The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Home Broadcast Archives CES Fireside

Berkat dari kerja

Penatua David E. Sorensen
Dari Presidensi Tujuh Puluh
Api Unggun CES untuk Remaja Dewasa
6 Maret 2005
Universitas Brigham Young

Penatua David E. SorensenSaya ingin menyatakan penghargaan saya kepada semua pemimpin imamat dan para istri mereka yang berada di sini bersama kita malam ini. Saya teristimewa bersyukur bahwa Penatua dan Sister Cecil O. Samuelson berada di sini. Adalah kesempatan yang istimewa untuk bekerja bersama Penatua Samuelson di Departemen Bait Suci selama beberapa tahun. Saya dapat memastikan para mahasiswa Universitas Brigham Young, demikian juga dengan fakultasnya, bahwa mereka diberkati di bawah kepemimpinan yang mumpuni dari Presiden dan Sister Samuelson.

Malam ini ketika saya memikirkan mengenai apa yang ingin saya katakan kepada Anda, para kaum muda Gereja, terpikir oleh saya bahwa banyak yang masih berstatus pelajar. Kenyataanya adalah, sahabat-sahabat muda saya terkasih, bahwa kita semua adalah pelajar Injil, bukankah demikian?

Ada seorang pria yang bekerja di Departemen Keuangan Amerika Serikat. Pekerjaannya adalah menyelidiki kasus-kasus yang menyangkut uang palsu. Dia begitu hebat pada apa yang dia kerjakan sehingga hanya dengan melihat sepintas pada lembaran uang kertas dan dia dapat mengenali apakah itu asli atau palsu. Suatu malam pada sebuah konferensi pers menyusul keberhasilannya memutus sebuah sindikat pemalsuan uang, salah seorang wartawan mengajukan pernyataan ini kepadanya, “Anda pasti menghabiskan banyak waktu mempelajari lembaran uang palsu untuk mengenalinya dengan begitu mudah.”

Jawabannya adalah, “Tidak, saya tidak pernah mempelajari lembaran uang palsu. Saya menghabiskan waktu saya untuk mempelajari lembaran uang asli, kemudian ketidaksempurnaan akan mudah dikenali.”

Demikian pula halnya dengan Injil, saudara-saudara terkasih. Kita berada di sini untuk mengajarkan Injil Yesus Kristus. Tidak perlu mempelajari yang palsu, karena kita memiliki kebenaran. Ketika Anda mempelajari Gereja yang benar dan mengizinkan Roh untuk bekerja di dalam diri Anda, Anda akan menemukan jawaban dan Anda akan mengetahui bagaimana menanggapi berbagai situasi yang akan Anda hadapi. Mengenai Kitab Mormon, seorang misionaris muda membagikan pemikiran ini kepada saya, yang telah saya temukan adalah benar selama bertahun-tahun: Ingat bahwa Kitab Mormon bukanlah untuk uji coba—kitalah yang perlu dicobai.

Malam ini saya ingin membicarakan kepada Anda mengenai salah satu asas paling penting dari seluruh Injil. Saya berbicara tentang ajaran untuk bekerja. Saya berharap agar apa yang saya katakan akan membantu membimbing Anda dalam pekerjaan yang sedang Anda lakukan sekarang atau yang akan Anda lakukan di masa yang akan datang.

Di antara Anda yang lulus dari SMA atau perguruan tinggi, atau yang sedang bekerja mungkin menanyakan kepada diri Anda sendiri pertanyaan seperti ini ketika Anda melamar pekerjaan, “Berapa jam saya harus bekerja? Berapa besar tunjangan kesejahteraan saya? Berapa banyak hari libur yang dapat saya peroleh? Akan cukupkah waktu bagi saya untuk berkumpul dengan teman-teman atau menikmati hobi saya?” Dengan pertanyaan seperti itu, bagaimanapun jika Anda berfokus pada jam-jam yang santai daripada jam-jam kerja Anda, Anda akan terhalangi untuk melihat kesempatan yang jauh lebih besar.

Pekerjaan Allah

Bekerja adalah asas kekal. Siapa yang Anda kenal yang memiliki semua kekayaan dunia dan yang lainnya namun masih tetap bekerja? Bapa Surgawi kita! Dia seorang pekerja. Bapa Surgawi kita dan Yesus Kristus telah memperlihatkan kepada kita melalui teladan dan ajaran Mereka bahwa bekerja itu penting di surga dan di bumi. Yehova bekerja menciptakan surga dan bumi. Dia mengumpulkan air di satu tempat dan menyebabkan tanah yang kering muncul. Dia menciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang. Dia menciptakan semua makluk hidup di laut serta di darat. Kemudian Bapa menempatkan Adam dan Hawa di bumi untuk merawatnya dan memerintah makhluk-makhluk lainnya (lihat Kejadian 1:1–28).

