The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Home Broadcast Archives CES Fireside

Iman dan keluarga

Penatua Russell M. Nelson
Kuorum Dua Belas Rasul
Api Unggun CES Untuk Remaja Dewasa
Minggu, 6 Februari Universitas Brigham Young

Penatua Russell M. NelsonSaudara-saudara sekalian, saya senang berada bersama Anda pada kesempatan yang khusus ini. Saya mohon maaf karena Sister Nelson sedang flu dan batuk sehingga harus tetap berada di rumah. Saya kagum dengan jemaat remaja dewasa yang besar ini. Banyak yang lainnya juga berkumpul di Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Eropa, Asia, Afrika, dan kepulauan-kepulauan lain. Saya berdoa agar Roh Tuhan menyertai kita. Karena acara ini diterjemahkan ke dalam 28 bahasa, kami juga berdoa bagi para penerjemah.

Kepada setiap remaja dewasa saya menyampaikan salam dan kasih dari Presiden Gordon B. Hinckley, Presiden Thomas S. Monson, Presiden James E. Faust, dan Sesama Anggota Kuorum Dua Belas Rasul. Kami berterima kasih atas kepercayaan Anda, pengabdian Anda, serta hasrat Anda untuk melayani Tuhan. Kami mengasihi Anda masing-masing.

Saya ingin agar Anda tidak mencatat, untuk sesaat saja, dan sebaliknya mengintrospeksi diri. Anda adalah kaum muda yang bersemangat. Kebanyakan dari Anda adalah mahasiswa dengan ambisi yang besar bagi masa depan. Sekarang saya ingin Anda memikirkan mengenai diri Anda, bukan sebagai apa adanya Anda sekarang, namun akan menjadi apa Anda kelak—50 tahun ke depan. Melalui mesin waktu imajinasi Anda, perhatikanlah apa yang akan terjadi dengan diri Anda di kemudian hari. Pikiran Anda yang luas dan pinggang Anda yang langsing boleh jadi sudah bertukar tempat. Anda mungkin telah berhenti berkarier. Masa kerja Anda telah usai—tidak perlu lagi mengisi kartu absen atau mengambil uang gaji. Bisa membayangkan?

Nah, sekarang inilah pertanyaan saya: Apa yang Anda lihat dalam diri Anda 50 tahun yang akan datang? Ingin menjadi apa Anda 50 tahun yang akan datang? Lebih dari segalanya, apa yang sesungguhnya Anda inginkan 50 tahun yang akan datang?

Saya kira saya dapat mendengarkan detak pikiran Anda. Beberapa di antara Anda mungkin akan berkata, “Saya ingin hidup 50 tahun yang akan datang.” Itu bukanlah gagasan yang buruk. Kecelakaan dan penyakit adalah bagian dari kehidupan fana, yang berarti bahwa beberapa di antara Anda tidak akan berada di sini lagi 50 tahun yang akan datang. Namun kebanyakan dari Anda masih akan tetap ada. Jadi rencanakanlah aturannya bukan perkecualiannya. Beberapa di antara Anda menjadi terkenal dan kaya di masa yang akan datang. Dan kebanyakan di antara Anda ingin memiliki keluarga.

Jika Sister Nelson berada di sini, saya ingin mengundangnya untuk berdiri di samping saya. Sebagaimana yang Anda ketahui, tidak ada laki-laki tanpa perempuan dalam Tuhan.1 Mungkin kebersamaan kami ini akan membantu Anda dalam merencanakan dan mencapai apa yang Anda inginkan. Judul pesan saya malam ini adalah “Iman dan Keluarga.” Secara sengaja, saya menempatkan iman terlebih dahulu. Hal itu telah menjadi pedoman kehidupan pernikahan kami: untuk memiliki iman dalam mendahulukan kerajaan Allah. Kami telah mempelajari bahwa iman yang tak tergoyahkan kepada Tuhan memperkaya kasih dan kehidupan berumah tangga. Iman kepada-Nya menambah kemampuan seseorang untuk mengasihi baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Lebih dari 50 tahun yang lalu kami juga remaja dewasa, seperti Anda sekarang. Foto ini diambil pada waktu itu. Kami berdua masih mahasiswa. Saya di tahun ketiga mahasiswa kedokteran, dia masih mahasiswa baru. Kami saling jatuh cinta. Saya kira Anda dapat merasakannya dalam foto tersebut. Saudara-saudara, Anda tidak dapat menyalahkan saya untuk jatuh cinta kepadanya, bukan?

