menunjukkan tanda-tanda serta keajaiban-keajaiban besar, sedemikian rupa, sehingga, apabila mungkin mereka akan menipu kaum pilihan, yaitu yang dipilih berdasarkan perjanjian .…
Dan barangsiapa menyimpan perkataan-Ku sebagai barang berharga, tidak akan tertipu” (Terjemahan Joseph Smith terhadap Matius 1:5, 22, 37).
Kepatuhan membukakan pintu bagi kerekanan yang terus-menerus dari Roh Kudus. Dan karunia-karunia rohani serta kemampuan yang digerakkan oleh kuasa Roh Kudus memungkinkan kita untuk menghindari tipuan—dan untuk melihat, merasakan, mengetahui, memahami, serta mengingat hal-hal sebagaimana adanya. Anda dan saya telah dianugerahi dengan suatu kesanggupan yang lebih besar untuk kepatuhan yang sedemikian persisnya untuk alasan-alasan ini.
Moroni memaklumkan, “Dengarlah firman Tuhan dan mohonlah kepada Bapa dalam nama Yesus akan hal apa pun yang kamu butuhkan. Janganlah ragu, tetapi percayalah, dan mulailah seperti pada waktu dahulu dan datanglah kepada Tuhan dengan sepenuh hatimu dan mengusahakan keselamatanmu sendiri dengan takut dan gemetar di hadapan-Nya.
Bijaksanalah dalam masa pencobaanmu, tanggalkanlah dirimu dari segala ketidakbersihan, janganlah meminta agar kamu boleh menghabiskannya untuk nafsumu, tetapi mintalah dengan suatu keteguhan yang tak tergoyahkan, supaya kamu tidak menyerah kepada godaan, melainkan supaya kamu mau melayani Allah yang benar dan hidup” (Mormon 9:27–28).
Sewaktu kita mengindahkan nasihat yang terilhami itu, kita dapat dan akan diberkati untuk mengenali serta menolak serangan musuh—hari ini dan di hari-hari yang akan datang. Kita dapat dan akan memenuhi tanggung jawab kita yang ditetapkan sebelumnya serta memberi kontribusi pada pekerjaan Tuhan di seluruh dunia.
Saya bersaksi bahwa Allah hidup dan adalah Bapa Surgawi kita. Dia adalah Pemrakarsa rencana keselamatan. Yesus adalah Kristus, Sang Penebus yang tubuh-Nya dilukai, diremukkan, dan dicabik-cabik untuk kita sewaktu Dia mempersembahkan kurban penebusan. Dia telah bangkit; Dia hidup; dan Dia berdiri sebagai kepala Gereja-Nya pada zaman akhir ini. “Dipeluk di dalam lengan kasih-Nya untuk selama-lamanya” (2 Nefi 1:15) akan menjadi suatu pengalaman yang nyata dan bukan maya.
Saya bersaksi kita dapat dan akan diberkati dengan keberanian serta kebulatan tekad untuk menghadapi dunia serta segala kuasa dari yang jahat. Kesalehan akan berjaya. Tidak ada tangan yang tak tersucikan dapat menghentikan pekerjaan ini dari pergerakan maju. Saya memberikan kesaksian dan bersaksi akan hal-hal ini sebagaimana adanya dan sebagaimana akan terjadi dalam nama kudus Tuhan Yesus Kristus, amin.
© 2009 oleh Intellectual Reserve, Inc. Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Persetujuan Bahasa Inggris: 10/08. Persetujuan penerjemahan: 10/08. Terjemahan dari Things as They Really Are. Bahasa Indonesia. PD50013503 299
Notes
1. Dikutip oleh William Clayton, melaporkan pembahasan yang diberikan oleh Joseph Smith di Nauvoo, Illinois; dalam L. John Nuttall, “Extracts from William Clayton’s Private Book,” 7–8, Buku harian L. John Nuttall, 1857–1904, Koleksi khusus L. Tom Perry, Universitas Brigham Young, Provo, Utah; salinan disimpan di Perpustakaan Sejarah Gereja; ejaan dan huruf besar sesuai standar; lihat juga Teachings of Presidents of the Church: Joseph Smith (2007), 241, 245.
2. Boyd K. Packer, The Instrument of Your Mind and the Foundation of Your Character (api unggun Church Educational System untuk dewasa muda, 2 Februari 2003), 2.
3. Meghan Daum, “Virtual Love,” The New Yorker, 25 Agustus dan 1 September 1997, 82; atau Meghan Daum, My Misspent Youth (2001), 19.
4. Alexandra Alter, “Is This Man Cheating on His Wife?” Wall Street Journal, 10 Agustus 2007, W8, W1.
6. Dikutip oleh William Clayton; dalam L. John Nuttall, “Extracts from William Clayton’s Private Book,” 8.