Tetapi pekerjaan Mereka tidak berakhir dengan Penciptaan. Dalam Mutiara yang Sangat Berharga kita membaca, “Inilah pekerjaan-Ku serta kemuliaan-Ku—untuk mendatangkan kebakaan serta hidup yang kekal bagi manusia,” (Musa 1:39; cetak miring ditambahkan). Hal ini, dengan sendirinya, mencakup setiap pria, wanita, dan anak. Dari semua hal yang dapat diperhatikan-Nya, Bapa Surgawi kita, telah memilih untuk menaruh perhatian yang besar dan bekerja keras untuk kepentingan jiwa-jiwa kekal kita—jiwa Anda dan jiwa saya.

Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yohanes 5:17). Dia juga berkata, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 9:4).

Bekerja Merupakan Sebuah Berkat

Anda dan saya juga memiliki sebuah pekerjaan untuk diselesaikan. Setan akan menggoda kita untuk memercayai bahwa pekerjaan kita tidak pantas, atau bahwa kita tidak perlu bekerja sama sekali. Dia keliru mengenai kedua pendapat itu. Kita sesungguhnya perlu bekerja. Kita memiliki sebuah tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri dan kebutuhan keluarga kita. Tradisi menjadi mandiri ini telah menjadi cara Tuhan sejak Adam dan Hawa meninggalkan Taman Eden. Tuhan berfirman kepada Adam, “Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu” (Kejadian 3:19). Adam dan Hawa bekerja di ladang agar mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan kebutuhan anak-anak mereka (lihat Musa 5:1).

Tetapi mencari nafkah bukanlah satu-satunya tujuan kita bekerja. Seandainya Anda diberi sejumlah besar uang atau untuk alasan tertentu Anda mendadak berkecukupan secara keuangan. Bahkan ketika itu pun, perintah untuk bekerja tidak dibatalkan. Tuhan berfirman kepada bangsa Israel, “Enam hari engkau akan bekerja” (Keluaran 20:9). Dia tidak memasukkan perkecualian dalam perintah itu untuk mereka yang sudah berkecukupan! Seperti yang pernah diungkapkan oleh Penatua Neal A. Maxwell, “Bekerja selalu merupakan kebutuhan rohani sekalipun untuk sebagian orang pekerjaan bukanlah kebutuhan ekonomi” (dalam Conference Report, April 1998, 50; atau Ensign, Mei 1998, 38).

Bekerja bukanlah kutukan tetapi berkat; dengan bekerja kita tidak hanya mematuhi perintah Allah tetapi juga memungkinkan diri kita sendiri untuk beperan serta dalam kasih karunia Allah yang menyelamatkan. Juruselamat berfirman, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Jadi Kristus dengan jelas memfirmankan bahwa jika kita mengasihi-Nya dan ingin tinggal bersama-Nya, kita harus mematuhi perintah-perintah-Nya, termasuk perintah awal kepada Adam untuk bekerja.

Tuhan memberitahu para Orang Suci Zaman Akhir pada permulaan Pemulihan, “Sekarang Aku, Tuhan, tidak begitu senang terhadap para penduduk Sion, karena di sana terdapat orang-orang yang malas di antara mereka” (A&P 68:31). Dan selanjutnya, di abad ke-20, Presiden Heber J, Grant, seorang Nabi Allah, berkata, “Bekerja akan dinobatkan kembali sebagai asas yang mengatur kehidupan para anggota Gereja” (dalam Conference Report, Oktober 1936, 3).

Pernahkah Anda memikirkan mengenai apa jadinya jika orang-orang tidak bekerja? Akankah sekolah kita berfungsi? Akankah pemerintahan kita berjalan? Akankah televisi kita memiliki program? Meskipun kadang-kadang kita mengira akan enak jika memiliki semua uang yang memang kita inginkan dan tidak usah bekerja lagi, saya dapat meyakinkan Anda bahwa itu bukan jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Beberapa orang yang paling sengsara yang pernah saya temui adalah mereka yang, karena suatu alasan tertentu, tidak dapat bekerja untuk jangka waktu yang lama.

Bekerja merupakan tanggung jawab keluarga. Saya tahu beberapa di antara Anda jauh dari keluarga. Saya mengingatkan Anda bahwa sekarang Anda memetik manfaat dari pekerjaan keluarga Anda. Orang tua Anda telah bekerja keras untuk memenuhi kesejahteraan jasmani, rohani, dan emosional Anda. Mereka tidak mengharapkan siapa pun mengambil alih tanggung jawab itu dari mereka. Mereka sungguh mengharapkan Anda berbagi beban itu.

