Penatua Ronald A. Rasband, “Teman-Temanmu Tetap Setia di Sampingmu”
Api Unggun CES untuk Dewasa Muda • 7 Maret 2010 • Universitas Brigham Young
Teman-teman muda yang terkasih, adalah kesempatan istimewa dan kehormatan saya dapat berceramah kepada Anda dalam api unggun CES ini. Saya bersyukur berada di sini, di Marriott Center di kampus Universitas Brigham Young, dan berbicara kepada Anda semua yang berkumpul bersama di lokasi-lokasi di seluruh dunia dan di banyak keadaan serta bahasa yang berbeda. Terima kasih atas kedatangan Anda. Anda menghormati Yesus Kristus dengan mengesampingkan urusan-urusan lain dalam kehidupan Anda untuk bergabung bersama-sama saat ini. Saya bersyukur berada di sini bersama istri saya, Melanie, dan beberapa anggota keluarga serta sahabat kami.
Saya berdoa semoga ceramah saya akan dibimbing oleh Roh Kudus, dan semoga Anda dapat merasakan di dalam hati Anda bahwa apa yang akan saya sampaikan malam ini memiliki relevansi dengan apa yang sedang Anda hadapi dan apa yang sedang Anda alami saat ini dalam kehidupan Anda.
Pentingnya Persahatan yang Saleh
Bertahun-tahun yang lalu, pada bulan Maret 1839, Nabi Joseph Smith, dengan sejumlah rekannya, telah secara keliru dipenjarakan selama berbulan-bulan di Penjara Liberty. Banyak penulis tentang Sejarah Gereja telah mengatakan bahwa pengalaman bagi Nabi Joseph ini sesungguhnya merupakan salah satu masa yang paling sulit dan paling kelam di sepanjang kehidupannya. Kata-katanya, “Ya Allah, di manakah Engkau?” (A&P 121:1)—sebagaimana tercatat di bagian 121 dari Ajaran dan Perjanjian berbicara tentang kesepian yang hebat dalam keadaan yang paling suram.
Tuhan tidak menampakkan diri atau mengutus para malaikat; Dia tidak menyerang para penjaga atau membuka pintu sel yang lembab dan kumuh itu. Singkatnya, Dia tidak mengubah keadaan, tetapi Dia memberikan penghiburan dan kepastian kepada Joseph yang tidak dapat diberikan orang lain: “Putra-Ku, damai sejahtera bagi jiwamu; kemalangan dan penderitaanmu akan tinggal sebentar saja;” (A&P 121:7). Seolah-olah Tuhan memeluk Joseph ketika Dia mengatakan, “putra-Ku.” Itu adalah kata-kata yang berharga dan lembut. Kemudian dia menetapkan saat bagi kemalangan Joseph—“tinggal sebentar saja.” Sungguh sebuah pelajaran bagi kita semua untuk mengingatnya. Kemalangan kita akanlah singkat—dalam artian kekal—dan Tuhan akan berada di sana.
Kemudian Tuhan menfirmankan yang berikut, “Teman-temanmu tetap setia di sampingmu dan mereka akan menyambutmu lagi dengan hati yang hangat dan tangan persaudaraan” (A&P 121:9).
Di sinilah Joseph dikurung dalam penjara karena tipu muslihat orang-orang, yang beberapa di antaranya pernah menjadi sahabat karibnya. Namun Tuhan menjadikan hal ini sangat jelas—“teman-temanmu tetap setia di sampingmu.” Betapa menghiburnyalah pernyataan kepada Nabi Joseph itu; betapa itu menghibur bagi kita. Pikirkanlah sejenak, apa artinya bagi Anda untuk mengetahui Anda memiliki seseorang yang berada di samping Anda, seseorang yang dapat Anda percayai sebagai teman Anda di saat-saat yang baik maupun buruk, seseorang yang menghargai serta mendukung Anda bahkan ketika Anda berdua telah berpisah.
Teman kita yang paling berharga adalah Yesus Kristus sendiri. Adakah kepastian yang lebih besar daripada kepastian-Nya “Aku akan berada di sebelah kananmu dan juga di sebelah kirimu, … dan para malaikat-Ku akan berada di sekelilingmu untuk menghibur kamu” (A&P 84:88)? Sering kali “malaikat [yang berada] di sekeliling kita” itu adalah teman-teman kita.
