Skip to Content Skip to Navigation

Jalan Kehidupan

Uskup H. David Burton
Uskup Ketua


“Jalan Kehidupan” 

Api Unggun CES untuk Dewasa Muda • 2 Mei 2010 • Universitas Brigham Young–Hawaii

Aloha, brother dan sister! Sister Burton dan saya senang meluangkan beberapa saat bersama Anda di hari Sabat yang indah ini, di sini di kampus Universitas Brigham Young–Hawaii bersama para dewasa muda dari banyak bangsa. Adalah menarik melihat dan mengalami banyaknya budaya yang terwakili di kampus ini dan bahkan di kelompok hadirin ini. Kami berharap kami dapat secara pribadi melihat banyak kelompok hadirin lainnya di pusat-pusat pasak dan institut-institut agama di seluruh dunia yang telah berkumpul bersama untuk mengambil bagian dalam siaran api unggun CES ini.

Saya menyukai bunyi dan arti dari kata aloha! Anda mungkin tahu bahwa aloha dalam bahasa Hawaii berarti keragaman hal, hal-hal seperti kasih sayang, kasih, kedamaian, rasa iba, simpati, rasa kasihan, belas kasihan, kebaikan hati, atau kasih karunia. Selama 150 tahun terakhir itu juga telah digunakan dalam konteks yang sama seperti kata dalam bahasa Inggris hello dan good-bye. Nuansa ini menjadikan hal itu suatu salam lazim yang manis dan suatu ungkapan mendalam untuk perpisahan.

Kita Hidup dalam Zaman dengan Nilai-Nilai yang Bertentangan

Konsep mengenai aloha begitu penting di Hawaii sehingga “Semangat Aloha” didefinisikan dan termuat dalam peraturan-peraturan negara bagian Hawaii. Aloha berarti memperlihatkan kehangatan dan kasih sayang tanpa kewajiban untuk imbalannya. Itu artinya mengakui pentingnya setiap orang bagi eksistensi kolektif masyarakat. Itu juga berarti “mendengar apa yang tidak diucapkan, melihat apa yang tidak terlihat dan mengetahui apa yang tak dapat diketahui.”1 Semangat Aloha mencakup asas-asas Injil yang indah—asas iman, asas yang berkaitan dengan “jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Matius 7:1). Itu menekankan pentingnya individu dan rasa iba. Bukankah akan menjadi sebuah dunia yang amat menyenangkan jika kita semua merangkul sepenuhnya semangat aloha?

Baru-baru ini Jenderal David H. Petraeus berbicara di Universitas Brigham Young–Provo. Dia memperlihatkan selera humornya yang tinggi ketika dia memulai pesannya dengan mendaftar 10 alasan mengapa lulusan Universitas Brigham Young menghasilkan tentara-tentara yang baik. Beberapa alasan yang dia sertakan adalah: “Tidaklah menjadi masalah jika mereka tidak mengetahui apa pangkat seseorang, orang-orang ini merujuk mereka sebagai Brother atau Sister ini-dan-itu.” “Mereka tidak pernah absen tanpa cuti. Mereka hanya menyebutnya kurang aktif.” “Mereka akan merengkuh objek apa pun dengan cepat jika Anda memberi tahu mereka bahwa hidangan akan disajikan.” “Mereka memiliki gagasan inovatif untuk menangani para pengacau—seperti menugasi pengajar ke rumah kepada mereka.” Yang terakhir, dan barangkali yang paling penting: “Mereka adalah pengemudi yang paling dapat diandalkan di dunia.”2 Ada semacam terapeutik mengenai tersenyum terhadap kelemahan seseorang.

Adalah suatu kesempatan istimewa yang luar biasa menjadi putra dan putri Bapa Surgawi yang hidup dan memiliki kesempatan yang diberikan kepada kita untuk berkomunikasi dengan-Nya dan dengan demikian mengundang Roh-Nya ke dalam pertemuan serta dalam kehidupan pribadi kita. Saya yakin kita semua mengenali bahwa ada suatu perbedaan besar antara mengucapkan doa dan berdoa. Santo Agustinus pernah menasihati: “Berdoalah seakan-akan segalanya bergantung kepada Allah. Bekerjalah seakan-akan segalanya bergantung kepada Anda.”3 Peribahasa kuno yang sangat saya sukai adalah “Banyak berlutut akan tetap menjaga Anda dalam kedudukan yang baik.” Saya menganggapnya tidak masuk akal bahwa beberapa hari yang lalu seorang hakim federal di Amerika Serikat memutuskan bahwa mengajak orang untuk secara sukarela memperingati Hari Doa Nasional sesungguhnya inkonstitusional.

Di banyak bagian dunia, termasuk Amerika Serikat, berdoa dalam pertemuan publik dan memperlihatkan jenis simbol keagamaan apa pun di sebuah tempat umum dianggap inkonstitusional atau menentang hukum. Memerhatikan hal ini, saya menemukan fakta yang kurang diketahui ini sangat menarik: Di Washington, D.C., tidak akan pernah ada bangunan apa pun yang lebih tinggi daripada Monumen Washington. Puncak aluminium monumen tersebut adalah 555 kaki 5.125 inci di atas tanah. Terukir di atas monumen itu, dalam lapisan aluminium di mana sedikit orang dapat melihatnya, terdapat kata-kata Latin Laus Deo. Laus Deo! Dua kata yang tampak tak berarti dan tak diperhatikan, ditempatkan di puncak teratas menghadap ibu kota dari sebuah bangsa yang penting. Apa arti dua kata Latin, yang terdiri dari empat suku kata dan hanya tujuh huruf ini? Secara sederhana, itu artinya “terpujilah Allah.” Beberapa rujukan lainnya kepada ketuhanan dan kepada Bapa di Surga kita menghiasi bangunan yang menakjubkan ini.

