Tulisan Suci
Joseph Smith—Sejarah 1


Joseph Smith—Sejarah

Kutipan dari Sejarah Joseph Smith, Sang Nabi

Pasal 1

Joseph Smith menceritakan tentang leluhurnya, anggota keluarga, dan tempat tinggal terdahulu mereka—Suatu keributan yang tidak lazim tentang agama meluas di sebelah barat New York—Dia memutuskan untuk mencari kebijaksanaan sebagaimana diarahkan oleh Yakobus—Bapa dan Putra menampakkan diri, dan Joseph dipanggil pada pelayanan kenabiannya. (Ayat 1–20.)

1 Disebabkan oleh banyaknya laporan yang telah disebarkan oleh orang-orang yang cenderung jahat dan berkomplot, dalam hubungannya dengan berdirinya dan kemajuan Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, yang semuanya telah dirancang oleh para pemrakarsanya untuk memusuhi nama baiknya sebagai sebuah Gereja dan kemajuannya di dunia—aku telah digerakkan untuk menulis sejarah ini, untuk meluruskan pendapat umum, dan menempatkan semua penyelidik kebenaran dalam kepemilikan akan fakta, sebagaimana itu telah terjadi, dalam hubungannya baik dengan diriku maupun Gereja, sejauh aku memiliki fakta seperti itu dalam kepemilikanku.

2 Dalam sejarah ini aku akan menyajikan berbagai peristiwa dalam hubungannya dengan Gereja ini, dalam kebenaran dan kesalehan, sebagaimana itu telah terjadi, atau sebagaimana itu saat sekarang adanya, yakni sekarang [1838] tahun kedelapan sejak pengorganisasian Gereja tersebut.

3 Aku lahir pada tahun Tuhan kita seribu delapan ratus dan lima, pada hari kedua puluh tiga bulan Desember, di Kota Sharon, Windsor County, Negara Bagian Vermont. … Ayahku, Joseph Smith, Sen., meninggalkan Negara Bagian Vermont, dan pindah ke Palmyra, Ontario (sekarang Wayne) County, di Negara Bagian New York, ketika aku berada pada umurku yang kesepuluh, atau sekitar itu. Pada sekitar empat tahun setelah tibanya ayahku di Palmyra, dia pindah bersama keluarganya ke Manchester di Ontario County yang sama—

4 Keluarganya terdiri dari sebelas jiwa, yaitu, ayahku, Joseph Smith; ibuku, Lucy Smith (yang namanya, sebelum pernikahannya, adalah Mack, putri dari Solomon Mack); saudara laki-lakiku, Alvin (yang meninggal tanggal 19 November 1823, pada tahun ke-26 dari usianya), Hyrum, aku sendiri, Samuel Harrison, William, Don Carlos; dan saudara perempuanku, Sophronia, Catherine, dan Lucy.

5 Suatu saat pada tahun kedua setelah kepindahan kami ke Manchester, terjadilah di tempat di mana kami tinggal suatu keributan yang tidak lazim tentang pokok agama. Itu dimulai dengan penganut Metodis, tetapi segera menjadi umum di antara semua sekte di kawasan daerah itu. Tentunya, seluruh distrik kawasan itu tampaknya terpengaruh olehnya, dan khalayak ramai menggabungkan diri mereka ke kelompok agama yang berbeda, yang menciptakan kegemparan dan perpecahan yang tidak kecil di antara orang-orang, sebagian berseru, “Tengoklah, ke sini!” dan yang lain, “Tengoklah, ke sana!” Sebagian sedang berjuang untuk kepercayaan Metodis, sebagian untuk Presbiterian, dan sebagian untuk Baptis.

6 Karena, terlepas dari kasih besar yang orang insaf pada kepercayaan berbeda ini utarakan pada waktu keinsafan mereka, dan semangat besar yang dinyatakan oleh kelompok pendeta masing-masing, yang aktif dalam membangunkan dan mengobarkan pemandangan luar biasa ini akan perasaan keagamaan, supaya setiap orang diinsafkan, sebagaimana mereka senang menyebutnya, biarlah mereka bergabung dengan sekte apa yang mereka senangi; namun ketika orang insaf mulai memisah-misahkan diri, sebagian ke satu kelompok dan sebagian ke yang lain, terlihatlah bahwa perasaan yang tampaknya baik dari pendeta maupun juga orang insaf adalah lebih banyak berpura-pura daripada yang sebenarnya; karena pemandangan akan kekacauan hebat dan perasaan buruk mengiringi—pendeta berselisih pendapat melawan pendeta, dan orang insaf melawan orang insaf; sehingga segala perasaan baik mereka satu sama lain, jika mereka pernah memilikinya, sama sekali hilang dalam pertikaian perkataan dan perbantahan tentang pendapat.

7 Aku berada pada waktu ini pada umurku yang kelima belas. Keluarga ayahku ditarik masuk pada kepercayaan Presbiterian, dan empat dari mereka bergabung dengan gereja itu, yaitu, ibuku, Lucy; saudara laki-lakiku Hyrum dan Samuel Harrison; dan saudara perempuanku Sophronia.

8 Selama waktu keributan besar ini pikiranku tergugah pada pemikiran yang serius dan keresahan yang hebat; tetapi walaupun perasaanku mendalam dan sering perih, masihlah aku memisahkan diriku dari semua kelompok ini, walaupun aku menghadiri beberapa pertemuan mereka sesering kesempatan mengizinkan. Dalam pergerakan waktu pikiranku menjadi agak berpihak pada sekte Metodis, dan aku merasakan suatu hasrat untuk dipersatukan dengan mereka; tetapi sedemikian hebatnya kekacauan dan pertikaian di antara golongan agama yang berbeda itu, sehingga adalah tidak mungkin bagi seseorang yang muda seperti aku, dan demikian tidak mengenal orang-orang dan segala sesuatunya, untuk sampai pada kesimpulan tertentu siapa yang benar dan siapa yang keliru.

9 Pikiranku adakalanya teramat bergairah, seruan dan kegaduhan sedemikian hebatnya dan tak ada habisnya. Penganut Presbiterian paling bertekad keras menentang penganut Baptis dan penganut Metodis, dan menggunakan segala kekuatan baik dengan nalar maupun pengelabuan untuk membuktikan kekhilafan mereka, atau, setidaknya, untuk membuat orang-orang berpikir mereka berada dalam kekhilafan. Sebaliknya, penganut Baptis dan penganut Metodis pada giliran mereka dengan setara bersemangatnya dalam berikhtiar untuk menegakkan doktrin mereka sendiri dan menyanggah semua yang lain.

10 Di tengah perang perkataan dan kegaduhan pendapat, aku sering berkata kepada diriku: Apa yang mesti dilakukan? Siapa dari semua kelompok ini yang benar; atau, apakah mereka semua sama-sama salah? Jika siapa pun dari mereka adalah benar, yang manakah itu, dan bagaimana aku akan mengetahuinya?

11 Saat aku sedang bergumul di bawah kesulitan yang teramat hebat disebabkan oleh perbantahan kelompok penganut agama ini, aku pada suatu hari membaca Surat Yakobus, pasal pertama ayat kelima, yang berbunyi: Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit—, maka hal itu akan diberikan kepadanya.

