Kasih Tidak Berkesudahan

President of the Church


Alih-alih menghakimi dan kritis terhadap satu sama lain, semoga kita memiliki kasih murni Kristus bagi sesama pelancong dalam perjalanan melalui kehidupan ini.
 

Jiwa kita bersukacita malam ini dan telah menjangkau ke arah surga. Kita telah diberkati dengan musik indah dan pesan-pesan terilhami. Roh Tuhan berada di sini. Saya berdoa bagi inspirasi-Nya untuk menyertai saya sekarang sewaktu saya membagikan kepada Anda beberapa gagasan dan perasaan saya.

Saya mulai dengan sebuah anekdot singkat yang mengilustrasikan poin yang ingin saya buat.

Pasangan muda, Lisa dan John, pindah ke suatu lingkungan huni baru. Suatu pagi sementara mereka sarapan, Lisa melongok ke luar jendela dan melihat tetangga sebelah rumahnya sedang menjemur cuciannya.

“Cucian itu tidak bersih!” teriak Lisa. “Tetangga kita tidak tahu cara mencuci pakaian!”

John melihat namun tetap diam.

Setiap kali tetangganya akan menjemur cuciannya, Lisa akan berkomentar sama.

Beberapa minggu kemudian, Lisa terkejut melirik ke luar jendelanya dan melihat jemuran baju yang bersih di halaman tetangganya. Dia berkata kepada suaminya, “Lihat John—dia akhirnya belajar cara mencuci yang benar! Bagaimana dia melakukannya?”

John menjawab, “Sayang, saya punya jawabannya. Kamu akan tertarik untuk mengetahui bahwa saya bangun pagi-pagi hari ini dan mencuci jendela kita!”

Malam ini saya ingin membagikan kepada Anda beberapa pemikiran mengenai bagaimana kita memandang satu sama lain. Apakah kita melihat melalui jendela yang perlu dibersihkan? Apakah kita menghakimi ketika kita tidak memiliki semua fakta? Apa yang kita lihat ketika kita melihat orang lain? Penilaian apa yang kita buat terhadap mereka?

Firman Juruselamat, “Jangan kamu menghakimi.”1 Dia melanjutkan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” 2 atau, untuk memparafrasakan, mengapakah engkau melihat apa yang menurutmu cucian kotor di rumah tetanggamu, sedangkan jendela yang kotor di rumahmu tidak engkau lihat?

Tidak satu pun dari kita sempurna. Saya tahu tidak seorang pun akan mengaku sempurna. Tetapi, untuk beberapa alasan, terlepas dari ketidaksempurnaan kita, kita memiliki kecenderungan untuk menyebutkan ketidaksempurnaan orang lain. Kita menghakimi mengenai tindakan atau pekerjaan mereka.

Sesungguhnya tidak ada cara kita dapat mengetahui isi hati, maksud, atau keadaan seseorang yang mungkin mengatakan atau melakukan sesuatu yang karenanya kita menemukan alasan untuk mengkritik. Demikianlah, perintah itu: “Jangan kamu menghakimi.”

Empat puluh tujuh tahun silam di Konferensi Umum ini, saya dipanggil untuk melayani dalam Kuorum Dua Belas Rasul. Saat itu, saya tengah melayani di salah satu komite imamat umum Gereja dan karenanya, sebelum nama saya disebutkan, saya duduk dengan sesama anggota komite imamat tersebut, sebagaimana yang diharapkan dari saya. Tetapi, istri saya, tidak tahu ke mana harus pergi dan dengan siapa dia dapat duduk dan, kenyataannya, dia tidak dapat menemukan tempat duduk di mana pun di Tabernakel. Seorang teman baik kami, yang adalah anggota dari salah satu dewan pengurus pembesar umum dan yang duduk di area yang telah ditentukan bagi para anggota dewan pengurus, meminta Sister Monson untuk duduk bersamanya. Wanita ini tidak tahu apa-apa tentang pemanggilan saya―yang akan segera diumumkan―tetapi dia melihat Sister Monson, mengetahui kecemasannya, dan dengan ramah menawarkan kursinya. Istri tercinta saya merasa lega dan bersyukur atas tindakan baik ini. Meskipun demikian, setelah duduk, dia mendengar bisik-bisik keras di belakangnya ketika salah seorang anggota dewan pengurus menyatakan keberatannya kepada mereka yang ada di sekitarnya bahwa salah seorang sesama anggota dewan pengurus itu akan memiliki keberanian untuk mengundang “orang asing” duduk di area yang hanya disediakan bagi mereka. Tidak ada maaf bagi sikapnya yang tidak ramah, terlepas dari siapa yang mungkin diundang duduk di sana. Meskipun demikian, saya hanya dapat membayangkan bagaimana perasaan wanita itu ketika dia tahu bahwa “sang penyusup” itu adalah istri dari rasul paling baru.