Terima kasih karena telah menayangkan foto tersebut. Sesungguhnya kami tidak terlihat seperti itu lagi. Tetapi bagi saya, Sister Nelson sekarang bahkan semakin cantik!

Karier saya sebagai dokter telah berakhir. Semua pekerjaan operasi bedah juga telah berakhir. Demikian pula, tugas Sister Nelson untuk membesarkan sepuluh anak telah selesai. Saya lupa menyebutkan bahwa sembilan anak kami yang pertama adalah anak perempuan. Rumah kami seperti asrama putri, sampai anak lelaki kami lahir. Anak lelaki yang malang! Dia tidak mengetahui siapa ibunya yang sesungguhnya untuk beberapa tahun pertamanya.

Sekarang hidup Sister Nelson sudah matang. Sebagai nenek dari para cucu kami, yang banyak di antaranya berada di sini malam ini, dia tidak lagi bekerja keras. Maukah semua anggota keluarga kami berdiri sebentar? Saya ingin agar kamera diarahkan kepada mereka sehingga Anda semua dapat melihat mereka dengan jelas. Kami bahagia memiliki 56 cucu dan 14 cicit. Cicit terbaru kami berada di sini—usianya baru dua minggu. Angka itu tampaknya akan bertambah.

Saya pernah memikirkan untuk memperlihatkan foto dari 106 anggota keluarga kami. Namun saya teringat tentang kisah seorang nenek yang duduk di sebelah seseorang yang tak dikenal dalam perjalanan dengan pesawat. Pembicaraan mereka yang menyenangkan tentang keluarganya menuntun dia untuk bertanya, “Sudahkah saya memperlihatkan foto cucu-cucu saya?” Orang yang duduk di sebelahnya menjawab, “Tidak usah, terima kasih!”

Saya tidak memperlihatkan foto lainnya kepada Anda. Itu pun tidak akan membantu. Keindahan keluarga kami lebih dari sekadar penampilan. Keindahannya ada pada kerohanian. Tidak ada dua anggota keluarga yang sama. Setiap orang adalah unik dan khusus.

Apa yang paling penting untuk Sister Nelson dan saya sekarang? Yang penting adalah bahwa kami adalah suami istri yang menikah secara kekal. Anak-anak kami lahir dalam perjanjian dan dimeteraikan kepada kami untuk selamanya. Alangkah bahagianya memiliki kesadaran itu!

Ketika kami menikah di bait suci, kami tidak memahami banyak isi tulisan suci. Namun kami tahu Matius 6:33: “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa kata-kata itu menjadi landasan setiap keputusan yang kami buat bersama. Beberapa tahun kemudian barulah kami belajar dari Terjemahan Joseph Smith yang memperjelas ayat itu: “Jangan mencari hal-hal duniawi, usahakan terlebih dahulu untuk membangun kerajaan Allah, dan menegakkan kebenaran-Nya, dan semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Terjemahan Joseph Smith terhadap Matius 6:38). Kami telah dibimbing dengan baik oleh tulisan suci itu! Saya telah diilhami dengan sangat baik oleh wanita yang beriman ini yang mendampingi saya selama ini. Berkat-berkat yang paling berarti bagi saya telah datang karenanya.

Zaman telah berubah dalam setengah abad. Dunia secara rohani makin sakit. Penyakit itu makin mewabah. Godaan melakukan dosa telah melampaui segala sesuatu yang kami ketahui sewaktu kami seusia Anda. Anda sedang memasuki budaya konsumerisme yang terobsesi dengan tujuan materialistis. Banyak orang yang memuja di “kuil mementingkan diri”. Suara-suara lantang membela ajaran sesat yang mengatakan bahwa semua gaya hidup memiliki nilai yang sama. Banyak orang ingin memiliki lebih banyak hak daripada tanggung jawab. Mereka tampaknya lebih memerhatikan pemberian hak daripada pencerahan. Tanggung jawab peran sebagai ayah diartikan sebagai kunjungan mingguan dan tunjangan keuangan. Pendeknya, kita sedang menghadapi nilai moral yang mengacaukan cara berpikir kita.

Anda kaum remaja dewasa Gereja memasuki zaman kemerosotan tersebut. Anda memiliki landasan iman yang kuat. Anda adalah teladan dalam berpacaran dan pernikahan. Anda mengetahui apa yang benar dan apa yang salah! Anda, tetaplah teguh! Anda mengenal ajaran-ajaran Tuhan. Anda akan mengajarkannya kepada anak-anak dan cucu-cucu Anda. Andalah “yang jadi harapan Israel, Umat hari perjanjian.”2 Anda memiliki kekuatan rohani yang lebih besar daripada kami saat seusia Anda. Ketika Anda maju ke medan pertempuran, “umat perjanjian Tuhan, yang tercerai-berai di seluruh permukaan bumi; … dipersenjatai dengan kebenaran dan kuasa Allah dalam kemuliaan yang besar” (1 Nefi 14:14). Kami bangga sekali dengan Anda!

Ketika saya dan Sister Nelson menengok ke masa lalu, kami dengan jujur dapat mengatakan bahwa keluarga dan keanggotaan kami dalam Gereja adalah yang paling penting bagi kami. Betapa bersyukurnya kami bahwa kami memerhatikan nasihat pemimpin Gereja untuk menikah di bait suci, melahirkan anak-anak ke dalam keluarga kami, dan melayani Tuhan! Jika kami mengutamakan pendidikan dalam keluarga kami, kami tidak akan sedemikian diberkati sekarang. Pendidikan adalah proses yang panjang bagi kami. Memperoleh dua gelar doktor membutuhkan waktu yang lama. Kemudian kami harus mengambil jurusan spesialisasi operasi selama bertahun-tahun. Saya tidak dapat praktik sebagai ahli bedah sampai saya lulus dari perguruan tinggi lebih dari 12 tahun! Waktu itu kami telah memiliki 5 orang anak. Namun, entah bagaimana, kami sanggup menanganinya.

Saya berutang kepada Sister Nelson, yang tidak pernah mengeluh meskipun dia harus hidup dengan keadaan serba kekurangan. Saya teringat sebuah pengalaman pada suatu malam di Kota Boston. Kami sedang berjalan di Jalan Boylston. Di situ dipajang perabotan rumah tangga. Sister Nelson memandanginya lama sekali dan bertanya, “Menurutmu apakah kita akan dapat memiliki lampu itu?”

Saudara-saurdara, saya sarankan agar Anda mencari pasangan hidup dengan visi jangka panjang, seperti Sister Nelson. Kepada setiap sister saya sarankan agar Anda memotivasi suami Anda untuk menjadi apa saja yang sanggup diraihnya, meskipun apabila hal itu membutuhkan waktu yang sangat lama.

Kami telah mengenyam keberhasilan dan duka kehidupan. Kami telah mengalami kekecewaan, sakit, dan kematian di antara anak kami. Namun kematian tidak memisahkan keluarga yang telah dimeteraikan di bait suci. Perpisahan itu hanya sementara waktu. Terima kasih untuk rencana keselamatan Tuhan, kami semua dapat menghadapi masa depan dengan iman serta optimisme yang besar.

Sister Nelson dan saya telah belajar bahwa hidup bukanlah sandiwara satu babak. Sesungguhnya ada masa prakehidupan. Dan sesungguhnya ada kehidupan setelah kematian. Prakehidupan dan kehidupan fana adalah pengantar bagi kehidupan setelah kematian kita. Pengetahuan tentang tiga tingkat kemuliaan, seperti yang dinyatakan kepada para nabi, memberi kita titik terang akan potensi kehidupan setelah kematian kita.3 Kehidupan kekal adalah mulia dan pantas diusahakan.

