Waktu untuk Bersiap

Ian S. Arden

Dari Tujuh Puluh


Kita harus mengabdikan waktu kita pada hal yang paling penting.

Bab kedelapan Mengkhotbahkan Injil-Ku memusatkan perhatian kita pada penggunaan yang bijak dari waktu kita. Dalam bab ini, Penatua M. Russel Ballard mengingatkan kita agar kita menentukan gol dan belajar bagaimana menguasai teknik untuk mencapainya (lihat Mengkhotbahkan Injil-Ku: Buku Panduan untuk Pelayanan Misionaris [2004], 168). Menguasai teknik diperlukan untuk mencapai gol termasuk menjadi ahli pengelola waktu kita.

Saya bersyukur atas teladan Presiden Thomas S.Monson. Dengan semua yang dia lakukan sebagai seorang Nabi Allah, dia memastikan, seperti yang dilakukan Juruselamat, masih ada waktu untuk mengunjungi yang sakit (lihat Lukas 17:12), untuk mengangkat yang miskin dalam roh, dan menjadi hamba bagi semua. Saya juga bersyukur atas teladan dari banyak yang lain yang telah menyediakan waktu untuk melayani sesama. Saya bersaksi dengan menyediakan waktu kita untuk melayani sesama adalah menyenangkan Allah dan hal demikian akan membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Juruselamat kita akan menepati firman-Nya bahwa “dia yang setia dan bijak pada waktu ini dianggap layak untuk mewarisi tempat tinggal yang dipersiapkan baginya oleh Bapa-Ku” (A&P 72:4).

Waktu tidak pernah dijual; waktu adalah komoditas yang tidak bisa dibeli di toko dengan harga berapa pun. Namun jika digunakan dengan bijak, nilainya tidak dapat diukur. Pada setiap hari yang diberikan kepada semua yang dialokasikan, tanpa biaya, jumlah yang sama dari menit dan jam untuk digunakan, dan kita akan segera belajar, sebagaimana nyanyian rohani familiar sedemikian mengajar dengan saksama, “waktu berlalu cepat, tak akan kembali” (“Gunakan Setiap Saat,” Buku Nyanyian Rohani, no.103). Berapa waktu yang kita miliki harus dipergunakan dengan bijak. Presiden Brigham Young bertutur, “Kita semua berutang kepada Allah untuk kemampuan menggunakan waktu dengan baik, dan Dia akan meminta kepada kita pertanggungjawaban yang ketat mengenai disposisi [ini]” (Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: Brigham Young [1997], 286).

Dengan tuntutan kita, kita harus belajar untuk memprioritaskan pilihan-pilihan kita untuk mencocokkan gol atau risiko terpapar pada angin persucian dan dihempaskan dari satu kegiatan yang menghamburkan waktu ke yang lain. Kita diajar dengan baik mengenai prioritas dari Mahaguru ketika Dia menyatakan dalam Khotbah di Bukit-Nya, “Karenanya, janganlah mengupayakan apa yang dari dunia ini tetapi berupayalah kamu lebih dahulu untuk membangun kerajaan Allah, dan untuk menegakkan kebenaran-Nya” (Matius 6:33, catatan kaki a; dari Terjemahan Joseph Smith, Matius 6:38). (Lihat juga Dallin H. Oaks, “Fokus dan Prioritas,” Liahona, Juli 2001, 99–102).

Alma berbicara mengenai prioritas ketika dia mengajar bahwa “kehidupan ini menjadi suatu keadaan percobaan; masa untuk bersiap menemui Allah” (Alma 12:24). Bagaimana terbaik menggunakan warisan melimpah dari waktu untuk bertemu dengan Allah mungkin memerlukan beberapa bimbingan, tetapi tentunya kita menempatkan Tuhan dan keluarga kita di urutan atas daftar. Presiden Dieter F.Ucthdorf mengingatkan kita bahwa “dalam hubungan keluarga kasih sesungguhnya dieja w-a-k-t-u” (“Tentang Hal-Hal yang Paling Berarti,” Liahona,, November 2010, 22). Saya bersaksi bahwa ketika bantuan dengan sungguh-sungguh dan tulus dicari, Bapa Surgawi kita akan menolong kita untuk memberi penekanan terhadap hal-hal yang patut bagi waktu kita melebihi hal-hal lainnya.

Penggunaan waktu yang buruk adalah saudara dekat dari kemalasan. Sewaktu kita mengikuti perintah untuk berhenti bermalas-malas (A&P 88:124), kita harus yakin bahwa menjadi sibuk sama dengan menjadi produktif. Sebagai contoh, adalah menyenangkan untuk memiliki sarana komunikasi langsung yang benar-benar ada di ujung jari kita, namun mari kita pastikan kita tidak menjadi komunikator di ujung jari yang berlebihan. Saya merasa beberapa orang telah terjebak dalam ketergantungan baru dalam menghabiskan waktu—yang memperbudak kita untuk secara terus-menerus memeriksa dan mengirim pesan-pesan sosial dan memberikan kesan yang salah dalam menjadi sibuk dan produktif.

Ada banyak kebaikan dengan kemudahan mengakses komunikasi dan informasi. Saya telah menemukan sangat membantu untuk mengakses artikel penelitian, ceramah konferensi, catatan leluhur, dan untuk menerima e-mail, pengingat Facebook, tweet, dan SMS. Sebaik semuanya ini, kita tidak boleh membiarkan mereka menyingkirkan ke samping terhadap hal-hal yang paling penting. Betapa menyedihkan jika telepon dan komputer dengan semua kecanggihannya menenggelamkan kesederhanaan doa yang tulus kepada Bapa di Surga yang penuh kasih. Mari kita berlutut secepat kita mengirim SMS.

Permainan elektronik dan kenalan di dunia maya bukan pengganti kekal bagi teman nyata yang dapat memberikan pelukan semangat, yang dapat berdoa bagi kita dan mencari kepentingan terbaik kita. Betapa bersyukurnya saya dapat melihat kuorum, kelas, dan anggota Lembaga Pertolongan berkumpul untuk saling mendukung. Pada kesempatan demikian saya memahami dengan lebih baik apa yang Rasul Paulus maksud ketika dia berkata, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Efesus 2:19).

Saya tahu kebahagiaan terbesar kita datang sewaktu kita selaras dengan Tuhan (lihat Alma 37:37) dan selaras dengan hal-hal itu yang mendatangkan pahala abadi, daripada tanpa berpikir menyelaraskan diri dalam jam-jam yang tak terhitung untuk memperbarui status, bertani di Internet, dan melemparkan burung pemarah [sebuah permainan] ke tembok beton. Saya mendorong kita masing-masing untuk mengambil hal-hal itu yang merampok waktu berharga kita dan menentukan menjadi tuan mereka, alih-alih mengizinkan mereka melalui sifat ketergantungan mereka untuk menjadi tuan bagi kita.

Untuk memiliki kedamaian yang dituturkan Juruselamat (lihat Yohanes 14:27), kita harus mengabdikan waktu kita pada hal yang paling penting, dan hal-hal mengenai Allah adalah yang paling penting. Sewaktu kita terlibat dengan Allah dalam doa yang khusyuk, membaca dan menelaah tulisan suci setiap hari dari tulisan suci, merenungkan apa yang kita baca dan rasakan, dan kemudian menerapkan dan melaksanakan pelajaran yang dipelajari, kita menjadi lebih mendekati Dia. Janji Allah sewaktu kita mencari dengan tekun kitab-kitab yang terbaik “[Dia] akan memberi kepada [kita] pengetahuan melalui Roh Kudus (A&P 121:26; lihat juga A&P 109:14–15).

Setan akan menggoda kita untuk menyalahgunakan waktu kita melalui gangguan terselubung. Meskipun godaan akan datang, Penatua Quentin L. Cook mengajar bahwa “Para Orang Suci yang menanggapi pesan Juruselamat tidak akan disesatkan oleh pencarian-pencarian yang mengganggu dan menghancurkan” (Apakah Anda Orang Suci?” Liahona, November 2003, 96). Hiram Page, salah satu dari delapan orang saksi Kitab Mormon mengajarkan kepada kita pelajaran yang berharga mengenai gangguan. Dia memiliki suatu batu dan melaluinya mencatat apa yang dia pikir adalah wahyu untuk Gereja (lihat A&P 28). Saat diluruskan, sebuah peristiwa menyatakan batu diambil dan digiling menjadi debu agar tidak lagi menjadi gangguan.1 Saya mengundang Anda menemukan gangguan yang menyia-nyiakan waktu dalam kehidupan kita yang secara kiasan perlu digiling menjadi debu. Kita perlu menjadi bijak dalam pertimbangan kita untuk memastikan skala waktu dibetulkan secara seimbang untuk melibatkan Tuhan, keluarga, pekerjaan, dan kegiatan rekreasi yang bermanfaat. Sebagaimana banyak yang telah menemukan, terdapat peningkatan kebahagiaan dalam kehidupan sewaktu kita menggunakan waktu kita untuk mengupayakan hal-hal ini adalah “bajik, indah, atau dikatakan baik atau layak dipuji” (Pasal-Pasal Kepercayaan 1:13).

Waktu berderap dengan gesit seperti detik jam. Hari ini adalah hari yang baik, sementara jam kefanaan berdetik, untuk mengkaji ulang apa yang kita lakukan untuk bertemu dengan Allah. Saya bersaksi bahwa terdapat banyak pahala bagi mereka yang menyediakan waktu di kefanaan untuk mempersiapkan bagi kebakaan dan kehidupan kekal. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Tampilkan Rujukan

  1.  

    1. Lihat risalah umum Pasak Pusat Provo Utah, 6 April 1856, jilid 10 (1855–1960), Perpustakaan Sejarah Gereja, Salt Lake City, 273 (ejaan, tanda baca, dan huruf besar dimodernkan): “Ayah [Emer] Harris berkata bahwa Rasul berkata kita harus melawan terhadap dasar dan kuasa di tempat yang tinggi. Br. Hiram Page menggali dari bumi batu hitam memasukkannya ke dalam sakunya. Ketika dia sampai di rumah dia memandangnya Berisi kalimat dalam kertas untuk dipamerkan. Segera setelah dia menghafal di luar kepala [demikian] satu kalimat, kalimat lain datang di batu sampai dia menulis 16 halaman. Br. Joseph diberi tahu fakta. Sesesorang bertanya kepada Joseph apakah itu benar. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu, tetapi dia berdoa dan menerima wahyu bahwa batu itu berasal dari iblis. Kemudian dihancurkan menjadi bubuk dan tulisan dibakar. Itu adalah pekerjaan kuasa kegelapan. Amin.”