Tinggal dalam Wilayah Tuhan!

Oleh Penatua Ulisses Soares

Oleh Penatua Ulisses Soares


Pertanyaan sehari-hari kita haruslah, “Apakah tindakan saya menempatkan saya di wilayah Tuhan atau musuh?”

Presiden Monson pernah berkata, “Izinkan saya memberikan pedoman sederhana dimana Anda dapat mengukur pilihan yang Anda hadapi. Itu mudah untuk diingat, ‘Anda tidak bisa benar dengan berbuat salah; Anda tidak bisa salah dengan melakukan yang benar’ (“Jalan Menuju Kesempurnaan,” Liahona, Juli 2002, 111). Pedoman Presiden Monson adalah sederhana dan langsung. Itu bekerja dengan cara yang sama seperti Liahona yang diberikan kepada Lehi. Jika kita menjalankan iman dan tekun dalam mematuhi perintah-perintah Tuhan, kita akan mudah menemukan arah yang benar untuk diikuti, khususnya ketika kita menghadapi pilihan harian kita.

Rasul Paulus menasihati kita mengenai pentingnya menabur dalam Roh dan menyadari tidak menabur dalam daging. Dia berkata:

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:7‒9).

Menabur dalam Roh berarti bahwa seluruh pikiran, perkataan, dan tindakan kita harus meningkatkan kita pada tingkat keilahian Orang Tua Surgawi kita. Namun, tulisan suci merujuk pada daging sebagai sifat jasmani atau badani pada manusia alami, yang memungkinkan orang untuk dipengaruhi oleh nafsu, hasrat, selera, dan dorongan daging daripada mencari ilham dari Roh Kudus. Jika kita tidak hati-hati, pengaruh-pengaruh itu bersama dengan tekanan kejahatan di dunia dapat membuat kita mempraktikkan perilaku tidak sopan dan serampangan yang mungkin bisa menjadi bagian dari karakter kita. Agar menghindari pengaruh-pengaruh buruk itu, kita harus mengikuti apa yang Tuhan perintahkan kepada Nabi Joseph Smith tentang terus-menerus menabur dalam Roh, “Karenanya, janganlah letih dalam melakukan yang baik, karena kamu sedang meletakkan landasan suatu pekerjaan besar. Dan dari hal-hal yang kecil mulailah apa yang besar (A&P 64:33).

Untuk meningkatkan roh kita, diperlukan agar kita membiarkan “segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara [kita], demikian pula segala kejahatan” (Efesus 4:31) dan “bijaklah pada masa percobaanmu; lucutilah dirimu dari segala ketidakbersihan” (Mormon 9:28).

Sewaktu kita menelaah tulisan suci, kita belajar bahwa janji-janji yang dibuat Tuhan kepada kita bergantung pada kepatuhan kita dan janji-janji ini mendorong kehidupan yang saleh. Janji-janji itu harus memelihara jiwa kita, memberi kita pengharapan dengan mendorong kita agar kita tidak menyerah, bahkan dalam menghadapi tantangan kita sehari-hari tinggal di dunia yang mana nilai-nilai etika dan moral menjadi punah, maka mendorong orang untuk bahkan menabur lebih banyak dalam daging. Tetapi bagaimana kita dapat memastikan bahwa pilihan kita membantu kita untuk menabur dalam Roh dan bukan dalam daging?

Presiden George Albert Smith pernah bertutur, “Ada garis batas yang ditentukan dengan jelas antara wilayah Tuhan dan wilayah iblis. Jika Anda akan tetap berada di wilayah kekuasaan Tuhan, Anda akan berada di bawah pengaruh-Nya dan tidak akan memiliki hasrat untuk melakukan kekeliruan; namun jika Anda menyeberang ke wilayah iblis dari garis itu bahkan satu sentimeter saja, Anda berada dalam kuasa si penggoda dan jika dia berhasil, Anda tidak akan dapat berpikir atau bahkan bernalar dengan tepat karena Anda telah kehilangan Roh Tuhan.” (Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: George Albert Smith [2011], 2013).

Maka, pertanyaan sehari-hari kita haruslah, “Apakah tindakan saya menempatkan saya di wilayah Tuhan atau musuh?”

Nabi Mormon mengingatkan umatnya mengenai pentingnya memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan jahat:

“Karenanya, segala sesuatu yang baik datang dari Allah; dan apa yang jahat datang dari iblis; karena iblis adalah musuh bagi Allah, dan berperang melawan-Nya secara berkelanjutan, dan mengajak dan membujuk untuk berdosa, dan untuk melakukan apa yang jahat secara berkelanjutan.

Tetapi lihatlah, apa yang dari Allah mengajak dan membujuk untuk melakukan yang baik secara berkelanjutan” (Moroni 7:12–13).