Kehidupan setelah kematian memiliki ajaran penting yang melindungi iman kita. Selama prakehidupan, Injil kekal telah ditetapkan. Sebelum dunia dijadikan, rencana keselamatan telah disiapkan.4 Persiapan itu termasuk kemungkinan mewarisi keilahian yang mulia bagi kita dalam kerajaan Allah.5

Inti rencana keselamatan itu adalah Kurban Tebusan Yesus Kristus. Dalam sidang di prakehidupan, Dia telah ditetapkan oleh Bapa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita serta mematahkan kematian jasmani dan rohani.6 Yesus menyatakan, “Aku … telah dipersiapkan sejak dunia dijadikan untuk menebus umat-Ku …. Di dalam Aku seluruh umat manusia akan mempunyai kehidupan, dan itu secara kekal, bahkan mereka yang akan memercayai nama-Ku” (Eter 3:14). Selanjutnya, Paulus menambahkan bahwa Gereja ini harus “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Efesus 2:20).

Juga yang paling penting dalam rencana Allah adalah keluarga. Sesungguhnya, tujuan rencana itu adalah untuk mempermuliakan keluarga. Dunia diciptakan agar kita sebagai anak-anak roh prakehidupan Bapa kita di Surga dapat turun ke dunia dan memperoleh tubuh jasmani. Kita sekarang berada di sini untuk dicobai dan diuji.7 Kita di sini untuk “memilih kemerdekaan dan hidup yang kekal … atau untuk memilih penawanan dan kematian” (2 Nefi 2:27). Dan yang terhebat, kita diizinkan untuk jatuh cinta, menikah, serta melahirkan anak-anak kita ke dalam keluarga kita.

Berkat-berkat tertentu disediakan untuk zaman akhir. Tuhan telah merencanakan untuk mengungkapkan “hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan (Matius 13:35). Hal-hal itu termasuk wahyu seperti yang dicatat dalam Kitab Mormon.8 Hal itu juga termasuk tata cara-tata cara dan perjanjian-perjanjian bait suci.9 Kepada Nabi Joseph Smith Tuhan menyatakan, “Aku berkenan mewahyukan kepada gereja-Ku hal-hal yang telah disembunyikan sejak sebelum dunia dijadikan, hal-hal yang berkenaan dengan kelegaan masa kegenapan zaman” (A&P 124:41).

“Tata cara pembaptisan untuk orang yang telah meninggal … [juga] telah ditetapkan sejak sebelum bumi ini dijadikan” (A&P 124:33). Jadi, keselamatan telah ada bagi mereka untuk menyelamatkan orang mati “yang meninggal tanpa pengetahuan akan Injil” (A&P 128:5). Mata rantai antargenerasi telah disediakan, agar kesatuan zaman, kunci, kekuasaan, dan kemuliaan yang utuh, lengkap, dan sempurna terjadi.10 Penyatuan generasi tersebut sedemikian penting sehingga tujuan dunia dan Gereja tidak akan tercapai jika keluarga tidak dimeteraikan di bait suci.11

Persiapan untuk kehidupan fana dimulai bahkan di dunia prakehidupan. Sebelum dunia diciptakan, kita masing-masing telah ada sebagai anak-anak roh dengan orang tua surgawi kita. Di antara kita ada yang mulia dan agung.12 Abraham,13 Yeremia,14 Joseph Smith,15 dan yang lainnya16 telah ditetapkan menjadi para nabi Allah, beberapa di antaranya akan menjadi para martir bagi tujuan-Nya yang kudus.17 Cara imamat diberikan adalah dengan “diturunkan dari para leluhur … sejak permulaan waktu … bahkan … sebelum bumi dialaskan” (Abraham 1:3).

Tuhan mengajarkan bahwa “untuk memperoleh [tingkat tertinggi kemuliaan selestial], seseorang harus memasuki tata tertib keimamatan ini [yang dimaksud ialah perjanjian perkawinan yang baru dan kekal];

Dan bila dia tidak melakukannya, dia tidak dapat memperolehnya” (A&P 131:2–3).

Para sister diberi karunia khusus. Mereka dapat, menurut Tuhan, “beranak cucu dan memenuhi bumi, sesuai dengan perintah-Ku dan menggenapi janji yang diberikan oleh Bapa-Ku sebelum dunia ini dijadikan, … untuk permuliaan mereka di dunia kekal, agar mereka dapat melahirkan jiwa-jiwa manusia; karena di dalamnya pekerjaan Bapa-Ku dilanjutkan agar Dia dapat dimuliakan (A&P 132:63). Pikirkan betapa luar biasanya pernyataan itu. Ketika seorang ibu melahirkan dan membesarkan seorang anak dengan layak, dia tidak sekadar membantu dunia menggenapi penciptaannya,18 dia juga mempermuliakan Allah!

Kita, sebagai anak-anak perjanjian, dipilih untuk melayani Juruselamat. Rasul Paulus mengajarkan bahwa Tuhan “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan” (Efesus 1:4).19 Sebagai bagian prapenetapan itu, Allah menetapkan syarat yang memungkinkan kita menerima berkat-Nya. Berkat-berkat itu akan diberikan apabila kita mematuhi hukum yang menjanjikan berkat-berkat tersebut.20

Salah satu syaratnya adalah perlunya bagi kita untuk mengatasi godaan.21 Sebelum dunia dijadikan, pertentangan yang berasal dari Setan dibiarkan berada di sini.22 Setan selalu menentang pekerjaan kudus Juruselamat dan akan selalu begitu. Dia telah menentang Nabi dan tulisan suci Pemulihan. Di zaman kita, Setan telah memicu perang langsung dengan inti rencana Allah, yaitu keluarga. Tanda-tanda serangannya telah kita rasakan. Jumlah orang dewasa yang menikah makin menurun,23 demikian pula dengan tingkat kelahiran.24 Usia untuk menikah juga makin terlambat,25 demikian pula dengan pasangan yang tidak menikah makin bertambah.26 Amoralitas dan pornografi semakin luas dan merusak.27

Dengan penyakit rohani seperti itu yang berada di sekitar kita, dibutuhkan iman sejati kepada Tuhan dan Injil-Nya untuk mengatasi serangan tersebut. Saya mengimbau Anda untuk menolak semua kecemaran, secara jasmani maupun rohani.28 Tetaplah berpegang teguh pada pegangan besi Injil.

Saudara-saudara, sebelum dunia ada, Injil merupakan inti rencana kekal Allah. Rencana ini adalah Injil kekal—sekarang dipulihkan dalam kegenapannya.29 Dengan landasan seperti itu, Gereja ini tidak akan goyah,30 bahkan pada masa Milenium.31 Injil Yesus Kristus adalah landasan kukuh yang di atasnya kita dapat mendirikan iman kita. Beberapa di antara kita lemah; beberapa yang lain kuat. Kita dapat bimbang “sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin” (Yakobus 1:6) atau kita dapat berpegang pada tali baja sauh yang tertancap dengan kuat pada kebenaran kekal Injil.32

Iman semacam itu tidak akan menjauhkan kita dari masalah hidup, namun akan menolong kita ketika segala sesuatunya tidak beres. Hal-hal yang buruk terjadi pada manusia. Kecelakaan terjadi. Beberapa pasangan yang menikah mungkin tidak diberkati dengan anak-anak. Yang lain mungkin tidak menikah seumur hidup, atau mereka mungkin menikah dengan seseorang yang gagal mematuhi perintah-perintah Allah. Tuhan sadar akan keadaan ini. Dia akan mengaruniai semua orang dengan berkat-berkat yang telah dipersiapkan-Nya untuk anak-anak-Nya yang setia—dalam cara-Nya sendiri dan waktu-Nya sendiri.33 Tetaplah saleh, tetaplah sabar, tetaplah pada sudut pandang kekal, maka Anda akan dilindungi.34

Setelah Anda berpengalaman maka Anda akan menyadari bahwa para rasul dan nabi mengajarkan aturan. Kami tidak mengajarkan perkecualian terhadap aturan. Perkecualian menjadi hak dan tanggung jawab individu untuk menemukannya. Tuhan tahu bahwa kita hidup di dunia yang tidak sempurna. Dia tahu bahwa dunia kita telah “masak dalam kedurhakaan” (A&P 18:6). Penilaian-Nya adil dan sangat berbelaskasihan.

Satu dekade yang lalu, Presidensi Utama dan Kuorum Dua Belas Rasul, yang telah melihat sebelumnya kemerosotan rohani tersebut, telah mempersiapkan pernyataan pada dunia mengenai keluarga. Pernyataan itu bahkan lebih relevan di zaman ini. Kami menyatakan “bahwa pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita ditetapkan oleh Allah dan bahwa keluarga merupakan inti rencana Sang Pencipta bagi tujuan kekal anak-anak-Nya.

Seluruh umat manusia—pria dan wanita—diciptakan menurut rupa Allah. Masing-masing adalah putra atau putri roh terkasih dari orang tua surgawi, dan, karenanya, masing-masing memiliki sifat dan tujuan yang ilahi. Jenis kelamin merupakan ciri mutlak dari identitas dan tujuan pradunia, kehidupan fana, dan kekal ….

Perintah pertama yang diberikan Allah kepada Adam dan Hawa berkaitan dengan potensi mereka untuk menjadi orang tua sebagai suami dan istri. Kami menyatakan bahwa perintah Allah bagi anak-anak-Nya untuk beranak cucu dan memenuhi bumi tetap berlaku. Kami selanjutnya menyatakan bahwa Allah telah memerintahkan agar kuasa penciptaan yang kudus ini digunakan hanya antara pria dan wanita, yang telah dinikahkan secara resmi sebagai suami dan istri.

Kami menyatakan cara dengan mana kehidupan fana diciptakan telah ditetapkan secara ilahi. Kami menegaskan kekudusan dan pentingnya dalam rencana kekal Allah.”

Nah, sahabat-sahabat terkasih, perhatikanlah peringatan ini: “Orang yang melanggar perjanjian kemurnian akhlak, … atau yang gagal memenuhi tanggung jawab keluarga suatu hari akan bertanggung jawab di hadapan Allah. Lebih lanjut, kami memperingatkan bahwa pecahnya keluarga akan mendatangkan bencana pada perorangan, masyarakat, dan bangsa, bencana yang dinubuatkan oleh para nabi zaman dahulu dan zaman modern” (“Keluarga: Pernyataan kepada Dunia,” Liahona, Oktober 1998, 105).

Jika Anda memerhatikan pernyataan itu, saudara-saudara, Anda akan diberkati. Allah hidup dan mengasihi kita.35 Dengan bantuan-Nya, kita dapat memperkuat iman dan keluarga. Kita dapat memenuhi syarat bagi janji Tuhan berikut ini: “Bila seorang laki-laki mengawini seorang istri dengan firman-Ku … serta dengan perjanjian yang baru dan kekal, dan dimeteraikan ke atas mereka oleh Roh Kudus perjanjian, … [mereka] akan mewarisi takhta, kerajaan, pemerintahan … kekuasaan, penguasa serta segala ketinggian dan kedalaman” (A&P 132:19).

Saya bersaksi bahwa iman Anda dan keluarga Anda akan memberi Anda kebahagiaan besar di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Allah hidup. Yesus adalah Kristus. Gereja-Nya telah dipulihkan. Kita dipimpin oleh Nabi-Nya, Presiden Gordon B. Hinckley. Kepada Anda masing-masing remaja dewasa Gereja yang terkasih, saya meninggalkan kasih dan berkat saya, dalam nama Yesus Kristus, amin.

Catatan

1. Lihat 1 Korintus 11:11.

2. Lihat “Yang Jadi Harapan Israel,” Nyanyian Rohani, no. 110.

3. Lihat 1 Korintus 15:40–41; A&P 76:50–113; 88:17–32; Terjemahan Joseph Smith terhadap 1 Korintus 15:40.

4. Lihat 1 Nefi 10:18; Mosia 15:19; Alma 12:25, 30; 18:39; 22:13–14; 42:26; A&P 76:12–13.

5. Bagi orang-orang di Dunia Kuno, Tuhan berfirman, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Matius 25:34). Penduduk kuno Amerika juga diajar bahwa “mereka yang percaya kepada Yang Mahakudus Allah Israel … akan mewarisi Kerajaan Allah, yang telah disediakan bagi mereka sejak dunia dialaskan” (2 Nefi 9:18; lihat juga Eter 4:19).

6. Lihat Yohanes 17:5, 24; 1 Petrus 1:19–20; Mosia 4:6–7; 18:13; 3 Nefi 26:3–5; A&P 93:7–9; Musa 5:57; Terjemahan Joseph Smith terhadap Kejadian 5:43; 14:30–31.

7. Lihat Abraham 3:24–25.

8. Lihat 2 Nefi 27:10.

9. Lihat A&P 124:40–41.

10. Lihat A&P 128:18.

11. Lihat Joseph F. Smith—Penglihatan mengenai Penebusan Orang yang Telah Mati: 47–48; lihat juga A&P 110:14–16; Joseph Smith 2:39.

12. Lihat Alma 13:3, 5, 7; A&P 132:28; Joseph F. Smith—Penglihatan mengenai Penebusan Orang yang Telah Mati:55–56; Abraham 3:22–23.

13. Lihat Abraham 3:23.

14. Lihat Yeremia 1:4–5.

15. Lihat 2 Nefi 3:5–15; A&P 127:2; Joseph F. Smith—Penglihatan mengenai Penebusan Orang yang Telah Mati:53–55.

16. Lihat Joseph F. Smith—Penglihatan mengenai Penebusan Orang yang Telah Mati:53.

17. Lihat Lukas 11:49–51.

18. Lihat A&P 49:16–17.

19. Lihat juga Efesus 1:5. Paulus juga mengajarkan bahwa Allah “telah menyelamatkan kita, dan memanggil kita dengan pemanggilan kudus, … berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Yesus Kristus sebelum permulaan zaman” (2 Timotius 1:9; lihat juga A&P 38:1–4; Abraham 3:22–26). Adalah penting untuk mencatat bahwa Kitab Mormon melayani ”untuk memperlihatkan kepada sisa Umat Israel hal-hal besar apa saja yang telah Allah lakukan bagi leluhur mereka; dan agar mereka dapat mengetahui perjanjian-perjanjian Tuhan“ (Kitab Mormon, halaman judul).

20. Lihat A&P 130:20–21; 132:5, 11–12.

21. Lihat 2 Nefi 2:11–13.

22. Lihat Terjemahan Joseph Smith terhadap Wahyu 12:6–8.

23. Lihat David Popenoe and Barbara Defoe Whitehead, The State of Our Unions: The Social Health of Marriage in America, 2004 (Rutgers University: The National Marriage Project, Juni 2004), 16–18 (http://marriage.rutgers.edu/).

24. Lihat Popenoe and Whitehead, The State of Our Unions, 21–23.

25. Jason Fields, “America’s Families and Living Arrangements: 2003,” U. S. Census Bureau, November 2004, 12–13 (www.census.gov/prod/2004pubs/p20-553.pdf).

26. Lihat Popenoe and Whitehead, The State of Our Unions, 20–21.

27. B. J. Sigesmund, “XXX-ceptable,” Newsweek Web Exclusive, 2 Juli 2003 (www.keepmedia.com/pubs/Newsweek/2003/07/02/309790). Pornografi merupakan bisnis yang besar di Amerika, dengan hasil yang dilaporkan sebesar 12 juta dolar setiap tahunnya (lihat www.internetfilterreview.com/internet-pornography-statistics.html).

28. Lihat Moroni 10:32; Terjemahan Joseph Smith terhadap Matius 16:26.

29. Lihat Kisah para Rasul 3:20–21.

30. Lihat Daniel 2:28, 31–44; A&P 65:2–6; 124:45.

31. Lihat Bruce R. McConkie, The Millennial Messiah (1982), 672.

32. Lihat Efesus 3:17–19; Kolose 2:6–7; lihat juga Helaman 5:12. Ingatlah bahwa seorang yang bijak membangun rumahnya di atas batu karang dan tidak di atas pasir yang dapat hanyut (lihat Matius 7:24–27).

33. Lihat A&P 130:20–21.

34. Batas-batas sudut pandang seseorang hendaknya kekal dalam tingkatannya. Paulus mengajarkan, “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1 Korintus 15:19).

35. Lihat 1 Nefi 11:16–17.

 
© 2008 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy