The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Home

Teror, Kemenangan, dan Perjamuan Kawin

Siaran Satelit CES—12 September 2004
Penatua Jeffry R. Holland

Penatua Jeffry R. HollandTerima kasih atas kehadiran Anda, bahkan jika Anda mengetahui siapa yang akan menjadi pembicaranya. Adalah kebahagiaan bagi saya untuk berada bersama Anda malam ini. Dari mana saja datangnya Anda semua? (Tidak perlu dijawab! Kita tidak memiliki waktu). Dan walaupun saya tidak dapat melihat Anda semua, saya menyadari sepenuhnya keberadaan pemirsa satelit yang lebih besar dan luar biasa yang berkumpul di banyak tempat lainnya di seluruh dunia—yang berjumlah sekitar 80.000. Kami menyambut Anda semua, dan saya berterima kasih atas kehadiran Anda serta atas undangan Anda bagi saya untuk menjadi pembicara.

Saya ingin memintakan izin bagi Sister Holland malam ini. Dia akan senang sekali untuk hadir bersama kita, namun dia sedang berada di Houston, Texas malam ini, membantu merawat seorang cucu perempuan kami yang baru dilahirkan dari keluarga putri dan menantu kami di sana. Jika Anda yang berkumpul di Houston, perlahan-lahan menengok dan melihat ke belakang ruangan, mungkin Anda akan melihat seorang nenek cantik bersembunyi di deretan belakang, berpura-pura menjadi siswa institut. Saya menyadari betapa dia tampak muda, saudara-saudara, namun dia telah menikah. Saya menghargai dukungannya di sana sama seperti seandainya dia berada di sini mendampingi saya malam ini. Saya menyampaikan salamnya untuk Anda, dan hanya tugas sebagai nenek di saat-saat seperti itulah yang menahannya untuk berada di sini bersama kita. “Hermana Holland, te amo.”

Seperti yang banyak dari Anda ketahui, saya dan Sister Holland baru saja kembali dari tugas selama dua tahun di Chili, di mana, sebagaimana sebagian besar dari Anda sedang lakukan malam ini, kami duduk bersama remaja dewasa dan siswa institut di pusat-pusat wilayah yang berada di belahan lain bumi, menerima siaran seperti ini jauh dari kantor pusat Gereja. Kami juga merasakan Roh Tuhan serta kasih dari para pemimpin kita. Kita khususnya merasakan penemanan ribuan orang di seluruh dunia, seperti Anda, yang sebaya, berbagi keyakinan yang sama, dan menginginkan hal yang sama bagi masa depan yang cerah dan bahagia.

Malam ini saya memikirkan teman-teman muda saya di Chili namun juga memikirkan teman-teman kita lainnya di seluruh dunia—di Inggris serta Prancis, di Korea dan Jepang, di Australia serta Nigeria dan Ukraina, termasuk banyak sekali yang berkumpul di seluruh Amerika Utara. “Bienvenidos” bagi Anda semua, bahasa apa pun yang Anda gunakan, dan ketahuilah bahwa saya mengasihi Anda. Ada kekuatan dalam jumlah kita yang besar. Saya berdoa semoga Roh dan berkat Tuhan menyertai kita semua serta dengan tulus berharap agar apa yang saya sampaikan akan berguna bagi Anda masing-masing.

Teror

Saya ingin berbicara kepada Anda malam ini mengenai kekhawatiran yang terus melanda di dunia serta beberapa tantangan yang kita hadapi di negara kita sendiri dan di negara lain. Tentu saja selalu ada tantangan di setiap zaman dan masa, namun kemarin—tanggal 11 September—merupakan peringatan tahunan ketiga dari suatu kejadian keji yang hampir tidak dapat dibayangkan yang telah mengguncang seluruh dunia. Sesungguhnya, dampak perbuatan itu telah secara dramatis dan mungkin secara tetap mempengaruhi perubahan dalam banyak cara kita menjalani kehidupan di dunia saat ini. Mungkin dengan adanya peringatan ini kemarin ketakutan serta kekhawatiran akan zaman modern ini masih melekat di hati Anda hari ini.

Bagaimanapun juga pastilah para tetangga kita—penduduk dari berbagai bangsa di mana siaran ini ditayangkan—sejak tanggal 11 September 2001 telah berada dalam keadaan cemas, lebih takut, dan dihantui oleh peristiwa-pertistiwa internasional serta penggunaan baru kata teror yang dipakai hampir di segala tempat. Beberapa tahun yang lalu kata itu dipakai hampir seluruhnya hanya untuk iklan film bermutu rendah dan novel-novel karangan Stephen King. Yang menyedihkan lagi, sekarang kata ini menjadi materi sehari-hari di surat kabar, dan sedemikian umum, dalam suatu percakapan sehingga anak-anak kecil pun, termasuk anak-anak sekolah di Rusia sekitar dua minggu yang lalu, menyadari bahwa dunia tempat kita hidup dapat dipengaruhi dengan sangat kejam oleh orang-orang yang disebut “teroris.” Ada pula berbagai jenis musibah lain, baik alam maupun lainnya, yang terdokumentasi dalam berita-berita serta mengingatkan kita bahwa hidup dapat menjadi rapuh, bahwa kehidupan dapat menyuguhkan peristiwa-peristiwa yang mengubah nasib.