Pesan saya malam ini berfokus pada pentingnya persahabatan yang saleh dalam kehidupan kita masing-masing. Semasa muda saya, seorang bapa bangsa yang diilhami menumpangkan tangannya di atas kepala saya, dan melalui wahyu, membukakan kepada saya suatu pemahaman akan potensi saya—untuk siapa sesungguhnya saya—dan memberi arahan bagi kehidupan saya, sama seperti yang bapa bangsa lakukan bagi kebanyakan dari Anda. Saya diberi tahu bahwa saya tidak akan kekurangan teman dan rekan; bahwa persahabatan mereka akan menjadi berkat istimewa bagi saya baik secara jasmani maupun rohani. Saya dinasihati untuk memilih teman-teman terdekat saya yaitu mereka yang saleh dan memiliki hasrat untuk mematuhi perintah-perintah Allah.
Kalimat tersebut dari berkat bapa bangsa saya dan ayat dari bagian 121 bagaikan selimut yang hangat bagi saya di sepanjang kehidupan saya. Kadang-kadang, terutama sewaktu tinggal jauh dari rumah, kata-kata itu memberi saya kedamaian dan kekuatan teman-teman ada di samping saya, meskipun terpisahkan oleh jarak. Dan pada saat-saat seperti itu saya memetik salah satu pelajaran paling penting, bahwa tidak peduli seberapa jauhnya saya berada, tidak peduli seberapa luas jaraknya, kapan pun teman-teman saya dan saya bertemu lagi, seolah-olah tidak ada yang berubah. Kehidupan kami berlanjut seolah-olah tidak pernah terganggu, dan seolah-olah waktu bergeming.
Mengapa saya menekankan hal itu? Karena di dunia zaman sekarang, banyak sekali orang dengan sukarela menukar persahabatan itu dengan tokoh–tokoh video dan pesan singkat yang cepat. Mereka menghabiskan waktu mereka mengenali sosok-sosok televisi yang bagi mereka hanya wajahnya muncul di layar. Mereka memilih untuk “jalan bareng [hang out]” alih-alih bertekad pada hubungan yang dalam dan bermakna yang dapat dimeteraikan di bait suci untuk kekekalan. Pikiranlah mengenai hal itu. Persahabatan sejati didasarkan pada kasih Allah dan membagikan kasih itu kepada orang lain. Itu merupakan salah satu pesan dari Penjara Liberty.
Dari masa-masa awal saya tumbuh di Wilayah Cottonwood, di Lembah Salt Lake, teman-teman telah merupakan berkat istimewa bagi saya. Teman-teman terdekat saya semasa remaja saya, tetap menjadi teman-teman saya hingga saat ini. Beberapa di antaranya ada bersama kita malam ini. Telah senantiasa demikian adanya; kami senantiasa ada di sana bagi satu sama lain. Dan saya telah bersyukur memiliki teman-teman baru yang telah menjadi kekuatan serta berkat bagi saya.
Ketika saya memikirkan tentang persahabatan, saya memikirkan tentang teladan Presiden Thomas S. Monson. Pikirkanlah ajaran dari Nabi Terkasih kita ini. Dia mengatakan:
“Teman-teman menolong menentukan masa depan Anda. Anda akan cenderung menjadi seperti mereka dan ditemukan di tempat yang mereka pilih untuk mereka tuju. Ingatlah, jalan yang kita ikuti dalam kehidupan ini menuntun ke jalan yang kita ikuti di kehidupan yang datang.
Dalam sebuah survei yang dibuat di lingkungan-lingkungan dan wilayah-wilayah Gereja yang dipilih, kita mempelajari sebuah fakta yang paling penting: Orang yang teman-temannya menikah di bait suci biasanya menikah di bait suci, sementara orang yang teman-temannya tidak menikah di bait suci biasanya tidak menikah di bait suci. Fakta yang sama ini juga terkait dengan pelayanan misionaris. Pengaruh dari teman-teman seseorang tampak menjadi faktor yang sangat dominan—bahkan setara dengan nasihat orang tua, petunjuk di kelas, atau dekat dengan bait suci.
Teman-teman yang Anda pilih juga menolong atau menghambat kesuksesan Anda.”1 Itu sungguh perkataan yang sederhana.