Terpujilah Allah. Laus Deo! Sewaktu kita mengungkapkan pujian individu dan kolektif kita kepada Bapa di Surga yang mengasihi, semoga kita mengingat semangat aloha yang sejati sewaktu kita memohon kepada-Nya untuk kebijaksanaan dan penilaian serta sewaktu kita mengungkapkan kepada-Nya penghargaan kita untuk kebaikan-Nya dan belas kasihan-Nya yang Dia perlihatkan sebagai Bapa di Surga yang bijak dan mengasihi. Presiden Thomas S. Monson sering kali mengingatkan kita bahwa “ketika kita ingat bahwa masing-masing dari kita secara harfiah adalah putra atau putri roh Allah, kita tidak akan menemukannya sulit untuk menghampiri-Nya dalam doa. Dia mengenal kita; Dia mengasihi kita; Dia menginginkan apa yang terbaik bagi kita.”4

Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat, pernah mengatakan, “Ketika saya siap untuk berbicara kepada orang, saya meluangkan dua pertiga dari waktu tersebut memikirkan apa yang ingin mereka dengar dan sepertiganya memikirkan tentang apa yang ingin saya katakan.”5 Dengan menggunakan metode persiapan Lincoln, saya telah berdoa dan bergumul mengenai apa yang mungkin ingin Anda dengar dan apa yang perlu Anda dengar serta apa yang hendaknya saya ikhtiarkan untuk dibagikan kepada Anda. Saya telah berusaha menempatkan diri saya sebagai Anda dan membayangkan seperti apa kiranya berjalan di jalan yang Anda lalui di tahun 2010. Saya kira banyak dari Anda dapat secara tepat bertanya, “Apa yang diketahui pria yang 50 tahun lebih tua dari kita ini mengenai masalah-masalah yang dihadapi kaum muda dewasa ini?” Itu adalah pertanyaan yang penting dan sangat pantas! Sesungguhnya jawabannya mungkin “Tidak banyak berkenaan dengan kegiatan sehari-hari dan godaan serta semua yang Anda alami.” Meskipun demikian, ada aspek-aspek penting kehidupan kita yang konstan, selalu konstan, dan tidak akan pernah berubah. Barangkali pengalaman yang saya peroleh dalam kehidupan saya akan membuat pengamatan saya lebih dapat dipercaya. Ketika saya berkonsultasi dengan cucu-cucu saya yang berusia perguruan tinggi mengenai apa yang mereka pikir hendaknya saya katakan, tanggapan mereka adalah, “Kakek, yang sederhana saja.” “Kakek, katakan apa adanya.” Dan barangkali yang terpenting adalah, “Kakek, tolong yang singkat saja.” Saya akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi harapan mereka yang sangat, sangat tinggi.

Bolehkah saya membagikan beberapa persepsi yang mungkin jelas bagi kita semua sebenarnya? Kita hidup di zaman ketika ada kekacauan merebak di antara bangsa dan budaya dunia; mereka dalam konflik. Arah masa depan umat manusia tidaklah jelas. Terlalu sering, rasa takut merasuki jiwa kaum muda. Banyak yang kehilangan iman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan bagi banyak orang lainnya harapan hanyalah suatu impian kosong. Upaya Setan yang tak ada akhirnya bagi hati dan jiwa manusia berlanjut tak mereda. Yang disebut generasi “X” tampaknya sedikit tidak pasti dan barangkali sedikit bingung karena sinyal-sinyal kacau yang disampaikan masyarakat secara umum.

Kita Mengetahui Jalan yang Harus Kita Tempuh

Setelah saya memikirkan apa yang dapat saya katakan dan menanyakan kepada Roh, Roh berbisik, bahkan berseru, bahwa kaum muda Orang Suci Zaman Akhir perlu diyakinkan kembali bahwa mereka secara harfiah adalah putra dan putri dari Bapa di Surga yang mengasihi, peduli, dan baik hati. Mereka perlu diyakinkan kembali bahwa iman kepada Tuhan Yesus Kristus adalah penting. Mereka perlu mengetahui bahwa secara mutlak tidak ada alasan bagi rasa takut atau keputusasaan jika kita mengikuti firman Tuhan. Mereka perlu mengetahui bahwa harapan dapat menjadi kenyataan, kesempatan berlimpah, dan kepatuhan adalah prasyarat bagi kebahagiaan—bahwa ada tujuan yang besar dan kekal dalam kehidupan ini dan Setan beserta para pengikutnya akan dibungkam. Injil Yesus Kristus adalah benar. Para nabi berada di negeri ini.

Saya adalah seorang yang percaya bahwa gelas memang setengah penuh alih-alih setengah kosong. Sahabat-sahabat muda, ini adalah suatu zaman yang luar biasa untuk hidup. Kita memiliki sebuah misi besar untuk dilaksanakan dan tujuan akhir yang ilahi. Semuanya ini dan banyak lagi yang kita ketahui karena kita telah diberkati untuk memahami rencana Bapa kita di Surga, rencana yang Dia rancang secara khusus untuk kebahagiaan kita sewaktu kita sepenuhnya membenamkan diri kita dalam Injil Yesus Kristus.