12 Tidak pernah petikan tulisan suci apa pun datang dengan kekuatan yang lebih besar ke hati manusia daripada ini pada waktu ini ke hatiku. Itu tampaknya masuk dengan kekuatan yang besar ke dalam setiap perasaan hatiku. Aku memikirkannya lagi dan lagi, mengetahui bahwa jika siapa pun membutuhkan kebijaksanaan dari Allah, akulah itu; karena bagaimana bertindak aku tidak tahu, dan kecuali aku dapat memperoleh lebih banyak kebijaksanaan daripada yang aku pada waktu itu miliki, aku tidak akan pernah tahu; karena para pengajar agama dari sekte-sekte berbeda mengartikan petikan tulisan suci yang sama dengan demikian berbedanya sehingga menghancurkan segala rasa percaya dalam menangani pertanyaan itu melalui pertimbangan terhadap Alkitab.

13 Pada akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa aku mesti apakah tetap dalam kegelapan dan kekacauan, atau kalau tidak aku mesti melakukan sebagaimana Yakobus arahkan, yaitu, meminta kepada Allah. Aku pada akhirnya sampai pada kebulatan tekad untuk “meminta kepada Allah,” menyimpulkan bahwa jika Dia memberikan kebijaksanaan kepada mereka yang kekurangan kebijaksanaan, dan akan memberikan dengan murah hati, dan tidak membangkit-bangkit, bolehlah aku berani coba.

14 Jadi, selaras dengan hal ini, kebulatan tekadku untuk meminta kepada Allah, aku pergi ke hutan untuk melakukan usaha itu. Adalah di pagi hari pada suatu hari yang indah, yang terang, di awal musim semi tahun seribu delapan ratus dan dua puluh. Adalah pertama kalinya dalam hidupku bahwa aku telah melakukan usaha seperti itu, karena di tengah segala kegelisahanku aku belum pernah sampai saat itu melakukan usaha untuk berdoa dengan bersuara.

15 Setelah aku mengasingkan diri ke tempat yang telah aku sebelumnya rancang untuk pergi, setelah melihat di sekitarku, dan mendapati diriku seorang diri, aku berlutut dan mulai menyampaikan hasrat hatiku kepada Allah. Aku baru saja melakukan demikian, ketika dengan segera aku dicekam oleh suatu kekuatan yang seutuhnya menguasaiku, dan memiliki pengaruh yang demikian mencengangkan ke atas diriku yang mengikat lidahku sehingga aku tidak dapat berbicara. Kegelapan yang pekat berkumpul di sekitarku, dan tampaknya bagiku untuk sesaat seolah-olah aku terhukum untuk penghancuran yang tiba-tiba.

16 Tetapi, mengerahkan segala kekuatanku untuk meminta kepada Allah untuk membebaskanku dari kekuatan musuh ini yang telah mencekamku, dan pada saat yang tepat ketika aku siap untuk tenggelam ke dalam keputusasaan dan memasrahkan diriku pada kehancuran—bukan pada keruntuhan khayalan, tetapi pada kekuatan makhluk sebenarnya dari dunia yang tak kelihatan, yang memiliki kekuatan yang sedemikian menakjubkannya seperti yang tidak pernah sebelumnya aku rasakan pada makhluk apa pun—tepat pada saat kegentaran yang hebat ini, aku melihat seberkas tiang cahaya persis di atas kepalaku, melebihi kecemerlangan matahari, yang turun secara bertahap sampai jatuh ke atas diriku.

17 Segera setelah itu tampak aku mendapati diriku dibebaskan dari musuh yang mengekangku. Ketika cahaya itu berhenti di atas diriku aku melihat dua Sosok, yang kecemerlangan dan kemuliaan Mereka tak teruraikan, berdiri di atas diriku di udara. Salah seorang dari Mereka berfirman kepadaku, memanggilku dengan nama dan berfirman, menunjuk kepada yang lain—Inilah Putra Terkasih-Ku. Dengarlah Dia!

18 Sasaranku pergi bertanya kepada Tuhan adalah untuk mengetahui yang mana dari semua sekte itu yang benar, agar aku boleh mengetahui ke mana harus bergabung. Segera, oleh karena itu, setelah aku memperoleh penguasaan atas diriku, sehingga sanggup untuk berbicara, aku bertanya kepada Sosok-Sosok yang berdiri di atas diriku dalam cahaya itu, yang mana dari semua sekte itu yang benar (karena pada waktu ini tidak pernah masuk ke dalam hatiku bahwa semuanya adalah keliru)—dan yang dengannya aku hendaknya bergabung.

19 Aku dijawab bahwa aku mesti tidak bergabung dengan yang mana pun darinya, karena semuanya keliru; dan Sosok yang menyapaku berfirman bahwa segala pernyataan kepercayaan mereka adalah kekejian dalam pandangan-Nya; bahwa para penganut itu semuanya busuk; bahwa: “mereka mendekat kepada-Ku dengan bibir mereka, tetapi hati mereka jauh dari-Ku, mereka mengajarkan sebagai doktrin perintah-perintah manusia, yang memiliki bentuk keallahan, tetapi mereka menyangkal kuasa darinya.”

20 Dia kembali melarangku untuk bergabung dengan yang mana pun darinya; dan banyak hal lain Dia firmankan kepadaku, yang tidak dapat aku tuliskan pada waktu ini. Ketika aku sadar diri lagi, aku mendapati diriku terlentang, memandang ke langit. Ketika cahaya itu telah pergi, aku tidak memiliki kekuatan; tetapi segera setelah pulih hingga suatu tingkat tertentu, aku pulang ke rumah. Dan ketika aku bersandar pada tungku perapian, ibu bertanya apa masalahnya. Aku menyahut, “Tidak apa-apa, semuanya baik—aku cukup baik.” Aku kemudian berkata kepada ibuku, “Aku telah mengetahui untuk diriku bahwa Presbiterianisme tidaklah benar.” Tampaknya seakan-akan lawan mengetahui, pada suatu periode sangat awal dari kehidupanku, bahwa aku ditakdirkan untuk mencuat sebagai pengganggu dan pengusik kerajaannya; kalau tidak mengapa mesti kuasa kegelapan bergabung melawanku? Mengapa pertentangan dan penganiayaan yang timbul terhadapku, hampir pada masa kecilku?

Beberapa pengkhotbah dan penganut agama yang lain menolak laporan tentang Penglihatan Pertama—Penganiayaan ditimpakan ke atas diri Joseph Smith—Dia bersaksi tentang kenyataan penglihatan itu. (Ayat 21–26.)

21 Beberapa hari setelah aku memperoleh penglihatan ini, aku secara kebetulan bersama dengan salah seorang pengkhotbah Metodis, yang sangat aktif dalam keributan agama yang disebutkan sebelumnya; dan, bercakap-cakap dengannya tentang pokok agama, aku mengambil kesempatan untuk memberinya laporan tentang penglihatan yang telah aku peroleh. Aku teramat terkejut dengan perilakunya; dia bukan saja menganggap ringan pemberitahuanku, tetapi dengan sikap memandang rendah yang amat sangat, mengatakan itu semua dari iblis, bahwa tidak ada hal-hal demikian seperti penglihatan atau wahyu pada zaman ini; bahwa segala hal seperti itu telah berhenti bersama para rasul, dan bahwa tidak akan pernah ada lagi darinya.

22 Aku segera mendapati, bagaimanapun, bahwa penceritaan kisahku itu telah membangkitkan banyak prasangka terhadapku di antara penganut agama, dan merupakan penyebab dari penganiayaan hebat, yang terus meningkat; dan walaupun aku adalah seorang anak laki-laki yang tak dikenal, hanya berusia antara empat belas sampai lima belas tahun, dan keadaanku dalam kehidupan sedemikian rupa sehingga menjadikan seorang anak laki-laki yang tidak ada pentingnya di dunia, namun orang-orang dengan kedudukan tinggi akan memberi perhatian cukup untuk membangkitkan pendapat umum menentangku, dan menimbulkan penganiayaan yang pahit; dan ini adalah biasa di antara semua sekte—semua bersatu untuk menganiayaku.

23 Itu memberiku pemikiran yang serius pada waktu itu, dan sering terjadi sejak itu, betapa sangat anehnya bahwa seorang anak laki-laki yang tak dikenal, yang berusia sedikit di atas empat belas tahun, dan seorang, pula, yang terhukum untuk keperluan mendapatkan nafkah yang tak memadai melalui kerja hariannya, mesti dianggap sosok yang cukup berkepentingan untuk menarik perhatian orang hebat dari sekte-sekte yang paling populer pada masa itu, dan dengan suatu cara untuk menimbulkan dalam diri mereka semangat penganiayaan dan pencacimakian yang paling pahit. Tetapi aneh atau tidak, demikianlah adanya, dan itu sering menjadi penyebab dukacita hebat bagi diriku.

24 Bagaimanapun, itu adalah walaupun demikian sebuah fakta bahwa aku telah melihat suatu penglihatan. Aku telah berpikir sejak itu, bahwa aku merasa amat seperti Paulus, ketika dia membuat pembelaannya di hadapan Raja Agripa, dan menuturkan laporan tentang penglihatan yang dia peroleh ketika dia melihat seberkas cahaya, dan mendengar sebuah suara; tetapi tetap saja hanya ada sedikit yang memercayainya; sebagian mengatakan dia tidak jujur, yang lain mengatakan dia gila; dan dia diolok-olok dan dicaci maki. Tetapi semua ini tidak menghancurkan kenyataan akan penglihatannya. Dia telah melihat suatu penglihatan, dia tahu dia telah melihatnya, dan segala penganiayaan di kolong langit tidak dapat menjadikannya berbeda; dan walaupun mereka akan menganiayanya sampai mati, namun dia tahu, dan akan tahu sampai napas terakhirnya, bahwa dia telah melihat seberkas cahaya maupun juga mendengar sebuah suara berbicara kepadanya, dan seluruh dunia tidak dapat menjadikan dia berpikir atau percaya hal yang berbeda.

25 Demikianlah adanya denganku. Aku telah dengan sebenarnya melihat seberkas cahaya, dan di tengah cahaya itu aku melihat dua Sosok, dan Mereka dalam kenyataannya berfirman kepadaku; dan walaupun aku dibenci dan dianiaya karena mengatakan bahwa aku telah melihat suatu penglihatan, namun itu adalah benar; dan saat mereka menganiayaku, mencacimakiku, dan berbicara segala macam yang jahat menentangku dengan palsu karena mengatakan demikian, aku dituntun untuk mengatakan dalam hatiku: Mengapa menganiayaku karena menceritakan kebenaran? Aku telah dengan sebenarnya melihat suatu penglihatan; dan siapakah aku sehingga aku dapat menahan Allah, atau mengapa dunia berpikir untuk membuat aku menyangkal apa yang telah aku sebenarnya lihat? Karena aku telah melihat suatu penglihatan; aku mengetahuinya, dan aku tahu bahwa Allah mengetahuinya, dan aku tidak dapat menyangkalnya, tidak juga berani aku melakukannya; setidaknya aku tahu bahwa dengan melakukan demikian aku akan bersalah terhadap Allah, dan datang di bawah penghukuman.

26 Aku sekarang telah mendapatkan pikiranku terpuaskan sejauh berkenaan dengan dunia kesektean—bahwa bukanlah kewajibanku untuk bergabung dengan yang mana pun darinya, tetapi untuk melanjutkan sebagaimana aku adanya sampai lebih lanjut diarahkan. Aku telah menemukan kesaksian Yakobus adalah benar—bahwa seseorang yang kekurangan kebijaksanaan boleh meminta kepada Allah, dan mendapatkan, dan tidak dibangkit-bangkitkan.

Moroni menampakkan diri kepada Joseph Smith—Nama Joseph akan dikenal dengan baik dan jahat di antara segala bangsa—Moroni memberi tahu dia tentang Kitab Mormon dan tentang penghakiman Tuhan yang akan datang dan mengutip banyak tulisan suci—Tempat persembunyian lempengan-lempengan emas diungkapkan—Moroni melanjutkan untuk memberi petunjuk kepada Nabi. (Ayat 27–54.)

27 Aku melanjutkan untuk mengerjakan pekerjaanku sehari-hari dalam kehidupan sampai tanggal dua puluh satu September, seribu delapan ratus dan dua puluh tiga, sepanjang waktu menderita penganiayaan hebat dari tangan segala golongan orang, baik yang keagamaan maupun yang bukan keagamaan, karena aku melanjutkan untuk menandaskan bahwa aku telah melihat suatu penglihatan.

28 Selama kurun waktu yang berselang antara waktu aku memperoleh penglihatan sampai tahun seribu delapan ratus dan dua puluh tiga—setelah dilarang untuk bergabung dengan yang mana pun dari sekte-sekte keagamaan pada masa itu, dan berumur sangat muda, dan dianiaya oleh mereka yang seharusnya menjadi teman-temanku dan memperlakukanku dengan baik, dan jika mereka mengira aku teperdaya seharusnya berikhtiar dengan suatu cara yang tepat dan penuh kasih sayang untuk memulihkanku kembali—aku ditinggalkan menghadapi segala jenis godaan; dan, berbaur bersama segala lapisan masyarakat, aku kerap kali jatuh ke dalam kekhilafan yang bodoh, dan memperlihatkan kelemahan orang muda, dan kekurangan sifat manusia; yang, aku menyesal untuk mengatakan, menuntunku ke dalam berbagai ragam godaan, bersalah pada pandangan Allah. Dengan membuat pengakuan ini, tak seorang pun perlu mengira aku bersalah akan dosa-dosa yang besar atau sangat jahat. Watak untuk berbuat demikian tidak pernah ada dalam sifatku. Tetapi aku bersalah akan kecerobohan, dan kadang-kadang bersahabat dengan kelompok jenaka, dsb., tidak selaras dengan karakter yang seharusnya dipertahankan oleh orang yang dipanggil oleh Allah seperti aku adanya. Tetapi ini tidak akan tampak sangat aneh bagi siapa pun yang mengingat kembali masa mudaku, dan kenal dengan perangai periang alamiahku.

29 Sebagai akibat dari hal-hal ini, aku sering merasa dihukum karena kelemahan dan ketidaksempurnaanku; ketika, pada malam tanggal dua puluh satu September yang disebutkan di atas, setelah aku pergi ke pembaringanku untuk malam itu, aku membawa diriku dalam doa dan permohonan kepada Allah Yang Mahakuasa untuk pengampunan atas segala dosa dan kebodohanku, dan juga untuk suatu pernyataan bagiku, agar aku boleh mengetahui tentang keadaan dan kedudukanku di hadapan-Nya; karena aku memiliki rasa percaya penuh dalam mendapatkan suatu pernyataan ilahi, karena aku sebelumnya memperolehnya.

30 Saat aku demikian dalam tindakan meminta kepada Allah, aku melihat seberkas cahaya yang tampak di dalam ruanganku, yang terus meningkat sampai ruangan itu lebih terang daripada saat tengah hari, ketika dengan segera suatu sosok menampakkan diri di sisi pembaringanku, berdiri di udara, karena kakinya tidak menyentuh lantai.

31 Dia mengenakan jubah longgar yang paling hebat putihnya. Putihnya melampaui apa pun yang duniawi yang pernah aku lihat; tidak juga aku percaya bahwa apa pun yang duniawi dapat dibuat untuk tampak demikian amat putih dan gemerlap. Tangannya telanjang, dan lengannya juga, sedikit di atas pergelangan tangan; demikian halnya, juga, kakinya telanjang, seperti halnya tungkainya, sedikit di atas pergelangan kaki. Kepala dan lehernya juga terbuka. Aku dapat melihat bahwa dia tidak mengenakan pakaian lain selain jubah ini, karena terbuka, sehingga aku dapat melihat ke arah dadanya.

32 Bukan saja jubahnya amat putih, tetapi seluruh sosoknya mulia melampaui uraian, dan air mukanya benar-benar bagaikan kilat. Ruangan itu amat terang, tetapi tidak demikian sangat cemerlangnya seperti langsung di sekitar sosoknya. Ketika aku pertama memandangnya, aku takut; tetapi rasa takut itu segera meninggalkanku.

33 Dia memanggilku dengan nama, dan berkata kepadaku bahwa dia adalah seorang utusan yang diutus dari hadirat Allah kepadaku, dan bahwa namanya adalah Moroni; bahwa Allah memiliki suatu pekerjaan untuk aku lakukan; dan bahwa namaku akan dikenal dengan baik dan jahat di antara segala bangsa, kaum, dan bahasa, atau bahwa itu akan secara baik maupun jahat dibicarakan di antara semua orang.

34 Dia mengatakan ada sebuah kitab tersimpan, ditulis di atas lempengan-lempengan emas, memberikan sebuah laporan tentang penghuni terdahulu benua ini, dan sumber dari mana mereka terlahirkan. Dia juga mengatakan bahwa kegenapan Injil abadi termuat di dalamnya, sebagaimana disampaikan oleh Juruselamat kepada penghuni zaman dahulu;

35 Juga, bahwa ada dua batu pada bingkai lengkung perak—dan batu-batu ini, diikatkan pada sebuah lempengan dada, merupakan apa yang disebut Urim dan Tumim—tersimpan bersama lempengan-lempengan; dan kepemilikan dan penggunaan batu-batu ini adalah yang menjadikan “pelihat” pada zaman kuno atau terdahulu; dan bahwa Allah telah mempersiapkannya untuk tujuan menerjemahkan kitab itu.

36 Setelah memberi tahu aku hal-hal ini, dia mulai mengutip nubuat-nubuat dari Perjanjian Lama. Dia pertama mengutip sebagian dari pasal ketiga Maleakhi; dan dia mengutip juga pasal keempat atau terakhir dari nubuat yang sama, walaupun dengan sedikit perbedaan dari cara yang terbaca dalam Alkitab kita. Alih-alih mengutip ayat pertama sebagaimana terbaca dalam kitab-kitab kita, dia mengutipnya demikian:

37 Karena lihatlah, harinya datang yang akan membakar bagaikan perapian, dan semua yang sombong, ya, dan semua yang melakukan kejahatan akan terbakar bagaikan tunggul jerami; karena itu yang datang akan membakar mereka, firman Tuhan Semesta Alam, sehingga akan meninggalkan mereka tanpa akar tidak juga cabang.

38 Dan lagi, dia mengutip ayat kelimanya demikian: Lihatlah, Aku akan mengungkapkan kepadamu Imamat, melalui tangan Elia sang nabi, sebelum kedatangan hari Tuhan yang besar dan mengerikan.

39 Dia juga mengutip ayat berikutnya dengan berbeda: Dan dia akan menanamkan dalam hati anak-anak janji-janji yang dibuat kepada leluhur, dan hati anak-anak akan berpaling kepada leluhur mereka. Jika tidak demikian, seluruh bumi akan sepenuhnya dilenyapkan pada kedatangan-Nya.

40 Di samping ini, dia mengutip pasal kesebelas Yesaya, mengatakan bahwa itu hampir digenapi. Dia mengutip juga pasal ketiga Kisah Para Rasul, ayat kedua puluh dua dan kedua puluh tiga, tepat sebagaimana adanya dalam Perjanjian Baru kita. Dia mengatakan bahwa nabi itu adalah Kristus; tetapi masanya belumlah datang ketika “mereka yang tidak mau mendengar suara-Nya akan disingkirkan dari antara orang-orang,” tetapi segera akan datang.

41 Dia juga mengutip pasal kedua Yoel, dari ayat kedua puluh delapan sampai yang terakhir. Dia juga berkata bahwa ini belumlah digenapi, tetapi akan segera terjadi. Dan dia lebih lanjut menyatakan bahwa kegenapan orang-orang bukan Israel akan segera datang. Dia mengutip banyak petikan lain dari tulisan suci, dan menyampaikan banyak penjelasan yang tidak dapat disebutkan di sini.

42 Lagi, dia memberi tahu aku, bahwa ketika aku memperoleh lempengan-lempengan itu yang mengenainya telah dia bicarakan—karena waktu ketika itu akan didapatkan belum digenapi—aku hendaknya tidak memperlihatkannya kepada siapa pun; tidak juga lempengan dada itu bersama Urim dan Tumim; selain kepada mereka kepada siapa aku akan diperintahkan untuk memperlihatkannya; jika aku melakukannya aku akan dihancurkan. Sementara dia sedang bercakap-cakap denganku tentang lempengan-lempengan itu, penglihatan dibukakan pada pikiranku sehingga aku dapat melihat tempat di mana lempengan-lempengan itu tersimpan, dan itu dengan sedemikian jelas dan terangnya sehingga aku mengenali tempat itu lagi ketika aku mengunjunginya.

43 Setelah komunikasi ini, aku melihat cahaya di dalam ruangan mulai berkumpul dengan segera di sekitar sosok dari dia yang telah berbicara kepadaku, dan itu berlanjut demikian sampai ruangan ditinggalkan gelap lagi, kecuali tepat di sekitarnya; ketika, dengan sekejap aku melihat, seakan-akan, suatu lorong terbuka secara langsung ke dalam surga, dan dia naik sampai dia sama sekali menghilang, dan ruangan ditinggalkan seperti sebelum cahaya surgawi ini membuat penampakannya.

44 Aku berbaring termenung akan keganjilan pemandangan itu, dan teramat takjub pada apa yang telah diberitahukan kepadaku oleh utusan yang luar biasa ini; ketika, di tengah meditasiku, aku dengan tiba-tiba mendapati bahwa ruanganku mulai lagi menjadi diterangi, dan dalam sekejap, seakan-akan, utusan surgawi yang sama berada lagi di dekat sisi pembaringanku.

45 Dia memulai, dan kembali menuturkan hal-hal yang persis sama yang telah dia lakukan pada kunjungannya yang pertama, tanpa perbedaan sedikit pun; yang setelah dilakukan, dia memberi tahu aku tentang penghakiman besar yang akan datang ke atas bumi, dengan kemusnahan hebat melalui bencana kelaparan, pedang, dan sampar; dan bahwa penghakiman yang memilukan ini akan datang ke atas bumi pada angkatan ini. Setelah menuturkan hal-hal ini, dia naik lagi seperti yang telah dia lakukan sebelumnya.

46 Pada waktu ini, sedemikian dalamnya kesan yang dibuat dalam pikiranku, sehingga keinginan tidur telah lenyap dari mataku, dan aku berbaring diliputi ketercengangan pada apa yang telah aku lihat maupun juga dengar. Tetapi alangkah terkejutnya aku ketika aku melihat lagi utusan yang sama di sisi pembaringanku, dan mendengar dia menceritakan kembali atau mengulangi sekali lagi kepadaku apa yang sama seperti sebelumnya; dan menambahkan suatu peringatan kepadaku, memberi tahu aku bahwa Setan akan mencoba untuk menggodaku (sebagai akibat dari keadaan melarat keluarga ayahku), untuk memperoleh lempengan-lempengan itu untuk tujuan menjadi kaya. Ini dia larang aku, mengatakan bahwa aku mesti tidak memiliki sasaran lain dalam pemikiran dalam memperoleh lempengan-lempengan itu selain untuk memuliakan Allah, dan mesti tidak dipengaruhi oleh motif lain apa pun selain untuk membangun kerajaan-Nya; jika tidak aku tidak dapat memperolehnya.

47 Setelah kunjungan ketiga ini, dia kembali naik ke dalam surga seperti sebelumnya, dan aku ditinggalkan lagi untuk merenung tentang keanehan dari apa yang baru saja telah aku alami; ketika hampir segera setelah utusan surgawi itu naik dariku untuk ketiga kalinya, ayam jantan berkokok, dan aku mendapati bahwa siang sedang menghampiri, sehingga pembahasan kami mestilah telah memakan waktu seluruh malam itu.

48 Aku tak lama setelah itu bangkit dari pembaringanku, dan, seperti biasa, pergi pada kerja yang perlu pada hari itu; tetapi, saat berusaha untuk bekerja seperti pada waktu-waktu yang lain, aku mendapati kekuatanku demikian terkuras sehingga menjadikanku sama sekali tak sanggup. Ayahku, yang sedang bekerja bersamaku, menemukan sesuatu yang tidak beres denganku, dan memberi tahu aku untuk pulang ke rumah. Aku mulai dengan maksud untuk pulang ke rumah; tetapi, dalam berusaha untuk menyeberangi pagar dari ladang di mana kami berada, kekuatanku sama sekali gagal menopangku, dan aku jatuh tak berdaya di atas tanah, dan untuk sesaat sungguh tidak sadar tentang apa pun.

49 Hal pertama yang dapat aku ingat kembali adalah sebuah suara yang berbicara kepadaku, memanggilku dengan nama. Aku menengadah, dan melihat utusan yang sama berdiri di atas kepalaku, dikelilingi oleh cahaya seperti sebelumnya. Dia kemudian menuturkan lagi kepadaku semua yang telah dia tuturkan kepadaku malam sebelumnya, dan memerintahkanku untuk pergi kepada ayahku dan menceritakan kepadanya tentang penglihatan dan perintah-perintah yang telah aku terima.

50 Aku patuh; aku kembali kepada ayahku di ladang, dan menceritakan kembali seluruh masalah kepadanya. Dia menyahutiku bahwa itu dari Allah, dan memberi tahu aku untuk pergi dan melakukan sebagaimana diperintahkan oleh utusan itu. Aku meninggalkan ladang, dan pergi ke tempat di mana utusan itu telah memberi tahu aku lempengan-lempengan itu tersimpan; dan disebabkan oleh jernihnya penglihatan yang telah aku peroleh mengenainya, aku mengenali tempat itu seketika aku tiba di sana.

51 Tidak jauh dari desa Manchester, Ontario County, New York, ada sebuah bukit berukuran cukup besar, dan paling tinggi dari apa pun di lingkungan itu. Pada sisi barat bukit ini, tidak jauh dari puncaknya, di bawah sebuah batu berukuran cukup besar, terletak lempengan-lempengan itu, disimpan di dalam sebuah kotak batu. Batu ini tebal dan membulat di tengah pada sisi atasnya, dan menipis ke arah pinggirnya, sehingga bagian tengah darinya kelihatan di atas tanah, tetapi pinggirnya di seputarnya tertutup dengan tanah.

52 Setelah menyingkirkan tanah, aku mendapatkan sebuah pengungkit, yang aku pasang di bawah pinggiran batu itu, dan dengan sedikit pengerahan upaya mengangkatnya. Aku melihat ke dalam, dan di sana memang aku melihat lempengan-lempengan itu, Urim dan Tumim, dan lempengan dada, sebagaimana dinyatakan oleh utusan itu. Kotak yang di dalamnya itu terletak dibentuk dengan meletakkan batu-batu bersama dalam sejenis semen. Di bagian terbawah kotak diletakkan dua batu menyilangi kotak itu, dan pada batu-batu ini terletak lempengan-lempengan itu dan benda-benda lain bersamanya.

53 Aku membuat upaya untuk mengeluarkannya, tetapi dilarang oleh utusan itu, dan diberi tahu lagi bahwa waktu untuk menampilkannya belumlah tiba, tidak juga akan tiba, sampai empat tahun sejak waktu itu; tetapi dia memberi tahu aku bahwa aku hendaknya datang ke tempat itu tepat dalam satu tahun sejak waktu itu, dan bahwa dia di sana akan bertemu denganku, dan bahwa aku mesti melanjutkan untuk melakukannya sampai waktunya akan tiba untuk mendapatkan lempengan-lempengan itu.

54 Sesuai dengan itu, sebagaimana aku telah diperintahkan, aku pergi pada akhir tiap tahun, dan pada tiap kalinya aku menemukan utusan yang sama di sana, dan menerima petunjuk dan kecerdasan darinya pada tiap pembahasan kami, perihal apa yang akan Tuhan lakukan, dan bagaimana dan dengan cara apa kerajaan-Nya mesti diselenggarakan pada zaman terakhir.

Joseph Smith menikahi Emma Hale—Dia menerima lempengan-lempengan emas dari Moroni dan menerjemahkan sebagian dari aksara itu—Martin Harris memperlihatkan aksara dan terjemahan kepada Profesor Anthon, yang mengatakan, “Aku tidak dapat membaca sebuah kitab yang termeterai.” (Ayat 55–65.)

55 Karena keadaan duniawi ayahku sangat terbatas, kami merasa perlu untuk bekerja dengan tangan kami, mengupahkan diri dengan kerja harian dan dengan cara lain, kapan pun kami dapat memperoleh kesempatan. Kadang-kadang kami berada di rumah, dan kadang-kadang di luar daerah, dan dengan kerja berkelanjutan dimungkinkan untuk memperoleh nafkah yang lumayan.

56 Pada tahun 1823 keluarga ayahku dihadapkan dengan suatu kesengsaraan yang hebat dengan kematian kakak tertuaku, Alvin. Pada bulan Oktober 1825, aku diupah oleh seorang pria tua terhormat bernama Josiah Stoal, yang tinggal di Chenango County, Negara Bagian New York. Dia telah mendengar sesuatu tentang tambang perak yang telah dibuka oleh orang-orang Spanyol di Harmony, Susquehanna County, Negara Bagian Pennsylvania; dan telah, sebelum pengupahanku olehnya, menggali, supaya, jika mungkin, menemukan tambang itu. Setelah aku pergi untuk tinggal bersamanya, dia mengambilku, dengan sisa buruhnya, untuk menggali tambang perak itu, di mana aku melanjutkan bekerja selama hampir sebulan, tanpa keberhasilan dalam pengupayaan kami, dan akhirnya aku meyakinkan pria tua terhormat itu untuk berhenti menggali mencarinya. Dari sini timbul cerita yang sangat umum tentang pernahnya aku menjadi seorang penggali harta.

57 Selama waktu ketika aku dipekerjakan demikian, aku ditempatkan untuk menumpang bersama Tuan Isaac Hale, dari tempat itu; di sanalah aku pertama melihat istriku (putrinya), Emma Hale. Pada tanggal 18 Januari 1827, kami menikah, sementara aku masih dipekerjakan dalam pelayanan bagi Tuan Stoal.

58 Disebabkan oleh perlanjutanku untuk bersikukuh bahwa aku telah melihat suatu penglihatan, penganiayaan masih mengikutiku, dan keluarga ayah istriku sangatlah menentang terhadap menikahnya kami. Aku, oleh karena itu, merasa perlu untuk membawanya ke tempat lain; sehingga kami pergi dan menikah di rumah Pejabat Hukum Lokal Tarbill, di South Bainbridge, Chenango County, New York. Segera setelah pernikahanku, aku meninggalkan tempat Tuan Stoal, dan pergi ke tempat ayahku, dan bertani bersamanya musim itu.

59 Pada akhirnya waktunya tiba untuk mendapatkan lempengan-lempengan, Urim dan Tumim, dan lempengan dada itu. Pada hari kedua puluh dua bulan September, seribu delapan ratus dan dua puluh tujuh, setelah pergi seperti biasa pada akhir tahun yang lain ke tempat di mana itu disimpan, utusan surgawi yang sama menyerahkannya kepadaku dengan tanggung jawab ini: bahwa aku hendaknya bertanggung jawab atasnya; bahwa jika aku akan membiarkannya lepas dengan sembrono, atau melalui kelalaian apa pun dariku, aku akan disingkirkan; tetapi bahwa jika aku akan menggunakan segala ikhtiarku untuk melindunginya, sampai dia, utusan itu, akan datang mengambilnya, itu akan dilindungi.

60 Aku segera mendapati alasan mengapa aku telah menerima perintah-perintah yang sedemikian ketatnya untuk menjaganya tetap aman, dan mengapa utusan itu berkata bahwa ketika aku telah melakukan apa yang dituntut dari tanganku, dia akan datang mengambilnya. Karena segera setelah diketahui bahwa aku memilikinya, pengerahan upaya yang paling dahsyat digunakan untuk memperolehnya dariku. Setiap tipu muslihat yang dapat diciptakan dikerahkan untuk tujuan itu. Penganiayaan menjadi lebih pahit dan hebat daripada sebelumnya, dan khalayak ramai berada dalam kesiagaan secara berkelanjutan untuk memperolehnya dariku jika mungkin. Tetapi dengan kebijaksanaan Allah, itu tetap aman dalam tanganku, sampai aku telah merampungkan melaluinya apa yang dituntut dari tanganku. Ketika, menurut rencana, utusan itu datang mengambilnya, aku menyerahkannya kepadanya; dan dia memilikinya dalam tanggung jawabnya sampai hari ini, hari kedua bulan Mei, seribu delapan ratus dan tiga puluh delapan.

61 Keributan itu, bagaimanapun, masih berlanjut, dan desas-desus dengan seribu lidahnya sepanjang waktu disibukkan dalam menyebarkan kebohongan tentang keluarga ayahku, dan tentang diriku. Jika aku mesti menuturkan seperseribu bagian darinya, itu akan mengisi berjilid-jilid buku. Penganiayaan, bagaimanapun, menjadi demikian tak tertanggungkan sehingga aku merasa perlu untuk meninggalkan Manchester, dan pergi bersama istriku ke Susquehanna County, di Negara Bagian Pennsylvania. Sementara mempersiapkan untuk berangkat—karena sangat miskin, dan penganiayaan sedemikian beratnya ke atas diri kami sehingga tidak ada kemungkinan bahwa kami akan pernah menjadi berbeda—di tengah kesengsaraan kami, kami menemukan seorang teman dalam diri seorang pria terhormat bernama Martin Harris, yang datang kepada kami dan memberiku lima puluh dolar untuk membantu kami dalam perjalanan kami. Tuan Harris adalah penduduk Kota Praja Palmyra, Wayne County, di Negara Bagian New York, dan petani yang dihormati.

62 Dengan bantuan yang tepat waktu ini aku dimungkinkan untuk menjangkau tempat tujuanku di Pennsylvania; dan segera setelah tibanya aku di sana aku mulai menyalin aksara dari lempengan-lempengan. Aku menyalin sejumlah besar darinya, dan melalui sarana Urim dan Tumim aku menerjemahkan sebagian darinya, yang aku lakukan antara waktu aku tiba di rumah ayah istriku, pada bulan Desember, dan bulan Februari berikutnya.

63 Suatu kali pada bulan Februari ini, Tuan Martin Harris yang telah disebutkan sebelumnya datang ke tempat kami, mengambil aksara yang telah aku salin dari lempengan-lempengan itu, dan berangkat dengannya ke Kota New York. Untuk apa yang terjadi yang berhubungan dengan dia dan aksara itu, aku merujuk pada catatannya sendiri tentang keadaan itu, sebagaimana dia menuturkannya kepadaku setelah kembalinya dia, yang adalah sebagai berikut:

64 “Aku pergi ke Kota New York, dan menunjukkan aksara yang telah diterjemahkan, dengan terjemahannya, kepada Profesor Charles Anthon, seorang pria terhormat yang termasyhur untuk pencapaian kesusastraannya. Profesor Anthon menyatakan bahwa terjemahan itu benar, bahkan lebih daripada apa pun yang sebelumnya telah dia lihat diterjemahkan dari bahasa Mesir. Aku kemudian memperlihatkan kepadanya apa yang belum diterjemahkan, dan dia mengatakan bahwa itu adalah bahasa Mesir, bahasa Kasdim, bahasa Asiria, dan bahasa Arab; dan dia mengatakan itu adalah aksara yang benar. Dia memberikanku selembar sertifikat, menegaskan kepada orang-orang Palmyra bahwa itu adalah aksara yang benar, dan bahwa terjemahan dari yang seperti itu sebagaimana yang telah diterjemahkan juga benar. Aku mengambil sertifikat itu dan menaruhnya ke dalam sakuku, dan baru saja akan meninggalkan rumah itu, ketika Tuan Anthon memanggilku kembali, dan menanyaiku bagaimana pemuda itu menemukan bahwa ada lempengan-lempengan emas di tempat di mana dia menemukannya. Aku menjawab bahwa seorang malaikat Allah telah mengungkapkannya kepadanya.

65 “Dia kemudian berkata kepadaku, ‘Biarlah aku melihat sertifikat itu.’ Aku sesuai dengan itu mengambilnya dari sakuku dan memberikannya kepada dia, lalu dia mengambilnya dan menyobeknya berkeping-keping, mengatakan bahwa tidak ada hal yang seperti itu sekarang seperti pelayanan para malaikat, dan bahwa jika aku mau membawa lempengan-lempengan itu kepadanya dia akan menerjemahkannya. Aku memberi tahu dia bahwa sebagian dari lempengan-lempengan itu termeterai, dan bahwa aku dilarang untuk membawanya. Dia menyahut, ‘Aku tidak dapat membaca sebuah kitab yang termeterai.’ Aku meninggalkannya dan pergi kepada Dr. Mitchell, yang membenarkan apa yang telah Profesor Anthon katakan perihal baik aksara maupun terjemahan itu.”

· · · · · · ·

Oliver Cowdery melayani sebagai tenaga penulis dalam menerjemahkan Kitab Mormon—Joseph dan Oliver menerima Imamat Harun dari Yohanes Pembaptis—Mereka dibaptis, ditahbiskan, dan menerima roh nubuat. (Ayat 66–75.)

66 Pada hari ke-5 bulan April 1829, Oliver Cowdery datang ke rumahku, yang sampai waktu itu belum pernah aku melihatnya. Dia menyatakan kepadaku bahwa karena sedang mengajar sekolah di lingkungan di mana ayahku bertempat tinggal, dan ayahku adalah salah seorang dari mereka yang mengirim ke sekolah itu, dia pergi menumpang untuk suatu masa di rumahnya, dan sementara di sana keluarga itu menuturkan kepadanya keadaan telah diterimanya lempengan-lempengan olehku, dan sesuai dengan itu dia telah datang untuk mengajukan pertanyaan kepadaku.

67 Dua hari setelah tibanya Tuan Cowdery (yang adalah tanggal 7 April) aku mulai menerjemahkan Kitab Mormon, dan dia mulai menulis bagiku.

· · · · · · ·

68 Kami masih melanjutkan pekerjaan penerjemahan, ketika, pada bulan yang berikut (Mei 1829), kami pada suatu hari tertentu pergi ke hutan untuk berdoa dan bertanya kepada Tuhan perihal baptisan untuk pengampunan akan dosa-dosa, yang kami temukan disebut-sebut dalam penerjemahan lempengan-lempengan itu. Sementara kami disibukkan demikian, berdoa dan meminta kepada Tuhan, seorang utusan dari surga turun dalam awan cahaya, dan setelah menumpangkan tangannya ke atas diri kami, dia menahbiskan kami, mengatakan:

69 Ke atas dirimu para hamba sesamaku, dalam nama Mesias, aku menganugerahkan Imamat Harun, yang memegang kunci-kunci pelayanan para malaikat, dan Injil pertobatan, dan baptisan melalui pencelupan untuk pengampunan akan dosa-dosa; dan ini tidak akan pernah diambil lagi dari bumi sampai para putra Lewi mempersembahkan lagi suatu persembahan bagi Tuhan dalam kesalehan.

70 Dia mengatakan Imamat Harun ini tidak memiliki kuasa penumpangan tangan untuk karunia Roh Kudus, tetapi bahwa ini akan dianugerahkan ke atas diri kami setelah ini; dan dia memerintahkan kami untuk pergi dan dibaptis, dan memberi kami arahan bahwa aku hendaknya membaptis Oliver Cowdery, dan bahwa sesudahnya dia hendaknya membaptisku.

71 Sesuai dengan itu kami pergi dan dibaptis. Aku membaptisnya terlebih dahulu, dan sesudahnya dia membaptisku—yang setelahnya aku menumpangkan tanganku ke atas kepalanya dan menahbiskannya pada Imamat Harun, dan sesudahnya dia menumpangkan tangannya ke atas diriku dan menahbiskanku pada Imamat yang sama—karena demikianlah kami diperintahkan.*

72 Utusan yang mengunjungi kami pada kejadian ini dan menganugerahkan Imamat ini ke atas diri kami, mengatakan bahwa namanya adalah Yohanes, orang yang sama yang disebut Yohanes Pembaptis dalam Perjanjian Baru, dan bahwa dia bertindak di bawah arahan Petrus, Yakobus, dan Yohanes, yang memegang kunci-kunci Imamat Melkisedek, yang Imamat itu, dia katakan, akanlah pada waktu yang tepat dianugerahkan ke atas diri kami, dan bahwa aku akan disebut Penatua pertama Gereja, dan dia (Oliver Cowdery) yang kedua. Itu terjadi pada hari kelima belas bulan Mei 1829, bahwa kami ditahbiskan di bawah tangan utusan ini, dan dibaptis.

73 Dengan segera pada kemunculan kami keluar dari air setelah kami dibaptis, kami mengalami berkat-berkat yang besar dan mulia dari Bapa Surgawi kita. Segera setelah aku membaptis Oliver Cowdery, Roh Kudus turun ke atas dirinya, dan dia berdiri dan bernubuat banyak hal yang tak lama lagi akan terjadi. Dan lagi, sesegera setelah aku dibaptis olehnya, aku juga memperoleh roh nubuat, ketika, berdiri, aku bernubuat mengenai berdirinya Gereja ini, dan banyak hal lain yang berhubungan dengan Gereja, dan angkatan anak-anak manusia ini. Kami dipenuhi dengan Roh Kudus, dan bersukacita di dalam Allah keselamatan kita.

74 Pikiran kami sekarang diterangi, kami mulai merasakan tulisan suci terbuka bagi pengertian kami, dan arti dan maksud sejati dari petikannya yang lebih misterius diungkapkan kepada kami dalam suatu cara yang tidak pernah dapat kami capai sebelum ini, tidak juga sebelumnya pernah terpikirkan. Sementara itu kami dipaksa untuk menyimpan rahasia keadaan tentang telah diterimanya Imamat dan telah dibaptisnya kami, disebabkan oleh semangat penganiayaan yang telah menyatakan diri di lingkungan itu.

75 Kami telah diancam dengan dikeroyok, dari waktu ke waktu, dan ini, pula, oleh penganut agama. Dan maksud mereka untuk mengeroyok kami hanyalah diurungkan oleh pengaruh keluarga ayah istriku (di bawah pemeliharaan baik Ilahi), yang telah menjadi sangat ramah terhadapku, dan yang menentang gerombolan perusuh, dan rela bahwa aku akan diperkenankan untuk melanjutkan pekerjaan penerjemahan tanpa penyelaan; dan oleh karena itu menawarkan dan menjanjikan kepada kami perlindungan dari segala tindakan tidak sah, sejauh mereka mampu.

  • Oliver Cowdery menguraikan peristiwa ini demikian: “Inilah hari-hari yang tidak pernah akan dilupakan—duduk di bawah bunyi suara yang didikte oleh ilham dari surga, membangunkan rasa syukur terbesar di dada ini! Hari demi hari saya melanjutkan, tak tersela, untuk menulis dari mulutnya, ketika dia menerjemahkan dengan Urim dan Tumim, atau, sebagaimana orang-orang Nefi akan katakan, ‘Penafsir,’ sejarah atau catatan yang disebut ‘Kitab Mormon.’

    “Untuk menyebutkan, bahkan dalam beberapa kata, catatan menarik yang diberikan oleh Mormon dan putranya yang setia, Moroni, tentang suatu umat yang dahulunya dikasihi dan berkenan bagi surga, akan melampaui rancangan saya yang sekarang; saya akan oleh karena itu menangguhkan ini ke suatu periode mendatang, dan, sebagaimana saya katakan dalam prakata, mengarah lebih langsung pada beberapa insiden yang erat berhubungan dengan berdirinya Gereja ini, yang boleh jadi memikat bagi beberapa ribu orang yang telah melangkah ke depan, di tengah kerutan dahi orang fanatik dan fitnah orang munafik, dan memeluk Injil Kristus.

    “Tak seorang pun, dalam pikiran sadar mereka, dapat menerjemahkan dan menulis arahan yang diberikan kepada orang-orang Nefi dari mulut Juruselamat, tentang cara yang tepat yang melaluinya manusia hendaknya membangun Gereja-Nya, dan khususnya ketika kebusukan telah menyebarkan suatu ketidakpastian atas segala bentuk dan sistem yang dipraktikkan di antara manusia, tanpa menghasratkan hak istimewa untuk memperlihatkan kerelaan hati dengan dikuburkan dalam kuburan yang cair, untuk menjawab ‘suara hati yang baik melalui kebangkitan Yesus Kristus.’

    “Setelah menulis laporan yang diberikan tentang pelayanan Juruselamat kepada sisa benih keturunan Yakub, di atas benua ini, adalah mudah untuk dilihat, seperti yang nabi katakan itu akan terjadi, bahwa kegelapan menutupi bumi dan kegelapan pekat pada pikiran orang-orang. Dengan memikirkan lebih lanjut adalah mudah untuk dilihat bahwa di tengah pertikaian dan hiruk-pikuk yang hebat mengenai agama, tak seorang pun memiliki wewenang dari Allah untuk melaksanakan tata cara-tata cara Injil. Karena pertanyaan itu mungkin diajukan, apakah orang-orang memiliki wewenang untuk melayani dalam nama Kristus, yang menyangkal wahyu-wahyu, bilamana kesaksian tentang-Nya tidak kurang daripada roh nubuat, dan agama-Nya didasarkan, dibangun, dan didukung oleh wahyu-wahyu langsung, pada segala zaman dunia ketika Dia telah memiliki suatu umat di atas bumi? Jika fakta ini dikuburkan, dan dengan hati-hati disembunyikan oleh orang-orang yang kelicinannya akan ada dalam bahaya jika sekali saja diizinkan untuk bersinar di muka orang-orang, itu tidaklah lagi untuk kami; dan kami hanya menunggu perintahnya diberikan ‘Bangkit dan dibaptislah.’

    “Ini tidaklah lama dihasratkan sebelum dijadikan nyata. Tuhan, yang kaya dalam belas kasihan, dan senantiasa bersedia untuk menjawab doa yang konsisten dari yang rendah hati, setelah kami meminta kepada-Nya dalam suatu cara yang kuat, jauh dari tempat tinggal orang-orang, mengabdikasi untuk menyatakan kepada kami kehendak-Nya. Dengan tiba-tiba, seolah-olah dari tengah kekekalan, suara Penebus memfirmankan kedamaian kepada kami, sementara tabir terbelah dan malaikat Allah turun berpakaian dengan kemuliaan, dan menyampaikan pesan yang dengan bersemangat dinantikan, dan kunci-kunci Injil pertobatan. Alangkah sukacitanya! alangkah ajaibnya! alangkah mengagumkannya! Saat dunia tersiksa dan bingung—saat jutaan orang sedang meraba-raba bagaikan orang buta mencari tembok, dan saat semua orang sedang bersandar pada ketidakpastian, sebagai kelompok massa yang umum, mata kami melihat, telinga kami mendengar, bagaikan di ‘siang bolong’; ya, lebih—melebihi kemilau sinar matahari bulan Mei, yang pada waktu itu mencurahkan kegemerlapannya di atas permukaan alam! Kemudian suaranya, walaupun lembut, menusuk ke lubuk hati, dan perkataannya, ‘Aku adalah hamba sesamamu,’ menghilangkan setiap rasa takut. Kami mendengarkan, kami menatap, kami mengagumi! Itulah suara seorang malaikat dari kemuliaan, itulah sebuah pesan dari Yang Mahatinggi! Dan ketika kami mendengar kami bersukacita, saat kasih-Nya tersulut ke atas jiwa kami, dan kami terbungkus dalam penglihatan Yang Mahakuasa! Di manakah ada ruang untuk keraguan? Tidak di mana pun juga; ketidakpastian telah lenyap, keraguan telah tenggelam tidak lagi timbul, sementara khayalan dan penipuan telah lenyap selamanya!

    “Tetapi, saudara terkasih, pikirkanlah, lebih lanjut pikirkanlah untuk sesaat, betapa sukacita memenuhi hati kami, dan dengan alangkah terkejutnya kami mesti membungkuk, (karena siapakah yang tidak akan menekukkan lutut untuk berkat yang demikian?) ketika kami menerima di bawah tangannya Imamat Kudus ketika dia berkata, ‘Ke atas dirimu para hamba sesamaku, dalam nama Mesias, aku menganugerahkan Imamat ini dan wewenang ini, yang akan tetap tinggal di atas bumi, agar para putra Lewi boleh mempersembahkan suatu persembahan bagi Tuhan dalam kesalehan!’

    “Saya tidak akan berusaha untuk melukiskan kepada Anda perasaan hati ini, tidak juga keindahan dan kemuliaan agung yang mengelilingi kami pada kejadian ini; tetapi Anda akan memercayai saya ketika saya katakan, bahwa bumi, tidak juga orang-orangnya, dengan kefasihan lidah oleh waktu, tidak dapat mulai mendandani bahasa dalam cara semenarik dan seluhur seperti sosok yang kudus ini. Tidak; tidak juga bumi ini memiliki kekuatan untuk memberikan sukacita, untuk melimpahkan kedamaian, atau memahami kebijaksanaan yang termuat dalam tiap kalimat sebagaimana itu disampaikan melalui kuasa Roh Kudus! Manusia boleh menipu sesamanya manusia, penipuan boleh mengikuti penipuan, dan anak-anak dari yang jahat boleh memiliki kekuatan untuk merayu yang bodoh dan yang tak diajar, sampai tidak ada apa pun selain khayalan memberi makan banyak orang, dan buah kebohongan membawa dalam arusnya yang ceroboh ke kubur; tetapi satu sentuhan dengan jari kasih-Nya, ya, seberkas cahaya kemuliaan dari dunia di atas, atau satu firman dari mulut Juruselamat, dari dada kekekalan, menyambar itu semuanya ke dalam keremehan, dan menghapusnya selamanya dari pikiran. Keyakinan bahwa kami berada di hadirat seorang malaikat, kepastian bahwa kami mendengar suara Yesus, dan kebenaran tak tercela sebagaimana itu mengalir dari sosok yang murni, didiktekan oleh kehendak Allah, adalah bagi saya melampaui uraian, dan saya akan senantiasa memandang ungkapan kebaikan Juruselamat ini dengan keterpukauan dan ungkapan terima kasih sementara saya diizinkan untuk tinggal; dan di dalam tempat tinggal di mana kesempurnaan berdiam dan dosa tidak pernah datang, saya berharap untuk memuja pada hari itu yang tidak akan pernah berhenti.”—Messenger and Advocate, jld. 1 (Oktober 1834), hlm. 14–16.