Akhir Zaman

Dalam keadaan seperti ini, saya tahu banyak dari Anda mempertanyakan dalam hati Anda apa arti semua ini sehubungan dengan akhir dunia dan kehidupan Anda di dalamnya. Banyak orang telah bertanya, “Inikah saat Kedatangan Kedua Juruselamat dan semua yang dinubuatkan seputar peristiwa itu?” Bahkan tidak lama setelah peristiwa 11 September, seorang misionaris menanyakan kepada saya dengan kejujuran dan imannya, “Penatua Holland, apakah ini akhir zaman?” Saya melihat kesungguhan di wajahnya serta siratan ketakutan di matanya dan saya ingin membantu meyakinkannya. Saya pikir mungkin dengan sebuah rangkulan dan sedikit gurauan dapat sedikit menghilangkan kegelisahannya. Sambil memeluknya saya mengatakan, “Elder, saya mungkin bukan orang tercerdas yang hidup saat ini namun saya pun mengetahui nama Gereja kita.” Kemudian kami membahas mengenai menjadi Orang-orang Suci Zaman Akhir. Saya mengatakan, “Ya, Elder, kita berada di akhir zaman, namun itu bukanlah hal baru. Kedatangan Kedua Juruselamat yang dijanjikan dimulai dengan Penglihatan Pertama Nabi Joseph Smith pada tahun 1820. Jadi kita telah memiliki sekitar 184 tahun pengalaman menyaksikan Kedatangan Kedua dan akhir zaman itu disingkapkan. Kita memang berada di akhir zaman—sudah bertahun-tahun lamanya,” ujar saya, sambil memberikan genggaman tangan yang hangat serta membiarkannya pergi.

Dia tersenyum, terlihat lebih yakin untuk memahami semua ini, dan kemudian pergi meninggalkan saya. Saya perkirakan dia telah lama menyelesaikan misinya yang berhasil dan sekarang berbahagia di rumah melanjutkan kehidupannya, bahkan mungkin saat ini duduk di antara para pemirsa di suatu tempat mencari pasangan! (Sebaiknya begitu).

Saya yakin mengetahui apa yang sesungguhnya ditanyakan oleh pria muda ini. Apa yang sesungguhnya dia maksudkan adalah: “Apakah saya akan menyelesaikan misi saya? Adakah manfaatnya mendapatkan pendidikan? Apakah saya dapat mengharapkan sebuah pernikahan? Apakah saya memiliki masa depan? Adakah kebahagiaan dalam masa depan saya?” Dan saya mengatakan kepada Anda semua apa yang saya katakan tiga tahun yang lalu kepadanya. “Ya, yang pasti—untuk semua pertanyaan itu.”

Mengenai kapan sesungguhnya Kedatangan Kedua itu dapat disaksikan secara umum dengan peristiwa-peristiwa mengguncangkan dunia yang menyertainya, saya tidak tahu kapan itu akan terjadi. Lebih lanjut, Presiden Gordon B. Hinckley telah mengatakan bahwa dia tidak mengetahui kapan hal itu akan terjadi dan itu karena tidak seorang pun yang mengetahui kapan hal itu akan terjadi. Juruselamat berfirman bahkan malaikat di surga pun tidak akan tahu (lihat Matius 24:36).

Kita hendaknya memerhatikan serta membaca tanda-tanda zaman, kita hendaknya hidup sesetia mungkin, dan kita hendaknya membagikan Injil kepada setiap orang agar berkat-berkat serta perlindungan dapat tersedia bagi semua. Namun kita tidak dapat dan tidak seharusnya dilumpuhkan hanya karena peristiwa itu dan peristiwa-peristiwa yang mengelilinginya yang akan kita hadapi kelak. Kita tidak boleh berhenti menjalani kehidupan. Sebaliknya, kita hendaknya menjalani kehidupan dengan lebih bersemangat daripada sebelumnya. Bagaimanapun juga, ini adalah masa kelegaan kegenapan zaman.

Saya mengatakan ini karena baru-baru ini—setidaknya setelah peristiwa 11 September—saya telah mendengar pendapat yang penuh ketakutan dan bahkan kepedihan datang dari beberapa orang seusia Anda mengenai pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak misionaris tadi. Saya telah mendengar beberapa dari Anda mengatakan bahwa Anda mempertanyakan adakah manfaat dalam melayani misi atau memperoleh pendidikan atau merencanakan karier jika dunia tempat kita hidup akan menjadi sedemikian tidak menentu. Saya bahkan telah mendengar sepasang kekasih berkata, “Kami tidak tahu apakah kami seharusnya menikah dalam waktu yang tidak pasti seperti ini.”

Yang terburuk saya pernah mendengar laporan beberapa pasangan yang baru menikah mempertanyakan apakah mereka hendaknya membawa anak-anak ke dunia yang dipenuhi dengan teror dan berada di ambang bencana akhir zaman. Izinkan saya mengatakan kepada Anda bahwa di satu sisi sikap yang seperti itu membuat saya lebih khawatir daripada kekhawatiran saya terhadap Al-Qaeda.

Hanya ada dua hal yang ingin saya kemukakan kepada siapa pun dari Anda yang cemas akan masa depan. Saya mengatakannya dengan penuh kasih dan dari lubuk hati saya.

Pertama, kita jangan pernah, pada zaman atau keadaan apa pun juga, membiarkan ketakutan atau bapa dari ketakutan (Setan itu sendiri) mengalihkan kita dari iman kita dan kehidupan yang setia. Selalu ada pertanyaan tentang masa depan. Setiap orang muda atau setiap pasangan muda di setiap zaman harus berjalan dengan iman saat melalui sesuatu yang selalu memiliki ketidakpastian—dimulai dengan Adam dan Hawa dalam langkah-langkah pertama yang penuh kekhawatiran saat ke luar dari Taman Eden. Tetapi, tidak apa-apa. Ini adalah rencananya. Semuanya akan baik-baik saja. Berimanlah. Allah yang memegang kendali. Dia mengetahui nama Anda dan Dia mengetahui kebutuhan Anda.

Berimanlah kepada Tuhan Yesus Kristus—itu adalah asas utama Injil. Kita harus maju terus, seperti yang dikatakan dalam nyanyian rohani K. Newell Dayley yang memperingatkan para pionir kita zaman dahulu, “iman di setiap langkah.”1 Namun, seperti para pionir itu, Anda harus terus melangkah—satu langkah, kemudian langkah berikutnya, dan langkah berikutnya lagi. Begitulah tugas-tugas diselesaikan, begitulah gol-gol dicapai, dan begitulah perbatasan-perbatasan dikalahkan. Dalam bahasa yang lebih ilahi, seperti itulah dunia diciptakan, dan seperti itulah dunia Anda akan diciptakan.

Allah berharap Anda memiliki cukup iman serta ketetapan hati dan cukup mempercayai-Nya, untuk terus melangkah, terus hidup, terus bersukacita. Sesungguhnya, Dia berharap Anda tidak hanya sekadar menghadapi masa depan (ini terdengar tidak menarik). Dia berharap Anda merangkul dan membentuk masa depan—menyukainya dan bersukacita di dalamnya dan menikmati kesempatan-kesempatan yang terus-menerus. Allah senantiasa menantikan kesempatan untuk menjawab doa-doa Anda dan menjadikan impian-impian Anda menjadi nyata. Tetapi Dia tidak dapat melakukannya jika Anda tidak berdoa dan Dia tidak dapat melakukannya jika Anda tidak memiliki cita-cita. Singkatnya, Dia tidak dapat melakukan apa-apa jika Anda tidak percaya.

Mengambil manfaat dari pengalaman saya yang luas tentang dongeng anak-anak sebelum tidur, saya mengatakan Anda dapat menentukan ayam mana yang Anda pilih. Anda dapat menjadi seperti “Ayam Kecil” yang ketika rintik hujan jatuh di atas kepalanya, lari dan berteriak, “Langit runtuh; langit runtuh,” atau Anda dapat menjadi seperti “ayam betina merah kecil” serta maju terus dengan tugas-tugas kehidupan yang produktif, terlepas dari siapa yang membantu atau tidak membantu Anda atau siapa yang percaya atau yang tidak memercayai sebagaimana Anda percaya.

Cukuplah dengan dongeng-dongeng seputar peternakan! Bagaimana jika kita membahas dua tulisan suci, keduanya ditujukan bagi mereka yang hidup di zaman yang penuh bahaya?

Yang pertama dari Ajaran dan Perjanjian bagian 101. Jika Anda ingat, wahyu ini datang ketika Orang-orang Suci yang berkumpul di Missouri sedang menderita penganiayaan besar—sedang mengalami penganiayaan terberat. Gerombolan orang jahat telah mengusir mereka dari rumah mereka. Perlawanan, bahkan kebencian, mengikuti mereka dari daerah yang satu ke daerah lain ketika mereka mencari perlindungan. Orang-orang Suci yang ketakutan ini kehilangan tanah, ternak, pakaian, perabotan, hasil panen, serta berbagai harta pribadi. Ancaman kematian terdengar setiap hari. Saya rasa, dalam keadaannya yang paling buruk, itulah saat yang paling sulit dan penuh bahaya—izinkan saya mengatakan “dipenuhi teror” —yang pernah dialami Gereja. Setelah masa itu nama-nama seperti Haun’s Mill dan Penjara Liberty ditemukan dalam kosa kata kita selamanya.

Namun dalam keadaan yang menakutkan itu Tuhan berfirman kepada umat-Nya:

“Karena itu biarlah hatimu terhibur mengenai Sion, sebab semua daging berada dalam tangan-Ku; diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.

Sion tidak akan dipindahkan dari tempatnya, meskipun anak-anaknya diceraiberaikan.

Mereka yang tinggal serta murni hatinya dengan nyanyian kegembiraan yang kekal akan kembali dan sampai ke tempat warisan mereka, mereka bersama anak-anak mereka, untuk membangun tempai-tempat Sion yang terbengkalai—

Dan segala hal ini supaya perkataan para nabi dapat digenapi” (A&P 101:16–19).

Jadi, sahabat-sahabat muda, biarlah hati Anda dihibur berkenaan dengan Sion. Dan ingatlah definisi Sion yang paling dasar yang pernah diberikan kepada kita: merekalah yang “murni hatinya” (A&P 97:21). Jika Anda menjaga hati Anda tetap suci, Anda serta anak-anak dan cucu-cucu Anda akan menyanyikan lagu-lagu sukacita yang tak berkesudahan ketika Anda membangun Sion—dan Anda tidak akan diusir dari tempat Anda.

Ayat lain yang saya rujuk berasal dari Juruselamat, yang berbicara kepada para murid-Nya ketika Dia menghadapi penyaliban-Nya dan ketika mereka menghadapi ketakutan, kebingungan, serta penganiayaan. Berbicara mengenai masa-masa sulit! Dalam kumpulan nasihat terakhir-Nya kepada mereka yang hidup di bumi, dan mengetahui dengan baik apa yang akan terjadi terhadap-Nya serta terhadap mereka, Dia berfirman:

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Jadi, di dunia yang penuh dengan godaan—dan akan selalu ada banyak godaan—marilah kita mengingat iman kita. Marilah kita mengingat janji-janji serta nubuat-nubuat lain yang telah diberikan, semua hal yang meyakinkan, dan marilah kita menjalani kehidupan dengan lebih bersemangat, dengan kegagahan dan keberanian daripada zaman mana pun dalam sejarah kita.

Kristus telah mengalahkan dunia dan membuat jalan yang lurus bagi kita di padang belantara. Dia telah berfirman kepada kita, “Kencangkan ikat pinggangmu dan bersiaplah. Lihatlah, kerajaan menjadi milikmu dan musuh tidak akan dapat menguasai” (A&P 38:9). Jadi kencangkanlah ikat pinggang. Marilah menyanyikan lagu sukacita yang tidak berkesudahan itu dengan semangat.

Kemenangan

Hal itu menuntun langsung pada hal selanjutnya yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan zaman dimana Anda dan saya hidup.

Pada saat-saat merasakan kekhawatiran, kita cenderung lebih berfokus pada (seperti yang dilakukan oleh sahabat misionaris muda saya) bagian “Zaman Akhir” dari kalimat tersebut.

Namun malam ini saya meminta Anda masing-masing untuk berkonsentrasi pada bagian “Orang-orang Suci” dalam kalimat tersebut. Ini adalah elemen dari nama Gereja kita yang hendaknya menjadi perhatian kita. Pikirkanlah berkat-berkat yang kita nikmati. Pikirkanlah zaman luar biasa dimana kita hidup. Pikirkanlah berkat-berkat ekonomi serta pendidikan, ilmu dan kerohanian yang kita miliki yang tidak pernah dimiliki oleh zaman atau orang lain dalam sejarah dunia, kemudian pikirkanlah tanggung jawab yang kita miliki untuk hidup layak dalam keberadaan kita saat ini.

Masa Kelegaan Kegenapan Zaman yang Besar Ini

Kita telah datang ke bumi pada masa kelegaan Injil terbesar yang pernah diberikan kepada umat manusia dan kita perlu memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

Ini sebuah kutipan favorit saya dari Nabi Joseph Smith, “Pembangunan Sion adalah sebuah urusan yang telah menarik perhatian umat Allah di segala zaman, ini adalah sebuah gagasan dimana para nabi, imam, serta raja telah tinggal dengan kesenangan khusus; mereka telah menanti-nantikan dengan penuh sukacita zaman dimana kita hidup; dan terilhami dengan antisipasi surgawi dan penuh sukacita mereka telah menyanyi dan menulis serta menubuatkan tentang zaman kita, … kita adalah orang-orang istimewa yang telah Allah [pilih] untuk membawa kemuliaan Zaman Akhir.”2

Perhatikan pernyataan serupa yang berasal dari Wilford Woodruff pada tahun 1894. Mungkin saya tidak perlu mengingatkan Anda akan tantangan-tantangan luar biasa yang dihadapi oleh Presiden Woodruff. Saat itu di bagian barat Amerika, menurut saya, sama menakutkannya seperti peristiwa yang saya uraikan di Missouri: para nabi berada dalam pengasingan, para rasul dipenjarakan, ketakutan (menurut perkataan Presiden Woodruff) bahwa “seluruh bangsa” sedang menentang orang-orang kita, siap untuk “berperang” melawan Gereja.3

Meskipun demikian, Presiden Woodruff mengatakan di tengah kesulitan-kesulitan itu:

“Yang Mahakuasa menyertai umat ini. Kita akan memiliki semua wahyu yang kita perlukan, jika kita mau melakukan tugas kita dan mematuhi perintah-perintah Allah …. Selagi saya … masih hidup saya ingin melakukan tugas saya. Saya ingin Orang-orang Suci Zaman Akhir melakukan tugas mereka …. Tanggung jawab mereka besar dan luar biasa. Mata Allah dan semua nabi kudus sedang mengawasi kita. Inilah masa kelegaan besar yang telah dibicarakan sejak dunia dijadikan. Kita berkumpul bersama … dengan kuasa dan perintah Allah. Kita sedang melakukan pekerjaan Allah …. Marilah kita memenuhi misi kita.”4

Yang terakhir, izinkan saya membagikan pernyataan dari Presiden Hinckley, Nabi modern kita, yang saat ini membimbing kita di zaman yang penuh tantangan ini. Mengutip tema yang sama yang disampaikan oleh Presiden Woodruff dalam konferensi bulan April lalu, dia mengatakan kepada kita semua:

“Kita, dari generasi ini, merupakan hasil akhir dari semua yang telah ada sebelumnya. Tidaklah cukup hanya dikenal sebagai anggota Gereja ini. Kewajiban yang kudus berada di pundak kita. Marilah kita menerimanya serta berusaha memenuhinya.

Kita harus hidup sebagai para pengikut sejati Kristus, dengan memiliki kasih yang murni bagi semua orang, bersikap baik kepada mereka yang menyakiti kita, mengajarkan cara-cara Tuhan melalui teladan, dan melakukan pelayanan besar yang telah Dia uraikan bagi kita.

Semoga kita hidup layak untuk karunia terang dan pemahaman serta kebenaran kekal yang luar biasa yang telah datang kepada kita melalui segala kesukaran yang kita alami di masa lalu. Bagaimanapun juga, di antara mereka yang pernah hidup di bumi, kita telah dibawa ke masa yang unik dan menakjubkan ini. Bersyukurlah, dan di atas segalanya setialah.”5

Menarik bagi saya bahwa dalam ketiga kutipan itu, selama kurun waktu yang mewakili, para nabi kita tidak berfokus pada teror di zaman dimana mereka hidup dan bukan pada unsur-unsur mengancam dari zaman akhir dimana kita semua hidup saat ini, namun mereka merasa harus berbicara mengenai kesempatan serta berkat, dan terutama sekali tentang tanggung jawab, untuk meraih kesempatan istimewa yang diberikan kepada kita pada masa kelegaan terbesar ini. Saya menyukai pernyataan yang diucapkan oleh Nabi Joseph Smith bahwa para nabi, imam, serta raja zaman dahulu telah “menantikan dengan antisipasi penuh sukacita akan zaman dimana kita hidup; dan … telah bernyanyi serta menulis dan menubuatkan mengenai zaman kita.” Apa yang membuat mereka begitu bersukacita? Saya dapat meyakinkan Anda mereka tidak berfokus pada teror atau tragedi. Perkataan Brother Woodruff adalah: “Mata Allah dan semua nabi suci sedang mengawasi kita. Ini adalah masa kelegaan kegenapan zaman yang besar yang telah dibicarakan sejak dunia dijadikan.”6 Izinkanlah saya mengulangi perkataan Presiden Hinckley, “... Melalui segala kesukaran yang kita alami di masa lalu, [bagaimanapun juga], di antara mereka yang pernah hidup di bumi, kita telah dibawa ke masa yang unik dan menakjubkan ini. Bersyukurlah, dan di atas segalanya setialah.”

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Anda mengenai semua hal ini, namun tiba-tiba segala kekhawatiran yang tidak perlu mengenai zaman dimana kita hidup meninggalkan saya, dan saya menjadi rendah hati serta bahagia secara rohani, termotifasi akan kesempatan yang telah diberikan kepada kita. Allah memerhatikan dunia-Nya, Gereja-Nya, para pemimpin-Nya, dan Dia benar-benar memerhatikan Anda. Marilah kita memastikan bahwa kita adalah yang “murni hatinya” dan bahwa kita setia. Betapa Anda akan diberkati. Betapa anak-anak serta cucu-cucu Anda akan beruntung.

Pikirkan hal ini. Belum pernah ada orang selama masa-masa Injil yang lalu—termasuk orang tua kita sendiri, dalam banyak hal—yang telah memiliki berkat-berkat seperti yang diberikan kepada Anda dan saya.

Pikirkanlah mengenai bantuan yang telah diberikan kepada kita untuk membawa terang Injil ke dunia yang digelapkan ini. Kita memiliki hampir 55.000 misionaris—jelas jauh lebih banyak dibandingkan zaman lain mana pun dalam sejarah dunia sejak zaman dimulai. Dan jumlah itu diulangi setiap dua tahun oleh mereka yang melakukan pekerjaan misi menggantikan para pendahulu mereka! Namun kita memerlukan lebih banyak lagi. Kita memiliki kehadiran OSZA di sekitar 170 negara. Kita menerbitkan tulisan suci kita dalam lebih dari 100 bahasa.

Lebih dari enam ribu tahun lalu hanya ada satu bait suci di dunia lama (bait suci itu telah dibangun kembali dua atau tiga kali, namun itu selalu merupakan bait suci yang sama di atas gunung yang sama: yaitu Gunung Moria di Yerusalem) dan dua atau tiga bait suci dalam sejarah Kitab Mormon, namun kita sekarang hidup di zaman ketika jumlah bait suci bertambah dengan begitu cepatnya sehingga tidak mudah bagi kita untuk terus mengikuti perkembangannya. Sampai pada beberapa menit yang lalu, kita memiliki 119 bait suci yang beroperasi dengan, saya yakin, lebih banyak lagi yang akan diumumkan dan sedang dalam taraf pembangunan.

Tambahkan pula mukjizat komputer, yang membantu kita mendokumentasikan sejarah keluarga dan secara sistematis melaksanakan tata cara-tata cara penyelamatan bagi penebusan keluarga kita yang telah meninggal. Tambahkan juga transportasi masa kini, yang memungkinkan Presidensi Utama, Kuorum Dua Belas, dan Pembesar Umum berkeliling dunia dan secara pribadi memberikan kesaksian mengenai Tuhan kepada semua Orang Suci di berbagai negeri. Demikian juga ke tempat di mana kita tidak dapat pergi, kita sekarang dapat “mengirim” sebagaimana yang dinyatakan dalam tulisan suci, dengan siaran satelit seperti yang kita gunakan malam ini (lihat A&P 84:62).