Ketika saya menghadiri wisuda putra saya dari Harvard Business School, Dekan Kim Clark, yang juga anggota Gereja, meminta setiap wisudawan yang sedang duduk di baris depan, menoleh ke belakang mereka dan melihat orang-orang yang mereka kasihi. Ketika para wisudawan itu menoleh ke belakang, Dean Clark berhenti sejenak dan berkata, “Seandainya bukan karena dukungan dari anggota keluarga Anda maka Anda sekarang tidak akan dapat menerima kehormatan ini.” Demikianlah halnya untuk Anda semua. Anda telah menerima banyak. Sebagai imbalannya, Anda diharapkan—bahkan diminta—untuk memberikan dukungan dan kasih yang sama kepada anak-anak serta keluarga Anda. Ini tidak berarti (menggunakan bahasa umum) terus-menerus “berkumpul bersama.” Ketika Anda tumbuh semakin dewasa, orang tua Anda mengharapkan Anda untuk mencukupi kebutuhan Anda sendiri dan menjadi mandiri.

Kita semua harus bekerja. Ingatlah bahwa adalah penting untuk sejak dini mulai mengajarkan kepada anak-anak Anda bahwa mereka harus melakukan bagian mereka dalam pekerjaan keluarga. Barangsiapa yang telah berpengalaman dibesarkan dalam rumah tangga dimana Anda diajari untuk bekerja dapat bersaksi mengenai besarnya nilai bekerja itu dalam kehidupan Anda sekarang. Sesungguhnya, hari Kamis yang lalu Penatua Samuelson mengatakan kepada saya betapa bersyukurnya dia atas ayahnya yang mengajarnya untuk bekerja serta ayah dan ibu istrinya yang telah mengajar istrinya untuk bekerja.

Sejauh kita mampu, para anggota Gereja hendaknya melakukan yang terbaik untuk menyediakan kebutuhan pokok—pangan, sandang, dan papan bagi keluarga mereka.

Kami memahami bahwa di sejumlah tempat di dunia, Anda mungkin menghadapi kesulitan ketika berusaha menyediakan nafkah bagi keluarga Anda. Kesulitan-kesulitan itu dapat meliputi sakit yang menahun, kehilangan pasangan hidup, tambahan orang tua yang sudah renta, atau menyediakan dana bagi pendidikan anak-anak Anda. Bapa Surgawi selalu memerhatikan keluarga-keluarga yang berada dalam keadaan seperti itu. Saya yakin bahwa Dia memberi Anda kekuatan untuk bertahan. Dia akan selalu memberkati kita jika kita meminta kepada-Nya dalam iman.

Bekerja Adalah Sebuah Pelayanan

Sikap kerja yang baik, kebiasaan, dan keterampilan adalah sikap yang dipelajari melalui keberhasilan dalam pengalaman kerja. Izinkan saya menggambarkannya. Di peternakan tempat saya dibesarkan, sapi-sapi harus diperah sebelum subuh setiap harinya. Tidak peduli apakah itu hari Minggu atau Natal atau hari libur lainnya. Tidak peduli apakah sedang musim dingin. Tidak peduli apakah ada orang yang sedang masuk angin. Tidak peduli apakah matahari bersinar atau sedang hujan deras. Setiap pagi dan setiap malam, selalu sama—sapi-sapi harus diperah.

Sebelum saudara-saudara lelaki saya pergi berperang, merekalah yang sering memerah susu. Tetapi pada tahun 1943, ketika saya baru berumur 10 tahun, saya sudah pergi ke kandang sapi yang berisi 10 hingga 12 ekor sapi yang telah menanti untuk saya perah susunya. Ibu dan ayah saya sering menyapa sapi-sapi itu, “Selamat pagi. Senang bertemu kalian!” Saya terpaksa mengakui bahwa sebagai anak kecil saya tidak memiliki perasaan yang sama terhadap sapi-sapi itu.

Setelah setiap sapi diperah, saya menuangkan susu itu dari kaleng kecil ke dalam kaleng berukuran 38 liter. Setiap kaleng memiliki berat kira-kira 36 kilogram dalam keadaan penuh. Ketika membawa kaleng-kaleng tersebut ke jalan untuk diangkut oleh mobil hal itu membuat otot-otot saya semakin kuat.

Ayah saya sering membantu saya memerah sapi, dan kadang-kadang, ibu juga membantu. Saya ingat ayah dan ibu saya terus memerah sapi hingga mereka berusia 80 tahun. Tetapi ayah tidak pernah memerah sapi karena terpaksa; dia memerah sapi karena sapi-sapi itu perlu diperah. Ada perbedaan dalam hal ini. Baginya, binatang-binatang ini bukan sekadar sapi—mereka adalah Big Blackie dan Bossie dan Sally serta Betsy. Dia ingin mereka senang. Dia selalu berkata bahwa sapi yang senang memberi susu yang baik. Bagi ayah saya, memerah sapi—sesederhana apa pun kelihatannya—bukanlah keterpaksaan; tetapi sebuah kesempatan. Memerah sapi bukanlah pekerjaan baginya; melainkan pelayanan.

Filsafat ini membantu saya ketika saya semakin dewasa. Filsafat itu membantu saya menemukan bahwa semua pekerjaan yang jujur itu terhormat. Setelah beberapa tahun, saya menyadari bahwa melakukan pekerjaan rumah tangga secara rutin memberi saya keyakinan dan pemberdayaan. Saya bangga dengan pekerjaan saya. Saya menemukan bahwa tak seorang pun dapat membuat saya merasa rendah diri terhadap pekerjaan yang saya lakukan. Seperti yang Eleanor Roosevelt katakan, “Tidak ada seorang pun dapat membuat Anda merasa rendah diri tanpa izin Anda.” (“Points to Ponder,” Reader’s Digest, Februari 1963, 261). Andalah yang mengendalikan sikap Anda—terutama Anda kaum muda—dalam sikap Anda terhadap pekerjaan. Rasa percaya diri dan pemberdayaan dapat menolong Anda—dalam kelas, dalam masyarakat, dan dalam pekerjaan.

Daripada memikirkan pekerjaan sehari-hari sebagai keterpaksaan, kita hendaknya memikirkannya sebagai kesempatan. Itulah cara yang diajarkan oleh ayah saya ketika bekerja dengan sapi-sapi itu. Ajaran itu tetap melekat dalam diri saya selama hidup ini, dan saya tetap mengunjungi peternakan itu beserta kenangannya sesering mungkin.

Pikirkan hal itu. Jika ayah saya dapat menemukan tujuannya dalam bekerja dengan sapi-sapi itu, sudah pastilah kita masing-masing dapat menemukan tujuan dalam pekerjaan kita.

Belajarlah untuk Menyenangi Pekerjaan

Salah satu cara terbaik yang saya ketahui untuk menikmati kehidupan adalah dengan cara belajar menyenangi pekerjaan. Istri saya, Verla, adalah teladan yang sempurna. Dia mulai bekerja untuk bibinya yang sakit, Bibi Bertha, pada umur 10 tahun, dengan mencuci piring serta membersihkan rumah, dan dia bekerja terus sejak saat itu. Jenis pekerjaan yang dilakukannya berbeda-beda sesuai dengan tingkatan yang berbeda selama hidupnya. Dia juga menjadi murid teladan, mengajar murid kelas satu untuk beberapa tahun, membesarkan tujuh orang anak, bekerja di Persatuan Orang Tua Murid dan Guru, menjadi anggota dewan sekolah daerah, bekerja di ladang misi, menyampaikan ratusan ceramah Gereja, dan melayani di berbagai dewan kota, serta menjadi sukarelawan.

Beberapa pekerjaanya boleh jadi dianggap kasar oleh dunia, misalnya mengurus rumah tangga yang besar. Beberapa di antara pekerjaannya lebih intelektual saat mengambil kelas setelah lulus perguruan tinggi dan kebanyakan adalah upaya rohani seperti mengajarkan Injil. Tetapi selalu, tidak peduli apa pun pekerjaan itu, dia berusaha melakukannya dengan sepenuh hati. Dia telah menemukan sukacita dalam pekerjaannya. Dia memberitahukan kepada saya hari ini bahwa dia ingin menjadi seperti bibinya, Bibi Vera, yang ketika berusia 90 tahun mengatakan bahwa dia berharap tidak akan pernah terlalu tua untuk bekerja. Orang paling bahagia yang saya kenal adalah orang yang menikmati pekerjaan mereka—apa pun pekerjaan itu.

Anda mungkin ingat dengan kisah yang memperlihatkan bagaimana sikap kita terhadap pekerjaan dapat membuat perbedaan.

“Seorang pelancong melewati tambang batu dan melihat tiga orang sedang bekerja di sana. Dia bertanya kepada setiap orang tentang apa yang sedang dikerjakannya. Setiap orang memberikan jawaban yang berbeda tentang pekerjaan yang sama.

‘Saya sedang memotong batu,’ jawab orang pertama.

Yang kedua menjawab, ‘Saya menghasilkan tiga keping emas setiap hari.’

Orang ketiga tersenyum dan berkata, ‘Saya membantu membangun rumah Allah.’

Ingatlah pepatah kuno, “Sikap Anda menentukan pandangan Anda’”

Kita hendaknya sanggup menemukan tujuan besar pekerjaan kita, apa pun pekerjaan itu. Dalam setiap pekerjaan yang halal, kita dapat melayani Allah. Raja Benyamin, Nabi bangsa Nefi berkata, “Bilamana kamu melakukan pelayanan untuk sesamamu berarti kamu hanya melayani Allahmu” (Mosia 2:17). Meskipun pekerjaan Anda hanyalah membantu menyediakan kebutuhan sehari-hari keluarga, Anda sedang melayani anak-anak Allah.

Tuhan tidak senang dengan mereka yang malas. Dia berfirman, “Orang yang malas tidak akan mendapat tempat di Gereja, kecuali dia bertobat dan memperbaiki jalannya” (A&P 75:29). Dia juga memerintahkan, “Janganlah engkau malas, karena dia yang malas tidak akan memakan roti atau mengenakan pakaian pekerja” (A&P 42:42).

Sejak masa awal Gereja, para nabi mengajarkan kepada Orang-orang Suci Zaman Akhir untuk mandiri dan tidak malas. Orang-orang Suci Zaman Akhir sejati tidak akan dengan sukarela memindahkan beban tanggungan mereka sendiri kepada orang lain. Anda harus memutuskan, sahabat-sahabat muda, di sini dan sekarang, bahwa sedapat mungkin dalam situasi Anda sendiri, Anda akan menjadi mandiri sepanjang kehidupan Anda.

Banyak dari Anda remaja putri, sekarang atau kelak akan menjadi ibu dan mungkin diberkati menggunakan banyak tahun di rumah membesarkan anak-anak. Yang lainnya dari Anda para sister mungkin tidak mampu menjadi ibu, atau jika Anda adalah ibu, mungkin tidak dapat tinggal di rumah sepenuhnya. Apa pun keadaannya, saya ingin mengimbau Anda semua untuk mengikuti nasihat nabi dan meraih pendidikan setinggi mungkin. Pendidikan itu sendiri adalah sesuatu yang sangat berharga. Pendidikan Anda akan memberi Anda perasaan aman selama Anda tinggal di rumah membesarkan anak-anak. Dan seandainya di masa yang akan datang Anda terpaksa bekerja, dapat dikatakan, pendidikan itu akan memberi Anda kesempatan untuk mendapat pekerjaan yang lebih berarti, dan dengan upah yang lebih besar.

Pekerjaan kita sendiri harus memiliki integritas dan tujuan yang layak. Bapa Surgawi kita tidak senang ketika kita menerima penghasilan dari kerja yang tidak layak atau malas-malasan. Presiden Spencer W. Kimball mengatakannya demikian: “Saya sungguh-sungguh merasa bahwa [mereka] yang menerima upah atau gaji dan tidak memberikan waktu, energi, darma bakti, dan pelayanannya dengan [adil] menerima uang secara tidak halal” (dalam Conference Report, Oktober 1953, 52). Perkataan yang sangat tegas, bukankah demikian? Dia juga mengatakan bahwa memperoleh uang dengan cara jahat dan malas, seperti mencuri; berjudi, termasuk lotre; menipu; menjual narkoba; menindas yang miskin; dan yang sejenis, adalah menerima uang haram.

Presiden Kimball menjelaskan perbedaan antara pekerjaan terhormat dan jahat:

“Uang halal adalah kompensasi yang diterima untuk kerja yang jujur sepanjang hari. Uang seperti itu adalah uang hasil pelayanan yang setia. Uang seperti itu adalah keuntungan yang jujur dari sebuah penjualan barang atau jasa. Uang seperti itu adalah yang diterima dari transaksi yang menguntungkan semua pihak.

Uang kotor adalah … uang … hasil pencurian dan perampokan … judi … dosa … suap …, dan … eksploitasi” (dalam Conference Report, Oktober 1953, 52).

Dewasa ini banyak orang yang menawarkan uang dengan mudah tanpa banyak upaya, menyarankan jalan pintas untuk menjadi kaya mendadak dan hidup dengan nyaman. Kita mendengarnya sepanjang waktu. Tawaran-tawaran ini hanyalah ilusi, dan para nabi terus-menerus menasihati tentang jangan tergoda dengan godaan “uang mudah” itu. Kita tidak boleh kehilangan kemampuan untuk membuat penilaian yang bijaksana, berpikir jernih, dan untuk memahami arti yang lebih besar dari kehidupan ini.

Dalam dunia kerja, ada banyak orang yang tidak peka secara rohani sebab mereka menuruti keinginan daging. Berusahalah untuk menghindarinya. Betapa tragis jadinya, seandainya, karena pekerjaan, kita harus berhubungan dengan mereka yang akan menghancurkan kerohanian kita, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? (Markus 8:36). Tuhan telah memberitahu kita bahwa “manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (1 Korintus 2:14).

Tentu saja, kita harus menemukan keseimbangan antara kerja, istirahat, dan santai. Tanpa kerja, istirahat dan santai tidak ada artinya. Ada pepatah kuno yang mengatakan, “Tidak melakukan apa pun adalah pekerjaan yang paling berat.” Istirahat tidak hanya menyenangkan dan perlu tetapi kita diperintahkan untuk beristirahat pada hari Sabat (lihat Keluaran 20:10). Kepada mereka yang menguduskan hari Sabat, Tuhan menjanjikan bahwa “kegenapan dunia menjadi kepunyaanmu” (A&P 59:16).

Beberapa di antara Anda mengetahui bahwa Sister Sorensen dan saya pernah tinggal di Asia selama beberapa tahun. Selama tinggal di sana kami mendengar petuah lama, “Pilihlah sebuah pekerjaan yang Anda sukai, maka Anda tidak akan pernah bekerja seumur hidup Anda.” Saya percaya sebagian besar pernyataan itu adalah omong kosong. Saya tidak mau terdengar negatif. Tetapi kenyataannya adalah bahwa pekerjaan tidak selalu menyenangkan secara alami. Saya kira petuah yang lebih masuk akal adalah pernyataan Presiden Thomas S. Monson. Dia mengatakan, “Pilihlah yang Anda sukai; sukailah yang Anda pilih” (dalam Conference Report Oktober 1988, 82; atau Ensign November 1988, 71). Dia sebenarnya membicarakan pernikahan, tetapi saya percaya bahwa nasihat ini berlaku untuk pekerjaan yang Anda pilih juga. Pilihlah pekerjaan yang Anda sukai, dan sukailah pilihan Anda.

Apa yang saya maksudkan adalah banyak orang terjebak dalam pemikiran bahwa seharusnya pekerjaan mereka lebih memuaskan, atau lebih bermartabat, atau setidaknya kurang membosankan! Ketika hidup terasa berat—sebagaimana yang sering terjadi—mereka mulai berpikir bahwa pekerjaan pilihan mereka tidaklah seperti yang seharusnya. Mereka mulai percaya bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau saat dilihat dari balik pagar. Anda akan mendengar orang-orang ini berkata, “Seandainya saja saya memutuskan untuk sekolah kedokteran daripada hukum, saya sekarang telah menjadi seorang dokter hebat.” Atau mungkin, “Seandainya saya bisa mendapatkan pekerjaan sehebat pekerjaannya. Seandainya saya ini bos seperti dia, saya pasti akan bekerja keras dan memperlakukan orang dengan baik dan menjadi orang yang berhasil.”

Orang yang tidak dapat keluar dari jebakan tersebut sering sulit berhasil dalam profesi apa pun. Mereka menyukai karier tetapi mereka tidak menyukai hal-hal kecil dan sederhana serta akhirnya menyerah untuk mengejar fantasi di balik cakrawala. Mereka pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, tidak pernah bekerja cukup lama untuk benar-benar menjadi piawai. (Jika ceramah saya mengganggu beberapa orang di antara Anda, saya mengajak Anda untuk bertobat).

Begitu Anda telah memilih pekerjaan Anda, sukailah pekerjaan itu! Tidak ada pekerjaan yang sempurna. Setiap pekerjaan memiliki tantangannya sendiri dan ada saat-saat yang membosankan. Sama seperti pernikahan, keberhasilan dan kepiawaian dalam pekerjaan Anda membutuhkan usaha yang penuh pengabdian serta ketekunan selama bertahun-tahun.

Izinkan saya memberikan kepada Anda sebuah contoh. Michelangelo, pelukis dan pematung terkemuka, membagikan wawasan yang dalam mengenai karyanya. Dia berkata, “Jika seseorang mengetahui betapa kerasnya saya harus bekerja untuk menghasilkan karya besar saya, karya itu tidak akan tampak terlalu hebat juga.” Beberapa di antara Anda secara pribadi telah menyaksikan karya hebat Michelangelo. Tetapi berapa banyak di antara kita yang pernah memikirkan betapa banyak tenaga yang dikeluarkan untuk mengukir patung Daud dari sebuah batu marmer yang keras itu! Dan untuk menciptakan patung Daud setinggi 4,2 meter! Dan sudahlah pasti bahwa patung Daud bukan merupakan patung pertama Michelangelo. Tidak diragukan lagi dia telah berjuang dan bekerja dengan ratusan ribu patung sebelum menciptakan karya besarnya. Bukankah peristiwanya akan menjadi tragis seandainya setelah beberapa tahun memahat patungnya yang pertama dengan susah payah, dan terlalu membosankan—Michelangelo memutuskan bahwa adalah lebih baik baginya untuk menjadi penulis? Ironinya adalah, seandainya dia berubah seperti itu, kemungkinan besar dia juga akan menemukan bahwa mengarang itu pun merupakan pekerjaan yang keras dan membosankan!

Anda akan menjumpai lebih banyak keberhasilan jika Anda tetap tekun dan bersemangat dalam pekerjaan Anda terlepas dari ketidaksempurnaan serta hal-hal kecil dan sederhana dari pekerjaan itu. Berfokuslah pada karier yang Anda tekuni dan berusahalah menahan godaan untuk mencari-cari sesuatu yang lebih baik. Kenyataannya, saya mengatakan ini dengan berani, tidaklah menjadi masalah pekerjaan apa pun yang Anda pilih. Saya berjanji bahwa jika Anda tetap bertahan dengan pekerjaan itu dan mengejar kepiawaian dalam karier pilihan Anda, Anda akan menikmati keberhasilan dan akhirnya mengasihi pekerjaan Anda lebih daripada yang dapat Anda bayangkan.

Kata-Kata Nasihat

Izinkanlah saya menambahkan beberapa nasihat.

Pertama, bekerjalah keras untuk dapat bekerja sama dengan orang lain. Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Jadilah teladan yang sesungguhnya, bukan menjadi hakim. Studi membuktikan berkali-kali bahwa orang pada umumnya tidak kehilangan pekerjaan disebabkan mereka tidak memiliki cukup pengetahuan atau keterampilan. Lebih sering disebabkan mereka tidak dapat bekerja sama dengan orang lain. Saya menyadari bahwa Anda tidak mungkin selalu membuat semua orang senang, tetapi Anda dapat sesering mungkin membuat kebanyakan orang senang—terutama jika salah seorang itu adalah bos Anda.

Kedua, ingatlah bahwa orang jarang memperbaiki diri ketika mereka hanya mengukurnya dengan dirinya sendiri. Saya memastikan kepada Anda bahwa saya telah membuat lebih banyak perbaikan dalam hidup ini dan dalam bisnis saya sebagai akibat dari kritikan orang lain daripada pujian. Belajarlah untuk mengukur diri sendiri dengan ukuran yang sering digunakan oleh orang lain. Jika bos Anda berkomentar bahwa Anda terlalu cepat marah, tanggapilah hal itu dengan serius. Jika pasangan hidup Anda berkomentar bahwa Anda terlalu cepat marah, dan teman Anda berkomentar bahwa Anda terlalu cepat marah, kemungkinan besar memang Anda adalah orang yang cepat marah. Ketika Anda mendengar balikan semacam itu, dengarkanlah hal itu sebelum Anda menyangkalinya. Evaluasilah dahulu. Pertimbangkanlah dahulu. Apakah perubahan dibutuhkan? Terlepas dari kritik, belajarlah untuk dapat bergaul dengan orang lain. Jika Anda ingin bergaul dengan orang lain, maka Anda pasti mampu melakukannya.

Ketiga, jadilah orang yang optimis. Jangan menerima pesimisme, terutama ketika pesimisme itu ditujukan untuk Anda. Jangan menerima pernyataan pesimistis tentang Bapa Surgawi. Mengenai sumbernya—hal itu datang dari Setan. Jangan menerima pernyataan pesimistis tentang pemimpin Gereja ini atau Gereja sebagai sebuah lembaga. Diperlukan usaha untuk menolak pesan Setan, tetapi usaha seperti itu mendatangkan kebahagiaan.

Nasihat bagi para purnamisionaris: janganlah meninggalkan asas-asas atau kebiasaan-kebiasaan, atau pengalaman-pengalaman besar yang Anda pelajari di ladang misi. Jangan mengabaikan penampilan Anda. Sekarang para Pemimpin tidak mengharapkan Anda mengenakan kemeja putih dan dasi serta setelan jas berwarna biru ketika kembali bersekolah. Pertahankanlah cara berpakaian Anda yang baik yang Anda pelajari di ladang misi. Bersiaplah untuk keberhasilan! Ketika kebiasaan pribadi Anda memancarkan kebersihan, martabat, dan asas-asas Injil yang Anda ajarkan sebagai misionaris muda, hal-hal itu akan sangat bermanfaat di tempat Anda bekerja.

Ringkasan

Pesan saya malam ini dapat diringkas dalam dua pernyataan. Yang pertama dari Presiden David O. McKay. Dia berkata, “Marilah kita menyadari bahwa kesempatan istimewa untuk bekerja merupakan karunia, kuasa untuk bekerja adalah berkat, kesukaan untuk bekerja adalah keberhasilan” (Pathways to Happiness [1957], 381).

Yang kedua adalah dari Nabi terkasih kita yang masih hidup, Presiden Gordon B. Hinckley. Dia berkata: “Pekerjaan utama dunia tidaklah dilaksanakan oleh orang-orang yang genius. Pekerjaan itu dilaksanakan oleh orang-orang biasa, yang memiliki keseimbangan dalam hidup mereka, yang telah belajar bekerja dengan cara yang luar biasa” (“Our Fading Civility,” Brigham Young University inauguration and spring commencement excercises, 25 April 1996, 15). Adalah dimaklumi bahwa akan ada kekecewaan dan keputusasaan di sepanjang jalannya, saudara-saudara.