Siapa yang tidak mau memilih Presiden Monson sebagai teman? Dia memberikan mainan kereta apinya di saat Natal; dia memberikan pakaian yang dikenakannya dan sepatu dari kakinya kepada orang-orang yang tidak memilikinya; dia memberikan banyak waktu kepada mereka yang sedemikian sering dilupakan di panti-panti perawatan atau yang meregang nyawa di berbagai rumah sakit; dan dia membagikan sukacitanya atas kehidupan kepada kita semua ketika dia menggoyang-goyangkan telinganya. Apa yang perlu tidak disukai? Ketika sekelompok misionaris diminta untuk mengenali salah satu sifat termulia Presiden Monson, hampir semuanya memilih kasihnya bagi orang-orang. Seseorang bahkan menyarankan dia berharap dapat hidup bertetangga dengan Nabi karena dia mengetahui bahwa mereka kemudian dapat menjadi teman baik.
Saya menemukan nasihat para Pemimpin mengenai persahabatan yang konsisten dengan pengalaman saya sendiri dan terutama sekali menjadi berlaku di zaman sekarang. Penatua Neal A. Maxwell berkata: “Baik Anda muda maupun tua, kita perlu menjadi teman yang baik, namun juga memilih teman-teman kita dengan hati-hati. Dengan memilih Tuhan terlebih dahulu, memilih teman-teman seseorang menjadi lebih mudah dan jauh lebih aman. Pikirkanlah perbedaan antara persahabatan di kota Henokh yang dibandingkan dengan persahabatan di kota Sodom dan Gomora! Warga kota Henokh memilih Yesus dan jalan hidup, dan kemudian menjadi teman-teman yang abadi. Sedemikian banyak hal yang bergantung pada siapa dan apa yang kita cari terlebih dahulu.”2
Persahabatan yang Mementori
Beberapa teman adalah mentor yang bijaksana dan dapat dipercaya. Mereka adalah teman yang istimewa, mereka telah mendahului kita, serta mereka mengetahui jalannya. Dan, mereka juga, “ada di samping” kita. Siapa mentor Joseph Smith? Moroni mendadak muncul di benak. Para murid zaman dahulu Yohanes Pembaptis, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ayah dan ibu Joseph, saudara lelakinya, Alvin—daftarnya mengesankan. Adalah wajar mengatakan dia ditemukan dalam penemanan yang baik.
Pikirkanlah sejenak tentang mereka yang telah mementori Anda masing-masing. Apakah Anda berhasrat untuk mementori orang lain sewaktu kesempatan itu datang di masa datang? Apakah Anda siap membagikan kesaksian Anda tentang Injil dan pemahaman Anda tentang bagaimana menjadi sukses dalam pengejaran kita setiap hari?
Sejarah dan tulisan suci sarat dengan contoh dari para pria dan wanita yang telah melayani sebagai para mentor yang luar biasa. Mungkin yang paling nyata adalah Tuhan kita, Yesus Kristus, sewaktu Dia mendirikan Gereja-Nya di pertengahan zaman. Di awal pelayanan-Nya, Dia memilih dua belas pria yang tampaknya orang biasa yang meninggalkan pekerjaan mereka dan meluangkan tiga tahun untuk menyertai-Nya. Mereka bepergian bersama-Nya, mendengarkan khotbah-khotbah-Nya, menyantap makanan bersama-Nya, menyaksikan mukjizat yang dilakukan-Nya, dan para penerima banyak petunjuk dalam momen-momen pribadi. Sungguh suatu berkat yang tak tertandingi bagi mereka untuk dapat secara pribadi diajar oleh Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Mereka masing-masing secara pribadi diubah melalui hubungan yang istimewa itu.
Contoh lain dalam peranan yang agak tidak lazim adalah Joseph Smith yang menjadi mentor rohani bagi kakak lelakinya, Hyrum. Hyrum, rendah hati dan mudah diajar, berdiri di sisi Joseph. Dia berada di sana di Penjara Liberty dan dia yang pertama roboh di Carthage. Hyrum memilih sebagai mentor dia, nabi Allah. Dia memilih dengan baik.
Di zaman kita, dan dalam pelayanan saya sebagai Pembesar Umum, para anggota Kuorum Dua Belas sedemikian memperhatikan kehidupan kita, dengan murah hati menyampaikan kepada kita pengalaman mereka dan dengan efektif mengajari kita bagaimana memenuhi pemanggilan kudus kita dalam pelayanan ini. Dua momen berharga bagi saya, terlihat di sini sewaktu saya diberkati oleh kasih Penatua Jeffrey R. Holland dan Penatua Neal A. Maxwell yang mendidik. Saya juga ingat komentar yang disampaikan oleh Brigham Young ketika dia berkata tentang Nabi Joseph: “Saya merasa seperti berteriak, haleluya, setiap saat, ketika saya memikirkan bahwa saya pernah mengenal Joseph Smith, sang Nabi.” 3 Saya telah merasakan seperti itu terhadap sejumlah pemimpin di zaman kita.
Dalam setiap hal, pelayanan yang lebih berpengalaman, dapat dipercaya, dan pribadi berfungsi sebagai pembimbing dan penasihat yang efektif bagi orang yang tidak berpengalaman, yang menolong membentuk pemahaman orang itu dan mengajarkan asas-asas yang akan menjadikannya lebih efektif, kuat, lebih bijaksana, dan lebih berharga sebagai hamba Allah.
Berhentilah sejenak sekarang dan pikirkan: Siapa yang telah mementori Anda? Apa yang telah Anda pelajari dari mereka yang mengubah kehidupan? Bagaimana mereka telah mengawasi Anda? Bagaimana Anda dapat menerapkan teladan mereka dan menjadi mentor bagi diri Anda sendiri, adik-adik, teman-teman, dan rekan-rekan—mereka yang mungkin memerlukan dan menginginkan persahabatan seperti itu?
Sebuah Contoh Persahabatan yang Mementori
Izinkan saya memberi Anda sebuah contoh dari kehidupan pribadi. Saya telah diberkati untuk memiliki hubungan teman-mentor terkasih dalam kehidupan saya dengan Penatua Jon M. Huntsman—Tujuh Puluh Area, Filantropis, Dermawan, Pendiri Kelompok Perusahaan Huntsman, dan rekan saya.
Saya bertemu Jon Huntsman tahun 1975, ketika saya berusia 24. Saya adalah Presiden Kuorum Penatua untuk sebuah lingkungan siswa yang telah menikah di Universitas Utah, dan Jon Huntsman adalah penasihat dewan tinggi saya. Kami menjadi teman dan selama tahun-tahun senior saya sewaktu saya menyiapkan diri merampungkan pendidikan saya di Universitas, Brother Huntsman merekrut saya sebagai pemasar di perusahaan plastiknya.
Salah satu tugas pemasaran pertama saya adalah Avon, perusahaan kosmetik raksasa, yang berkantor pusat di New York. Untuk memulai dengan klien yang penting itu, Brother Huntsman secara pribadi menemani saya ke New York City untuk perkenalan awal saya. Bersemangat untuk terjun ke sebuah karier baru, dan berantusias untuk membuat kesan yang baik, saya mengenakan setelan coklat terbaik perguruan tinggi saya, dengan dasi coklat, dan sepatu coklat. Ketika kami bertemu di bandara, saya memperhatikan bahwa Tuan Huntsman melihat saya dengan aneh, tetapi dia tidak berkata apa-apa!
Sewaktu kami tiba di New York City, dia memberi tahu saya kami perlu berhenti sebelum datang ke Avon. Kami langsung pergi ke sebuah toko pakaian pria ternama yang dikenal sebagai Brooks Brothers di kawasan bergengsi Madison Avenue. Dalam perjalanan, saya ingat Jon Hunstman mengatakan kepada saya: “Ron, jika Anda mau menjadi seorang pemasar di perusahaan baru saya, dan jika Anda mau mewakili saya ke Avon, Anda harus belajar cara berpakaian, cara bertingkah laku, dan cara melayani dalam peranan yang baru ini.” Dan kemudian dia menambahkan: “Anda tidak perlu mengenakan setelan coklat dalam lingkungan bisnis di New York City!” Setidaknya, tidak mewakili Jon Huntsman!