Charles Dodgson, seorang penulis, ahli matematika, dan ahli logika Inggris abad 19, yang menulis dengan nama samaran Lewis Carroll, menulis Alice’s Adventures in Wonderland dan lanjutannya, Through the Looking Glass. Dia juga dikenal karena banyak kutipannya yang renyah, salah satunya adalah “Jika Anda tidak mengetahui ke mana Anda akan pergi, jalan apa pun akan menuntun Anda ke sana.” 6 Banyak dari gagasan yang sama diungkapkan dalam puisi Robert Frost yang mengundang pemikiran, “Jalan yang Tidak Dilewati”:

Dua jalan terbelah di pepohonan nan menguning,
Dan menyesal aku tak dapat melalui keduanya
Dan menjadi satu-satunya musafir, lama aku berdiri
Dan menatap sejauh yang dapat aku lakukan
Ke mana jalan pun berkelok dalam belukar;

Lalu memilih yang lainnya, yang sama indahnya,
Dan barangkali terasa lebih menjanjikan,
Karena rumputnya nan rimbun dan mengundang rasa;
Meski terlihat dalam melaluinya
Keduanya telah dilalui hampir sama seringnya,

Dan pagi itu keduanya terhampar setara
Dengan dedaunan yang tak terinjak kaki.
Ah, kusimpan yang pertama untuk kemudian hari!
Namun sadar jalan menuntun pada jalan lagi,
Aku ragu jika aku akan datang lagi.

Akan kuceritakan ini dengan desahan lirih
Pernah suatu hari bertahun-tahun silam:
Dua jalan terbelah di pepohonan nan menguning, dan aku—
Aku ambil jalan yang tampak jarang dilalui,
Dan itu telah menciptakan segala perbedaan.7

Karena kita telah diberkati dengan pengetahuan mengenai rencana Allah bagi kebahagiaan kekal anak-anak-Nya, kita Orang Suci Zaman Akhir mengetahui tujuan akhir kita, atau rute mana yang diambil supaya tiba dengan selamat. Kita mengetahui ke mana kita akan pergi karena kita mengetahui dari mana kita datang dan ke mana kita akan pergi.

Rencana Allah Adalah Rencana Kebahagiaan

Ulasan singkat tentang rencana Bapa Surgawi mungkin bermanfaat. Kita semua adalah anak Allah, dan kita ada sebelum kita datang ke bumi ini. Rencana dirancang untuk mendatangkan kebakaan dan kehidupan kekal. Hanya ada satu rencana kekal, dan ketika Bapa mengungkapkan rencana itu, kita semua bersorak karena sukacita. Itu adalah rencana yang disajikan Allah Sendiri. Tidak ada rencana jamak, seperti yang kita kadang kala dituntun untuk percaya. Unsur dari rencana itu mencakup jenis kelamin. Sesungguhnya, jenis kelamin adalah bagian yang penting dari rencana tersebut. Rencana itu ditetapkan sebelum dunia ini diciptakan serta menyediakan sebuah jalan bagi semua orang untuk, sesuai potensinya, dipermuliakan. Keluarga ditetapkan oleh Allah dan paling penting bagi rencana itu. Bapa kita di Surga berbicara kepada anak-anak-Nya melalui para nabi yang hidup. Bait suci, bersama dengan tata cara-tata cara penyelamatannya, menghubungkan kita dengan kekekalan. Rencana itu membutuhkan seseorang untuk menunjukkan jalannya kepada kita dan menjadi pengacara kita dengan Bapa. Juruselamat, Yesus Kristus, menanggapi dengan saksama dan menawarkan Diri-Nya agar kita boleh memiliki hak pilihan untuk bertindak bagi diri kita sendiri. Lusifer (atau Setan) memberontak dan mengupayakan pemaksaan alih-alih hak pilihan bagi anak-anak Allah. Dalam sorakan kita karena sukacita, kita bersukacita ketika Yesus Kristus dipilih dan kita diberi kesempatan untuk datang ke bumi, memperoleh tubuh, mendapatkan pengalaman, dan menguji diri kita.

Sewaktu kita berjalan di jalan kehidupan, kita berharap mengikuti peraturan dan tanda jalan yang ada di sana. Nabi Kitab Mormon Alma menjelaskan, “Oleh karena itu Allah memberi kepada mereka perintah-perintah, setelah menyingkapkan kepada mereka rencana penebusan, agar mereka hendaknya tidak melakukan yang jahat, yang hukumannya adalah kematian kedua, yang adalah kematian abadi sehubungan dengan apa yang berkaitan dengan kesalehan; karena kepada yang demikian rencana penebusan tidak dapat memiliki kuasa, karena pekerjaan keadilan tidak dapat dihancurkan, menurut kebaikan mahatinggi dari Allah” (Alma 12:32).

Jika kita patuh dan setia dalam berpegang pada pegangan besi dan menempuh jalan yang ditetapkan, kita dapat mengharapkan kesempatan yang besar dan mulia untuk sekali lagi kembali dan hidup secara kekal bersama Bapa kita di Surga, menikmati semua berkat yang telah Dia identifikasikan bagi mereka yang lulus dari keberadaan fana ini dengan keunggulan. Dengan berpegang teguh pada standar-standar Gereja, Anda akan memiliki kebahagiaan yang lebih besar dalam kehidupan Anda dan menjadi teladan yang positif bagi mereka di sekitar Anda. Saya mengutip dari pernyataan keluarga, “Kebahagiaan dalam kehidupan keluarga paling mungkin dicapai bila didasarkan pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus Kristus. Pernikahan dan keluarga yang berhasil ditegakkan dan dipertahankan dengan asas-asas iman, doa, pertobatan, pengampunan, rasa hormat, kasih, kasih sayang, kerja, dan kegiatan rekreasi yang sehat.”8 Menariknya, kebenaran sederhana ini, yang dilandaskan pada rencana kebahagiaan Bapa Surgawi kita, secara luas disalahpahami oleh banyak orang yang bukan dari keyakinan kita.

Kita semua perlu waktu untuk berpikir, waktu untuk menelaah, waktu untuk bermeditasi, dan waktu untuk merenungkan rencana yang menakjubkan itu. Kita perlu memikirkan tentang kebahagiaan yang Bapa kita di Surga telah simpan bagi kita sebagaimana diuraikan dalam rencana-Nya bagi anak-anak-Nya. Ingatlah, rencana Tuhan adalah sebuah rencana kebahagiaan. Saya menyukai cara Presiden Gordon B. Hinckley menyatakannya, “Kehidupan kita akan menjadi lebih mudah, kecemasan akan berkurang, tantangan akan sedikit berkurang jika kita mencari roh kebahagiaan.”9

“Pada tahun 2007 dua organisasi media Amerika Serikat yang besar melakukan survei di antara kaum muda usia 12 sampai 24 tahun untuk mencari tahu apa yang membuat mereka bahagia.

“Studi tersebut menyajikan temuan-temuan ini, di antaranya:

  • “• Kaum muda ‘bergantung pada orang tua sebagai sumber vital keamanan dan kebahagiaan.’

  • “• ‘Kaum muda akan semakin mencari kebahagiaan melalui kerohanian dan iman.’

  • “• ‘Kebangkitan kembali minat di antara kaum muda terhadap struktur keluarga tradisional akan memperoleh momentum.’

“Salah satu pernyataan rangkuman dari studi tersebut berbunyi, ‘Saat penelitian awal kami menemukan bahwa kaum muda dewasa ini lebih tradisional daripada generasi sebelumnya, kami terkejut menemukan sampai sejauh mana kaum muda mengantisipasi pernikahan dan keluarga mereka sendiri dengan sukacita yang besar.’”10

Kita Dapat Menempuh Jalan Kehidupan dengan Berhasil

Saya senang bepergian, terutama ketika ada cukup waktu untuk bepergian dengan mobil melintas negeri dengan jalan darat. Barangkali contoh perjalanan akan membantu kita memahami dengan lebih baik jalan kehidupan yang kita semua tempuh.

Jika, sebagai contohnya, Anda bertekad bahwa Anda ingin menempuh perjalanan dari Vermont di pesisir timur atau Samudra Atlantik di Amerika Serikat ke San Francisco di pesisir barat atau Samudra Pasifik dan secara khusus menggunakan interstate freeway system [jalan bebas hambatan antar negarabagian], peta MapQuest memberi tahu saya bahwa rute terdekat akan mencapai 3.073 mil dan memerlukan hampir 48 jam berkendara dengan mobil. Di sepanjang jalan ada ratusan kesempatan untuk mengubah rute, setiap kali menambah beberapa mil lagi untuk perjalanan tersebut. Untuk menolong Anda tiba dengan selamat di tujuan akhir Anda, ada tanda jalan, peringatan, batas kecepatan, marka, dan bahkan barangkali ada global positioning system [alat penunjuk posisi] di dalam mobil Anda. Setiap mil perjalanan tercatat pada odometer mobil, dan kemajuan diukur mil demi mil dan jam demi jam. Secara berkala, sewaktu kita bepergian, adalah perlu untuk beristirahat, mengisi kembali tangki bensin, dan mengupayakan pemeliharaan bagi tubuh dan pikiran.

Dalam perjalanan kehidupan dari kelahiran hingga kematian, kita juga memiliki banyak pilihan untuk diambil. Kemajuan kita diukur sebagian dengan usia dan pencapaian. Kita memiliki tulisan suci yang memberi kita arahan, peringatan, dan dorongan, serta sebuah peta sebagai pola kehidupan kita setelahnya. Presiden James E. Faust sering kali merujuk pada Kitab Mormon sebagai “naskah bagi masa kelegaan [kita].”11 Saya pikir dia menyarankan bahwa Kitab Mormon mencakup buku pedoman untuk membangun sebuah perjalanan kehidupan yang berhasil. Sama seperti kita perlu memiliki rasa percaya akan validitas informasi yang kita peroleh dari tanda-tanda jalan di sepanjang jalan raya antar negarabagian tersebut, kita juga perlu memiliki kesaksian pribadi tentang tulisan suci.

Nefi mengingatkan kita mengapa tulisan suci penting bagi perjalanan kehidupan ketika dia menulis bagi para pembaca di zaman kita:

“Dan aku tahu bahwa Tuhan Allah akan mempersucikan doa-doaku demi keuntungan bangsaku. Dan perkataan yang telah aku tuliskan dalam kelemahan akan dijadikan kuat bagi mereka; karena itu membujuk mereka untuk melakukan yang baik; itu menyingkapkan bagi mereka tentang leluhur mereka; dan itu berbicara tentang Yesus, dan membujuk mereka untuk percaya kepada-Nya, dan untuk bertahan sampai akhir, yang adalah kehidupan yang kekal.

“Dan itu berbicara dengan keras menentang dosa, menurut kegamblangan dari kebenaran, karenanya, tak seorang pun akan marah pada perkataan yang telah aku tuliskan kecuali dia akan berasal dari roh iblis” (2 Nefi 33:4–5).

Ini ada di antara kata-kata terakhir yang Nefi tuliskan dalam bagian dari Kitab Mormon ini. Dalam dua ayat ini Nefi menguraikan setidaknya lima alasan bagi kita untuk menelaah tulisan suci, sama seperti kita akan mempelajari peta jalan dalam persiapan untuk sebuah perjalanan panjang melintas negeri.

Dengan cara serupa, nabi terakhir yang berkontribusi pada Kitab Mormon menjelaskan bagaimana kita dapat memperoleh kesaksian yang demikian diperlukan mengenai kebenaran Kitab Mormon ketika dia mengingatkan kita, “Dan ketika kamu akan menerima hal-hal ini, aku hendak mendesakmu agar kamu akan bertanya kepada Allah, Bapa yang Kekal, dalam nama Kristus, apakah hal-hal ini tidaklah benar; dan jika kamu akan bertanya dengan hati yang tulus, dengan maksud yang sungguh-sungguh, memiliki iman kepada Kristus, Dia akan menyatakan kebenaran darinya kepadamu, melalui kuasa Roh Kudus” (Moroni 10:4).

Proses yang diuraikan Moroni mencakup pertama, pelajarilah; kedua, ajukan pertanyaan yang benar. Dalam hal ini, pertanyaannya bukanlah apakah itu benar melainkan apakah itu tidaklah benar. Ketiga, nyatakan hasrat yang sungguh-sungguh untuk mengetahui kebenaran. Keempat, milikilah cukup iman untuk mengetahui pertanyaan Anda akan dijawab. Dan kelima, bersiaplah untuk menerima jawaban dari Roh Kudus.

Karena perjalanan di jalan raya kita membawa kita melalui kota-kota besar, dengan liku-liku jalan menuju ke setiap arah dan lalu lintas yang padat meningkat, adalah mudah untuk mengambil belokan yang salah dan menjadi tersesat atau bahkan terhenti di jalan buntu. Rasa takut, bahkan putus asa, dapat muncul sewaktu kita mencari tempat persinggahan yang aman atau jalan aman yang diinginkan. Demikianlah juga, sahabat-sahabat muda, dengan kehidupan: kita dapat menjadi jiwa yang tersesat, tunduk pada godaan, dan dengan berlalunya waktu kehilangan pandangan akan tujuan kita semula.

Sepanjang jalan kehidupan, Bapa di Surga yang baik hati dalam rencana–Nya yang luar biasa membuat ketetapan bagi pengalihan jalan semacam ini. Dia mengirimkan Putra Tunggal-Nya untuk menjadi Penebus kita dan Juruselamat kita. Jangan salah mengenai hal itu, dosa menuntut penyesalan. Nabi Alma mengingatkan kita bahwa “Tuhan tidak dapat memandang dosa dengan tingkat perkenanan yang terkecil” (Alma 45:16). Seperti asuransi yang kita beli untuk melindungi mobil kita dalam kasus kerusakan atau pertanggungjawaban yang bisa terjadi sewaktu kita menempuh perjalanan di sepanjang jalan raya, kita dapat menerima, dengan pertobatan yang tulus dan tuntas, berkat-berkat yang berhubungan dengan Pendamaian Yesus Kristus. Dia juga menyediakan “penyelamat” yang secara ilahi ditetapkan, yang kita sebut uskup, untuk membantu kita sekali lagi menemukan jalan yang benar. Ingatlah, Tuhan telah berjanji bahwa “sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yesaya 1:18). Dalam masa kelegaan ini, Tuhan menyatakan:

“Lihatlah, dia yang telah bertobat dari dosa-dosanya, orang yang sama diampuni, dan Aku, Tuhan, tidak mengingatnya lagi.

“Dengan ini kamu boleh mengetahui jika seseorang bertobat dari dosa-dosanya—lihatlah, dia akan mengakuinya dan meninggalkannya” (A&P 58:42–43).

Jika Anda telah mengambil jalan pintas atau menyimpang dari jalan kehidupan yang ditetapkan, uskup Anda yang baik dapat menolong. Carilah dia; dia mengasihi Anda!

Sewaktu kita melintas negeri, berbagai agen pemerintahan menawarkan insentif dan hak istimewa jika kendaraan kita memenuhi standar-standar tertentu. Standar-standar ini dapat saja kinerja, termasuk persyaratan keselamatan. Kadang kala ada batasan berat. Tak pelak lagi kita harus memiliki pelat nomor resmi. Dan di beberapa tempat preferensi diberikan jika kita mencapai tingkat tertentu dalam jumlah mil per galon di kendaraan kita. Sewaktu kita sepakat untuk taat dan memperlihatkan tanggung jawab, kita akan boleh menggunakan jalur khusus untuk menghindari kemacetan, melaju melalui gerai tol, atau menerima beberapa pertimbangan khusus lainnya.

Dalam kehidupan, Bapa kita di Surga mengharapkan kita membuat kesepakatan yang kita sebut perjanjian. Sepanjang sejarah, Bapa kita di Surga telah berurusan dengan anak-anak-Nya dengan membuat perjanjian. Anda akan ingat bahwa perjanjian dibuat dengan Adam, Abraham, dan Musa. Dewasa ini, sebagai bagian dari pengharapan pembuatan perjanjian, kita membuat perjanjian baptisan, kita membuat perjanjian imamat, dan kita membuat perjanjian bait suci. Kita merujuk pada perjanjian-perjanjian ini secara kolektif sebagai “perjanjian yang baru dan abadi.” Setiap perjanjian yang disebutkan berhubungan dengan sebuah tata cara kudus yang perlu bagi permuliaan kita. Sewaktu kita menghormati perjanjian-perjanjian kudus, Bapa kita di Surga memberikan berkat-berkat seperti yang telah Dia janjikan. Kita hendaknya tidak meremehkan tata cara dan perjanjian kita.

Penatua Russell M. Nelson mengingatkan kita akan janji Bapa kita di Surga, “Harapan-Nya bagi kita adalah kehidupan kekal. Kita memenuhi syarat untuknya dengan kepatuhan terhadap perjanjian-perjanjian dan tata cara-tata cara bait suci—bagi diri kita sendiri, keluarga kita, dan para leluhur kita. Kita tidak dapat dijadikan sempurna tanpa mereka. Kita tidak dapat menghendaki jalan kita ke hadirat Allah. Kita harus mematuhi hukum-hukum yang ke atasnya semua berkat ditautkan.”12

Sahabat-sahabat muda, kita tidak mengetahui lamanya atau panjangnya jalan kehidupan, tetapi hanyalah dengan bertahan sampai akhir dalam kehidupan yang telah kita tanamkan teguh di tanah Injil, bertahan dalam kelompok aktif Gereja, dengan rendah hati melayani sesama kita, menjalani kehidupan seperti Kristus, dan menaati perjanjian-perjanjian kudus itu sehingga kita akan berhasil menemukan kebahagiaan dalam kerangka rencana Bapa kita di Surga.

Untuk menerima kenikmatan yang maksimal dari perjalanan mobil yang lama, kita harus memiliki beberapa perhentian untuk menikmati budaya lokal dan tempat-tempat menarik. Itu semua menambah pengetahuan dan semangat serta nilai tambah bagi perjalanan tersebut. Keajaiban alam telah diciptakan bagi kita untuk dihargai dan dinikmati, dan sewaktu kita penuh pengamatan, banyak yang bisa dipelajari.

Untuk secara berhasil menavigasi jalan kehidupan, luangkan waktu untuk melayani dan menjangkau orang lain. Mantan Ibu Negara, Barbara Bush mengatakan, “Di akhir kehidupan Anda, Anda tidak akan pernah menyesali tidak lulus di sebuah ujian, tidak memenangi keputusan hukum atau tidak membuat kesepakatan tertentu. Anda akan menyesali waktu yang tidak dihabiskan bersama suami, anak, teman, atau orang tua.”13

Sama seperti Anda memerlukan surat izin untuk mengemudikan mobil, Anda memerlukan rekomendasi supaya dapat menikmati berkat-berkat yang tersedia dalam melayani di dalam rumah Tuhan.

Petunjuk Allah Memungkinkan Kita Berhasil

Albert Schweitzer, seorang teolog, misionaris medis, dan filsuf terkemuka menyatakan, “Keberhasilan bukanlah kunci menuju kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kunci menuju keberhasilan.”14 Kebahagiaan datang sebagai akibat dari mengikuti ajaran-ajaran yang terdapat dalam rencana kekal Bapa kita di Surga bagi anak-anak-Nya. Sewaktu kita setiap hari menjalani kehidupan kita, ingatlah tujuan ilahi dari penciptaan kita.

Beberapa waktu lalu seorang ibu yang amat bijak di lingkungan kami menolong jemaat memahami mengapa Tuhan memberikan batasan untuk mengelola hidup kita. Dalam pertemuan sakramen dia meminta kami memejamkan mata kami dan membayangkan suasana yang tenang. Saya akan meminta Anda masing-masing melakukan hal yang sama. Pejamkan mata Anda. Sekarang gambarkan sebuah suasana yang indah: Suatu hari yang cerah di sebuah pantai dengan ombaknya yang lembut bergulung ke pasir yang putih. Itu adalah musim semi, dan pasir tidak terlalu panas. Anda dapat berlari bertelanjang kaki dan menginjak pasir di antara jari-jari kaki Anda. Angin sepoi-sepoi berhembus, sempurna untuk menerbangkan layang-layang. Layang-layang buatan Anda sendiri, terbuat dari kertas tisu, batang kecil dan benang. Terpasang ekor yang berwarna cerah untuk memberinya kestabilan. Anda telah memilih benang layang-layang Anda dengan sangat cermat. Ini layang-layang yang hebat, dan Anda tidak ingin kehilangan itu. Anda juga ingin menerbangkannya setinggi mungkin.

Sekarang angkatlah layang-layang Anda tinggi-tinggi dan berlarilah di sepanjang pantai, dengan membiarkan angin menerpa bahan layang-layang itu dan menariknya ke atas ke angkasa. Akan sedikit tak stabil pada awalnya, sehingga merendah dan menukik sedikit hingga Anda dapat menempatkannya cukup tinggi untuk menerpa hembusan angin yang baik. Lalu mulai naik dengan mudah sewaktu Anda mengulur benang Anda. Segera layang-layang itu berada begitu tinggi sehingga hanya berupa noktah di langit biru yang indah.

Dapatkah Anda melihatnya? Dapatkah Anda merasakan tarikan pada benang sewaktu angin menerpanya lagi dan lagi? Anda dapat membuatnya merendah. Anda dapat membuatnya berputar-putar. Anda dapat membuatnya menukik dan membumbung tinggi dengan memanipulasi benangnya. Benang yang tipis dan kuat itu mengendalikan dan menautkan layang-layang Anda ke tanah. Nikmatilah rasa kendali tersebut dan keindahan di hari itu.

Sekarang saya memiliki pertanyaan bagi Anda. Apa yang menahan layang-layang terangkat ke atas? Apakah angin? Kelihatannya begitu. Sekarang saya akan meminta Anda melakukan sesuatu yang mungkin sulit Anda lakukan. Dengan cepat potonglah benangnya. Biarkan layang-layang itu pergi. Berikan kebebasan untuk terbang semakin jauh dan tinggi. Angin itu tentunya memegang kendali dan akan menjaganya aman.

Tetapi apa yang terjadi sekarang setelah benang dipotong? Layang-layang itu mulai merendah dan menukik, bergoyang-goyang, dan akhirnya jatuh kembali ke tanah. Angin membawanya melintasi daratan, dan sewaktu layang-layang itu kehilangan ketinggian, Anda tidak dapat melihatnya lagi, tetapi Anda tahu bahwa pada akhirnya layang-layang itu akan jatuh ke tanah. Layang-layang indah itu yang menghabiskan banyak waktu Anda untuk membuatnya tidak lagi berada di angkasa, tetapi telah jatuh ke tanah, dan angin tidak akan mengangkatnya lagi. Apakah Anda merasakan kekecewaan dan kehilangan?

Anda dapat membuka mata Anda sekarang. Kenyataannya adalah bahwa walaupun tampaknya benang itu mengendalikan layang-layang, sebenarnya benang itu memberi layang-layang kemampuan untuk membumbung tinggi dan menjadi bagaimana layang-layang itu seharusnya.

Saya telah berikhtiar untuk menggambarkan sebuah gambar kata dalam benak Anda mengenai kebenaran Injil yang merupakan kunci bagi keselamatan kita. Layang-layang itu melukiskan kita masing-masing . Allah menciptakan kita menurut rupa-Nya, dan kita rupawan pada pandangan-Nya. Dia melakukan suatu tugas yang luar biasa, tetapi Dia tidak memaksa kita untuk melakukan apa pun. Yang Dia berikan kepada kita adalah sebuah ikatan yang kuat kepada-Nya, seperti benang itu bagi layang-layang tersebut. Benang itu melukiskan petunjuk untuk kebahagiaan dan kehidupan kekal sebagaimana tercakup dalam rencana-Nya yang menakjubkan.

Tetap Fokus pada Tujuan Akhir Kehidupan Kekal

Setiap perjalanan memiliki awal, akhir, dan biasanya ada beberapa persinggahan di sepanjang jalan. Diharapkan, kerusakan dan kegagalan mekaniknya hanya sedikit dan saling berjauhan jaraknya. Di mana pun Anda kini menemukan diri Anda di jalan raya kehidupan, mungkin akanlah bermanfaat dan bahkan bijak untuk secara objektif menilai kesehatan dan vitalitas kehidupan rohani Anda, sama seperti Anda akan memeriksa tekanan udara pada ban Anda dan tingkat bahan bakar dalam tangki Anda sebelum Anda mengawali perjalanan Anda. Jika kesejahteraan rohani Anda terganggu oleh dosa, penangguhan, pengabaian, nafsu, obat-obat terlarang, ketidaksopanan, atau penyakit lainnya apa pun, sekaranglah saatnya untuk suatu resolusi. Saya menyukai nasihat dari Ibu Teresa. Dia mengatakan, “Kemarin sudah pergi. Esok belum lagi datang. Kita hanya memiliki hari ini. Marilah kita memulai.” 15

Marilah kita semua memulai. Marilah kita semua memulai sekarang! Janganlah kita menangguhkan kesempatan untuk berperan serta sepenuhnya dalam kebahagiaan yang datang dari menjalani kehidupan yang saleh dan berkontribusi.

Pada tahun-tahun yang lewat saya telah mendapatkan kesempatan istimewa yang luar biasa dengan bermain golf beberapa lubang, pada waktu-waktu yang berbeda, dengan Jack Nicklaus, Johnny Miller, Mike Weir dan Arnold Palmer. Masing-masing individu ini adalah pria yang mengesankan dan pegolf yang hebat. Suatu kejadian yang tampaknya tidak penting terjadi saat bermain dengan Arnold Palmer yang memiliki dampak langgeng dan mendalam bagi saya. Beberapa dari Anda mungkin mengingat kisah ini yang telah saya bagikan sebelumnya dari misi saya ke Australia.

Setelah memukul bola kami, saya berdiri di dekat bola Tuan Palmer sewaktu caddy mudanya memaparkan beberapa risiko dari lubang yang sedang kami mainkan. Percakapan tersebut berlangsung kira-kira seperti ini:

Caddy muda kepada Tuan Palmer: “Tuan, di dekat kehijauan dan sedikit ke kiri ada sebuah anak sungai kecil, yang agak tidak kelihatan, dan mereka telah membiarkan sisi kasar di sebelah kanannya tumbuh dua inci lebih tinggi.”

Tuan Palmer kepada caddy—dengan tegas, singkat, namun ramah: “Tolong anak muda, jangan tanamkan di benak saya apa yang ada di kiri dan risiko apa yang mungkin saya hadapi di kanan. Satu-satunya informasi yang penting adalah jarak dari bola ini ke tiang benderanya.”