Tidak saja kita cenderung untuk menghakimi tindakan dan perkataan orang lain, tetapi banyak dari kita menghakimi penampilan—pakaian, gaya rambut, ukuran. Daftarnya dapat sangat panjang.

Sebuah kisah klasik tentang menghakimi melalui penampilan dicetak dalam sebuah majalah nasional beberapa tahun lalu. Itu sebuah kisah nyata—kisah yang mungkin telah Anda dengar namun pantas diulang.

Seorang wanita bernama Mary Bartels memiliki sebuah rumah tepat di seberang jalan pintu masuk sebuah klinik rumah sakit. Keluarganya tinggal di lantai utama dan menyewakan ruangan atas untuk para pasien rawat jalan di klinik itu.

Suatu malam seorang pria tua yang penampilannya sungguh buruk datang menanyakan apakah ada kamar baginya untuk bermalam. Dia bungkuk dan kusut, dan wajahnya miring karena bengkak—merah merona. Dia mengatakan dia telah mencari kamar sejak siang namun tidak berhasil. “Mungkin karena wajah saya,” tuturnya. “Saya tahu ini terlihat mengerikan, tetapi dokter saya mengatakan itu masih dapat disembuhkan setelah banyak perawatan.” Dia mengatakan bahwa dia akan bahagia dapat tidur di kursi goyang di selasar. Sewaktu dia berbicara dengan pria tersebut, Mary menyadari pria tua bersosok kecil ini memiliki hati yang terlalu besar yang dibatasi oleh tubuh mungilnya. Meskipun ruangannya penuh, dia menyuruh pria itu menunggu di kursi dan dia akan mencari baginya tempat untuk tidur.

Pada jam tidur suami Mary memasang pelbet untuk pria itu. Ketika dia memeriksa keesokan harinya, seprai tempat tidur telah dilipat rapi dan dia berada di luar, di selasar. Dia menolak sarapan, namun sebelum dia pergi mengejar busnya, dia menanyakan apakah dia bisa kembali di lain waktu saat dia melakukan perawatan. “Saya tidak akan menyusahkan Anda,” dia berjanji. “Saya dapat tidur nyenyak di kursi.” Mary meyakinkannya dia dapat datang lagi.

Dalam beberapa bulan dia menjalani perawatan dan tinggal di rumah Mary, si pria tua itu, yang pekerjaannya adalah nelayan, selalu membawakan hadiah hasil laut atau sayur-mayur dari kebunnya. Dalam kesempatan lain dia mengirimkan paket melalui pos.

Ketika Mary menerima hadiah yang penuh perhatian ini, dia sering memikirkan tentang komentar yang dilontarkan tetangganya setelah pria tua yang jelek dan bungkuk ini pergi dari rumah Mary pagi hari pertama itu. Saya akan menolaknya. Anda dapat kehilangan pelanggan dengan menerima orang seperti itu.”

Mary tahu bahwa mungkin mereka telah kehilangan pelanggan satu atau dua kali, tetapi menurutnya, “Oh, seandainya saja mereka dapat mengenalnya, mungkin penyakit mereka akan lebih mudah untuk ditanggung.”

Setelah pria itu meninggal, Mary mengunjungi seorang teman yang memiliki rumah kaca. Sewaktu dia memandangi bunga-bunga temannya, dia melihat bunga krisan warna emas yang indah namun bertanya-tanya karena bunga itu tumbuh dalam ember yang kotor, tua, dan berkarat. Temannya menjelaskan, “Saya kehabisan pot, dan tahu betapa indahnya bunga ini kelak, saya pikir mungkin tidak apa-apa memulainya dalam ember tua ini. Itu hanya sebentar saja, sampai saya dapat memindahkannya di kebun.”

Mary tersenyum saat dia membayangkan pemandangan semacam itu di surga. “Ini sungguh sangat indah,” itu mungkin yang Allah katakan ketika Dia datang ke dalam jiwa pria tua bersosok mungil itu. “Dia tidak keberatan memulai dengan tubuh mungil dan cacat ini.” Namun itu dahulu, dan di taman Allah pasti tinggilah berdirinya jiwa yang luar biasa ini!3

Penampilan dapatlah sedemikian menipu, sungguh suatu penilaian yang buruk terhadap seseorang. Juruselamat menasihati, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak.”4

Seorang anggota dari sebuah organisasi wanita pernah mengeluh ketika seorang wanita tertentu dipilih untuk mewakili organisasi tersebut. Dia tidak pernah bertemu wanita itu, tetapi telah melihat fotonya dan tidak senang dengan apa yang dilihatnya, menganggap wanita itu terlalu gemuk. Dia berkomentar, “Dari ribuan wanita dalam organisasi ini, seorang wakil yang lebih baik pastilah dapat dipilih.”

Benar, wanita yang dipilih itu tidak “langsing seperti model.” Namun mereka yang mengenalnya dan mengetahui sifat-sifatnya melihat dalam dirinya jauh lebih dari sekadar yang terlihat dalam foto itu. Foto itu benar memperlihatkan bahwa dia memiliki senyuman yang ramah dan tampilan penuh percaya diri. Apa yang tidak terlihat dalam foto itu adalah bahwa dia adalah seorang teman yang setia dan penuh belas kasihan, wanita cerdas yang mengasihi Tuhan dan yang mengasihi serta melayani anak-anak-Nya. Foto itu tidak memperlihatkan bahwa dia sukaralewan dalam masyarakat dan adalah tetangga yang baik hati serta peduli. Singkatnya, foto itu tidak mencerminkan siapa dia sesungguhnya.

Saya bertanya: Jika sikap, perbuatan dan kecenderungan rohani direfleksikan dalam bentuk jasmani, akankah wajah wanita yang mengeluh itu menjadi secantik wanita yang dikritiknya?

Sister yang terkasih, Anda masing-masing adalah unik. Anda berbeda satu sama lain dalam banyak hal. Ada dari antara Anda yang telah menikah. Beberapa dari Anda tetap di rumah bersama anak-anak Anda, sementara yang lain bekerja di luar rumah. Beberapa dari Anda tidak lagi memiliki anak-anak yang tinggal di rumah. Ada dari Anda yang telah menikah namun tidak memiliki anak. Ada yang bercerai, ada yang menjanda. Banyak dari Anda adalah wanita lajang. Beberapa dari Anda bertitel; beberapa dari Anda tidak. Ada dari mereka yang dapat membeli pakaian model mutakhir dan mereka yang beruntung memiliki satu pakaian yang pantas untuk hari Minggu. Perbedaan-perbedaan semacam itu hampir tak berakhir. Apakah perbedaan-perbedaan ini menggoda kita untuk saling menghakimi?

Ibu Teresa, seorang biarawati Katolik yang bekerja di antara orang-orang miskin di India dalam sebagian besar kehidupannya, menyatakan kebenaran besar ini, “Jika Anda menghakimi orang, Anda tidak memiliki waktu untuk mengasihi mereka.”5 Juruselamat telah menasihati, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.”6 Saya bertanya: Dapatkah kita saling mengasihi, sebagaimana yang telah Juruselamat perintahkan, jika kita saling menghakimi? Dan saya menjawab—bersama Ibu Teresa: tidak; kita tidak dapat.

Rasul Yakobus mengajarkan, “Jikalau ada … menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya itu.”7

Saya selalu menyukai moto Lembaga Pertolongan Anda: “Kasih tidak berkesudahan.”8 Apakah kasih itu? Nabi Mormon mengajarkan kepada kita bahwa “kasih amal adalah kasih murni Kristus.”9 Dalam pesan perpisahan kepada bangsa Laman, Moroni menyatakan, “Kecuali kamu memiliki kasih amal kamu sekali-kali tidak dapat diselamatkan di dalam kerajaan Allah.”10

Saya memikirkan kasih—atau “kasih murni Kristus”—sebagai lawan dari kritikan dan menghakimi. Dalam berbicara tentang kasih, pada momen ini saya tidak memiliki dalam benak saya kelegaan dari penderitaan melalui memberikan harta milik kita. Itu, tentunya, penting dan perlu. Tetapi, malam ini, saya memiliki dalam benak saya kasih yang terwujud dengan sendirinya ketika kita menjadi toleran terhadap orang lain dan berbelaskasihan terhadap tindakan mereka; jenis kasih yang mengampuni; jenis kasih yang sabar.

Saya memiliki dalam benak kasih yang mendorong kita untuk bersimpati, berbelaskasihan dan penuh belas kasih, tidak hanya pada saat-saat penyakit dan penderitaan serta kekecewaan, namun juga pada saat-saat kelemahan atau kesalahan di pihak orang lain.

Ada suatu keperluan serius bagi kasih yang memberi perhatian kepada mereka yang tidak terjamah, harapan bagi mereka yang kecewa, bantuan bagi mereka yang menderita. Kasih sejati adalah kasih dalam tindakan. Kebutuhan akan kasih ada di mana-mana.

Yang dibutuhkan adalah kasih yang menolak untuk menemukan kepuasan dalam mendengar atau mengulangi laporan tentang ketidakberuntungan yang menimpa orang lain, kecuali dengan melakukannya orang yang tidak beruntung dapat menerima manfaat. Seorang pendidik dan politisi Amerika, Horace Mann, pernah berkata, “Mengasihani mereka yang menderita adalah manusiawi; meringankan penderitaan itu adalah seperti Allah.”11

Kasih adalah memiliki kesabaran terhadap seseorang yang telah mengecewakan kita; kasih menolak dorongan untuk jadi mudah tersinggung. Kasih menerima kelemahan dan kesalahan. Kasih menerima orang sebagaimana adanya mereka. Kasih melihat melampaui penampilan jasmani pada sifat-sifat yang tidak akan lekang oleh waktu. Kasih menolak dorongan untuk membedakan orang lain.

Kasih, kasih murni Kristus, diwujudkan ketika sekelompok remaja putri dari sebuah lingkungan lajang melakukan perjalanan ratusan kilometer untuk menghadiri upacara pemakaman seorang ibu dari sister Lembaga Pertolongan mereka. Kasih terwujud ketika para pengajar berkunjung yang berpengabdian kembali bulan demi bulan, tahun demi tahun kepada sister yang sama yang tidak tertarik dan agak kritis. Kasih terbukti ketika seorang janda lanjut usia diingat dan dibawa ke dalam berbagai kegiatan lingkungan dan Lembaga Pertolongan. Kasih dirasakan ketika sister yang duduk sendirian di Lembaga Pertolongan menerima undangan, “Mari—duduklah bersama kami.”

Dalam banyak cara kecil, Anda semua mengenakan jubah kasih. Kehidupan tidaklah sempurna bagi kita. Alih-alih menghakimi dan kritis terhadap satu sama lain, semoga kita memiliki kasih murni Kristus bagi sesama pelancong dalam perjalanan melalui kehidupan ini. Semoga kita mengenali bahwa masing-masing sedang melakukan yang terbaik untuk mengatasi tantangan-tantangan yang menghadang di jalannya, dan semoga kita berusaha untuk melakukan upaya terbaik kita untuk menolong.

Kasih selalu diuraikan sebagai “jenis kasih tertinggi, termulia, terkuat,”12 “kasih murni Kristus … ; dan barang siapa didapati memilikinya pada hari terakhir, akan baik-baik saja dengan[nya].”13

“Kasih tidak berkesudahan.” Semoga moto Lembaga Pertolongan yang tetap langgeng ini, kebenaran yang abadi ini, membimbing Anda dalam setiap hal yang Anda lakukan. Semoga itu meresap di sanubari Anda dan menemukan pengungkapannya dalam semua pemikiran dan tindakan Anda.

Saya menyatakan kasih saya bagi Anda, sister sekalian, dan berdoa semoga berkat-berkat surga dapat senantiasa menjadi milik Anda. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Show References

  1.  

    1.  Matius 7:1.

  2.  

    2.  Matius 7:3.

  3.  

    3. Diadaptasi dari Guidepost, Juni 1965, 24.

  4.  

    4.  Yohanes 7:24.

  5.  

    5. Ibu Teresa, dalam R. M. Lala, A Touch of Greatness: Encounters with the Eminent (2001), x.

  6.  

    6.  Yohanes 15:12.

  7.  

    7.  Yakobus 1:26.

  8.  

    8.  1 Korintus 13:8.

  9.  

    9.  Moroni 7:47.

  10.  

    10.  Moroni 10:21.

  11.  

    11. Horace Mann, Lectures on Education (1845), 297.

  12.  

    12.  Bible Dictionary, “Charity.”

  13.  

    13.  Moroni 7:47.