Jon mengenal orang-orang di Brooks’ Brothers dan dia melihat sewaktu mereka mengepas saya dengan jas bergaris warna abu-abu gelap yang indah—yang paling menawan yang pernah saya lihat, dan tentu saja yang paling menawan yang pernah saya miliki. Setelah jas itu diambil untuk dibentuk menjadi jas yang sempurna, kami memilih kemeja, dasi, ikat pinggang, dan semua asesori. Kemudian kami pergi ke toko sepatu dimana Jon memperkenalkan kepada saya sepasang sepatu resmi warna hitam pertama saya.
Saya rasa kisah Brother Huntsman di Brooks’ Brothers memberinya kesempatan istimewa, karena setelah kami santap siang, dia kembali bersama saya ke toko dimana pakaian bisnis saya yang baru telah siap, atas bantuan dari Jon M. Hunstman.
Saya ingat rasa syukur saya bagi Jon karena menghindarkan saya dari rasa malu yang tidak perlu karena tampil dalam pakaian kuliah saya. Sewaktu saya mengepak—dan itulah yang sesungguhnya saya lakukan—mengepak pakaian coklat saya ke dalam tas, saya sadar dia telah memastikan saya berpakaian dengan benar! Lalu, menuju ke Avon dimana Jon memperkenalkan saya sebagai pemasar dana dan jasa dari perusahaannya. Jon mengajari saya lebih dari sekadar pentingnya melihat sebagian. Dia memperkenalkan saya pada cara berpikir yang seutuhnya baru, dalam melakukan segala sesuatu, dalam menampilkan diri saya sendiri kepada orang lain. Dia mementori saya. Ini adalah yang pertama dari banyak pelajaran berharga semacam itu yang saya pelajari darinya.
Bertahun-tahun setelahnya ketika melayani sebagai seorang eksekutif dalam perusahaan Brother Hunstman, saya sangat terlibat dalam tugas yang membawa saya berkeliling dunia. Kembali dari sebuah perjalanan bisnis, Brother Hunstman, waktu itu adalah seorang presiden wilayah, menanyakan kepada saya apa yang saya lakukan di Gereja. Saya mengatakan kepadanya saya senang mengajar Kelas Ajaran Injil di Sekolah Minggu. Dia menanyakan kepada saya pengalaman seperti apa yang saya miliki dalam kepemimpinan Gereja. Saya menuturkan kepadanya saya senang melayani dalam beberapa kepresidensian, namun menyenangkannya, kebanyakan dari pelayanan Gereja saya adalah mengajar.
Setelah saya menjelaskan hal ini kepada Brother Hunstman, dia menuturkan kepada saya kejadian serupa dalam kehidupannya ketika dia dipanggil untuk melayani di wilayah siswa, pertama sebagai dewan tinggi, dan kemudian sebagai uskup. Dia mendapati itu ideal bagi jadwalnya yang padat. Sesungguhnya, seperti yang saya sebutkan sebelumnya dalam pesan ini, di situlah saya pertama kali bertemu dengan Jon Hunstman.
Dia mengatakan mengenal seorang brother di Universitas Utah yang melayani sebagai presiden wilayah di salah satu wilayah Universitas bagi siswa yang menikah yang dapat mengisi posisi pelayanan Gereja bersama para pemimpin dari seluruh lembah Salt Lake. Brother Hunstman bertanya jika dia boleh menelepon presiden wilayah ini dan membiarkannya mengetahui nama saya. Saya setuju dan sungguh-sungguh tidak memikirkan hal itu lagi, karena mengetahui betapa sibuknya dia.
Beberapa saat kemudian, saya menerima telepon dari Robert Fotheringham, presiden Wilayah Pertama Universitas Utah. Dia menanyakan apakah dia dan penasihatnya boleh datang ke rumah kami serta mengunjungi Sister Rasband dan saya. Beberapa hari kemudian, ketiga presiden wilayah itu duduk di sofa di ruang tamu kami, menanyakan tentang keadaan kami dan merasakan kesaksian kami. Setelah sebuah wawancara yang menyelidik dengan kami masing-masing, ketiga pria itu saling berpandangan dengan sengaja, dan presiden wilayah itu lalu memberikan sebuah pemanggilan kepada saya untuk melayani sebagai anggota Dewan Tinggi Wilayah Pertama Universitas. Mereka mengatakan mereka telah berbicara dengan presiden wilayah saya, dan bahwa dia merasa tidak keberatan dengan pemanggilan itu—jika mereka ingin pindah.
Saya menerima panggilan itu dan memulai pelayanan saya di Wilayah Pertama Universitas. Sebagai bagian dari tugas saya, Sister Rasband dan keluarga kami yang masih muda menikmati kesempatan luar biasa untuk mengembangkan hubungan yang berpusat pada Kristus dengan para siswa muda yang telah menikah. Setelah melayani selama kurun waktu tertentu di dewan tinggi, saya dipanggil sebagai uskup di Lingkungan Kesebelas di wilayah tersebut.
Saya kemudian mendapati bahwa Brother Huntsman menelepon Presiden Fothehringham dan sekadar menyarankan bahwa dia mengenal seseorang yang mungkin berhasil dengan baik di lingkungan kampus universitas. Karenanya, teman dan mentor terkasih saya, Jon Huntsman, sekadar dengan menyebutkan nama saya untuk kemungkinan wawancara, menyediakan jenis pengalaman lainnya bagi saya dalam pelayanan Gereja.
Saya memikirkan kaum muda nan rupawan yang saya temui di Lingkungan Universitas itu, dalam keseluruhan lingkungan tersebut, dan kesempatan yang saya miliki untuk membantu beberapa di antara mereka menemukan pekerjaan sendiri, salah satunya berada di sini bersama kita malam ini. Yang terpenting, saya memiliki kesempatan untuk membagikan kesaksian mereka akan Tuhan dan Juruselamat Yesus Kristus, serta membangun persahabatan yang saleh, dalam suatu cara, serupa dengan yang telah Brother Huntsman lakukan bagi saya.
Kemudian ketika Sister Rasband dan saya dipanggil untuk mengetuai misi New York Utara, New York, kami menikmati kesempatan istimewa bekerja dengan banyak misionaris yang setia. Kami dapat menolong mereka tidak saja untuk menjadi lebih efektif dalam pemanggilan mereka saat ini sebagai hamba Tuhan Yesus Kristus, namun hubungan kami telah berlanjut hingga saat ini sewaktu saya membantu mereka dengan surat-surat rekomendasi, nasihat, dorongan semangat dan segenap kasih kami. Saya harus mengakui, saya belum … membelikan siapa pun jas dan sepatu baru!
Sebagaimana yang beberapa contoh ini perlihatkan, saya orang yang sangat percaya dalam hubungan mentor-persahabatan.
Menerima Nasihat dari Mentor
Penatua Neal A. Maxwell yang melayani sebagai mentor bagi banyak orang—termasuk saya—mengatakan: “Kita masing-masing, dari waktu ke waktu, dimentori dan berkesempatan menjadi mentor. Dalam pengalaman saya, pernyataan yang benar dan baik yang diucapkan dalam hubungan yang meneguhkan seperti itu dikenang sepanjang masa! Anda mungkin dapat mengingat tiga atau empat contoh tentang bagaimana orang telah mengatakan sesuatu—mungkin sebuah kalimat atau klausul—dan Anda masih mengingatnya. Itu masih menggugah dan menyentuh hati Anda.”4
Saya memikirkan tentang seorang ibu muda yang selalu mengatakan kepada anak-anaknya di saat-saat sulit, “Kita dapat melakukan ini.” Mereka memercayainya. Atau misionaris yang mengatakan kepada rekannya yang baru keluar dari PPM, “Harapkan sebuah mukjizat setiap hari.” Dia melakukannya dan iman itu menentukan jalan bagi misi baru Elder tersebut. Atau Presiden Monson, yang dalam mengakhiri pesannya memperkenalkan seorang pemuda yang duduk di barisan ke-8 dari belakang dari kaum muda yang berjumlah 5.000 yang berkumpul di Jambore Kepramukaan East Coast. Pemuda itu adalah putra saya, berusia 12, yang telah berjumpa dengannya dalam beberapa kesempatan. Percayalah kepada saya; putra saya tidak akan pernah melupakan bahwa Presiden Monson memanggil namanya dan mengatakan, “Chris Rasband, ke marilah dan ucapkan salam.” Dan, teladan manakah yang lebih besar daripada Juruselamat, yang melihat sekelompok nelayan yang rendah hati dan mengucapkan kata-kata sederhana berikut: “Ikutlah Aku” (Matius 4:19).
Pada masa dan zaman ini, yang diuraikan oleh Rasul Paulus, sebagai “masa yang sukar,” (2 Timotius 3:1) dicatat oleh Nabi Joseph Smith sebagai “zaman malapetaka,” (A&P 136:35), diuraikan oleh Nefi dalam Kitab Mormon sebagai zaman ketika musuh “akan mengamuk di dalam hati anak-anak manusia,” (2 Nefi 28:20), saya menyarankan kepada Anda semua, teman-teman muda saya, pentingnya mengembangkan hubungan yang baik dan luar biasa, dengan para mentor yang bijak dan dapat dipercaya.
Kadang-kadang, kita enggan menerima nasihat; kita menolak seseorang menawarkan nasihat. Kita menyimpulkan bahwa kita sudah mengetahui apa yang perlu diketahui, kesombongan menemukan jalannya. Ketika itu terjadi, kita kehilangan hikmat, informasi, atau pengalaman, yang sebaliknya dapat memberkati kehidupan kita. Bayangkan perbedaan yang mungkin terjadi dalam hubungan saya dengan Brother Huntsman, atau dalam karier saya, seandainya saya terlalu sombong untuk menerima tawaran tulusnya bagi sebuah jas baru.
Ini sering menjadi masalah dalam hubungan masa muda kita dengan orang tua kita, yang kadang-kadang kita anggap sebagai kuno, kurang informasi, atau sekadar “tidak keren!” Karenanya kadang-kadang adalah mudah untuk menolak ajaran-ajaran mereka sebagai tidak relevan dalam kehidupan kita. Pernyataan yang menjadi ciri Mark Twain dapatlah instruktif bagi kita: “Ketika saya berusia 14, ayah saya sangat tidak peduli sehingga saya tidak senang berada dekat orang tua itu. Tetapi ketika saya berusia 21, saya kagum terhadap betapa orang tua itu telah belajar banyak dalam waktu tujuh tahun.” Meskipun kita tidak mengetahui siapa yang menulis kutipan ini, pesan ini mengandung pesan bagi kita masing-masing. Ayah dan ibu, kakek dan nenek memiliki banyak hal yang akan ditawarkan. Janganlah mengurangi penghargaan terhadap apa yang telah pengalaman mereka ajarkan serta kasih yang mereka miliki bagi Anda. Mereka barangkali adalah mentor terakhir, mentor duniawi Anda. Sister Radband dan saya sekarang menghargai kesempatan yang kami miliki untuk menjadi kakek-nenek. Betapa menyenangkannya saat cucu-cucu kami menanyakan kepada kami pertanyaan atau mencari arahan akan beberapa hal penting dalam kehidupan mereka.
Yang lain yang mungkin memiliki nasihat berharga, namun kadang-kadang cenderung kita abaikan, adalah mertua kita. Kita akan berhasil dengan baik untuk menghormati opini mereka dan memberi timbang rasa terhadap nasihat mereka. Banyak dari Anda belum memiliki mertua, namun saya yakin bahwa Anda akan memilikinya kelak! Luangkan waktu untuk belajar dari mereka dan mintalah opini mereka. Melakukan hal itu sesungguhnya akan menambah hikmat Anda sendiri.
Sekarang bagi Anda masing-masing yang mendengar suara saya, dan mereka yang mau membaca pesan ini kelak, ada banyak mentor potensial yang tersedia bagi Anda. Izinkan saya untuk menyarankan beberapa. Uskup, presiden wilayah, presiden misi, pemimpin kuorum, dosen, guru seminari dan institut, teman-teman dan rekan-rekan yang dapat dipercaya, para sister Lembaga Pertolongan, dan lainnya. Saya telah menerima manfaat dari sedemikian banyak contoh serta ajaran mereka, dan semoga Anda pun demikian! Dapatkan manfaat penuh dari gagasan mereka dan biarkan pengaruh mereka mengilhami dan memberkati kehidupan Anda.
Jadilah Sahabat yang Baik
Akanlah sulit untuk menekankan pentingnya menjadi teman yang baik. Menjadi teman seperti itu tidaklah selalu mudah. Ralph Waldo Emerson memberi nasihat luar biasa ketika dia mengamati: “Satu-satunya cara untuk memiliki seorang teman adalah menjadi teman.”5 Dan pepatah kuno: “Burung akan berkumpul dengan kawanannya” tetaplah benar. Untuk memiliki teman-teman yang menjalankan standar-standar tinggi, yang membela kebajikan dan kebaikan, yang setia dan teguh pada perjanjian-perjanjian mereka, Anda pun harus menjadi orang yang demikian bagi mereka.
Di dunia ini dimana ada begitu banyak kekotoran, kebebasan, dan tindakan tak bermoral, memiliki teman-teman yang baik akan memiliki kekuatan besar dalam memastikan kemampuan kita untuk menahan kejahatan di zaman ini. Bagi mereka yang masih lajang, memiliki teman-teman yang baik akan menempatkan Anda pada posisi untuk menarik rekan kekal yang Anda harap akan Anda temukan. Demikianlah keadaannya dengan Sister Rasband. Kami pada awalnya berteman baik. Sebuah permintaan untuk menikah datang kemudian.
Yesus Kristus adalah Teladan Persahabatan Kita
Sewaktu kita memikirkan tentang persahabatan, pikirkanlah tentang apa yang Nabi Joseph Smith lihat dalam penglihatan dan catat mengenai para rasul yang berkhotbah di Inggris: “Saya melihat Dua Belas Rasul Anak Domba yang sekarang ada di bumi, yang memegang kunci-kunci pelayanan terakhir di negeri-negeri asing, berdiri bersama-sama dalam lingkaran, sangat lelah, dengan pakaian mereka compang-camping dan kaki melepuh, dengan mata mereka tertunduk ke bawah, dan Yesus berdiri di tengah-tengah mereka, dan mereka tidak melihat-Nya. Juruselamat menatap mereka serta menangis.”6
Meskipun mereka tidak melihat-Nya, Yesus “berdiri” dekat mereka. Peduli terhadap masalah mereka dan bersimpati terhadap kesulitan mereka, itulah dukungan-Nya yang penuh kasih yang menyokong mereka di ladang misi mereka dan mendatangkan ratusan dan ribuan orang bertobat ke dalam Gereja. Itulah Juruselamat yang mengatakan kepada para murid-Nya, “Kamu adalah teman-teman-Ku” (A&P 84:63). Itulah Juruselamat yang mengajarkan: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 5:13). Adalah Juruselamat yang mengatakan, “Marilah kepada-Ku” (Matius 11:28). Dalam persahabatan, sebagaimana setiap asas lainnya dalam Injil, Yesus Kristus adalah Teladan kita.
Teman-teman muda yang terkasih, teman-teman baru saya, yang berkumpul di seluruh dunia, saya memberikan kesaksian saya kepada Anda kali ini bahwa inilah Injil Yesus Kristus. Saya bersaksi bahwa unsur paling penting dari pengalaman Anda dalam Injil adalah teman-teman Anda dan para mentor yang Anda ikuti sebagaimana yang telah dijanjikan kepada saya dalam Berkat Bapa Bangsa saya di usia 19.
Saya menutup malam ini di tempat saya memulai, dengan ayat tulisan suci yang difirmankan oleh Tuhan kepada Nabi Joseph ketika dia berada di Penjara Liberty, dan menyarankan ini sama diucapkannya kepada Anda dan saya, dalam keadaan apa pun kita saat ini. “Teman-temanmu tetap setia di sampingmu dan mereka akan menyambutmu lagi dengan hati yang hangat dan tangan persaudaraan”(A&P 121:9).
Saya meneguhkan kembali janji yang diberikan oleh Tuhan di masa awal pemulihan Gereja ini. Saya berdoa semoga kita masing-masing memiliki kesempatan istimewa menikmati persahabatan yang saleh dan hubungan yang mementori sewaktu kita tumbuh bersama dalam Injil Yesus Kristus.
Gagasan dan kata-kata ini saya tinggalkan kepada Anda malam ini dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sahabat kita, amin.
© 2010 oleh Intellectual Reserve, Inc. Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Persetujuan bahasa Inggris: 10/09. Persetujuan penerjemahan: 10/09. Terjemahan dari Thy Friends Do Stand by Thee Bahasa Indonesia. PD50020993 299
^ Back to top