Terlalu sering dalam kehidupan, kita berfokus pada apa yang ada di kiri dan apa yang ada di kanan alih-alih pada apa yang ada lurus di tengah. Mantan Sekretaris Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan, John W. Gardner menjelaskan, “Apa yang kita saksikan di hadapan kita adalah sejumlah kesempatan besar yang tersamarkan sebagai masalah yang tak terpecahkan.”16 Mengatasi tantangan rohani kita adalah kesempatan yang kita semua dapat capai secara berhasil.

Telah dikatakan bahwa, “apa yang kita lakukan dalam kehidupan bergema dalam kekekalan.” 17 Sahabat-sahabat muda, semoga kita berhasil dalam menempuh jalan raya kehidupan dan menjadi penerima dari kebahagiaan yang datang dari membenamkan diri kita sepenuhnya dalam rencana Bapa kita di Surga bagi kita. Ini adalah suatu zaman yang menakjubkan untuk hidup!

Saya mengungkapkan kasih dan rasa hormat saya bagi Anda masing-masing dan memintakan berkat-berkat surga agar Anda boleh diberkati dengan kebahagiaan dalam kehidupan pribadi Anda sewaktu Anda dengan setia mengikuti rencana Allah, agar Anda boleh diberkati dengan kemampuan memperbedakan untuk mengidentifikasi apa yang baik dan menjauhkan diri dari apa yang buruk, dan agar Anda memiliki kemampuan serta menerima sukacita yang abadi dari melayani dalam Kerajaan-Nya, seperti juga dalam menemukan keberhasilan dalam upaya pendidikan atau kejuruan Anda.

Saya tahu bahwa Yesus hidup. Saya tahu bahwa Dia adalah Juruselamat kita. Saya tahu bahwa Dia menebus dosa-dosa kita. Saya bersyukur bahwa Dia adalah pengacara kita dengan Bapa kita di Surga. Saya tahu firman yang terdapat dalam tulisan suci, dan terutama dalam Kitab Mormon, memberi kita arahan dalam kehidupan kita sehingga kita boleh menjalani perjalanan hidup dan kembali kepada Bapa kita di Surga dengan takaran kebahagiaan yang penuh. Saya bersyukur dan mengungkapkan rasa syukur atas para Nabi yang hidup. Saya tahu bahwa kita diberkati dewasa ini dengan seorang nabi yang hidup, Thomas S. Monson. Hal-hal ini saya ketahui dan persaksikan bagi Anda dalam nama kudus Yesus Kristus, Penebus dan Juruselamat kita, amin.

© 2010 oleh Intellectual Reserve, Inc. Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Persetujuan bahasa Inggris: 10/09. Persetujuan penerjemahan: 10/09. Terjemahan dari The Road of Life. Bahasa Indonesia. PD50021016 299

Notes

1. Lihat “Aloha Spirit,” Hawaii Revised Statutes 5-7.5, http://capitol.hawaii.gov/hrscurrent/vol01_ch0001-0042f/hrs0005/hrs_0005-0007_0005.htm.

2. David H. Petraeus, dalam Sara Israelsen-Hartley, “General Petraeus: Top 10 Reasons BYU Grads Make Great Soldiers,” Deseret News, 26 Maret 2010, http://deseretnews.com/article/print/700019691/General-Petraeus-Top-10-reasons-BYU-grads-make-great-soldiers.html.

3. St. Augustine, lihat “QuotationsBook,” http://quotationsbook.com/quote/31904/.

4. Thomas S. Monson, “Three Ways to Build a Strong Testimony,” Friend, 2 Mei 2009.

5. Abraham Lincoln, lihat “UpLifts: Motivation in Thought,” 20 April 2010, http://uplifts.us/?cat=5.

6. Lewis Carroll, lihat “QuotationsBook,” http://quotationsbook.com/quote/46342/.

7. Robert Frost, “The Road Not Taken” (1915), dalam The Poetry of Robert Frost, diedit oleh Edward Connery Lathem (1970), 105.

8. “Keluarga: Pernyataan kepada Dunia,” Liahona, Oktober 2004, 49.

9. Gordon B. Hinckley, “Setiap Orang Menjadi Orang yang Lebih Baik,” Liahona, November 2002, 100.

10. “18 Ways to Stand Strong: Family,” New Era, Oktober 2008, 20; lihat Associated Press/MTV Research and Strategic Insights, Happiness, 20 Agustus 2007.

11. Lihat James E. Faust, “Joseph Smith and the Book of Mormon,” Ensign, Januari 1996, 7.

12. Russell M. Nelson, “Sekaranglah Saatnya untuk Mempersiapkan Diri,” Liahona, Mei 2005, 18.

13. Barbara Bush, “Remarks of Mrs. Bush at Wellesley College Commencement,” http://www.wellesley.edu/PublicAffairs/Commencement/1990/bush.html.

14. Albert Schweitzer, lihat “QuotationsBook,” http://quotationsbook.com/quote/37770/.

15. Mother Teresa, In the Heart of the World: Thoughts, Stories, and Prayers, diedit oleh. Becky Benenate (1997), 17.

16. John W. Gardner, dalam Lee S. Shulman, “A Response to the Final Report of the Commission on the Future of Higher Education,” http://carnegiefoundation.org/print/6068.

17. Lihat James E. Faust, dalam Conference Report, April 2002, 56; atau Ensign, Mei 2002, 48.

^ Back to top