Orson F. Whitney menghibur kita:

“Tidak ada sakit yang kita derita, tidak ada pencobaan yang kita alami, yang sia-sia. Hal itu menolong mendidik kita untuk membangun kualitas kita seperti kesabaran, iman, kekuatan, dan kerendahan hati. Semua yang kita derita dan tanggung terutama ketika kita menanggungnya dengan sabar membangun watak kita, memurnikan hati kita, memperluas jiwa kita, membuat kita lebih lembut dan mengasihi, lebih layak disebut anak-anak Allah. … adalah melalui duka dan derita, kerja keras dan kesengsaraan, bahwa kita mendapatkan pendidikan bahwa kita datang ke sini untuk memperolehnya dan yang akan membuat kita lebih seperti Bapa dan Ibu kita di surga” (dikutip dalam Spencer W. Kimball, Faith Precedes the Miracles [1972], 98).

Sebagai hamba Tuhan yang rendah hati, saya menjanjikan kepada Anda dan memberkati Anda bahwa sewaktu Anda berusaha mematuhi standar-standar yang telah Tuhan tetapkan di dalam tulisan suci dan para nabi-Nya, sewaktu Anda belajar, berdoa serta membayar persepuluhan dan persembahan Anda dari uang jerih payah kerja Anda, Anda akan menjadi lebih berhasil di sepanjang kehidupan Anda juga dalam pekerjaan Anda sehari-hari. Anda akan menjadi pegawai yang lebih baik. Anda akan menjadi pegawai yang lebih produktif. Anda akan menjadi pegawai yang lebih efektif. Semua itu karena Roh Tuhan akan menyertai Anda dan membantu serta menguatkan Anda.

Saya menyampaikan kepada Anda salam khusus dari Nabi terkasih kita, Presiden Hinckley. Belum lama berselang, dalam sebuah ceramah kepada para anggota di wilayahnya, Presiden Hinckley mengatakan, “Keadaan tidak seburuk seperti yang kadang kita pikirkan … saya memiliki optimisme terhadap Gereja ini. Saya memiliki optimisme besar terhadap remaja Gereja ini. Kita tidak perlu takut. Tidak ada yang perlu kita takutkan jika kita menjalankan Injil, jika kita membuat keputusan dalam terang Injil, jika kita berlutut dan berdoa kepada Tuhan untuk memperoleh penerangan, pemahaman, petunjuk, serta dorongan-Nya, kita tidak perlu takut.”

Jadi malam ini, sahabat-sahabat muda saya, saya ingin bersaksi kepada Anda sekarang. Saya percaya pada Gereja ini. Saya percaya kepada Yesus Kristus. Saya percaya akan apa yang difirmankan-Nya. Saya percaya akan apa yang dikatakan-Nya kepada bangsa Nefi, “Aku menciptakan surga dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Aku bersama Bapa sejak permulaan” (3 Nefi 9:15). Saya tahu bahwa Dia adalah putra Elohim, Bapa yang menciptakan Adam dan Hawa. Saya tahu, sahabat-sahabat muda saya yang terkasih, bahwa Dia, Putra, dilahirkan oleh Maria di Betlehem, Yudea. Saya tahu kelahiran-Nya adalah seperti yang dikatakan oleh Matius di zaman Raja Herodes. Saya percaya akan apa yang dikatakan oleh Yesus, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yohanes 8:12). Saya percaya kepada Yesus ketika Dia mengatakan, “Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” (Yohanes 8:51). Saya tahu bahwa Dia dan Bapa-Nya menampakkan diri kepada Nabi pemuda, Joseph Smith.

Saya percaya Yesus Kristus dapat membantu kita masing-masing dalam pekerjaan kita jika kita membantu-Nya dalam pekerjaan-Nya. “Karena nama orang yang benar akan dituliskan dalam kitab kehidupan, dan kepada merekalah akan Aku anugerahkan sebuah warisan di sebelah kanan-Ku. Maka, saudara-saudaraku, apa keberatanmu tentang ini? Aku berkata kepadamu, jika kamu menentangnya, tidak menjadi soal, karena firman Allah harus digenapi” (Alma 5:58). Saya tahu dan bersaksi bahwa kita memiliki Nabi yang hidup, Gordon B. Hinckley, yang dapat menolong kita dalam pekerjaan kita jika kita mengindahkan nasihatnya.

Anda, sahabat-sahabat muda saya yang terkasih, adalah harapan Gereja ini. Anda adalah harapan masyarakat dimana Anda tinggal. Anda akan menjadi para pemimpin masa depan Gereja ini, pemimipin masa depan masyarakat, pemimpin dunia. Saya menyampaikan kepada Anda kesaksian saya dengan rendah hati bahwa jika Anda bekerja bagi Bapa Surgawi kita dan Putra-Nya, Yesus Kristus, Dia akan memberkati Anda serta mengawasi dan menjaga Anda sepanjang kehidupan Anda. Saya menyampaikan kepada Anda kesaksian ini dalam nama-Nya yang kudus, Tuhan kita, Juruselamat kita, Penebus kita, Yang Kudus dari Israel, Yesus Kristus, amin.

 
© 2009 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy