Kita tidak bisa benar-benar mengasihi Allah jika kita tidak mengasihi sesama pelancong kita dalam perjalanan fana kita.

Brother dan sister terkasih, ketika Juruselamat melayani di antara manusia, Dia ditanya oleh ahli Taurat yang menanyakan, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Matius mencatat bahwa Yesus menjawab:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”1

Markus mengakhiri kisah itu dengan pernyataan Juruselamat: “Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.”2

Kita tidak bisa benar-benar mengasihi Allah jika kita tidak mengasihi sesama pelancong kita dalam perjalanan fana kita. Demikian juga, kita tidak bisa sepenuhnya mengasihi sesama kita jika kita tidak mengasihi Allah, Bapa kita semua. Rasul Yohanes memberi tahu kita, “Perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”3 Kita semua adalah anak-anak roh Bapa Surgawi kita dan, karenanya, bersaudara. Sewaktu kita menyimpan kebenaran ini dalam benak kita, mengasihi semua anak Allah akan menjadi lebih mudah.

Sesungguhnya, kasih adalah bagian penting dari Injil dan Yesus Kristus adalah Teladan kita. Kehidupannya merupakan pusaka kasih. Yang sakit Dia sembuhkan, yang kesusahan Dia angkat, yang berdosa Dia selamatkan. Pada akhirnya, khalayak yang marah merenggut hidup-Nya. Tetapi terdengarlah dari bukit Golgota perkataan ini: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”4—ungkapan tertinggi dalam kefanaan akan belas kasihan dan kasih.

Ada banyak atribut yang merupakan perwujudan dari kasih, misalnya kebaikan hati, kesabaran, tidak mementingkan diri, pemahaman, dan pengampunan. Dalam semua hubungan kita, atribut-atribut ini dan yang lainnya akan menolong membuktikan kasih itu dalam hati kita.

Biasanya kasih kita akan diperlihatkan dalam interaksi sehari-hari kita dengan satu sama lain. Yang terpenting adalah kemampuan kita untuk mengenali kebutuhan seseorang dan kemudian menanggapinya. Saya telah senantiasa menghargai perasaan yang dinyatakan dalam puisi pendek ini:

Aku menangis di malam hari
Kar’na terbatasnya pandangan
Kebutuhan orang lain.
Namun aku belum pernah
Merasakan sebentuk penyesalan
Karena bersikap sedikit terlalu baik.5

Saya baru-baru ini disadarkan pada teladan yang menyentuh hati akan kebaikan hati penuh kasih—kebaikan yang membuahkan hasil tak terlihat. Tahun 1933, ketika karena Masa Resesi, peluang kerja langka. Lokasinya di bagian timur Amerika Serikat. Arlene Biesecker baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Setelah pencarian panjang bagi pekerjaan, dia akhirnya dapat memperoleh pekerjaan di pabrik pakaian sebagai penjahit. Para buruh pabrik itu dibayar hanya untuk setiap potongan yang selesai dengan benar yang mereka jahit bersama-sama setiap harinya. Semakin banyak potongan yang mereka hasilkan, semakin banyak mereka dibayar.

Suatu hari tak lama setelah memulai di pabrik, Arlene dihadapkan pada prosedur yang telah membingungkan dan membuatnya frustrasi. Dia duduk di mesin jahitnya berusaha untuk membongkar upayanya yang tidak berhasil untuk menyelesaikan potongan yang sedang dia kerjakan. Tampaknya tidak ada seorang pun yang menolongnya, karena semua penjahit itu terburu-buru untuk menyelesaikan sebanyak mungkin potongan yang mereka jahit. Arlene merasa tak berdaya dan putus asa. Diam-diam, dia mulai menangis.

Di seberang Arlene duduk Bernice Rock. Dia lebih senior dan lebih berpengalaman sebagai penjahit. Mengamati kegundahan Arlene, Bernice meninggalkan pekerjaannya sendiri dan pergi ke samping Arlene, dengan lembut memberinya petunjuk serta bantuan. Dia tetap di situ sampai Arlene memperoleh keyakinan diri dan dapat dengan berhasil menyelesaikan potongan itu. Bernice kemudian kembali ke mesinnya sendiri, telah kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan sebanyak mungkin potongan, karena dia menolong orang lain.

Dengan satu tindakan kebaikan penuh kasih ini, Bernice dan Arlene menjadi sahabat seumur hidup. Masing-masing akhirnya menikah dan memiliki anak-anak. Suatu saat di tahun 1950-an, Bernice, yang adalah anggota Gereja, memberikan kepada Arlene dan keluarga sejilid Kitab Mormon. Pada tahun 1960, Arlene dan suami serta anak-anaknya dibaptiskan menjadi anggota Gereja. Kemudian mereka dimeteraikan di bait suci kudus Allah.

Sebagai hasil dari belas kasihan yang diperlihatkan oleh Bernice sewaktu dia merelakan dirinya untuk menolong seseorang yang tidak dia kenal namun dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan, banyak individu, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sekarang menikmati tata cara-tata cara penyelamatan Injil.

Setiap hari dari kehidupan kita, kita diberi kesempatan untuk memperlihatkan kasih dan kebaikan hati kepada mereka yang di sekitar kita. Tutur Presiden Spencer W. Kimball, “Kita harus ingat bahwa orang-orang itu yang kita temui di tempat parkir, kantor, lift, dan di mana pun adalah bagian dari umat manusia yang telah Allah berikan kepada kita untuk dikasihi dan dilayani. Adalah kurang pantas bagi kita untuk berbicara tentang persaudaraan umum umat manusia jika kita tidak menganggap mereka yang ada di sekitar kita sebagai saudara-saudara kita.”6

Sering kali kesempatan kita untuk memperlihatkan kasih kita datang secara tak terduga. Contoh tentang kesempatan semacam itu muncul dalam sebuah artikel surat kabar pada Oktober 1981. Sedemikian terkesan saya dengan kasih dan belas kasihan yang terkait di dalamnya sehingga saya telah menyimpan guntingan beritanya dalam fail saya selama lebih dari 30 tahun.

Artikel itu menyebutkan bahwa sebuah penerbangan nonstop Alaska Airlines dari Anchorage, Alaska, ke Seatle, Washington—penerbangan yang membawa 150 penumpang—dialihkan ke sebuah kota terpencil Alaska untuk mengangkut seorang anak yang terluka parah. Seorang anak lelaki berusia 2 tahun telah putus pembuluh nadi di lengannya ketika dia jatuh menimpa pecahan kaca saat bermain dekat rumahnya. Kota itu berjarak 450 mil (725 km) selatan Anchorage dan sebenarnya tidak pada jalur penerbangan. Tetapi, petugas medis di tempat kejadian telah mengirimkan permintaan bantuan darurat, maka penerbangan dialihkan untuk menjemput anak itu dan membawanya ke Seattle agar dia dapat dirawat di rumah sakit.

Ketika pesawat mendarat dekat kota terpencil itu, petugas medis menginformasikan kepada pilot bahwa anak lelaki itu berdarah sedemikian parah sehingga dia tidak bisa bertahan dalam penerbangan ke Seattle. Keputusan dibuat untuk terbang lagi sejauh 200 mil (320 km) menuju ke Juneau, Alaska, kota terdekat dengan sebuah rumah sakit.

Setelah mengangkut anak lelaki itu ke Juneau, pesawat itu menuju ke Seattle, setelah berjam-jam terlambat dari jadwal. Tidak satu pun penumpang mengeluh, meskipun kebanyakan dari mereka akan melewatkan janji dan pesawat lanjutan. Kenyataannya, seiring menit-menit dan jam-jam berlalu, mereka mengumpulkan uang, menggalang sejumlah dana bagi anak lelaki itu dan keluarganya.

Sewaktu pesawat akan mendarat di Seattle, para penumpang tersenyum ceria ketika pilot mengumumkan bahwa dia telah menerima kabar melalui radio bahwa anak lelaki itu akan baik-baik saja.7

Saya memikirkan kata-kata dalam tulisan suci: “Kasih amal adalah kasih murni Kristus, … dan barang siapa didapati memilikinya pada hari terakhir, akan baik-baik saja dengannya.”8

Brother dan sister, beberapa dari kesempatan terbesar kita untuk memperlihatkan kasih kita akanlah di dalam dinding-dinding rumah kita sendiri. Kasih seharusnya menjadi inti dari kehidupan keluarga, namun terkadang tidak demikian. Bisa terdapat begitu banyak ketidaksabaran, terlalu banyak berdebat, terlalu banyak perselisihan, terlalu banyak air mata. Presiden Gordon B. Hinckley dengan sedih menanyakan, “Mengapa [orang] yang kita [paling] kasihi begitu sering menjadi sasaran dari kata-kata kasar kita? Mengapa [kita] terkadang berbicara seolah bermaksud menyakiti sehingga menghancurkan hati?”9 Jawaban terhadap pertanyaan ini mungkin berbeda bagi kita masing-masing, namun kebenarannya adalah bahwa alasan tidaklah penting. Jika kita mau menaati perintah untuk saling mengasihi, kita harus memperlakukan satu sama lain dengan kebaikan hati dan respek.

Tentu saja akan ada saat-saat ketika disiplin perlu diberikan. Meskipun demikian, marilah kita ingat, nasihat yang terdapat dalam Ajaran dan Perjanjian—yaitu, bahwa ketika perlu bagi kita untuk menegur orang lain, kita sesudahnya memperlihatkan peningkatan kasih.10

Saya berharap agar kita mau selalu berupaya untuk menjadi tenggang rasa dan menjadi peka terhadap pikiran dan perasaan serta keadaan orang-orang di sekitar kita. Janganlah kita merendahkan atau meremehkan. Alih-alih, marilah kita menjadi berbelaskasihan dan memberi semangat. Kita harus berhati-hati agar kita tidak menghancurkan keyakinan diri orang lain melalui kata-kata atau tindakan yang ceroboh.

Pengampunan hendaknya berjalan bersisian dengan kasih. Dalam keluarga kita, juga dengan teman-teman kita, akan ada perasaan luka dan keengganan untuk mengampuni. Sekali lagi, sesungguhnya tidaklah penting apa masalahnya. Itu tidak bisa dan hendaknya tidak dibiarkan untuk menggerogoti, menyakiti, dan akhirnya menghancurkan. Rasa bersalah membuat luka menganga. Hanya pengampunanlah yang menyembuhkan.

Seorang wanita cantik yang saat ini telah meninggal pernah bertemu saya suatu hari dan tanpa diduga menceritakan beberapa penyesalan. Dia berbicara tentang sebuah insiden yang telah terjadi beberapa tahun sebelumnya dan melibatkan seorang petani tetangga, pernah menjadi teman baik namun yang dengannya dia dan suaminya tidak sepakat dalam banyak kesempatan. Suatu hari si petani itu menanyakan apakah dia bisa mengambil jalan pintas melewati propertinya untuk mencapai lahannya sendiri. Sampai titik ini dia berhenti dalam penuturannya kepada saya dan, dengan suara bergetar, mengatakan, “Brother Monson, saya tidak membiarkan dia melintasi lahan kami saat itu atau kapan pun namun meminta dia mengambil jalan yang lebih jauh dengan berjalan kaki untuk mencapai lahannya. Saya salah, dan menyesalinya. Dia telah tiada sekarang, tetapi oh, saya berharap saya dapat mengatakan kepadanya, ‘Maafkan saya.’ Betapa inginnya saya memiliki kesempatan kedua untuk menjadi baik hati.”

Sewaktu saya mendengarkan dia, muncul dalam benak saya pernyataan yang amat menyedihkan dari John Greenleaf Whittier: “Dari semua kata sedih yang dapat diucapkan maupun dituliskan, yang paling menyedihkan adalah: ‘Seandainya saja.’”11 Brother dan sister, sewaktu kita memperlakukan orang lain dengan kasih dan pertimbangan baik, kita akan menghindari penyesalan seperti itu.

Kasih diungkapkan dalam banyak cara yang dapat dikenali: senyuman, lambaian tangan, komentar yang baik, pujian. Ungkapan lain mungkin lebih lembut, misalnya memperlihatkan minat pada kegiatan orang lain, mengajarkan asas dengan kebaikan dan kesabaran, mengunjungi orang yang sakit atau tinggal di rumah. Kata-kata dan tindakan ini, dan banyak yang lain, dapat mengomunikasikan kasih.

Dale Carnegie, seorang penulis dan dosen ternama Amerika, percaya bahwa setiap orang memiliki dalam dirinya kuasa untuk meningkatkan jumlah total kebahagiaan dunia … “dengan memberikan sedikit kata pujian yang tulus kepada seseorang yang kesepian atau putus asa.” Tuturnya, “Mungkin Anda akan melupakan besok kata-kata ramah yang Anda ucapkan hari ini, namun si penerima mungkin menghargainya di sepanjang masa hidupnya.”12

Semoga kita mulai sekarang, hari ini juga, untuk menyatakan kasih kepada semua anak Allah, baik mereka adalah anggota keluarga kita, teman-teman kita, sekadar kenalan, atau benar-benar orang asing. Sewaktu kita bangun setiap hari, marilah kita bertekad untuk menanggapi dengan kasih dan kebaikan hati terhadap apa pun yang mungkin terjadi.

Brother dan sister terkasih, kasih yang Allah rasakan bagi kita melampaui yang dapat kita bayangkan. Karena kasih ini, Dia mengutus Putra-Nya, yang mengasihi kita cukup untuk memberikan hidup-Nya bagi kita, agar kita dapat memiliki kehidupan kekal. Sewaktu kita jadi memahami karunia tak tertandingi ini, hati kita akan dipenuhi dengan kasih bagi Bapa Kekal kita, bagi Juruselamat kita, dan bagi semua umat manusia. Semoga demikian adanya adalah doa tulus saya dalam nama sakral Yesus Kristus, amin.

Mostrar las referencias

  1.  

    1.  Matius 22:36–39.

  2.  

    2.  Markus 12:31.

  3.  

    3.  1 Yohanes 4:21.

  4.  

    4.  Lukas 23:34.

  5.  

    5. Penulis tak dikenal, dalam Richard L. Evans, “The Quality of Kindness,” Improvement Era, Mei 1960, 340.

  6.  

    6.  The Teachings of Spencer W. Kimball, diedit oleh Edward L. Kimball (1982), 483.

  7.  

    7. Lihat “Injured Boy Flown to Safety,” Daily Sitka Sentinel (Alaska), 22 Oktober 1981.

  8.  

    8.  Moroni 7:47.

  9.  

    9. Gordon B. Hinckley, “Let Love Be the Lodestar of Your Life,” Ensign, Mei 1989, 67.

  10.  

    10. Lihat Ajaran dan Perjanjian 121:43.

  11.  

    11. “Maud Muller,” dalam The Complete Poetical Works of John Greenleaf Whittier (1878), 206; penekanan ditambahkan.

  12.  

    12. Dale Carnegie, in, for example, Larry Chang, Wisdom for the Soul. (2006), 54