Terang Kristus disertai dengan penemanan Roh Kudus harus membantu kita menentukan apakah cara hidup kita menempatkan kita dalam wilayah Tuhan atau bukan. Jika sikap kita baik, sikap itu dipengaruhi oleh Allah, karena setiap hal yang baik berasal dari Allah. Akan tetapi, jika sikap kita buruk, kita dipengaruhi oleh musuh karena dia membujuk manusia untuk berbuat jahat.

Orang Afrika telah menyentuh hati saya karena tekad dan ketekunan mereka untuk tinggal di wilayah Tuhan. Bahkan saat keadaan yang sulit dalam kehidupan, mereka yang menerima ajakan untuk datang kepada Kristus menjadi terang dunia. Beberapa minggu yang lalu sewaktu mengunjungi salah satu lingkungan di Afrika Selatan, saya memiliki kesempatan istimewa untuk mendampingi dua orang imam muda, uskup dan presiden pasak mereka dalam sebuah kunjungan ke remaja putra yang tidak aktif di kuorum mereka. Saya sangat terkesan oleh keberanian dan kerendahan hati yang ditunjukkan kedua imam itu sewaktu mereka mengundang para remaja yang kurang aktif untuk kembali ke Gereja. Sementara mereka berbicara kepada remaja putra yang kurang aktif itu, saya melihat bahwa raut muka mereka mencerminkan terang juruselamat, dan pada saat yang sama menerangi semua yang ada di sekitar mereka. Mereka memenuhi tugas mereka untuk “sokonglah yang lemah, angkatlah tangan yang terkulai, dan kuatkanlah lutut yang lunglai” (A&P 81:5). Sikap kedua imam itu menempatkan mereka dalam wilayah Tuhan, dan mereka melayani sebagai alat dalam tangan-Nya sewaktu mereka mengundang orang lain untuk melakukan yang sama.

Dalam Ajaran dan Perjanjian 20:37 Tuhan mengajar kita apa arti menabur dalam Roh dan apa yang benar-benar menempatkan kita dalam wilayah Tuhan, sebagai berikut: merendahkan hati kita di hadapan Allah, bersaksi bahwa kita telah datang dengan hati yang hancur dan jiwa yang menyesal, bersaksi pada Gereja bahwa kita telah sungguh-sungguh bertobat dari semua dosa kita, mengambil ke atas diri kita nama Yesus Kristus, bertekad untuk melayani Dia sampai akhir, ditunjukkan oleh pekerjaan kita bahwa kita telah diterima melalui pembaptisan ke dalam Gereja-Nya. Kesediaan kita untuk memenuhi perjanjian-perjanjian ini mempersiapkan kita untuk hidup di hadirat Allah sebagai makhluk yang dipermuliakan. Ingatan terhadap perjanjian-perjanjian ini harus menuntun perilaku kita dalam hubungan dengan keluarga kita, dalam interaksi sosial kita dengan orang lain, dan khususnya dalam hubungan kita dengan Juruselamat.

Yesus Kristus menetapkan pola perilaku yang sempurna yang berdasarkan pola ini kita dapat membangun sikap kita untuk dapat memenuhi perjanjian sakral ini. Juruselamat membuang dari kehidupan-Nya setiap pengaruh yang mungkin dapat mengalihkan perhatian dari misi ilahi-Nya, khususnya ketika Dia dicobai oleh musuh atau murid-Nya ketika Dia melayani di sini di bumi. Meskipun Dia tidak pernah berdosa, Dia memiliki hati yang hancur dan jiwa yang menyesal, penuh kasih kepada Bapa Surgawi dan kepada sesama kita. Dia merendahkan diri-Nya di hadapan Bapa di Surga, menyangkal kehendak-Nya sendiri untuk memenuhi apa yang Bapa minta dari-Nya dalam segala hal sampai akhir. Bahkan pada saat mengalami penderitaan jasmani dan rohani, menanggung beban dosa bagi umat manusia di pundak-Nya dan mencurahkan darah di pori-pori-Nya, Dia bertutur kepada Bapa, “tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Markus 14:36).

Doa saya sewaktu kita memikirkan tentang perjanjian kita adalah agar kita dapat menjaga diri kita kuat terhadap “anak panah berapi lawan” (1 Nefi 15:24), mengikuti teladan Juruselamat agar kita dapat menabur dalam Roh dan memastikan diri kita berada dalam wilayah Tuhan. Marilah kita mengingat pedoman Presiden Monson, “Anda tidak bisa benar dengan melakukan yang salah; Anda tidak bisa salah dengan melakukan yang benar.” Saya sampaikan hal ini dalam nama Yesus Kristus, amin.