Tambahkanlah semua unsur pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, transportasi, pengobatan, nutrisi, serta wahyu yang ada di sekeliling kita, dan kita mulai menyadari apa yang dimaksud oleh Malaikat Moroni ketika dia berulang kali mengatakan kepada Nabi Joseph Smith yang masih muda, mengutip Nabi Yoel dari Perjanjian Lama, bahwa di zaman akhir Allah akan mencurahkan roh-Nya ke atas “semua orang” dan bahwa seluruh dunia, seluruh bangsa, akan diberkati melalui terang yang datang ke dalam segala bidang usaha sebagai bagian dari pemulihan Injil Yesus Kristus (Yoel 2:28; cetak miring ditambahkan; lihat juga Joseph Smith 2:41).

Kita merenungkan segala berkat yang kita miliki di masa kelegaan kegenapan zaman kita ini, dan kita berhenti sejenak untuk mengatakan kepada Bapa kita di Surga—“Betapa Agung Nama-Mu”7 dan “Betapa Mulianya Engkau.”

Sebenarnya, saya memiliki sebuah teori mengenai masa-masa kelegaan zaman dahulu itu dan para pemimpin di dalam keluarga, serta orang-orang yang hidup pada zaman itu, yang dibicarakan oleh Nabi Joseph, Presiden Woodruff, dan Presiden Hinckley. Saya sering memikirkan mengenai mereka dan keadaan menghancurkan yang menghadang mereka. Mereka menghadapi saat-saat sulit yang mengerikan dan, sering kali mereka tidak berhasil di masa kelegaan kegenapan zaman mereka. Kemurtadan serta kegelapan pada akhirnya menghampiri setiap masa terdahulu dalam sejarah manusia. Memang, maksud utama Pemulihan Injil pada zaman akhir adalah memperlihatkan bahwa Injil belum pernah dapat bertahan di zaman-zaman terdahulu dan oleh karena itu harus terjadi di suatu zaman kemenangan dan terakhir.

Kita mengetahui tantangan-tantangan yang dihadapi oleh keturunan Abraham (dan yang masih dihadapi sampai sekarang). Kita mengetahui masalah-masalah yang dimiliki oleh Musa dengan umat Israel yang meninggalkan Mesir namun sulit melepaskan Mesir dari hati mereka. Yesaya adalah Nabi yang menyaksikan hilangnya kesepuluh suku Israel ke Utara. Yeremia, Yehezkiel, serta Daniel adalah para nabi yang akhirnya tertawan. Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Paulus, sosok-sosok hebat dari Perjanjian baru, semua melihat kemurtadan mulai menggerogoti dunia mereka sebelum Juruselamat pergi dan tentu saja kepenuhannya ketika mereka sendiri masih hidup. Pikirkanlah mengenai nabi-nabi dalam Kitab Mormon, yang hidup di suatu masa kelegaan yang berakhir dengan komunikasi menyedihkan antara Mormon dan Moroni mengenai kesulitan yang mereka hadapi dan bangsa yang mereka kasihi lenyap dalam kehancuran, teror, serta kekacauan.

Singkatnya, kemurtadan serta kehancuran dalam bentuk yang satu atau lainnya merupakan akhir dari setiap masa kelegaan umum yang telah kita ketahui sejak awal. Namun inilah teori saya. Teori saya adalah bahwa para pria dan wanita yang hebat itu, para pemimpin di masa lalu itu, mampu untuk terus maju, terus memberi kesaksian, terus mencoba melakukan yang terbaik, bukan karena mereka mengetahui bahwa mereka akan berhasil namun karena mengetahui bahwa Anda akan berhasil. Saya percaya bahwa mereka memperoleh keberanian dan pengharapan bukan semata-mata dari keadaan mereka sendiri, tetapi dari keadaan Anda—jemaat remaja dewasa yang hebat seperti Anda malam ini yang berkumpul dengan jumlah ratusan ribu di seluruh dunia dalam sebuah usaha yang teguh untuk memastikan bahwa Injil berhasil dan menang.

Moroni pernah mengatakan, berbicara kepada kita yang akan menerima catatannya pada zaman akhir,

“Lihatlah, Tuhan telah memperlihatkan kepadaku hal-hal yang besar dan menakjubkan mengenai apa yang harus segera datang, pada hari itu bilamana hal-hal ini akan datang di antara kamu.

Lihatlah, aku berbicara kepadamu seolah-olah kamu hadir. Tetapi lihatlah, Yesus Kristus telah memperlihatkan kamu kepadaku dan aku mengetahui perbuatanmu” (Mormon 8:34–35).

Dengan satu atau lain cara menurut saya semua nabi dan rasul zaman dahulu memiliki penglihatan tentang zaman kita—sebuah penglihatan yang memberi mereka keberanian di zaman mereka yang tidak seberhasil zaman kita. Para pemimpin zaman dahulu tersebut mengetahui banyak hal tentang kita. Nabi-nabi seperti Musa, Nefi, dan saudara laki-laki Yared melihat zaman akhir dalam penglihatan yang sangat rinci. Beberapa hal yang mereka lihat memang tidak menyenangkan, namun yang pasti semua generasi zaman dahulu itu terhibur oleh pengetahuan bahwa akhirnya akan ada satu masa kelegaan yang tidak akan gagal.

Masa kelegaan kita, bukan masa kelegaan mereka, adalah saat yang memberi mereka “antisipasi surgawi dan penuh sukacita” serta menyebabkan mereka bernyanyi dan bernubuat mengenai kemenangan. Masa kelegaan kita adalah masa, yang secara umum, telah dinanti-nantikan oleh para nabi sejak permulaan waktu, dan para pemimpin zaman dahulu tersebut dari tempat mereka masih terus memberi dukungan kepada kita! Sesungguhnya, kesempatan mereka untuk menjadi sepenuhnya berhasil bergantung pada kesetiaan kita serta kemenangan kita. Saya senang dengan gagasan pergi ke medan perang di zaman akhir mewakili Alma dan Abinadi serta apa yang mereka cita-citakan dan mewakili Petrus serta Paulus dan semua pengurbanan yang telah mereka lakukan. Jika Anda tidak merasa senang dengan tugas seperti itu dalam drama sejarah, maka Anda tidak akan merasa senang dengan tugas apa pun juga!

Sebuah Perjamuan Kawin

Izinkan saya menambahkan sebuah unsur lain terhadap pandangan mengenai masa kelegaan ini yang menurut saya secara otomatis berkaitan. Karena masa kelegaan kita adalah masa kelegaan yang terakhir dan terbesar, karena segala hal akhirnya akan berpuncak dan digenapi di zaman kita, oleh karena itu, ada satu tanggung jawab istimewa dan yang sangat khusus yang diembankan kepada kita semua di Gereja saat ini yang berbeda dari tanggung jawab yang ada diatas pundak para anggota Gereja di zaman terdahulu.

Tidak seperti Gereja pada zaman Abraham atau Musa, Yesaya atau Yehezkiel, atau bahkan pada zaman Yakobus dan Yohanes di Perjanjian Baru, kita memiliki sebuah tanggung jawab untuk mempersiapkan Gereja Anak Domba Allah untuk menerima Anak Domba Allah—secara pribadi, dalam kemuliaan kemenangan, dalam peranan-Nya sebagai Tuan di atas segala Tuan dan Raja di atas segala Raja pada masa milenium. Tidak ada masa kelegaan lain yang pernah memiliki tugas itu.

Dalam bahasa tulisan suci, kita adalah orang-orang yang dipilih dalam segala sejarah yang harus mempersiapkan mempelai perempuan bagi kedatangan Mempelai laki-laki dan menjadi layak bagi suatu undangan ke perjamuan kawin (lihat Matius 25:1–12; 22:2–14; A&P 88:92, 96). Secara keseluruhan—entah itu dalam masa kehidupan kita atau anak-anak kita atau cucu-cucu kita atau kapan pun juga—kita memiliki tanggung jawab sebagai sebuah Gereja serta sebagai anggota Gereja secara pribadi untuk menjadi layak bagi Kristus untuk datang kepada kita, untuk menjadi layak bagi Dia untuk menyambut kita dan menerima kita, serta memeluk kita. Kehidupan yang kita persembahkan kepada-Nya pada saat yang kudus itu haruslah layak bagi-Nya!

Kita Harus Layak Bagi-Nya

Jadi dengan menyingkirkan ketakutan akan masa depan atau kecemasan mengenai ukuran perlindungan bom di halaman belakang rumah, saya dipenuhi dengan kekaguman, dengan semangat luar biasa untuk tugas mempersiapkan kehidupan saya (dan sampai pada batas dimana saya dapat juga membantu mempersiapkan kehidupan para anggota Gereja) bagi hari tersebut yang telah lama dinubuatkan, bagi peralihan wewenang itu, bagi saat ketika kita akan mempersembahkan Gereja kepada-Nya yang adalah pemilik Gereja ini.

Saya benar-benar mengetahui yang berikut: Ketika Kristus datang, para anggota Gereja-Nya harus kelihatan serta bersikap seperti sebagaimana seharusnya anggota Gereja-Nya terlihat dan bersikap jika kita ingin dapat diterima oleh-Nya. Kita harus melakukan pekerjaan-Nya dan kita harus menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Dia seharusnya dapat mengenali kita dengan cepat dan mudah sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Seperti yang pernah dinasihatkan oleh Presiden J. Reuben Clark Jr., “iman kita hendaknya tidak sulit untuk dikenali.”8

Ya, jika pada zaman akhir yang besar itu kita mengatakan kita adalah orang-orang yang percaya, maka seharusnyalah kita dapat menunjukkannya. Gembala mengenal domba-domba-Nya, dan kita harus dikenal pada hari yang besar itu sebagai para pengikut-Nya dalam perbuatan juga perkataan.

Itulah sebabnya Presiden Hinckley mengatakan:

“Tidaklah cukup [bagi kita, Anda dan saya, sekarang, di zaman kita] untuk sekadar dikenal sebagai anggota Gereja ini …. Kita harus hidup sebagai pengikut sejati … Kristus.”9

Ya, para sahabat muda, ini adalah zaman akhir dan Anda serta saya hendaknya menjadi Orang-orang Suci Zaman Akhir yang terbaik. Mohon memberi penekanan pada kata Orang-orang Suci-nya.

Kapankah ini akan berakhir? Kapankah Kristus akan menampakkan diri secara umum, dengan kemenangan, dan masa Milenium dimulai? Saya telah mengatakan kepada Anda bahwa saya tidak mengetahuinya. Yang saya ketahui adalah saat-saat awal dari peristiwa itu dimulai 184 tahun yang lalu. Saya tahu bahwa sebagai hasil dari Penglihatan Pertama dan segala hal yang terjadi setelahnya, kita hidup di sebuah zaman yang memiliki berkat-berkat yang belum pernah ada sebelumnya—berkat-berkat yang diberikan kepada kita bagi tujuan kehidupan yang setia serta murni sehingga ketika Mempelai Laki-laki akhirnya dan dengan megah tiba, Dia dapat secara pribadi, mengundang kita ke perjamuan kawin.

Adakah masa depan yang bahagia bagi Anda dan keturunan Anda di zaman akhir ini? Tentu saja! Sangat pasti—Anda memiliki masa depan yang cerah. Semua perjamuan kawin adalah peristiwa yang bahagia. Adakah saat-saat sulit ketika peringatan dan nubuat zaman akhir yang mengancam itu digenapi? Tentu saja akan ada saat-saat sulit. Selalu demikianlah keadaannya. Bersiaplah. Akankah hal-hal yang telah dibangun di atas batu karang Kristus bertahan melawan angin dahsyat seperti itu, hujan es seperti itu, serta anak panah yang dahsyat dalam angin puyuh? Anda tahu bahwa hal-hal yang dibangun di atas batu karang Kristus akan bertahan. Janji itu pasti. Itu adalah janji-Nya! Bahwa “batu karang di atas mana kamu didirikan … merupakan dasar yang kukuh, suatu dasar, jika manusia [pria dan wanita] membangun di atasnya, mereka tidak dapat roboh” (lihat Helaman 5:12).

Saudara-saudara muda yang terkasih, saya meninggalkan kasih saya bagi Anda dan kesaksian saya bahwa Allah tidak saja hidup, namun Dia juga mengasihi kita. Dia mengasihi Anda. Segala sesuatu yang Dia lakukan adalah untuk kebaikan kita serta perlindungan kita. Ada kejahatan dan kesedihan di dunia, tetapi tidak ada kejahatan maupun bahaya di dalam Dia. Dia adalah Bapa kita—Bapa yang sempurna—dan Dia akan melindungi kita dari badai.

Saya bersaksi tidak saja bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Tunggal Allah yang Kudus, namun bahwa Dia hidup, bahwa Dia mengasihi kita, bahwa dalam kekuatan dan nilai dari Kurban Tebusan-Nya, kita juga akan hidup secara kekal. Dia mengalahkan maut dan neraka bagi kita, dan Dia mengalahkan ketakutan dengan cara yang sama.

Ini adalah Gereja serta kerajaan Allah di bumi. Joseph Smith adalah seorang Nabi dan Gordon B. Hinckley adalah seorang Nabi. Kebenaran telah dipulihkan. Anda dan saya cukup beruntung dapat dilahirkan ketika semua pengetahuan dan semua perlindungan ini tersedia bagi kita.

Saya meninggalkan berkat kerasulan kepada Anda masing-masing yang berada dalam jangkauan suara saya agar Anda akan hidup dengan keyakinan, optimisme, iman, dan pengabdian. Saya memberkati agar Anda akan serius terhadap tantangan-tantangan kehidupan namun tidak menjadi takut ataupun kecil hati. Saya memberkati Anda untuk merasakan sukacita Orang-orang Suci Zaman Akhir—bukan kekhawatiran yang menghambat maupun keputusasaan yang menghancurkan. Namun, satu-satunya kecemasan yang saya ingin kita pikirkan adalah kecemasan yang sifatnya sangat pribadi: Bagaimana kita dapat hidup lebih bersemangat, lebih setia, agar semua berkat masa kelegaan kegenapan zaman yang besar ini dapat dicurahkan ke atas kita masing-masing serta ke atas mereka yang kehidupannya kita sentuh?

“Janganlah takut, domba-domba kecil …. Pandanglah [Kristus] dalam setiap pemikiran, jangan ragu, jangan takut …. Kamu belum mengerti betapa besar berkat-berkat yang dimiliki Bapa … disediakan untukmu …. Berbahagialah …. Kerajaan adalah milikmu dan berkat-berkat daripadanya adalah milikmu, dan kekayaan-kekayaan kekal adalah milikmu” (A&P 6:34, 36; 78:17–18).

Saya tinggalkan bagi Anda berkat saya, kasih saya, dan sebuah kesaksian kerasulan mengenai kebenaran akan hal-hal ini dalam nama yang melindungi, Tuhan Yesus Kristus, amin.

Catatan

1. “Faith in Every Footstep,” Ensign, Januari 1997, 15.

2. History of the Church, 4:609–610.

3. Buku harian Wilford Woodfruff, 31 Desember 1889, dikutip dalam James B. Allen dan Glen M. Leonard, The Story of the Latter-day Saints, edisi ke-2, diperiksa dan diperbanyak (1992), 20.

4. Dalam James R. Clark, kumpulan Messages of the First Presidency of The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints, 6 jilid (1965–1975), 3:258. lihat juga Gordon B. Hinckley, dalam Conference Report, April 2004, 84–85; atau Liahona, Mei 2004, 84.

5. Dalam Conference Report, April 2004, 85; atau Ensign, May 2004, 84.

6. Dalam Conference Report, April 2004, 85; penekanan ditambahkan.

7. Lihat “Betapa Agung Nama-Mu,” Nyanyian Rohani, no. 29; cetak miring ditambahkan.

8. Lihat Panduan Gereja Mengenai Pendidikan, edisi revisi (1994), 3–7.

9. Dalam Conference Report, April 2004, 85; atau Ensign, Mei 2004, 84.

 
© 2009 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy